HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA DISMENORE PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BOSOWA TAHUN AKADEMIK 2022/2023
NURUL MAGHFIRAH 4519111039
TEMA : KEBIDANAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR
2023
HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA DISMENORE PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BOSOWA TAHUN AKADEMIK 2022/2023
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Kedokteran Program Studi
Pendidikan Dokter
Disusun dan diajukan oleh
Nurul Maghfirah
Kepada
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR 2023
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Yang bertanda tangan di bawah ini
Nama : Nurul Maghfirah Nomor Induk : 4519111039 Program studi : Pendidikan Dokter
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan mengambil alih tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan skripsi ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Makassar, 17 Februari 2023 Yang menyatakan
Nurul Maghfirah
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Hal-hal yang Berhubungan dengan Terjadinya Dismenore pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa Tahun Akademik 2022/2023”. Shalawat dan salam tak lupa penulis haturkan kepada baginda Rasulullah SAW.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa.
Dengan kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tua penulis, Bapak Sipa’ami S.Pd. dan Ibu Hj. Rukiah, S.Pd.AUD. yang senantiasa memberikan dukungan, doa, dan nasihat- nasihat kepada penulis selama menempuh pendidikan pre-klinik. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada kakak-kakak tercinta, Muhammad Al Anshari dan Muhammad Al Jasri, yang selalu mendukung dan membantu penulis.
Dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada dr. Bayu Paratama Putra, Sp.OG. dan dr. Ika Azdah Murnita, Sp.OG., M.Kes. selaku pembimbing penulis yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam membimbing dan mengarahkan penulis dari awal penyusunan hingga selesainya skripsi ini.
Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada dr. Rahmawati Thamrin, Sp.And. dan dr. Nurliana, M.Biomed. selaku penguji yang telah meluangkan waktu untuk memberikan saran dan arahan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulisan skripsi ini tak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dr. dr. Bachtiar Baso, M.Kes. selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa
2. dr. Anisyah Hariadi, M.Kes. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa
3. Kak Dewi Wahyuni, S.E., M.Si. selaku Kepala Tata Usaha Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa
4. Seluruh dosen dan staf Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa 5. Saudari-saudari tercinta sekaligus rekan satu pembimbing penulis,
Hasmawati HS dan Nur Syafitri Rahman yang senantiasa menemani, membantu, dan menyemangati selama proses penyelesaian tugas akhir ini.
6. Saudari-saudari tercinta, Andi Astriyani Pasandre, Nurul Hidayah, Fauziah Nur Afifah, dan Sitti Fatimah Onggeng yang telah membersamai selama menempuh pendidikan pre-klinik serta selalu memberikan doa dan dukungannya kepada penulis.
7. Saudara-saudari penulis, Angeline Rana dan Syahrul Ramadhan Rudy Tammu yang selalu memberi dukungan dan tempat berbagi keluh kesah keluarga besar Angkatan 2019 (Sinovial).
8. Saudara-saudari penulis angkatan 2019 (Sinovial) yang telah membersamai selama pendidikan pre-klinik, serta saudari-saudari angkatan 2020 (Granulosit), angkatan 2021 (Zimogen), dan angkatan 2022 yang telah ikut serta membantu penyelesaian tugas akhir ini.
9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih telah memberikan doa dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan dan penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Makassar, 17 Februari 2023 Penulis
Nurul Maghfirah
Nurul Maghfirah. Hal-Hal yang Berhubungan dengan Terjadinya Dismenore pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa Tahun Akademik 2022/2023 (Dibimbing oleh dr. Bayu Pratama Putra, Sp.OG. dan dr. Ika Azdah Murnita, Sp.OG.
M.Kes.)
ABSTRAK
Dismenore merupakan nyeri haid berat hingga mengakibatkan seorang wanita mengunjungi dokter atau mengobati diri sendiri dengan mengonsumsi pereda nyeri. Dismenore ditandai dengan nyeri siklik yang terjadi sekitar waktu menstruasi berupa nyeri tajam atau kram, berdenyut, atau nyeri terus menerus di daerah suprapubik dan dapat menjalar ke punggung bawah dan tungkai. Dampak yang dapat ditimbulkan dari dismenore berkaitan dengan kualitas hidup khususnya kesehatan dan produktivitas kerja.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional analitic dengan desain penelitian case-control. Penelitian ini dilakukan terhadap 134 mahasiswi yang terdiri dari 67 sampel kasus dan 67 sampel kontrol. Data yang digunakan adalah data primer dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu quota sampling. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dan uji odd ratio CI 95%.
Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara usia menarche dengan terjadinya dismenore (p-value = 0,029 dan OR = 1,218-10,503), ada hubungan antara indeks massa tubuh dengan terjadinya dismenore (p-value = 0,025 dan OR = 1,169-4,670), ada hubungan antara durasi menstruasi dengan terjadinya dismenore (p-value = 0,001 dan OR = 1,800-7,524), tidak ada hubungan antara tingkat stres dengan terjadinya dismenore (p-value = 0,862 dan OR = 0,572- 2,225), dan ada hubungan antara riwayat keluarga dengan terjadinya dismenore (p-value = 0,002 dan OR = 1,628-6,923).
Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara usia menarche, indeks massa tubuh, durasi menstruasi, dan riwayat keluarga dengan terjadinya dismenore.
Kata Kunci: dismenore, usia menarche, indeks massa tubuh, durasi menstruasi, stres, riwayat keluarga
Nurul Maghfirah. Matters Related to the Occurrence of Dysmenorrhea in Female Students of the Faculty of Medicine, Bosowa University, in the Academic Year 2022-2023 (Supervised by dr. Bayu Pratama Putra, Sp.OG. and dr. Ika Azdah Murnita, Sp.OG, M.Kes)
ABSTRACT
Dysmenorrhea is menstrual pain so severe that it causes a woman to visit a doctor or self-medicate by taking pain relievers. Dysmenorrhea is characterized by cyclic pain that occurs around the time of menstruation in the form of sharp pain or cramps, throbbing, or continuous pain in the suprapubic area and can radiate to the lower back and legs. The impact that can be caused by dysmenorrhea is related to the quality of life, especially health and work productivity.
This study aims to find out things related to the incidence of dysmenorrhea in female students at the Faculty of Medicine, Bosowa University, in the academic year 2022-2023. The research method used is analytic observational with a case- control research design. This research was conducted on 134 female students, consisting of 67 case samples and 67 control samples. The data used are primary data, with the sampling technique used is quota sampling. Data were analyzed using the chi-square test and 95% CI odds ratio test.
The results of data analysis showed that there is a relationship between the age of menarche and the occurrence of dysmenorrhea (p-value = 0.029 and OR = 1.218-10.503), there is a relationship between body mass index and the occurrence of dysmenorrhea (p-value = 0.025 and OR = 1.169-4.670), there is a relationship between the duration of menstruation and the occurrence of dysmenorrhea (p-value = 0.001 and OR = 1.800-7.524), there is no relationship between stress levels and the occurrence of dysmenorrhea (p-value = 0.862 and OR = 0.572-2.225), and there is a relationship between family history with the occurrence of dysmenorrhea (p-value = 0.002 and OR = 1.628-6.923).
This study concludes that there is a relationship between menarche age, body mass index, menstrual duration, and family history with the occurrence of dysmenorrhea.
Keywords: dysmenorrhea, age of menarche, body mass index, menstrual duration, stress, family history
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Sampul ... i
Halaman Pengajuan... ii
Halaman Persetujuan ... iii
Pernyataan Keaslian Skripsi ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR SINGKATAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 2
C. Pertanyaan Penelitian ... 3
D. Hipotesis ... 3
E. Tujuan Penelitian ... 4
1. Tujuan Umum ... 4
2. Tujuan Khusus ... 4
F. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
A. Landasan Teori ... 6
1. Dismenore ... 6
a. Definisi Dismenore ... 6
b. Epidemiologi Dismenore ... 6
c. Klasifikasi Dismenore ... 7
d. Etiologi Dismenore ... 9
e. Patomekanisme Dismenore ... 10
f. Gambaran Klinis Dismenore ... 14
g. Faktor Risiko Dismenore ... 14
h. Diagnosis Dismenore ... 19
i. Manajemen Dismenore... 22
2. Pengukuran Skala Nyeri ... 26
3. Hal-hal yang Berhubungan dengan Terjadinnya Dismenore ... 28
a. Usia Menarche ... 28
b. Indeks Massa Tubuh (IMT) ... 28
c. Durasi menstruasi ... 29
d. Tingkat Stres ... 29
e. Riwayat Keluarga ... 30
B. Kerangka Teori ... 31
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 32
A. Kerangka Konsep ... 32
B. Definisi Operasional ... 32
BAB IV METODE DAN DESAIN PENELITIAN ... 35
A. Metode dan Desain Penelitian... 35
B. Tempat dan Waktu Pengambilan Data ... 35
C. Populasi dan Sampel Penelitian ... 36
1. Populasi Penelitian ... 36
2. Sampel Penelitian ... 36
D. Kriteria Sampel Penelitian ... 36
1. Sampel Kelompok Kasus ... 36
2. Sampel Kelompok Kontrol ... 37
E. Besar Sampel ... 37
F. Teknik Pengambilan Sampel ... 38
G. Cara Pengumpulan Data ... 38
H. Instrumen Penelitian ... 38
I. Alur Penelitian ... 39
J. Prosedur Penelitian ... 39
K. Rencana Analisis Data ... 40
L. Aspek Etika ... 41
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 42
A. Hasil ... 42
1. Hubungan antara Usia Menarche dengan Kejadian Dismenore ... 43
2. Hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan Kejadian Dismenore . ... 44
3. Hubungan antara Durasi Menstruasi dengan Kejadian Dismenore .. 45
4. Hubungan antara Tingkat Stres dengan Kejadian Dismenore ... 46
5. Hubungan antara Riwayat Keluarga dengan Kejadian Dismenore .. 47
B. Pembahasan ... 48
1. Hubungan antara Usia Menarche dengan Kejadian Dismenore ... 48
2. Hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan Kejadian Dismenore . ... 49
3. Hubungan antara Durasi Menstruasi dengan Kejadian Dismenore .. 50
4. Hubungan antara Tingkat Stres dengan Kejadian Dismenore ... 51
5. Hubungan antara Riwayat Keluarga dengan Kejadian Dismenore .. 52
BAB VI PENUTUP ... 54
A. Kesimpulan ... 54
B. Keterbatasan Penelitian ... 54
C. Saran ... 54
DAFTAR PUSTAKA... 56
LAMPIRAN ... 65
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Tabel Halaman
Tabel 1. Perbedaan antara dismenore primer dan dismenore sekunder
21 Tabel 2. NSAID yang digunakan dalam pengobatan
Dismenore Primer
25 Tabel 3. Hubungan Antara Usia Menarche dengan
Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa Tahun Akademik 2022/2023
43
Tabel 4. Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa Tahun Akademik 2022/2023
44
Tabel 5. Hubungan Antara Durasi Menstruasi dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa Tahun Akademik 2022/2023
45
Tabel 6. Hubungan Antara Tingkat Stres dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa Tahun Akademik 2022/2023
46
Tabel 7. Hubungan Antara Riwayat Keluarga dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa Tahun Akademik 2022/2023
47
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Gambar Halaman
Gambar 1. Mekanisme nyeri pada dismenore primer 11 Gambar 2. Algoritma diagnostik untuk diagnosis banding
dismenore primer dan sekunder
20
Gambar 3. Jalur manajemen dismenore 23
Gambar 4. Visual Analog Scale (VAS) 27
Gambar 5. Verbal Rating Scale (VRS) 27
Gambar 6. Numeric Rating Scale (NRS) 28
Gambar 7. Wong Baker Pain Rating Scale 28
Gambar 8. Kerangka Teori 31
Gambar 9. Kerangka Konsep 32
Gambar 10. Desain Penelitian 35
Gambar 11. Alur Penelitian 39
DAFTAR SINGKATAN
Singkatan Arti dan Keterangan
AUB Abnormal Uterine Bleeding
ACTH Adrenocorticotropic Hormone
CI Confidence Interval
COX Cyclo-oxygenase
CRH Corticotropin-realising Hormone
CT Computed Tomography
DMPA Depotmedroxyprogesteroneacetate
HCG Human Chorionic Gonadotropin
HPA Hypothalamic Pituitary Adrenal
LH Luteinizing Hormone
NSAID Nonsteroid anti-inflammatory drugs
OCP Oral Contraceptive Pills
OR Odd Ratio
PGE2 Prostaglansin E2
PGF2α Prostaglandin F2-alpha
PID Pelvic Inflammatory Disease
RSIA Rumah Sakit Ibu dan Anak
USG Ultrasonografi
WHO World Health Organization
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dismenore ataupun yang lebih dikenal dengan nyeri haid tergolong masalah ginekologi yang sangat umum terjadi. Dismenore merupakan nyeri haid berat hingga mengakibatkan seorang wanita mengunjungi dokter ataupun mengobati diri sendiri dengan mengonsumsi pereda nyeri.1 Dismenore ditandai dengan nyeri siklik yang terjadi sekitar waktu menstruasi, biasanya nyeri tajam atau kram, berdenyut, atau nyeri terus menerus di daerah suprapubik yang dapat menyebar ke punggung bagian bawah dan tungkai.2,3 Ada dua macam dismenore, yakni dismenore primer dan dismenore sekunder. Dismenore primer terjadi akibat peningkatan kontraksi uterus dan iskemia, yang dimediasi oleh produksi prostaglandin yang berlebihan dalam tubuh dan mediator inflamasi lainnya, jenis ini lebih umum terjadi. Sedangkan untuk dismenore sekunder terjadi karena adanya kelainan pada panggul, contohnya adenomyosis uterus, endometriosis, fibroid, malformasi kongenital, dan lain-lain.3
Data dari WHO mengungkapkan 1.769.425 wanita menderita dismenore, dimana 10 - 15% diantaranya menderita dismenore berat. Hal ini diperkuat dengan adanya penelitian yang dilakukan di beberapa negara dan melaporkan bahwa angka kejadian dismenore primer melebihi 50% di tiap negara.4 Di Indonesia, prevalensi dari dismenore mencapai 64,25%, dimana 54,89% dismenore primer dan 9,36% dismenore.5
Di Amerika Serikat, dismenore dianggap sebagai faktor pencetus tersering tidak hadirnya remaja perempuan di sekolah. Survei yang dilakukan pada 113 perempuan di Amerika Serikat dengan prevalensi 29- 44%, menunjukkan terbanyak pada usia 18-45 tahun.6 Dismenore dapat menjadi kondisi yang merugikan bagi wanita karena dapat berdampak pada kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan dan produktivitas kerja.
Dismenore menyebabkan perempuan sulit beraktivitas dengan normal, contohnya pelajar yang menderita dismenore sulit untuk berkonsentrasi saat belajar dan minat belajar menjadi menurun akibat nyeri haid yang diderita.5
Faktor risiko dari dismenore, antara lain riwayat keluarga dengan keluhan dismenore, usia <30 tahun, usia menarche dini, IMT rendah atau tinggi, kebiasaan merokok, siklus atau durasi haid yang lebih lama, haid yang tidak teratur, premenstrual syndrome, pelvic inflammatory disease (PID), dan gejala psikologis seperti stress.7
Tingginya angka kejadian dismenore mengindikasikan bahwa hal ini tergolong masalah yang cukup serius dan harus segera ditangani untuk menurunkan angka kejadian dan meningkatkan kualitas hidup dari masyarakat sehingga penulis memiliki ketertarikan untuk meneliti hal-hal yang ada hubungan dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa.
B. Rumusan Masalah
Dismenore adalah nyeri berat pada daerah suprapubik yang dirasakan saat periode menstruasi. Prevalensi dismenore cukup tinggi, selain itu kondisi ini dapat merugikan bagi wanita karena dapat berdampak pada kualitas hidup wanita yang berkaitan dengan kesehatan dan produktivitas kerja.
Hal tersebut menjadi latar belakang penulis untuk melakukan penelitian mengenai “Hal-hal yang berhubungan dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023”.
C. Pertanyaan Penelitian
1. Apakah ada hubungan antara usia menarche dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023?
2. Apakah ada hubungan antara indeks massa tubuh dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023?
3. Apakah ada hubungan antara durasi menstruasi dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023?
4. Apakah ada hubungan antara tingkat stress dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023?
5. Apakah ada hubungan antara riwayat keluarga dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023?
D. Hipotesis
1. Ada hubungan antara usia menarche dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023
2. Ada hubungan antara indeks massa tubuh dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023
3. Ada hubungan antara durasi menstruasi dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023
4. Ada hubungan antara tingkat stres dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023
5. Ada hubungan antara riwayat keluarga dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023
E. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Mengetahui hal-hal yang ada hubungan dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini diantaranya:
a. Mengetahui hubungan antara usia menarche dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023
b. Mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023
c. Mengetahui hubungan antara durasi menstruasi dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023
d. Mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023
e. Mengetahui hubungan antara riwayat keluarga dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023
F. Manfaat Penelitian
Terdapat beberapa manfaat dari penelitian ini, diantaranya:
1. Manfaat bagi perguruan tinggi Kesehatan
Penelitian ini diharapkan mampu menambah sumbangan pemikiran dan pengembangan keilmuan bagi institusi, serta menjadi tambahan informasi untuk riset-riset selanjutnya.
2. Manfaat bagi tenaga Kesehatan
Penelitian ini diharapkan mampu menjadi sumber informasi dan bahan edukasi kesehatan untuk masyarakat.
3. Manfaat bagi penulis
Penelitian ini diharapkan mampu memperluas wawasan dan pengalaman penulis serta sebagai sarana untuk mengembangkan diri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori 1. Dismenore
a. Definisi Dismenore
Kata dismenore asalnya dari bahasa Yunani, yakni dysmenorrhea, dari kata “dys” artinya kesulitan atau menyakitkan,
“meno” artinya bulanan, dan “rrhea” artinya aliran, jadi dismenore dimaknai sebagai perasaan tidak nyaman selama periode menstruasi.8 Dismenore adalah nyeri haid berat yang mengakibatkan wanita tersebut mengunjungi dokter atau mengobati diri sendiri dengan mengonsumsi pereda nyeri.1 Dismenore ditandai dengan nyeri siklik yang terjadi selama menstruasi atau 1 sampai 3 hari sebelum menstruasi, biasanya nyeri tajam atau seperti kram, berdenyut, atau nyeri terus menerus di daerah suprapubik yang bisa menyebar ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri cenderung memuncak 24 jam setelah menstruasi dan mereda setelah 2 sampai 3 hari.2,3
b. Epidemiologi Dismenore
Dismenore merupakan gangguan menstruasi yang sangat umum diderita wanita, baik remaja maupun dewasa. Dismenore menjadi suatu keadaan yang merugikan karena menyebabkan wanita tidak dapat beraktivitas secara normal.5 Data dari WHO menunjukkan sebanyak 1.769.425 perempuan menderita dismenore. Data tersebut diperkuat dengan riset-riset yang dilakukan diberbagai negara dimana hasilnya menunjukkan rata-rata melebihi 50% perempuan di tiap negara menderita dismenore.4 Prevalensi di Amerika Serikat sekitar 85%, di Italia 84,1%, di
Australia sebesar 80%.9 Di Asia dilaporkan 84,2% untuk Asia Tenggara, 68,7% untuk Asia Timur, 74,8% untuk Timur Tengah, dan 54% untuk Asia Selatan.10 Negara-negara di Asia Tenggara, prevalensinya pun bervariasi, di Thailand mencapai 84,2%, di Malaysia 69,4%, sedangkan di Indonesia, prevalensinya mencapai 64,25% dimana 54,89% termasuk dismenore primer dan 9,36%
termasuk dismenore sekunder. Dismenore primer diderita oleh 60- 75% pada remaja, dimana 75% dari total remaja tersebut mengalami nyeri ringan hingga berat.5,10
Penelitian yang dilakukan di kota Makassar pada 253 wanita muda menunjukkan prevalensi 87,7% mengalami dismenore.11 Sementara itu, penelitian lain pada remaja putri di SMAN 1 Makassar menunjukkan prevalensi 86,7% dari 90 remaja putri mengalami dismenore.12
c. Klasifikasi Dismenore
Secara umum, dismenore diklasifikasikan jadi dua, yakni dismenore primer dan dismenore sekunder.
1) Dismenore primer
Dismenore primer adalah nyeri haid yang bukan disebabkan oleh keadaan patologis. Dismenore primer berhubungan dengan kontraksi myometrium dan sekresi prostaglandin.5 Dismenore primer umumnya dimulai pada 6 hingga 12 bulan setelah menarche. Nyeri digambarkan sebagai nyeri kram spasmodik pada suprapubik yang bisa menyebar ke punggung bawah hingga tungkai. Nyeri biasanya mempunyai pola temporal yang jelas, yaitu mulai beberapa jam sebelum atau diawal menstruasi hingga mencapai puncak nyeri.7 Selain nyeri, gejala seperti diare, kelelahan, sakit kepala, mual, muntah, dan perubahan suasana hati juga dapat dialami oleh penderita.13
Onset awal dismenore primer dapat terjadi pada tahun kedua atau tahun ketiga sesudah menarche dengan lama nyeri umumnya 8-72 jam.5 Oleh karena itu, kebanyakan pasien yang ditemui dengan dismenore primer adalah remaja. Seringkali dismenore primer berkurang seiring bertambahnya usia atau setelah melahirkan.2
2) Dismenore sekunder
Dismenore sekunder digambarkan sebagai nyeri menstruasi dengan kondisi patologis yang mendasari. Gejala hanya akan muncul setelah penyebab yang mendasarinya berkembang.2 Hampir semua kelainan atau proses yang dapat mempengaruhi organ dalam panggul dapat menyebabkan dismenore.3
Penderita dismenore sekunder kebanyakan adalah wanita dewasa. Seringkali, nyeri dimulai berjam-jam atau bahkan berhari-hari sebelum dimulainya menstruasi dan dapat berlangsung selama menstruasi.2
Berdasakan intensitas nyerinya, Multidimensional Scoring of Andersch and Milsom mengelompokkan nyeri dismenore menjadi:
1) Dismenore ringan, yaitu nyeri menstruasi yang tidak disertai pembatasan aktivitas, tanpa perlu obat pereda nyeri dan tanpa keluhan sistemik.5
2) Dismenore sedang, yaitu nyeri menstruasi yang mengganggu aktivitas sehari-hari, disertai kebutuhan pereda nyeri untuk meredakan nyeri dan ada keluhan sistemik.5
3) Dismenore berat, yaitu nyeri menstruasi disertai keterbatasan aktivitas sehari-hari yang berat, respon pereda nyeri minimal terhadap analgesia, dan terdapat gejala sistemik seperti muntah, pingsan, dan lain-lain.5
d. Etiologi Dismenore 1) Dismenore primer
Penyebab dari dismenore primer belum diketahui dengan baik. Namun diidentifikasi penyebab yang bertanggung jawab adalah hiper-produksi prostaglandin uterus, terutama PGF2α dan PGE2, sehingga mengakibatkan peningkatan tonus uterus dan kontraksi amplitudo tinggi.14 Prostaglandin adalah zat intraseluler yang asalnya dari asam lemak tidak jenuh ganda rantai panjang, seperti asam arakidonat, komponen umum dari fosfolipid membrane sel. Prostaglandin diketahui mempunyai banyak dampak biologis dalam berbagai aktivitas fisiologi dan patologi, seperti nyeri, suhu tubuh, radang, dan pola tidur.15 Perempuan yang menderita dismenore memiliki tingkat prostaglandin yang lebih tinggi, dan puncaknya pada dua hari pertama menstruasi. Produksi prostaglandin diatur oleh progesterone, saat kadar progesteron menurun, menjelang menstruasi kadar prostaglandin akan meningkat.14 Selain itu, dismenore primer dapat dipicu oleh mediator inflamasi lain yang diproduksi di endometrium sekretori yang mungkin berkaitan dengan kontraksi rahim yang lama dan menurunnya aliran darah ke myometrium.3
2) Dismenore sekunder
Dismenore sekunder ialah kondisi klinis dimana nyeri menstruasi dapat diakibatkan oleh penyakit atau kelainan struktural yang mendasari baik di dalam maupun di luar Rahim.16
Penyebab dismenore sekunder meliputi:
a) Endometriosis2 b) Adenomiosis2 c) Fibroid2
d) Polip endometrium16
e) Pelvic inflammatory disease (PID)16
f) Adesi panggul (pasca operasi atau pasca infeksi)2 g) Kanker (pada organ reproduksi)2
h) Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD)16
Pada sebagian besar kasus dismenore sekunder, nyeri haid berhubungan dengan endometriosis, fibroid, adenomiosis, dan upaya pengeluaran bekuan darah dari rongga rahim yang menyebabkan kontraksi ritmis.2 Dismenore sekunder biasanya terjadi pada wanita dewasa, kecuali disebabkan oleh kelainan kongenital.3
e. Patomekanisme Dismenore
Patomekanisme dismenore belum dapat dipahami sepenuhnya. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa dismenore adalah proses kompleks yang mungkin bergantung pada banyak faktor. Siklus menstruasi bergantung pada perubahan siklik konsentrasi hormon ovarium, oleh karena itu terjadi pula perubahan siklik pada tingkat prostaglandin dan aktivitas uterus.17
Dismenore pada dewasa muda dan remaja biasanya dismenore primer, terjadi selama periode normal ovulasi tanpa adanya kelainan pelvis.18 Dismenore primer terjadi karena produksi prostaglandin uterus yang berlebihan (PGF2α dan PGE2).
Peningkatan pelepasan prostaglandin kemungkinan dari sel yang dihancurkan saat peluruhan endometrium, diketahui mengakibatkan hiperkontraksi myometrium, penyempitan pembuluh darah yang memasok uterus sehingga menyebabkan iskemia, hipoksia otot uterus dan peningkatan sensivitas ujung saraf, pada akhirnya menimbulkan nyeri (Gambar 1.)15
Gambar 1. Mekanisme nyeri pada dismenore primer15
Sintesis prostaglandin dibatasi akan ketersediaan dari prekursor asam lemak bebas untuk asam arakidonat yang diatur oleh siklik adenosin fosfat. Siklik adenosin fosfat dapat merangsang pembentukan prostaglandin yang dipicu oleh zat seperti hormone peptide, adrenalin, dan hormone steroid, serta rangsangan mekanis dan kerusakan jaringan.15 Lisosom enzim fosfolipase A2 mengubah fosfolipid yang tersedia menjadi asam arakidonat.15,19 Kestabilan aktivitas lisosom diatur oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu kadar progesterone. Kadar progesteron tinggi cenderung menstabilkan aktivitas lisosom, sedangkan penurunan kadar progesteron cenderung membuat aktivitas lisosom tidak stabil. Oleh sebab itu, menurunnya progesteron yang mengikuti regresi dari korpus luteum di fase luteal akhir siklus menstruasi menyebabkan hilangnya efek stabilisasi dari lisosom endometrium, pelepasan dari fosfolipase A2, aliran perdarahan haid, dan hidrolisis fosfolipid dari
membran sel untuk produksi asam arakidonat yang lebih banyak.
Dengan demikian, ketersediaan asam arakidonat jangka panjang disertai dengan rusaknya intraseluler dan jaringan saat menstruasi menyebabkan peningkatan produksi prostaglandin.15 Respon inflamasi yang dimediasi prostaglandin ini menyebabkan kram serta gejala sistemik, contohnya mual, muntah, sakit kepala, dan kembung. PGF2α dan COX secara khusus dapat menstimulasi vasokonstriksi, kontraksi miometrium yang kuat, iskemia pada rahim, dan nyeri. Tingkat nyeri dan gejala yang berkaitan dengan dismenore berbanding lurus dengan banyaknya PGF2α yang terlepas.18
Hormon hipofisis posterior yakni vasopresin diperkirakan berperan dalam hipersensitivitas myometrium, penurunan vaskularisasi di rahim, dan nyeri pada dismenore primer.
Keterlibatan vasopresin pada endometrium dapat dikaitkan dengan pembentukan dan sekresi prostaglandin. Disamping itu, hipotesis neuronal sudah diusulkan untuk patogenesis dismenore primer.
Neuron nyeri tipe C distimulasi oleh metabolit anaerobic yang dihasilkan dari endometrium iskemik. Perempuan yang mengalami dismenore tampak lebih sensitif terhadap nyeri dibandingkan perempuan tanpa dismenore. Sensitivitas yang meningkat terhadap rasa nyeri ini dapat meningkatkan risiko terhadap kondisi kronis lainnya (contohnya fibromyalgia) dan berdampak negatif pada kualitas hidup perempuan tersebut.20
Dismenore primer juga terkait dengan faktor psikologi.
Walaupun faktor ini belum secara jelas ditetapkan sebagai penyebab, namun perlu dipertimbangkan jika pengobatan medis gagal. Pada dismenore primer, terdapat interaksi yang sangat kompleks antara hormon dan mediator (ketika kadar progesteron turun, kadar prostaglandin meningkat), suhu tubuh basal, pola tidur, dan sistem saraf pusat (SSP), yang belum sepenuhnya dipahami.20
Prostaglandin juga dapat berperan pada dismenore sekunder, namun terjadi bersamaan dengan patologi pelvis.20 Hampir semua patologi pelvis dapat menyebabkan terjadinya dismenore.
Endometriosis dan adenomiosis adalah penyebab paling umum dari dismenore sekunder pada wanita muda.14
Endometriosis dapat dikenali dengan adanya jaringan endometrium (kelenjar dan stroma) di luar dari rongga rahim.
Endometriosis merupakan penyebab paling sering dari dismenore sekunder. Gejala nyeri mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologi wanita yang menderita endometriosis. Nyeri meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis dan diduga sebagai stressor yang memicu perubahan neurotransmitter, neuroendokrin, dan sekresi hormon.
Onset dismenore usia dini dianggap sebagai faktor risiko endometriosis. Parameter yang dapat memprediksi temuan selanjutnya dari endometriosis infiltrasi dalam adalah penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang untuk mengobati dismenore primer, absensi dari sekolah selama menstruasi, dan riwayat keluarga positif dismenore.14
Adenomiosis diartikan sebagai adanya kelenjar endometrium dan stroma pada myometrium serta berkaitan dengan dismenore dan abnormal uterine bleeding (AUB). Adenomiosis termasuk salah satu keadaan yang sering menyebabkan AUB. Diagnosis umumnya dipastikan melalui ultrasonografi transvaginal dan pencitraan resonansi magnetik. Melalui kriteria ultrasonografi spesifik dengan USG transvaginal dua dimensi dan tiga dimensi (penilaian sonografi uterus morfologis), Deteksi fitur adenomiosis dengan pencitraan diterima dan kaitannya dengan nyeri haid, perdarahan menstruasi yang banyak, dan infertilitas dapat memfasilitasi diagnosis adenomiosis. Sebuah 34% kejadian fitur ultrasonografi adenomiosis ditemukan pada wanita nuligravida muda usia 18 sampai 30 tahun dan berhubungan dengan dismenore.14
f. Gambaran Klinis Dismenore 1) Dismenore primer
Gambaran klinis pada dismenore meliputi:
a) Onsetnya biasanya 6 hingga 12 bulan sesudah menarche21
b) Umumnya periode nyeri antara 48 hingga 72 jam (dimulai beberapa jam sebelum ataupun sesudah menstruasi)20 c) Nyeri atau kram yang konstan pada daerah suprapubik,
dapat menyebar ke punggung atau tungkai20 d) Tidak ada kelainan pada pelvis20
2) Dismenore sekunder
Dismenore sekunder memiliki gambaran klinis yang berbeda dengan dismenore primer. Gambaran klinis dismenore sekunder, antara lain:
a) Dismenore umumnya dialami pada usia 20 atau 30 tahunan, umumnya tidak nyeri sebelumnya20
b) Aliran perdarahan haid yang banyak ataupun perdarahan tidak teratur20
c) Dismenore yang dialami pada periode pertama ataupun kedua sesudah menarche20
d) Adanya abnormalitas pada pelvis20 e) Infertilitas20
f) Dispareunia20 g) Keputihan20
g. Faktor Risiko Dismenore 1) Dismenore primer
a) Usia Menarche
Menarche ialah haid pertama yang dialami oleh seorang perempuan. Menarche umumnya dialami pada usia 12-13
tahun. Di Indonesia, usia menarche rata-rata ialah 13 tahun, dimana usia termuda ialah 9 tahun dan paling lambat pada usia 17 tahun.22
Penelitian Charu et al. menunjukkan bahwa perempuan yang usia menarche kurang dari 12 tahun mempunyai peluang 23% lebih berisiko mengalami dismenore. Hal ini diperkuat dengan adanya penelitian-penelitian sebelumnya.
Studi tersebut menjelaskan bahwa perempuan dengan usia menarche yang lebih muda mengalami paparan prostaglandin yang lebih lama, sehingga mengakibatkan dismenore.23
b) Durasi menstruasi
Durasi aliran menstruasi umumnya adalah 3 sampai 5 hari.24 Penelitian dari Kural et al. menunjukkan perempuan dengan durasi perdarahan melebihi dari 5 hari memiliki peluang 1,9 kali lebih berisiko menderita dismenore.25 Durasi menstruasi yang lama bisa diakibatkan oleh kondisi fisiologis dan psikologis. Secara psikologis, umumnya dikaitkan dengan ketidakstabilan emosi pada perempuan menjelang menstruasi. Sedangkan secara fisiologis, lebih merupakan aktivitas otot rahim yang berlebihan, ataupun bisa dikatakan lebih sensitif terhadap hormon, sehingga endometrium pada fase sekretorik menghasilkan hormon prostaglandin yang lebih banyak. Semakin lama periode menstruasi, maka akan semakin sering kontraksi rahim, menyebabkan lebih banyak prostaglandin yang dilepaskan sehingga menyebabkan nyeri menstruasi.5
c) Riwayat keluarga
Riwayat keluarga ialah salah satu hal yang bisa menimbulkan dismenore. Penelitian dari Charu et al.
mengungkapkan sebesar 39,46% perempuan yang mengalami dismenore mempunyai keluarga dengan riwayat dismenore, misalnya ibu ataupun saudari kandungnya, sehingga ada korelasi antara riwayat keluarga dengan terjadinya dismenore.23
Dismenore dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Wanita yang memiliki riwayat ibu atau saudari menderita dismenore berisiko lebih besar mengalami dismenore juga. Hal ini disebabkan adanya gen abnormal yang diturunkan dalam tubuh wanita tersebut. Gangguan haid seperti dismenore, hipernenorea atau menoragia dapat mempengaruhi sistem hormonal tubuh. Tubuh akan memberikan respon berupa gangguan sekresi estrogen dan progesterone yang menyebabkan pertumbuhan sel endometrium terganggu.
Begitu pula pada kondisi endometriosis, sel-sel endometriosis akan tumbuh seiring peningkatan kadar estrogen dan progesteron dalam tubuh.26
d) Indeks massa tubuh
Status gizi ialah salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi. Asupan gizi yang tidak seimbang dapat mengakibatkan masalah gizi, termasuk gizi berlebih dan gizi kurang.27
Status gizi dapat dinilai salah satunya dengan indeks massa tubuh (IMT). Kelebihan berat badan dapat menjadi salah satu faktor risiko dismenore. Hal ini dikarenakan meningkatnya produksi hormon estrogen akibat kelebihan kolesterol yang merupakan prekursor dari estrogen.
Perubahan hormonal bisa terjadi akibat timbunan lemak pada wanita yang mengalami obesitas. Timbunan lemak memicu pembentukan horman terutama estrogen. Pada wanita
obesitas, selain diproduksi dari ovarium, estrogen juga diproduksi oleh lemak yang berada dibawah kulit. Estrogen meningkatkan kontraktilitas uterus yang akan menyebabkan dismenore primer.27
Status gizi kurang diakibatkan karena asupan makanan yang kurang. Asupan makanan dengan zat gizi yang dapat mempengaruhi terjadinya dismenore adalah zat besi dan kalsium. Kalsium memiliki peran dalam interaksi protein dalam otot, yaitu aksin dan myosin pada saat otot berkontraksi.
Kurangnya kalsium menyebabkan otot tidak mampu mengendur setelah kontraksi, sehingga dapat menyebabkan kram otot. Zat besi berperan dalam pembentukan hemoglobin. Hemoglobin adalah protein yang membawa oksigen pada eritrosit ke seluruh jaringan tubuh. Kurangnya asupan zat besi menyebabkan sintesis hemoglobin terganggu, sehingga jumlah hemoglobin dalam eritrosit berkurang. Kurangnya kadar hemoglobin dalam darah menyebabkan rendahnya kadar oksigen dalam darah sehingga dapat menyebabkan hipoksia dan anemia. Anemia dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada seseorang dan berkurangnya daya tahan tubuh terhadap rasa nyeri pada saat menstruasi.28
e) Stres
Stres adalah salah satu kondisi yang berkaitan dengan dismenore. Nyeri haid bisa diakibatkan oleh peningkatan kontraksi myometrium yang dipersarafi oleh saraf simpatis.
Stres dapat meningkatkan nyeri haid dengan meningkatkan intensitas kontraksi rahim.29
Saat mengalami stress, aksis HPA yakni sistem neuroendokrin yang melibatkan hipotalamus, kelenjar
pituitary, dan kelenjar adrenal, mengalami pengaktifan yang menyebabkan hipotalamus mensekresi CRH. Sebagai responnya, hipofisis anterior mensekresi ACTH yang memicu kelenjar adrenal mengeluarkan kortisol. Kortisol menyebabkan terhambatnya LH pulsatil sehingga pembentukan progesteron dan estrogen terhambat dan periode menstruasi menjadi tidak teratur.30
2) Dismenore sekunder a) Leiomyoma (fibroid)
Leiomioma uteri atau tumor jinak myometrium, adalah pencetus umum dismenore karena membesar bila dirangsang oleh estrogen. Selain nyeri ketika menstruasi, gejala lain yang mungkin dikeluhkan oleh pasien yaitu menoragia dan distensi abdomen. Pemeriksaan biasanya dilakukan dengan USG.20 b) Endometriosis
Endometriosis merupakan penyebab tersering pada dismenore sekunder. Endometriosis ialah adanya jaringan endometrium di luar dari rongga uterus.14 Pemeriksaan dilakukan dengan USG transvaginal dan panggul.21
c) PID
Pada pelvic inflammatory disease (PID) dapat ditemukan keadaan abnormal pada pemeriksaan panggul yang terdiri dari nyeri tekan gerakan serviks, nyeri tekan uterus, dan/atau nyeri tekan adneksa21
d) Abses tubo-ovarium
Abses tubo-ovarium merupakan infeksi yang terlokalisir di tuba falopi yang umumnya merupakan gejala sisa dari PID.
Seringkali pasien mengeluhkan demam, nyeri pada panggul, nyeri tekan yang bertahap, mual muntah, perdarahan, atau keputihan. Abses tubo-ovarium bisa terdeteksi melalui USG pelvis atau dengan CT scan abdomen.20
e) Torsi ovarium
Torsi ovarium melibatkan pelintiran struktur adneksa yang menyebabkan iskemia hingga nekrosis. Keadaan ini dapat dialami oleh wanita hamil maupun bukan wanita hamil.
Biasanya, pasien datang dengan keluhan nyeri perut yang parah, intermiten, kolik, panggul unilateral, atau nyeri perut bagian bawah.20
h. Diagnosis Dismenore
Prosedur pertama dalam diagnosis dismenore meliputi riwayat klinis dan pemeriksaan fisik (Gambar 2.).13 Anamnesis dan pemeriksaan fisik biasanya cukup untuk membantu penegakan diagnosis dismenore primer.14
Penting untuk mengetahui kemungkinan penyebab dari nyeri haid agar dapat menentukan diagnosis yang tepat serta menentukan pendekatan terbaik untuk penanganan nyeri. Jika etiologi tetap tidak diketahui setelah evaluasi non-invasif, maka diindikasikan laparoskopi.13
Gambar 2. Algoritma diagnostik untuk diagnosis banding dismenore primer dan sekunder.15
Adapaun riwayat klinis dismenore harus mencakup berikut ini.
1) Riwayat menstruasi, termasuk usia menarche, durasi perdarahan menstruasi, aliran menstruasi, interval antar periode menstruasi13
2) Keberhasilan atau kegagalan terapi tertentu13 3) Riwayat keluarga dismenore13
4) Riwayat seksual (termasuk kemungkinan trauma seksual)13 5) Tinjauan sistem yang berfokus pada area sistemik,
gastrointestinal, genitourinari, muskuloskeletal dan psikososial13
Untuk tujuan diagnosis, perlu untuk mengetahui perbedaan antara dismenore primer dengan dismenore sekunder. Berikut ini ringkasan perbedaan utama antara dismenore primer dengan dismenore sekunder dari segi diagnosis.13
Tabel 1. Perbedaan antara dismenore primer dan dismenore sekunder13
Fitur Dismenore primer Dismenore sekunder Serangan Sesaat setelah
menarche; biasanya 6-12 bulan setelah menarche; dalam tiga tahun.
Kapan saja setelah menarche; biasanya lima tahun setelah menarche.
Waktu Hadir selama siklus ovulasi dan
menstruasi saja.
Mungkin belum tentu terkait dengan
menstruasi.
Usia Berusia 15-25 tahun. Setelah usia 25 tahun, biasanya 30-45 tahun.
Durasi 8-7 jam setelah menstruasi.
Sebelum menstruasi dan selama siklus menstruasi.
Gejala Nyeri pada punggung dan tungkai atas, sakit kepala, diare, mual muntah mungkin ada.
Gejala ginekologi lain, misalnya dyspareunia, menoragia juga dapat ditemukan.
Lanjutan tabel
Nyeri Nyeri suprapubik, umumnya berkaitan dengan permulaan aliran perdarahan haid, tanpa adanya patologis, terjadi selama 8-72 jam.
Mungkin mengeluhkan perubahan onset nyeri sewaktu siklus
menstruasi, atau intensitas dari nyeri.
Nyeri haid yang berhubungan dengan patologi panggul,
contohnya endometriosis, PID, kista ovarium, dan fibroid.
Pasca melahirkan
Meningkat Tidak ada perubahan
Temuan pemeriksaan internal
Tidak ada temuan abnormal pada pemeriksaan
Kelainan panggul, misalnya endometriosis, fibroma, dll.
i. Manajemen Dismenore
Pengobatan dismenore primer bertujuan untuk meredakan nyeri serta menghambat proses yang mendasari penyebab gejala.Terapi lini pertama untuk dismenore primer umumnya melibatkan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan analgesik opioid, serta kontrasepsi oral.13 Berikut adalah ringkasan alur manajemen dismenore.
Gambar 3. Jalur manajemen dismenore13
Hal pertama yang kita lakukan untuk manajemen dismenore adalah mengetahui riwayat medis pasien serta melakukan pemeriksaan fisik dalam rangka menentukan diagnosis dismenore primer atau dismenore sekunder.
1) Pengobatan non-farmakologi
Pengobatan non farmakologis bertujuan untuk mengurangi tingkat ketidaknyamanan atau nyeri ringan yang sering terjadi pada wanita yang mengalami dismenore.13
Menerapkan gaya hidup sehat berguna untuk mengurangi intensitas dismenore. Disarankan bagi penderita untuk menerapkan pola hidup sehat dan diet yang seimbang, kaya vitamin serta mineral agar kondisi kesehatan lebih baik.16
Olahraga juga merupakan salah satu rekomendasi untuk penderita dismenore. Hal ini dapat membantu mengurangi intensitas dismenore. Tidak ada bukti yang jelas mengenai aktivitas olahraga tertentu atau durasi tertentu, tetapi olahraga ringan dianjurkan, terutama pada wanita gemuk.16
Aplikasi panas ke perut bagian bawah dan dengan minum minuman panas dapat menjadi pilihan alternatif yang mudah dan tanpa efek samping.13 Namun, studi selanjutnya masih dibutuhkan untuk mengetahui keefektifan alternatif tersebut.16
Tidur atau istirahat, meminimalkan stres dan tidak melewatkan sarapan juga membantu meredakan nyeri. Metode lain yang juga menunjukkan pereda nyeri yang memadai adalah akupuntur.
Meskipun penelitian terbaru yang membandingkan NSAID dan akupuntur menunjukkan manfaat, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan apakah akupuntur efektif dalam mengobati dismenore primer.13
2) Pengobatan farmakologi
a) Nonsteroid Anti-inflammatory Drugs (NSAID)
Nonsteroid anti-inflammatory drugs (NSAID) dianggap sebagai obat lini pertama dismenore primer. NSAID dinilai sangat efektif untuk mengobati dismenore.21 Identifikasi peningkatan PGE2 dan PGF2α pada dismenore mendukung
strategi penghambatan COX-2 dengan NSAID untuk mengobati nyeri haid. NSAID non-spesifik mengikat COX-1 dan COX-2 agar sintesis prostaglandin terhambat.16
Tabel 2. NSAID yang digunakan dalam pengobatan Dismenore Primer2
Obat Dosis
Celecoxib (Celebrex)
*untuk wanita >18 tahun
400 mg pada awalnya, lalu 200 mg tiap 12 jam.
Ibuprofen 200 mg pada awalnya, lalu 200 mg tiap 12 jam.
Asam mefenamat 500 mg pada awalnya, lalu 250 mg tiap 6 jam
Naproxen 440-550 mg pada awalnya, lalu 220-275 mg tiap jam.
b) Kontrasepsi Hormonal Kombinasi
Penggunaan kontrasepsi oral kombinasi (COCs) biasanya diperuntukkan bagi pasien yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan NSAID. COCs efektif dalam menurunkan prevalensi dismenore melalui penghambatan ovulasi dan proliferasi endometrium. COCs bekerja dengan cara mengurangi lapisan endometrium yang juga memproduksi prostaglandin, dan sebagai hasilnya dapat mengurangi volume perdarahan menstruasi dan sekresi prostaglandin yang kemudian diikuti oleh penurunan tekanan intrauterin dan kram uterus.13
Penting untuk memaksimalkan perawatan medis pada wanita yang mengeluhkan dismenore tanpa menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut meskipun diduga terdapat patologi
organi, karena penggunaan COCs sangat penting pada kondisi yang menyebabkan dismenore sekunder. 13
c) Progestin
Depotmedroxyprogesteroneacetate (DMPA) bekerja dengan menekan ovulasi dan berguna sebagai alternatif untuk kontrasepsi oral kombinasi dengan pereda nyeri yang sebanding dan efek samping yang lebih sedikit. Penggunaan DMPA dikaitkan dengan prevalensi dismenore yang lebih rendah. Pil yang hanya mengandung progesteron ini mengurangi aliran menstruasi dan 10% pengguna dapat mengalami amenorea.13 2. Pengukuran Skala Nyeri
Nyeri merupakan sensasi tidak nyaman yang dirasakan oleh butuh akibat provokasi saraf-saraf sensorik. Menilai dan mengukur tingkat nyeri sangat penting untuk mendiagnosis penyebab nyeri.31
Terdapat beberapa metode untuk membantu menilai skala nyeri yang dirasakan oleh penderita.
a. Visual Analog Scale (VAS)
Visual Analog Scale (VAS) merupakan metode yang sangat sering dipakai dalam mengukur skala nyeri. Rentang nyeri diinterpretasikan dengan garis yang panjangnya 10 cm, dengan angka di tiap sentimeter ataupun tidak (Gambar 4.). Ujung kiri mewakili tidak ada rasa nyeri, sedangkan pada ujung kanan mewakili nyeri yang paling parah. VAS digunakan untuk pasien anak usia >8 tahun dan untuk dewasa. Kelebihan VAS ialah mudah dan sederhana untuk digunakan. Namun, dalam kasus pascabedah, VAS kurang efektif dikarenakan VAS membutuhkan koordinasi antara visual dengan motorik, dan kemampuan konsentrasi.31
Gambar 4. Visual Analog Scale32
b. Verbal Rating Scale (VRS)
Verbal Rating Scale (VRS) menggunakan bilangan 0 hingga 10 untuk menginterpretasikan skala nyeri. Skala ini dinilai lebih cocok untuk kasus pascabedah karena verbal tidak terlalu bergantung pada koordinasi antara visual dan motorik. Dalam skala verbal, yang digunakan bukan tanda hubung ataupun angkan, melainkan kata- kata. Skala yang dipakai seperti tidak nyeri, nyeri sedang, nyeri berat. Reda atau hilangnya nyeri bisa dinyatakan sebagai tidak nyeri, sedikit berkurang, atau cukup berkurang. Karena keterbatasan pilihan kata untuk pasien, VRS kurang efektif dalam menyatakan tipe-tipe nyeri. 31,32
Gambar 5. Verbal Rating Scale (VRS)31
c. Numeric Rating Scale (NRS)
Numeric Rating Scale (NRS) dinilai simpel dan lebih mudah dipahami. Dalam menilai nyeri, skala ini lebih efektif dibanding VAS, utamanya pada nyeri akut. Tetapi, kekurangannya ialah terbatasnya pilihan kata yang dapat digunakan dalam menggambarkan tingkat nyeri, sulit untuk membedakan intensitas nyeri secara spesifik.31
Gambar 6. Numeric Rating Scale (NRS)33
d. Wong Baker Pain Rating Scale
Wong Baker Pain Rating Scale dipakai pada pasien anak usia
>3 tahun yang tidak mampu menyatakan tingkat nyeri dengan angka, serta untuk pasien dewasa.32
Gambar 7. Wong Baker Pain Rating Scale32
3. Hal-hal yang Berhubungan dengan Terjadinnya Dismenore a. Usia Menarche
Rata-rata wanita mengalami haid pertama (menarche) di usia 12-14 tahun. Usia menarche kurang dari 12 tahun dikatakan sebagai menarche dini. Menarche dini dapat mempengaruhi atau meningkatkan risiko dismenore akibat paparan prostaglandin yang lebih lama.5
b. Indeks Massa Tubuh (IMT)
IMT ialah salah satu indikator dalam menilai status gizi. Wanita yang overweight dan obesitas memiliki kadar kolesterol yang
berlebihan dan tumpukan jaringan lemak dibawah kulit. Hal tersebut meningkatkan produksi estrogen yang tidak hanya diproduksi oleh ovarium tetapi juga diproduksi oleh jaringan lemak yang menyebabkan hiperkontraktilitas uterus.28 Sedangkan wanita dengan IMT kurang memiliki kadar kalsium dan zat besi yang rendah dalam tubuh. Kurangnya kalsium menyebabkan otot tidak mampu mengendur setelah kontraksi, sehingga dapat menyebabkan kram otot. Kurangnya asupan zat besi menyebabkan sintesis hemoglobin terganggu, sehingga jumlah hemoglobin dalam eritrosit berkurang dan menyebabkan rendahnya kadar oksigen dalam darah sehingga dapat menyebabkan hipoksia dan anemia. Anemia dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada seseorang dan berkurangnya daya tahan tubuh terhadap rasa nyeri pada saat menstruasi.27
c. Durasi menstruasi
Durasi menstruasi normalnya 3 sampai 5 hari.22 Perempuan dengan durasi menstruasi melebihi 5-7 hari, 1,9 kali lebih berisiko mengalami dismenore. Hal ini disebabkan karena kontraksi myometrium yang berlebihan.5
d. Tingkat Stres
Nyeri haid bisa disebabkan karena meningkatnya kontraksi myometrium yang dipersarafi oleh sistem saraf simpatik. Stress meningkatkan nyeri haid dengan meningkatnya kontraksi myometrium. 27
Selain itu, produksi ACTH pada saat mengalami stress memicu pelepasan kortisol yang menyebabkan sistesis estrogen dan progesteron terganggu sehingga siklus menstruasi menjadi tidak teratur. 29
e. Riwayat Keluarga
Hubungan kejadian dismenore dengan riwayat keluarga yang menderita dismenore berkaitan dengan faktor genetik. Wanita dengan riwayat ibu atau saudari dismenore memiliki risiko tiga kali lebih tinggi menderita dismenore dibanding wanita yang tidak memiliki riwayat keluarga dismenore.24
B. Kerangka Teori
Gambar 8. Kerangka Teori
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
A. Kerangka Konsep
Gambar 9. Kerangka Konsep
B. Definisi Operasional 1. Dismenore
Dismenore adalah nyeri haid berat dengan NRS score ≥7 atau menyebabkan perempuan tersebut membutuhkan obat anti nyeri untuk meredakan nyeri haid yang dirasakan.
2. Mahasiswi
Mahasiswi dalam penelitian ini ialah mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023.
Kriteria objektif:
a. Kelompok kasus : mahasiswi yang menderita dismenore b. Kelompok kontrol : mahasiswi yang tidak menderita dismenore 3. Usia Menarche
Menarche ialah haid pertama yang dialami perempuan. Menarche dini mengacu pada usia menarche yang <12 tahun. Usia menarche dapat diketahui melalui pengisian kuesioner.
Kriteria objektif:
a. Berisiko : <12 tahun b. Tidak berisiko : ≥12 tahun 4. Indeks massa tubuh (IMT)
IMT ialah salah satu indikator dalam menentukan status gizi. IMT diperoleh dari hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan.
Rumus IMT:
IMT = Berat Badan (kg) [Tinggi Badan (m)]2 Kriteria Objektif:
a. Berisiko : IMT kurang (<18,5) atau IMT lebih (≥23) b. Tidak berisiko : IMT normal (18,5 – 22,9)
5. Durasi menstruasi
Durasi menstruasi adalah rentang waktu antara hari pertama hingga hari terakhir menstruasi dalam satu siklus. Informasi mengenai durasi menstruasi penderita dapat diketahui melalui pengisian kuesioner.
Kriteria objektif:
a. Berisiko : >5 hari b. Tidak berisiko : ≤5 hari 6. Tingkat stres
Stres adalah respon yang non-spesifik dari tubuh atau reaksi terhadap lingkungan yang dapat mengganggu seseorang. Informasi ini dapat diketahui melalui pengisian kuesioner DASS 21.
Kriteria objektif:
a. Berisiko : mengalami stress
b. Tidak berisiko : tidak mengalami stress atau normal 7. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga mengacu pada ada tidaknya keluarga penderita yang memiliki riwayat dismenore. Informasi ini dapat diketahui melalui pengisian kuesioner.
Kriteria objektif:
a. Berisiko : ibu atau saudari kandung menderita dismenore b. Tidak berisiko : ibu atau saudari kandung tidak menderita
dismenore
BAB IV
METODE DAN DESAIN PENELITIAN
A. Metode dan Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah observasional analitic study dengan desain penelitian case control.
Gambar 10. Desain Penelitian Case Control
Penelitian dimulai dengan identifikasi penderita dismenore (kasus) dan kelompok yang tidak menderita dismenore (kontrol), lalu secara retrospektif ditelusuri hal-hal yang bisa menjelaskan mengapa kelompok kasus mengalami dismenore sedangkan kelompok kontrol tidak.
B. Tempat dan Waktu Pengambilan Data 1. Tempat Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa.
2. Waktu Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan pada bulan Januari 2023.
C. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini, terdiri dari populasi kasus dan populasi kontrol.
a. Populasi kasus adalah semua mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023 yang menderita dismenore.
b. Populasi kontrol adalah semua mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023 yang tidak menderita dismenore.
2. Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini, terdiri dari sampel kasus dan sampel kontrol.
a. Sampel kasus adalah populasi kasus yang memenuhi kriteria inklusi sampel kasus.
b. Sampel kontrol adalah populasi kontrol yang memenuhi kriteria inklusi sampel kontrol.
D. Kriteria Sampel Penelitian 1. Sampel Kelompok Kasus
a. Kriteria inklusi
1) Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023 yang menderita dismenore.
2) Bersedia menjadi responden penelitian setelah diberikan penjelasan mengenai penelitian yang akan dilakukan.
b. Kriteria ekslusi
1) Memiliki riwayat penggunaan obat-obatan hormonal 2) Menderita penyakit-penyakit ginekologis
2. Sampel Kelompok Kontrol a. Kriteria inklusi
1) Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa tahun akademik 2022/2023 yang tidak menderita dismenore.
2) Bersedia menjadi responden penelitian setelah diberikan penjelasan mengenai penelitian yang akan dilakukan.
b. Kriteria eksklusi
1) Memiliki riwayat penggunaan obat-obatan hormonal 2) Menderita penyakit-penyakit ginekologis
E. Besar Sampel
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa, dari 217 mahasiswi yang mengisi survei sebanyak 80 mahasiswi yang mengalami dismenore. Untuk menghitung jumlah sampel pada penelitian ini, peneliti menggunakan rumus Slovin.
Rumus :
n
= N 1 + N (𝑒2)
= 80
1 + 80 (0,052)
= 80
1 + 80 (0,0025)
= 80 1 + 0,2
= 80 1,2
= 66,67
Keterangan :
n = jumlah sampel N = jumlah populasi
e = nilai margin error atau besar kesalahan yang digunakan 0,05 (5%) Maka besar sampel pada penelitian ini sebanyak 67. Peneliti menggunakan desain penelitian case-control dengan perbandingan sampel kasus dan sampel kontrol 1:1, sehingga jumlah sampel kasus dan sampel kontrol pada penelitian ini masing-masing 67 sampel.
F. Teknik Pengambilan Sampel
Cara pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan teknik quota sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan cara menetapkan jumlah tertentu sebagai target yang harus dipenuhi dalam pengambilan sampel.
G. Cara Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data primer, yaitu mengumpulkan data secara langsung melalui pengisian kuesioner oleh responden serta melakukan pengukuran tinggi dan berat badan untuk memperoleh IMT responden.
H. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian ialah alat bantu yang digunakan dalam pengambilan data oleh peneliti. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ialah alat pengukur tinggi badan, alat pengukur berat badan, dan kuesioner.
I. Alur Penelitian
Gambar 11. Alur Penelitian
J. Prosedur Penelitian
1. Peneliti mendapat persetujuan dan rekomendasi dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa.
2. Meminta izin kepada Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa untuk melaksanakan penelitian di Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa
3. Mengidentifikasi populasi kasus dan populasi kontrol 4. Memberikan penjelasan kepada calon responden berupa:
a. Penjelasan mengenai latar belakang, tujuan dan manfaat penelitian.
b. Penjelasan tentang cara pengambilan data, yaitu melakukan pengisian kuesioner, serta pengukuran tinggi dan berat badan.
c. Segala sesuatu yang menyangkut informasi tentang responden pada lembar kuesioner dijamin kerahasiaannya.
d. Responden diharapkan memberikan jawaban yang sejujur- jujurnya dalam pengisian kuesioner penelitian ini.
e. Memberikan kebebasan untuk memilih bersedia atau tidak untuk menjadi responden penelitian ini.
f. Untuk calon responden yang bersedia untuk ikut dalam penelitian, diminta untuk mengisi surat persetujuan menjadi responden.
5. Menentukan sampel kasus dan sampel kontrol yang telah memenuhi kriteria inklusi.
6. Peneliti melakukan pengambilan data dengan menggunakan kuesioner (menarche dini, durasi menstruasi, tingkat stress, riwayat keluarga) dan menentukan IMT dengan melakukan pengukuran tinggi dan berat badan.
7. Peneliti melakukan pengumpulan dan analisis data.
8. Apabila analisis data telah selesai, peneliti menuliskan hasilnya untuk selanjutnya disajikan pada seminar hasil.
K. Rencana Analisis Data
1. Rencana Pengolahan Data
Data dari penelitian ini diolah menggunakan Microsoft Excel, serta menggunakan sistem perangkat lunak komputer SPSS untuk mendapatkan hasil analitik statistik yang diharapkan.