BAB V HASIL
C. Hasil Analisis Bivariat
1. Hubungan Antara Umur dengan Kelelahan Kerja
Hubungan antara umur dengan kelelahan pada pengemudi dapat dilihat pada tabel 5.19 berikut:
Tabel 5. 19 Hubungan Antara Umur dengan Kelelahan Kerja Pengemudi Bus PT X Tahun 2022
Umur
Kelelahan
Total
Pvalue
OR (CI 95%) Lelah Kurang
Lelah
n % n % n %
Tua 28 65,1 15 34,9 43 100
0,945
0,891 (0,395- 2,012) Muda 44 67,7 21 32,3 65 100
Total 72 66,7 36 33,3 108 100
Berdasarkan hasil analisis diperoleh informasi bahwa pengemudi yang berumur tua (>45 tahun) dan merasa lelah sebanyak 28 pengemudi dari 43 pengemudi (65,1%). Sedangkan pengemudi yang memiliki umur muda (<45 tahun) dan merasa lelah sebanyak 44 pengemudi dari 65 pengemudi (67,7%). Dilihat dari hasil uji statistik, didapatkan Pvalue sebesar 0,945 artinya pada α = 5% dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur dengan kelelahan kerja pengemudi bus PT X Tahun 2022.
2. Hubungan Antara Status Gizi dengan Kelelahan Kerja
Hubungan antara status gizi dengan kelelahan pada pengemudi dapat dilihat pada tabel 5.20 berikut:
79
Tabel 5. 20 Hubungan Antara Status Gizi Dengan Kelelahan Kerja Pengemudi Bus PT X Tahun 2022
Status Gizi
Kelelahan
Total
Pvalue
OR (CI 95%) Lelah Kurang
Lelah
n % n % n %
Gemuk 51 86,4 8 13,6 59 100
0,000
8,500 (3,334- 21,668) Normal 21 42,9 28 57,1 49 100
Total 72 66,7 36 33,3 108 100
Berdasarkan hasil analisis diperoleh informasi bahwa pengemudi yang memiliki status gizi gemuk dan merasa lelah sebanyak 51 pengemudi dari 59 pengemudi (86,4 %). Sedangkan pengemudi yang memiliki status gizi normal dan merasa lelah sebanyak 21 pengemudi dari 49 pengemudi (42,9%). Dilihat dari hasil uji statistik, didapatkan Pvalue sebesar 0,000 artinya pada α = 5%
dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kelelahan kerja pengemudi bus PT X Tahun 2022.
Selain itu, diperoleh nilai OR sebesar 8,500. Dapat disimpulkan bahwa pengemudi dengan status gizi gemuk mempunyai resiko 8,5 kali lebih besar untuk mengalami kelelahan kerja dibandingkan dengan pengemudi yang memiliki status gizi normal.
3. Hubungan Antara Kuantitas Tidur dengan Kelelahan Kerja Hubungan antara kuantitas tidur dengan kelelahan pada pengemudi dapat dilihat pada tabel 5.21 berikut:
80
Tabel 5. 21 Hubungan Antara Kuantitas Tidur Dengan Kelelahan Kerja Pengemudi Bus PT X Tahun 2022
Kuantitas Tidur
Kelelahan
Total
Pvalue
OR (CI 95%) Lelah Kurang
Lelah
n % n % n %
Buruk 59 86,8 9 13,2 68 100
0,000
13,615 (5,191- 35,709) Baik 13 32,5 27 67,5 40 100
Total 72 66,7 36 33,3 108 100
Berdasarkan hasil analisis diperoleh informasi bahwa pengemudi yang memiliki kuantitas tidur buruk dan merasa lelah sebanyak 59 pengemudi dari 68 pengemudi (86,8%). Sedangkan pengemudi yang memiliki kuantitas tidur baik dan merasa lelah sebanyak 13 pengemudi dari 40 pengemudi (32,5%). Dilihat dari hasil uji statistik, didapatkan Pvalue sebesar 0,000 artinya pada α = 5%
dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kuantitas tidur dengan kelelahan kerja pengemudi bus PT X Tahun 2022. Selain itu, diperoleh nilai OR sebesar 13,615. Dapat disimpulkan bahwa pengemudi dengan kuantitas tidur yang buruk mempunyai resiko 13,6 kali lebih besar untuk mengalami kelelahan kerja dibandingkan dengan pengemudi yang memiliki kuantitas tidur baik.
4. Hubungan Antara Kualitas Tidur dengan Kelelahan Kerja Hubungan antara kualitas tidur dengan kelelahan pada pengemudi dapat dilihat pada tabel 5.22 berikut:
81
Tabel 5. 22 Hubungan Antara Kualitas Tidur Dengan Kelelahan Kerja Pengemudi Bus PT X Tahun 2022
Kualitas Tidur
Kelelahan
Total
Pvalue
OR (CI 95%) Lelah Kurang
Lelah
n % n % n %
Buruk 39 83,0 8 17,0 47 100
0,003
4,136 (1,661- 10,300) Baik 33 54,1 28 45,9 61 100
Total 72 66,7 36 33,3 108 100
Berdasarkan hasil analisis diperoleh informasi bahwa pengemudi yang memiliki kualitas tidur buruk dan merasa lelah sebanyak 39 pengemudi dari 47 pengemudi (83,0%). Sedangkan pengemudi yang memiliki kuantitas tidur baik dan merasa lelah sebanyak 33 pengemudi dari 61 pengemudi (54,1%). Dilihat dari hasil uji statistik, didapatkan Pvalue sebesar 0,003 artinya pada α = 5%
dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kualitas tidur dengan kelelahan kerja pengemudi bus PT X Tahun 2022. Selain itu, diperoleh nilai OR sebesar 4,136. Dapat disimpulkan bahwa pengemudi dengan kualitas tidur yang buruk mempunyai resiko 4,1 kali lebih besar untuk mengalami kelelahan kerja dibandingkan dengan pengemudi yang memiliki kualitas tidur baik.
5. Hubungan Antara Beban Kerja Mental dengan Kelelahan Kerja Hubungan antara beban kerja mental dengan kelelahan pada pengemudi dapat dilihat pada tabel 5.23 berikut:
82
Tabel 5. 23 Hubungan Antara Beban Kerja Mental Dengan Kelelahan Kerja Pengemudi Bus PT X Tahun 2022
Beban Kerja Mental
Kelelahan
Total
Pvalue
OR (CI 95%) Lelah Kurang
Lelah
n % n % N %
Tinggi 65 83,3 13 16,7 78 100
0,000
16,429 (5,838- 46,230) Sedang 7 23,3 23 76,7 30 100
Total 72 66,7 36 33,3 108 100
Berdasarkan hasil analisis diperoleh informasi bahwa pengemudi yang memiliki beban kerja mental tinggi dan merasa lelah sebanyak 65 pengemudi dari 78 pengemudi (83,3%). Sedangkan pengemudi yang memiliki beban kerja mental sedang dan merasa lelah sebanyak 7 pengemudi dari 26 pengemudi (23,3%). Dilihat dari hasil uji statistik, didapatkan Pvalue sebesar 0,000 artinya pada α = 5% dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara beban kerja mental dengan kelelahan kerja pengemudi bus PT X Tahun 2022. Selain itu, diperoleh nilai OR sebesar 16,429. Dapat disimpulkan bahwa pengemudi dengan beban kerja mental tinggi mempunyai resiko 16,4 kali lebih besar untuk mengalami kelelahan kerja dibandingkan dengan pengemudi yang memiliki beban kerja mental sedang.
6. Hubungan Antara Beban Kerja Fisik dengan Kelelahan Kerja Hubungan antara beban kerja fisik dengan kelelahan pada pengemudi dapat dilihat pada tabel 5.24 berikut:
83
Tabel 5. 24 Hubungan Antara Beban Kerja Fisik Dengan Kelelahan Kerja Pengemudi Bus PT X Tahun 2022
Beban Kerja Fisik
Kelelahan
Total
Pvalue
OR (CI 94%) Lelah Kurang
Lelah
n % n % N %
Berlebihan 42 75,0 14 25,0 56 100
0,089
2,200 (0,971- 4,983) Tidak
Berlebihan 30 57,7 22 42,3 52 100 Total 72 66,7 36 33,3 108 100
Berdasarkan hasil analisis diperoleh informasi bahwa pengemudi yang memiliki beban kerja fisik berlebihan dan merasa lelah sebanyak 42 pengemudi dari 56 pengemudi (75%). Sedangkan pengemudi yang memiliki beban kerja fisik tidak berlebihan dan merasa lelah sebanyak 30 pengemudi dari 52 pengemudi (57,7%).
Dilihat dari hasil uji statistik, didapatkan Pvalue sebesar 0,089 artinya pada α = 5% dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara beban kerja fisik dengan kelelahan kerja pengemudi bus PT X Tahun 2022.
7. Hubungan Antara Durasi Mengemudi dengan Kelelahan Kerja Hubungan antara durasi mengemudi dengan kelelahan pada pengemudi dapat dilihat pada tabel 5.25 berikut:
84
Tabel 5. 25 Hubungan Antara Durasi Mengemudi Dengan Kelelahan Kerja Pengemudi Bus PT X Tahun 2022
Durasi Mengemudi
Kelelahan
Total
Pvalue
OR (CI 95%) Lelah Kurang
Lelah
n % n % n %
Tidak
Normal 17 89,5 2 10,5 19 100
0,040
5,255 (1,142- 24,176) Normal 55 61,8 34 38,2 89 100
Total 72 66,7 36 33,3 108 100
Berdasarkan hasil analisis diperoleh informasi bahwa pengemudi yang memiliki durasi mengemudi tidak normal dan merasa lelah sebanyak 17 pengemudi dari 19 pengemudi (89,5%).
Sedangkan pengemudi yang memiliki durasi mengemudi normal dan merasa lelah sebanyak 55 pengemudi dari 89 pengemudi (61,8%).
Dilihat dari hasil uji statistik, didapatkan Pvalue sebesar 0,040 artinya pada α = 5% dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara durasi mengemudi dengan kelelahan kerja pengemudi bus PT X Tahun 2022. Selain itu, diperoleh nilai OR sebesar 5,255. Dapat disimpulkan bahwa pengemudi dengan durasi mengemudi tidak normal mempunyai resiko 5,2 kali lebih besar untuk mengalami kelelahan kerja dibandingkan dengan pengemudi yang memiliki durasi mengemudi normal.
8. Hubungan Antara Waktu Istirahat dengan Kelelahan Kerja Hubungan antara waktu istirahat dengan kelelahan pada pengemudi dapat dilihat pada tabel 5.26 berikut:
85
Tabel 5. 26 Hubungan Antara Waktu Istirahat Dengan Kelelahan Kerja Pengemudi Bus PT X Tahun 2022
Waktu Istirahat
Kelelahan
Total
Pvalue
OR (CI 95%) Lelah Kurang
Lelah
n % n % n %
Tidak
Normal 10 76,9 3 23,1 13 100
0,537
1,774 (0,456- 6,896) Normal 62 65,3 33 34,7 95 100
Total 72 66,7 36 33,3 108 100
Berdasarkan hasil analisis diperoleh informasi bahwa pengemudi yang memiliki waktu istirahat tidak normal dan merasa lelah sebanyak 10 pengemudi dari 13 pengemudi (76,9%). Sedangkan pengemudi yang memiliki waktu istirahat normal dan merasa lelah sebanyak 62 pengemudi dari 95 pengemudi (65,3%). Dilihat dari hasil uji statistik, didapatkan Pvalue sebesar 0,537 artinya pada α = 5%
dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara waktu istirahat dengan kelelahan kerja pengemudi bus PT X Tahun 2022.
86
BAB VI PEMBAHASAN
A. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan dalam pelaksanaannya, diantaranya:
1. Tidak dilakukannya skrining kelelahan kerja saat penelitian, sehingga kelelahan kerja yang dirasakan pada pekerja kemungkinan terjadi sebelum bekerja.
2. Kemungkinan terjadinya recall bias karena peneliti menanyakan kejadian yang sudah berlalu, yaitu rata-rata lama tidur selama seminggu terakhir.
3. Pada pengukuran denyut nadi responden tidak dilakukan pada waktu yang sama, sehingga terdapat beberapa responden yang diukur setelah melakukan istirahat.
4. Kelelahan kerja pada penelitian ini tidak dilihat berdasarkan rute perjalanan, sehingga kelelahan kerja yang dialami pengemudi kemungkinan terjadi akibat rute perjalanan yang dimilikinya.
B. Gambaran Kelelahan Kerja Pengemudi Bus
Kelelahan merupakan pengaruh dari penggunaan energi yang melewati batas maupun dari aktivitas mental berkepanjangan, yang dapat berpengaruh pada respon dan kapasitas fungsional (González Gutiérrez dkk., 2005 dalam Amaliyah & Ramdhan, 2021). Hasil penelitian ini menunjukan dari 108 pengemudi bus diketahui terdapat 72 pengemudi
87
(66,7%) yang merasa lelah dan 36 pengemudi (33,3%) yang merasa kurang lelah, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar pengemudi bus mengalami kelelahan kerja. Penelitian ini sesuai dengan penelitian Santos & Lu (2016) bahwa kelelahan pengemudi adalah salah satu masalah utama yang dilaporkan oleh pengemudi bus Metro Manila.
Pengukuran kelelahan pada penelitian ini menggunakan kuesioner KAUPK2 yang terdiri dari 17 pertanyaan. Diketahui pertanyaan mengenai perasaan merasa lelah pada seluruh tubuh memiliki persentase paling besar yang dirasakan oleh pengemudi bus PT X Tahun 2022. Hasil penelitian ini sejalan dengan yang disebutkan oleh Yogisutanti dkk. (2013) dalam Prastuti & Martiana (2017) bahwa pekerjaan pengemudi merupakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi karena memerlukan sinkronisasi yang cepat dan tepat antara otak, mata, tangan, dan kaki.
Sehingga mengemudi merupakan pekerjaan yang memiliki resiko tinggi mengalami kelelahan kerja dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas time table, ritase dan durasi mengemudi pada pengemudi bus bandara bersifat fleksibel sesuai dengan jumlah armada dan jumlah penumpang. Penelitian ini dilakukan saat PT X sedang melaksanakan kegiatan angkutan haji, dimana terdapat sebagian armada digunakan untuk mengantarkan jamaah haji dari asrama haji ke bandara Soekarno-Hatta. Hal tersebut menyebabkan jumlah armada yang bersedia untuk beroperasional menjadi berkurang, sehingga pengemudi yang tetap beroperasional diwajibkan untuk memenuhi jadwal operasional yang ada. Kondisi ini dapat menyebabkan pengemudi memiliki
88
durasi mengemudi lebih dari 8 jam dan berkurangnya waktu istirahat pengemudi. Sehingga kelelahan kerja yang dirasakan oleh pengemudi pada penelitian ini berkemungkinan dipengaruhi oleh kegiatan angkutan haji.
Selain itu, penelitian ini dilakukan kepada seluruh pengemudi yang tersebar menjadi 21 trayek berbeda. Setiap trayek memiliki perbedaan dalam jumlah ritase, jarak, durasi mengemudi, kondisi perjalanan, dan kondisi kendaraan.
Sehingga, kelelahan yang dialami pengemudi kemungkinan diakibatkan oleh perbedaan trayek.
Berdasarkan data dari Kementerian Perhubungan RI (2012) dalam Saputra & Hartono (2020), kelelahan pada pengemudi merupakan faktor yang mendominasi penyebab kecelakaan lalu lintas. Kelelahan pengemudi dapat mempengaruhi perilaku pengemudi secara spesifik yaitu melambatnya waktu reaksi untuk menghadapi situasi darurat, menurunkan ketangkasan untuk menanggapi bahaya, penurunan kemampuan untuk memproses informasi, serta menurunnya keakuratan memori (Fadel dkk., 2014). Menurut Desai & Haque (2006) dalam Budiawan dkk. (2016) menyebutkan kelelahan kerja dapat mempengaruhi tingkat kewaspadaan yang dapat menyebabkan kecelakaan.
Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya kelelahan kerja diperlukan beberapa upaya untuk menghilangkan atau mengurangi faktor penyebab kelelahan seperti melakukan sosialiasi kepada pengemudi mengenai kelelahan kerja secara khusus untuk mengenali kelelahan kerja, faktor penyebab kelelahan kerja, pencegahan kelelahan kerja, dan dampak dari kelelahan kerja. PT X sebaiknya memastikan durasi mengemudi yang
89
ditempuh maksimal 8 jam/hari, serta memperpanjang dan meningkatkan frekuensi waktu istirahat. Selain itu, perlu dibentuk Fatigue Risk Management System (FRMS) untuk memastikan pengemudi yang bekerja di tingkat kewaspadaan dengan mengetahui rata-rata riwayat waktu tidur.
Serta, memastikan kepada seluruh pengemudi yang akan bekerja harus dalam keadaan fit untuk bekerja dengan melakukan pengecekan kesehatan sebelum memulai bekerja dan secara berkala.
C. Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Kelelahan Kerja Pengemudi Bus
1. Umur
Umur diketahui menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kelelahan kerja, karena umur dapat mempengaruhi kemampuan kerja seseorang (Paat dkk., 2017). Hasil penelitian ini diketahui tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan kelelahan kerja pengemudi bus PT X Tahun 2022.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian B. Setiawan dkk. (2020) bahwa tidak ada hubungan antara umur dengan kelelahan driver dump truck.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pengemudi yang memiliki umur muda lebih banyak mengalami kelelahan (70,8%) daripada pengemudi yang berusia tua (65,5%). Pada umumnya semakin bertambahnya usia maka semakin menurun kemampuan fisik dan terjadi degenerasi organ seseorang, sehingga dapat menyebabkan seseorang mudah mengalami kelelahan (Bunga dkk., 2021). Namun,
90
pengemudi bus merupakan pekerjaan yang harus memiliki keterampilan mengemudi yang baik berdasarkan pengalamannya (Fadel dkk., 2014). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh The American Automobile Association, pengemudi yang lebih tua terbukti dapat mencegah terjadinya kecelakaan berkat pengalamannya (Maurits, 2011).
Pengemudi yang sudah berpengalaman lebih mampu menyesuaikan diri, memiliki emosi yang lebih stabil, sehingga dapat bekerja lebih puas dan lancar (Maurits, 2011). Sejalan dengan pendapat Montoro dkk. (2018), pengalaman mengemudi dapat mempengaruhi reaksi dan persepsi pengemudi pada kondisi tertentu.
Sebaliknya, pengemudi dengan umur muda lebih sensitif emosinya, memiliki masalah dalam berperilaku, kompetisi sosial yang tinggi, dan lebih kompleks dalam memiliki hubungan interpersonal (Mckernon, 2009 dalam Pratomo & Puspitasari, 2014).
Biasanya pengemudi muda cenderung memaksakan diri untuk berkendara walaupun dalam kondisi yang berisiko terjadi kecelakaan (Pratomo & Puspitasari, 2014). Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor umur bukan merupakan faktor yang berhubungan secara langsung dan signifikan atas kejadian kelelahan kerja yang dialami pada pengemudi bus PT X Tahun 2022.
2. Status Gizi
Status gizi merupakan salah satu bagian yang dapat mempengaruhi kesehatan seseorang (Prastuti & Martiana, 2017).
91
Pengemudi yang gemuk dan terlalu kurus akan mempengaruhi kondisi fisiknya pada saat mengemudi (Prastuti & Martiana, 2017). Hasil uji statistik penelitian ini menunjukan terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kelelahan kerja pengemudi bus PT X Tahun 2022. Sejalan dengan penelitian Kholid (2018), terdapat hubungan yang signifikan antara Indeks Masa Tubuh (IMT) dengan kelelahan pada pengemudi.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengemudi yang memiliki status gizi gemuk (86,4%) lebih dominan mengalami kelelahan kerja dibandingkan yang memiliki status gizi normal (42,9%). Dimana pengemudi yang memiliki status gizi gemuk didominasi oleh kategori overweight (74,5%). Seseorang yang mengalami obesitas lebih sering mengalami kelelahan dibandingkan yang tidak obesitas (Bunga dkk., 2021). Seorang pengemudi yang obesitas akan mengalami penimbunan lemak berlebih dibawah diafragma dan di dalam dinding dada yang akan menekan paru-paru, sehingga menyebabkan gangguan pernafasan dan sesak nafas walaupun hanya melakukan aktivitas yang ringan (Prastuti &
Martiana, 2017). Gangguan pernafasan juga bisa terjadi pada saat tidur, sehingga pengemudi yang mengalami obesitas akan mengalami kurang tidur (sleep apnea) yang dapat berpengaruh pada terjadinya kelelahan (Astuti & Modjo, 2014).
Seseorang dengan gizi seimbang dapat mempertahankan kesehatannya, sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik,
92
mengurangi terjadinya tingkat kesalahan, dan tidak mudah lelah (Tarwaka dkk., 2004). Menurut Syahlefi dkk. (2014) pengemudi yang mengalami gangguan pada kondisi status gizinya rawan mengalami kecelakaan. Sesuai dengan penelitian Elshamly dkk. (2017) diketahui obesitas pada pengemudi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kecelakaan.
Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan nilai OR sebesar 8,500 yang artinyapengemudi dengan status gizi gemuk mempunyai resiko 8,5 kali lebih besar untuk mengalami kelelahan kerja dibandingkan dengan pengemudi yang memiliki status gizi normal. Pemenuhan gizi yang baik dapat mempengaruhi produktivitas kerja (Maurits, 2011).
Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Budiono dkk (2003) dalam Wahyuni & Indriyani (2019) bahwa seorang pekerja yang memiliki status gizi baik akan memiliki ketahanan tubuh dan kapasitas yang lebih baik, sebaliknya jika seorang pekerja memiliki status gizi yang tidak baik akan memiliki ketahanan dan kapasitas kerja yang tidak baik juga.
Oleh karena itu, perlu diberikan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga status gizi agar tetap normal yang memuat cara menentukan status gizi, menu makan seimbang untuk pekerja, dan dampak status gizi terhadap kelelahan kerja. Perlu dilakukan pengecekan kesehatan umum dan khusus, serta pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) secara berkala untuk mengetahui status gizi pengemudi, sehingga pengemudi yang gemuk dapat mengurangi
93
kebiasaan buruk yang dengan melakukan pola hidup sehat.
Pengemudi yang gemuk disarankan untuk mengkonsumsi sayur dan buah, melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari, membatasi konsumsi gula, garam, dan makanan berlemak, tidak merokok, dan tidak mengkonsumsi alkohol agar status gizi tetap normal.
3. Kuantitas Tidur
Kurangnya waktu tidur akan berdampak pada meningkatkan kelelahan (Iridiastadi, 2021). Hasil uji statistik penelitian ini menunjukan hubungan yang signifikan antara kuantitas tidur dengan kelelahan kerja pengemudi bus PT X Tahun 2022. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Belia (2018), bahwa terdapat hubungan antara waktu tidur dengan kelelahan kerja pengemudi bus primajasa trayek Balaraja – Kampung Rambutan Tahun 2018. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Pratomo & Puspitasari (2014) menyebutkan terdapat hubungan antara kuantitas tidur dengan kelelahan operator Haul Dumptruck (HD) di PT X Rantau Nangka Kalimantan Selatan.
Hasil penelitian ini diketahui pengemudi yang memiliki kuantitas buruk dan merasa lelah (86,8%) lebih banyak daripada pengemudi yang memiliki kuantitas tidur baik dan merasa lelah (32,5%). Pengemudi yang memiliki kuantitas tidur yang kurang maka akan menurunkan rasa waspada sehingga akan merasa lelah
94
(Kuswana, 2014). Hal tersebut dapat meningkatkan derajat kesalahan dan berisiko mengalami kecelakaan atau cedera (Sunaryo, 2014).
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa rerata lama tidur pengemudi yaitu 6 jam dalam sehari. Kuantitas tidur yang efektif menurut Pedoman National Sleep Foundation antara 7 sampai 9 jam tidur per hari, karena tidur berperan penting terhadap sistem tubuh manusia yang berisiko terhadap kesehatan fisik dan mental. Jam tidur yang kurang akan berpengaruh pada kapasitas kerja yang selanjutnya berisiko mengalami kelelahan kerja (Hermawan dkk., 2017). Kurang tidur dapat mempengaruhi neurobiologis, terutama pada psikomotor dan neurokognitif, perhatian, konsentrasi, kinerja dan koordinasi motorik yang dapat menyebabkan peningkatan resiko kecelakaan saat mengemudi (Deza-Becerra dkk., 2017).
Kurang tidur pada pengemudi dapat menyebabkan pengemudi mengantuk saat mengemudi, hal ini menyebabkan pengemudi berisiko mengalami microsleep dan meningkatkan resiko kecelakaan (National Sleep Foundation, 2021). Beaulieu JK (2005) mendefinisikan microsleep merupakan tidur yang tidak disengaja oleh otak karena hutang tidur yang besar. Menurut Transportasi Darat di Selandia Baru dalam Santos & Lu (2016), ketika pengemudi mengalami microsleep selama satu detik dalam keadaan melaju dengan kecepatan 100 km/jam, maka kendaraan akan melaju sejauh 28 meter tanpa pengemudi dalam kendalinya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Deza Becerra dkk. (2017) pada
95
pengemudi bus Chiclayo Peru, bahwa didapatkan hubungan antara kecelakaan atau hampir kecelakaan dengan mengantuk pada saat mengemudi.
Selain itu, diperoleh nilai OR sebesar 13,615. Dapat disimpulkan bahwa pengemudi dengan kuantitas tidur yang buruk mempunyai risiko 13,6 kali lebih besar untuk mengalami kelelahan kerja dibandingkan dengan pengemudi yang memiliki kuantitas tidur baik. Seperti yang disebutkan oleh Centre for Accident Research and Road Safety (2011) dalam Astuti & Modjo (2014), bahwa tidur yang tidak cukup merupakan faktor utama yang paling berkontribusi terhadap terjadinya kelelahan pada pengemudi. Pengemudi yang kurang tidur akan lebih cepat lelah pada bagian mata dan seluruh tubuh, akibatnya resiko terhadap kecelakaan akan lebih besar (Astuti
& Modjo, 2014). Hal ini sejalan dengan pendapat Anund dkk. (2016) bahwa pengemudi yang mengalami kantuk parah akibat waktu tidur yang kurang berhubungan dengan resiko keselamatan terkait kelelahan, seperti hampir tabrakan.
Oleh karena itu, perlu dilakukan perubahan jam kerja, karena lamanya waktu bekerja berpengaruh terhadap kuantitas tidur setiap harinya. Selain itu, diperlukan sebuah sistem untuk menentukan tingkat kantuk pengemudi saat mengemudi yang diberikan melalui tanda atau peringatan, sehingga pengemudi yang mengantuk tidak melanjutkan perjalanannya dan dapat segera diganti oleh pengemudi lain.
96
4. Kualitas Tidur
Kualitas tidur merupakan bentuk kepuasan seseorang terhadap tidurnya untuk mengurangi perasaan lelah (Hidayat, 2012).
Berdasarkan hasil uji statistik, terdapat hubungan yang bermakna antara kualitas tidur dengan kelelahan kerja pengemudi bus PT X Tahun 2022. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Carlos dkk.
(2016) bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kualitas tidur pengemudi dengan kelelahan pengemudi truk Tangki Terminal Bbm Pt. Pertamina (Persero) Kec. Latambaga Kab. Kolaka.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengemudi yang memiliki kualitas tidur buruk (83,0%) lebih dominan mengalami kelelahan dibandingkan pengemudi yang memiliki kualitas tidur baik (54,1%). Kualitas tidur yang buruk menyebabkan tidak tercukupinya kebutuhan tidur (Umyati dkk., 2015). Sehingga akan mempengaruhi performa mengemudi, membuat pengemudi menjadi lebih mudah lelah dan mengantuk (Umyati dkk., 2015). Kurang berkualitasnya tidur seseorang berisiko mengalami kelelahan kerja (Fadel dkk., 2014). Kualitas tidur juga dapat mempengaruhi tingkat kewaspadaan yang berisiko terjadinya kecelakaan (Budiawan dkk., 2017). Seperti penelitian yang dilakukan Hikmah (2020) terdapat hubungan yang bermakna antara kualitas tidur dengan kecelakaan kerja pada pengemudi ojek di Kota Bitung.
Selain itu, diperoleh nilai OR sebesar 4,136 yang artinya pengemudi dengan kualitas tidur yang buruk mempunyai resiko 4,1
97
kali lebih besar untuk mengalami kelelahan kerja dibandingkan dengan pengemudi yang memiliki kualitas tidur baik. Kualitas tidur yang kurang baik dapat menyebabkan kelelahan dan berpengaruh terhadap keselamatan dengan menurunnya rasa waspada, melambatnya waktu reaksi sehingga mempengaruhi ketepatan dalam pengambilan keputusan, terdapat gangguan yang kompleks, sampai kehilangan kesadaran (Lerman dkk., 2012).
Pada penelitian ini diketahui 50% pengemudi mengalami masalah pada latensi tidurnya. Pengemudi disarankan untuk mengurangi penggunaan gawai pada saat sebelum tidur. Penggunaan gawai dan media sosial sebelum tidur dapat menyebabkan kekurangan tidur dan mempengaruhi kualitas tidur (Dhamayanti dkk., 2019).
Pengemudi disarankan untuk melakukan terapi relaksasi untuk mencapai kondisi nyaman sehingga lebih mudah untuk mengawali tidur (S. Purwanto, 2016). Dalam islam, terapi yang bisa dilakukan untuk menghindari gangguan tidur yaitu terapi dzikir (S. Purwanto, 2016). Mendengarkan musik ber genre ambient juga merupakan salah satu terapi yang dapat menurunkan skor latensi tidur (Laksono dkk., 2018). Musik genre ini merupakan musik tak bervokal yang diciptakan sebagai musik yang cocok untuk suasana lingkungan tidur (Laksono dkk., 2018). Latensi tidur diartikan sebagai waktu yang dibutuhkan untuk persiapan tidur sampai awal yang tidur sebenarnya, jika masalah dalam latensi tidur bisa teratasi maka dapat mempengaruhi komponen lama tidur efektif di tempat tidur.