BAB I PENDAHULUAN
A. Landasan Teori
5. Hasil Belajar
diagram berwarna-warni, mudah diingat dan sangat beraturan serta sejalan dengan kerja alami otak (Buzan, 2008: 6-7).
Peta pikiran (mind map) menggunakan kemampuan otak akan pengenalan visual untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Dengan kombinasi warna, gambar, dan cabang-cabang melengkung, peta pikiran lebih merangsang secara visual dari pada metode pencatatan tradisional, yang cenderung linier dan satu warna. Hal ini akan sangat memudahkan kita mengingat informasi dari peta pikiran (Buzan, 2007: 9).
Setiap orang yang mengalami proses belajar akan memperlihatkan perubahan. Sagala (2009: 53) mengemukakan ciri-ciri perubahan yang spesifik itu antara lain sebagai berikut ini.
a) Belajar menyebabkan perubahan pada aspek-aspek kepribadian yang berfungsi terus-menerus yang berpengaruh pada proses belajar selanjutnya.
b) Belajar hanya terjadi melalui pengalaman yang bersifat individual.
c) Belajar merupakan kegiatan yang bertujuan, yaitu arah yang ingin dicapai melalui proses belajar.
d) Belajar menghasilkan perubahan yang menyeluruh, melibatkan keseluruhan tingkah laku secara integral.
e) Belajar adalah proses interaksi.
f) Belajar berlangsung dari yang paling sederhana sampai pada kompleks.
Hasil belajar merupakan sesuatu yang didapatkan, dikuasai, atau dimiliki setelah proses pembelajaran berlangsung yang bisa dilihat dari prestasi belajar yang dicapai siswa. Jadi hasil belajar merupakan tolak ukur yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam memahami suatu pelajaran. Gagne (1985) dalam Sutikno (2009: 7) menyebutkan ada lima macam hasil belajar sebagai berikut ini.
a) Keterampilan intelektual atau keterampilan prosedural yang mencakup belajar diskriminasi, konsep, prinsip, dan pemecahan masalah yang kesemuanya diperoleh melalui materi yang disajikan oleh guru di sekolah;
b) Strategi kognitif, yaitu kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah baru dengan jalan mengatur proses internal masing-masing individu dalam memperhatikan, mengingat, dan berpikir;
c) Informasi verbal, yaitu kemampuan untuk mendeskripsikan sesuatu dengan kata-kata dengan jalan mengatur informasi- informasi yang relevan;
d) Keterampilan motorik, yaitu kemampuan untuk melaksanakan dan mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang berhubungan dengan otot;
e) Sikap, yaitu suatu kemampuan internal yang mempengaruhi tingkah laku seseorang didasari oleh emosi, kepercayaan- kepercayaan, serta faktor intelektual.
Salah satu cara untuk mengetahui hasil belajar siswa adalah dengan melakukan evaluasi hasil belajar. Hamalik (2008: 147) mengemukakan fungsi pokok evaluasi hasil belajar yaitu sebagai berikut ini.
a) Fungsi edukatif: karena evaluasi bagian dari sistem pendidikan yang dapat memberikan informasi tentang keseluruhan ataupun sebagian dari sistem pendidikan. Selain itu juga dapat mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi dalam proses pendidikan.
b) Fungsi institusional: evaluasi bisa memberikan informasi yang akurat tentang input dan output pembelajaran sehingga bisa diketahui sejauh mana kemajuan siswa dalam proses pembelajaran.
c) Fungsi diagnostik: dengan evaluasi bisa diketahui masalah- masalah yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran sehingga bisa dirancang cara untuk memecahkannya.
d) Fungsi administratif: evaluasi menyediakan data tentang kemajuan belajar siswa yang bisa digunakan untuk menentukan apakah siswa itu bisa melanjutkan studi lebih lanjut atau untuk kenaikan kelas.
e) Fungsi kurikuler: data yang didapatkan dari hasil evaluasi berguna untuk pengembangan kurikulum.
f) Fungsi manajemen: komponen evaluasi merupakan bagian integral dalam sistem manajemen yang berguna sebagai bahan bagi pimpinan untuk membuat keputusan manajemen.
Evaluasi hasil belajar memiliki ciri-ciri khas yang membedakannya dari bidang kegiatan lainnya. Sudijono (2005: 33-38) mengemukakan diantara ciri- ciri yang dimiliki oleh evaluasi hasil belajar seperti berikut ini.
a) Evaluasi pengukurannya dilakukan secara tidak langsung. Ini dilakukan oleh seorang pendidik dengan memperhatikan gejala atau fenomena yang tampak objek penilaian yang dimiliki oleh peserta didik yang bersangkutan.
b) Pengukuran dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada umumnya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat kuantitatif untuk kemudian dianalisis dengan menggunakan metode statistik yang pada akhirnya diberikan interprestasi secara kualitatif.
c) Kegiatan evaluasi hasil belajar pada umumnya menggunakan unit-unit atau satuan-satuan yang tetap.
d) Hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik bersifat relatif.
e) Dalam kegiatan evaluasi hasil belajar, sulit dihindari terjadinya kekeliruan pengukuran.
Hasil belajar seseorang dikatakan baik apabila tercapai hal-hal berikut ini.
a) Hasil belajar itu tahan lama dan dapat digunakan siswa dalam kehidupannya.
b) Hasil belajar itu merupakan pengetahuan asli atau otentik, sehingga akan berguna bagi siswa untuk menghadapi permasalahannya (Sardiman, 2009: 49).
Sudijono (2005: 93-97) mengemukakan beberapa ciri tes hasil belajar yang baik yaitu memenuhi hal-hal berikut ini.
a) Bersifat valid, dimana tes tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur dengan tepat, benar, shahih, dan absah.
b) Bersifat reliabel, apabila tes tersebut diujikan berulang kali terhadap subyek yang sama akan menunjukkan hasil yang tetap sama.
c) Bersifat obyektif, dimana tes tersebut sudah sesuai atau sejalan dengan indikator dan tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan.
d) Bersifat praktis dan ekonomis. Praktis maksudnya tes hasil belajar tersebut dapat dilaksanakan dengan mudah karena bersifat sederhana dan lengkap. Sementara bersifat ekonomis
mengandung pengertian tes hasil belajar tersebut bisa dilakukan tanpa memakan banyak waktu dan biaya.
6. Kaitan Mind Map dengan Hasil Belajar
Proses pembelajaran seharusnya berlangsung secara bermakna Novak (1985 dalam Dahar 1988: 149) mengemukakan bahwa hal itu dapat dilakukan dengan bantuan peta pikiran. De Porter (2000: 172) mengemukakan manfaat peta pikiran sebagai berikut ini.
a. Fleksibel. Ketika seorang pembicara tiba-tiba teringat untuk menjelaskan sesuatu hal tentang pemikirannya, anda dapat dengan mudah menambahkannya di tempat yang sesuai dalam peta pikiran anda tanpa harus kebingungan.
b. Dapat memusatkan perhatian. Anda dapat berkonsentrasi pada gagasan- gagasan yang disampaikan oleh materi yang akan dibuatkan peta pikiran.
c. Meningkatkan pemahaman. Ketika membaca suatu tulisan, peta pikiran akan meningkatkan pemahaman dan memberikan catatan tinjauan ulang yang sangat berarti nantinya.
d. Menyenangkan. Imajinasi dan kreativitas anda tidak terbatas, dan hal itu menjadikan pembuatan dan peninjauan ulang peta pikiran lebih menyenangkan.
Selain manfaat, peta pikiran juga memiliki kelebihan seperti yang dikemukakan oleh Buzan (2007: 5) berikut ini.
a. Memberi pandangan menyeluruh suatu pokok masalah.
b. Mengumpulkan sejumlah besar data di satu tempat.
c. Mendorong pemecahan masalah dengan membiarkan anda melihat jalan- jalan terobosan kreatif baru.
d. Menyenangkan untuk dilihat, dibaca, dicerna, dan diingat.
Peta pikiran bisa membantu dalam banyak cara. Buzan (2008: 10) menjelaskan bahwa peta pikiran bisa membantu seseorang untuk hal berikut ini.
a. Menjadi lebih kreatif.
b. Menghemat waktu.
c. Memecahkan masalah.
d. Berkonsentrasi.
e. Mengatur dan menjernihkan pikiran.
f. Mengingat dengan lebih baik.
g. Belajar lebih cepat dan efisien.
h. Belajar dengan lebih mudah.
i. Melihat gambaran keseluruhan.
Selain itu, Buzan (2008: 13) juga mengemukakan kelebihan tambahan peta pikiran untuk membantu mengatur dan menyimpan sebanyak mungkin informasi yang diinginkan serta menggolongkan informasi tersebut secara wajar sehingga memungkinkan untuk diakses seketika ketika dibutuhkan.
Tambahan lagi, dengan peta pikiran setiap informasi baru yang dimasukkan ke dalam perpustakaannya secara otomatis mengaitkan diri pada segala
informasi yang sudah berada di dalamnya. Dengan peta pikiran, semakin banyak yang diketahui dan dipelajari akan semakin mudah untuk belajar dan mengetahui banyak hal lagi.