• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Manusia

Pada lokus dan tempos yang sama pula, dibalik orientasi, pusat, dan prinsip hidup manusia yang berada dalam realitas semu pada satu sisi, di sisi lain hadir pula rasa haus dan kerinduan akan kehidupan yang lebih bermakna dan bernilai seperti spiritualitas. Spritualitas dewasa ini tidak hanya menjadi ―agama baru‖ tetapi juga menjadi jenis orientasi hidup baru.

Gambaran prinsip-prinsip hidup di atas, penting untuk dikemukakan di sini agar dalam membangun konsep pendidikan karakter tidak terlepas dari tujuan dan hekikat kehidupan manusia. Dengan memahami tujuan kehidupan manusia ini dengan baik, akan memberikan arah yang jelas bagaimana tujuan dan konsep pendidikan karakter itu dirumuskan. Itulah sebabnya kenapa kajian manusia dan lingkungan sebagai bidang yang khusus dan sangat urgen dilibatkan dalam kajian pendididkan karakter. Hal ini menunjukan bahwa manusia dan lingkungan adalah dua poros utama berkembanganya segala bidang keilmuan.

Realitas manusia pada hakikatnya tidak cukup dirumuskan dengan satu kalimat, agar horizon pengertian lebih lengkap, definisi-definisi tersebut harus ditambah dengan beberapa keterangan dan cara pandangan baru.

Pandangan yang diwariskan oleh Plato ―aku berpikir maka aku ada‖, belakangan melahirkan filsafat idialisme kemudian dilanjutkan oleh Aristoteles (384-322 SM) yang mewariskan ―aku ada maka aku berpikir‖

yang kemudian melahirkan filsafat realisme. Mayoritas penstudi filsafat melihat bahwa kedua hal hadir sebagai suatu bentuk dialektika antara thesis dan anti thesis. Pandangan demikian tidak semuanya salah karena memang pendapat Aristoteles merupakan penolakan pandangan Plato sebagai gurunya. Lepas dari perdebatan kedua hal ini, sebenaranya kedua pandangan tersebut tetap kembali pada satu hal sebagai inti dari idialisme dan realisme yakni realitas tunggal manusia itu sendiri, atau yang di sebut antroposentris. Sejak masa renaissanca sampai sekarang ini manusia tetap menjadi pusat kajian.

Menyadari bahwa manusia adalah sebuah poros realitas (mikrokosmos), atau sebuah alam yang menyimpan misteri tak bertepi dalam dirinya sendiri, maka tidak heran kemudian mendorong manusia terus mengkaji akan keberadaan dirinya sebagai sebagai entitas yang kompleks. Lantas, ―siapakah dan apakah manusia ini‖? demikianlah Max sheler bertanya, pertanyaan tersebut adalah aspek ontologis dari filsafat pendidikan karakter yang perlu dijawab. Pertanyaan kelihatannya sederhana tetapi inilah awal dari kesadaran manusia akan ketidaktahuan manusia atas dirinya sendiri. Seperti yang disampaikan oleh J.Naisbitt yang dikutip oleh Sastratejda, ―apapun terobosan paling menggairahkan pada

abad ke-21 ini terjadi bukan teknologi, tapi karena perkembangan konsep mengenai apa artinya menjadi manusia‖3. Inovasi teknologi dalam hal apapun tidak lain merupakan tindakan memenuhi hasrat tak berujung manusia itu sendiri.

Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa mesti pertanyaan ―siapa‖ dan

―apa‖, untuk mengerti jawaban pertanyaan tersebut, harus melihat eksistensi manusia dari keseluruahan aspek yang dimilikinya, walaupun manusia itu menurut suatu aspek dapat disejajarkan dengan barang atau benda lain di dunia ini. Kendatipun demikian, terdapat juga jurang yang sangat lebar antara manusia dan barang-barang materil yang disebut dengan ―sebutir‖, seekor, ―sebuah‖, ―sebatang‖, dan sebagainya. Dengan demikian menurut Driajrkara, bahasa sehari-sehari telah membuktikan bahwa secara spontan dan intiutif manusia dapat ditropong sebagai makhluk yang berlainan dari yang lain. Ini artinya bahwa manusia itu bukanlah hanya ―apa‖ yang diwakili oleh aspek jasmani (materi atau benda) semata tetapi juga ―siapa‖ yang diwakili oleh alam kesadaran dan rasionalitasnya.

Jadi, manusia bila dipandang dari sudut ―ke-apa-anya‖ maka sulit diberikan pengertian atau definisi. Pengertian manusia akan dapat diperoleh jika dipandang sebagai ―siapa‖. Kendatipun hal ini dapat dibedakan tapi keduanya adalah satu kesatuan eksistensi. ―Siapa‖ tidak akan mengarah ke manusia tanpa keterlibatan pertanyaa ―apa‖, begitu juga

3 Sastrapratedja, M. 2001. Pendidikan sebagai Humanisasi. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Hlm. 23-24

sebaliknya. Manusia sepanjang sejarah telah meninggalkan bekas-bekas dalam bentuk budaya dan pengetahuan. Dengan jejak-jejak inipula manusia dapat didefiniskan dan diketahui entitasnya, selebihnya manusia tetap menjadi misteri yang terus diungkap. Kemanusia bukanlah barang jadi, tetapi sesuatu yang harus ditemukan dan dibangun terus menerus. Itulah kenapa inovasi-inovasi pendidikkan, kesehatan, rekayasa sosial, dan lainnya tidak pernah terhenti, semua itu karena mengikuti hakikat manusia yang terus proses ―menjadi‖ sebagai sesuatu yang tidak hanya being tetapi becoming.

Khusunya pendidikan karakter tidak lain bertujuan untuk menanamkan, mengembangkan, dan memperkuat karakter sebagi bentuk dari proses ―menjadi‖tersebut, semua ini dilakukan menuju penyempurnaan karakter manusia. Kendatipun manusia ini adalah entitas yang menyimpan misteri, informasi tentang hakikat manusia dapat diperoleh dari sifatnya yang menyejarah, ditemukan juga dari dimenasi- dimensi interior (emosi dan jiwa) serta dimensi exterior (perilaku yang nampak) serta kecenderungan-kencenderuang umum dari sifat alami manusia4.

Merujuk dari dimensi-dimensi interior manusia ini dan kecenderungan umum dari sifat alami manusia, manusia berusaha membangun teori-teori, ilmu pengetahuan dan metode untuk mengenal dan menyingkap dirinya sendiri. Dalam aspek pendidikan misalanya, proses pendidikan itu dikenal disebabkan karena dikenal adanya dimensi-dimensi

4 Ibid, 67

educative dalam diri manusi. Misalanya potensi akal, emosi, hati, berbagi kecerdasan, perilaku dan dimensi-dimensi bawaan lainnya. Menyadari adanya aspek-aspek educative ini maka manusiapun disebut sebagai homo academicus, educandum animal (makhluk yang dapat didik), animal thiking, dan lain-lain, walaupun mayoritas teori dan konsep pendidikan yang dibangun saat ini, masih berdasrakan pada aspek-aspek yang teramati dari dimensi exterior manusia.

Berikut ini akan diuriakan dimensi-dimensi manusia yang terkait langsung dengan ranah pendidikan karakter, walaupun pada hakikatnya pembahasan pendidikan adalah membahas realitas manusia sebagai totalitas eksistensi. Oleh karena itu, untuk mendesain pendidikan yang benar harus merujuk pada pemahaman yang benar dan tepat tentang manusia. Untuk sementara ini, pemahaman tentang manusia masih terbatas pada apa yang terungkap dari manusia (baca: behaviorisme). Pendidikan secara umum, termasuk di dalamnya filsafat pendidikan karakter, dibangun dari pemahaman atas dimensi dan aspek yang dimiliki oleh manusia.

Untuk mengurai hal ini, dapat dimulai dari berbagai pendekatan penafsiran terhadap realitas manusia. Salah satu pendekatan itu adalah pendekatan fisika kuantum yang dikembangkan oleh Erbe Sentanu dalam bukunya ―The Science and miracle of Zona Ikhlas, Aplikasi teknologi kekuatan hati‖. Dalam ilmu fisika kuantum, tubuh manusia terbagai menjadi tiga realitas, yakni realitas tubuh fisik, tubuh mental, dan tubuh quantum5. Selama ini pengembangan pendidikan, masih lebih banyak

5 Erbe Sentanu, The Science and Maracle of Zona Ikhlas, (Jakarata; Gramedia, 2009). Hlm. 35

beroriantasi pada realitas tubuh fisik manusia ketimbang tubuh mental dan quantum, walaupun belakangan ini, bermunculan teori pembelajaran berbasisi kuantum, seperti quantum learning and teaching terutama yang dikembangkan oleh Bobbi DePorter sebagai pencetus QLN (Quantum Learning Networking). Kemudian di Indonesia dipopulerkan oleh Munir Chatib dengan konsep pendidikan dan pengajaran yang humanis. Berikut ini akan dijelaskan lebih jauh ketiga bentuk realitas tubuh manusia tersebut.