BAB I PENDAHULUAN
D. Pembahasan
memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap hasil belajar siswa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Hal ini diantaranya dapat terlihat melalui rata-rata skor hasil belajar kedua kelas sampel yaitu 14,88 pada kelas eksperimen dengan penerapan media pembelajran mind map dan 7,222 pada kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional. Dari hasil konversi ke nilai dengan skala 100 didapatkan nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas eksperimen sebesar 74,41 dan kelas kontrol sebesar 58,97
Penerapan media pembelajaran mind map merupakan cara belajar yang membutuhkan kemampuan untuk menganalisis konsep-konsep penting dalam materi yang sedang dipelajari. Sesuai dengan yang dikemukakan Winkel (1987:
57), konsep merupakan satuan arti yang mewakili sejumlah obyek yang mewakili ciri-ciri yang sama. Belajar konsep merupakan salah satu cara belajar dengan pemahaman, dengan adanya skema konseptual sebagai hasil dari belajar. Teori Ausubel dalam sebagai hasil dari belajar. Teori Ausubel dalam Novak (1999: 7), to learn meaningfully, individuals must choose to relate new knowledge to relevant concepts and propositions they already know. Ini berarti untuk memperoleh belajar yang penuh makna seseorang harus menghubungkan pengetahuan yang baru tersebut dengan konsep yang relevan dari pengetahuan sebelumnya.
Dalam belajar bermakna, salah satu hal yang penting untuk diingat adalah bagaimana otak bisa membuat asosiasi antara informasi yang baru masuk dengan informasi yang sudah ada sebelumnya. Buzan (2007: 124) mengemukakan ada
beberapa cara yang bisa digunakan untuk membantu otak membuat asosiasi yaitu dengan mencari atau menggunakan berikut ini.
1. Pola, dengan selalu mencari pola-pola dalam informasi yang ingin diingat.
2. Nomor, urutan nomor bisa sangat membantu dalam mengingat daftar fakta.
3. Simbol, penggunaan simbol dan gambar merupakan cara yang istimewa untuk menciptakan pemicu bagi ingatan.
4. Mind map, dengan mind map otak akan terdorong untuk membuat asosiasi karena setiap satu cabang akan mengaitkan satu pikiran dengan pikiran lainnya. Mind map merupakan cara untuk mengatur informasi ke dalam kelompok pada sebuah halaman dan menggunakan gambar-gambar sebagai simbol-simbol pemicu.
Mind map memberi sebuah pola gagasan yang saling berkaitan, dengan topik utama di tengah dan sub topik serta perincian menjadi cabang-cabangnya.
Hubungan yang terbentuk ini membuat semua cabang saling berhubungan sehingga konsep-konsep itu pun demikian. Faktor ini membuat peta pikiran memiliki ruang lingkup yang mendalam dan luas, yang tidak dimiliki oleh daftar gagasan biasa. Peta pikiran menirukan proses berpikir, yakni memungkinkan siswa berpindah-pindah topik. Peta pikiran membantu siswa menangkap pikiran dan gagasan dengan menuangkannya di selembar kertas dengan jelas, lengkap, dan mudah (De Potter, 2000). Hal ini juga berdasarkan mekanisme kerja otak kiri dan kanan. Materi yang dibuat masuk ke long term memory, sehingga apabila diperlukan bisa lebih mudah dipanggil. Oleh karena itu guru berperan dalam
membimbing dan mendorong siswa untuk membuat peta pikiran yang menarik dengan meningkatkan keterampilan berpikir kreatifnya sehingga dihasilkan sesuatu yang berbeda. Hasil akhir yang diharapkan dari proses pembelajaran ini tentu saja meningkatnya hasil belajar yang didapatkan siswa.
Mind Map dapat mengaktifkan gaya belajar visual siswa dan pembuatan media Mind Map sudah mengikuti aturan yang telah ditentukan yakni sesuai dengan langkah-langkah yang dikemukakan oleh Buzan (2007: 15) berikut ini.
1. Dimulai dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan dalam posisi mendatar.
2. Menggunakan gambar untuk ide sentralnya.
3. Menggunakan warna.
4. Menghubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat, dan menghubungkan cabang-cabang tingkat dua dan tiga ke tingkat satu dan dua, dan seterusnya.
5. Membuat garis hubung yang melengkung, bukan garis lurus.
6. Menggunakan satu kata kunci untuk setiap garis.
7. Menggunakan gambar.
Kedua, kelebihan-kelebihan yang dimiliki Mind Map seperti yang dikemukakan Putra (2010: 181): ” Kita dapat melihat garis besar keseluruhan materi dalam satu lembar, memudahkan kita untuk mengingat, mudah untuk menambahkan materi baru tanpa mengganggu yang telah ada, mudah menghubungkan antar materi, ada efisiensi pencatatan, dan mempunyai hirarki
yang lebih jelas”. Dengan begitu, pemahaman siswa terhadap materi pelajaran akan lebih baik.
Selain itu juga terlihat siswa menjadi lebih termotivasi untuk belajar karena proses pembelajaran yang menarik sehingga mereka mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dengan yang mereka dapatkan biasanya. Motivasi dapat berupa dorongan-dorongan dasar atau internal dan insentif di luar diri individu.
Menurut Mc. Donald (1992 dalam Hamalik 2000: 173), “motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan”. Pengertian ini mengandung 3 unsur yang saling berkaitan berikut ini.
1. Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi.
2. Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan.
3. Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.
Motivasi mendorong timbulnya suatu perubahan pada diri seseorang. Fungsi motivasi menurut Hamalik (2000: 175) adalah sebagai berikut ini.
1. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan.
2. Sebagai pengarah.
3. Sebagai penggerak.
Faktor kebiasaan siswa belajar dengan pembelajaran konvensional yang lebih didominasi oleh ceramah dari guru disertai tugas-tugas mencatat juga memberi pengaruh yang cukup besar. Penerapan media pembelajaran mind map dalam proses pembelajaran merupakan hal baru bagi mereka. Mereka mengatakan
agak bosan dengan cara belajar yang didominasi oleh ceramah dan tugas mencatat yang banyak dari guru. Sehingga dengan adanya penerapan media pembelajaran mind map dalam proses pembelajarannya, siswa merasa lebih senang. Mereka tetap membuat ringkasan materi pelajaran, tapi dengan cara baru yang lebih
‘bersahabat’ dengannya dan dengan begitu siswa juga lebih termotivasi untuk belajar.
Dengan demikian, untuk meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa, sebaiknya dilakukan variasi gaya belajar dan mengajar. Hal ini perlu untuk mencegah timbulnya kebosanan pada siswa dengan proses pembelajaran. Satu diantara variasi yang dapat dilakukan adalah dengan penerapan media pembelajaran mind map dalam proses pembelajaran.
Kegiatan penelitian ini telah dilaksanakan dengan hati-hati, tetapi masih memiliki keterbatasan sebagai berikut ini.
1. Hasil penelitian ini belum dapat digeneralisasikan kedalam populasi secara luas, karena hanya satu sekolah yang dijadikan sebagai objek penelitian dari sekian banyak SMP Negeri dan Swasta yang ada.
2. Penelitian hanya dilakukan di kelas IX SMP Negeri Sintuk Toboh Gadang Kabupaten Padang Pariaman pada satu kompetensi dasar, sehingga belum dapat digeneralisasikan di kelas lain dengan mata pelajaran yang berbeda.
3. Penyajian media Mind Map dengan LCD secara keseluruhan terlihat kurang jelas bagi siswa yang duduk di barisan belakang. Agar siswa dapat melihat media Mind Map lebih jelas ditayangkan sebagian-sebagian terlebih dahulu.
BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN