PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
KAJIAN PUSTAKA
Kajian Pustaka
- Tinjauan tentang sosio yuridis
- pengertian perkawinan
- Tujuan Perkawinan
- Asas-asas perkawinan
- Syarat sahnya perkawinan
Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menyatakan perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum setiap agama dan kepercayaan. Menurut Pasal 3 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan asas monogami relatif, artinya boleh sepanjang undang-undang dan agama mengizinkan. Sedangkan menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, tujuannya adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.
Bagi calon pengantin yang belum berumur 21 tahun, wajib memperoleh izin sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat 2-5, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Syarat-syarat perkawinan dalam hukum nasional diatur dalam ketentuan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang meliputi syarat-syarat materil dan syarat formil.
Kerangka Pikir
Tinjauan Sosial Perkawinan Anak di Desa Tolangi Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara. Pandangan masyarakat terhadap perkawinan anak di Desa Tolangi mempunyai pro dan kontra, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Dalam konteks masyarakat di Desa Tolangi, perkawinan anak merupakan suatu tindakan yang dapat membawa manfaat.
Dalam ulasan agama perspektif Islam mengenai perkawinan di bawah umur di Desa Tolangi, berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh agama yaitu Andi Fitri mengatakan hal tersebut. Faktor Penyebab Pernikahan Di Bawah Umur di Desa Tolangi Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara. Sebagaimana hasil wawancara dengan salah satu pelaku pernikahan di bawah umur yaitu MT mengatakan demikian.
Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan orang tua pelaku pernikahan di bawah umur yaitu Ny. Ida selaku ibu MT yang mengatakan hal tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan, perkawinan di bawah umur di Desa Tolangi Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara masih terdapat sebagian yang melakukan perkawinan yang tidak sesuai dengan peraturan perkawinan yang berlaku. Perkawinan di bawah umur yang terjadi di Desa Tolangi Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara disebabkan oleh nilai-nilai yang ada di masyarakat dan rendahnya pengetahuan mengenai hukum perkawinan yang berlaku.
Pernikahan Di Bawah Umur di Desa Tolangi Dari 8 pelaku pernikahan di bawah umur, 5 orang diantaranya karena faktor sosial atau lingkungan, 1 orang karena faktor ekonomi, dan 2 orang lainnya karena takut perselingkuhan.
Devenisi Operasional Variabel
METODE PENELITIAN
- Jenis dan Desain Penelitian
- Lokasi dan waktu Penelitian
- Sumber data
- Populasi dan sample penelitian
- Instrumen Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
Segala data yang diperoleh sehubungan dengan pemeriksaan sosial hukum perkawinan anak dikumpulkan dan dicatat secara obyektif, kemudian dikaji, disusun, dan kemudian dipilah secara sistematis. Di Desa Tolangi sebagian besar tidak melarang perkawinan anak dengan alasan bahwa perkawinan merupakan sarana untuk menghindari perbuatan zina dan mengurangi beban dan tanggung jawab orang tua, namun ada pula yang tidak setuju karena perkawinan memerlukan kebugaran jasmani dan rohani untuk membangun yang cocok. rumah tangga, untuk tujuan perkawinan itu sendiri. Saat ini perkawinan anak masih banyak terjadi di wilayah perkotaan dan perdesaan, seperti di Desa Tolangi masih terdapat masyarakat yang menikahkan anak.
Sedangkan berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHPidana) dan Undang-Undang Perlindungan Anak, terdapat sanksi pidana yang terkait dan tidak menutup kemungkinan antara lain juga diterapkan kepada pelaku perkawinan di bawah umur. Perkawinan anak di Desa Tolangi, masalah lingkungan atau sosial, menjadi alasan yang sering digunakan banyak orang untuk mencari pekerjaan dengan cara berkumpul bersama teman, meski hal ini seringkali membawa permasalahan baru di kemudian hari. Perkawinan anak di Desa Tolangi dimana dari 8 orang pelaku perkawinan anak hanya 1 orang yang terdaftar di KUA dan menerapkan aturan hukum perkawinan, 7 orang lainnya tidak terdaftar di KUA. Mereka menikah hanya atas dasar agama dan tidak mengikuti aturan hukum yang ada.
2015. Tinjauan Hukum Perkawinan Di Bawah Umur (Studi Kasus Kelurahan Mapia Kabupaten Dogiyai Provinsi Papua Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974), Tesis Makassar: Perundang-undangan Universitas Indonesia Timur. Apa peran Anda sebagai orang tua dalam menangani anak yang menikah di bawah umur?
HAIL PENELITIAN DAN PEMBAHSAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Letak topografi tanah yang datar, dengan luas sekitar 452 hektar, sebagian besar wilayah tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk lahan pertanian seperti perkebunan dan persawahan, sehingga mayoritas penduduk desa tersebut berprofesi sebagai petani dan petani penggarap. . Berdasarkan angka tersebut, jumlah laki-laki lebih banyak dibandingkan jumlah perempuan. Desa Tolangi yang termasuk dalam Kecamatan Sukamaju mempunyai luas wilayah 452 Ha dengan jumlah penduduk 2.135 jiwa, mempunyai kondisi ekonomi dan sosial yang berbeda-beda sebagai berikut.
Luas wilayah Desa Tolangi adalah 452 hektar yang sebagian besar berupa perkebunan dan persawahan. Kebanyakan dari mereka menjalani kehidupan sebagai petani. Dalam kehidupan sehari-hari, para petani dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang minim, sehingga memberikan penghasilan yang baik bagi para petani. Jika hal ini dirumuskan dalam klasifikasi tahapan keluarga, maka sebagian besar penduduk Desa Tolangi merupakan keluarga pra mampu dan umumnya tergolong keluarga mampu I. Hal ini tercermin dari kondisi kesehariannya yang terkadang tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan baik. . Pasalnya, menurut mereka, mencari pekerjaan sesedikit mungkin, yang penting bisa makan cukup, bahkan ada orang tua yang mendapat tugas pekerjaan yang tidak sesuai dengan usianya, seperti menjadi kuli bangunan, asisten toko. , yang mempunyai beban kerja yang berat di tengah keramaian bercampur dan ada juga yang memecat anaknya, sekedar membantu di rumah dan orang tuanya mencari nafkah, baik sebagai petani maupun sebagai pedagang.
Desa Toalngi yang dihuni oleh 2.135 jiwa memiliki mata pencaharian yang beragam, namun petani lebih dominan. Hal ini menjadi teladan bagi warga Desa Tolangi yang mayoritas beragama Islam untuk memberikan ruang bagi warga yang beragama selain Islam untuk menempati wilayah tertentu di desa tersebut, sebanyak 305 orang beragama Protestan, 24 orang beragama Katolik. , 5 beragama Hindu. Dalam kesehariannya mereka saling memberikan ruang bagi masing-masing agama untuk menjalankan keseharian dan keyakinannya sesuai dengan tatanan keyakinannya, bahkan urusan perkawinan pun dijalankan sesuai tata cara agama atau keyakinannya masing-masing.
Hasil Penelitian
Adanya perkawinan di bawah umur tidak lepas dari pengaruh sosial, ketika terdapat undang-undang yang mengatur kehidupan rumah tangga dengan baik, namun tidak berjalan dengan mudah atau tidak berjalan sesuai ketentuan yang berlaku karena ada lingkungan sosial yang tidak mendukung hal tersebut. peraturan. . Masih banyak pasangan yang masih melakukan perkawinan di bawah umur yang tidak dicatatkan di KUA karena tidak mematuhi ketentuan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974. Mereka hanya melangsungkan perkawinan atas dasar agamanya masing-masing tanpa mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam UUD”. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa kecanggihan teknologi juga menjadi kendala yang menyulitkan pengawasan anak dalam berinteraksi sosial, hal ini disebabkan ketidakmampuan orang tua dalam mengakses dunia teknologi yang berkembang pesat.
Faktor agama juga menjadi salah satu faktor terjadinya perkawinan anak, dimana keluarga dan orang tua akan langsung menikahkan anaknya ketika sudah dewasa. Dari beberapa wawancara diatas dengan beberapa responden disebutkan bahwa faktor terjadinya perkawinan di bawah umur disebabkan oleh faktor agama yaitu adanya sebagian orang tua yang takut anaknya melakukan perbuatan dosa seperti zina sebelum anaknya menikah. takut akan dampak yang akan mereka timbulkan di akhirat. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan Andi Fitri, salah satu tokoh agama di desa Tolangi yang mengatakan hal tersebut.
Pembahasan
Bahkan orang tua juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap anak sebagaimana tertulis dalam Pasal 26 ayat 1 UU No. 23 Tahun 2002 : ..orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab: a) Pengasuhan, pemeliharaan, pendidikan dan perlindungan anak b). Banyak permasalahan yang mengganggu kebahagiaan hidup adalah hubungan antara orang tua dan anak-anaknya yang sudah dewasa. Orang tua yang merasa anaknya tiba-tiba menjadi nakal, memberontak, tidak patuh dan sering menimbulkan masalah.
Orang tua menikahkan anaknya karena kurang memahami atau memahami seluk beluk pernikahan yang ideal. Begitu pula dengan anak-anak yang baru tamat sekolah dasar maupun yang masih bersekolah, baik di sekolah dasar maupun sekolah menengah, belum mempunyai pendidikan dan pengetahuan yang luas, apalagi memahami atau memahami pernikahan yang ideal, sehingga ingin menikah. . Karena masih menuruti orang tuanya, orang tuanya ingin menikahkannya, namun sebagai seorang anak ia tidak menolaknya. Sebagai seorang anak tidak bisa menolak, karena jika seorang anak tidak mau dinikahkan maka orang tuanya akan merasa kecewa.
Ketika seorang anak ingin melanjutkan pendidikan, orang tuanya tidak mengizinkannya karena kekurangan dana atau alasan lain. Pendidikan sangatlah penting baik bagi orang tua maupun anak, karena dengan pendidikan dan pengetahuan yang luas mereka bisa memikirkan apa yang ingin mereka lakukan, seperti halnya ketika mereka menikah, jika pendidikan atau pengetahuannya kurang maka mereka hanya berpikir jangka pendek. Mendorong semangat pendidikan hukum generasi muda yang dalam hal ini harus bersumber dari peran orang tua yang berperan penting dalam hubungan dan tumbuh kembang anak.
Diperlukan peran aktif dari pemerintah daerah, tokoh agama dan tokoh masyarakat yang sangat berperan penting dalam menumbuhkan semangat pendidikan baik pada generasi muda maupun orang tua agar orang tua selalu memberikan motivasi kepada anaknya tentang pentingnya pendidikan untuk tumbuh kembang sejak dini.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Faktor yang mempengaruhi perkawinan di bawah umur di Desa Tolangi Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara didominasi oleh faktor lingkungan, dalam hal ini banyak terjadi kesalahan akibat salah dalam memilih teman dan lingkungan tempat bergaul sehingga sering kali membuat mereka melakukan hal-hal negatif. perilakunya, menjadi sebagian kecil masyarakat yang masih mempertahankan budayanya, sehingga faktor siri (rasa malu) menjadi alasan orang tua memilih untuk melahirkan anaknya.
Saran
Pedoman Penulisan Skripsi, Makassar: Panrita Press Syarifudin Amir, 2006, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia: Antara Fiqh Munakahat dan Hukum Perkawinan, Jakarta: Kencana Soemiyati, 2017. Apakah keputusan menikah muda merupakan pilihan Anda atau ada pengaruh atau tekanan dari luar. Adakah dampak yang Anda rasakan dalam pernikahan Anda saat masih muda?