• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.2 Analisis dan Pembahasan Hasil Penelitian

4.2.3 Uji Asumsi Klasik

4.2.3.2 Hasil Uji Normalitas

Pengujian normalitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel dependen dan variabel independen atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak (Ghozali, 2013:154).

Gambar 4.1

Uji Normalitas Grafik Normal P-Plot

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. Sedangkan jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas (Ghozali, 2013:156). Pada Gambar 4.1 memperlihatkan bahwa data tersebar disepanjang garis diagonal, serta arah penyebarannya mengikuti arah garis diagonal. Sehingga model regresi telah memenuhi asumsi normalitas.

Gambar 4.2

Uji Normalitas Histogram

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Uji lain yang dapat digunakan untuk menguji normalitas adalah melaui grafik histogram, gambar 4.2 menunjukkan bahwa puncak grafik mendekati batang sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi berdistribusi normal.

4.2.3.3 Hasil Uji Heteroskedastisitas

Pengujian heteroskedastisitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians dari residual dari suatu

pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas. Jika varians berbeda, disebut heteroskedastisitas (Ghozali, 2013:134).

Gambar 4.3

Uji Heteroskedasitas Scatterplot

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Cara mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas yaitu dengan melihat ada atau tidaknya pola tertentu pada grafik dan titik-titik menyebar di atas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2013:134). Berdasarkan gambar 4.3, grafik scatterplot diatas menunjukkan bahwa data tersebar di atas dan dibawah angka 0 (nol) dan gambar tersebut tidak terdapat suatu pola yang jelas pada penyebaran data tersebut. Hal ini menunjukan tidak terjadi heteroskedastisitas pada model persamaan regresi, sehingga model regresi layak digunakan untuk memprediksi kualitas audit, berdasarkan variabel yang

mempengaruhinya, yaitu kompetensi auditor, motivasi auditor dan gaya kepemimpinan.

4.2.4 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien Determinasi (R²) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.

Tabel 4.15

Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .423a .179 .152 2.209

a. Predictors: (Constant), Gk_Total, Kmp_Total, Mtv_Total b. Dependent Variable: Kait_Total

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Tabel 4.15 menunjukkan nilai Adjusted R Square sebesar 0,152 atau 15,2%, ini menunjukkan bahwa variabel kualitas audit yang dapat dijelaskan oleh kompetensi auditor, motivasi auditor dan gaya kepemimpinan adalah sebesar 15%, sedangkan sisanya 0,848% atau 84,8% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini. Faktor-faktor lain diantaranya seperti variabel pengalaman kerja dan akuntabilitas serta objektivitas dalam penelitian Furiady et al (2015), variabel independensi dan integritas dalam penelitian Ningrum et al (2017), variabel tekanan klien dalam penelitian Saputra (2015), variabel kompleksitas tugas dalam penelitian Hari et al (2015), variabel etika auditor dalam penelitian Wardana (2016).

4.2.5 Hasil Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan model analisis regresi berganda (multiple regression analysis), persamaan regresinya yaitu:

Tabel 4.16 Persamaan Regresi

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 21.945 2.044 10.738 .000

Kmp_Total .231 .065 .356 3.544 .001

Mtv_Total .166 .073 .284 2.276 .025

Gk_Total -.117 .053 -.277 -2.203 .030

a. Dependent Variable: Kait_Total

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Berdasarkan tabel diatas didapat persamaan regresi sebagai berikut:

Kait = 21,945 + 0,231 + 0,166 – 0,117 + е Analisis atas persamaan regresi tersebut:

1. Konstanta 21,945 artinya jika kompetensi auditor (Kmp), motivasi auditor (Mtv), gaya kepemimpinan (Gk) memiliki nilai 0, maka kinerja auditor (kait) memiliki nilai 21,945.

2. Koefisien regresi variabel kompetensi auditor (Kmp) sebesar 0,231, artinya jika variabel independen lainnya tetap dan variabel kompetensi auditor (Kmp) mengalami kenaikan sebesar 1 maka kualitas audit (kait) akan meningkat sebesar 0,231.

3. Koefisien regresi variabel motivasi auditor (Mtv) sebesar 0,166, artinya jika variabel independen lainnya tetap dan variabel motivasi auditor (Mtv)

mengalami kenaikan sebesar 1 maka kualitas audit (kait) akan meningkat sebesar 0,166.

4. Koefisien regresi variabel gaya kepemimpinan (Gk) sebesar 0,117, artinya jika variabel independen lainnya tetap dan variabel gaya kepemimpinan (Gk) mengalami kenaikan sebesar 1 maka kualitas audit (kait) akan menurun sebesar 0,117.

4.2.5.1Hasil Uji parsial (Uji t)

Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen dan digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh masing-masing variabel independen secara individual terhadap variabel dependen yang diuji pada tingkat signifikansi 0,05 (Ghozali, 2013:97). Tabel 4.16 menyajikan hasil uji statistik t dalam penelitian ini sebagai berikut.

Tabel 4.17 Hasil Uji parsial (Uji t)

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 21.945 2.044 10.738 .000

Kmp_Total .231 .065 .356 3.544 .001

Mtv_Total .166 .073 .284 2.276 .025

Gk_Total -.117 .053 -.277 -2.203 .030

a. Dependent Variable: Kait_Total

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Rancangan hipotesis parsial yang telah disusun sebelumnya oleh peneliti adalah sebagai berikut:

Hipotesis 1 (H1) : Kompetensi auditor memiliki pengaruh terhadap kualitas audit.

Hipotesis 2 (H2) : Motivasi auditor memiliki pengaruh terhadap kualitas audit.

Hipotesis 3 (H3) : Gaya kepemimpinan memiliki pengaruh terhadap kualitas audit.

Dasar yang menjadi kriteria pengambilan keputusan adalah

1. Jika nilai probabilitas lebih besar dari 0,05, maka H0 diterima atau Ha ditolak.

2. Jika nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05, maka H0 ditolak atau Ha diterima.

Hasil uji parsial (uji t) pada tabel 4.16 adalah sebagai berikut:

1. Angka sig untuk koefisien Kmp sebesar 0,001, sig < 0,05, H0 ditolak. H1

diterima. Hal tersebut berarti variabel kompetensi auditor (Kmp) signifikan mempengaruhi variabel kualitas audit (Kait).

2. Angka sig untuk koefisien Kmp sebesar 0,025, sig < 0,05, H0 ditolak. H1

diterima. Hal tersebut berarti variabel motivasi auditor (Mtv) signifikan mempengaruhi variabel kualitas audit (Kait).

3. Angka sig untuk koefisien Kmp sebesar 0,030, sig < 0,05, H0 ditolak. H1

diterima. Hal tersebut berarti variabel gaya kepemimpinan (Gk) signifikan mempengaruhi variabel kualitas audit (Kait).

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian

4.3.1 Pengaruh Kompetensi Auditor (Kmp) Berpengaruh Secara Signifikan Terhadap Kualitas Audit (Kait)

Hasil pengujian hipotesis menunjukan signifikansi variabel kompetensi auditor 0,001 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel kompetensi auditor berpengaruh terhadap kualitas audit. Arah pengaruh variabel kompetensi auditor terhadap kualitas audit menunjukan bahwa positif dan searah, hal ini menunjukan semakin tinggi kompetensi dari seorang auditor maka akan meningkatkan kualitas audit yang dihasilkan.

Auditor yang memiliki kompetensi tinggi tentu akan dapat mendeteksi kesalahan dan melakukan proses audit lebih baik serta melakukan penalaahan terhadap kualitas audit yang dihasilkan. Seorang auditor secara kolektif memiliki kompetensi dan kemampuan yang sesuai untuk melaksanakan perikatan audit sesuai dengan standar profesi serta ketentuan hokum dan peraturan yang berlaku dan memungkinkan diterbitkannya laporan auditor yang sesuai dengan kondisinya (SA 220, Paragraf 14).

Kompetensi auditor tentu harus menjadi perhatian penting bagi kantor akuntan publik, karena apabila seorang auditor tidak memiliki kompetensi yang cukup dapat mengakibatkan kualitas audit menjadi buruk. Namun apabila kantor akuntan publik memiliki auditor yang memiliki kompetensi yang cukup, tentu saja akan meningkatkan kualitas audit yang dihasilkan oleh kantor akuntan publik tersebut.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Furiady et al (2015), Ningrum et al (2017), Ramadhanis (2012), Mansouri et al (2009), Hari et al (2015), dan Asmara et al (2016) bahwa kompetensi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas audit.

4.3.2 Pengaruh Motivasi Auditor (Mtv) Berpengaruh Secara Signifikan Terhadap Kualitas Audit (Kait)

Hasil pengujian hipotesis menunjukan signifikansi variabel motivasi auditor 0,025 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel motivasi auditor berpengaruh terhadap kualitas audit. Arah pengaruh variabel motivasi auditor terhadap kualitas audit menunjukan bahwa positif dan searah, hal ini menunjukan semakin tinggi motivasi auditor dalam melaksanakan audit maka akan meningkatkan kualitas audit yang dihasilkan.

Motivasi auditor sebagai tim perikatan dalam pelaksanaan audit tentu menjadi subjek penting, apabila seorang auditor tidak memiliki motivasi dalam melaksanakan pekerjaannya dapat menjadikan proses pemeriksaan tidak optimal, yang dapat mengakibatkan tidak terdeteksinya kesalahan-kesalahan material yang berpengaruh menurunnya kualitas audit. Jika seorang auditor memiliki motivasi tinggi dalam melaksanakan pekerjaanya, auditor pun akan semakin antusias dan berusaha memberikan yang terbaik dalam proses pemeriksaan laporan keuangan klien, dan diharapkan akan meningkatkan kualitas audit yang akan dihasilkan nantinya.

Penelitian ini pun sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Furiady et al (2015), Mansouri et al (2009), Asmara et al (2016) dan Wirasuasti et

al (2014) yang menyebutkan bahwa motivasi memiliki pengaruh terhadap kualitas audit, namum bertentangan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ramadhanis (2012) yang menyebutkan bahwa motivasi tidak memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.

4.3.3 Pengaruh Gaya Kepemimpinan (Gk) Berpengaruh Secara Signifikan Terhadap Kualitas Audit (Kait)

Hasil pengujian hipotesis menunjukan signifikansi variabel gaya kepemimpinan 0,030 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap kualitas audit. Arah pengaruh variabel gaya kepemimpinan terhadap kualitas audit menunjukan bahwa negatif dan tidak searah, hal ini menunjukan semakin tinggi gaya kepemimpinan mempengaruhi auditor maka kualitas audit semakin rendah.

Gaya kepemimpinan ialah pola perilaku pemimpin dalam menpengaruhi sikap, perilaku dan sebagainya pada para pengikutnya (Wirawan, 2013). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa gaya kepemimpinan yang diberikan oleh seorang pimpinan terhadap auditornya dapat mengurangi kualitas audit yang dihasilkan.

Hal ini mungkin dapat disebabkan apabila seorang pimpinan terlalu andil dalam pekerjaan auditor maka auditor tidak dapat bekerja dengan baik dan pimpinan tidak dapat menjaga kualitas audit dari sisi yang lebih penting dan signifikan sehingga menyebabkan kualitas audit menjadi menurun.

Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitan sebelumnya yang dilakukan oleh Saputra (2015) dan Wardana (2016) yang menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan memiliki pengaruh positif terhadap kualitas audit.

4.4 Implikasi Manajerial

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan mengenai pengaruh kompetensi auditor, motivasi auditor, dan gaya kepemimpinan terhadap kualitas audit pada kantor akuntan publik di Jakarta terdapat beberapa hal yang dapat dimanfaatkan dan menjadi pertimbangan bagi auditor, kantor akuntan publik, pengguna laporan keuangan dan pemegang kepentingan lainnya.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kompetensi auditor, motivasi auditor dan gaya kepemimpinan memiliki pengaruh terhadap kualitas audit.

Variabel kompetensi auditor dan motivasi auditor memiliki pengaruh positif yang berarti semakin tinggi kompetensi auditor dan motivasi auditor maka kualitas audit akan semakin naik juga, namun pada variabel gaya kepemimpinan menunjukan pengaruh negatif yang berarti semakin tingi gaya kepemimpinan maka akan semakin rendah kualitas audit. PPPK sebagai regulator yang memiliki fungsi pengawasan terhadap akuntan public baiknya dapat memperhatikan ataupun mengawasi lebih dalam kualitas audit yang dihasilkan oleh kantor akuntan public yang mana melibatkan kompetensi auditor, motivasi auditor, dan gaya kepemimpinan agar kualitas audit yang dihasilkan tetap baik.

Dalam penelitian ini, kompetensi auditor memiliki pengaruh terhadap kualitas audit dimana seorang auditor diwajibkan memiliki kompetensi yang baik sehingga dapat menunjang kualitas audit yang dihasikan. Kompetensi auditor yang ada tentu akan menjadi lebih baik apabila terdapat penambahan kemampuan yang dimiliki oleh auditor. Sebuah Kantor akuntan publik agar memperoleh kompetensi auditor yang baik dapat dilakukan dengan beberapa cara salah satunya yaitu dengan

menyeleksi ketat saat rekrutmen auditor baru sehingga bibit auditor yang masuk ke kantor akuntan publik ialah bibit yang terbaik setelah itu guna menambah dan mempertahankan kompetensi yang ada, kantor akuntan publik dapat memberikan pelatihan-pelatihan baik secara internal ataupun yang diselenggarakan oleh pihak luar sehingga dapat meningkatkan kualitas audit yang dihasilkan.

Motivasi auditor dalam penelitian ini pun memliki pengaruh terhadap kualitas audit yang dihasilkan yang mana kantor akuntan publik dapat memberikan motivasi secara psikologis ataupun penghargaan-penghargaan bagi para auditor guna memicu motivasi auditor agar bekerja lebih baik dan optimal yang dapat menjaga dan meningkatkan kualitas audit.

Gaya kepemimpinan dalam penelitan ini memiliki pengaruh terhadap kualitas audit, namun pengaruh arah variabel gaya kepemimpinan terhadap kualitas audit pada penelitian ini ialah negatif yang berarti apabila gaya kepemimpinan semakin tinggi maka kualitas audit akan semakin menurun. Jika demikian maka dibutuhkan gaya kepemimpinan yang tepat dengan memperhatikan beberapa faktor yang sesuai bagi masing-masing kantor akuntan publik hal ini diharapkan dapat menaikkan kualitas audit yang dihasilkan.

BAB V

SIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan yaitu pengaruh kompetensi auditor, motivasi auditor dan gaya kepemimpinan terhadap kualitas audit pada kantor akuntan publik di Jakarta dengan 96 auditor yang menjadi responden dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Terdapat pengaruh antara kompetensi auditor terhadap kualitas audit yang memiliki signifikansi 0,001 < 0,05 dan arah hubungan positif. Sehingga semakin tinggi kompetensi seorang auditor maka akan semakin baik kualitas audit yang dihasilkan.

2. Terdapat pengaruh antara motivasi auditor terhadap kualitas audit yang memiliki signiifikansi 0,025 < 0,05 dan memiliki arah hubungan positif.

Sehingga semakin tinggi motivasi auditor maka akan semakin baik kualitas audit yang dihasilkan.

3. Terdapat pengaruh antara gaya kepemimpinan terhadap kualitas audit yang memiliki signiifikansi 0,030 < 0,05 dan memiliki arah hubungan negatif.

Sehingga semakin tinggi gaya kepemimpinan maka akan semakin rendah kualitas audit yang dihasilkan.

5.2 Saran

5.2.1 Saran Untuk Penelitian Selanjutnya

Terdapat beberapa saran yang dapat peneliti berikan untuk penelitian selanjutnya, adalah sebagai berikut:

1. Peneliti menyarankan agar peneliti selanjutnya memilih variabel-variabel independen lain yang memiliki kemungkinan dapat menjelaskan kualitas audit yang lebih signifikan diantaranya indepensi, pengalaman kerja, akuntabilitas, objektivitas, integritas, kompleksitas tugas, etika auditor dan tekanan klien guna memperoleh hasil penelitian yang lebih maksimal.

2. Dalam penelitian selanjutnya dapat lebih di fokuskan kepada penelitian pada Kantor Akuntan Publik BIG 4, guna memperoleh variabel dependen kualitas audit yang lebih handal.

5.2.2 Saran Untuk Kantor Akuntan Publik dan Pemegang Kepentingan Lain Adapun beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan berdasarkan penelitian ini kepada Kantor Akuntan Publik sebagai berikut:

1. Akan lebih baik apabila kompetensi auditor dapat selalu dipertahankan dan ditambah dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan yang sesuai jenjang jabatan baik secara internal maupun eksternal guna mengoptimalkan auditor dalam melaksanakan pemeriksaan yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas audit.

2. Gaya kepemimpinan yang baik seharusnya dapat meningkatkan kualitas audit yang dihasilakan, oleh karenanya peneliti menyarankan agar gaya

kepemimpinan dapat disesuaikan masing-masing Kantor Akuntan Publik agar menghasilkan kualitas audit yang lebih baik.

3. PPPK selaku regulator yang memiliki kepentingan sebagai yang menjalankan fungsi pengawasan atas profesi akuntan publik, agar dapat memperhatikan kualitas audit yang dilakukan oleh tiap-tiap kantor akuntan publik agar kualitas audit yang dihasilkan tetap baik.

5.3 Keterbatasan Penelitian

Adapun keterbatasan yang tidak dapat dilakukan pada penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

1. Penelitian ini hanya mencakup 3 variabel independen yaitu kompetensi auditor, motivasi auditor, dan gaya kepemimpinan yang mana hasil uji koefisien determinasi menunjukan hasil yang rendah yang artinya penelitian ini kurang mampu menggambarkan pengaruh variabel independen tehadap variabel dependen nya.

2. Penelitian ini hanya mencakup 96 responden yang ada di Jakarta, sedikitnya jumlah responden dikarenakan keterbatasan waktu dan tenaga peneliti.

DAFTAR PUSTAKA

Australian National Centre for Audit and Assurance Research. (2014). Audit Quality Research Report. Australia.

Alfiati, Rifka. (2017). Pengaruh Etika Auditor, Skeptisisme, Profesional, dan Kompetensi Auditor Terhadap Kualitas Audit. Artikel Jurnal. Padang:

Universitas Negeri Padang.

Arens, Alvin A, et al. (2017). Auditing and Assurance Services (16th ed).

England: Pearson Eduacation Limited.

Asmara, Rina Yuliastuty. (2016). Effect of competence and Motivation of Auditors of the Quality of Audit: Survey on The External Auditors Registered public Accounting Firm In Jakarta In Indonesia. European Journal of Accounting, Auditing, and Finance Research. 4(1): 43-76.

Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia. (2016). Standar Akuntansi Keuangan Efektif per 1 Januari 2017. Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia.

Gozali. (2013). Aplikasi Analisis Multivariate dengan program IMB SPSS 23.

Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro

Hari, et al. (2015). Pengaruh Kompetensi, Independensi, Pengalaman Kerja, Kompleksitas Tugas terhadap Kualitas Audit Aparat Inspektorat Dalam Pengawasan Keuangan Daerah dan Reward sebagai Varibel Moderating.

Jurnal Sorot. 10(1): 1-142.

Financial Reporting Council. 2016. International Standard on Auditing (UK) 220 (Revised June 2016) Quality Control for an Audit of Financial Statements.

London: The Financial Reporting Council Limited.

Furiady, Olivia dan Ratnawati Kurnia. (2015). The Effect of Work Experiences, Competency, Motivation, Accountability and Objectivity Towards Audit Quality. Procedia Social and Behavioral Sciences Journal. 211: 238-335.

Handoko, T. Hani. (2013). Manajemen Edisi Kedua. Yogyakarta: BPFE.

Hasibuan, S.P, Malayu. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:

Bumi Aksara.

Hutapea, Paulian dan Thoha, Nurianna. (2010). Kompetensi Plus: Teori, Desain, Kasus, dan Perencanaan untuk Human Resources dan Organisasi yang Dinamis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Institut Akuntan Publik Indonesia. 2013. Standar Audit (SA 220). Jakarta:

Salemba Empat

Juliningrum, Emma dan Achmad Sudira. (2013). Pengaruh Kompensasi, Budaya Organisasi Terhadap Motivasi Kerja dan Kinerja Pegawai. Jurnal Aplikasi Manajemen, 11(4).

Malik, Abdul. (2017, 11 Februari). Ernst & Young Indonesia Didenda di AS, ini Tanggapan Indosat. https://bisnis.tempo.co

Mansouri et al. (2009). Audit Competence and Audit Quality: Case in Emerging Economy. International Journal of Business and Management. 4(2): 17-25.

Moeheriono. (2012). Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi (Edisi Revisi) Cetakan Pertama. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Ningrum, Gita Sulistya dan Linda Kusumaning Wedari. (2017). Impact of Auditor’s Work Experience, Independence, Objectivity, Integrity, Competency, and Accountability on Audit Quality. Journal of Economic &

Business. 1(1): 19-33.

Nurlaely, Fenti. (2010). Pengaruh Kompetensi, Independensi dan Time Budget Pressure Terhadap Kualitas Audit (Studi Pada Auditor di BPKP Jawa Tengah). Skripsi Dipublikasi. Universitas Negeri Semarang.

Peklar, J dan Bostjancic, E. (2013). Motivation and Life Satisfaction of Employees in The Public and Private Sectors. Uprava. 10(3): 57-74.

Ramadhanis, Sari. (2012). Pengaruh Kompetensi, Independensi, Motivasi Terhadap Kualitas Audit Pada Inspektorat. E-Jurnal binar Akuntansi. 1(1):

76-83.

Rivai, Veithzal dan Mulyadi, Deddy. (2013). Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi (Edisi Ketiga) Cetakan Kesepuluh. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Robbins, Stephen P. dan Timothy A. Judge. (2015). Perilaku Organisasi (Edisi Keenambelas). Jakarta: Salemba Empat.

Saputra, Putu Indra Prayudha. (2015). Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Pengalaman Kerja, dan Tekanan Klien Terhadap Kualitas Audit (Studi Empiris Pada Kantor Akuntan Publik di Provinsi Bali). E-Jurnal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha. 3(1): 1-10.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Suryananda, Oza Tiara. (2017). Pengaruh Kompetensi, Independensi, Profesionalisme, Tekanan Anggaran Waktu, dan Fee Audit Terhadap Kualitas Audit. Skripsi Dipublikasikan. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sutrisno, Edy. (2010). Manajemen Sumber Daya Manusia (Cetakan Kedua).

Jakarta: Kencana Pernada Group.

Wardana, Made aris dan Dodik Ariyanto. (2016). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional, Objektivitas, Integritas dan Etika Auditor terhadap Kualitas Audit. E-Jurnal Akuntansi universitas Udayana. 14: 948-976

Wibowo, Arie dan Rossieta Hilda. (2010). Faktor-faktor Determinasi Kualitas Audit: Suatu Studi Deskriptif. Jurnal Akuntansi dan Keuangan. Depok:

Universitas Indonesia.

Wirasuasti et al. (2014). Pengaruh Kompetensi, Independensi, dan Motivasi terhadap Kualitas Audit Aparat Inspektorat dalam Pengawasan Keuangan Daerah (Studi Empiris pada Inspektorat Kabupaten Bangli dan Inspektorat Pemerintah Kabupaten Buleleng). e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha. 2(1).

Wirawan. 2013. Kepemimpinan: Teori, Psikologi, Perilaku Organisasi, Aplikasi dan Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian Kepada yang terhormat,

Bapak/Ibu Auditor Di tempat

Terima kasih atas kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner ini. Anda adalah salah satu auditor yang terpilih untuk menjadi koresponden dalam penelitian ini. Perkenalkan saya Muhammad Alfatih (mahasiswa Sarjana Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banking School Jakarta), memohon bantuan Anda untuk meluangkan waktu sejenak demi mengisi kuesioner ini. Jawaban yang Anda berikan sangat berguna untuk bahan

penyusunan skripsi saya. Setiap jawaban yang Anda berikan merupakan bantuan yang tidak ternilai, untuk itu jangan sampai ada pernyataan yang terlewatkan.

Perlu diketahui bahwa tidak ada jawaban yang dianggap salah, jawaban yang paling benar adalah jawaban yang sesuai dengan keadaan, perasaan dan pikiran Anda tanpa dipengaruhi oleh siapapun. Adapun cara mengisi kuesioner berikut adalah dengan memberikan tanda checklist (√) pada salah satu kotak sesuai dengan jawaban Anda. Seperti pada contoh di bawah ini.

No Pernyataan STS TS S SS

1 Keahlian khusus yang saya miliki dapat mendukung proses audit yang saya lakukan.

Adapun masing-masing pilihan jawaban memiliki makna sebagai berikut:

STS : Sangat tidak setuju TS : Tidak setuju S : Setuju

SS : Sangat setuju

Atas perhatian dan kesediaan Anda dalam mengisi kuesioner ini,

Data Responden:

1. No responden :

2. Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan

3. Jabatan : Junior Auditor Semi senior auditor Senior Usia : Junior Auditor Semi senior auditor Senior auditor Supervisor Manajer audit

4. Pendidikan : Sarjana Pascasarjana

5. Lama bekerja hingga Desember 2017: ≥ 1 th - ≤ 2 th 2 th - ≤ 5 th ≥ 5 th

6. Nama KAP : 7. Lokasi KAP :

A. Pernyataan Mengenai Kompetensi Auditor

No Pernyataan STS TS S SS

1 Saya harus memahami dan melaksanakan jasa profesional sesuai dengan SAK dan SPAP yang relevan.

2 Saya perlu memahami jenis dan kondisi industri klien agar saya dapat melakukan audit dengan baik.

3 Saya membutuhkan pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan formal maun non-formal agar saya dapat melakukan audit dengan baik.

4 Saya membutuhkan keahlian berkomunikasi dengan baik sehingga dapat mendukung proses audit yang saya lakukan.

5 Semakin banyak klien yang saya audit membuat saya semakin mudah mencari penyebab munculnya kesalahan serta dapat memberi rekomendasi untuk memperkecil penyebab tersebut.

6 Saya memiliki banyak pengalaman kerja dalam bidang audit.

7 Saya memiliki pengalaman mengaudit perusahaan besar, sehingga saya dapat mengaudit perusahaan kecil lebih baik.

Dokumen terkait