• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai Karakter Religius

Dalam dokumen fenomena ghashab di lingkungan pesantren (Halaman 56-66)

BAB I PENDAHULUAN

A. Penelitian Terdahulu

3. Nilai Karakter Religius

menanamkan hal itu, maka akan mempermudah mengatasi budaya ghashab.

6) Memberikan sangsi atau hukuman bisa mempengaruhi jiwa atau perasaan supaya malu berbuat ghashab.

7) Jika memang belum juga teratasi, cara yang terakhir ini bisa diterapkan, yaitu dengan ikrar penghalalan, misalkan dengan menghalalkan barang yang terletak di tempat-tempat umum, seperti sandal, baju, peci, celana dan lain-lain (http://yusufrokhani.blogspot.com/2014/04/masalah-ghashab-di- pondok-pesantren.html).

dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun Negara (Azzet, 2011: 16).

Kertajaya mengemukakan bahwa karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan mesin yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010: 3)

Menurut kamus psikologi pendidikan karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap. (Dali Gulo, 1982: 29).

Pendidikan karakter menurut Thomas Lickona adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya (Gunawan, 2014: 23).

Jadi dapat disimpulkan bahwa karakter religius adalah tingkah laku yang bersifat keagamaan atau dalam Islam disebut dengan akhlak.

b. Jenis-jenis Karakter

Menurut Diknas mulai tahun ajaran 2011, seluruh pendidikan di Indonesia harus menyisipkan nilai-nilai pendidikan berkarakter

kepada para siswa dalam proses pendidikannya. Ada 18 nilai-nilai pendidikan karakter, yaitu:

1) Religius

Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Religius adalah proses mengikat kembali atau bisa dikatakan dengan tradisi, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

2) Jujur

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3) Toleransi

Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4) Disiplin

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5) Kerja Keras

Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi barbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

6) Kreatif

Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7) Mandiri

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8) Demokratis

Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9) Rasa Ingin Tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10) Semangat Kebangsaan

Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11) Cinta Tanah Air

Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

12) Menghargai Prestasi

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13) Bersahabat/Komunikatif

Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

14) Cinta Damai

Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. Diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara.

15) Gemar Membaca

Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16) Peduli Lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya- upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17) Peduli Sosial

Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18) Tanggung Jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap dirinya maupun masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa (Listyarti, 2012: 5).

c. Nilai Karakter Religius

Religius sebagai salah satu nilai karakter dideskripsikan oleh Diknas sebagai berikut:

1) Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya;

a) Tauhid atau mentauhidkan Allah







































Artinya: Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (Hatta, 2011: 604).”

b) Takwa



























































Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan- mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.

Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (Hatta, 2011: 77).

c) Berdo‟a



















Artinya: Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (Hatta, 2011: 157).

d) Dzikir















Artinya: Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada- Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku

e) Tawakkal































































Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (Hatta, 2011: 71).

2) Toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain;

Agama bagi kehidupan manusia merupakan rahmat bagi seluruh alam, rahmat dimaksud berdasarkan firman Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 107:













Artinya: Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (Hatta, 2011: 331).

Ayat Al-Qur‟an di atas menunjukkan bahwa ajaran Islam bukan hanya merupakan rahmat dan kasih sayang bagi orang Islam, melainkan juga merupakan rahmat dan kasih

sayang kepada non Islam, bahkan seluruh makhluk dan isi alam ini. Islam mengenal ajaran bahwa seluruh umat manusia adalah keluarga besar yang sama sebagai hamba Allah dan diberi tugas yang sama pula, yakni beribadah kepada Allah (Ali, 2008:53). Sehingga kita sebagai umat Muslim yang beriman seharusnya memiliki rasa toleransi terhadap kegiatan keagamaan agama lain.

3) Hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

Setiap muslim hendaknya memuliakan tamunya, menghormati tetangganya, menolong orang yang meminta tolong, membantu orang yang meminta bantuan baik Muslim maupun non Muslim. Perbuatan tersebut adalah perbuatan terpuji dan termasuk ibadah yang berpahala di sisi Allah Swt.

Pada saat Nabi Muhammad SAW. Bersama para sahabatnya berkumpul, tiba-tiba ada mayat Yahudi yang lewat di hadapan Rasulullah dan para sahabatnya, maka Rasul beserta sahabatnya serentak berdiri. Diantara sahabatnya yang berdiri tersebut, ada yang berkata kepada Nabi Muhammad SAW. bahwa mayat yang lewat itu adalah mayat orang Yahudi, tetapi Rasulullah tetap berdiri dan bersabda, bahwa mereka pun adalah manusia juga yang berhak mendapat penghormatan (Ali, 2008: 54).

Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi:











































Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (Hatta, 2011: 517).

Dalam dokumen fenomena ghashab di lingkungan pesantren (Halaman 56-66)