BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Kerangka Pikir
Seperti yang kita ketahui bahwa fenomena pernikahan di usia muda ini sudah di kenal sejak dahulu, di perkampungan biasa terdorong oleh adat dan
faktor pemicu lainnya. Tidak hanya di pedesaan di perkotaan pun marak terjadi oleh karena pergaulan remaja yang tak terkontrol. Oleh karena itu para pelaku ini mengabaikan amanat undang- undang serta tujuan dari pernikahan itu sendiri. Dalam amanat undang- undang No. 1 tahun 1974 bahwa pernikahan adalah sebuah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan untuk membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal yang didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini harusnya menjadi acuan dalam menjalani rumah tangga, bukan malah menjadikan pernikahan sekedar untuk menutup aib semata.
Dari beberapa dampak tersebut, maka penulis akan akan menyajikan kerangka konsep yang terbangun dalam kasus dampak perkawinan di bawah umur sebagai berikut:
BAGAN KERANGKA PIKIR
Perkawinan Dibawah Umur Di Desa Tolangi Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara
Hukum Positif Sosiologis
Pemahaman Masyarakat Terhadap Undang-Undang Perkawinan
Hukum Islam (pemahaman UU
Perkawinan)
Fator Penyebab Perkawinan dibawah umur
C. Defenisi Operasional Variabel
Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai yang akan diteliti, maka berikut adalah batasan definisi secara operasional masing-masing variabel:
1. Sosio yuridis mengkaji fenomena hukum didalam masyarakat dalam mewujudkan deskripsi, penjelasan, pengungkapan dan prediksi dan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman masyarakat mengenai perundang- undangan.
2. Perkawinan dibawah umur adalah perkawinan yang dilakukan di bawah usia yang seharusnya serta belum siap dan matang untuk melaksanakan perkawinan dan menjalani kehidupan rumah tangga.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menggambarkan dan mendeskripsikan fenomena-fenomena yang terjadi berdasarkan hasil penelitian dan pemaknaan terhadap data yang diperoleh dengan menggunakan pendekatan empiris yaitu usaha mendekati masalah yang diteliti dengan sifat hukum yang nyata atau sesuai dengan kenyataan yang hidup dalam masyarakat.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian ini adalah di Desa Tolangi Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara penyusun memilih lokasi ini karena melihat dimasyarakat tersebut masih terdapat perkawinan di bawah umur, hal ini sesuai dengan permasalahan yang dikaji.
2. Waktu penelitian
Waktu yang digunakan peneliti untuk penelitian ini dilaksanakan sejak tanggal dikeluarkannya izin penelitian dalam kurung waktu kurang lebih 1 bulan penelitian.
C. Sumber Data
Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari dua macam yaitu data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan secara langsung dari informan
dengan menggunakan teknik wawancara (interview guide) dan pengamatan (observasi), sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari pengkajian bahan pustaka berupa buku-buku, peraturan perundang-undangan, dokumen-dokumen pada instansi Yang berhubungan dengan masalah yang diteliti dengan menggunakan teknik dokumentasi. Secara jelas sumber data sebagai berikut:
1. Data primer
Merupakan data yang diperoleh dari obyek penelitian melalui observasi yakni mengamati secara langsung serta mencatat peristiwa penting yang berhubungan dengan pembahasan. Selanjutnya data yang diperoleh melalui wawancara tersebut sebagai data primer.
2. Data sekunder
Data ini diperoleh melalui telaah dokumen yang ada kaitannya dengan penelitian, data ini dapat melalui buku-buku hukum, bahan kepustakaan, peraturan perundang-undangan dan lain-lain.
D. Populasi dan Sample penelitian 1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkanboleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Yang menjadi populasi pada penelitian ini yaitu 1.104 orang yang telah melakukan perkawinan di Desa Tolangi kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara.
2. Sample
Sample adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sample dari penelitian ini yaitu pasangan yang melakukan perkawinan dibawah umur.
E. Instrumen Penelitian
Menurut Sugiyono (2017:222), penelitian kualitataif sebagai Human Instrumen, berfungsi menetapkan focus penelitian, memilih informan sebagai sumber data serta melakukan pengumpulan data, melalui kualiatas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan temuan. Namun selanjutnya setelah fokus penelitian menjadi jelas, maka dapat dikembangakan instrument penelitian sederhana yang diharapkan dapat melengkapi data dan membandingkan dengan data yang telah ditemukan melalui observasi dan wawancara.
Oleh karena itu, instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri, sebagai intrumen utama peneliti sudah melakukan observasi dengan mengamati secara langsung obyek peneliti, selanjutnya dilakukan wawancara dengan beberapa informan, sedangkan instrument lain berupa alat perekam untuk merekam saat peneliti mewawancarai informan, sedangkan kamera yang di gunakan untuk mengambil gambar-gambar sebagai dokumentsi saat melakukan penelitian, dan pedoman wawancara berupa pertanyaan-pertanyaan yang di siapkan oleh peneliti, untuk mengungkap informasi yang terkait dengan penelitian sehingga data yang di kumpulkan bersifat valid/sahih.
Untuk memperoleh fakta-fakta di lapangan, maka peneliti sebagai instrumen utama dan melengkapi diri dengan pedoman wawancara, alat dokumentasi seperti perekam dan kamera serta alat catatan (pulpen dan buku).
F. Teknik Pengumpulan Data
Dalam proses pengumpulan data dalam penelitian Kualitatif di rancang dan di susun oleh peneliti sendiri agar tersusun secara baik dan sistematis agar penelitian menghasilakan data yang valid/sahih. Mengacu pada urgensi pengkajian yang dikembangkan dalam penelitian ini, maka digunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Teknik observasi
Teknik observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung pada wilayah yang merupakan lokasi penelitian, pada lokasi tersebut peneliti mengamati berbagai hal yang berhubungan dengan perkawina di bawah umur. Hal yang paling penting dalam proses observasi ini adalah mengamati pelaku perkawinan di bawah umur, agar di dapatkan data yang valid tentang latar belakang serta akibat yang akan timbul dengan adanya perkawinan di bawah umur serta bagaimana solusi yang bisa di tawarkan dalam meminimalisir perkawinan di bawah umur tersebut agar tida berdampak negatif pada warga yang lain.
2. Teknik wawancara
Teknik wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan tanya jawab dengan pelaku perkawinan di bawah umur
atau key informan (informan kunci/Utama), Hal ini di maksudkan untuk memperoleh data langsung dari para pelaku perkawinan di bawah umur yang di dukung oleh beberapa informan tambahan yaitu orang tua dari pelaku perkawinan dibawah umur serta kepala desa, kepala kantor urusan agama (KUA).
3. Dokumentasi
Dokumetasi merupakan rekaman kejadian masa lalu yang ditulis atau dicetak, dapat berupa catatan, suara, buku harian, dan dokumen- dokumen. Pada kesempatan ini peneliti menelusuri berbagai data yang ada pada di kantor urusan agama (KUA). Selain itu, proses dokumentasi ini juga sengaja peneliti adakan untuk memperkuat hasil penelitian ini, dengan meghadirkan gambar selama peneliti melaksanakan penelitian.
G. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik deskriptif kualitatif, dimana seluruh data yang diperoleh dari observasi, wawancara, maupun dokumentasi. Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan data
Semua data yang diperoleh tentang tinjauan sosio yuridis terhadap perkawinan dibawah umur dikumpulkan dan dicatat secara objektif kemudian diperiksa, diatur, kemudian di urutkan secara sistematis. Penulis mengumpulkan data baik dari observasi yang dilakukan dan wawancara dengan beberapa informan tersebut dikumpulkan, serta diperkuat dengan
adanya kumpulam dokumentasi dijadikan satu sehingga memudahkan peneliti dalam penyajian data.
2. Reduksi data
Proses pemilihan, pemusatan perhataian pada penyederhanaan pengabstarakan dan informasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan pada lokasi penelitian di Desa Tolangi. Setelah peneliti mengumpulkan data, maka peneliti akan melakaukan pemilihan data yang mana cocok dengan fokus penelitian yang akan diteliti melalui penyederhanaa sehingga memudahkan peneliti dalam penyajian data.
3. Penyajian data
Dilakukan dengan mendeskripsikan sekumpulan informasi secara teratur dan sistematis yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan berdasarkan atas pemahaman yang didapat. Setelah peneliti mereduksi data maka peneliti akan mendeskripsikan hasil penelitian baik dalam observasi, wawancara, maupun dokumentasi untuk memudahkan dalam penarikan kesimpulan pada hasil penelitian.
4. Verifikasi
Upaya mendapatkan kepastian akan keabsahan dari data yang telah diperoleh, dengan memperhatikan kejelasan dari setiap sumber data yang ada.dengan demikian maka peneliti dapat menarik kesimpulan berdasarkan data dari keseluruhan proses yang telah dilaksanakan. Setelah peneliti menyajikan data dengan mendeskripsikan hasil dari penelitian maka peneliti
akan menarik suatu kesimpulan dari hasil penelitian yang ditemukan dilapangan.
BAB VI
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Lokasi yang digunakan untuk penelitian adalah Desa Tolangi, Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara. Sehubungan dengan penelitian ini, maka yang harus diketahui adalah kondisi geografis, demografis, dan keadaan sosial ekonomi.
a. Kondisi Geografis
Lokasi yang digunakan untuk penelitian adalah Desa Tolangi Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara. Letak topografis tanahnya datar, dengan luas wilayah sekitar 452 Ha, sebagian besar wilayah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk lahan pertanian, seperti perkebunan dan persawahan sehingga sebagian besar masyarakat desa adalah petani dan petani penggarap.
Desa Tolangi berada pada bagian Kecamatan Sukamaju dengan batas wilayah :
1) Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Sukamaju
2) Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Bone-bone 3) Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Mulyorejo 4) Sebelah Barat berbatasan dengan Desa sidoraharjo b. Kondisi Demografi Daerah Penelitian
1. Jumlah Penduduk
Desa Tolangi yang luas keseluruhannya 452 Ha, terbagi atas 4 dusun dan sejumla 10 RT (Rukun Tetangga). Desa tersebut dihuni oleh
sekitar 2.135 Jiwa yang terdiri dari 1.090 Jiwa laki-laki dan 1.45 Jiwa perempuan. Berdasarkan jumlah tersebut jumlah jenis kelamin laki-laki lebih banyak dari jumlah jenis kelamin Perempuan. Untuk lebih jelasnya disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 1. Jumlah Penduduk di Desa Tolangi Berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis Kelamin Jumlah
1. Laki-Laki 1.090 jiwa
2. Perempuan 1045 jiwa
Jumlah 2.135 jiwa
Sumber : Profil Desa Tolangi, 2018-2019
c. Kondisi Sosial dan Ekonomi Desa Tolangi
Desa Tolangi yang merupakan bagian Kecamatan Sukamaju, yang memiliki luas 452 Ha dengan 2.135 jiwa ini, memiliki kondisi ekonomi dan sosial yang beragam, sebagai berikut :
1. Tingkat perekonomian
Luas wilayah Desa Tolangi yang memiliki luas 452 Ha dengan kondisi sebagian besar wilayahnya adalah wilayah perkebunan dan persawahan ini, sebagian besar menjalani hidup sebagai petani, Dalam kesehariannya petani dengan berbekal pengetahuan dan keterampilan yang seadanya, menyebabkan para petani memiliki penghasilan yang
beragam pula. Degan pengetahuan bertani yang seadanya inilah yang menyebabkan tingkat perekonomian di wilayah ini tergolong masih kurang dalam memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Jika hal ini dirumuskan dalam penggolongan tahapan keluarga, maka Desa Tolangi sebagian penduduknya termasuk keluarga pra sejahtera dan secara umum tergolong dalam keluarga sejahtera I, hal ini dapat di lihat dari kondisi sehari-hari mereka yang terkadang belum dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan baik. Alasan ini menyebabkan masih banyak penduduk yang tidak menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya dana dan kurangnya pengetahuan orang tua terhadap pendidikan. Hal ini karena menurut mereka mencari pekerjaan seadanya yang penting bisa makan itu sudah cukup, bahkan ada beberapa orang tua membebankan pekerjaan yang masih tidak sesuai dengan umur mereka, seperti menjadi buruh bangunan, toko, ikut berkebut dengan beban kerja yang berat serta ada pula yang memberhentikan anaknya dengan alasan membantu di rumah saja dan orangtuanya yang mencari nafkah, baik sebagai petani maupun pedagang.
2. Mata Pencaharian
Desa Toalngi yang dihuni oleh 2.135 jiwa secara keseluruhan bermata pencaharian beragam, tetapi yang lebih dominan adalah petani.
Adapun yang lain bermata pencaharian sebagai PNS, pedagang, peternak, dan buruh, merupakan pekerjaan yang digeluti hanya sebagian kecil dari penduduk saja.
3. Jenjang Pendidikan
Taraf hidup atau tingkat kemakmuran suatu masyarakat atau wilayah akan tercermin dari kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat. Secara umum pendidikan merupakan faktor penentu tinggi rendahnya tingkat sosial pada masyarakat. Bidang pendidikan sangat erat kaitannya dengan tingkat kemajuan yang akan dicapai suatu masyarakat, karena bidang ini sangat mempengaruhi cara manusia berfikir dan menentukan masyarakat desa kepada suatu kemajuan atau pembangunan, khususnya dalam pembangunan masyarakat sendiri sebagian masyarakatnya masih tergolong miskin sangatlah membutuhkan pendidikan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk memperbaiki perekonomian keluarga.
Berikut Untuk lebih jelasnya disajikan tingkat pendidikan di Desa Tolangi dalam tabel berikut :
Tabel 2. Tingkat Pendidikan Di Desa Tolangi
No Tingkat Pendidikan Jumlah
1 Tidak Sekolah 542 Jiwa
2 Belum Tamat SD 257 Jiwa
3 SD 609 Jiwa
4 SLTP 303 Jiwa
5 SLTA 339 Jiwa
6 D1 DAN D2 12 Jiwa
7 D3 21 Jiwa
8 S1 51 Jiwa
9 S2 1 Jiwa
4. Agama
Indonesia adalah negara yang membebaskan warga Negaranya memilih kepercayaannya masing-masing. Hal ini lah menjadi panutan warga di Desa Tolangi yang mayoritas beragama Islam memberikan ruang kepada warga yang memiliki kepercayaan selain Islam, untuk menempati wilayah tertentu pada Desa tersebut, sebanyak 305 jiwa yang Beragama Protestan, 24 jiwa Khatolik, 5 jiwa Hindu. Dalam kesehariannnya, mereka saling memberi ruang pada masing-masing agama untuk melaksanakan kesehariannya dan kepercayaannya menurut tatanan kenyakinan mereka, bahkan masalah perkawinan pun di laksanakan dengan tata cara ke agama atau keyakinan masing-masing.
B. Hasil Penelitian
1. Klasifikasi Responden Berdasarkan Jenis Kelamanin dan Umur
No Informan umur Jenis kelamin
L P
1 MT 14 Tahun p
2 RT 15 Tahun P
3 SN 12 Tahun P
4 CD 15 Tahun P
5 SY 15 Tahun P
6 AD 15 Tahun P
7 SC 15 Tahun P
8 RF 15 Tahun P
Total 8
2. Hasil Penelitian Berdasarkan Wawancara
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang tidak terungkap melalui wawancara di lengkapi dengan data hasil observasi langsung. Untuk memperkuat substansi data hasil wawancara, dan observasi, maka dilakukanlah penelusuran terhadap dukomen dan arsip yang ada. Semua data hasil penelitian ini diuraikan berdasarkan pada fokus penelitian yaitu sebagai berikut:
1. Tinjauan Sosio Yuridis Terhadap Perkawinan Dibawah Umur Di Desa Tolangi Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu utara
1.1. Tinjauan Sosiologis
Pandangan masyarakat tentang perkawinan dibawah umur di desa Tolangi mengalami pro dan kontra dimana ada yang setuju dan juga yang tidak setuju. Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu ida salah satu orang tua pelaku perkawinan di bawah umur sebagai berikut:
“saya menganggap perkawinan dibawah umur itu harus dilangsungkan sebelum anak tersebut terjerumus kedalam perbuatan dosa”
Sedangkan hasil wawanccara dengan ibu lisa selaku salah seorang warga yang mengatan bahwa:
“seharusnya perkawinan dibawah umur tidak berlangsung karena kebanyakan usia anak-anak belum siap dalam melangsungkan kehidupan rumah tangga”
Dalam lingkungan masyarakat di Desa Tolangi perkawinan dibawah umur merupakan salah satu tindakan yang dapat memberikan
efek sosial bagi keluarga yang telah melakukan perkawinan dibawah umur. seperti hasil wawancara dengan responden SN pelaku perkawinan dibawah umur :
“setelah saya melangsungkan pernikahan banyak tetangga yang menyalahkan keluarga saya padahal pernikahan ini berlangsung bukan salah keluarga saya tetapi salah saya sendiri”
Ditegaskan dengan hasil wawancara dengan oleh salah satu tokoh masyarakat yaitu pak muhlis:
“kebanyakan yang telah melangsungkan perkawinan dibawah umur di Desa Tolangi kebanyakan menyalahkan pola asuh dari kedua orang tua pelaku”
Di Desa Tolangi sebagian besar tidak melarang adanya perkawinan dibawah umur dengan alasan bahwa perkawinan merupakan sarana untuk menghindari dari perbuatan zina dan mengurangi beban dan tanggung jawab orang tua namun ada juga sebagian yang tidak setuju dikarenakan perkawinan harus mempunyai kesiapan lahir dan batin untuk membina rumah tangga sesuai dengan tujuan perkawinan itu sendiri. Perkawinan yang terjadi di Desa Toalngi tidak terlepas dari kehidupan mayarakat yang melakukan perkawinan di bawah umur dengan mudah. Adanya perkawinan dibawah umur tidak terlepas dari pengaruh sosial, ketika ada Undang- Undang yang mengatur kehidupan rumah tangga dengan baik, akan tetapi tidak berjalan dengan mudah atau tidak berjalan sesuai deangan ketetuanyang berlaku karena adanya lingkungan sosial yang tidak mendukung aturan tersebut.
1.2. Tinjauan Yuridis
Undang-undang Negara kita telah mengatur batas usia perkawinan. Dalam Undang-undang pekawinan bab ll Pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun, sedangkan perempuan telah mencapai umur 16 tahun. Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas usia pernikahan tersebut tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan, hal ini dimaksudkan agar kedua belah pihak benar-benar siap dan matang dari segi fisik dan mental untuk menjalani rumah tangga, meskipun kenyataannya belum tercapai.
Kebanyakan perkawinan dibawah umur di desa tolangi tidak terdata di dalam KUA ditegaskan dengan hasil wawancara dengan Ketua KUA Ibnu Lahab:
“kami tidak mempunyai data perkawinan dibawah umur didesa tolangi hanya ada satu orng saja yang terdaftar yang lainnya tidak mereka tidak terdaftar biasanya karena mereka tidak mau mengikuti atau acuh dengan prosedur yang ada, mereka malas untuk mengurus dispensasi pernikahan”
Hasil wawancara dengan RF pelaku perkawinan dibawah umur menyatakan bahwa:
“saya dengan suami saya hanya menikah berdasarkan agama saja tidak terdaftar di KUA”
Sama halnya hasil wawancara dengan AD pelaku perkawinan dibawah umur yaitu AD:
“ saya tidak mendaftarkankan perkawinan saya di KUA karena banyak yang harus dipersiapkan saya juga mendenger harus ke pengadilan agama”
Berbeda dengan hasil wawancara MT pelaku perkawinan dibawah umur yang menyatakan bahwa:
“ saya dengan suami saya sebelum menikah saya mendaftar di KUA dengan melalui pengadilan agama dengan meminta dispensasi perkawinan”
Sedangkan 5 lainnya juga tidak terdaftar di kantor KUA dengan alasan yang hampir sama . Dari 8 pelaku perkawinan dibawah umur hanya 1 orang saja yang tercatat dalam KUA (Kantor Urusan Agama) karena telah meminta dispensasi perkawinan di pengadilan agama selebihnya yaitu 7 orang tidak terdaftar di KUA (Kantor Urusan Agama) mereka hanya nikah sebatas agama saja tidak dengan norma hukum yang ada.
1.3. Tinjauan Agama Dari Sudut Pandang Islam
Dalam tinjauan agama dari sudut pandang islam tentang perkawinan dibawah umur di Desa Tolangi berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh agama yaitu Andi fitri menyatakan bahwa :
“yang terjadi di tengah masyarakat perkawinan dibawah umur yang berlangsung kebanyakan mereka mengabaika perbuatan dosa yang mereka lakukan sebelum nikah mereka mengabaikan apa yang akan mereka terima di akhirat nanti akibat perzinahan”
Dalam Islam memandang kemashalatan atau kebaikan, jika seseorang akan terjerumus ke dalam lembah dosa atau perzinaan maka perkawinan dini harus dilakukan. Seperti hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat yaitu pak muhlis:
“karena pergaualan bebas anak-anak remaja sekarang di pengaruhi oleh lingkugan mereka sehingga terjadi kehamilan, mereka terpaksa nikah dibawah umur mereka mengetahui bahwa
yang mereka lakukan adalah perbuatan dosa namun mereka mengabaikannya”
Tetapi bila tidak ada masalah sebaik pernikahan mencapai usia dewasa karena sepasang suami istri akan menanggung beban rumah tangga baik moril dan materil untuk itu diharuskan calon pengantin mencapai usia kematangan untuk menikah, minimal 18 tahun untuk perempuan dan 21 tahun untuk laki-laki. Hasil wawancara dengan ketua Kua yaitu Ibnu Lahab menyatakan bahwa :
“ada permohonan dari orang tua yang meminta dispensasi agar anak mereka yang masih berusia belia boleh menikah dikarenakan anak mereka sudah hamil di luar nikah. Selebihnya dispensasi dimohonkan karena para orang tua khawatir putra putri mereka berzina atau hubungan seksual diluar nikah”
Sementara dalam hukum Islam tidak menyebutkan batas usia perkawinan, namun secara umum disebutkan akil baligh yang meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap jiwa kedua mempelai, beratanggung jawab, memenuhi kesehatan untuk melahirkan, untuk mendapat keturunan baik dan sehat. HR. Bukhari-Muslim mengatakan bahwa:
“ Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya”
Dari 8 pelaku perkawinan dibawah umur 7 diantaranya telah melakukan perzinahan (hamil diluar nikah) hanya 1 orang saja yang melangsungkan perkawinan dikarenakan takut terjadi zina. Orang tua
pelaku pun juga hanya 1 orang saja yang menikahkan anaknya karena takut anaknya melakukan perbuatan dosa yaitu zina.
2. Faktor-faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Perkawinan dibawah Umur di Desa Tolangi Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara
Perkawinan merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarka Ketuhanan Yang Maha Esa. Dimana diatur dalam hukum positif yang tertuang dalam pasal 1 Undang-Undang No 7 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Perkawinan dibolehkan bagi pria dan wanita yang telah memenuhi batas umur yang telah ditentukan. Batasan umur tersebut di ataur dalam pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan disebutkan yaitu
“perkawinan hanya di izinkan jika pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita berumur 16 tahun”.
Dengan demikian, secara tidak langsung menyatakan bahwa perkawinan yang dilakukan oleh seorang pria dan seorang wanita yang belum mencapai umur sesuai dengan pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 harus memiliki konsekuensi hukum.
Saaat ini perkawinan dibawah umur masih terlihat di daerah-daerah kota mupun desa seperti halnya yang terdapat di Desa Tolangi masih ada yang melakukan Perkawinan dibawah umur. Berdasarkan hasil penelitian, penyusun menerima informasi dari pegawai KUA, aparat desa, tokoh- tokoh masyarakat yang penyusun dapatkan bahwa masih ada beberapa