• Tidak ada hasil yang ditemukan

الأعراف : 148)

C. Hakikat dan Tujuan Pendidikan Islam

di sekitarnya ke arah yang abstrak, boleh jadi menunjukkan sebagai suatu gejala kegagalan lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial termasuk person yang dapat menjadi contoh/teladan tidak mendapatkan lagi simpatik. Sementara pesona yang menarik dari lingkungan yang jauh boleh jadi pula didapatkan melalui penggambaran abstrak dan tidak utuh, semua digambarkan serba hebat, serba baik, meliputi hal-hal yang bernilai dan dianggap bermanfaat lebih dari sekedar apa yang mampu diamati dari lingkungan primernya yang dekat.

Bertolak dari prediksi tersebut, perkembangan jiwa seseorang sangat mungkin mengambil bentuk dan alur yang unik dalam artian merupakan akumulasi dari berbagai bentuk pengaruh yang baik maupun tidak baik dari lingkungan sekunder (yang jauh) maupun dari lingkungan primer (sekitar yang dekat).

Berdasarkan uraian tersebut dapat dipahami bahwa perkembangan jiwa manusia, dapat berujung pada terpeliharanya kemurnian serta kesucian ruh (jiwa) sebagai anugrah Allah, tetapi kemungkinan lain dapat pula mengarah kepada tercemarnya ruh (jiwa) itu yang berakibat terjadinya gangguan kejiwaan yang serius pada diri yang bersangkutan.

mendapatkan kepuasan ruhaniah, juga sering diartikan dengan

“menumbuhkan” kemampuan dasar manusia. Bila ingin diarahkan ke arah pertumbuhan sesuai dengan ajaran, maka harus berproses melalui sistem kependidikan Islam, baik melalui kelembagaan maupun melalui sistem kurikuler.291

Dilihat dari ilmu pendidikan teoretis, tujuan pendidikan ditempuh secara bertingkat, misalnya tujuan intermediair (sementara atau antara), yang dijadikan batas sasaran kemampuan yang harus dicapai dalam proses pendidikan pada tingkat tertentu, untuk mencapai tujuan akhir.

Adapun tujuan akhir pendidikan Islam adalah pada hakikatnya merupakan realisasi dari cita-cita ajaran Islam yang membawa misi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah swt., lahir dan batin, dunia dan akhirat. Tujuan akhir pendidikan Islam telah disusun oleh para ulama dan ahli pendidikan Islam dari semua golongan dan mazhab dalam Islam.

Pendidikan Islam berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir pula. Tujuan umum yang berbentuk Insan Kamil dengan pola takwa dapat mengalami naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan, dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk dan mengembangkan, serta memelihara dan mempertahankan tujuan pendidikan Islam yang telah dicapai. “Orang yang sudah bertakwa dalam bentuk Insan Kamil, masih perlu mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurang-kurangnya pemeliharaannya supaya tidak luntur dan

291 M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoretis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner (Cet. 4; Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 32.

berkurang, meskipun pendidikan oleh diri sendiri dan bukan dalam pendidikan formal.

Sebagaimana rumusan hasil keputusan Seminar Pendidikan Islam se-Indonesia tanggal 7 sampai 11 Mei 1960 di Cipayung Bogor. Pada saat itu berkumpullah ulama ahli pendidikan Islam dari semua lapisan masyarakat Islam dan telah berhasil merumuskan tujuan pendidikan Islam.292 Rumusan lain tentang tujuan pendidikan Islam oleh Oemar al-Toumy al- Syaibany sebagai berikut: “Tujuan pendidikan Islam adalah perubahan yang diinginkan dan diusahakan dalam proses pendidikan atau usaha pendidikan untuk mencapainya, baik tingkah laku individu dari kehidupan pribadinya atau kehidupan masyarakat serta pada alam sekitar di mana individu itu hidup atau pada proses pendidikan dan pengajaran sebagai suatu tindakan kegiatan asasi dan sebagai proporsi di antara profesi asasi dalam masyarakat”.293

Tujuan-tujuan tersebut dapat paralel dan dapat pula pada urutan satu garis (linier) dalam hal ini, terdapat tujuan yang dekat, lebih jauh atau dalam istilah lain terdapat beberapa tujuan sementara dan tujuan akhir pendidikan Islam294. Tujuan

292 Tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan takwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berkepribadian dan berbudi pekerti luhur menurut ajaran Islam. Tujuan tersebut ditetapkan berdasarkan atas pengertian bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan ruhani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam. H.M. Arifin. Filsafat Pendidikan Islam (Cet.

4; Jakarta: Bumi Aksara, 1994), h. 41.

293 Lihat, Ibid., h. 42.

294 Fungsi dari pendidikan Islam adalah memelihara arah usaha itu dan mengakhiri setelah tujuan itu tercapai. Fungsi tujuan sementara ialah membantu memelihara arah usaha dan menjadikan titik berpijak untuk mencapai tujuan-tujuan lebih lanjut dan tujuan akhir.

Pendidikan Islam ialah usaha yang bertujuan banyak dalam urutan satu garis (linier), sebelum mencapai tujuan akhir, pendidikan Islam lebih dahulu mencapai beberapa tujuan sementara. Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam (Cet. 4; Bandung:

pendidikan Islam identik dengan tujuan hidup setiap orang muslim. Bila pendidikan dipandang sebagai suatu proses, maka proses tersebut akan berakhir pada tercapainya tujuan pendidikan. Suatu tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya adalah suatu perwujudan dari nilai-nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia yang diinginkan. Nilai-nilai ideal itu mempengaruhi dan mewarnai pola kehidupan manusia, sehingga menggejala dalam perilaku lahiriahnya, dengan kata lain perilaku lahiriah adalah cermin yang memproyeksikan nilai- nilai ideal memacu di dalam jiwa manusia sebagai produk dari proses pendidikan.

Pendidikan Islam juga mempunyai tujuan yang sesuai dengan falsafah dan pandangan hidup yang digariskan Al-Qur’an.

Ibnu Khaldun mengatakan sebagaimana dikutip oleh Ramayulis bahwa tujuan pendidikan Islam mempunyai dua tujuan.295 Demikian pula Abdullah Fayad, menyatakan bahwa pendidikan Islam mengarah pada dua tujuan.296 Semua rumusan tujuan yang dikemukakan di atas sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Tujuan pendidikan Islam adalah mengandung tentang nilai-nilai ideal yang bercorak Islami. Hal ini mengandung bahwa tujuan pendidikan Islam tidak lain adalah: “Tujuan merealisasikan idealitas Islami. Sedangkan idealitas Islami itu pada hakikatnya mengandung nilai perilaku manusia yang disadari atau dijiwai

Alma’arif, 1981), h. 46.

295 Pertama, tujuan keagamaan, maksudnya ialah beramal untuk akhirat, sehingga ia menemui Tuhannya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan ke atasnya. Kedua, tujuan ilmiah yang bersifat keduniawian, yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tujuan kemanfaatan atau persiapan untuk hidup. Lihat, Ramayulis Ilmu Pendidikan Islam (Cet. 1; Jakarta: Kalam Mulia, 1994), h. 25-26.

296 Pertama, persiapan untuk hidup akhirat; kedua, membentuk perorangan dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menunjang kesuksesan hidup di dunia. Lihat, Ibid., h. 26-27.

oleh iman dan takwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan yang ditaati”.297

Selanjutnya al-Gazali berpendapat bahwa “Tujuan pendidikan Islam paling utama ialah beribadah dan taqarrub kepada Allah, dari kesempurnaan insani yang tujuannya kebahagiaan dunia dan akhirat”298 Selain dari pandangan yang dikemukakan oleh al-Gazali tentang tujuan pendidikan Islam.

Al-Gazali merumuskan tujuan umum pendidikan Islam ke dalam lima pokok.299

Sebagaimana diketahui bahwa tujuan pendidikan adalah salah satu faktor determinan dalam pendidikan pada umumnya.

Secara khusus dalam pendidikan Islam, yang menjadi tujuan utama adalah terbentuknya akhlak yang mulia (akhlak al- karimah).

Berbagai aspek harus dilihat dalam rangka penetapan dan pemantapan tujuan pendidikan tersebut termasuk pendidikan Islam. Aspek-aspek yang dimaksud adalah berkaitan dengan berbagai hal yang harus diperhatikan dalam hubungannya dengan subjek dan objek didik.

Sebagai titik akhir yang ingin dicapai adalah kesempurnaan jiwa manusia. Kesempurnaan jiwa diasumsikan sebagai suatu capaian yang harus diraih oleh segenap usaha manusia. Oleh

297 M. Arifin, “Filsafat Pendidikan Islamop. cit., h. 119.

298 Ramayulis, op. cit., h. 26.

299 Pertama, membentuk akhlak mulia (al-fadhilah); Kedua, persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat; Ketiga, persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi pemanfaatannya. Keterpaduan antara agama dan ilmu akan dapat membawa manusia kepada kesempurnaan; Keempat, menumbuhkan ruh ilmiah para pelajar dan memenuhi keinginan untuk mengetahui serta memiliki kesanggupan untuk mengkaji ilmu sekedar sebagai ilmu; Kelima, mempersiapkan para pelajar untuk suatu profesi tertentu sehingga ia mudah mencari rezeki. Lihat, Ibid.

karenanya perangkat pendidikan yang direkayasa senantiasa mencerminkan daya dukungnya terhadap tujuan itu.

Secara umum ajaran Islam memajukan suatu gagasan untuk membangun jati diri manusia, yakni agar setiap manusia itu menampakkan apa yang disebut sebagai “ruh ilahiah”.300 Ruh inilah yang dimaksud oleh Mutahhari, itu tiada lain adalah tingkatan dimana manusia mampu mengetahui pengetahuan yang sempurna tentang keberadaan dirinya yang memiliki martabat dan derajat yang mulia di sisi Allah. Dalam posisi seperti itu, manusia yang bersangkutan senantiasa akan menjauhi segala bentuk larangan yang dapat berakibat lanjutan manusia yang bersangkutan menerima predikat kehinaan yang bertentangan dengan ketinggian derajat dan martabatnya.301

Jika ditelusuri lebih jauh, maka pencapaian kesempurnaan jiwa harus diproses melalui berbagai fase dan tingkatan secara berjenjang. Dengan proses itu akan dapat diukur tingkat keberhasilan maupun kendala-kendala yang dihadapi.

Dengan gambaran tersebut, dapat dipahami bahwa dalam rangkaian pencapaian tujuan akhir tersebut diperlukan pencapaian tujuan-tujuan antara. Tujuan-tujuan antara itulah yang akan menjadi landasan serta pijakan yang kokoh dalam menuju jenjang tujuan yang lebih tinggi lagi. Memang patut diakui bahwa perumusan tujuan-tujuan antara tidak terlepas dari irama pertumbuhan dan perkembangan jiwa manusia sebagai

300 Lihat, Murtadha Mutahhari, Perspektif Al-Qur’an tentang Manusia dan Agama disunting oleh Haidar Baqir, (Cet. 1; Bandung: Mizan, 1984), h. 133. Dalam rangkaian pencapaian tujuan yang sangat luhur itu ada beberapa tujuan antara untuk menuju kepada tercapainya tujuan hakiki sebagaimana maksud penciptaan manusia. Lihat, Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan (Cet. 2; Jakarta: Pustaka al-Husna, 1989), h. 55.

301 Lihat, Ibid.

objek didik sekaligus sebagai subjek didik. Dalam kaitan ini, akan terjadi variasi tujuan yang mengacu kepada pertimbangan subjek dan objek didik itu.

Sebagai konsekuensi dari keberadaan manusia sebagaimana disinggung di atas, maka pandangan tentang otoritas yang dimiliki dalam berbuat yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah memberikan pengaruh psikologis dalam setiap derap kehidupan manusia. Hidup seperti itulah yang mempunyai misi bertujuan untuk menjadi makhluk pengganti (khalifah) Allah di muka bumi ini. Dengan demikian akan berbeda efeknya jika seseorang yang menganut suatu pandangan akan mengatakan bahwa keberadaan manusia hanya seolah-olah ditancapkan di muka bumi dan disokong oleh suatu kekuatan yang menggerakkannya, sehingga manusia seperti itu, hanya menjalani kehidupan secara kebetulan.302

Dalam konteks lain manusia sebagai makhluk yang memiliki otonomi tersebut, lebih jauh ia akan mampu mewujudkan dirinya sebagai penggabungan antara pemenuhan dorongan-dorongan biologikal dengan upaya untuk mempertahankan fitrahnya, badan hanyalah suatu unsur yang kepadanya diperlukan tambahan yang lain yakni ruh dan kebebasan memilih atau kebebasan kemauan.303

Atas dasar pemikiran dan pandangan seperti itu, manusia dinyatakan potensial untuk dididik yang dalam kamus pendidikan disebutkan bahwa manusia itu adalah animal educandum (hewan yang dapat dididik).

302 Lihat, Murtadha Mutahhari, op. cit., h. 135.

303 Lihat, Hasan Langgulung, “Manusia dan Pendidikan” op. cit., h. 58.

Kapabilitas yang dimiliki manusia ternyata melebihi apa yang sekedar mampu dicapai oleh binatang,304 hal tersebut cukup beralasan mengapa manusia mampu mencapai kesempurnaan hidup dengan berbagai dimensinya, sedangkan makhluk yang lain tidak dapat mencapainya. Hal tersebut dapat ditelusuri melalui pendekatan pembagian jenis makhluk dengan kemampuannya masing-masing.

Dengan pendekatan tersebut, perlengkapan yang dimiliki melebihi apa yang ada pada jenis benda mati, tumbuhan dan hewan. Kalau tumbuh-tumbuhan dan hewan mempunyai perlengkapan alami atau intuitif, maka manusia memiliki perlengkapan dengan kemampuan insani yang sangat istimewa yaitu daya nalar.305

Keistimewaan daya nalar yang ditemukan dengan melihat karakteristik inheren yang ada dalam sifat manusia antara lain: 1) Keluasan wasasan kesadaran manusia, 2) Keluasan wilayah yang dapat dicakup oleh kehendak-kehendak manusia, 3) Kemampuan untuk membentuk dirinya melalui tahapan- tahapan perkembangan sehingga ia mampu menyusun suatu pedoman untuk dirinya sendiri.306

304Pembagian jenis makhluk didasarkan kepada bernyawa dan tidak bernyawa. Makhluk tidak bernyawa satu kelompok, sedangkan yang bernyawa ada dua kelompok; yakni kelompok tumbuh-tumbuhan dan binatang serta manusia diberikan klarifikasi tertinggi dengan berbagai keistimewaan yang dimilikinya, Lihat Murtadha Mutahhari, op. cit., h.

137.

305 Ibid., h. 139.

306 Karena luasnya jangkauan yang dicakup oleh nilai kebebasan manusia dalam mewujudkan tingkah lakunya berdasarkan kemampuan nalar yang tinggi itulah maka wajar jika diperhadapkan kepada hanya dua pilihan yaitu masa depan yang mulus dan gemilang sebagai jalan lurus yang ditunjukkan oleh Allah, atau menjerumuskan dirinya ke arah kehancuran dirinya dengan menjalani rute kesesatan yang nyata. Lihat, Murtadha Mutahhari, Ibid., h. 141.

Dengan kondisi ideal seperti itu menurut ahli pendidikan Islam, manusia harus diarahkan ke arah pencapaian kualitas tertentu yang dapat digunakannya dalam kehidupan ini. Berbagai penelitian yang telah dikemukakan untuk mengkaji sekitar tujuan umum pendidikan Islam yang bersumber dari kenyataan- kenyataan serta pemikiran-pemikiran yang berkembang sekitar pendidikan Islam.

AR. Nahlawi, mengatakan bahwa tujuan umum pendidikan Islam adalah; 1) meningkatkan kemampuan akal dan menumbuhkan pikiran, 2) menumbuhkan potensi-potensi bakat yang dibawa sejak lahir, 3) mengembangkan potensi generasi muda, dan 4) menjaga keseimbangan potensi dan bakat manusia.307

Hal tersebut dapat dikomentari bahwa pakar yang bersangkutan menekankan lebih banyak kepada peranan akal dalam kehidupan manusia. Fungsi akal yang dimanifestasikan melalui kemampuan berpikir dapat menjadi sarana untuk memecahkan berbagai masalah kehidupan. Demikian juga dapat mengembangkan potensi berupa bakat yang ada dalam diri setiap orang.

Lain halnya dengan al-Jamali yang mengemukakan bahwa tujuan-tujuan pendidikan Islam hendaknya diambil dari Al-Qur’an, sebagaimana telah disebutkan beberapa tujuan dimaksud adalah; 1) menyadarkan manusia tentang posisinya di antara makhluk yang lain, 2) memperkenalkan tanggung jawab yang diemban oleh manusia dalam kehidupan diri dan sosialnya,

307 Akal merupakan pemberian atau anugrah Tuhan yang dikhususkan kepada manusia sebagai jenis makhluk yang mengemban tugas berat dan mulia. Oleh karena pengembangan akal manusia harus menjadi prioritas dalam tujuan pendidikan. Lihat AR.Nahlawi, Usûl al-Tarbiyyah al-Islãmiyyah wa Thurûq Tadrîsihã (Damaskus: Dar al-Nahdah al-Arabiyah, 1865), h. 67.

3) mendalami hikmah penciptaan makhluk lain berupa alam dan segala isinya yang digunakan oleh dan untuk kepentingan manusia, 4) memperkenalkan keagungan pencipta alam raya ini.308

Gambaran tujuan yang dirumuskan Nahlawi tersebut tampaknya dapat didekati dengan pemahaman yang berdimensi internal. Bahwa dalam diri manusia harus ditumbuhkan kesadaran yang mendalam tentang berbagai hal, baik yang menyangkut eksistensinya maupun tanggung jawabnya secara hakiki. Bahkan sebagai makhluk Tuhan manusia perlu memiliki suatu pandangan yang benar tentang akidah dan keyakinan kepada Allah Sang Maha Pencipta yang dapat didekati lewat atribut-atribut alamiah yang mudah dipahami. Jika dipelajari karya-karya al-Gazali tentang pendidikan dan pengajaran, ditemukan dua tujuan pendidikan yang hendak dicapai, yakni;

1) kesempurnaan manusia, yang puncaknya adalah kedekatan dengan Allah, dan 2) kesempatan manusia, yang puncaknya adalah kebahagiaan dunia dan akhirat.309

Berdasarkan tujuan tersebut tampaknya al-Gazali melakukan upaya dan menjabarkannya dalam berbagai bentuk pengajaran yang menurutnya dapat dan mampu mendekati puncak pencapain tujuan-tujuan tersebut.

Berdasarkan pandangan di atas dapat dipahami sebagai suatu kebulatan yang pada dasarnya tidak bertentangan satu sama lain. Mereka saling melengkapi guna mendapatkan rumusan tujuan ideal yang hendak dicapai oleh segenap usaha dan proses pendidikan Islam. Rumusan tersebut bila dicermati,

308Ibid., h. 62.

309 Lihat, Fathiyah Hasan Sulaiman, Bahts fi al-Mazãhib al-Tarbawy ‘Inda al-Gazali (Mesir:

Muktabah al-Nahdah, 1964), h. 12.

berakar dari petunjuk-petunjuk Al-Qur’an serta berakar pada pengalaman historis dalam pelaksanaan pendidikan Islam hingga kini.

Dengan memperhatikan kerangka tujuan yang dikutip di atas, juga tergambar secara umum bahwa sistem pendidikan Islam memiliki ciri khas yakni dengan warna religius serta dilengkapi dengan kerangka etis tanpa mengenyampingkan kepentingan-kepentingan duniawi.

Apabila ditelusuri lebih jauh tentang kecendrungan al- Gazali dalam praktek dan proses pendidikan yang dilakukannya, tampak dengan jelas adanya aksentuasi ke arah bidang ruhani sebagai konsekuensi dari pandangannya dalam bidang filsafat dan sufistik.310

Berdasarkan ungkapan tersebut dapat dipahami bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah kesempurnaan ruh (jiwa) manusia yang pada hakikatnya menjadi inti keberadaan