KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
A. Kerangka Konsep
Gambar 9. Kerangka Konsep
B. Definisi Operasional 1. Dismenore
Dismenore adalah nyeri haid berat dengan NRS score ≥7 atau menyebabkan perempuan tersebut membutuhkan obat anti nyeri untuk meredakan nyeri haid yang dirasakan.
2. Mahasiswi
Mahasiswi dalam penelitian ini ialah mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023.
Kriteria objektif:
a. Kelompok kasus : mahasiswi yang menderita dismenore b. Kelompok kontrol : mahasiswi yang tidak menderita dismenore 3. Usia Menarche
Menarche ialah haid pertama yang dialami perempuan. Menarche dini mengacu pada usia menarche yang <12 tahun. Usia menarche dapat diketahui melalui pengisian kuesioner.
Kriteria objektif:
a. Berisiko : <12 tahun b. Tidak berisiko : ≥12 tahun 4. Indeks massa tubuh (IMT)
IMT ialah salah satu indikator dalam menentukan status gizi. IMT diperoleh dari hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan.
Rumus IMT:
IMT = Berat Badan (kg) [Tinggi Badan (m)]2 Kriteria Objektif:
a. Berisiko : IMT kurang (<18,5) atau IMT lebih (≥23) b. Tidak berisiko : IMT normal (18,5 – 22,9)
5. Durasi menstruasi
Durasi menstruasi adalah rentang waktu antara hari pertama hingga hari terakhir menstruasi dalam satu siklus. Informasi mengenai durasi menstruasi penderita dapat diketahui melalui pengisian kuesioner.
Kriteria objektif:
a. Berisiko : >5 hari b. Tidak berisiko : ≤5 hari 6. Tingkat stres
Stres adalah respon yang non-spesifik dari tubuh atau reaksi terhadap lingkungan yang dapat mengganggu seseorang. Informasi ini dapat diketahui melalui pengisian kuesioner DASS 21.
Kriteria objektif:
a. Berisiko : mengalami stress
b. Tidak berisiko : tidak mengalami stress atau normal 7. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga mengacu pada ada tidaknya keluarga penderita yang memiliki riwayat dismenore. Informasi ini dapat diketahui melalui pengisian kuesioner.
Kriteria objektif:
a. Berisiko : ibu atau saudari kandung menderita dismenore b. Tidak berisiko : ibu atau saudari kandung tidak menderita
dismenore
BAB IV
METODE DAN DESAIN PENELITIAN
A. Metode dan Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah observasional analitic study dengan desain penelitian case control.
Gambar 10. Desain Penelitian Case Control
Penelitian dimulai dengan identifikasi penderita dismenore (kasus) dan kelompok yang tidak menderita dismenore (kontrol), lalu secara retrospektif ditelusuri hal-hal yang bisa menjelaskan mengapa kelompok kasus mengalami dismenore sedangkan kelompok kontrol tidak.
B. Tempat dan Waktu Pengambilan Data 1. Tempat Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa.
2. Waktu Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan pada bulan Januari 2023.
C. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini, terdiri dari populasi kasus dan populasi kontrol.
a. Populasi kasus adalah semua mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023 yang menderita dismenore.
b. Populasi kontrol adalah semua mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023 yang tidak menderita dismenore.
2. Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini, terdiri dari sampel kasus dan sampel kontrol.
a. Sampel kasus adalah populasi kasus yang memenuhi kriteria inklusi sampel kasus.
b. Sampel kontrol adalah populasi kontrol yang memenuhi kriteria inklusi sampel kontrol.
D. Kriteria Sampel Penelitian 1. Sampel Kelompok Kasus
a. Kriteria inklusi
1) Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023 yang menderita dismenore.
2) Bersedia menjadi responden penelitian setelah diberikan penjelasan mengenai penelitian yang akan dilakukan.
b. Kriteria ekslusi
1) Memiliki riwayat penggunaan obat-obatan hormonal 2) Menderita penyakit-penyakit ginekologis
2. Sampel Kelompok Kontrol a. Kriteria inklusi
1) Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023 yang tidak menderita dismenore.
2) Bersedia menjadi responden penelitian setelah diberikan penjelasan mengenai penelitian yang akan dilakukan.
b. Kriteria eksklusi
1) Memiliki riwayat penggunaan obat-obatan hormonal 2) Menderita penyakit-penyakit ginekologis
E. Besar Sampel
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa, dari 217 mahasiswi yang mengisi survei sebanyak 80 mahasiswi yang mengalami dismenore. Untuk menghitung jumlah sampel pada penelitian ini, peneliti menggunakan rumus Slovin.
Rumus :
n
= N 1 + N (𝑒2)
= 80
1 + 80 (0,052)
= 80
1 + 80 (0,0025)
= 80 1 + 0,2
= 80 1,2
= 66,67
Keterangan :
n = jumlah sampel N = jumlah populasi
e = nilai margin error atau besar kesalahan yang digunakan 0,05 (5%) Maka besar sampel pada penelitian ini sebanyak 67. Peneliti menggunakan desain penelitian case-control dengan perbandingan sampel kasus dan sampel kontrol 1:1, sehingga jumlah sampel kasus dan sampel kontrol pada penelitian ini masing-masing 67 sampel.
F. Teknik Pengambilan Sampel
Cara pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan teknik quota sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan cara menetapkan jumlah tertentu sebagai target yang harus dipenuhi dalam pengambilan sampel.
G. Cara Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data primer, yaitu mengumpulkan data secara langsung melalui pengisian kuesioner oleh responden serta melakukan pengukuran tinggi dan berat badan untuk memperoleh IMT responden.
H. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian ialah alat bantu yang digunakan dalam pengambilan data oleh peneliti. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ialah alat pengukur tinggi badan, alat pengukur berat badan, dan kuesioner.
I. Alur Penelitian
Gambar 11. Alur Penelitian
J. Prosedur Penelitian
1. Peneliti mendapat persetujuan dan rekomendasi dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa.
2. Meminta izin kepada Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa untuk melaksanakan penelitian di Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa
3. Mengidentifikasi populasi kasus dan populasi kontrol 4. Memberikan penjelasan kepada calon responden berupa:
a. Penjelasan mengenai latar belakang, tujuan dan manfaat penelitian.
b. Penjelasan tentang cara pengambilan data, yaitu melakukan pengisian kuesioner, serta pengukuran tinggi dan berat badan.
c. Segala sesuatu yang menyangkut informasi tentang responden pada lembar kuesioner dijamin kerahasiaannya.
d. Responden diharapkan memberikan jawaban yang sejujur- jujurnya dalam pengisian kuesioner penelitian ini.
e. Memberikan kebebasan untuk memilih bersedia atau tidak untuk menjadi responden penelitian ini.
f. Untuk calon responden yang bersedia untuk ikut dalam penelitian, diminta untuk mengisi surat persetujuan menjadi responden.
5. Menentukan sampel kasus dan sampel kontrol yang telah memenuhi kriteria inklusi.
6. Peneliti melakukan pengambilan data dengan menggunakan kuesioner (menarche dini, durasi menstruasi, tingkat stress, riwayat keluarga) dan menentukan IMT dengan melakukan pengukuran tinggi dan berat badan.
7. Peneliti melakukan pengumpulan dan analisis data.
8. Apabila analisis data telah selesai, peneliti menuliskan hasilnya untuk selanjutnya disajikan pada seminar hasil.
K. Rencana Analisis Data
1. Rencana Pengolahan Data
Data dari penelitian ini diolah menggunakan Microsoft Excel, serta menggunakan sistem perangkat lunak komputer SPSS untuk mendapatkan hasil analitik statistik yang diharapkan.
2. Rencana Analisis Data
Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis bivariat.
Analisis bivariat memiliki tujuan untuk menganalisis korelasi antara dua variabel. Penelitian ini menggunakan uji chi-square dengan p < 0,05 dan uji Odd Ratio CI 95%
L. Aspek Etika
Hal-hal yang berkaitan dalam etika penelitian ini, antara lain:
1. Mendapatkan persetujuan dan rekomendasi dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa.
2. Memiliki izin dari Dekan Fakultas Kedoktean Universitas Bosowa untuk melakukan penelitian di Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa.
3. Memberikan penjelasan kepada responden mengenai hal-hal yang akan dilakukan selama penelitian.
4. Meminta persetujuan subyek untuk mengikuti penelitian ini disertai dengan tanda tangan.
5. Menghormati kerahasiaan data subyek penelitian.
6. Penelitian dilakukan secara jujur, professional, hati-hati, dan berperikemanusiaan demi terwujudnya keadilan bagi setiap subyek penelitian.
7. Mempertimbangkan keuntungan dan kerugian yang dapat ditimbulkan dari penelitian, dimana peneliti harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan serta meminimalisir dampak yang dapat merugikan responden penelitian.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang ada hubungan dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023. Data yang digunakan adalah data primer yang didapatkan melalui kuesioner yang diberikan kepada responden serta pengukuran tinggi dan berat badan responden oleh peneliti. Setelah pengumpulan data, diperoleh sebanyak 67 sampel kasus dan 67 sampel kontrol kemudian diolah menggunakan Microsoft Excel dan IBM SPSS Statistic 29.0.
Analisis bivariat dilakukan untuk menguji hipotesis antara variabel bebas dan variabel terikat apakah kedua variabel ada hubungan atau tidak dan seberapa erat hubungan kedua variabel. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi-square dengan p < 0,05 dan odd ratio (OR) dengan confidence interval (CI) 95%. Dari uji chi-square dapat diketahui ada tidaknya hubungan antara kedua variabel, sedangkan odd ratio (OR) menunjukkan keeratan hubungan antara kedua variabel, dimana nilai OR <
1 merupakan faktor protektif dan nilai OR > 1 merupakan faktor risiko.
Berikut adalah hasil uji statistik menggunakan IBM SPSS Statistic 29.0 dengan keterangan :
n = jumlah sampel
% = presentase dari jumlah sampel OR = odd ratio
CI = confidence interval p = probabilitas
1. Hubungan antara Usia Menarche dengan Kejadian Dismenore
Tabel 3. Hubungan antara Usia Menarche dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas
Bosowa Tahun Akademik 2022/2023
Usia Menarche
Kejadian
Dismenore Total OR
95% Cl
p- value Kasus Kontrol
n % n % n %
Berisiko 15 11,2 5 3,7 20 14,9
3,577
(1,218–10,503) 0,029 Tidak
berisiko 52 38,8 62 46,3 114 85,1 Total 67 50 67 50 134 100
Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa sebanyak 20 responden (14,9%) memiliki usia menarche berisiko, yang terdiri dari 15 sampel kasus (11,2%) dan 5 sampel kontrol (3,7%). Sedangkan, sebanyak 114 responden (85,1%) memiliki usia menarche tidak berisiko, yang terdiri dari 52 sampel kasus (38,8%) dan 62 sampel kontrol (46,3%).
Hasil uji statistik chi-square didapatkan p-value sebesar 0,029. Hal ini menunjukkan bahwa p-value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara usia menarche dengan kejadian dismenore.
Selain itu, pada uji statistic didapatkan nilai OR sebesar 3,577 (>1), maka usia menarche merupakan faktor risiko dengan nilai CI 95%
tidak memuat angka 1 (1,218 - 10,503) sehingga OR dianggap bermakna. Maka, dapat disimpulkan bahwa wanita dengan usia menarche kategori berisiko (< 12 tahun) memiliki peluang 3,5 kali lebih besar mengalami dismenore dibanding wanita dengan usia menarche kategori tidak berisiko (≥ 12 tahun).
2. Hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan Kejadian Dismenore
Tabel 4. Hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas
Bosowa Tahun Akademik 2022/2023 Indeks
Massa Tubuh
Kejadian
Dismenore Total OR
95% Cl
p- value Kasus Kontrol
n % n % n %
Berisiko 41 30,6 27 20,1 68 50,7
2,336
(1,169-4,670) 0,025 Tidak
berisiko 26 19,4 40 29,9 66 49,3 Total 67 50 67 50 134 100
Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa sebanyak 68 responden (50,7%) memiliki indeks massa tubuh berisiko, yang terdiri dari 41 sampel kasus (30,6%) dan 27 sampel kontrol (20,1%). Sedangkan, sebanyak 66 reponden (49,3%) memiliki indeks massa tubuh tidak berisiko, yang terdiri dari 26 sampel kasus (19,4%) dan 40 sampel kontrol (29,9%).
Hasil uji statistik chi-square didapatkan p-value sebesar 0,025. Hal ini menunjukkan bahwa p-value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara indeks massa tubuh dengan kejadian dismenore.
Selain itu, pada uji statistik didapatkan nilai OR sebesar 2,336 (>1), maka indeks massa tubuh merupakan faktor risiko dengan nilai CI 95% tidak memuat angka 1 (1,169 – 4,670) sehingga OR dianggap bermakna. Maka, dapat disimpulkan bahwa wanita dengan indeks massa tubuh kategori berisiko (< 18,5 atau ≥ 23) memiliki peluang 2,3
kali lebih besar mengalami dismenore dibanding wanita dengan indeks massa tubuh kategori tidak berisiko (18,5 – 22,9).
3. Hubungan antara Durasi Menstruasi dengan Kejadian Dismenore
Tabel 5. Hubungan antara Durasi Menstruasi dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas
Bosowa Tahun Akademik 2022/2023
Durasi Menstruasi
Kejadian
Dismenore Total OR
95% Cl
p- value Kasus Kontrol
n % n % n %
Berisiko 46 34,3 25 18,7 71 53,0
3,680
(1,800-7,524) 0,001 Tidak
berisiko 21 15,7 42 31,3 63 47,0 Total 67 50 67 50 134 100
Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa sebanyak 71 responden (53%) memiliki durasi menstruasi berisiko, yang terdiri dari 46 sampel kasus (34,3%) dan 25 sampel kontrol (18,7%). Sedangkan, sebanyak 63 responden (47%) memiliki durasi menstruasi tidak berisiko, yang terdiri dari 21 sampel kasus (15,7%) dan 42 sampel kontrol (31,3%).
Hasil uji statistik chi-square didapatkan p-value sebesar 0,001.
Hal ini menunjukkan bahwa p-value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara durasi menstruasi dengan kejadian dismenore.
Selain itu, pada uji statistik didapatkan nila OR sebesar 3,680 (>1), maka durasi menstruasi merupakan faktor risiko dengan nilai CI 95% tidak memuat angka 1 (1,800 – 7,524) sehingga OR dianggap bermakna. Maka, dapat disimpulkan bahwa wanita dengan durasi menstruasi kategori berisiko (> 5 hari) memiliki peluang 3,6 kali lebih
besar dibanding wanita dengan durasi menstruasi tidak berisiko (≤ 5 hari).
4. Hubungan antara Tingkat Stres dengan Kejadian Dismenore
Tabel 6. Hubungan antara Tingkat Stres dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas
Bosowa Tahun Akademik 2022/2023
Tingkat Stres
Kejadian
Dismenore Total OR
95% Cl
p- value Kasus Kontrol
n % n % n %
Berisiko 32 23,9 30 22,4 62 46,3
1,128
(0,572-2,225) 0,862 Tidak
berisiko 35 26,1 37 27,6 72 53,7 Total 67 50 67 50 134 100
Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa sebanyak 62 responden (46,3%) memiliki tingkat stres berisiko, yang terdiri dari 32 sampel kasus (23,9%) dan 30 sampel kontrol (22,4%). Sedangkan, sebanyak 72 responden (53,7%) memiliki tingkat stres tidak berisiko, yang terdiri dari 35 sampel kasus (26,1%) dan 37 sampel kontrol (27,6%).
Hasil uji statistik chi-square didappatkan p-value sebesar 0,862. Hal ini menunjukkan bahwa p-value > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat stres dengan kejadian dismenore.
Selain itu, pada uji statistik didapatkan nilai OR sebesar 1,128 (>1), maka tingkat stres merupakan faktor risiko, namun dengan nilai CI 95%
memuat angka 1 (0,572 – 2,225) sehingga OR dianggap tidak bermakna. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan risiko mengalami dismenore pada wanita dengan tingkat stres berisiko (stress
ringan – sangat berat) dan tidak berisiko (tidak mengalami stres atau normal).
5. Hubungan antara Riwayat Keluarga dengan Kejadian Dismenore
Tabel 7. Hubungan antara Riwayat Keluarga Dengan Kejadian Dismenore Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas
Bosowa Tahun Akademik 2022/2023
Riwayat Keluarga
Kejadian
Dismenore Total OR
95% Cl
p- value Kasus Kontrol
n % n % n %
Berisiko 37 27,6 18 13,4 55 41,0
3,357
(1,628-6,923) 0,002 Tidak
berisiko 30 22,4 49 36,6 79 59,0 Total 67 50 67 50 134 100
Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa sebanyak 55 responden (41%) memiliki riwayat keluarga berisiko, yang terdiri dari 37 sampel kasus (27,6%) dan 18 sampel kontrol (13,4%). Sedangkan, sebanyak 79 responden (59%) memiliki riwayat keluarga tidak berisiko, yang terdiri dari 30 sampel kasus (22,4%) dan 49 sampel kontrol (36,6%).
Hasil uji statistik chi-square didapatkan p-value sebesar 0,002. Hal ini menunjukkan bahwa p-value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara riwayat keluarga dengan kejadian dismenore.
Selain itu, pada uji statistik didapatkan nilai OR sebesar 3,357 (>1), maka riwayat keluarga merupakan faktor risiko dengan nilai CI 95%
tidak memuat angka 1 (1,628 – 6,923) sehingga OR dianggap bermakna. Maka, dapat disimpulkan bahwa wanita dengan riwayat keluarga kategori berisiko (ibu atau saudari kandung mengalami
dismenore) memiliki peluang 3,3 kali lebih besar mengalami dismenore dibanding wanita dengan riwayat keluarga tidak berisiko (ibu atau saudari kandung tidak mengalami dismenore).
B. Pembahasan
1. Hubungan antara Usia Menarche dengan Kejadian Dismenore Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lail pada remaja putri di SMK K Tangerang dan penelitian yang dilakukan Suriani et al. pada remaja putri di SMA “N” Makassar yang menunjukkan ada hubungan antara usia menarche dengan kejadian dismenore.34,35
Dismenore disebabkan oleh peningkatan produksi prostaglandin pada siklus menstruasi. Ketika ovulasi, korpus luteum mensekresi progesteron dalam jumlah banyak. Progesteron bekerja menghambat proliferasi dan menyebabkan perubahan glandular untuk menerima implantasi dari ovum yang dibuahi. Jika ovum tidak dibuahi dan hormon HCG tidak diproduksi, maka terjadi regresi korpus luteum yang menyebabkan penurunan kadar progesteron.18 Menurunnya kadar progesteron mengakibatkan hilangnya efek stabilisasi pada lisosom endometrium, pelepasan enzim fosfolipase A2, dan hidrolisis fosfolipid dari membrane sel untuk menghasilkan asam arakidonat yang lebih banyak. Ketersediaan asam arakidonat dalam jangka panjang disertai rusaknya intraseluler dan jaringan saat menstruasi menyebabkan peningkatan produksi prostaglandin (PGF2α dan PGE2).15 Kadar prostaglandin yang tinggi memicu kontraksi uterus yang berlebihan, menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah sehingga aliran darah berkurang dan menyebabkan iskemia myometrium dan terjadilah nyeri.
Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Suwarsih et al. pada remaja putri di SMPN 17 Surakarta yang menunjukkan tidak ada hubungan antara usia menarche dengan kejadian dismenore.
Menurutnya, perbedaan ini dapat disebabkan karena perbedaan usia
responden. 36 Responden dari penelitian yang ia lakukan adalah siswa SMP sedangkan pada penelitian ini responden adalah mahasiswi serta penelitian yang dilakukan Lail dan Suriani et al. pada siswi SMA dan SMK.
2. Hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan Kejadian Dismenore
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Kurniati et al. pada mahasiswi angkatan 2015 Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah serta penelitian yang dilakukan Anwar dan Rosdiana pada remaja putri SMA Negeri 1 Samudera yang menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara indeks massa tubuh (IMT) dengan kejadian dismenore.37,38
Hasil penelitian tersebut sejalan dengan teori yang menyebutkan bahwa wanita dengan IMT kurang dari normal (underweight) memiliki kadar kalsium dan zat besi yang rendah dalam tubuh. Kurangnya kalsium menyebabkan otot tidak mampu mengendur setelah kontraksi, sehingga dapat menyebabkan kram otot. Kurangnya asupan zat besi menyebabkan sintesis hemoglobin terganggu, sehingga jumlah hemoglobin dalam eritrosit berkurang dan menyebabkan rendahnya kadar oksigen dalam darah sehingga dapat menyebabkan hipoksia dan anemia. Anemia dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada seseorang dan berkurangnya daya tahan tubuh terhadap rasa nyeri pada saat menstruasi.28 Sedangkan pada wanita dengan IMT lebih dari normal (overweight, obesitas) cenderung memiliki kadar kolesterol yang berlebihan yang merupakan prekursor dari estrogen serta adanya tumpukan jaringan lemak dibawah kulit. Hal tersebut meningkatkan produksi estrogen yang tidak hanya diproduksi oleh ovarium tetapi juga diproduksi oleh jaringan lemak yang menyebabkan hiperkontraktilitas uterus.27
Hasil yang tidak sejalan ditunjukkan pada penelitian yang dilakukan Astuti pada siswa SMP Muhammadiyah I Yogyakarta dan penelitian yang dilakukan Utari pada mahasiswi yang sedang mengerjakan skripsi di Universitas Muhammadiyah Surakarta yang menunjukkan tidak ada hubungan antara status gizi dengan kejadian dismenore.39,40 Perbedaan tersebut dapat disebabkan karena jumlah responden penelitian atau proporsi status gizi underweight, normal, overweight, dan obesitas antar populasi pada setiap penelitian berbeda beda sehingga sulit untuk membandingkan dismenore antar populasi.39 3. Hubungan antara Durasi Menstruasi dengan Kejadian
Dismenore
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Kural et al. pada mahasiswi Index Medical College di India dan penelitian yang dilakukan Mau et al. pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Ukrida yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara durasi menstruasi dengan kejadian dismenore.25,41 Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Horman et al. pada remaja putri di Kabupaten Kepulauan Sangihe juga menunjukkan ada hubungan antara durasi menstruasi dengan kejadian dismenore.42
Hal tersebut sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa wanita dengan durasi menstruasi >5 hari memiliki peluang 1,9 kali lebih berisiko mengalami dismenore. Durasi menstruasi dapat dipengaruhi oleh faktor psikologis maupun fisiologis. Secara psikologis biasanya berkaitan dengan tingkat emosi wanita yang tidak stabil menjelang menstruasi. Sedangkan secara fisiologis, berkaitan dengan kontraksi otot rahim yang berlebihan atau dapat dikatakan lebih sensitif terhadap hormon, sehingga endometrium pada fase sekretorik menghasilkan hormon prostaglandin yang lebih tinggi. Semakin lama periode menstruasi, maka akan semakin sering kontraksi rahim dan
menyebabkan lebih banyak prostaglandin yang dilepaskan sehingga menyebabkan nyeri menstruasi.5
Namun, penelitian yang dilakukan oleh Gustina pada remaja putri di SMK Negeri 4 Surakarta dan penelitian yang dilakukan Ammar pada wanita usia subur di Kelurahan Poso Kecamatan Tambaksari Surabaya yang menunjukkan tidak ada hubungan antara durasi menstruasi dengan terjadinya dismenore.43,44 Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya perubahan gaya hidup seperti kurang olahraga, mengonsumsi makanan yang kurang bergizi, merokok, dan penggunaan obat-obatan dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, khususnya durasi menstruasi yang tidak teratur yang dapat memperburuk kejadian dismenore dan pencetus penyakit lainnya.44
4. Hubungan antara Tingkat Stres dengan Kejadian Dismenore Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ismail et al. pada mahasiswi semester VIII Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sam Ratulangi Manado dan penelitian yang dilakukan oleh Sriwati et al. pada Mahasiswi Tahun Pertama Fakultas Kedokteran Universitas Andalas tahun 2020 yang menunjukka tidak ada hubungan antara tingkat stres dengan kejadian dismenore.45,46
Berdasarkan teori, nyeri haid dapat disebabkan oleh kontraksi myometrium yang dipersarafi oleh saraf simpatis. Stres dapat menimbulkan nyeri haid dengan meningkatnya intensitas kontraksi myometrium.29 Ketika mengalami stres, aksis HPA yakni sistem neuroendokrin yang melibatkan hipotalamus, kelenjar pituitary, dan kelenjar adrenal, mengalami pengaktifan dan menyebabkan hipotalamus mensekresi CRH. Sebagai responnya, kelenjar pituitary atau hipofisis anterior mensekresi ACTH yang memicu kelenjar adrenal mensekresi kortisol. Kortisol menyebabkan terhambatnya LH pulsatil
sehingga sintesis estrogen dan progesteron terhambat. Hal tersebut menyebabkan periode menstruasi yang tidak teratur.30
Teori tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rejeki et al. pada siswi SMP N 3 Pekalongan dan penelitian yang dilakukan Andini pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta yang menunjukkan ada hubungan antara tingkat stress dengan kejadian dismenore.47,48
Hasil yang didapatkan pada penelitian ini berbeda dengan teori.
Menurut peneliti, hal ini dapat terjadi karena stres bukanlah satu- satunya faktor yang dapat menyebabkan dismenore. Terdapat faktor lain seperti siklus menstruasi yang tidak teratur, aktivitas fisik, konsumsi makanan yang rendah gizi, dan lain-lain.45 Selain itu, stres umumnya dialami oleh sebagian besar pelajar terutama mahasiswa akibat tuntutan perkuliahan. Oleh karena itu, stres dapat dialami oleh mahasiwi baik yang mengalami dismenore maupun yang tidak mengalami dismenore.
5. Hubungan antara Riwayat Keluarga dengan Kejadian Dismenore
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Putrie pada siswi SMP N 2 Kartasura Kabupaten Sukoharjo dan penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Nency pada remaja di SMK Wijaya Kusuma tahun 2020 juga menyatakan adanya hubungan antara riwayat keluarga dengan kejadian dismenore.49,50
Dismenore dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Wanita yang memiliki riwayat ibu atau saudari menderita dismenore berisiko lebih besar mengalami dismenore juga. Hal ini disebabkan adanya gen abnormal yang diturunkan dalam tubuh wanita tersebut. Gangguan haid seperti dismenore, hipernenorea atau menoragia dapat mempengaruhi sistem hormonal tubuh. Tubuh akan memberikan respon berupa gangguan sekresi estrogen dan progesteron yang menyebabkan