• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TELAAH PUSTAKA

B. Hak Istri atas Suami

Artinya: "Allah melaknat perempuan-perempuan yang menunda- nunda ketika diajak suaminya ke tempat tidur. Ia (istrinya) berkata, 'Nanti saja,' sehingga suaminya tertidur nyenyak."41

Menurut FK3, hadits sebagaimana tersebut di atas diriwayatkan ath- Thabrani dalam al-Awsath (Juz IV, 542, hadits no. 4393) dan al-Mu'jam al- Kaba'ir dari Ibn Umar melalui jalur Ja'far ibn Maisarah al-Asyja'i dari ayahnya. Juga diriwayatkan oleh Al-Haitsami dalam kitab Majma'-nya (Juz IV, 299). Menurut ath-Thabari, Maisarah adalah perawi yang dha'if dan ia juga tidak menemukan keterangan yang menyebutkan bahwa ayah Maisarah mendengar hadits ini dari Ibn Umar. Ibn Abi Hatim bertanya kepada ayahnya tentang hadits ini, lalu dijawab bahwa hadits ini bathil ('Ilal al-Hadits, hadits no. 1226). Menurut Ibn Jawzi dalam kitab al-I'lal al-Mutanahiyah (Juz I, 140), hadits ini tidak sahih. Jadi hadits ini, menurut kesimpulan FK3, adalah maudhu'.42

hak istri atas suami adalah: (1) memberi nafkah, pakaian, dan tempat tinggal, serta (2) biaya rumah tangga, biaya perawatan, dan biaya pengobatan.44

Sementara itu, menurut Syeikh Ali Yusuf as-Subki, yang termasuk hak istri yang wajib ditunaikan suami adalah: (1) mahar, (2) nafkah, (3) pendidikan dan pengajaran, dan (4) disediakan kesenangan istri. Termasuk hak istri menyangkut pengajaran adalah mengenai hukum-hukum shalat, hukum-hukum haid, dan hendaknya membacakan pendapat tentang bid'ah dan berbagai kemungkaran dengan menjelaskan keyakinan yang benar kepadanya. Adapun mengenai kesenangan istri, menurut Syeikh Ali Yusuf as-Subki, misalnya seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. 'Aisyah pernah berkata: "Aku mendengar suara-suara manusia dari Habasyah. Yang lain bermain-main pada hari Asyura, lalu Rasulullah berkata kepadaku: 'Apakah engkau suka melihat permainan mereka?' 'Aisyah menjawab: ya." Kemudian Rasul mengutus kepada mereka, lalu mereka datang.45

Mengenai nafkah, maka istri, walaupun ia kaya, tidak berkewajiban membelanjai keluarganya atau dirinya dengan hartanya sendiri—banyak mau pun sedikit—kecuali dengan jiwa yang ikhlas dan ridla. Sebaliknya, suamilah yang berkewajiban membelanjai keperluan hidup istrinya semenjak diadakannya akad pernikahan. Ia harus menyediakan tempat tinggal dan peralatannya, pakaiannya dan makanannya.46 Dan apabila suami memiliki

44Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat, 161.

45Disarikan dari as-Subki, Fiqh Keluarga, 173-194

46Al-Khauly, Islam dan Persoalan Perempuan Modern, 79.

lebih dari satu istri, maka termasuk hak istri atas suaminya adalah keadilan dalam pemberian nafkah dan perumahan.47

Sampai di sini, dapat diketahui bahwa nafkah menjadi hak istri atas suaminya sejak mereka mendirikan kehidupan rumah tangga. Oeh karena itu, syariat Islam menetapkan, baik istri kaya atau fakir, istri tetap berhak untuk mendapat nafkah dari suaminya. Teks Al-Qur'an memberikan kesaksian mengenai hal ini, dimana Allah berfirman dalam Surat ath-Thalaq ayat 6 dan 7 bahwa:

... ْﻢُﻛِﺪْﺟُو ْﻦِﻣ ْﻢُﺘْﻨَﻜَﺳ ُﺚْﻴَﺣ ْﻦِﻣ ﱠﻦُﻫﻮُﻨِﻜْﺳَأ

Artinya: "Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu."48

... ُﻪﱠﻠﻟا ُﻩﺎَﺗآ ﺎﱠِﳑ ْﻖِﻔْﻨُـﻴْﻠَـﻓ ُﻪُﻗْزِر ِﻪْﻴَﻠَﻋ َرِﺪُﻗ ْﻦَﻣَو ِﻪِﺘَﻌَﺳ ْﻦِﻣ ٍﺔَﻌَﺳ وُذ ْﻖِﻔْﻨُـﻴِﻟ

Artinya: "Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya."49

Allah juga berfirman dalam Surat al-Baqarah ayat 233 bahwa:

... ِفوُﺮْﻌَﻤْﻟﺎِﺑ ﱠﻦُﻬُـﺗَﻮْﺴِﻛَو ﱠﻦُﻬُـﻗْزِر ُﻪَﻟ ِدﻮُﻟْﻮَﻤْﻟا ﻰَﻠَﻋَو ...

Artinya: "Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf."50

47As-Subki, Fiqh Keluarga, 193.

48Departemen Agama Republik Indonesia, Al Qur'an dan Terjemahnya, 946.

49Ibid.

50Ibid., 57.

Kemudian, menurut Quraish Shihab, firman Allah di dalam Surat Al- Baqarah ayat 228 dapat dijadikan sebagai pengumuman Al-Qur'an terhadap hak-hak istri atas suami. Allah berfirman:

... ٌﺔَﺟَرَد ﱠﻦِﻬْﻴَﻠَﻋ ِلﺎَﺟﱢﺮﻠِﻟَو ِفوُﺮْﻌ َﻤْﻟﺎِﺑ ﱠﻦِﻬْﻴَﻠَﻋ يِﺬﱠﻟا ُﻞْﺜِﻣ ﱠﻦَُﳍَو ...

Artinya: "Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf."51

Mendahulukan penyebutan hak mereka atas kewajiban mereka, ungkap Quraish Shihab, dinilai sebagai penegasan tentang hal tersebut, sekaligus menunjukkan betapa pentingnya hak itu diperhatikan, apalagi selama ini, pada beberapa suku masyarakat Jahiliah, wanita hampir dapat dikatakan tidak mempunyai hak sama sekali. Ayat ini secara tegas menyatakan adanya hak tersebut.52Dalam konteks hubungan suami istri, ayat ini menunjukkan bahwa istri mempunyai hak dan kewajiban terhadap suami, sebagaimana suami pun mempunyai hak dan kewajiban terhadap istri;

keduanya dalam keadaan seimbang, bukan sama.53 Dengan demikian, tuntunan ini menuntut kerja sama yang baik—pembagian kerja sama yang adil antar suami istri walau tidak ketat, sehingga terjalin kerja sama yang harmonis antar keduanya, bahkan seluruh anggota keluarga. Walau bekerja mencari nafkah adalah tugas utama pria, tetapi bukan berarti istri tidak diharapkan bekerja juga, khususnya bila penghasilan suami tidak mencukupi

51Ibid., 55.

52 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 1 (Jakarta: Lentera Hati, 2005), 490.

53Ibid., 491.

kebutuhan rumah tangga. Di sisi lain, walau istri bertanggung jawab menyangkut rumah tangga, kebersihan, penyiapan makanan dan mengasuh anak, tetapi itu bukan berarti suami membiarkannya sendiri tanpa dibantu walau dalam pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan rumah tangga.

Diriwayatkan, bahwa Rasul saw. menjahit sendiri pakaian beliau yang sobek, memerah susu kambing untuk sarapan, dan terlibat membantu istri-istri beliau dalam urusan rumah tangga.54

Khusus mengenai nafkah, berbeda dengan para ulama yang menekankan hak istri untuk menerima nafkah, para feminis muslim menekankan bahwa selain berhak menerima nafkah, istri juga berhak mencari nafkah. Hal ini karena pada zaman Nabi saw sendiri, para ibu aktif dalam berbagai bidang pekerjaan, mulai dari merias pengantin, bidan, perawat, bahkan istri Nabi yang pertama—Khadijah binti Khuwailid—tercatat sebagai orang yang sukses dalam bidang perdagangan. Raithah, istri Abdullah bin Mas'ud, seorang sahabat Nabi, bekerja keras untuk keluarga, karena suami dan anaknya tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga.55Bahkan menurut Asghar Ali Engineer, perempuan tidak hanya mempunyai hak untuk mencari penghasilan, tetapi juga apa yang mereka usahakan tersebut menjadi milik mereka sendiri. Hasil tersebut tidak bisa dibagi dengan bapak atau suaminya kecuali dengan keinginan mereka (perempuan) sendiri.56

54Ibid.

55FK3, Wajah Baru Relasi Suami-Istri, 32-33.

56Asghar Ali Engineer, Pembebasan Perempuan, terj. Agus Nuryatno, cet. 2 (Yogyakarta: LKiS, 2007), 67.

Selain itu, berbeda dengan para ulama seperti Bahay Al-Khauly dan Syeikh Ali Yusuf as-Subki yang memandang hak nafkah istri dari sudut pandang materi semata, para feminis muslim meluaskan jangkauannya dan menggolongkan hubungan seksual sebagai nafkah batin istri. Dengan demikian, menurut feminis muslim, misalnya Siti Mujibatun, yang termasuk dalam hak istri atas suami adalah: hubungan seksual. Siti Mujibatun berargumentasi dengan pendapat para ulama madzhab mengenai 'azl (coitus interruptus), yakni menarik penis keluar dari vagina pada saat-saat mau keluar mani. Ternyata tiga dari empat madzhb terkemuka, yaitu Imam Hanafi, Maliki dan Hambali sependapat bahwa 'azl tidak boleh dilakukan begitu saja oleh suami tanpa seizin istri, dengan alasan dapat merusak kenikmatan istri.

Dikatakan oleh Ibnu Umar bahwa Rasulullah melarang seorang melakukan 'azl tanpa seizin istrinya.57 Dengan dilarangnya 'azl tanpa seizin istri karena dikhawatirkan dapat merusak kenikmatan seksual istri, maka ini menjadi isyarat bahwa istri sebenarnya memiliki hak untuk mendapat nafkah seksual dari suami.

Selain itu, feminis muslim juga menekankan adanya satu lagi hak istri, yaitu hak reproduksi. Misalnya Nasaruddin Umar, berpandangan bahwa menentukan apakah suatu pasangan akan mempunyai anak atau tidak (dengan melakukan rekayasa reproduksi), tidak bisa hanya diputuskan oleh satu pihak

57Mujibatun, Laknat dalam Penolakan Hubungan Seksual, dalam Sukri (ed.), Bias Jender dalam Pemahaman Islam, 169.

(biasanya kaum laki-laki), tetapi perempuan pun berhak meminta atau menolak memiliki keturunan.58

Kemudian, feminis muslim juga merasa berkepentingan untuk mengingatkan masyarakat luas bahwa sebenarnya, pekerjaan-pekerjaan semacam memasak, mencuci, dan merawat rumah; bukanlah kewajiban istri.

Pekerjaan-pekerjaan tersebut, yang sudah mapan dipandang masyarakat sebagai kewajiban istri, tidak lain tidak bukan, sebenarnya adalah hak istri.

Menurut FK3, misalnya, pekerjaan memasak, mencuci, mengasuh anak, dan sebagainya, yang selama ini, di beberapa negara termasuk Indonesia, diyakini sebagai pekerjaan yang wajib dilakukan perempuan, ternyata merupakan konstruksi sosial yang dibentuk oleh manusia, bukan pekerjaan yang wajib dilakukan oleh perempuan atas dasar perintah agama.59