• Tidak ada hasil yang ditemukan

Media Al Khairaat (MAL)

Dalam dokumen Jejak Pers di Sulawesi Tengah (Halaman 41-47)

BAB III PERKEMBANGAN MEDIA CETAK

B. Media Al Khairaat (MAL)

Ketika menjadi surat kabar mingguan, kondisi penerbitan MAL mengalami pasang surut atau mulai agak redup-redup dengan tuntutan pembaca yang agak tinggi. Akhirnya beberapa jurnalis dipanggil ke Al Khairaat untuk menerbitkan kembali Mingguan Al Khairaat di antara- nya: Ruslan Sangaji, Amran Amir, Nasution Camang, Marwan P Angku dan Badri Jawara untuk membicarakan pentingnya Media Al Khaira- at. Akhirnya diputuskan sejak tanggal 18 Mei 2008 menjadi mengubah Mingguan Al Khairaat menjadi harian Media Al Khairaat. Alasannya, untuk tidak menghilangkan kata “MAL” yang telah melekat sebagai ikon maka penggantian namanya tetap mengambil nama semula yakni MAL tetapi mempunyai makna atau singkatan Media Al Khairaat.

Cetakan pertama koran Mingguan Al Khairaat ditulis pakai huruf rugos (huruf yang dijiplak) lalu diketik biasa tetapi judulnya ditulis tangan. Pada gambar di bawah ini, bisa dilihat tampilan MAL yang masih sangat sederhana. Bahkan iklan-iklan di MAL kala itu seperti iklan ucapan selamat (Gambar 3. 13) dan iklan produk (Gam- bar 3. 14) yang juga ditulis tangan dengan desain seadanya.

Gambar 3.12 MAL (April 1972) Gambar 3.11 MAL

(September 1971)

Gambar 3.13 Contoh

Iklan Ucapan Selamat Gambar 3.14 Contoh Iklan Produk Adapun upaya untuk kembali menghidupkan Media Al Kha- iraat yang sempat vakum karena MAL itu dianggap sebagai media komunikasi khusus untuk warga Al Khairaat, juga sebagai media ko- munikasi dan dakwah untuk pengembangan Al Khairaat. Namun, tidak hanya seputar di soal-soal media saja tetapi juga melakukan pemberitaan secara umum. Jadi pangsa pasar Al Khairaat dengan eksklusifnya bisa juga dibaca untuk kalangan umum, makanya dari dulu mingguan MAL adalah bacaan umum. Jadi tidak hanya seba- gai media dakwah khusus untuk Al Khairaat. Apalagi organisasi Al Khairaat di Sulawesi Tengah lebih tersebar dan kegiatannya menca- kup banyak aspek seperti pendidikan, keagamaan dan penerbitan.

Berikut ini adalah gambar Kantor Pengurus Besar Al Khairaat dan Kantor Redaksi Media Al Khairaat.

Gambar 3.15 Gedung

Pengurus Besar Al Khairaat Gambar 3.16 Kantor Redaksi Media Al Khairaat (MAL)

Media Al Khairaat mengalami proses stagnan selama tiga ta- hun dari tahun 2006 sampai tahun 2008, bahkan dianggap mati suri.

Karena Media Al Khairaat dikelola secara dakwah atau semi LSM, maka ketika rentang waktu itu seluruh pengelolanya, dimana ada yang menjadi pegawai negeri, ada yang selesai kuliah, ada yang me- lanjutkan studi, ada juga yang meninggal dunia sehingga pengelo- lanya hanya tersisa satu orang yakni Rafik. Ia pun sampai akhirnya meninggal dunia di tahun 2006 sehingga tiga tahun lebih Media Al Khairaat tidak terbit. Akan tetapi ustaz Saggaf sebagai Ketua Utama yang sangat peduli dengan media dakwah seperti MAL ini, mulai merasa gelisah, bagaimana pun caranya MAL itu harus hadir, mau dalam bentuk mingguan, bulanan, harian, harus tetap hadir dalam mengisi perjalanan Sulawesi Tengah. Seiring perjalanan tersebut, ada orang yang menghibahkan mesin cetaknya dan disinilah awal agar Media Al Khairaat bisa terbit secara harian. Inilah modal awalnya sebagai harian hingga sampai sekarang meskipun mesin cetaknya sudah tidak maksimal.

Al Khairaat secara kelembagaan itu, di mana ketika pertama kali Media Al Khairaat menjadi sebuah harian maka sudah diberi- kan semacam jaminan bahwa seluruh persoalan-persoalan dunia ke- Islam-an dan dunia keumatan di Sulawesi Tengah selama satu bulan itu semua harus dipotret tanpa terkecuali. Ustaz Saggaf juga sebagai Ketua Utama dan Pimpinan Umum memberikan lampu hijau untuk memotret seluruh persoalan-persoalan di Sulawesi Tengah termasuk soal Al Khairaat, apalagi sekita 90 persen pejabat-pejabat di Sulawe- si Tengah adalah bagian dari warga Al Khairaat. Berikut ini adalah gambar tampilan Media Al Khairaat yang sudah berwarna.

Gambar 3.17 Tampilan Media Al

Khairaat (MAL) tahun 2012 Gambar 3.18 Tampilan Media Al Khairaat (MAL) tahun 2015 Idenya untuk mengubah tampilan Media Al Khairaat menjadi harian, diawali dengan berkumpulnya beberapa jurnalis korespon- den harian nasional yang ada di Sulawesi Tengah, ditambah adanya kegelisahan jurnalis di lapangan ketika liputan mereka tidak dimuat di Jakarta dimana terkadang hanya satu atau dua liputan per hari yang dimuat, itupun jika peristiwa itu punya efek yang besar atau

menarik. Sementara para jurnalis di lapangan dalam seharian bisa mendapatkan banyak peristiwa atau liputan. Ide inilah yang didis- kusikan oleh Ustaz Saggaf selaku Ketua Utama PB Al Khairaat dan direspon dengan baik hingga akhirnya berubahlah tampilan Media Al Khairaat yang dari surat kabar mingguan menjadi harian umum.

Adapun beberapa jurnalis atau koresponden nasional, saat itu ada sekitar lima orang koresponden yang bergabung di Media Al Kha- iraat. Antara lain Darlis (Koran Tempo dan Majalah Tempo), Ruslan Sangaji (The Jakarta Post), Amran Amir (Trans Corp), Haeruddin Saleh (Antara) dan Syamsuddin (SCTV). Jadi konsep liputan mereka dibuat rangkap dua, satu liputan untuk media mereka yang Jakarta dan satunya untuk Media Al Khairaat. Artinya, jika berita yang di- kirimkan ke Jakarta tidak dimuat maka akan disisipkan di Media Al Khairaat.

Di tengah kondisi persaingan media di Sulawesi Tengah, ma- najemen Media Al Khairaat masih berada dalam kondisi yang belum optimal. Kecenderungan penurunan oplah dan adanya jurnalis yang mengundurkan diri merupakan faktor yang ikut mempengaruhi pe- ngelolaan Media Al Khairaat. Bahkan bagian pemasaran dan iklan ti- dak berjalan dengan maksimal karena posisi tersebut lowong hingga sekarang sehingga cara mengantisipasinya hanya dengan mengan- dalkan staf yang ada di bagian redaksi. Surat kabar ini tidak berori- entasi untuk mencari keuntungan yang besar, karena PB Al Khairaat menganggap ini bagian dari kerja dakwah. Pihak PB Al Khairaat juga tidak bisa menuntut para jurnalisnya untuk bertahan mengelola Me- dia Al Khairaat, motivasi yang ada adalah bahwa di Media Al Khair- aat itu bukan untuk mencari pekerjaan secara layak tetapi kerja yang menjadi sebuah pengabdian. Hingga sekarang yang masih mengelola MAL sekitar 15 orang antara lain: redaktur empat orang, reporter 6 orang dan koresponden 5 orang.

Berdasarkan penelusuran peneliti dan hasil wawancara dari beberapa narasumber seperti Tasrif Siara, Ridwan Lapasere, Rus- lan Sangaji dan Darlis maka peneliti berkesimpulan bahwa umum- nya para jurnalis di Kota Palu atau Sulawesi Tengah adalah jurnalis yang juga pernah bergabung di Mercusuar, Media Al Khairaat dan Radar Sulteng. Bahkan ada yang pernah lama bergabung ke Tribun Timur dan Harian Fajar di Makassar, akhirnya memilih kemba- li lagi ke Palu sebagai jurnalis. Alasannya pers lokal di Kota Palu sudah mulai berkembang pesat dan mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Dalam dokumen Jejak Pers di Sulawesi Tengah (Halaman 41-47)

Dokumen terkait