• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengujian Hipotesis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.6 Teknik Pengujian Hipotesis

3. Uji Koefisien Determinasi

Koefisien Determinasi (R²) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara 0 (nol) dan 1 (satu). Nilai R² yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2013: 95).

auditor, motivasi auditor dan gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap kualitas audit. Model regresi yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Kait= α + β1Kmp + β2Mtv + β2Gk + е Keterangan :

Kait : Kualitas audit Kmp : Kompentensi auditor Mtv : Motivasi auditor Gk : Gaya kepemimpinan e : Error Item

a : Konstanta

β1 – β3 : Koefisien regresi

b. Uji Statistik t

Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen dan digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh masing-masing variabel independen secara individual terhadap variabel dependen yang diuji pada tingkat signifikansi 0,05 (Ghozali, 2013:97).

Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:

1) Jika nilai probabilitas lebih besar dari 0,05, maka H0 diterima atau Ha ditolak, ini berarti menyatakan bahwa variabel independen atau bebas tidak mempunyai pengaruh secara individual terhadap variabel dependen atau terikat.

2) Jika nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05, maka H0 ditolak atau Ha diterima, ini berarti menyatakan bahwa variabel independen atau bebas mempunyai pengaruh secara individual terhadap variabel dependen atau terikat.

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian 4.1.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada akuntan publik (auditor) yang bekerja di kantor akuntan publik yang terletak di wilayah Jakarta, auditor yang dilibatkan meliputi manajer, supervisor, senior, semi senior dan junior auditor.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan instrumen kuesioner yang disebar ke beberapa auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik di wilayah Jakarta. Peneliti menyebarkan dan mengumpulkan kuesioner kepada 15 Kantor Akuntan Publik, yaitu:

Tabel 4.1

Data Kantor Akuntan Publik

No Nama Kantor Akuntan Publik Kuesioner

yang disebar Kuesioner dikembalikan 1 KAP Paul Hadiwinata, Hidajat Arsono Retno

Palilingan & Rekan (PKF) 15 14

2 KAP Joachim Poltak Lian & Rekan (LEA) 15 8 3 KAP Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang dan

Rekan (BDO) 15 8

4 KAP Tanudiredja Wibisana rintis & Rekan

(PWC) 15 10

5 KAP Rama Wendra & Rekan (McMillan

Woods) 15 13

6 KAP Gideon Adi & Rekan (MGI worldwide) 15 10 7 KAP Teramihardja Pradhono & Chandra (Rödl

& Partner) 15 9

Bersambung pada halaman selanjutnya

Lanjutan tabel 4.1

8 KAP Hendrawinata Hanny Erwin & Sumargo

(Kreston) 5 3

9 KAP Gani Sigiro & Handayani (Grand

Thornton) 5 3

10 KAP Purwantono, Sungkoro & Surja (EY) 5 5

11 KAP Anwar Rekan (DFK International) 5 3

12 KAP Mulyamin Sensi Suryanto (Moore

Stephens) 5 2

13 KAP Siddharta Widjaja & Rekan (KPMG) 5 2 14 KAP Doli Bambang Sulistiyanto Dadang & Ali

(DBSD&A) 5 3

15 KAP Satrio Bing Eny & Rekan (Delloite) 5 3

Jumlah 145 96

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Penyebaran kuesioner dilakukan pada bulan Mei dan Juni 2018. Pada tabel 4.1 dapat dilihat bahwa kuesioner yang disebar sebanyak 145 kuesioner sedangkan jumlah yang kembali sebanyak 96 kuesioner atau sebesar 66% dari keseluruhan kuesioner yang disebar. Perbedaan rincian penyebaran dikarenakan penyesuaian dengan jumlah responden penelitian yang berbeda-beda pada setiap lokasi obyek penelitian.

Tabel 4.2

Data Penyebaran Kesioner

Keterangan Jumlah Percent

Jumlah kuesioner yang disebar 145 100%

Jumlah kuesioner yang terkumpul 96 66,21%

Jumlah kuesioner yang tidak terkumpul 49 33,79%

Jumlah kuesioner yang dapat diolah 96 66,21%

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Tabel diatas menunjukan jumlah dan presentase penyebaran kuesioner.

Jumlah kuesioner yang disebar sebanyak 145 kuesioner, 66,21% atau 96 kuesioner yang terkumpul dari jumlah kuesioner yang disebar sedangkan 49 kuesioner yang

tidak kembali atau 33,79% dari jumlah kuesioner yang disebar. Jadi, kuesioner yang dapat diolah sebanyak 96 kuesioner atau 66,21% dari jumah kuesioner yang disebar.

4.1.2 Deskriptif Data

Karakteristik responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu menurut jenis kelamin, jabatan, jenjang pendidikan, lama bekerja, dan lokasi kantor akuntan publik.

Tabel 4.3

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis kelamin Jumlah

responden Persentase

Laki-laki 37 38,54%

Perempuan 59 61,46%

Jumlah 96 100%

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Berdasarkan gambar diatas diketahui bahwa jumlah auditor yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 37 orang (38,54%) sedangkan auditor yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 59 orang (61,46%%)

Tabel 4.4

Karakteristik Responden Berdasarkan Jabatan

Jabatan Jumlah

responden Persentase

Junior auditor 54 56,25%

Semi senior auditor 18 18,75%

Senior Auditor 15 15,63%

Supervisor auditor 2 2,08%

Manajer auditor 7 7,29%

Jumlah 96 100%

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Berdasarkan data diatas diketahui bahwa auditor yang memiliki jabatan

2 orang (2,08%), senior auditor 15 orang (15,63%), semi senior auditor 18 orang (18,75%) dan junior auditor 54 orang (56,25%).

Tabel 4.5

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenjang Pendidikan Jenjang Pendidikan Jumlah

responden Persentase

DIV/S1 93 96,88%

S2 3 3,12%

Jumlah 96 100%

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Gambar diatas menunjukan bahwa sebanyak 96,88% (93 orang) memiliki pendidikan DIV/S1 dan 3,12% (3 orang) sisanya telah memiliki pendidikan S2.

Tabel 4.6

Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja

Lama Bekerja Jumlah

responden Persentase

1 tahun ≤ 2 tahun 60 62,50%

2 tahun ≤ 5 tahun 26 27,08%

≥ 5 tahun 10 10,42%

Jumlah 96 100%

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Berdasarkan gambar diatas menunjukan masing-masing auditor memiliki lama bekerja yang bervariasi diantara nya 1 tahun ≤ 2 tahun sebanyak 60 orang (62,50%), 2 tahun ≤ 5 tahun sebanyak 26 orang (27,08%), dan lebih dari 5 tahun sebanyak 10 orang (10,42%).

Tabel 4.7

Karakteristik Responden Berdasarkan Lokasi KAP

Lokasi KAP Jumlah

responden Persentase

Jakarta 96 100%

Jumlah 96 100%

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

4.2 Analisis dan Pembahasan Hasil Penelitian 4.2.1 Analisis Deskriptif

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Kompetensi Auditor (Kmp), Motivasi Auditor (Mtv), Gaya Kepemimpinan (Gk) dan Kualitas Audit (Kait) diuji secara descriptive statistics seperti yang terlihat dalam tabel berikut:

Tabel 4.8 Hasil Uji Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Kmp_Total 96 16 35 29.17 3.704

Mtv_Total 96 16 35 26.23 4.097

Gk_Total 96 7 35 26.73 5.663

Kait_Total 96 26 35 29.90 2.399

Valid N (listwise) 96

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Tabel 4.8 diatas menjelaskan bahwa variabel Kompetensi Auditor (Kmp) jawaban minimum responden sebesar 16 dan maksimum sebesar 35, dengan rata- rata total jawaban 29,17 dan standar deviasi sebesar 3,704. Variabel Motivasi Auditor (Mtv) jawaban minimum responden sebesar 16 dan maksimum sebesar 35, dengan rata-rata total jawaban sebesar 26,23 dan standar deviasi 4,097. Variabel Gaya Kepemimpinan (Gk) jawaban minimum responden sebesar 7 dan maksimum sebesar 35, dengan rata-rata total jawaban 26,73 dan standar deviasi 5,664. Variabel Kualitas Audit (Kait) jawaban minimum responden sebesar 26 dan maksimum sebesar 35, dengan rata-rata total jawaban 29,90 dan standar deviasi 2,399.

Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif di atas dapat diambil kesimpulan bahwa rata-rata jawaban responden untuk Kompetensi Auditor (Kmp), Motivasi Auditor (Mtv), Gaya Kepemimpinan (Gk) dan Kualitas Audit (Kait) adalah setuju.

4.2.2 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas 4.2.2.1 Hasil Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Sebuah instrumen dikatakan valid, jika mampu mengukur apa yang diinginkan dan mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat (Ghozali, 2013:45). Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan pearson correlation, tabel berikut menunjukan hasil uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, Kompetensi Auditor (Kmp), Motivasi Auditor (Mtv), Gaya Kepemimpinan (Gk) dan Kualitas Audit (Kait).

Tabel 4.9

Hasil Uji Validitas Kompetensi Auditor Nomor Butir

Pertanyaan Pearson

Correlation Sig

Keterangan (2-Tailed)

Kmp_1 0,808** 0,000 Valid

Kmp_2 0,769** 0,000 Valid

Kmp_3 0,766** 0,000 Valid

Kmp_4 0,752** 0,000 Valid

Kmp_5 0,579** 0,000 Valid

Kmp_6 0,538** 0,000 Valid

Kmp_7 0,488** 0,000 Valid

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Tabel 4.9 menunjukan variabel kompetensi auditor mempunyai kriteria valid untuk semua item pernyataan dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 nilai r tabel diperoleh dari df (degree of freedom) = n – 2, maka r tabel dalam penelitian ini adalah 0,200 yang didapat dari df = 96 – 2. Pernyataan dikatakan valid karena semua r hitung dalam tabel diatas > dari r tabel.

Tabel 4.10

Hasil Uji Validitas Motivasi Auditor Nomor Butir

Pertanyaan Pearson Correlation

Sig Keterangan (2-Tailed)

Mtv_1 0,692** 0,000 Valid

Mtv_2 0,694** 0,000 Valid

Mtv_3 0,564** 0,000 Valid

Mtv_4 0,446** 0,000 Valid

Mtv_5 0,754** 0,000 Valid

Mtv_6 0,600** 0,000 Valid

Mtv_7 0,608** 0,000 Valid

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Tabel 4.10 menunjukan variabel motivasi auditor mempunyai kriteria valid untuk semua item pernyataan dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 nilai r tabel diperoleh dari df (degree of freedom) = n – 2, maka r tabel dalam penelitian ini adalah 0,200 yang didapat dari df = 96 – 2. Pernyataan dikatakan valid karena semua r hitung dalam tabel diatas > dari r tabel.

Tabel 4.11

Hasil Uji Validitas Gaya Kepemimpinan Nomor Butir

Pertanyaan Pearson

Correlation Sig

Keterangan (2-Tailed)

Gk_1 0,835** 0,000 Valid

Gk_2 0,741** 0,000 Valid

Gk_3 0,832** 0,000 Valid

Gk_4 0,837** 0,000 Valid

Gk_5 0,753** 0,000 Valid

Gk_6 0,860** 0,000 Valid

Gk_7 0,813** 0,000 Valid

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Tabel 4.11 menunjukan variabel gaya kepemimpinan mempunyai kriteria valid untuk semua item pernyataan dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 nilai r tabel diperoleh dari df (degree of freedom) = n – 2, maka r tabel dalam penelitian ini adalah 0,200 yang didapat dari df = 96 – 2. Pernyataan dikatakan valid karena semua r hitung dalam tabel diatas > dari r tabel.

Tabel 4.12

Hasil Uji Validitas Kualitas Audit Nomor Butir

Pertanyaan Pearson Correlation

Sig Keterangan (2-Tailed)

Kait_1 0,708** 0,000 Valid

Kait_2 0,560** 0,000 Valid

Kait_3 0,684** 0,000 Valid

Kait_4 0,590** 0,000 Valid

Kait_5 0,580** 0,000 Valid

Kait_6 0,657** 0,000 Valid

Kait_7 0,650** 0,000 Valid

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Tabel 4.8 menunjukan variabel kualitas audit mempunyai kriteria valid untuk semua item pernyataan dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 nilai r tabel diperoleh dari df (degree of freedom) = n – 2, maka r tabel dalam penelitian ini adalah 0,200 yang didapat dari df = 96 – 2. Pernyataan dikatakan valid karena semua r hitung dalam tabel diatas > dari r tabel.

4.2.2.2 Hasil Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan tersebut konsisten atau stabil dari

waktu ke waktu. Untuk mengukur reliabilitas digunakan uji statistik Cronbach Alfa (α). Suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach’s Alfa >

0,70. Sedangkan, jika sebaliknya data tersebut dikatakan tidak reliabel (Ghozali, 2013:47). Hasil uji reliabilitas untuk 4 variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dapat ditunjukan pada tabel 4.13

Tabel 4.13 Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Cronbach’s

Alpha Keterangan

Kompetensi Auditor 0,773 Valid

Motivasi Auditor 0,739 Valid

Gaya Kepemimpinan 0,912 Valid

Kualitas Audit 0,751 Valid

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Tabel 4.13 menunjukkan hasil uji reliabilitas untuk keempat variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Nilai Crobach’s Alpha atas variabel Kompetensi Auditor sebesar 0,773, variabel Motivasi Auditor sebesar 0,739, variabel Gaya Kepemimpinan 0,912 dan variabel Kualitas Audit 0,751 Dapat disimpulkan bahwa pernyataan dalam kuesioner ini reliabel karena mempunyai nilai cronbach’s alpha lebih besar dari 0,7 (cronbach’s alpha > 0,7). Hal ini menunjukkan bahwa setiap item pernyataan yang digunakan akan mampu memperoleh data yang konsisten yang berarti bila pernyataan itu diajukan kembali akan diperoleh jawaban yang relatif sama dengan jawaban sebelumnya.

4.2.3 Uji Asumsi Klasik

4.2.3.1 Hasil Uji Multikolonieritas

Pengujian multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen (Ghozali, 2013:101).

Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Untuk mendeteksi adanya problem multikolonieritas maka dapat dilakukan dengan melihat nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF) serta besaran korelasi antar variabel independen.

Tabel 4.14

Hasil Uji Multikolonieritas

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized

Coefficients t Sig.

Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 21.945 2.044 10.738 .000

Kmp_Total .231 .065 .356 3.544 .001 .884 1.131

Mtv_Total .166 .073 .284 2.276 .025 .573 1.744

Gk_Total -.117 .053 -.277 -2.203 .030 .564 1.773

a. Dependent Variable: Kait_Total

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Suatu model regresi dapat dikatakan bebas multikolonieritas jika mempunyai nilai VIF kurang dari 10, dan nilai tolerance tidak kurang dari 0,1 (Ghozali, 2013:104). Tabel 4.14 menunjukan bahwa nilai tolerance tidak kurang dari 0,10 yang berarti tidak ada korelasi antar variabel independen. Hasil perhitungan nilai Variance Inflation Factor (VIF) menunujukan hasil lebih dari 10 yang berarti juga tidak ada korelasi antar variabel independen, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolonieritas antar variabel independen dalam

4.2.3.2 Hasil Uji Normalitas

Pengujian normalitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel dependen dan variabel independen atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak (Ghozali, 2013:154).

Gambar 4.1

Uji Normalitas Grafik Normal P-Plot

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. Sedangkan jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas (Ghozali, 2013:156). Pada Gambar 4.1 memperlihatkan bahwa data tersebar disepanjang garis diagonal, serta arah penyebarannya mengikuti arah garis diagonal. Sehingga model regresi telah memenuhi asumsi normalitas.

Gambar 4.2

Uji Normalitas Histogram

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Uji lain yang dapat digunakan untuk menguji normalitas adalah melaui grafik histogram, gambar 4.2 menunjukkan bahwa puncak grafik mendekati batang sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi berdistribusi normal.

4.2.3.3 Hasil Uji Heteroskedastisitas

Pengujian heteroskedastisitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians dari residual dari suatu

pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas. Jika varians berbeda, disebut heteroskedastisitas (Ghozali, 2013:134).

Gambar 4.3

Uji Heteroskedasitas Scatterplot

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Cara mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas yaitu dengan melihat ada atau tidaknya pola tertentu pada grafik dan titik-titik menyebar di atas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2013:134). Berdasarkan gambar 4.3, grafik scatterplot diatas menunjukkan bahwa data tersebar di atas dan dibawah angka 0 (nol) dan gambar tersebut tidak terdapat suatu pola yang jelas pada penyebaran data tersebut. Hal ini menunjukan tidak terjadi heteroskedastisitas pada model persamaan regresi, sehingga model regresi layak digunakan untuk memprediksi kualitas audit, berdasarkan variabel yang

mempengaruhinya, yaitu kompetensi auditor, motivasi auditor dan gaya kepemimpinan.

4.2.4 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien Determinasi (R²) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.

Tabel 4.15

Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .423a .179 .152 2.209

a. Predictors: (Constant), Gk_Total, Kmp_Total, Mtv_Total b. Dependent Variable: Kait_Total

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Tabel 4.15 menunjukkan nilai Adjusted R Square sebesar 0,152 atau 15,2%, ini menunjukkan bahwa variabel kualitas audit yang dapat dijelaskan oleh kompetensi auditor, motivasi auditor dan gaya kepemimpinan adalah sebesar 15%, sedangkan sisanya 0,848% atau 84,8% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini. Faktor-faktor lain diantaranya seperti variabel pengalaman kerja dan akuntabilitas serta objektivitas dalam penelitian Furiady et al (2015), variabel independensi dan integritas dalam penelitian Ningrum et al (2017), variabel tekanan klien dalam penelitian Saputra (2015), variabel kompleksitas tugas dalam penelitian Hari et al (2015), variabel etika auditor dalam penelitian Wardana (2016).

4.2.5 Hasil Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan model analisis regresi berganda (multiple regression analysis), persamaan regresinya yaitu:

Tabel 4.16 Persamaan Regresi

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 21.945 2.044 10.738 .000

Kmp_Total .231 .065 .356 3.544 .001

Mtv_Total .166 .073 .284 2.276 .025

Gk_Total -.117 .053 -.277 -2.203 .030

a. Dependent Variable: Kait_Total

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Berdasarkan tabel diatas didapat persamaan regresi sebagai berikut:

Kait = 21,945 + 0,231 + 0,166 – 0,117 + е Analisis atas persamaan regresi tersebut:

1. Konstanta 21,945 artinya jika kompetensi auditor (Kmp), motivasi auditor (Mtv), gaya kepemimpinan (Gk) memiliki nilai 0, maka kinerja auditor (kait) memiliki nilai 21,945.

2. Koefisien regresi variabel kompetensi auditor (Kmp) sebesar 0,231, artinya jika variabel independen lainnya tetap dan variabel kompetensi auditor (Kmp) mengalami kenaikan sebesar 1 maka kualitas audit (kait) akan meningkat sebesar 0,231.

3. Koefisien regresi variabel motivasi auditor (Mtv) sebesar 0,166, artinya jika variabel independen lainnya tetap dan variabel motivasi auditor (Mtv)

mengalami kenaikan sebesar 1 maka kualitas audit (kait) akan meningkat sebesar 0,166.

4. Koefisien regresi variabel gaya kepemimpinan (Gk) sebesar 0,117, artinya jika variabel independen lainnya tetap dan variabel gaya kepemimpinan (Gk) mengalami kenaikan sebesar 1 maka kualitas audit (kait) akan menurun sebesar 0,117.

4.2.5.1Hasil Uji parsial (Uji t)

Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen dan digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh masing-masing variabel independen secara individual terhadap variabel dependen yang diuji pada tingkat signifikansi 0,05 (Ghozali, 2013:97). Tabel 4.16 menyajikan hasil uji statistik t dalam penelitian ini sebagai berikut.

Tabel 4.17 Hasil Uji parsial (Uji t)

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 21.945 2.044 10.738 .000

Kmp_Total .231 .065 .356 3.544 .001

Mtv_Total .166 .073 .284 2.276 .025

Gk_Total -.117 .053 -.277 -2.203 .030

a. Dependent Variable: Kait_Total

Sumber: Data primer yang diolah (2018)

Rancangan hipotesis parsial yang telah disusun sebelumnya oleh peneliti adalah sebagai berikut:

Hipotesis 1 (H1) : Kompetensi auditor memiliki pengaruh terhadap kualitas audit.

Hipotesis 2 (H2) : Motivasi auditor memiliki pengaruh terhadap kualitas audit.

Hipotesis 3 (H3) : Gaya kepemimpinan memiliki pengaruh terhadap kualitas audit.

Dasar yang menjadi kriteria pengambilan keputusan adalah

1. Jika nilai probabilitas lebih besar dari 0,05, maka H0 diterima atau Ha ditolak.

2. Jika nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05, maka H0 ditolak atau Ha diterima.

Hasil uji parsial (uji t) pada tabel 4.16 adalah sebagai berikut:

1. Angka sig untuk koefisien Kmp sebesar 0,001, sig < 0,05, H0 ditolak. H1

diterima. Hal tersebut berarti variabel kompetensi auditor (Kmp) signifikan mempengaruhi variabel kualitas audit (Kait).

2. Angka sig untuk koefisien Kmp sebesar 0,025, sig < 0,05, H0 ditolak. H1

diterima. Hal tersebut berarti variabel motivasi auditor (Mtv) signifikan mempengaruhi variabel kualitas audit (Kait).

3. Angka sig untuk koefisien Kmp sebesar 0,030, sig < 0,05, H0 ditolak. H1

diterima. Hal tersebut berarti variabel gaya kepemimpinan (Gk) signifikan mempengaruhi variabel kualitas audit (Kait).

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian

4.3.1 Pengaruh Kompetensi Auditor (Kmp) Berpengaruh Secara Signifikan Terhadap Kualitas Audit (Kait)

Hasil pengujian hipotesis menunjukan signifikansi variabel kompetensi auditor 0,001 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel kompetensi auditor berpengaruh terhadap kualitas audit. Arah pengaruh variabel kompetensi auditor terhadap kualitas audit menunjukan bahwa positif dan searah, hal ini menunjukan semakin tinggi kompetensi dari seorang auditor maka akan meningkatkan kualitas audit yang dihasilkan.

Auditor yang memiliki kompetensi tinggi tentu akan dapat mendeteksi kesalahan dan melakukan proses audit lebih baik serta melakukan penalaahan terhadap kualitas audit yang dihasilkan. Seorang auditor secara kolektif memiliki kompetensi dan kemampuan yang sesuai untuk melaksanakan perikatan audit sesuai dengan standar profesi serta ketentuan hokum dan peraturan yang berlaku dan memungkinkan diterbitkannya laporan auditor yang sesuai dengan kondisinya (SA 220, Paragraf 14).

Kompetensi auditor tentu harus menjadi perhatian penting bagi kantor akuntan publik, karena apabila seorang auditor tidak memiliki kompetensi yang cukup dapat mengakibatkan kualitas audit menjadi buruk. Namun apabila kantor akuntan publik memiliki auditor yang memiliki kompetensi yang cukup, tentu saja akan meningkatkan kualitas audit yang dihasilkan oleh kantor akuntan publik tersebut.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Furiady et al (2015), Ningrum et al (2017), Ramadhanis (2012), Mansouri et al (2009), Hari et al (2015), dan Asmara et al (2016) bahwa kompetensi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas audit.

4.3.2 Pengaruh Motivasi Auditor (Mtv) Berpengaruh Secara Signifikan Terhadap Kualitas Audit (Kait)

Hasil pengujian hipotesis menunjukan signifikansi variabel motivasi auditor 0,025 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel motivasi auditor berpengaruh terhadap kualitas audit. Arah pengaruh variabel motivasi auditor terhadap kualitas audit menunjukan bahwa positif dan searah, hal ini menunjukan semakin tinggi motivasi auditor dalam melaksanakan audit maka akan meningkatkan kualitas audit yang dihasilkan.

Motivasi auditor sebagai tim perikatan dalam pelaksanaan audit tentu menjadi subjek penting, apabila seorang auditor tidak memiliki motivasi dalam melaksanakan pekerjaannya dapat menjadikan proses pemeriksaan tidak optimal, yang dapat mengakibatkan tidak terdeteksinya kesalahan-kesalahan material yang berpengaruh menurunnya kualitas audit. Jika seorang auditor memiliki motivasi tinggi dalam melaksanakan pekerjaanya, auditor pun akan semakin antusias dan berusaha memberikan yang terbaik dalam proses pemeriksaan laporan keuangan klien, dan diharapkan akan meningkatkan kualitas audit yang akan dihasilkan nantinya.

Penelitian ini pun sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Furiady et al (2015), Mansouri et al (2009), Asmara et al (2016) dan Wirasuasti et

al (2014) yang menyebutkan bahwa motivasi memiliki pengaruh terhadap kualitas audit, namum bertentangan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ramadhanis (2012) yang menyebutkan bahwa motivasi tidak memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.

4.3.3 Pengaruh Gaya Kepemimpinan (Gk) Berpengaruh Secara Signifikan Terhadap Kualitas Audit (Kait)

Hasil pengujian hipotesis menunjukan signifikansi variabel gaya kepemimpinan 0,030 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap kualitas audit. Arah pengaruh variabel gaya kepemimpinan terhadap kualitas audit menunjukan bahwa negatif dan tidak searah, hal ini menunjukan semakin tinggi gaya kepemimpinan mempengaruhi auditor maka kualitas audit semakin rendah.

Gaya kepemimpinan ialah pola perilaku pemimpin dalam menpengaruhi sikap, perilaku dan sebagainya pada para pengikutnya (Wirawan, 2013). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa gaya kepemimpinan yang diberikan oleh seorang pimpinan terhadap auditornya dapat mengurangi kualitas audit yang dihasilkan.

Hal ini mungkin dapat disebabkan apabila seorang pimpinan terlalu andil dalam pekerjaan auditor maka auditor tidak dapat bekerja dengan baik dan pimpinan tidak dapat menjaga kualitas audit dari sisi yang lebih penting dan signifikan sehingga menyebabkan kualitas audit menjadi menurun.

Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitan sebelumnya yang dilakukan oleh Saputra (2015) dan Wardana (2016) yang menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan memiliki pengaruh positif terhadap kualitas audit.

Dokumen terkait