الأعراف : 148)
B. Perkembangan Jiwa Manusia
Salah satu dari keunikan manusia adalah memiliki dimensi yakni perkembangan jiwa. Bahwa jiwa manusia sejak masa puncaknya, melalui beberapa pase perkembangan.
Perkembangan jiwa pada anak ditentukan oleh
pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya terutama pada masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) dari 0-12 tahun. Seseorang dianggap sangat dipengaruhi oleh bentukan lingkungan sosialnya terutama orang-orang yang ditemani bergaul, aturan-aturan yang diterapkan, norma-norma masyarakat yang disepakati serta hal-hal lain yang cukup berpengaruh.265
William James berpendapat, bahwa seorang ahli jiwa akan meneliti dorongan-dorongan agama pada seseorang seperti mempelajari dorongan jiwa dalam konstruksi pribadi orang tersebut. Hanya saja James menghidangkan bahan-bahan ilmiah yang berharga itu, sekedar bersifat deskriptif saja.266
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa kemampuan jiwa manusia yang dibawa sejak lahir bersentuhan langsung dengan lingkungannya. Tingkat keterpengaruhan jiwa yang potensial tersebut ditentukan pula oleh seberapa jauh sarapan- sarapan lingkungan tersebut untuk kemudian membentuk kebiasaan. Dari kebiasaan itulah kemudian dapat dianggap telah menjadi “warna” kepribadian yang bersangkutan.
Salah seorang tokoh aliran asosiasi yang terkenal adalah John Locke. Locke, berpendapat bahwa pada permulaannya jiwa anak itu adalah bersih semisal selembar kertas putih, yang kemudian sedikit demi sedikit terisi oleh pengalaman atau empiri.267 Dalam hal ini Locke membedakan adanya dua macam pengalaman. Kedua macam kesan itu, merupakan pengertian
265 Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Cet. 1: Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h. 74/ Lihat Murtadha Mutahhari, Perspektif Al-Qur’an tentang Manusia dan Agama (Cet. 1: Bandung:
Mizan, 1984), h. 142.
266 Lihat, Zakiah Daradjat, op. cit., h. 29.
267 Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Cet. 7; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993), h.
179.
yang sederhana, yang kemudian dengan asosiasinya membentuk pengertian yang kompleks.
Pengikut-pengikut aliran psikologi Gestalt mengemukakan konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi yang dikemukakan oleh para ahli yang mengikuti aliran asosiasi. Bagi para ahli yang mengikuti aliran asosiasi. Bagi para ahli yang mengikuti aliran Gestalt, perkembangan itu adalah proses diferensiasi.268 Dalam proses diferensiasi itu yang primer adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagian adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari pada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian lain; keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya. Misalnya seorang anak kecil yang di rumahnya ada seekor kucing yang dinamai melati, baru kemudian dapat mengetahui bahwa tidak semua kucing itu namanya melati, ada kucing mempunyai nama- nama lain, seperti “Menur”, “Mawar”, “Pahing”, dan sebagainya.
Proses ini adalah proses diferensiasi. Juga pengenalan anak terhadap dunia luar merupakan proses diferensiasi. Mula-mula anak merasa satu dengan dunia sekitarnya, baru kemudian ada diferensiasi: Dia merasa (mengetahui) dirinya sebagai sesuatu yang berbeda dengan dunia sekitarnya itu terdiri dari manusia dan bukan manusia, dan selanjutnya manusia-manusia itu berbagai-bagai pula, ada ibu dan bukan ibu itu ada yang namanya ayah, kakek, nenek, paman, mbok dan sebagainya.
Aliran sosiologis menganggap bahwa perkembangan adalah proses sosialisasi. Anak manusia mula-mula bersifat a-sosial atau dapat disebut pra-sosial yang kemudian dalam perkembangannya sedikit demi sedikit disosialisasikan. Baldwin menerangkan perkembangan sebagai proses sosialisasi dalam
268 Lihat, ibid., h. 180.
bentuk imitasi yang berlangsung dengan adaptasi dan seleksi.269 Adaptasi dan seleksi itu berlangsung atas dasar hukum efek.
Juga tingkah laku pribadi diterangkan sebagai imitasi. Kebiasaan adalah imitasi terhadap diri sendiri, sedangkan adaptasi adalah peniruan terhadap orang lain. Oleh efeknya sendiri tingkah laku atau aktivitas dapat dibangunkan atau dipertahankan;
oleh efeknya sendiri itu aktivitas mendapatkan faedah atau persepsi yang tinggi. Dalam hal yang demikian inilah terkandung daya kreasi, sehingga manusia mampu menggunakan dan menemukan alat-alat; menemukan dan menggunakan alat-alat ini timbul dari pada peniruan diri sendiri.
Untuk meninjau lebih jauh tentang perkembangan jiwa manusia, berbagai teori, pendekatan maupun model dikemukakan oleh pakar psikologi.270 Salah satu teori yang dikemukakan oleh Monks adalah teori yang bersandar pada ilmu keruhanian. Teori tersebut juga dianut Edward Spranger (1882-1962).271
Peaget dalam teorinya, sebagaimana dikutip oleh Hasan Langgulung; ada empat tahapan perkembangan intelektual manusia yaitu: 1) Tahap deria motor (dari lahir -2 tahun), 2) Tahap pra operasi (2-7 tahun), 3) Tahap konkret (7-11 tahun), dan 4) Tahap operasi formal (11 tahun ke atas).272
269 Lihat, ibid., h. 182.
270Titik berat pandangan teori ini adalah adanya kekhususan (psihkis) pada individu, dengan demikian dalam menilai perkembangan jiwa seseorang memerlukan pengertian yang terkait secara menyeluruh. Lihat F.J. Monks, et. al., Psikologi Perkembangan (Pengantar dalam Berbagai Bagiannya) (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1989), h. 8-15.
271 Lihat, ibid., h. 16.
272 Lihat Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam (Cet. 3; Jakarta: Pustaka al-Husna, 1988), h. 268.
Dengan berbagai teori dan pendekatan yang digunakan oleh para ahli yang lain, perlu segera dikemukakan bahwa mereka hampir sepakat bahwa kanak-kanak memerlukan bantuan untuk selanjutnya dapat nantinya diarahkan perkembangannya secara maksimal.273
Berdasarkan uraian tersebut dapat ditegaskan bahwa upaya konvergensi antara dua “mazhab” yang membicarakan perkembangan manusia tetap relevan saat ini. Dua “mazhab”
dimaksud adalah pandangan nativisme dan pandangan emperisme. Pandangan nativisme menganggap bahwa faktor hereditas (bawaan)lah yang berkuasa dalam mewarnai perkembangan seseorang. Sedangkan perkembangan emperisme berpendapat bahwa lingkungan yang sangat dominan dalam memberikan corak kepribadian seseorang.274
Dalam kenyataan faktual dapat pula dilihat bahwa tingkat akurasi dan kebenaran hukum konvergensi sebagai sintesis dari dua kutub pemikiran sebelumnya, telah banyak membantu dalam memahami perkembangan yang dialami manusia secara umum. Namun perlu segera ditambahkan bahwa pada tingkat perkembangan tertentu keterpengaruhan seseorang dari salah satu kutub di atas berlangsung secara sangat variatif. Bahwa ada orang yang pada tingkat perkembangan tertentu sangat dipengaruhi oleh hereditas (bawaan)nya, sementara pada saat yang sama lingkungan tak kuasa memberikan warna apa-apa, atau pada individu lain dengan kenyataan sebaliknya yang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya.
273 Arahan terhadap perkembangan jiwa seseorang harus diartikan sebagai pemberian bantuan secara psikologis terhadap anak yang sedang tumbuh dan berkembang dengan memperhatikan dinamika yang sedang terjadi dalam dirinya. Lihat, ibid.
274 Lihat Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), h. 39.
Hal tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari perkembangan jiwa seseorang menuju proses interaksi dengan unsur-unsur yang ada dalam dirinya sendiri maupun dengan sesuatu yang datangnya dari luar.
Secara struktural, situasi kejiwaan yang melahirkan kepribadian seseorang itu terdiri atas tiga sistem yaitu: id, ego, superego275. Lebih lanjut dijelaskan bahwa: 1) Id; adalah sumber segala energi pisik. Digambarkan pula bahwa seseorang sewaktu masih bayi jiwanya hanya terdiri atas id, yang berisi impuls-impuls yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan biologik dan impuls- impuls itulah yang mengatur seluruh tingkah laku si bayi. Dalam sistem id ini berlaku ciri ketidaksadaran pada kelakuan yang bersangkutan, misalnya: amoral, tidak terpengaruh oleh waktu, tidak memperdulikan realitas, tidak menyensor diri sendiri dan hanya bekerja atas dasar keinginan untuk memperoleh kesenangan (pleasure principle) belaka.276 Karena hubungan yang bersangkutan dengan realitas memerlukan suatu jembatan, maka ia tidak mungkin terus menerus berada pada sistem id yang cenderung tidak realistis itu. Untuk memenuhi impuls- impuls yang berada dan harus dalam realitas, maka tumbuhlah sistem baru dalam jiwa bayi tersebut yang disebut “ego”.
Dalam perkembangan selanjutnya sistem ego ini akan berdiri sendiri dan terpisah dari id.277 2) Ego; sebagai suatu sistem yang berfungsi utama menghadapi realitas dan menterjemahkan untuk ide, juga bekerja untuk menginterpretasikan realitas ego dengan menggunakan logika. Karena instrumennya logika, maka otomatis proses itu melibatkan persepsi dan kognisi sebagai
275 Lihat Marvin E. Shaw et. al. Theories of Social Psychology disadur oleh Sarlito W. Sarwono, dengan judul Teori-teori Psikologi Sosial, (Jakarta: Rajawali Press, 1991), h. 132.
276 Lihat, Ibid.
277 Lihat, Ibid., h. 133.
proses sekunder dengan dasar pengujian realitas (reality testing)278. 3) Superego; adalah sistem moral yang berisi norma- norma budaya, nilai-nilai sosial dan tata cara yang sudah diserap ke dalam jiwa. Superego ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari ego seseorang, tetapi ia dapat melepaskan diri dari ego sebagaimana yang dialami oleh sistem id di atas. Namun demikian berbeda dengan id dalam hal fungsinya.279
Ketiga sistem kejiwaan yang terdapat dalam diri seseorang, tampak jelas adanya tahapan perkembangan yang dialami oleh yang bersangkutan. Perkembangan itu berdasarkan kepada apa yang dimilikinya, kemudian bersentuhan dengan realitas apa yang nyata dari padanya terbentuk pula kebiasaan-kebiasaan yang berakhir dengan pemilihan dan pengakuan terhadap norma dan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat. Hal tersebut penting untuk ditegaskan guna mendapatkan gambaran sekitar adanya pengaruh dari dalam maupun dari luar diri manusia.
Dalam hubungannya itu ego mempunyai fungsi menyeimbangkan antara tarikan id dengan superego. Jika energi id menarik terlalu kuat, maka seseorang akan terperangkat pada perlakuan impuls, misalnya seenaknya sendiri dan mengabaikan tata aturan sosial. Demikian pula jika tarikan keduanya (id dan superego) seimbang dan sama tarikannya, maka orang yang bersangkutan akan memperlihatkan tingkah laku yang meleset dari ukuran normal misalnya menjadi orang yang suka bersikap ragu-ragu, takut-takut dan merasa terkekang.280
278 Lihat, Ibid.
279 Dengan melihat fungsi masing-masing sistem kejiwaan yang ada pada diri manusia tersebut, jelas bahwa peralihan yang terjadi dan dialami dalam suatu kondisi tertentu memerlukan penyesuaian secara psikologis; dengan penyesuaian itu yang bersangkutan dapat secara alamiah menempatkan dirinya secara tepat. Ibid.
280 Pengalaman yang terekam dalam kesadaran seseorang boleh jadi sangat mempengaruhi tingkah lakunya lebih lanjut. Jika hasil rekaman itu adalah sesuatu yang kurang
Dalam keadaan seperti yang digambarkan di atas, seseorang menjalani kehidupannya dari hari ke hari. Dalam kaitan itu manusia yang bersangkutan mengalami pertumbuhan pisik secara alamiah sesuai dengan hukum pertumbuhan.
Usman Najati mengatakan bahwa, pada hari pertama dari kehidupan seorang anak berlangsung dengan sangat cepat. Pertambahan usia membuat ia secara bertahap perkembangannya semakin melambat dan tampak tenang- tenang dan mapan hingga tiba suatu masa pubertas.281
Masa pubertas atau masa remaja ini mendapat perhatian dan diskusi para psikologi, seperti halnya GS. Hall berpendapat sebagaimana ia mengikuti pendapat Rousseau; bahwa mendidik para remaja harus dengan cara memberikannya kebebasan yang seluas-luasnya, alasannya karena pada masa tersebut perkembangan jiwa seseorang tidak terlalu banyak dipengaruhi oleh lingkungannya.282
Salah satu ciri dari masa remaja ini adalah terjadinya perubahan organis, anatomis dan psikis yang sangat kuat dan cepat. Begitu kompleknya perubahan yang terjadi maka para ahli mengajukan sejumlah pertanyaan antara lain bagaimana
menyenangkan atau hal-hal lain yang bersifat negatif, maka untuk menghilangkannya dapat melalui dibantu psikoanalisisnya Freud, yang menawarkan suatu teknik terapi yakni dengan jalan mengurangi secara sistematis hal-hal yang membuatnya kurang senang itu sampai pada tingkat merasakan secara sadar bahwa apa yang membuatnya tidak senang itu sudah tidak ada. Lihat, ibid., h. 135.
281 Lihat, Muhammad Najati, Al-Qur’an wa ‘Ilmu al-Nafs diterjemahkan oleh Ahmad Rofi’
Usmani dengan judul Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa (Cet. 1; Bandung: Pustaka Salaman ITB, 1985), h. 277. Masa ini disebut juga masa remaja oleh GS. Hall (1844-1924) yang dikenal sebagai bapak psikologi remaja yaitu fase adolence disebut juga sebagai masa topan badai (strum und drang) yang penuh gejolak dan pertentangan nilai-nilai. Pertentangan terhadap nilai-nilai yang ada itulah yang akan menjadi bahan untuk menghasilkan pegangan bagi mereka pada fase berikutnya. Lihat Sarlito W. Sarwono, op, cit., h. 23.
282 Lihat Sarlito W. Sarwono, Ibid., h. 24.
tahap-tahap perkembangan yang dialami seseorang dalam masa remaja itu.
Sarlito, mengutip pendapat Blos mengatakan bahwa untuk meninjau tahap perkembangan jiwa pada masa remaja, perlu diketahui makna perkembangan itu sendiri yang tiada lain adalah usaha penyesuaian diri (copying) untuk secara aktif mengatasi “stress” dan mencari solusi dari masalah yang dihadapinya sendiri.283
Dalam hubungan itu masa remaja dibagi kepada tiga tahap perkembangan yaitu: 1) masa remaja awal (early adolescence), pada tahap ini seorang remaja merasa heran terhadap perubahan yang terjadi pada fisiknya. Pikirannya menjadi meluas dan berfantasi tentang hal-hal yang erotik, kepekaannya sangat tajam, bahkan terkadang kehilangan kendali egonya yang memungkinkan melahirkan tingkah laku yang sulit dipahami oleh orang dewasa, 2) masa remaja madia (middle adolescence), terutama memiliki kecenderungan yang sama. Dalam keadaan yang demikian itu terkadang mereka merasa bingung untuk memilih kawan yang cocok terutama yang berlawanan jenis, 3) masa remaja akhir (late adolescence), yakni masa konsolidasi menuju kedewasaan yang ditandai dengan mantapnya minat terhadap hal-hal yang bersifat mengembangkan inteleknya, keinginan untuk pengalaman-pengalaman baru, terbentuknya identitas seksual, tumbuhnya keseimbangan antara kepentingan orang lain, adanya “tapal batas” yang jelas dirinya (private self)
283 Keberhasilan seorang remaja dalam mengatasi masalah yang dihadapinya akan banyak berpengaruh terhadap kesiapannya untuk menghadapi berbagai aktivitas yang punya arti dalam mengisi masa tersebut sebagai persiapan masa depannya. Sebaliknya jika ia tidak berhasil secara berangsur-angsur akan terlihat akibatnya secara kejiwaan yang kemudian mempengaruhi tingkah lakunya sehari-hari. Lihat, Ibid.
dengan masayrakat umum (public).284
Jika dikaitkan dengan perkembangan jiwa secara keseluruhan pada seseorang, maka tentu saja terjadi variasi antara satu sama lain. Perbedaan tersebut banyak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi kehidupan yang bersangkutan.
Zakiah Daradjat, mengemukakan bahwa semua unsur jiwa yang ada pada diri seseorang termasuk pikiran, emosi, sikap (attitude) dan perasaan yang dalam keseluruhan dan kebulatannya akan menentukan corak laku, cara menghadapi sesuatu hal.285
Berdasarkan kutipan tersebut dapat dipahami bahwa jika seseorang itu senantiasa dalam kebulatan yang padu dan tidak terpisahkan dengan wujud tingkah lakunya yang lahir. Masalah tersebut telah menarik perhatian bagi para ahli di bidang perawatan jiwa di banyak negara yang maju, dengan mengadakan penelitian-penelitian yang intensif terhadap hubungan antara keadaan jiwa seseorang dengan kelakuannya. Mereka sampai pada suatu kesimpulan yang tegas dengan membagi manusia ke dalam dua golongan besar yakni yang sehat jiwanya dan mereka yang kurang sehat jiwanya.286
berdasarkan uraian tersebut dapat dipahami bahwa ternyata peranan jiwa sebagai suatu keseluruhan itu sangat besar pengaruhnya dalam penampilan dan kelakuan seseorang. Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan modal kesehatan jasmani saja tidak cukup tanpa pemeliharaan kesehatan jiwa. Pemeliharaan kesehatan jiwa juga banyak ditentukan oleh sejauhmana
284 Lihat, Ibid., h. 25.
285 Lihat Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pendidikan Mental (Cet. 4; Jakarta: Bulan Bintang, 1982), h. 39.
286 Lihat, Ibid.
interaksi antara yang dilakukan dengan faktor luar diri dapat memberikan suasana yang menyehatkan itu.
Ada tiga yang perlu diperhatikan dalam rangka menjaga ketentraman dan kesehatan jiwa yaitu; 1) menyesuaikan diri dengan diri sendiri, 2) menyesuaikan diri dengan orang lain, dan 3) menyesuaikan diri dengan suasana.287
Penyesuaian diri dengan diri sendiri adalah suatu langkah yang sangat bijak, karena ia merupakan internal serta mampu memberikan introspeksi terhadap segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Hal itu muncul secara meyakinkan sehingga benar-benar dapat diperpegangi. Dengan jalan tersebut seseorang tidak mudah terperangkap pada sikap rendah diri (inferiority complex) yang antara lain ditandai dengan hilangnya kepercayaan pada diri sendiri, dan sangat mudah untuk tersinggung dan menyinggung perasaan orang lain. Hal ini yang dapat diperoleh dengan sikap positif terhadap diri sendiri ini adalah timbulnya gairah hidup sehingga mampu menyesuaikan diri dengan orang lain.
Penyesuaian diri dengan orang lain didasarkan pada adanya pengenalan terhadap diri orang lain. Orang lain dengan segala kekurangan dan keistimewaannya dapat dilihatnya secara objektif. Dalam hal ini penyesuaian yang dimaksud adalah tidak berusaha untuk memaksakan kehendak terhadap orang lain itu.
Salah satu kendala penyesuaian diri dengan orang lain adalah sikap mengangkat diri, membanggakan diri yang pada gilirannya mempengaruhi sikap orang lain dengan kesan direndahkan.
Penyesuaian diri dengan suasana yang dimaksudkan di sini adalah segala sesuatu yang berada dalam suatu lingkungan:
287 Lihat, Ibid., h. 59.
termasuk nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan, adat kebiasaan, situasi sosial, politik dan sebagainya.288
Ketiga penyesuaian tersebut dapat dipahami bahwa interaksi psikologis yang terjalin di antara manusia dengan manusia, antara manusia dan lingkungannya, sedemikian pentingnya dalam rangka membentuk dan mengembangkannya ke arah kesehatan jiwa orang yang bersangkutan. Hal ini tercermin antara lain pada pola tingkah laku yang dapat diamati.
Pola tingkah laku yang dimaksud, baik yang berasal dan dilakukan oleh individu tertentu maupun oleh kelompok tertentu.
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa arah perkembangan jiwa manusia dapat menjadi positif, tetapi dapat juga mengarah kepada hal negatif. Perkembangan jiwa yang positif dalam artian tetap terpeliharanya kesucian jiwa yang positif dalam artian tetap terpeliharanya kesucian jiwa itu sebagaimana sejak semula yang cenderung kepada kebaikan karena memang manusia pada dasarnya dicipta dengan kebaikan itu.
Untuk mengukur sejauhmana perkembangan jiwa seseorang dalam mendekati tujuan hakiki dari kehidupan, maka berikut ini perlu dipertimbangkan tiga dalil yang dikemukakan oleh Further yang dikutip oleh Monks. Further berpendapat bahwa secara fenomenologis perkembangan manusia itu berdasarkan kepada dalil:
1. Bahwa tingkah laku moral yang sesungguhnya baru timbul pada masa remaja.
288 Kegagalan dalam penyesuaian diri akan membawa kepada berbagai bentuk tindakan asosial, amoral dan sebagainya yang lebih menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap hukum serta aturan yang ada dan harus ditaati bersama dengan unsur-unsur masyarakat dan warga lainnya. Lihat, Ibid., h. 52-64.
2. Bahwa masa remaja sebagai periode masa muda baru timbul dihayati betul-betul untuk dapat mencapai tingkah laku moral yang otonom.
3. Bahwa eksistensi seorang pemuda sebagai suatu keseluruhan merupakan masalah moral yang tunduk kepada nilai-nilai yang dianut dalam masyarakatnya.289
Berdasarkan dalil di atas, jika dikaitkan dengan tingkah laku moral yang digerakkan oleh jiwa manusia sesuai dengan dalil pertama, maka pijaknya adalah kematangan faktor kognitif intelektual yang telah mampu membedakan. Kemampuan inilah yang mendasari mulainya tingkah laku moral itu. Dalil Further yang kedua dapat dipahami, karena otonom tingkah laku person yang bersangkutan tergantung pada tingkat penghayatan secara benar dan mendalam. Dalil ketiga sebagai tolok ukur yang dinamis adalah sejauhmana ia memahami nilai-nilai pribadi.
Berdasarkan uraian di atas dapat pula menjadi acuan dalam rangka internalisasi nilai-nilai yang akan menjadi pegangan seseorang.
Hal tersebut banyak bergantung kepada daya identifikasi dengan orang-orang lain di luar diri yang bersangkutan. Proses identifikasi ini juga telah banyak terjadi pergeseran dari person yang dekat (orang-orang di sekitarnya) ke person yang jauh secara abstrak.290
Pergeseran objek identifikasi dari orang-orang yang ada
289 Lihat F.J. Monks et. al., Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya op.
cit., h. 256.
290 Apabila dituangkan dalam bentuk fakta-fakta yang dapat diamati maka proses internalisasi dan norma yang dilakukan oleh seseorang itu dapat dikatakan bahwa hal tersebut dimulai dari adanya identifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya sebagi model idolanya.
Lihat, Ibid., h. 257.
di sekitarnya ke arah yang abstrak, boleh jadi menunjukkan sebagai suatu gejala kegagalan lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial termasuk person yang dapat menjadi contoh/teladan tidak mendapatkan lagi simpatik. Sementara pesona yang menarik dari lingkungan yang jauh boleh jadi pula didapatkan melalui penggambaran abstrak dan tidak utuh, semua digambarkan serba hebat, serba baik, meliputi hal-hal yang bernilai dan dianggap bermanfaat lebih dari sekedar apa yang mampu diamati dari lingkungan primernya yang dekat.
Bertolak dari prediksi tersebut, perkembangan jiwa seseorang sangat mungkin mengambil bentuk dan alur yang unik dalam artian merupakan akumulasi dari berbagai bentuk pengaruh yang baik maupun tidak baik dari lingkungan sekunder (yang jauh) maupun dari lingkungan primer (sekitar yang dekat).
Berdasarkan uraian tersebut dapat dipahami bahwa perkembangan jiwa manusia, dapat berujung pada terpeliharanya kemurnian serta kesucian ruh (jiwa) sebagai anugrah Allah, tetapi kemungkinan lain dapat pula mengarah kepada tercemarnya ruh (jiwa) itu yang berakibat terjadinya gangguan kejiwaan yang serius pada diri yang bersangkutan.