BAB III PERKEMBANGAN MEDIA CETAK
C. Harian Radar Sulteng
Berdasarkan penelusuran peneliti dan hasil wawancara dari beberapa narasumber seperti Tasrif Siara, Ridwan Lapasere, Rus- lan Sangaji dan Darlis maka peneliti berkesimpulan bahwa umum- nya para jurnalis di Kota Palu atau Sulawesi Tengah adalah jurnalis yang juga pernah bergabung di Mercusuar, Media Al Khairaat dan Radar Sulteng. Bahkan ada yang pernah lama bergabung ke Tribun Timur dan Harian Fajar di Makassar, akhirnya memilih kemba- li lagi ke Palu sebagai jurnalis. Alasannya pers lokal di Kota Palu sudah mulai berkembang pesat dan mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Pemegang Saham) di Bali, maka hasil keputusan tersebut mengganti nama harian Mercusuar menjadi harian Radar Sulteng. Pada tahun 2002 tepatnya bulan maret, harian Radar Sulteng kembali berpisah dengan PT Mercu Paribuka Press dan membentuk PT Radar Sulteng Membangun. Ketika belum berpisah sebenarnya Mercusuar meru- pakan saham lokal dari Almarhum Rusdy Toana yang bergabung dengan Jawa Pos Grup. Kerjasama antara Mercusuar dan Jawa Pos terjalin, karena Jawa Pos tidak mau bekerjasama dengan pers lokal yang tidak mempunyai SIUPP. Karena surat kabar Mercusuar kala itu mempunyai SIUPP, sedangkan Jawa Pos di sisi lain mempunyai ma- najemen yang bagus, akhirnya mereka kesepakatan kerjasama pun terjalin.
Ketika di tahun 1999, apalagi Departemen Penerangan dibu- barkan dan hadirnya UU Pers No. 40/1999 yang menjelaskan bah- wa untuk mendirikan pers tidak lagi memerlukan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), maka terjadi perbedaan pandangan anta- ra manajemen Mercusuar dan Radar Sulteng. Puncaknya berujung di tahun 2001 akhirnya kedua media tersebut sepakat untuk berpi- sah. Saat itu, jurnalis yang tergabung di kedua media itu diberikan pilihan untuk mengembangkan karir antara Mercusuar atau Radar Sulteng. Ada beberapa jurnalis yang memilih menetap berkarir di Radar Sulteng di bawah naungan Jawa Pos, sedangkan jurnalis yang lainnya memilih ke Mercusuar. Sejak saat itu, Radar Sulteng dibawah kepemilikan Kamil Badrun sebagai pendirinya (Gambar 3. 20).22 Di bawah ini adalah gambar Gedung Radar Sulteng yang diberi nama Graha Pena (Gambar 3. 19), merupakan gedung baru setelah berpi- sahnya manajemen dengan Mercusuar.
22 Wawancara dengan narasumber, Rahmat Bakri, Wakil Pemimpin Redaksi Radar Sult- eng yang dilakukan pada tanggal 24 Agustus 2016 bertempat di Fakultas Hukum Uni- versitas Tadulako.
Gambar 3.19 Gedung Graha
Pena Radar Sulteng Gambar 3.20 Pendiri Radar Sulteng, Kamil Badrun (bertopi) dan Dahlan Iskan Di tahun 2000 ketika masih bergabung dengan Mercusuar, jumlah tiras Radar Sulteng mencapai sekitar 8.000-12.000/hari ke- cuali hari minggu. Pendirinya pun yakni Kamil Badrun pernah juga menjabat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Wi- layah Sulawesi Tengah selama dua periode dari tahun 2003-2007 dan 2007 2011. Akan tetapi ketika terjadi pemisahan, maka bisa saja pembaca Mercusuar akan berbeda dengan pembaca Radar Sulteng.
Di bawah naungan Jawa Pos News Network, maka tampilan pemberi- taan hanya Radar Sulteng banyak mengadopsi model tampilan Jawa Pos meskipun pemberitaannya masih didominasi unsur lokalitas.
Radar Sulteng hadir untuk memperkuat isu lokal di Sulawesi Tengah, dengan tidak mengorbankan kepentingan informasi yang dibutuh- kan oleh masyarakat. Radar Sulteng memberikan ruang pemberitaan khusus untuk wilayah-wilayah yang ada di Sulawesi Tengah seperti yang tampak pada gambar di bawah ini:
Gambar 3.21 Halaman
Depan Radar Sulteng Gambar 3.22 Halaman Daerah Radar Sulteng Radar Sulteng yang merupakan anak perusahaan dari Kaltim Post, sedangkan Kaltim Post adalah bagian dari anak perusahaan Jawa Pos. Saat ini, jurnalis yang tergabung dalam Radar Sulteng se- banyak 25 orang. Seiring dengan perkembangan wilayah provinsi Sulawesi Tengah, Radar Sulteng juga menyikapi kondisi masyarakat yang membutuhkan informasi tentang peristiwa dari berbagai wi- layah di Sulawesi Tengah, maka Radar Sulteng mendirikan memba- ngun jaringan media antara lain Radar Poso (Poso, Tojo Una-Una dan Luwuk), Radar Parimo (Parigi Moutong), Pos Palu dan Radar Metro Morowali (Morowali dan Morowali Utara) yang dibentuk se- kitar tahun 2003. Berbeda dengan surat kabar Mercusuar yang lebih konsen ke jaringan bisnis media cetak, ekspansi Radar Sulteng me- rambah hingga ke media elektronik dengan mendirikan Radar TV pada tahun 2011.
Gambar 3.23 Jurnalis
Radar Sulteng Gambar 3.24 Suasana Ruangan Redaksi
Dari ketiga media yang dijadikan sebagai analisis dalam pene- litian ini, maka surat kabar Mercusuar dan Media Al Khairaat yang mempunyai sejarah panjang dalam perjalanan pers di Sulawesi Te- ngah dan masih bertahan eksistensinya hingga saat ini di tengah per- saingan media. Kedua pers lokal tersebut layak disebut sebagai me- dia perjuangan yang utama dan terlama di Sulawesi Tengah. Apalagi kedua pers lokal itu pernah hidup di masa Orde Baru, yakni masa dimana kebebasan pers menjadi sesuatu perjuangan yang penting.
Lain halnya dengan Radar Sulteng yang secara resmi berdiri di tahun 2001 dan terpisah dari manajemen Mercusuar. Radar Sulteng telah berada dalam alam demokrasi yang lebih terbuka dan kontrol terha- dap pers sudah dihilangkan.
Meskipun banyak pers lokal yang ada di Kota Palu atau Su- lawesi Tengah, namun setelah diamati pers lokal yang ada tersebut tidak memiliki karakteristik yang khas dari ketiga pers lokal dianali- sis terutama aspek sejarah dan jaringan medianya. Ketiga pers lokal
yang dijadikan sebagai objek penelitian didasarkan atas pertimbang- an bahwa pertama, ketiga media ini mudah didapatkan dan paling banyak diakses serta masih menjadi preferensi utama masyarakat Sulawesi Tengah dalam memperoleh informasi yang berkenaan de- ngan peristiwa yang terjadi baik di level lokal maupun nasional.
Kedua, adanya basis media dan jaringan media. Mercusuar se- bagai media cetak yang tertua dan terlama di Sulawesi Tengah tidak bisa dilepaskan dari organisasi Muhammadiyah dan eksis hingga saat ini bahkan mempunyai jaringan media sebanyak delapan surat kabar yang tersebar di wilayah Sulawesi (Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat dan Gorontalo) seperti Kaili Post, Tonakodi, Sulteng Post, Poso Raya (Poso, Tojo Una-Una, Morowali), Banggai Raya (Banggai, Banggai Kepulauan, Banggai Laut), Rakyat Post (Toli-Toli, Buol) Gorontalo Raya (Gorontalo) dan Sulbar Raya (Sulawesi Barat). Sedangkan Me- dia Al-Khairaat adalah media yang bernuansa Islam-Moderat yang juga dimiliki atau berada dibawah naungan organisasi keagamaan terbesar di Sulawesi Tengah yakni Al-Khairaat (seperti Muhamma- diyah atau Nahdlatul Ulama) dan punya jaringan luas di kawasan timur Indonesia. Berikutnya, Radar Sulteng (sebagai anak perusaha- an Kaltim Post dan bagian dari Jawa Pos News Network), dahulunya bergabung dengan Mercusuar, akan tetapi karena perbedaan prinsip manajemen maka kedua media tersebut berpisah.
Ketiga, segmentasi media atau sasaran pembacanya yang bersi- fat umum atau bisa dinikmati dari berbagai kalangan usia, pendidik- an, pekerjaan hingga agama. Meskipun Media Al-Khairaat (MAL) adalah media yang berbasiskan agama Islam, namun persentase pemberitaan yang bersifat agama hanya sekitar 20 persen dari isi pemberitaan. Pembaca dan pelanggan Media Al-Khairaat ada juga yang berasal dari kalangan non muslim. Ini disebabkan karena pen- diri Al Khairaat, SIS Al Jufri adalah orang yang biasa bergaul dengan
kelompok non muslim. Bahkan disebutkan dalam sejarah perjalanan yayasan pendidikan Al Khairaat itu, banyak guru-guru yang meng- ajar di madrasah berasal dari non muslim (pendeta) khususnya di daerah terpencil wilayah Sulawesi Tengah.