BAB VI HAIL PENELITIAN DAN PEMBAHSAN
B. Hasil Penelitian
4. Agama
Indonesia adalah negara yang membebaskan warga Negaranya memilih kepercayaannya masing-masing. Hal ini lah menjadi panutan warga di Desa Tolangi yang mayoritas beragama Islam memberikan ruang kepada warga yang memiliki kepercayaan selain Islam, untuk menempati wilayah tertentu pada Desa tersebut, sebanyak 305 jiwa yang Beragama Protestan, 24 jiwa Khatolik, 5 jiwa Hindu. Dalam kesehariannnya, mereka saling memberi ruang pada masing-masing agama untuk melaksanakan kesehariannya dan kepercayaannya menurut tatanan kenyakinan mereka, bahkan masalah perkawinan pun di laksanakan dengan tata cara ke agama atau keyakinan masing-masing.
2. Hasil Penelitian Berdasarkan Wawancara
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang tidak terungkap melalui wawancara di lengkapi dengan data hasil observasi langsung. Untuk memperkuat substansi data hasil wawancara, dan observasi, maka dilakukanlah penelusuran terhadap dukomen dan arsip yang ada. Semua data hasil penelitian ini diuraikan berdasarkan pada fokus penelitian yaitu sebagai berikut:
1. Tinjauan Sosio Yuridis Terhadap Perkawinan Dibawah Umur Di Desa Tolangi Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu utara
1.1. Tinjauan Sosiologis
Pandangan masyarakat tentang perkawinan dibawah umur di desa Tolangi mengalami pro dan kontra dimana ada yang setuju dan juga yang tidak setuju. Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu ida salah satu orang tua pelaku perkawinan di bawah umur sebagai berikut:
“saya menganggap perkawinan dibawah umur itu harus dilangsungkan sebelum anak tersebut terjerumus kedalam perbuatan dosa”
Sedangkan hasil wawanccara dengan ibu lisa selaku salah seorang warga yang mengatan bahwa:
“seharusnya perkawinan dibawah umur tidak berlangsung karena kebanyakan usia anak-anak belum siap dalam melangsungkan kehidupan rumah tangga”
Dalam lingkungan masyarakat di Desa Tolangi perkawinan dibawah umur merupakan salah satu tindakan yang dapat memberikan
efek sosial bagi keluarga yang telah melakukan perkawinan dibawah umur. seperti hasil wawancara dengan responden SN pelaku perkawinan dibawah umur :
“setelah saya melangsungkan pernikahan banyak tetangga yang menyalahkan keluarga saya padahal pernikahan ini berlangsung bukan salah keluarga saya tetapi salah saya sendiri”
Ditegaskan dengan hasil wawancara dengan oleh salah satu tokoh masyarakat yaitu pak muhlis:
“kebanyakan yang telah melangsungkan perkawinan dibawah umur di Desa Tolangi kebanyakan menyalahkan pola asuh dari kedua orang tua pelaku”
Di Desa Tolangi sebagian besar tidak melarang adanya perkawinan dibawah umur dengan alasan bahwa perkawinan merupakan sarana untuk menghindari dari perbuatan zina dan mengurangi beban dan tanggung jawab orang tua namun ada juga sebagian yang tidak setuju dikarenakan perkawinan harus mempunyai kesiapan lahir dan batin untuk membina rumah tangga sesuai dengan tujuan perkawinan itu sendiri. Perkawinan yang terjadi di Desa Toalngi tidak terlepas dari kehidupan mayarakat yang melakukan perkawinan di bawah umur dengan mudah. Adanya perkawinan dibawah umur tidak terlepas dari pengaruh sosial, ketika ada Undang- Undang yang mengatur kehidupan rumah tangga dengan baik, akan tetapi tidak berjalan dengan mudah atau tidak berjalan sesuai deangan ketetuanyang berlaku karena adanya lingkungan sosial yang tidak mendukung aturan tersebut.
1.2. Tinjauan Yuridis
Undang-undang Negara kita telah mengatur batas usia perkawinan. Dalam Undang-undang pekawinan bab ll Pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun, sedangkan perempuan telah mencapai umur 16 tahun. Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas usia pernikahan tersebut tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan, hal ini dimaksudkan agar kedua belah pihak benar-benar siap dan matang dari segi fisik dan mental untuk menjalani rumah tangga, meskipun kenyataannya belum tercapai.
Kebanyakan perkawinan dibawah umur di desa tolangi tidak terdata di dalam KUA ditegaskan dengan hasil wawancara dengan Ketua KUA Ibnu Lahab:
“kami tidak mempunyai data perkawinan dibawah umur didesa tolangi hanya ada satu orng saja yang terdaftar yang lainnya tidak mereka tidak terdaftar biasanya karena mereka tidak mau mengikuti atau acuh dengan prosedur yang ada, mereka malas untuk mengurus dispensasi pernikahan”
Hasil wawancara dengan RF pelaku perkawinan dibawah umur menyatakan bahwa:
“saya dengan suami saya hanya menikah berdasarkan agama saja tidak terdaftar di KUA”
Sama halnya hasil wawancara dengan AD pelaku perkawinan dibawah umur yaitu AD:
“ saya tidak mendaftarkankan perkawinan saya di KUA karena banyak yang harus dipersiapkan saya juga mendenger harus ke pengadilan agama”
Berbeda dengan hasil wawancara MT pelaku perkawinan dibawah umur yang menyatakan bahwa:
“ saya dengan suami saya sebelum menikah saya mendaftar di KUA dengan melalui pengadilan agama dengan meminta dispensasi perkawinan”
Sedangkan 5 lainnya juga tidak terdaftar di kantor KUA dengan alasan yang hampir sama . Dari 8 pelaku perkawinan dibawah umur hanya 1 orang saja yang tercatat dalam KUA (Kantor Urusan Agama) karena telah meminta dispensasi perkawinan di pengadilan agama selebihnya yaitu 7 orang tidak terdaftar di KUA (Kantor Urusan Agama) mereka hanya nikah sebatas agama saja tidak dengan norma hukum yang ada.
1.3. Tinjauan Agama Dari Sudut Pandang Islam
Dalam tinjauan agama dari sudut pandang islam tentang perkawinan dibawah umur di Desa Tolangi berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh agama yaitu Andi fitri menyatakan bahwa :
“yang terjadi di tengah masyarakat perkawinan dibawah umur yang berlangsung kebanyakan mereka mengabaika perbuatan dosa yang mereka lakukan sebelum nikah mereka mengabaikan apa yang akan mereka terima di akhirat nanti akibat perzinahan”
Dalam Islam memandang kemashalatan atau kebaikan, jika seseorang akan terjerumus ke dalam lembah dosa atau perzinaan maka perkawinan dini harus dilakukan. Seperti hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat yaitu pak muhlis:
“karena pergaualan bebas anak-anak remaja sekarang di pengaruhi oleh lingkugan mereka sehingga terjadi kehamilan, mereka terpaksa nikah dibawah umur mereka mengetahui bahwa
yang mereka lakukan adalah perbuatan dosa namun mereka mengabaikannya”
Tetapi bila tidak ada masalah sebaik pernikahan mencapai usia dewasa karena sepasang suami istri akan menanggung beban rumah tangga baik moril dan materil untuk itu diharuskan calon pengantin mencapai usia kematangan untuk menikah, minimal 18 tahun untuk perempuan dan 21 tahun untuk laki-laki. Hasil wawancara dengan ketua Kua yaitu Ibnu Lahab menyatakan bahwa :
“ada permohonan dari orang tua yang meminta dispensasi agar anak mereka yang masih berusia belia boleh menikah dikarenakan anak mereka sudah hamil di luar nikah. Selebihnya dispensasi dimohonkan karena para orang tua khawatir putra putri mereka berzina atau hubungan seksual diluar nikah”
Sementara dalam hukum Islam tidak menyebutkan batas usia perkawinan, namun secara umum disebutkan akil baligh yang meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap jiwa kedua mempelai, beratanggung jawab, memenuhi kesehatan untuk melahirkan, untuk mendapat keturunan baik dan sehat. HR. Bukhari-Muslim mengatakan bahwa:
“ Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya”
Dari 8 pelaku perkawinan dibawah umur 7 diantaranya telah melakukan perzinahan (hamil diluar nikah) hanya 1 orang saja yang melangsungkan perkawinan dikarenakan takut terjadi zina. Orang tua
pelaku pun juga hanya 1 orang saja yang menikahkan anaknya karena takut anaknya melakukan perbuatan dosa yaitu zina.
2. Faktor-faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Perkawinan dibawah Umur di Desa Tolangi Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara
Perkawinan merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarka Ketuhanan Yang Maha Esa. Dimana diatur dalam hukum positif yang tertuang dalam pasal 1 Undang-Undang No 7 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Perkawinan dibolehkan bagi pria dan wanita yang telah memenuhi batas umur yang telah ditentukan. Batasan umur tersebut di ataur dalam pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan disebutkan yaitu
“perkawinan hanya di izinkan jika pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita berumur 16 tahun”.
Dengan demikian, secara tidak langsung menyatakan bahwa perkawinan yang dilakukan oleh seorang pria dan seorang wanita yang belum mencapai umur sesuai dengan pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 harus memiliki konsekuensi hukum.
Saaat ini perkawinan dibawah umur masih terlihat di daerah-daerah kota mupun desa seperti halnya yang terdapat di Desa Tolangi masih ada yang melakukan Perkawinan dibawah umur. Berdasarkan hasil penelitian, penyusun menerima informasi dari pegawai KUA, aparat desa, tokoh- tokoh masyarakat yang penyusun dapatkan bahwa masih ada beberapa
pasangan yang melangsungkan perkawinan yang tidak sesuai dengan batas umur yang ditentukan dalam Undang-Undang. Hasil wawancara dengan kepala KUA yaitu Ibnu Lahab:
“Masih banyak sekali pasangan yang masih melakukan perkawinan dibawah umur yang tidak tercatat daalam KUA karena tidak memenuhi ketentuan pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 mereka hanya melakukan perkawinan bedasarkan agama masing- masing tanpa melihat dari segi hukum yang ada dan aturan-aturan yang berlaku dalam undang-undang”
Berdasarkan dari hasil penelitian, ada beberapa faktor yang melatar belakangi terjadinya perkawinan di bawah umur di Desa Tolangi:
2.1. Faktor Sosial
Salah satu faktor yang mempengaruhi perkawinan di bawah umur di Desa Tolangi, adalah masalah teman dan lingkungan mereka bergaul. Pergaulan merupakan imbas dari lingkungan tempat berinteraksi, banyak hal yang dapat terjadi dengan salah memilih teman serta lingkungan luar untuk bergaul. Sesuai hasil observasi yang peneliti lakukan di Desa Tolangi faktor pergaulan serta lingkunga tempat bergaul memicu terjadinya perkawinan di bawah umur. Beberapa remaja belia yang ada di Desa Tolangi memutuskan untuk menikah karena pergaulan yang terlanjur membawa mereka pada kondisi yang mengharuskan mereka untuk mengakhiri masa remaja dengan menjadi kepala atau ibu rumah tangga. Hasil wawancara dengan sekretaris desa tolangi yaitu pak wahadi yang mengatakan bahwa:
“di desa tolangi ini masih ada beberapa yang masih melangsungkan perkawinan dibawah umur dikarenakan pergaulan bebas yang mengakibatkan hamil diluar nikah yang mengahuskan mereka menikah di umur yang masih sangat mudah, bahkan mereka tidak mengetahui batas umur perkawinan yang du tetapkan dalam undang-undang”
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pelaku perkawinan dibawah umur, SN mengatakan bahwa:
“Saya di besarkan dengan keluarga yang tidak utuh orangtua saya sibuk dengan pekerjaan serta kesibukannya, sehingga saya mencari teman untuk bergaul. Teman saya membawa saya bergaul dengan teman-teman dan lingkungannya sehingga saya di perkenalkan dengan teman pria yang akhirnya menjadi teman spesial dan seiring berjalan waktu hubunga kami membuahkan hasil di luar perkawina sehingga saya harus memutuskan untuk menikah”
Hal tersebut menjelaskan bahwa teman bergaul dan lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan masa depan setiap individu, sehingga tidak jarang dari beberapa remaja terjerumus ke hal-hal yang tidak di inginkan. Selain itu faktor orangtua yang sibuk terkadang merupakan pemicu akan terjadinya hal tersebut karena sang anak yang kurang perhatian dari orangtua. Hal yang serupa jugadengan hasil wawancara dengan salah satu pelaku perkawinan di bawah umur CD yang mengatakan bahwa:
”Keluarga saya yang sibuk dengan urusannya materi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, serta bapak saya yang hanya sibuk dengan teman bergaulnya mendorong saya untuk mencari tempat dan teman bergaul yang cocok pula, sehingga pada akhirnya membawa saya pada hubungan yang terjadi di luar perkawinan, alasan ini yag mengakibatkan orangtua saya harus menikahkan saya demi menutupi aib keluarga”
Alasan tersebut di benarkan dengan hasil wawancara dengan ayah dari CD, yaitu Rusli yang mengatakan bahwa:
“Apalagi yag harus orangtua lakukan yang paling baik selain menikahkan anaknya yang sudah terlanjur melakukan hubungan sebelum menikah dan telah menyimpan hasil di rahim anak perempuan saya. Menikahkannya adalah jalan satu-satunya yang dapat keluarga lakukan demi kelangsungan hidupnya dan nama baik keluarga”
Selain itu hasil wawancara dengan RF yang merupakan salah satu pelaku perkawinan di bawah umur ini, menyatakan bahwa:
“Saya yang di besarkan dengan keluarga yang saat ini tidak utuh setelah ayah saya meninggal, dan ibu saya menikah lagi memicu saya untuk mencari teman bergaul yang bisa memberikan lingkunga yang hangat dalam berkomunikasi, akan tetapi malah terjadi pergaulan yang melampaui batas, sehingga akhirnya ada buah cinta dari pergaulan tersebut. Dan jalan terbaik adalah menikah meski umur saya masih muda”
Di benarkan denagn hasil wawancara dengan tokoh agama yaitu Andi Fitri yang mengatakan bahwa:
“ketika saya menikahkan pasangan yang masih dibawah umur salah satu pemicu mereka menikah dikarenakan hamil diluar nikah akibat pergaulan yang tidak sepantasnya dilakukan di usia mereka”
Dari uraian diatas memberikan penjelasan bahwa kondisi sosial atau lingkungan memberikan jalan kepada sang anak untuk melakukan hal-hal yang akan membawanya pada kondisi yang akan menghancurkan masa depannya. Sesuai pengamatan yang peneliti lakukan pada beberapa keluarga bahwa si anak melakukan hal tersebut oleh karena kurangnya pengawasan orangtua sehingga informan mencari jalan untuk mencari hiburan melalui teman dan tempat bergaul. Hal ini dilakukan karena informan ingin mencari tempat yang bisa membuatnya terhibur dalam kosongnya aktivitas. Kondisi
tersebut sejalan dengan hasil wawancara dengan saudara SC pelaku perkawinan dibawah umur menyatakan bahwa:
“Kondisi orangtua saya yag sibuk mendorong saya untuk mencari teman untuk menghibur diri. Hingga saya merasa menemukan tempat atau lingkungan dan teman bergaul, sehingga terjadilah hubungan yang tidak direncanakan. Meskipun ini bukan sepenuhnya salah orangtua tapi lebih kepada saya yang merasa”
Dengan pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa tidak semua akibat pergaulan merupakan kesalahan dari orangtua, pola perilaku dan perubahan dari anak juga merupakan pemicu terjadinya pergaulan yang tidak terkontrol. Hal yang hampir serupa dengan hasil wawancara dengan Rusli ayah dari CD bahwa:
“Alasan sibuk saja bukanlah alasan yang sangat mendorong terjadinya hal-hal yang negatif yang dapat terjadi pada si anak, karena selaku orangtua kami sudah berusaha mengontrol pergaulan anak kami, akan tetapi perkembangan pergaulan remaja dewasa ini sangat berkembang pesat dengan adanya kecanggihan teknlogi, sehingga kontrol dari orangtua sering terlepas karena kemapuan kami selaku orangtua yang masih kurang dalam mengakses teknologi yang di gunakan oleh anak remaja kami”
Berdasarkan hasil wawancara tersebut diketahui bahwa kecanggihan teknologi juga merupakan kendala yang dirasa sulit ntuk memberikan pengawasan terhadap anak dalam bergaul, hal ini di akibatkan karena ketidak mampuan orangtua dalam mengakses dunia teknologi yang berkembang secara pesat. Selain itu berdasarkan hasil wawancara dengan ibu RF mengatakan bahwa:
“Kepercayaan orangtua juga terkadang di manfaatkan oleh anak untuk melakaukan kemaunnya dengan teman bergaul mereka.
Orantua yang sangat percaya kepada putrinya bahwa pada pagi hari sampai sore hari anaknya sedang menempuh pendidikan pada sekolah yang di tuju, ternyata bolos dan keluar dengan teman bergaul mereka, sehingga buku ijazah dan harapan baik
sebagai hadiah kepada orangtua, akan tetapi buah cinta teman bergaullah yang di bawah ke rumah sebagai alasan yang mengharuskan anak perempuannya menikah pada usia dini”
Dari penjelasan tersebut memberikan kesimpulan pada peneliti bahwa teman dan tempat bergaul juga merupakan salah satu pemicu terjadinya perkawinan di bawah umur, ini terjadi karena adanya pergaulan yang bebas sehingga membawa para remaja untuk melakukan hal yang akan membawanya untuk mengambil keputusan untuk menikah pada umur yang masih dini.
2.2. Faktor Agama
Faktor agama juga merupakan faktor adanya perkawinan dibawah umur, dimana keluarga dan orang tua akan segera menikahkan anaknya jika sudah menginjak dewasa. Hal ini merupakan hal yang sudah biasa atau turun-temurun. Sebuah keluarga yang mempunyai anak gadis tidak akan merasa tenang sebelum anak gadisnya menikah seperti hasil wawancara dengan RT pelaku perkawinan dibawah umur:
“saya menikah karena keinginan orang tua saya mereka ingin melihat anaknya menikah secepatnya apalagi saya telah memiliki pacar yang telah akrab dengan keluarga saya ibu sya takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan sebelum pernikahan”
Orang tua akan merasa takut apabila anaknya akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan yang akan mencemari nama baik keluarganya. Di tegaskan dengan hasil wawancara dengan ibu dari RT yaitu bedah mengatakan bahwa:
“saya ingin melihat anak saya menikah saya takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kepada anak saya yang akan merusak nama baik keluarga apalagi dia sudah mempunyai pasangan”
Seperti hasil wawancara dengan salah satu pelaku perkawinan dibawah umur yaitu MT yang menyatakan bahwa.
“sebelum menikah suami saya selalu datang kerumah sehingga ibu saya merasa tidak enak dengan apa yang dilihat tetangga dan mungkin saja akan terjadi hal yang tidak baik makanya ibu saya menikahkan saya sebelum banyak cerita yang tidak benar beredar”
Ditegaskan dengan hasil wawancara dengan orang tua pelaku perkawinan dibawah umur yaitu ibu ida selaku ibu dari MT yang mengatakan bahwa.
“saya menikahkan anak saya agar tidak ada cerita yang tidak enak tentang anak saya beredar di tetangga karena meraka selalu pergi bersama dan suaminya selalu datang dirumah tanpa mengenal waktu dan juga saya takut anak saya akan melakukan perbuatan dosa sebelum mereka dinikahkan’
Dari beberapa wawancara diatas bersama beberapa responden menyatakan bahwa faktor perkawinan dibawah umur disebabkan karena faktor agama yaitu ada sebagian orang tua yang takut anaknya akan melakukan perbuatan dosa seperti perzinahan sebelum anak mereka meangsungkan pernikahan mereka takut dampak yang akan mereka dapatkan di akhirat nanti.
2.3. Faktor Ekonomi
Kebutuhan ekonomi merupakan alasaan yang banyak menjadi alasan beberapa pelaku perkawinan di bawah umur dan keluarga menikahkan atau memberikan persetujuan di adakannnya perkawinan.
Seperti hasil wawancara dengan SY pelaku perkawinan dibawah umur mengatakan bahwa:
“Masalah kebutuhan sehari-hari memang salah satu alasan dari kami menikah pada saat menemukan pasangan karena kan bisa ada yang membiayai kebutuhan kami. Seperti yang anda ketahui bahwa bapak saya meninggal dan ibu sya tidak ada pekerjaan tetapnya”
Hal ini di benarkan dengan hasil wawancara dengan Andi Fitri yang merupakan tokoh agama di desa Tolangi, menyatakan bahwa :
“Saya selalu mengajukan beberapa pertanyaan sebelum membantu pengurusan perkawinan bagi setiap pendaftar yang ingin menikah pada umur yag masih tergolong di bawah umur, akan tetapi alasan ekonomi merupakan salah satu persoalan yang di ungkap baik oleh kedua orangtua maupun sang calon pengantin”
Ungkapan dari tokoh agama tersebut memberikan pengutan tentang salah satu faktor yang melatar belakangi terjadinya perkawinan di bawah umur yang terjadi di Desa Tolangi. Seperti hasil wawancara dengan AD salah satu pelaku perkawinan dibawah umur yaitu:
“saya menikah untuk mengurangi beban orang tua yang telah banyak mengeluarkan biaya hidup untuk saya karena setelah saya menikah maka kehidupan hari-hari saya akan dibiayai oleh suami sya”
Faktor ekonomi menjadi jalan yang di tempuh oleh beberapa orangtua dan pelaku untuk mencari sosulusi masa depannya, meskipun hal tersebut belum tentu dapat menyelesaikan masalah. Solusi yang mereka jadikan jalan tersebut bisa jadi mendatangkan akibat baru dalam
kehidupan selanjutnya. Dari uraian tersebut dapat di simpulkan bahwa, faktor yang meletarbelakagi para remaja di Desa Tolangi melakukan perkawinan di bawah umur karena masalah ekonomi.