MEMBEBASKAN DIRI DARI BELENGGU KEKERASAN DALAM KELUARGA: PENGALAMAN PEREMPUAN MENGGUGAT
3. Takdir Hukum Perempuan dalam Putusan Perceraian
yang sakral dan hening, namun gurauan hakim ini membuat informan tersinggung dan tidak nyaman.
Perlakuan-perlakuan diskriminatif, kekerasan verbal dengan melecehkan atau bertanya secara intimidatif, dan pelabelan buruk terhadap penggugat buruh migran, masih dijumpai dalam pemantauan persidangan yang juga dikuatkan dalam dokumen putusan. Namun demikian, tulisan ini juga tidak menafi kan sikap hakim yang lembut, sabar, dan penuh empati terhadap para pihak yang berperkara. Misalnya dalam hal hakim menemukan fakta melalui dialog di persidangan bahwa penggugat tak bisa lagi memaafkan suaminya karena telah menikah lagi dan secara konstan melakukan kekerasan, maka hakim tidak lagi mengupayakan perdamaian.91 Pilihan hakim yang demikian, menurut saya, adalah bentuk kearifan dengan sangat mempertimbangkan pengalaman perempuan. Upaya mendamaikan dalam kondisi seperti ini, tentu akan mengulang kembali kekerasan yang dialaminya. Perlakuan diskriminatif yang ditemukan dalam beberapa persidangan tersebut di atas, pada gilirannya semakin menguatkan ‘hukuman’ bagi perempuan yang mengajukan perceraian ke Pengadilan Agama.
Hukuman ini, semakin tegas dalam putusan perceraian yang diterimanya.
perceraiannya (kumulasi).92
Pembacaan terhadap dokumen putusan ini juga menegaskan bahwa putusan yang diproduksi majlis hakim adalah putusan hukum yang netral dengan nalar positivistik yang kental. Dalam nalar hukum positivistik, persoalan netralitas, objektivitas, dan kepastian hukum merupakan nilai dan prinsip yang wajib dijunjung tinggi. Hukum yang dipandang mengandung kebenaran dan keadilan adalah hukum yang sudah pasti dan tertera dalam hukum negara, baik hukum material ataupun hukum formal yang menjadi aturan main dalam beracara di pengadilan.
Sebagai produk hukum, secara teknis putusan pengadilan memiliki bentuk dan struktur yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.93 Struktur putusan memuat kepala putusan, identitas para pihak, pertimbangan (duduk perkara & pertimbangan hakim) dan diktum (bunyi putusan).94 Pembacaan putusan dalam tulisan ini difokuskan pada substansi pertimbangan hukum (consideran) dan amar putusan (dictum). Dari dua bagian inilah tergambar bagaimana majelis hakim memposisikan perempuan yang menggugat perceraian dalam putusan yang ditetapkannya.
Bagian pertama adalah duduk perkara dan pertimbangan hukum, yang menggambarkan bagaimana hakim menjelaskan secara kronologis tentang perkawinan, munculnya persoalan dan konfl ik, usaha perdamaian, jawaban dan dalil-dalil yang dihadirkan para pihak. Majelis hakim bersifat ‘pasif’ sebatas menerima informasi dari para pihak melalui gugatan, jawab jinawab dalam proses persidangan, pembuktian yang diajukan para pihak yang kesemuanya menjadi titik sentral pemeriksaan dan pertimbangan dalam membuat putusan. Langkah-langkah pemeriksaan dan pertimbangan hukum yang dilakukan hakim harus berorientasi pada duduk perkara. 95 Karena sifat ‘pasif’ hakim, maka surat gugatan
92 Putusan No. 0063/Pdt.G/2016/PA. Kla dan No. 0619/Pdt.G/2017/PA.Kla
93RIB/HIR (Reglemen Indonesia Yang Diperbaharui). “Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman,” Pub. L. No. 48 (2009).
94 Arto, Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, 256.
95 A. Mukti Arto, Penemuan Hukum Islam Demi Mewujudkan Keadilan: Membangun Sistem Peradilan Berbasis Perlindungan Hukum Dan Keadilan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2017), 249–50.
seyogyanya dibuat sejelas dan seterang mungkin. Dalam konteks ini, kemampuan mengartikulasikan dan mendeskripsikan konfl ik keluarga yang dialami menjadi poin penting bagi perempuan untuk mendapatkan hak-haknya.
Setelah Majelis Hakim menjelaskan duduk perkara, struktur putusan selanjutnya adalah konstatiring dan kualifi sir di mana hakim menghubungkan fakta persidangan dengan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar untuk pengambilan keputusan. Dari proses konstatiring dan kualifi sir ini kemudian muncul pilihan-pilihan kata (diksi) yang digunakan hakim dalam putusan. Pilihan-pilihan kata mengenai tujuan perkawinan, kondisi keluarga, alasan perceraian, dan upaya damai digunakan untuk mengkonstruksi bahwa relasi suami-istri tak bisa lagi dipertahankan. Pandangan bahwa perkawinan sebagai kontrak kemanusiaan menjadi lebih dominan dibandingkan dengan pandangan perkawinan sebagai ikatan suci (mitsaqan ghalidzan).
“….Akibat dari sikap tergugat yang tidak menghormati dan melanggar prinsip-prinsip dalam institusi perkawinan tersebut.”96
Atau dalam putusan lain, hakim menarasikan dalam kalimat berikut:
“Menimbang bahwa rumah tangga yang bahagia, kekal dan sejahtera akan terwujud jika antara suami istri saling menyayangi satu sama lain. Apabila salah satu pihak sudah kehilangan rasa cinta dan kasih sayangnya, maka cita-cita ideal bagi suatu kehidupan rumah tangga tersebut tidak akan pernah menjadi kenyataan bahkan kehidupan perkawinan itu akan menjadi belenggu kehidupan bagi kedua belah pihak.”97
Mengenai argumentasi hukum yang dihadirkan dalam putusan, ada beberapa rujukan yang digunakan majelis hakim sebagai dasar hukum. Pada aspek hukum materiil, UU perkawinan, kompilasi hukum Islam, dan beberapa pendapat ulama dan kaidah
96 Dikutip dari Putusan Perkara No. 0619/Pdt.G/2017/PA.Kla, h. 20.
97 Dikutip dari Putusan Perkara 0053/Pdt.G/2018/PA.Kla. h., 13
fi qih disitir sebagai dasar dalam menilai peristiwa hukum. UU Pengadilan Agama, HIR/Rbg (Hukum acara perdata peninggalan masa kolonial), dan beberapa pendapat ulama dalam kitab fi qih dijadikan rujukan sebagai dasar hukum formal/acara dalam perkara perceraian ditegakkan.98
Argumentasi hukum ini dikonstruksi oleh majelis hakim dalam dua pola yang dalam tulisan ini disebut sebagai pola komprehensif dan pola substantif. Pola komprehensif adalah pola yang digunakan majelis hakim untuk menjelaskan argumentasi hukumnya secara detail dan elaboratif bahwa setiap fakta hukum dibuktikan dan disandarkan pada aturan perundang-undangan dan juga aturan tidak tertulis. Sementara pola substantif digunakan majelis hakim untuk menjelaskan argumentasi hukumnya sebatas persoalan yang menjadi materi gugatan, misalnya hanya tentang alasan perceraian, tujuan perkawinan, dan upaya damai. Pola menarasikan argumentasi hukum secara komprehensif ataupun substantif lebih merupakan pilihan subjektif hakim. Argumentasi hukum yang detail, menyeluruh dan elaboratif sesungguhnya sangat bermakna pada tataran intelektual sebagai produk pemikiran hukum Islam Indonesia. Sementara, secara pragmatis putusan dianggap bermakna oleh para pihak hanya pada bunyi putusan (amar) dan eksekusi putusannya. Terbukti dari pernyataan informan bahwa yang terpenting itu putus cerainya dan lepas dari lingkaran relasi keluarga yang tidak membahagiakan. 99
Bagian kedua adalah amar putusan yang menggambarkan bagaimana hakim menyimpulkan hasil pemeriksaan perkara dan menetapkan keputusan hukum (konstituiring). Amar putusan bisa berupa tidak menerima gugatan, mengabulkan gugatan seluruhnya, mengabulkan gugatan sebagian, atau menolak gugatan seluruhnya.
39 putusan perceraian ini, secara keseluruhan mengabulkan gugatan untuk bercerai. Terdapat satu perkara kumulasi yang juga dikabulkan tuntutan hak asuh anaknnya,100 kumulasi perkara yang ditolak,101 dan dijumpai rekopensi agar istri turut menanggung
98 Hasil inventarisasi terhadap dasar hukum 39 Putusan yang menjadi objek kajian.
99 Wawancara dengan KJ dan MK.
100 Putusan No. 0619/Pdt.G/2017/PA. Kla
101 Putusan No. 0845/Pdt.G/2017/PA. Kla
nafkah anak,102 juga dikabulkan oleh majlis hakim. Artinya, jika perempuan mampu mengartikulasikan pengalaman buruk dalam rumah tangganya ketika dia menggugat maka berpeluang mendapatkan hak-hak dalam perceraiannya dan mengetahui bagaimana memperjuangkannya. Sementara pilihan untuk menyederhanakan masalah perceraian sebagai upaya legalisasi semata maka kepastian hukum perceraian lah yang didapatkannya.
Tidak ada satu putusan pun yang amarnya melampaui apa yang menjadi materi gugatan. Meski hakim secara ex offi cio dapat memutus di luar materi gugatan ketika majelis menganggap ada nilai keadilan di dalamnya, tampaknya majelis hakim memilih untuk berpegang pada asas ultra petita sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya.
Membaca duduk perkara dan bunyi putusan pengadilan, maka semakin terang bahwa perempuan yang menggugat perceraian menerima takdir hukum rumah tangganya melalui putusan pengadilan sebatas mendapatkan legalitas perceraian. Hak-haknya dalam perceraian untuk mendapatkan uang mutah, nafkah masa iddah, penetapan hak asuh anak, dan nafkah pengasuhan anak tidak menjadi bagian putusan karena tidak menjadi bagian materi gugatan. Selain itu, posisi sebagai penggugat menjadikan perempuan dalam posisi rentan dihadapan hukum karena berpeluang dianggap membangkang (nusyuz) yang menghalanginya mendapatkan hak- hak perceraian tersebut. Narasi putusan masih menggambarkan kuatnya nalar legal-positivistik yang lebih mengedepankan aspek prosedural bukan aspek substantif.