• Tidak ada hasil yang ditemukan

الأعراف : 148)

D. Pendidikan Islam: Hubungannya dengan Jiwa Manusia

berakar dari petunjuk-petunjuk Al-Qur’an serta berakar pada pengalaman historis dalam pelaksanaan pendidikan Islam hingga kini.

Dengan memperhatikan kerangka tujuan yang dikutip di atas, juga tergambar secara umum bahwa sistem pendidikan Islam memiliki ciri khas yakni dengan warna religius serta dilengkapi dengan kerangka etis tanpa mengenyampingkan kepentingan-kepentingan duniawi.

Apabila ditelusuri lebih jauh tentang kecendrungan al- Gazali dalam praktek dan proses pendidikan yang dilakukannya, tampak dengan jelas adanya aksentuasi ke arah bidang ruhani sebagai konsekuensi dari pandangannya dalam bidang filsafat dan sufistik.310

Berdasarkan ungkapan tersebut dapat dipahami bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah kesempurnaan ruh (jiwa) manusia yang pada hakikatnya menjadi inti keberadaan

problema-problema pendidikan Islam sebagai ilmu, tidak hanya melandasi tugasnya pada teori-teori saja, akan tetapi memperhatikan juga fakta-fakta empiris atau praktis yang berlangsung dalam masyarakat sebagai bahan analisis. Oleh sebab itu, masalah pendidikan akan dapat diselesaikan bilamana didasarkan atas keterkaitan hubungan antara teori dan praktik, karena pendidikan akan dapat diselesaikan bilamana benar- benar terlibat dalam dinamika kehidupan masyarakat. Antara pendidikan dan masyarakat selalu terjadi interaksi (saling mempengaruhi) atau saling mengembangkan, sehingga satu sama lain dapat mendorong perkembangan untuk mengokohkan posisi dan fungsi serta idealitas kehidupannya. Ia memerlukan landasan ideal dan rasional yang memberikan pandangan mendasar, menyeluruh dan sistematis tentang hakikat yang ada di balik masalah pendidikan yang dihadapi.

Dalam masyarakat yang dinamis, pendidikan memegang peranan yang menentukan eksistensi dan perkembangan masyarakat tersebut, oleh karena pendidikan merupakan usaha melestarikan, dan mengalihkan serta mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan dalam segala aspek dan jenisnya kepada generasi penerus. Demikian pula halnya dengan peranan pendidikan Islam di kalangan umat Islam merupakan salah satu bentuk manifestasi dari cita-cita hidup Islam untuk melestarikan, mengalihkan dan menanamkan (internalisasi) dan mentransformasikan nilai-nilai Islam tersebut kepada pribadi generasi penerusnya sehingga nilai-nilai kultural religius yang dicita-citakan dapat tetap berfungsi dan berkembang dalam masyarakat dari waktu ke waktu.311

311 M. Arifin, “Filsafat Pendidikan Islam” op. cit., h. 12.

Pendidikan Islam, bila dilihat dari segi kehidupan kultural umat manusia tidak lain merupakan salah satu alat pembudayaan (akulturasi) masyarakat manusia itu. Sebagai suatu alat pendidikan dapat difungsikan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia (sebagai makhluk pribadi dan sosial), kepada titik optimal kemampuannya untuk memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat. Dalam hal ini maka kedayagunaan pendidikan sebagai alat pembudayaan sangat bergantung pada pemegang alat tersebut yaitu para pendidik.

Dengan demikian maka para pendidik memegang posisi kunci yang banyak menentukan keberhasilan proses pendidikan, sehingga mereka dituntut persyaratan tertentu, baik teoretis maupun praktis, dalam pelaksanaan tugasnya. Sedangkan faktor- faktor yang bersifat internal seperti bakat atau pembawaan peserta didik dan faktor eksternal seperti lingkungan dalam segala dimensinya menjadi sasaran pokok dari proses ikhtiariah para pendidik.

Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa pendidikan Islam adalah “bimbingan atau tuntutan pendidik kepada peserta didik agar tumbuh secara wajar dan berkepribadian muslim”.312

Dengan demikian ilmu pengetahuan Islam ialah uraian secara sistematis dan ilmiah tentang bimbingan atau tuntutan pendidikan kepada peserta didik dalam berkembangnya agar tumbuh secara wajar berpribadi muslim, sebagai anggota masyarakat yang hidup selaras dan seimbang dalam memenuhi kebutuhan hidup di dunia dan akhirat.

Dari sisi lain terutama dari kajian empiris maka dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa ilmu pendidikan Islam ialah ilmu yang membahas proses penyampaian materi-materi ajaran

312 Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (Cet. 1; Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 12.

Islam kepada peserta didik dalam proses pertumbuhannya. Ilmu ini juga membicarakan bagaimana metode penyampaian ajaran Islam paling tepat dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga memperoleh hasil yang memuaskan. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa ilmu ini membahas seluruh aspek yang terkait bagi berlangsungnya proses pendidikan Islam.

Berdasarkan penegasan-penegasan tersebut di atas, maka dapatlah dikatakan bahwa ilmu pendidikan Islam merupakan ilmu pengetahuan praktis karena yang diuraikan dalam ilmu ini dilaksanakan dalam kegiatan pendidikan, dan orang yang mempelajari ilmu ini dengan tujuan untuk dapat mengetahui dan mengarahkan kegiatan pendidikan. Ilmu pendidikan Islam merupakan ilmu pengetahuan ruhani, karena situasi pendidikan itu berdasar atas tujuan tertentu dan tidak membiarkan anak tumbuh secara liar sesuai dengan keinginannya, melainkan memandangnya sebagai makhluk susila, memiliki harkat dan berbudaya. Ilmu pendidikan Islam ialah ilmu normatif, karena ilmu ini berdasarkan diri dan pemilihan norma-norma yang baik dari norma-norma yang tidak baik. Norma tersebut diambilkan dari sumber agama yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Ilmu pendidikan Islam termasuk ilmu pengetahuan empiris kepada objeknya situasi pendidikan dan pergaulan yang terdapat dalam dunia pengalaman.

Untuk memperoleh gambaran tentang pola berpikir dan berbuat dalam pelaksanaan pendidikan Islam pada khususnya, diperlukan kerangka berpikir teoretis yang mengandung konsep-konsep operasionalnya dalam masyarakat. Dengan kata lain bahwa untuk memperoleh suatu keberhasilan dalam proses pendidikan Islam, diperlukan adanya “Ilmu pengetahuan tentang pendidikan Islam”, baik yang bersifat teoretis maupun

praktis. Dari segi teoretis, pendidikan Islam merupakan konsep berpikir yang bersifat mendalam dan terperinci tentang masalah kependidikan yang bersumberkan ajaran Islam dari mana rumusan-rumusan tentang konsep dasar, pola, sistem, tujuan, metode dan materi (substansi) kependidikan Islam disusun menjadi suatu ilmu yang bulat.

Dalam tinjauan ini, diungkapkan bagaimana pandangan Islam tentang masalah kependidikan yang mungkin dapat diaplikasikan melalui proses yang sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan kependidikan pada umumnya. Dengan kata lain ilmu pendidikan Islam dalam teori-teorinya mengandung konfromitas (kesesuaian) pandangan dengan teori-teori dalam ilmu pedagogik terutama yang menyangkut peserta didik, pendidik, alat-alat dan sekitar cita-cita. Sehingga tampak jelas bahwa dalam teori kependidikan Islam terkandung nilai-nilai ilmiah pedagogis yang absah dalam dunia ilmu pengetahuan, khususnya dunia ilmu pendidikan.313

Untuk mengetahui bagaimana dan sejauhmana operasionalisasi kependidikan Islam pada khususnya dilaksanakan dalam masyarakat, dapat dilihat bagaimana dan sejauhmana masyarakat itu menghayati dan mengantisipasi tentang perlunya pendidikan dalam rangka melestarikan, mentransformasikan dan mentransmisikan bahkan mengembangkan nilai-nilai kulturalnya dari generasi ke generasi.

Pendidikan Islam baik teoretis maupun praktis mengalami kecenderungan untuk berkembang dari waktu ke waktu sesuai dengan tempat dan momen-momen yang dilaluinya. Hal demikian dapat dilihat bahwa dari proses sejarah perkembangan pemikiran masyarakat tentang kependidikan, khususnya dalam

313 M. Arifin, “Ilmu Pendidikan Islam” op. cit., h. 14.

masyarakat Islam.

Adi Sasono, mengemukakan bahwa pendidikan Islam merupakan kegiatan dan upaya penyadaran diri terhadap peserta didik yang harus diwariskan dari generasi pendahulunya yaitu orang tua.314 Selain itu, pendidikan Islam juga merupakan sebuah pendidikan yang harus jelas melalui syariat Islam.

Pendidikan Islam adalah universal dan hendaknya diarahkan untuk menyadarkan manusia bahwa diri mereka adalah hamba Tuhan yang bertugas menghambakan diri-Nya.315 Sebagaimana tujuan pendidikan Islam adalah menyadarkan manusia agar dapat mewujudkan penghambaan diri kepada Allah Sang Pencipta baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama- sama. Dengan demikian konsep pendidikan Islam tidak dapat dipisahkan dari konsep ketuhanan. Abd. Rahman al-Bani menggambarkan bahwa pendidikan dalam Islam mencakup tiga faktor yang mesti dilakukan secara bertahap.316

Para ahli pendidikan telah sepakat bahwa maksud dari pada pendidikan Islam bukanlah memenuhi otak peserta didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui, tetapi maksudnya ialah mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadhilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur. Maka tujuan pokok dan terutama dari pendidikan Islam ialah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa. Sebagaimana diketahui bahwa

314 Adi Sasono, et. al., Islam atas Problematika Umat (Cet. 2; Jakarta: Gema Insani Press, 1998), h. 85.

315 Ibid., h. 87.

316 Pertama, menjaga dan memelihara anak; kedua, mengembangkan bakat dan potensi anak sesuai dengan minat/bakatnya masing-masing, dan ketiga, mengarahkan potensi dan bakat anak agar mencapai masyarakat dan kesempurnaan. Ibid.

pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam, dan Islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam.

Pendidikan Islam mewajibkan kepada setiap guru untuk senantiasa mengingatkan bahwa kita tidaklah sekedar membutuhkan ilmu tetapi kita senantiasa membutuhkan akhlak yang baik. Juru didik harus senantiasa ingat bahwa pembentukan akhlak yang baik di kalangan peserta didik, dapat dilakukan dengan latihan-latihan berbuat baik, takwa, berkata benar, menepati janji, ikhlas dan jujur dalam bekerja, tahu kewajiban, membantu yang lemah, berdikari, selalu bekerja dan tahu menghargai waktu. Mengutamakan keadilan dalam setiap pekerjaan, lebih besar manfaatnya dari mengisi otak mereka dengan ilmu-ilmu teoretis, yang mungkin tidak dibutuhkannya dalam kehidupan sehari-hari.317

Pendidikan Islam menghendaki dari setiap guru, supaya dalam pelajaran mengihtiarkan cara-cara yang bermanfaat untuk pembentukan adat istiadat yang baik, pendidikan akhlak, kebangunan hati nuraninya, mengarahkan pembawaan- pembawaan di waktu kecilnya ke jalan yang lurus, dan membiasakannya berbuat amal baik dan menghindari setiap kejahatan.

Selain itu, pendidikan Islam belum menuntaskan konsep- konsep normatif yang berhubungan dengan cita-cita ideal manusia yang ingin dihasilkan. Jika pendidikan Islam bertujuan mencetak manusia yang baik, maka pertanyaannya, manusia yang bagaimanakah yang baik itu? Di sinilah persoalan normatif filosofis muncul dengan muatan yang dampaknya mengundang

317 Athiyah al-Abrasyi, al-Tarbiyah al-Islãmiyah diterjemahkan oleh Bustami A. Gani dengan judul Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, (Cet. 7; Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h. 105.

perdebatan.

Misalnya saja konsep salih, takwa dan Insan Kamil sebagai parameter dari manusia yang baik. Pemaknaan terhadap konsep ini, terkesan masih jauh dari gambaran cita-cita ideal manusia yang diharapkan. Ironisnya, masih saja dijumpai pandangan bahwa yang disebut dengan kesalihan dan ketakwaan adalah jika intensitas ritual seseorang tinggi. Karena persoalan yang paling mendasar belum diselesaikan secara tuntas. Oleh karena itu pendidikan Islam dihadapkan pada persoalan ketidakjelasan orientasi kultural. Selanjutnya, pada takaran orientasi kulturalnya, reorientasi yang perlu dilakukan adalah perlunya mempertegas kembali posisi dan peran pendidikan Islam.318 Dalam gerak transformasi sosial, kultural dan struktural yang demikian cepat dan bersifat universal seperti sekarang ini pendidikan Islam tidak lagi dapat bertahan dalam posisi dan perannya yang bersifat tradisional yang hanya menjalankan fungsi konservator warisan budaya masa lalu.

Selain itu pendidikan Islam dituntut melakukan fungsi yang bersifat reflektif dan progressif.319 Pada akhirnya kita masih dituntut melakukan pengumpulan intelektual dengan mengarahkan seluruh potensi kita, sehingga pendidikan Islam dapat berperan secara lebih optimal dan bukan sekedar sebagai papan nama yang hanya ingin menunjukkan secara kelembagaan pendidikan Islam itu ada, tetapi dari segi muatan dan orientasinya masih sangat rapuh.

318 Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam (Cet. 1; Jakarta: Yayasan Pendidikan Islam Fajar Dunia, 1999), h. 80.

319 Pertama, pendidikan Islam harus mampu menggambarkan corak dan arus kebudayaan yang sedang berlangsung. Sedang dalam fungsi yang kedua pendidikan Islam dituntut mampu memperbaharui dan mengembangkan kebudayaan agar dicapai kemajuan. Pada fungsi yang kedua ini pendidikan Islam menjalankan kegiatan transformasi. Ibid., h. 81.

Sekarang yang menjadi persoalan sekaligus pertanyaan bagi kita tentunya adalah bagaimana dengan eksistensi pendidikan Islam dalam menghadapi arus perkembangan Iptek yang sangat pesat tersebut. Bagaimanapun tampaknya pendidikan Islam (terutama lembaganya) dituntut untuk mampu mengadaptasikan dirinya, pendidikan Islam juga dituntut untuk menguasai Iptek, dan kalau perlu merebutnya.

Ilmu pengetahuan yang dikembangkan dalam pendidikan haruslah berorientasi pada nilai-nilai Islami, yaitu ilmu pengetahuan yang bertolak dari metode profetik dan metode ilmiah. Ilmu pengetahuan tersebut bertujuan menemukan dan mengukur paradigma dan premis intelektual yang berorientasi pada nilai dan kebaktian dirinya pada pembaharuan dan pembangunan masyarakat, juga berpijak pada kebenaran yang merupakan sumber dari segala sumber.

BAB V