• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang ada hubungan dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023. Data yang digunakan adalah data primer yang didapatkan melalui kuesioner yang diberikan kepada responden serta pengukuran tinggi dan berat badan responden oleh peneliti. Setelah pengumpulan data, diperoleh sebanyak 67 sampel kasus dan 67 sampel kontrol kemudian diolah menggunakan Microsoft Excel dan IBM SPSS Statistic 29.0.

Analisis bivariat dilakukan untuk menguji hipotesis antara variabel bebas dan variabel terikat apakah kedua variabel ada hubungan atau tidak dan seberapa erat hubungan kedua variabel. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi-square dengan p < 0,05 dan odd ratio (OR) dengan confidence interval (CI) 95%. Dari uji chi-square dapat diketahui ada tidaknya hubungan antara kedua variabel, sedangkan odd ratio (OR) menunjukkan keeratan hubungan antara kedua variabel, dimana nilai OR <

1 merupakan faktor protektif dan nilai OR > 1 merupakan faktor risiko.

Berikut adalah hasil uji statistik menggunakan IBM SPSS Statistic 29.0 dengan keterangan :

n = jumlah sampel

% = presentase dari jumlah sampel OR = odd ratio

CI = confidence interval p = probabilitas

1. Hubungan antara Usia Menarche dengan Kejadian Dismenore

Tabel 3. Hubungan antara Usia Menarche dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas

Bosowa Tahun Akademik 2022/2023

Usia Menarche

Kejadian

Dismenore Total OR

95% Cl

p- value Kasus Kontrol

n % n % n %

Berisiko 15 11,2 5 3,7 20 14,9

3,577

(1,218–10,503) 0,029 Tidak

berisiko 52 38,8 62 46,3 114 85,1 Total 67 50 67 50 134 100

Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa sebanyak 20 responden (14,9%) memiliki usia menarche berisiko, yang terdiri dari 15 sampel kasus (11,2%) dan 5 sampel kontrol (3,7%). Sedangkan, sebanyak 114 responden (85,1%) memiliki usia menarche tidak berisiko, yang terdiri dari 52 sampel kasus (38,8%) dan 62 sampel kontrol (46,3%).

Hasil uji statistik chi-square didapatkan p-value sebesar 0,029. Hal ini menunjukkan bahwa p-value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara usia menarche dengan kejadian dismenore.

Selain itu, pada uji statistic didapatkan nilai OR sebesar 3,577 (>1), maka usia menarche merupakan faktor risiko dengan nilai CI 95%

tidak memuat angka 1 (1,218 - 10,503) sehingga OR dianggap bermakna. Maka, dapat disimpulkan bahwa wanita dengan usia menarche kategori berisiko (< 12 tahun) memiliki peluang 3,5 kali lebih besar mengalami dismenore dibanding wanita dengan usia menarche kategori tidak berisiko (≥ 12 tahun).

2. Hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan Kejadian Dismenore

Tabel 4. Hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas

Bosowa Tahun Akademik 2022/2023 Indeks

Massa Tubuh

Kejadian

Dismenore Total OR

95% Cl

p- value Kasus Kontrol

n % n % n %

Berisiko 41 30,6 27 20,1 68 50,7

2,336

(1,169-4,670) 0,025 Tidak

berisiko 26 19,4 40 29,9 66 49,3 Total 67 50 67 50 134 100

Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa sebanyak 68 responden (50,7%) memiliki indeks massa tubuh berisiko, yang terdiri dari 41 sampel kasus (30,6%) dan 27 sampel kontrol (20,1%). Sedangkan, sebanyak 66 reponden (49,3%) memiliki indeks massa tubuh tidak berisiko, yang terdiri dari 26 sampel kasus (19,4%) dan 40 sampel kontrol (29,9%).

Hasil uji statistik chi-square didapatkan p-value sebesar 0,025. Hal ini menunjukkan bahwa p-value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara indeks massa tubuh dengan kejadian dismenore.

Selain itu, pada uji statistik didapatkan nilai OR sebesar 2,336 (>1), maka indeks massa tubuh merupakan faktor risiko dengan nilai CI 95% tidak memuat angka 1 (1,169 – 4,670) sehingga OR dianggap bermakna. Maka, dapat disimpulkan bahwa wanita dengan indeks massa tubuh kategori berisiko (< 18,5 atau ≥ 23) memiliki peluang 2,3

kali lebih besar mengalami dismenore dibanding wanita dengan indeks massa tubuh kategori tidak berisiko (18,5 – 22,9).

3. Hubungan antara Durasi Menstruasi dengan Kejadian Dismenore

Tabel 5. Hubungan antara Durasi Menstruasi dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas

Bosowa Tahun Akademik 2022/2023

Durasi Menstruasi

Kejadian

Dismenore Total OR

95% Cl

p- value Kasus Kontrol

n % n % n %

Berisiko 46 34,3 25 18,7 71 53,0

3,680

(1,800-7,524) 0,001 Tidak

berisiko 21 15,7 42 31,3 63 47,0 Total 67 50 67 50 134 100

Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa sebanyak 71 responden (53%) memiliki durasi menstruasi berisiko, yang terdiri dari 46 sampel kasus (34,3%) dan 25 sampel kontrol (18,7%). Sedangkan, sebanyak 63 responden (47%) memiliki durasi menstruasi tidak berisiko, yang terdiri dari 21 sampel kasus (15,7%) dan 42 sampel kontrol (31,3%).

Hasil uji statistik chi-square didapatkan p-value sebesar 0,001.

Hal ini menunjukkan bahwa p-value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara durasi menstruasi dengan kejadian dismenore.

Selain itu, pada uji statistik didapatkan nila OR sebesar 3,680 (>1), maka durasi menstruasi merupakan faktor risiko dengan nilai CI 95% tidak memuat angka 1 (1,800 – 7,524) sehingga OR dianggap bermakna. Maka, dapat disimpulkan bahwa wanita dengan durasi menstruasi kategori berisiko (> 5 hari) memiliki peluang 3,6 kali lebih

besar dibanding wanita dengan durasi menstruasi tidak berisiko (≤ 5 hari).

4. Hubungan antara Tingkat Stres dengan Kejadian Dismenore

Tabel 6. Hubungan antara Tingkat Stres dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas

Bosowa Tahun Akademik 2022/2023

Tingkat Stres

Kejadian

Dismenore Total OR

95% Cl

p- value Kasus Kontrol

n % n % n %

Berisiko 32 23,9 30 22,4 62 46,3

1,128

(0,572-2,225) 0,862 Tidak

berisiko 35 26,1 37 27,6 72 53,7 Total 67 50 67 50 134 100

Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa sebanyak 62 responden (46,3%) memiliki tingkat stres berisiko, yang terdiri dari 32 sampel kasus (23,9%) dan 30 sampel kontrol (22,4%). Sedangkan, sebanyak 72 responden (53,7%) memiliki tingkat stres tidak berisiko, yang terdiri dari 35 sampel kasus (26,1%) dan 37 sampel kontrol (27,6%).

Hasil uji statistik chi-square didappatkan p-value sebesar 0,862. Hal ini menunjukkan bahwa p-value > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat stres dengan kejadian dismenore.

Selain itu, pada uji statistik didapatkan nilai OR sebesar 1,128 (>1), maka tingkat stres merupakan faktor risiko, namun dengan nilai CI 95%

memuat angka 1 (0,572 – 2,225) sehingga OR dianggap tidak bermakna. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan risiko mengalami dismenore pada wanita dengan tingkat stres berisiko (stress

ringan – sangat berat) dan tidak berisiko (tidak mengalami stres atau normal).

5. Hubungan antara Riwayat Keluarga dengan Kejadian Dismenore

Tabel 7. Hubungan antara Riwayat Keluarga Dengan Kejadian Dismenore Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas

Bosowa Tahun Akademik 2022/2023

Riwayat Keluarga

Kejadian

Dismenore Total OR

95% Cl

p- value Kasus Kontrol

n % n % n %

Berisiko 37 27,6 18 13,4 55 41,0

3,357

(1,628-6,923) 0,002 Tidak

berisiko 30 22,4 49 36,6 79 59,0 Total 67 50 67 50 134 100

Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa sebanyak 55 responden (41%) memiliki riwayat keluarga berisiko, yang terdiri dari 37 sampel kasus (27,6%) dan 18 sampel kontrol (13,4%). Sedangkan, sebanyak 79 responden (59%) memiliki riwayat keluarga tidak berisiko, yang terdiri dari 30 sampel kasus (22,4%) dan 49 sampel kontrol (36,6%).

Hasil uji statistik chi-square didapatkan p-value sebesar 0,002. Hal ini menunjukkan bahwa p-value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara riwayat keluarga dengan kejadian dismenore.

Selain itu, pada uji statistik didapatkan nilai OR sebesar 3,357 (>1), maka riwayat keluarga merupakan faktor risiko dengan nilai CI 95%

tidak memuat angka 1 (1,628 – 6,923) sehingga OR dianggap bermakna. Maka, dapat disimpulkan bahwa wanita dengan riwayat keluarga kategori berisiko (ibu atau saudari kandung mengalami

dismenore) memiliki peluang 3,3 kali lebih besar mengalami dismenore dibanding wanita dengan riwayat keluarga tidak berisiko (ibu atau saudari kandung tidak mengalami dismenore).

Dalam dokumen hal-hal yang berhubungan dengan terjadinya (Halaman 57-63)

Dokumen terkait