• Tidak ada hasil yang ditemukan

HADIS-HADIS PERNIKAHAN DALAM KONTEKS LOKAL SASAK

Dalam dokumen Dialektika Agama, Budaya, dan Gender (Halaman 166-171)

Dalam konteks sosial, ada tuan guru yang dikritik oleh masyarakat setempat terkait dengan eksklusivitas pondok pesantren dan adanya gap antara ucapan dan praktik tuan guru, khususnya terkait dengan mahar. Tuan guru seringkali menyampaikan kepada masyarakat tentang mahar murah, namun kenyataannya, keluarga tuan guru menetapkan mahar tinggi dan mahal sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat setempat.31

Loyalitas jamaah diuji dalam politik ketika pilkada (pemilihan kepala daerah) atau pileg (pemilihan anggota legislatif). Ternyata fatwa tuan guru untuk memilih calon tertentu, tidak sepenuhnya ditaati oleh masyarakat. Dalam beberapa pilkada, calon yang diusung oleh organisasi keagamaan dan kemasyarakatan (ormas) tertentu kalah dengan tokoh agama yang non-ormas. Misalnya, beberapa kandidat bupati dan gubernur yang didukung oleh Nahdatul Wathan, Anjani kalah dalam kontestasi politik. Hal ini menunjukkan bahwa loyalitas masyarakat terhadap tuan guru dalam politik rendah, tidak seperti loyalitas dalam bidang keagamaan.

HADIS-HADIS PERNIKAHAN DALAM KONTEKS LOKAL

“Menikah adalah sunahku. Barangsiapa yang tidak mengikuti sunahku, maka tidak termasuk golonganku”

“Shalat dua rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan).”

Dalam hadis juga dijanjikan ada perbaikan ekonomi bagi orang yang menikah dan terhindar dari zina.

“Nikahilah wanita karena mereka mendatangkan harta (rezeki) bagimu”

“Pemuda yang menikah di usia mudanya, maka setan berteriak:

“Aduh, hancurnya aku! Aduh, hancurnya aku! Dia telah menjaga agamanya dariku.”

Pernikahan yang indah dan dipromosikan akan mendapatkan kebahagiaan, kesenangan, dan kesejahteraan, akan diperoleh suami istri jika memenuhi beberapa persyaratan pernikahan. Persyaratan tersebut adalah kemampuan fi sik, psikis, dan ekonomi.

“Wahai pemuda, barangsiapa yang telah mampu untuk menikah, maka hendaklah menikah karena ia dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat memelihara kemaluan. Barang siapa yang belum mampu menikah, maka hendaklah dia puasa karena puasa itu akan menjadi perisai baginya.”

Selain kemampuan, hadis juga menetapkan beberapa kriteria pemilihan jodoh, yaitu harta/kekayaan, keturunan yang baik, kecantikan fi sik, dan agama yang baik.

“Perempuan dinikahi karena empat faktor: harta, nasab/

keturunan, kecantikan, dan agama. Maka pilihlah yang baik agamanya karena itu akan menjagamu”

Dalam berumah tangga, suami istri terikat oleh hak dan kewajiban masing-masing. Kewajiban suami adalah membayar mahar, memperlakukan istri dengan baik, dan menafkahi keluarga, sedangkan kewajiban istri adalah taat kepada suami secara spiritual, seksual, ekonomi, dan sosial.

Hadis tentang kewajiban suami adalah

“Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Saw. tentang hak seorang istri dari suaminya. Nabi Saw. menjawab: engkau harus memberinya makan jika engkau mendapat makan, memberinya pakaian jika engkau mendapat pakaian, jangan memukul wajahnya dan jangan meninggalkan mereka kecuali ia berada di rumah.”

Karena suami memenuhi kebutuhan nafkah material dan non- material, maka istri berkewajiban taat kepada suami. Istri yang taat kepada suami disebut dengan istri salihah. Menurut hadis, Istri salihah adalah “…apabila suami melihat dia menyenangkan, apabila diperintah dia mentaati, dan jika pergi dia menjaga diri/

amanah.”

Ketaatan istri kepada suami akan mendapatkan ganjaran surga. “Apabila seorang perempuan menunaikan salat lima waktu, menjalankan puasa Ramadan, memelihara kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga.”

Di antara perilaku taat adalah istri meminta izin kepada suami dalam berbagai aktivitas yang dilakukan, seperti jika istri keluar rumah, bekerja, dan bersedekah kepada orang tua. Ketidaktaatan istri kepada suami dianggap sebagai pembangkang32 atau nusyuz33. Secara umum, istilah nusyuz tidak hanya berlaku bagi istri saja, tetapi juga suami.34 Namun, dalam faktanya, nusyuz hanya diberlakukan bagi istri. Jika terjadi nusyuz, maka suami istri disarankan untuk bersabar.

“Orang yang sabar menghadapi keburukan istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang diberikan kepada Nabi Ayyub atas cobaan yang menimpanya. Dan orang yang sabar terhadap perangai buruk suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti pahala Asiah istri Fir’aun.”

Jika konfl ik sering terjadi, hubungan suami istri renggang, tidak ada lagi kedamaian dan ketenteraman, maka perceraian adalah solusi terbaik untuk mengatasi persoalan rumah tangga.

32 Salah seorang informan tahun 2017.

33 QS. Al-Nisa’: 34

34 QS. Al-Nisa’: 128

Sebenarnya, hadis cenderung melarang perceraian dengan menggambarkan bahwa Allah membenci perceraian dan tidak menyukai praktik kawin-cerai. Seperti ungkapan hadis berikut:

“Menikahlah dan jangan bercerai. Karena Allah tidak senang pada laki-laki yang senang mencicipi (nikah - cerai) dan perempuan yang mencicipi (nikah - cerai).” Hadis lain menyebutkan: “Perkara halal yang dibenci Allah Swt. adalah talak (perceraian).” Bahkan perempuan yang meminta cerai diancam dengan keharaman surga.

“Perempuan yang meminta kepada suaminya untuk mentalak tanpa alasan, maka haram baginya bau surga.” Oleh karena itu, maka perceraian tidak boleh dipermainkan. “Ada tiga perkara yang apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka berguraupun dinilai sebagai suatu hal yang sungguh-sungguh: nikah, talak, dan rujuk.”

Dalam konteks hadis terakhir di atas, meskipun nikah, talak, dan rujuk disebutkan dalam satu teks hadis, namun pemahaman ketat dan kaku hanya diberlakukan bagi talak, sedangkan untuk nikah dan rujuk harus memenuhi persyaratan lain yang telah ditetapkan.35 Artinya, jika suami mengatakan “aku menceraikan kamu” di mana dan kapan saja, maka perceraian dianggap sah.

Sebaliknya, hal itu tidak berlaku bagi nikah dan rujuk.

Dari sisi otentisitas, hadis-hadis tersebut mempunyai kualitas beragam: sahih, hasan, daif, dan maudhu’. Artinya, tidak semua hadis mempunyai kualitas “baik” dan dapat diamalkan. Menariknya adalah tidak semua hadis-hadis khotbah nikah yang dikutip dalam Hizib Nahdlatul Wathan karya TGH Zainuddin Abdul Madjid, pendiri organisasi Nahdatul Wathan berkualitas sahih. Dengan alasan tersebut, salah seorang tuan guru yang juga murid dari Maulana Syekh tidak menggunakan hadis-hadis tersebut untuk khotbah nikah dan lebih memilih hadis lain yang kualitasnya sahih.36

Penggunaan hadis-hadis daif dan maudhu’ telah menjadi perdebatan para ulama sejak zaman dulu. Ulama memberikan prioritas untuk mengamalkan hadis dari pada qiyas, mengamalkan

35 Wawancara dengan Ustaz Taufik tahun 2017.

36 Wawancara dengan TGH G tahun 2017.

hadis mutawatir dan menolak hadis ahad, mengamalkan hadis sahih dari pada hadis daif. Namun demikian, Umar bin Khattab menggunakan hadis-hadis ahad dalam masalah-masalah penting seperti warisan, hukuman membunuh janin, jizyah (pajak jiwa), mandi wajib.37 Demikian juga dengan penggunaan hadis daif.

Sebagian ulama membolehkan mengamalkan hadis daif untuk fadhail al-a'mal, zuhud, nasehat, dan kisah-kisah selama hadis tersebut bukan hadis maudhu' (palsu). Tetapi, dalam faktanya, ketentuan tersebut “diabaikan” oleh sebagian ulama, seperti Kiai Nawawi al-Bantani dalam kitabnya ‘Uqud al-Lujjayn. Kitab tersebut berisi tentang hak dan kewajiban suami istri berdasarkan hadis- hadis Rasulullah. Berdasarkan kajian dari Forum Kajian Kitab Kuning (FK3), sebagian hadis-hadis yang terdapat dalam kitab ini adalah daif dan maudhu’. Dari 107 hadis yang dikutip, terdapat 14 hadis sahih, 8 hadis hasan, 7 hadis hasan sahih, 1 hadis hasan garib sahih, 24 hadis daif, 31 hadis maudhu’, dan tidak ditemukan perawinya 2 hadis.38 Menariknya, kitab ini juga menjadi rujukan pondok pesantren di Jawa dan Lombok, termasuk rujukan tuan guru dalam mengutip hadis-hadis pernikahan.

Otentisitas hadis tidak menjadi pertimbangan utama tuan guru dalam menggunakan hadis karena beberapa alasan. Pertama, hadis- hadis tersebut bersumber dari kitab fi kih yang masyhur di kalangan umat Islam. Karakteristik kitab fi kih adalah tidak menuliskan sebagian sanad hadis untuk mempersingkat pembahasan hadis dan cukup menyebutkan sebagian matan yang terkait dengan pembahasan; tidak menyebutkan sanad hadis dan langsung menyebutkan hadis dari sumber pertama; penggunaan kata “sunah”

menunjuk kepada perbuatan Nabi tanpa menyebutkan hadis dan sanadnya.39 Kedua, para tuan guru hanya mempertimbangkan matan hadis dan bukan sanad, yang disesuaikan dengan tema pernikahan. Ketiga, para tuan guru cukup fl eksibel dan terbuka dalam mengamalkan hadis termasuk hadis daif dan maudhu’.

37 Muhammad Mustafa Azami, Studies in Hadith Methodology and Literature, (Indiana:

American Trust Publikation, 1413/1992), 90-94

38 Forum Kajian Kitab Kuning, ‘Uqud al-Lujjayn, Wajah Baru Relasi Suami Istri, (Yogyakarta:

LKiS, 2001)

39 Muhammad Mustafa Azami, Studies in Hadith Methodology, 546

Dalam dokumen Dialektika Agama, Budaya, dan Gender (Halaman 166-171)