• Tidak ada hasil yang ditemukan

Halaman kedua Kutipan Risalah Lelang memuat Syarat dan Ketentuan Lelang. Judul

Dalam dokumen Scanned by CamScanner (Halaman 140-148)

DAFTAR ISI

C. Risalah Lelang

20) Halaman kedua Kutipan Risalah Lelang memuat Syarat dan Ketentuan Lelang. Judul

“SYARAT DAN KETENTUAN LELANG” diketik di tengah (centre) atas menggunakan font Book Antiqua ukuran 11. Pengetikan isi Syarat dan Ketentuan Lelang menggunakan font Book Antiqua ukuran 9 dengan spasi satu (single). Dalam Syarat dan Ketentuan Lelang tersebut dapat ditambahkan syarat lelang dari Penjual sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

Sampul Kutipan Risalah Lelang dibedakan atas barang tidak bergerak dan barang bergerak.

Kutipan Risalah Lelang untuk barang tidak bergerak atau barang tidak bergerak yang dijual dalam satu paket dengan barang bergerak, sampulnya berwarna merah muda. Sementara itu Kutipan Risalah Lelang untuk barang bergerak, sampulnya berwarna kuning muda.

(4) Penatausahaan Kutipan Risalah Lelang

Penatausahaan Kutipan Risalah Lelang, diatur sebagai berikut:

1. KPKNL harus melakukan penatausahaan terhadap security paper yang diterima dengan baik dan tertib.

2. Setiap triwulan, KPKNL membuat laporan penatausahaan security paper kepada Kanwil DJKN setempat dengan tembusan Direktorat Lelang setiap tanggal 10 bulan berikutnya.

3. Apabila terdapat kesalahan dalam pengetikan dan/atau pencetakan Kutipan Risalah Lelang pada security paper yang menyebabkan kertas sekuriti tidak jadi digunakan untuk Kutipan Risalah Lelang, maka security paper tersebut disimpan di KPKNL untuk kemudian dimusnahkan/dihancurkan. Pemusnahan/penghancuran security paper dimaksud dilakukan di masing-masing KPKNL paling singkat setiap 3 bulan sekali yang disaksikan oleh perwakilan Kanwil dan dibuatkan Berita Acara Pemusnahan/

Penghancuran security paper.

(5) Penggantian Kutipan Risalah Lelang

Penggantian Kutipan Risalah Lelang yang hilang atau rusak, diatur sebagai berikut:

D. Dalam hal Kutipan Risalah Lelang yang menggunakan security paper hilang atau rusak, maka dapat diberikan Kutipan Risalah Lelang Pengganti dengan mengacu kepada ketentuan yang berlaku.

E. Kutipan Risalah Lelang Pengganti dibuat dengan menuliskan kata PENGGANTI dengan huruf kapital di atas judul KUTIPAN RISALAH LELANG dan diberikan nomor Risalah Lelang yang sama dengan Minuta Risalah Lelang.

F. Pada lembar terakhir Kutipan Risalah Lelang Pengganti, di sebelah kanan bawah sebelum tanda tangan Kepala KPKNL yang menerbitkan Kutipan Risalah Lelang Pengganti dituliskan catatan dengan frasa “Diberikan Kutipan Risalah Pengganti, karena hilang/rusak* (*coret yang tidak perlu) untuk keperluan balik nama atas permohonan Pembeli/Kuasanya* (*coret yang tidak perlu).

Contoh 1 : Syarat dan Ketentuan Lelang Barang Bergerak

SYARAT DAN KETENTUAN LELANG

---Penjualan lelang ini dilakukan menurut Undang-Undang Lelang (Vendu Reglement, Ordonantie 28 Februari 1908 Staatsblad 1908:189 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Staatsblad 1941:3) jis. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.06/2010 tanggal 23 April 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 174/PMK.06/2010 tanggal 30 September 2010 tentang Pejabat Lelang Kelas I. ---.

---Peserta lelang yang mengajukan penawaran tertinggi dan telah mencapai atau melampaui Nilai Limit yang ditetapkan oleh Penjual, disahkan sebagai Pembeli oleh Pejabat Lelang pada saat pelaksanaan lelang.---

---Bea Lelang dalam pelaksanaan lelang ini dipungut sesuai ketentuan dalam Pasal 4 ayat (5) Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Keuangan dan biaya-biaya lainnya.---

---Pelunasan kewajiban pembayaran lelang oleh Pembeli dilakukan secara tunai paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah pelaksanaan lelang.--- --

---Pembayaran dengan cek/giro hanya dapat diterima dan dianggap sah sebagai pelunasan kewajiban pembayaran lelang oleh Pembeli, jika cek/giro tersebut dikeluarkan oleh bank anggota kliring, dananya mencukupi dan dapat diuangkan.-- ---Peserta lelang yang telah disahkan sebagai Pembeli bertanggung jawab sepenuhnya dalam pelunasan kewajiban pembayaran lelang dan biaya- biaya resmi lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan pada lelang ini walaupun dalam penawarannya itu ia bertindak selaku kuasa dari seseorang, perusahaan atau badan hukum.--- ---

---Pembeli yang tidak melunasi kewajiban

---Barang yang telah terjual pada lelang ini menjadi hak dan tanggungan Pembeli dan harus dengan segera mengurus Barang tersebut.--- ---

---Biaya balik nama Barang, tunggakan pajak berikut denda-dendanya serta biaya-biaya resmi lainnya menjadi tanggung jawab sepenuhnya Pembeli.---

---Pembeli akan diberikan Kutipan Risalah Lelang untuk kepentingan balik nama setelah menunjukkan kuitansi pelunasan pembayaran lelang.---

---Jika Pembeli tidak mendapatkan izin dari instansi pemberi izin untuk membeli barang tersebut sehingga jual beli ini menjadi batal, maka ia dengan ini oleh Penjual diberi kuasa penuh yang tidak dapat ditarik kembali dengan hak untuk memindahkan kuasa itu untuk mengalihkan Barang itu kepada pihak lain atas nama Penjual dengan dibebaskan dari pertanggungjawaban sebagai kuasa dan jika ada menerima uang ganti kerugian yang menjadi hak sepenuhnya dari Pembeli. Adapun uang pembelian yang sudah diberikan kepada Penjual tersebut di atas tidak dapat ditarik kembali oleh Pembeli.---

---Pejabat Lelang/KPKNL tidak menanggung atas kebenaran keterangan-keterangan yang diberikan secara lisan pada waktu penjualan tentang keadaan sesungguhnya dan keadaan hukum atas Barang yang dilelang tersebut, seperti luasnya, batas-batasnya, perjanjian sewa menyewa dan menjadi resiko Pembeli.---

---Penawar/Pembeli dianggap sungguh- sungguh telah mengetahui apa yang telah ditawar olehnya. Apabila terdapat kekurangan/ kerusakan baik yang terlihat ataupun yang tidak terlihat, maka penawar/Pembeli tidak berhak untuk menolak atau menarik diri kembali setelah pembelian disahkan dan melepaskan segala hak untuk meminta

pembayaran lelang sesuai ketentuan (Pembeli Wanprestasi), maka pada hari kerja berikutnya pengesahannya sebagai Pembeli dibatalkan secara tertulis oleh Pejabat Lelang, tanpa mengindahkan ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 1266 dan 1267 Kitab Undang-undang Hukum Perdata dan dapat dituntut ganti rugi oleh Penjual.-- ---Pembeli tidak diperkenankan mengambil/

menguasai Barang yang dibelinya sebelum memenuhi kewajiban pembayaran lelang. Apabila Pembeli melanggar ketentuan ini maka dianggap telah melakukan suatu tindak kejahatan yang dapat dituntut oleh pihak yang berwajib.---

kerugian atas sesuatu apapun juga.--- ---

---Untuk segala hal yang berhubungan dengan atau diakibatkan oleh pembelian dalam lelang ini, para Pembeli dianggap telah memilih tempat kedudukan umum yang tetap dan tidak dapat diubah pada KPKNL Banjarmasin.--- ---Khusus untuk pembelian dalam lelang ini sepanjang tidak ditentukan dalam Risalah Lelang ini, maka penawar/Pembeli tunduk pada hukum perdata dan hukum dagang yang berlaku di Indonesia.---

Contoh 2 : Syarat dan Ketentuan Lelang Barang Tidak Bergerak

SYARAT DAN KETENTUAN LELANG

---Penjualan lelang ini dilakukan menurut Undang- Undang Lelang (Vendu Reglement, Ordonantie 28 Februari 1908 Staatsblad 1908:189 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Staatsblad 1941:3) jis. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.06/2010 tanggal 23 April 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 174/PMK.06/2010 tanggal 30 September 2010 tentang Pejabat Lelang Kelas I.-- ---

---Peserta lelang yang mengajukan penawaran tertinggi dan telah mencapai atau melampaui Nilai Limit yang ditetapkan oleh Penjual, disahkan sebagai Pembeli oleh Pejabat Lelang pada saat pelaksanaan lelang.--- ---Bea Lelang dalam pelaksanaan lelang ini dipungut sesuai ketentuan dalam Pasal 4 ayat (5) Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Keuangan dan biaya-biaya lainnya.--- ---

---Pelunasan kewajiban pembayaran lelang oleh Pembeli dilakukan secara tunai paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah pelaksanaan lelang.--- ---Pembayaran dengan cek/giro hanya dapat diterima dan dianggap sah sebagai pelunasan kewajiban pembayaran lelang oleh Pembeli, jika cek/giro tersebut dikeluarkan oleh bank anggota kliring, dananya mencukupi dan dapat diuangkan.--- ---Peserta lelang yang telah disahkan sebagai Pembeli bertanggung jawab sepenuhnya dalam pelunasan kewajiban pembayaran lelang dan biaya-biaya resmi lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan pada lelang ini walaupun dalam penawarannya itu ia bertindak selaku kuasa dari seseorang, perusahaan atau badan hukum.---

---Pembeli yang tidak melunasi kewajiban pembayaran lelang sesuai ketentuan (Pembeli Wanprestasi), maka pada hari kerja berikutnya pengesahannya sebagai Pembeli dibatalkan secara tertulis oleh Pejabat Lelang, tanpa mengindahkan ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 1266 dan 1267 Kitab Undang-undang Hukum Perdata dan dapat dituntut ganti rugi oleh Penjual.---

---Pembeli tidak diperkenankan mengambil/

---Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah Dan/Atau Bangunan dipungut berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan yang telah diubah beberapa kali dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, serta Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 1999.--- ---Biaya balik nama Barang, tunggakan pajak berikut denda-dendanya serta biaya-biaya resmi lainnya menjadi tanggung jawab sepenuhnya Pembeli.--- ---

---Pembeli akan diberikan Kutipan Risalah Lelang untuk kepentingan balik nama setelah menunjukkan kuitansi pelunasan pembayaran lelang. Apabila yang dilelang berupa tanah dan/atau bangunan harus disertai dengan menunjukkan asli Surat Setoran BPHTB.--- ---Apabila tanah dan/atau bangunan yang akan dilelang ini berada dalam keadaan berpenghuni, maka pengosongan bangunan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pembeli. Apabila pengosongan bangunan tersebut tidak dapat dilakukan secara sukarela, maka Pembeli berdasarkan ketentuan yang termuat dalam pasal 200 HIR dapat meminta bantuan Pengadilan Negeri setempat untuk pengosongannya.--- ---Jika Pembeli tidak mendapatkan izin dari instansi pemberi izin untuk membeli barang tersebut sehingga jual beli ini menjadi batal, maka ia dengan ini oleh Penjual diberi kuasa penuh yang tidak dapat ditarik kembali dengan hak untuk memindahkan kuasa itu untuk mengalihkan Barang itu kepada pihak lain atas nama Penjual dengan dibebaskan dari pertanggungjawaban sebagai kuasa dan jika ada menerima uang ganti kerugian yang menjadi hak sepenuhnya dari Pembeli. Adapun uang pembelian yang sudah diberikan kepada Penjual tersebut diatas tidak dapat ditarik kembali oleh Pembeli.--- ---Pejabat Lelang/KPKNL tidak menanggung atas kebenaran keterangan-keterangan yang diberikan secara lisan pada waktu penjualan tentang keadaan sesungguhnya dan keadaan hukum atas Barang yang dilelang tersebut, seperti luasnya, batas-batasnya,

menguasai Barang yang dibelinya sebelum memenuhi kewajiban pembayaran lelang. Apabila Pembeli melanggar ketentuan ini maka dianggap telah melakukan suatu tindak kejahatan yang dapat dituntut oleh pihak yang berwajib.----

---Barang yang telah terjual pada lelang ini menjadi hak dan tanggungan Pembeli dan harus dengan segera mengurus Barang tersebut.--- ---Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dipungut berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, serta Peraturan Daerah Tentang Pelaksanaan Pemungutan BPHTB.---

perjanjian sewa menyewa dan menjadi resiko Pembeli.--- ---

---Penawar/Pembeli dianggap sungguh-sungguh telah mengetahui apa yang telah ditawar olehnya. Apabila terdapat kekurangan/ kerusakan baik yang terlihat ataupun yang tidak terlihat, maka penawar/Pembeli tidak berhak untuk menolak atau menarik diri kembali setelah pembelian disahkan dan melepaskan segala hak untuk meminta kerugian atas sesuatu apapun juga.--- ---

---Untuk segala hal yang berhubungan dengan atau diakibatkan oleh pembelian dalam lelang ini, para Pembeli dianggap telah memilih tempat kedudukan umum yang tetap dan tidak dapat diubah pada KPKNL Banjarmasin.--- ---

---Khusus untuk pembelian dalam lelang ini sepanjang tidak ditentukan dalam Risalah Lelang ini, maka penawar/Pembeli tunduk pada hukum perdata dan hukum dagang yang berlaku di Indonesia.--- ---

d. Grosse Risalah Lelang

Pembeli dan Penjual Lelang sesuai kebutuhan dapat memperoleh Grosse yang otentik dari Minuta Risalah Lelang dengan dibebani bea materai. Grosse Risalah Lelang adalah Salinan asli dari Risalah Lelang yang berkepala “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Kemungkinan penerbitan Grosse Risalah Lelang ini didasarkan kepada ketentuan dalam Pasal 86 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.06/2010 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106/PMK.06/2013, yang menyatakan sebagai berikut:

6. Pihak yang berkepentingan dapat memperoleh Kutipan/Salinan/Grosse yang otentik dari Minuta Risalah Lelang dengan dibebani Bea Materai.

7. Pihak yang berkepentingan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

6. Pembeli memperoleh Kutipan Risalah Lelang sebagai Akta Jual Beli untuk kepentingan balik nama atau Grosse Risalah Lelang sesuai kebutuhan;

7. Penjual memperoleh Salinan Risalah Lelang untuk laporan pelaksanaan lelang atau Grosse Risalah Lelang sesuai kebutuhan;

8. Pengawas Lelang (Superintenden) memperoleh Salinan Risalah Lelang untuk laporan pelaksanaan lelang/kepentingan dinas; atau

9. Instansi yang berwenang dalam balik nama kepemilikan hak objek lelang memperoleh Salinan Risalah Lelang sesuai kebutuhan.

Sebelumnya kemungkinan penerbitan Grosse Risalah Lelang tersebut didasarkan kepada ketentuan dalam Pasal 41 Vendu Reglement menyatakan, bahwa:

F. Berita acara disimpan oleh juru lelang atau penggantinya; di tempat terdapat lebih dari satu juru lelang, berita acara disimpan oleh pemegang buku pada kantor lelang. Juru simpan wajib memperlihatkan berita acara tersebut dengan mengirimkannya kepada pengawas kantor lelang negeri atas permintaannya.

G.

Kepada penjual dapat diberikan suatu grosse dari berita acara dengan pembayaran yang sama, di atas bea meterai, jika diperjanjikan bahwa pembayaran harga pembelian tidak dilakukan kepada pemerintah; jika perjanjian demikian tidak diadakan, maka grosse hanya boleh diberikan kepada pemerintah.

Selanjutnya dalam ketentuan Pasal 42 Vendu Reglement dinyatakan, bahwa:

6. Setiap orang yang berkepentingan dapat menerima salinan atau kutipan berita cara yang diotentikkan mengenai penjualan dengan pembayaran atas bea meterai sebesar dua gulden lima puluh sen untuk setiap salinan atau kutipan.

7. Untuk setiap pembelian tersendiri atau untuk pembelian-pembelian yang dilakukan oleh satu orang yang sama atau orang-orang yang diizinkan secara bersama-sama dengan pembayaran yang sama untuk menyerahkan suatu kutipan berita acara sebagai grosse.

Kutipan demikian harus berisikan bagian pokok dan penutup, termasuk pula bagian batang tubuh berita acara, akan tetapi hanya sejauh pembelian yang bersangkutan.

8. Grosse harus memakai kata-kata "Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa" pada bagian kepalanya dan kata-kata "dikeluarkan untuk grosse pertama" pada bagian penutup, dan memuat nama orang yang menerimanya.

9. Grosse yang diserahkan secara demikian, baik kepada pembeli dan penjaminnya, maupun kepada orang yang menyatakan diri membeli untuk orang lain atas kekuatan pemberian kuasa secara lisan, diberi kekuatan yang sama seperti grosse akta hipotek dan grosse akta notaris, berisikan kewajiban untuk melunasi sejumlah uang, dibuat di

Indonesia, dan pada bagian pokoknya dicantumkan kata-kata "Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa" (Rv. 435 dst., 440; JR. 224; RBg. 258).

10. Salinan, kutipan dan grosse diberikan oleh juru simpan berita acara. Untuk salinan, kutipan dan grosse yang diberikan untuk kepentingan pemerintah, tidak dipungut biaya apa pun juga.

Kemudian dalam Pasal 14 Vendu Instructie dinyatakan sebagai berikut:

Pemberian grosse pertama dari berita acara tentang pelelangan dicatat pada minut berita acara, dengan menyebutkan, bila grosse adalah kutipan dari pembelian yang bersangkutan.”

Dengan merujuk ketentuan di atas, maka Grosse Risalah Lelang yang terdapat kata-kata

”Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” dapat diberikan kepada Penjual Lelang dan Pembeli Lelang dengan dibebani bea materai sesuai dengan keperluannya sebagai dasar eksekusi. Grosse Risalah Lelang dapat diberikan kepada Penjual Lelang terkait dengan kewajiban pemenuhan pembayaran harga pembelian lelang oleh pembeli atau kepada Pembeli Lelang terkait dengan belum diserahkan barang yang dibelinya oleh penjual untuk keperluan balik nama.

Pembuatan Grosse Risalah Lelang dilakukan sebagai berikut:

6. Penulisan frasa “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” dilakukan pada halaman pertama Risalah Lelang, diatas kata-kata "RISALAH LELANG";

7. halaman terakhir Grosse Risalah Lelang pada bagian kanan bawah sebelum tanda tangan Kepala KPKNL/Pejabat Lelang Kelas II di atas materai secukupnya, dengan dibubuhkan kata-kata "diberikan sebagai grosse", dengan menyebutkan nama orang yang memintanya dan untuk siapa grosse dikeluarkan serta tanggal pengeluarannya;

8. setiap halaman harus dibubuhkan paraf Pejabat Lelang Kelas I dan ditera/cap dinas, dalam hal Pejabat Lelang yang bersangkutan berhalangan tetap, diparaf oleh Kepala KPKNL; dan 9. setiap halaman harus dibubuhkan paraf Pejabat Lelang Kelas II dan ditera/cap jabatan, dalam

hal Pejabat Lelang yang bersangkutan berhalangan tetap, diparaf oleh pejabat yang berwenang.

Dari Pasal 42 ayat (4) Vendu Reglement dapat diketahui bahwa kekuatan Grosse Risalah Lelang sama dengan grosse akta hipotek dan grosse akta notaris, sepanjang di dalamnya dicantumkan kata-kata "Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa". Karena itu, dengan sendirinya Grosse Risalah yang merupakan salinan asli dari Risalah Lelang yang berkepala "Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa", mempunyai kekuatan eksekutorial, yang berkekuatan sama dengan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Hal ini sejalan dengan Pasal 224 HIR antara lain menyatakan, bahwa "surat grosse daripada akta hipotek dan surat utang yang diperbuat di hadapan notaris di Indonesia dan yang kepalanya memakai perkataan "Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa"

berkekuatan sama dengan putusan hakim". Demikian pula dalam Pasal 1 angka 11 Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris ditegaskan, bahwa "Grosse Akta adalah salah satu salinan Akta untuk pengakuan utang dengan kepala Akta "DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA", yang mempunyai kekuatan eksekutorial". Juga hal yang sama ditegaskan dalam Pasal 55 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 yang menyatakan, bahwa "Grosse

Akta pengakuan utang yang dibuat di hadapan Notaris adalah Salinan Akta yang mempunyai kekuatan eksekutorial". Jadi, Grosse Risalah Lelang yang merupakan salinan Risalah Lelang mempunyai kekuatan eksekutorial pula sama seperti putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

Semula pengosongan eksekusi objek Hak Tanggungan mengalami kesulitan, karena pemenang lelang harus mengajukan gugatan terlebih dahulu, di mana pemenang lelang tidak dapat mengajukan eksekusi pengosongan objek Hak Tanggungan secara langsung kepada Ketua Pengadilan Negeri. Hal ini berhubungan dengan pendapat Mahkamah Agung sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 7 Tahun 2012 tentang Rumusan Hukum Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan, yaitu pada Kamar Perdata angka XIII yang menyatakan, bahwa "pelelangan hak tanggungan yang dilakukan oleh kreditur sendiri melalui kantor lelang, apabila terlelang tidak mau mengosongkan objek yang dilelang, tidak dapat dilakukan pengosongan berdasarkan Pasal 200 ayat (11) HIR, melainkan harus diajukan gugatan, karena pelelangan tersebut di atas bukan lelang eksekusi melainkan lelang sukarela". Namun hal ini tidak berlaku lagi sejak keluarnya Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2013 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan, yang merevisi hasil rumusan Kamar Perdata tanggal 14 sampai dengan tanggal 16 Maret 2011 pada angka XIII. Dalam Surat Edaran Mahkamah Agung ini dikatakan, bahwa

"Terhadap pelelangan hak tanggungan oleh kreditur sendiri melalui kantor lelang, apabila terlelang tidak mau mengosongkan obyek lelang, eksekusi pengosongan dapat langsung diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri tanpa melalui gugatan". Berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 tersebut, maka pengosongan eksekusi objek Hak Tanggungan tidak lagi harus melalui gugatan, pemenang lelang dapat mengajukan eksekusi pengosongan secara langsung kepada Ketua Pengadilan Negeri.

BAB 5

BIAYA DAN ADMINISTRASI PERKANTORAN LELANG

Dalam dokumen Scanned by CamScanner (Halaman 140-148)