• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TELAAH PUSTAKA

A. Hak Suami atas Istri

dipahami sebagai kewajiban suami. Dan ketiga, hak dan kewajiban bersama suami-istri.

Jika suaminya menyuruh kepada kemaksiatan seperti berhubungan dengannya lewat "dubur", maka ia tidak boleh sepakat dan hal tersebut haram baginya.

Dan jika ia diperintahkan untuk meninggalkan puasa Ramadhan, haji ke Baitullah, atau diperintahkan meninggalkan zakat, maka tidak boleh taat kepadanya. Begitu juga, jika ia berhubungan dengannya saat haidh, haram baginya taat kepada suaminya pada hal-hal demikian.30

Abdul Hakam Abdullatif Ash-Sha'idi, menyebutkan bahwa hak suami atas istri adalah: (1) kepemimpinan keluarga, (2) taat kepada suami dalam hal yang tidak maksiat kepada Allah, (3) melayani dengan baik, (4) amanah terhadap nama dan harta, (5) melihat harta suami yang sedikit menjadi banyak, (6) menghormati keluarga suami, dan (7) setia kepada suami.31

Adapun menurut H. M. A. Tihami dan Sohari Sahrani, hak suami atas istri adalah: (1) ditaati dalam hal-hal yang tidak maksiat, (2) istri menjaga dirinya sendiri dan harta suami, (3) menjauhkan diri dari mencampuri sesuatu yang dapat menyusahkan suami, (4) tidak bermuka masam di hadapan suami, dan (5) tidak menunjukkan keadaan yang tidak disenangi suami.32

Mengenai hak suami atas istri, ada pandangan yang mengatakan bahwa hubungan seks adalah hak dari suami. Konsekuensinya, mereka yang menganut pandangan ini meyakini bahwa sudah menjadi kewajiban istri untuk melayani kebutuhan seks suaminya. Pandangan ini berasal dari penganut madzhab Syafi'i, yang mendefinisikan pernikahan sebagai akad

30Ibid., 152.

31 Disarikan dari Abdul Hakam Abdullatif ash-Sha'idi, Menuju Keluarga Sakinah, terj. Abdul Hayyie el Kattani dan Uniqu Attaqi, cet. 2 (Jakarta: Akbar, 2002), 87-96.

32Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat, 158.

tamlik (kontrak kepemilikan). Yakni bahwa dengan pernikahan, seorang suami telah melakukan kontrak pembelian perangkat seks (budh'u) sebagai alat melanjutkan keturunan, dari pihak perempuan yang dinikahinya. Dalam konsep pernikahan seperti ini pihak lelaki adalah pemilik dan sekaligus penguasa perangkat seks yang ada pada tubuh istri, sekaligus pemilik anak yang dihasilkan. Oleh sebab itu, kapan, dimana, dan bagaimana hubungan seks dilakukan, sepenuhnya tergantung pada pihak suami, dan istri tidak punya pilihan lain kecuali melayani.33 Dengan konsep akad tamlik ini, istri berada di bawah kepemilikan suami. Suami memiliki hak penuh untuk mengatur dan memperlakukan istri. Masalah seks pun ditentukan oleh suami.34

Tetapi pandangan bahwa pernikahan adalah akad tamlik, sehingga hubungan seksual menjadi hak mutlak suami, ditolak oleh feminis muslim.

Nasaruddin Umar misalnya, mengatakan bahwa bagi seorang perempuan, seks tidak sekadar sebuah kewajiban, tetapi juga adalah hak. Perempuan memiliki hak untuk memperoleh kenikmatan seksual, juga memiliki hak untuk menolak manakala ia tidak siap untuk hubungan tersebut sehingga ia tidak harus melakukan hubungan seks secara terpaksa.35 Mufidah Ch juga menolak pandangan bahwa pernikahan adalah akad tamlik, hal ini karena menurutnya, apabila masalah seks ditentukan oleh suami, maka bisa

33 Lihat Masdar F. Mas'udi, Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan: Dialog Fiqh Pemberdayaan, cet 2 (Bandung: Mizan, 1997), 107-108.

34 Mufidah Ch, Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender (Malang: UIN-Malang Press, 2008), 207.

35 Nasaruddin Umar, Teologi Reproduksi, dalam Sri Suhandjati Sukri (ed.), Bias Jender dalam Pemahaman Islam, Jilid 1 (Yogyakarta: Gama Media, 2002), 26.

mengakibatkan terjadinya pemaksaan hubungan seksual pada saat istri tidak siap untuk melayani.36 Hal yang sama juga diungkapkan oleh FK3. Mereka menegaskan bahwa sesungguhnya, hubungan seksual bukanlah hak suami seorang, tetapi merupakan hak suami dan istri. Mereka bahkan berargumentasi dengan mengutip pandangan ulama-ulama klasik. FK3 menulis sebagai berikut:

"Ulama madzhab Hanafi berpendapat, istri boleh menuntut suami untuk melakukan persetubuhan, karena ketika tubuh suami menjadi halal bagi istri, maka istri mempunyai hak terhadap suami, begitu pula sebaliknya. Jika istri menuntutnya, maka suami wajib memenuhinya.

Ulama madzhab Maliki berpendaat bahwa melakukan persetubuhan adalah kewajiban suami terhadap istri jika tidak ada uzur (alasan yang dibenarkan). Dari penjelasan para imam di atas, kami mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya hubungan seksual merupakan hak suami dan istri. Keduanya harus dapat memenuhi kebutuhan masing- masing pihak. Namun demikian, faktor kesehatan tetap menjadi prioritas utama, terlebih-lebih bagi perempuan, karena perempuan mengemban tugas yang sangat mulia yaitu hamil dan melahirkan anak."37

Ada juga pandangan di antara para ulama yang mengatakan bahwa apabila seorang istri menolak diajak "tidur" suaminya, maka ia mendapat laknat—bisa dari Allah, malaikat, bahkan seluruh antara langit dan bumi—

dikarenakan ia tidak memenuhi hak seksual sang suami. Syeikh Nawawi termasuk dalam kelompok ini.38 Ulama lain yang juga mengakui adanya laknat apabila istri menolak ajakan "tidur" suaminya adalah, misalnya, Imam Syafi'i dan Syeikh Mustafa Muhammad Imarah. Siti Mujibatun menulis bahwa dalam kitab Al-Umm, Imam Syafi'i menjelaskan bahwa laknat

36Mufidah, Psikologi Keluarga, 207.

37FK3, Kembang Setaman Perkawinan, 164-165.

38Muhammad bin Umar Nawawi, Terjemah Syarah Uqudullujain: Etika Berumah Tangga, terj.

Afif Busthomi dan Masyhuri Ikhwan, cet. 2 (Jakarta: Pustaka Amani, 2000), 48-49.

malaikat itu terjadi jika penolakan istri dilakukan tanpa adanya alasan yang dibenarkan syara'. Syeikh Mustafa Muhammad Imarah juga berpendapat, laknat malaikat itu terjadi jika penolakan istri dilakukan tanpa adanya alasan yang dibenarkan syara'.39

Tetapi kemudian, para feminis muslim berusaha untuk melakukan reinterpretasi terhadap makna "laknat" dalam konteks penolakan tidur istri.

FK3 misalnya, memilih untuk tidak memaknai kata laknat sebagaimana makna dhohir-nya yang berarti kutukan. Menurut FK3, laknat yang dimaksud, lebih tepat bila dimaknai sebagai laknat dalam konteks sosial kemanusiaan, yaitu hilangnya kebaikan, kasih sayang, dan kedamaian dalam kehidupan. Jika laknat terjadi dalam rumah tangga, kata FK3, maka itu berarti bahwa rumah tangga kehilangan kasih sayang dan kedamaian. Yang ada adalah kebencian dan pertengkaran. Hal ini akan terjadi apabila seorang suami tidak memperoleh apa yang diinginkan dari istrinya. Demikian pula sebaliknya.40

Selain melakukan reinterpretasi terhadap makna laknat, feminis muslim juga tidak ketinggalan untuk melakukan studi kritis terhadap hadits yang menurut mereka, menjadi legitimasi "dilaknatnya istri" di kalangan ulama. FK3 misalnya, men-takhrij sabda Rasulullah saw berikut:

ا َﻦَﻌَﻟ ﻟ ﱠﻮَﺴُﻤْﻟا ُﻪﱠﻠ ﱠﻟا ِتَﺎﻓ

َﺎﻬُﺟْوَز َﻩْﻮُﻋْﺪَﻳ ِْﱵ ِإ

ُﻩَﺎﻨْﻴَﻋ َﺐُﻠْﻐَـﺗ ﱠﱵَﺣ ًفْﻮَﺳ ُلْﻮُﻘَـﺘَـﻓ ِﻪِﺷاَﺮِﻓ َﱄ

39Siti Mujibatun, Laknat dalam Penolakan Hubungan Seksual, dalam Sukri (ed.), Bias Jender dalam Pemahaman Islam, 166-167.

40FK3, Wajah Baru Relasi Suami-Istri, 50.

Artinya: "Allah melaknat perempuan-perempuan yang menunda- nunda ketika diajak suaminya ke tempat tidur. Ia (istrinya) berkata, 'Nanti saja,' sehingga suaminya tertidur nyenyak."41

Menurut FK3, hadits sebagaimana tersebut di atas diriwayatkan ath- Thabrani dalam al-Awsath (Juz IV, 542, hadits no. 4393) dan al-Mu'jam al- Kaba'ir dari Ibn Umar melalui jalur Ja'far ibn Maisarah al-Asyja'i dari ayahnya. Juga diriwayatkan oleh Al-Haitsami dalam kitab Majma'-nya (Juz IV, 299). Menurut ath-Thabari, Maisarah adalah perawi yang dha'if dan ia juga tidak menemukan keterangan yang menyebutkan bahwa ayah Maisarah mendengar hadits ini dari Ibn Umar. Ibn Abi Hatim bertanya kepada ayahnya tentang hadits ini, lalu dijawab bahwa hadits ini bathil ('Ilal al-Hadits, hadits no. 1226). Menurut Ibn Jawzi dalam kitab al-I'lal al-Mutanahiyah (Juz I, 140), hadits ini tidak sahih. Jadi hadits ini, menurut kesimpulan FK3, adalah maudhu'.42