• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Penelitian Terdahulu

2. Ghashab

a. Pengertian Ghashab

Kata “ghashab” menurut bahasa artinya mengambil secara aniaya (zalim) dan terang-terangan. Sedangkan menurut syara‟ ialah menguasai hak orang lain dengan jalan aniaya, dan dikembalikan pengertian “menguasai” menurut urf (Kebiasaan) (Al-Ghazy, 1991:

407). Termasuk juga ke dalam hak orang lain adalah segala sesuatu yang sah menghashabnya, berupa barang yang bukan bentuk uang, seperti kulit bangkai, dan mengecualikan dengan cara aniaya adalah menguasai atas harta orang lain dengan suatu akad, dan barang siapa yang mengghashab harta seseorang, maka wajib mengembalikan kepada pemiliknya, meskipun orang yang ghashab itu terkena tanggungan/mengganti dengan lipat ganda harganya.

Wajib baginya (orang yang ghashab) untuk menambal kekurangannya, bila memang terdapat kekurangan pada harta yang dighashab, seperti orang yang menghashab pakaian, kemudian memakainya atau baju itu berkurang tidak karena dipakai. Juga wajib memberikan biaya sepadannya, sedangkan bila barang yang dighashab itu berkurang sebab harganya menjadi merosot/turun, maka menurut pendapat shahih, orang yang ghashab tidak wajib menggantinya.

Dalam sebagian keterangan disebutkan, bahwa barang siapa yang mengghashab harta seseorang, maka dia harus dipaksa untuk mengembalikannya, bila barang yang dighashab itu rusak, maka orang yang ghashab wajib menanggungnya dengan sepadannya barang tersebut, yakni barang yang dighashab, jika memang terdapat sepadan.

Menurut yang lebih sah, bahwa sesungguhnya barang Mitsli itu adalah barang-barang yang dapat diukur dengan takaran atau timbangan, serta sah menjadi barang pesanan, seperti tembaga atau kapas, sedangkan air susu dan makjun tidak termasuk barang Mitsli (Al- Ghazy, 1991: 408-410).

Mushannif menerangkan tentang penangguhan barang yang dihargai di dalam perkataannya : atau penghashab menanggung barang yang dighashab dengan yang dighashab dengan harganya bila barang-barang yang dighashab itu tidak terdapat sepadannya, yaitu dengan mengharapkan barang yang dighashab. Harga barang yang dighashab dapat berbeda dengan bentuk harga yang lebih tinggi dari

hari pengghashaban sampai hari kerusakannya. Sedangkan yang dihitung dalam hal perkara menghargakan barang yang dighashab adalah dengan uang yang bisa berlaku. Bila biasanya itu berlaku dua mata uang dan sama nilainya maka menurut Imam Rafi‟i hendaknya Qadli menentukan salah satu dari keduanya (Al-Ghazy, 1991: 410- 411).

Dalam pemahaman yang umum dikenal, ghashab adalah suatu tindakan mengambil atau menggunakan sesuatu yang bukan haknya tanpa seizin si pemilik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “ghashabberarti mempergunakan milik orang lain secara tidak sah untuk kepentingan sendiri. (Tim Penyusun Kamus, 2007: 338) Pada kajian ilmu Fikih sendiri, ada beberapa pengertian tentang ghashab yang dikemukakan oleh ulama.

Pertama, menurut Mazhab Maliki, ghashab adalah mengambil harta orang lain secara paksa dan sewenang-wenang, bukan dalam arti merampok (Dahlan, 2003: 401). Definisi ini membedakan antara mengambil barang dan mengambil manfaat. Menurut mereka, perbuatan sewenang-wenang itu ada empat bentuk, (Dahlan, 2003:

401) yaitu:

1) Mengambil harta tanpa izin mereka menyebutnya sebagai ghashab,

2) Mengambil manfaat suatu benda, bukan materinya juga dinamakan ghashab,

3) Memanfaatkan suatu benda sehingga merusak atau menghilangkannya, seperti membunuh hewan, yang bukan miliknya tidak termasuk ghashab,

4) Melakukan suatu perbuatan yang menyebabkan rusak atau hilangnya milik orang lain tidak termasuk ghashab, tapi disebut ta’addi.

Sedangkan ulama Mazhab Hanafi menambahkan definisi ghashab dengan kalimat ”dengan terang-terangan” untuk membedakannya dengan pencurian, karena pencurian dilakukan secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi, tapi ulama Mazhab Hanafi tidak mengkategorikan dalam perbuatan ghashab jika hanya mengambil manfaat barang saja (Dahlan, 2003: 400).

Ulama Mazhab Syafi‟i dan Mazhab Hambali memiliki definisi yang lebih bersifat umum dibanding kedua definisi sebelumnya. Menurut mereka ghashab adalah penguasaan terhadap harta orang lain secara sewenang-wenang atau secara paksa tanpa hak. Ghashab tidak hanya mengambil materi harta tetapi juga mengambil manfaat suatu benda (Dahlan, 2003: 401).

Dari beberapa definisi di atas, yang peneliti gunakan adalah perpaduan dari ketiganya. Sehingga ghashab merupakan penguasaan terhadap harta orang lain secara sewenang-wenang atau secara paksa tanpa hak, bukan dalam pengertian merampok

maupun mencuri, baik itu mengambil materi harta atau mengambil manfaat suatu benda.

Hukum dari perbuatan ghashab sendiri sudah sangat jelas, yaitu haram (Dahlan, 2003: 402). Tentu si pelaku tindakan tersebut mendapat dosa atas perbuatannya. Hal ini didasarkan atas firman Allah:

















































Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama- suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu (Hatta, 2011: 83).

Kehidupan bermasyarakat, individu dapat memakai simbol- simbol yang diwarisinya untuk memberi makna pada tingkah lakunya sendiri. Sebuah pandangan deskriptif atau intrepretatif tentang tindakan sosial dapat diterima hanya jika tampak masuk akal bagi pelaku sosial yang relevan. Dalam pandangan fenomenologi, Husserl menyatakan bahwa proses pemahaman aktual kegiatan kita dan memberi makna padanya, dapat dihasilkan melalui refleksi atas tingkah laku (Wirawan, 2013: 141). Sehingga dapat disimpulkan

bahwa setiap tingkah laku manusia itu dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti pengalaman pribadi, lingkungan, dll.

b. Faktor Penyebab Terjadinya Perilaku Ghashab

Adapun beberapa faktor penyebab terjadinya perilaku ghashab sebagai berikut:

1) Kebersamaan yang berlebihan, sehingga menganggap barang milik orang lain adalah miliknya.

2) Hal ini sangat memungkinkan aksi ghashab, contoh mudahnya bila ada seorang santri mau bepergian, ternyata bajunya tidak ada yang terlihat bagus, kebetulan di catelan baju ada yang bagus yang entah milik siapa, tanpa pikir panjang langsung diembat baju tersebut. Demikian halnya dengan bolpoin, peci, celana, jika tergeletak, seolah-olah seperti dipersilahkan memakai.

3) Kurang menjaga barang-barang milik sendiri, misalnya meletakan sandal tidak pada tempat yang sesuai. Ini merupakan pemicu nomor dua terjadinya ghashab, karena mungkin terjadi ghashab akibat teman lain sedang terdesak, tiba-tiba di depan sudah ada benda yang dibutuhkan, ia pasti mengambil kesempatan tersebut.

Demikian pula dengan barang-barang lain, apabila tidak diletakan di lemari atau tempat yang aman, pasti menjadi sasaran ghashab.

4) Aksi saling balas ghashab karena merasa jadi korban jika salah satu sudah pernah dighashab, kemungkinan besar akan balas meng-ghashab milik orang lain, karena dia akan merasa menjadi

orang yang dirugikan apabila tidak meng-ghashab teman yang lain, inilah yang mengakibatkan aksi saling ghashab sulit diatasi.

5) Belum memiliki kesadaran, dan pengetahuan tentang bahaya sering ghashab.

6) Belum memahami bahwa ghashab itu dosa.

(http://yusufrokhani.blogspot.com/2014/04/masalah-ghashab-di- pondok-pesantren.html).

c. Cara Mengatasi Perilaku Ghashab

Ghashab memang sulit sekali diatasi, apalagi mengingat hal seperti itu sudah menjadi budaya di pondok pesantren. Solusi yang ditemukan lumayan banyak, meskipun perlu penelitian lebih lanjut, diantaranya yaitu :

1) Berhati-hati dengan barang-barang milik sendiri.

2) Menyimpan dan menjaga barang-barang milik pribadi sehingga tidak menjadi sasaran ghashab.

3) Memberikan pengetahuan tentang ghashab, bahaya-bahaya ghashab, dan akibat yang ditimbulkan jika melakukan ghashab.

4) Menyadari bahwa ghashab adalah perbuatan mendholimi orang lain, dan menghalangi atau menyulitkan dalam menuntut ilmu terlebih di pondok pesantren.

5) Bergeraklah untuk tidak ghashab dari diri sendiri meskipun kita menjadi korban ghashab, karena jika semua individu

menanamkan hal itu, maka akan mempermudah mengatasi budaya ghashab.

6) Memberikan sangsi atau hukuman bisa mempengaruhi jiwa atau perasaan supaya malu berbuat ghashab.

7) Jika memang belum juga teratasi, cara yang terakhir ini bisa diterapkan, yaitu dengan ikrar penghalalan, misalkan dengan menghalalkan barang yang terletak di tempat-tempat umum, seperti sandal, baju, peci, celana dan lain-lain (http://yusufrokhani.blogspot.com/2014/04/masalah-ghashab-di- pondok-pesantren.html).

Dalam dokumen fenomena ghashab di lingkungan pesantren (Halaman 49-56)