• Tidak ada hasil yang ditemukan

KITAB-KIAI: KARYA LOKAL BERJEJARING NUSANTARA

Dalam dokumen Dialektika Agama, Budaya, dan Gender (Halaman 92-97)

agama yang dieditori oleh H. Fadhal AR Bafadal dan H. Syatibi dengan judul Pergeseran Literatur Pondok Pesantren Salafi yah di Indonesia mendeskripsikan tentang literatur apa saja (kitab kuning) yang dijadikan sumber ajar bagi pesantren Salafi yah tersebut dan bagaimana cara menyampaikannya.51 Beberapa data yang dikumpulkan dari temuan-temuan tersebut menyimpulkan tentang terbentuknya sebuah jaringan kitab (literary network) antara satu kawasan dengan kawasan lainnya bahwa kitab-kitab tersebut telah digunakan dan diproduksi berulang-ulang baik dengan model diterjemahkan (turjamah) atau dikomentari (syarh).

Kitab-kiai dengan demikian, sebenarnya, bukanlah sesuatu yang baru dalam tradisi literasi keilmuan Islam. Kitab merupakan kontinuitas tradisi yang telah ada sebelumnya sekaligus identitas keulamaan dari sebuah komunitas keilmuan Islam yang dirawat dan dilestarikan dari generasi ke generasi. Dan kitab-kiai Sumenep adalah buah karya yang dihasilkan oleh komunitas kiai dalam hal isu-isu keagamaan dan dituliskan dalam bentuk sebuah buku.

Buku ini, atau lebih dikenal dengan sebutan kitab bagi kalangan pesantren dan masyarakat setempat, menjadi simbol ke-alim-an (intelektualitas) atau penguasaan si penulis atas tema-tema yang dibahas. Semakin banyak tema yang dibahas, maka semakin luas pula kapasitas keilmuan yang dimiliki. Sebaliknya, semakin sedikit wacana yang dikupasnya maka semakin dalam pengetahuannya mengenai tema tersebut. Jadi kitab atau buku bagi penulisnya adalah gambaran utuh tentang siapa dan apanya. Karena ia menyangkut kedalaman pengetahuan, keluasan pengalaman, kematangan kejiwaan dan kesantunan bertutur sapa.

Beberapa kitab yang terkoneksi dengan wilayah lain di Nusantara adalah:

1. Kitab Taqrib karya Abu Shuja’ (433-593 H/1041-1197 M).

Kitab ini adalah kitab popular di kalangan pesantren dalam bidang fi kih yang ditulis oleh Qadhi Abu Shuja’. Kitab ini merupakan karya satu-satunya yang ditinggalkan oleh musannif (penulis) nya.

51 H. Fadhal AR Bafadal dan H. Syatibi (ed), Pergeseran Literatur Pondok Pesantren Salafiyah di Indonesia

Kepopuleran kitab ini dapat dibuktikan dengan lahirnya kitab- kitab syarh (komentar) dan turjamah (transliterasi) yang muncul setelahnya.52 Al-Khatib al-Syarbini dalam kata pengantarnya di dalam kitab Iqna mengatakan bahwa hal itu sebagai dalil sarikh (kuat) bahwa Abu Syuja’ sangat ikhlas dalam penulisnya. Salah satu turjamah dalam Bahasa Madura ditulis oleh Kiai Thoifur Ali Wafa dengan nama kitab Taqrib Madura.

Gambar 1 Jaringan Kitab Taqrib Karya Abu Suja’

Sumber: modifikasi dari Bruinessen, 1995

2. Kitab ‘Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zaujain karya Nawawi Banten (1230 H/1813M-1314 H/1897 M)

Kitab ini adalah kitab fi kih yang membahas tentang hak dan kewajiban suami-istri dalam rumah tangga. Kitab yang sangat popular di kalangan pesantren dan melahirkan banyak kitab- kitab transliterasi (turjamah). Salah kitab turjamah dalam bahasa Madura ditulis oleh kiai Thoifur Ali Wafa dengan judul Tarjamah Matan ‘Uqud al-Lujjain fi Bayani Huquq al-Zaujain.

52 Untuk mengetahui kitab Syarah (komentar), Hasyiyah (komentar atas komentar), Nadam (syair/puisi) dari kitab Taqrib ini. Silahkan baca, Adhi Maaftuhin, Sanad Ulama Nusantara Transmisi Keilmuan Ulama Al-Azhar & Pesantren (Bogor: Sahifa, 2018), 102-108.

Gambar 2 Jaringan Kitab ‘Uqud al-Lujjain Karya Nawawi Banten

Sumber: modifikasi dari Bruinessen, 1995

3. Kitab al-Lumma’ karya Ibrahim Abu Ishaq al-Syirazi (393-476 H)

Kitab ini merupakan kitab usul fi kih yang masih terus diajarkan di pesantren dan di al-Azhar. Kitab ini mendapat komentar atau syarakh oleh penulisnya sendiri dengan judul Syarah al-Luma’.

Ulama Nusantara yang ikut mengomentari kitab ini adalah Syekh Yasin al-Fadani yang berjudul Bugyat al-Musytaq fi Syarkhi al- Lumma’ li Abi Ishaq. Dan KH. A. M. Sahal Mahfudh yang berjudul al-Bayan al-Mulamma’ ‘An Alfadi al-Lumma’ yang diterbitkan oleh Thaha Putra Semarang tahun 1999. Dalam konteks kiai Sumenep, kitab ini diterjemahkan oleh Drs. KH. Muhsin Amir untuk dijadikan pegangan dalam kurikulum sekolah.

Sementara dalam katagori kitab-kitab komentar atau syarah adalah sebagai berikut:

a. Kitab Safi nah al-Najah karya Salim bin Abdillah (1271 H) Kitab ini merupakan kitab yang dijadikan bahan sorogan setelah kitab Safi nah al-Salat atau bahkan dijadikan kitab pertama kali dalam belajar fi kih Syafi i sekaligus belajar membaca kitab kuning. Salim bin Abdillah bin Sa’ad bin Abdullah bin Sumair al- Hadrami As-Syafi ’ie sendiri adalah seorang yang ahli di bidang fi kih, militer dan seorang hakim dan politisi. Beliau wafat di Betawi, Indonesia pada tahun 1271 Hijriah. Sebagai sebuah karya klasik, kitab ini juga melahirkan beberapa kitab komentar (sarh, hasyiyah,

nazam) dan transliterasi (turjamah).53 Salah satu kitab komentar dalam Bahasa Madura ditulis oleh Kiai Maimun dengan judul Sarh Safi nah al-Najah.

Gambar 3 Jaringan Kitab Safina al-Najah Salim bin Abdullah bin Samir

Sumber: modifikasi dari Bruinessen, 1995

b. Kitab ‘Aqidah al-Awam karya Syekh Ahmad al-Marzuqi (1205-128 H)

Kitab ini adalah kitab tauhid yang sangat populer di kalangan pesantren yang mengulas tentang aqaid yang 50. Dan juga membahas tentang nama-nama Nabi, para Malaikat, kitabullah, dan silsilah Nabi Muhammad. Kitab ini juga dikomentari atau disyarakhi sendiri oleh penulisnya. Bahkan dalam catatan Adhi Maftuhin,54 ada enam kitab yang lahir dari kitab ‘Aqidah al-Awam ini, yaitu:

a. Tahsilu Nail al-Maram li Bayani Manzumah ‘Aqidah al-Awam karya Syekh Ahmad al-Marzuqi.

b. Nur al-Dalam ‘ala Manzumah ‘Aqidah al-Awam Syekh Nawawi al-Bantani.

c. Tashil al-Maram li Daris ‘Aqidah al-Awam karya Syekh Ahmad al-Qathani al-‘Isawi.

d. Jalau al-Afham Syarah Manzumah ‘Aqidah al-Awam karya Sayyid bin Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki.

e. Fath al-‘Allam Syarah Manzumah ‘Aqidah al-Awam karya Syekh Dr. Hisyam Kamil Hamid Musa al-Syafi ’i al-Azhari.

53Ibid., 45-50

54Ibid., 308-311

f. Syarah Arkan al-Iman li Umat al-Islam min Manzumah ‘Aqidah al-Awam karya Dr. Umar Abdullah Kamil.

Dalam konteks kitab kiai Sumenep, kiai Ahmad Maimun mengomentari kitab ini dengan judul kitabnya, Taudihu al-Maram fi Syarh ‘Aqidah al-‘Awam.

c. Kitab Ihya’ ‘Ulumu al-Din karya Imam al-Ghazali (1058- 1111 M)

Kitab ini memang sangat populer, sebuah kitab yang mengupas mengenai tasawuf untuk santri tingkat lanjut. Sebelum membaca kitab ini, umumnya para santri menelaah dulu kitab Bidayah al- Hidayah. Mengingat begitu pentingnya posisi kitab ini bagi kalangan ahlusunah waljamaah maka dalam konteks kitab kiai Sumenep, kiai Thoifur Ali Wafa membuat ringkasannya (mukhtasar) yang berjudul Sullam al-Qasidin ila Ihya’ ‘Ulumu al-Din.

Dalam dokumen Dialektika Agama, Budaya, dan Gender (Halaman 92-97)