80 (saling membantu), saling besila (saling mengundang bila ada tetangga yang sedang punya hajatan/begawe) dan berbagai tradisi saling lainnya. Semua tradisi yang disebutkan menurt Suprapto dan Miftahul Huda memberi kontribusi penting bagi terpeliharanya sikap saling membantu gotong royong dan berbagai hubungan lain.1
Berbagai unsur modal sosial seperti yang diuraikan di atas memberi andil bagi terciptanya civic engagement (ikatan antar warga) di pulau Lombok. Hal itu dapat dilihat dari pola komunikasi dan relasi antar warga yang berlangsung secara harmoni dan damai. Kedamaian seperti itulah yang secara umum terlihat di hampir semua wilayah di Pulau Lombok. Berbagai perbedaan identitas baik etnis, agama, suku dan lain-lain tidak menjadi penghalang bagi berkembangnya ikatan antara warga.
Beberapa ketegangan dan konflik memang sering terjadi, seperti konflik atau ketegangan antar kampung, ketegangan di kalangan remaja, ketegangan antar aliran keagamaan. Sesuai dengan nama dan penyebabnya konflik yang terjadi sangat beragam. Hanya saja, sejauh ini konflik-konflik tersebut dapat diatasi dnegan relatif baik.
Seperti diuraikan di awal bab ini, sebagai daerah tujuan wisata, masyarakat Lombok tergolong terbuka. Berbagai etnis, suku bangsa, baik dari dalam maupun luar negeri silih berganti mengunjungi Lombok. Hal itu berarti dari sisi tingkat keterbukaan masyarakat Lombok sangat terbuka dengan aneka ragam budaya.
Persingungan budaya di antara warga berlangsung secara dinamis. Model keterbukaan seperti ini menjadikan masyarakat Lombok sebagai masyarakat yang tidak tertutup alias eksklusif. Kebiasaan berjumpa, berinteraksi dengan komunitas lain menjadikan masyrakat Lombok tidak mudah kaget dengan budaya (culture shock).
B. Geliat Bisnis Perumahan
81 muncul di wilayah Lombok Barat dan Lombok Tengah. Akselerasi pembangunan dan pemekaran wilayah administrasi pemerintahan seperti pemerintah kabupaten dan kota di Lombok juga memengaruhi percepatan pembangunan perumahan-perumahan baru.
Perpindahan kantor-kantor dari wilayah Mataram ke wilayah Lombok Barat sebagai konsekuensi dari pendirian Kabupaten Lombok Barat dengan sendirinya mendorong pembangunan perumahan baru yang diperuntukkan bagi pegawai kantor-kantor tersebut. Di beberapa titik di Gerung, Labuapi, Kediri, hingga Lembar banyak dijumpai komplek perumahan baru. Demikian juga dengan pemekaran Kabupaten Lombok Utara.
Pemekaran wilayah Kabupaten Lombok Barat menjadi Kabupaten Lombok Utara juga mendorong tumbuhnya pembangunan kompleks hunian baru di wilayah Tanjung, Pemenang Lombok Utara. Dari perspektif bisnis, kondisi semacam ini sangat menguntungkan bagi para pengembang (developer). Kebutuhan rumah bagi para pegawi negeri sipil dan pekerja sektor swasta memberi peluang usaha yang menjanjikan bagi para developer tersebut. Merespon tingginya tuntutan pasar sektor perumahan tersebut muncullah banyak sekali pengembang di Lombok.
Beragam strategi marketing dikembangkan untuk menggaet sebanyak mungkin calon konsumen. Pemberian beragam fasilitas dan peningkatan kualitas konstruksi dilakukan agar barang dagangan laku terjual. Sejumlah penelitian memperlihatkan banyak motif konsumen dalam memilih atau membeli rumah. Pertimbangan konsumen dalam menentukan rumah dipengaruhi oleh pertimbangan pajak bumi dan bangunan, lokasi, fasilitas, lingkungan, dan harga beli. Selain alasan motif yang disebutkan, ada sebagian pengembang mencoba menjajaki pertimbangan lain, misalnya sentimen identitas kelompok. Beberapa tren yang berkembang di sebagian kota-kota di pulau Jawa, tidak sedikit pengembang yang menawarkan konsep hunian berdasarkan kesamaan agama seperti Perumahan Bukit Az-Zikra, Sentul, Jawa Barat.
Tawaran kesamaan agama, Islam, ternyata juga menjadi pertimbangan sebagaian komunitas muslim kota dalam memilih rumah tinggal.
Fenomena banyaknya pengembang yang menawarkan konsep hunian muslim ternyata juga diikuti oleh beberapa pengembang di Lombok, seperti PT. Salva Inti Proerty. Tim manajemen PT. Salva Inti Property telah sukses membangun komplek pemukiman muslim seperti Lingkar Muslim dan Grand Muslim 1. Sukses memasarkan Grand Muslim 1, kini pengembang yang sama membuka lagi Grand Muslim 2. Ketiga komplek ini masuk wilayah Kabupaten Lombok Barat. Lokasi komplek sangat mudah diakses. Meskipun berada di wilayah Lombok Barat, namun lokasi ini dapat diakses dari Kota Mataram kurang dari sepuluh menit.
Masih di wilayah Lombok Barat, beberapa komplek hunian baru juga mengusung nama-nama islami seperti Perumahan Mutiara Syariah, Griya Intan Islami, Perumahan Samawa (Sakinah, Mawahdah Wa Rahmah) di Labu Api, Lombok Barat. Dari nama-nama komplek pemukiman ini, para konsumen langsung terseleksi dengan sendirinya. Artinya, hanya konsumen Muslim yang bisa membeli dan menempati komplek hunian dengan nama-nama semacam ini. Konsumen di luar muslim atau konsumen nonmuslim dengan sendirinya tidak bisa membeli atau menempati perumahan di lingkungan seperti ini.
Para pengembang giat membangun hunian baru berlabel islami. Para pengembang tersebut menyadari adanya potensi pasar yang besar di Provinsi Nusa
82 Tenggara Barat. Kebutuhan rumah bagi keluarga muslim merupakan peluang bisnis yang harus direspon seccara cepat. Penyandangan label agama dalam brand produk perdangangan termasuk produk properti seperti ini merupakan fenomena baru di wilayah Lombok. Sebelumnya, tidak dijumpai penambahan label agama tertentu pada nama-nama komplek perumahan. Contoh Griya Pagutan Indah, Gri Pagutan Permai, Kodya Asri, Grand Kodya Asri, Perumahan Tanjung Karang, Perumahan Midang, dan lain-lain. Nama-nama komplek perumahan adalah nama-nama yang bersifat umum.
Tidak ada persyaratan khusus bagi warga penghuni sebuah komplek perumahan berdasarkan kesamaan agama tertentu. Warga dari berbagai agama, etnis apapun membaur dalam pemukiman konvensional seperti ini.
Model pemukiman dengan konsep yang disebutkan terakhir di atas itulah yang saat ini mendominasi di Kota Mataram dan Lombok Barat. Sedangkan pemukiman baerlabel Islam belakangan baru muncul. Munculnya pemukiman berlabel Islam, syariah tidak bisa dilepaskan dari trend memunculkan identitas keislaman di ruang publik. Seperti diketahui dalam dua dekade terakhir, di Indonesia geliat menampilkan identitas keislaman kuat mengemuka. Banyak atribut keislaman diletakkan pada banyak aspek kehidupan masyarakat muslim Indonesia. Mulai dari bidang sosial keagamaan, politik dan hukum hingga ekonomi bisnis. Di bidang ekonomi bisnis, kecenderungan mengusung tema islami, syari menjadi tren baru dunia perbisnisan Indonesia. Berbagai produk komersial ditawarkan dengan branding syariah. Layanan perbankan syariah juga mengalami peningkatan yang luar biasa bahkan siap bersaing dengan perbankan konvensional. Berbagai layanan perbankan seperti tabungan syari, kredit tanpa bunga, transaksi non ribawi hingga layanan pembiayaan perumahan.
2. Respon Pasar
Kehadiran kompleks perumahan, terutama komplek perumahan yang bernuansa islami, menjadi tren baru di Lombok. Banyak developer yang terdorong memasarkan produknya dengan mengusung brand Islam. Seperti yang dipaparkan pada sub bab sebelumnya bahwa beberapa lokasi di Lombok saat ini sedang di bangun sejumlah proyek properti khususnya perumahan. Berkembangnya sektor properti residensial dapat menjadi indikasi bahwa kondisi perekonomian semakin membaik.
Hal itu terlebih lagi adalah proyek properti perumahan yang menyasar segmen kelas menengah atas dan bawah.
Pembangunan kompleks perumahan di Lombok masih pada segmen perumahan khususnya perumahan ˂ 70 m2 dengan pertumbuhan yang cukup baik.
Demikian pula halnya dengan perumahan ˃ 702. Pertumbuhan dan pengembangan perumahan dalam segmen ini terkait dengan terus meningkatnya pertumbuhan penduduk, serta adanya program pemerintah seperti Gerakan Pembangunan Sejuta Rumah (GPSR). Berdasarkan penuturan Priono, penanggung jawab lapangan PT.
Salva Into Properti, menuturkan bahwa siklus produksi dalam industri properti secara umum masih terus berkembang (bulish). Hanya sebagian kecil yang menyatakan bahwa perkembangan properti sudah mulai menurun (bearish). Dengan demikian, pengembang berpendapat bahwa prospek dalam industri masih menjanjikan khususnya dalam produksi perumahan.
Masyarakat memiliki tujuan yang tidak sama dalam membeli properti baik dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Sebagian besar pembelian properti
83 untuk dikonsumsi sendiri, khususnya dalam segmen perumahan ˂ 70 m2 atau ˃ 702. Pembelian tersebut cenderung direncanakan dilakukan dalam jangka panjang atau di atas di atas 5 tahun yang akan datang. Dalam jangka pendek, rencana pembelian oleh konsumen cenderung sedikit. Hal ini ditenggarai menyangkut kondisi ekonomi saat penelitian ini dilakukan yang kurang menggembirakan, serta ekspektasi daya beli konsumen akan lebih besar dalam jangka panjang sejalan dengan harapan meningkatnya pendapatan masyarakat. Selain digunakan utuk konsumsi sendiri, pembelian properti dengan tujuan disewakan juga relatif cukup signifikan terutama dalam jangka panjang dalam segmen rumah ˂ 70 m2. Hal itu kemungkinan besar terkait dengan tujuan pembelian perumahan yang digunakan sebagai alat alternatif investasi yang mendatangkan pendapatan untuk menjaga nilai waktu dari uang dari kekayaan yang telah dikumpulkan konsumen.