BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
Pengetahuan atas apa yang mereka kerjakan dapat berjalan bila komunikasi berjalan dengan baik, sehingga setiap kebijakan dan peraturan implementasi harus dikomunikasikan kepada bagian personalia yang tepat (Jannah, dkk., 2015). Selain itu, kebijakan yang dikomunikasikan juga harus tepat, akurat, dan konsisten. Komunikasi diperlukan agar para pembuat kebijakan dan para implementer kebijakan pemungutan retribusi pasar tersebut akan semakin konsisten dalam melaksanakan setiap kebijakan yang akan diterapkan dalam wajib retribusi. Dengan demikian, bahwa dimensi komunikasi dalam mengimplementasikan kebijakan merupakan kunci dalam mensosialisasikan tentang adanya pemungutan retribusi kepada para pedagang.
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Intjen Arifin S.Pd yang dilakukan di Kantor Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pankep:
“Berbicara tentang komunikasi yang kemudian dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Pangkep terhadap pedagang, ada koordinasi yang terjalin antara kolektor dengan pedagang, kemudian kolektor itulah yang akan menagih langsung ke pedagang, kemudian kolektor langsung menyetor ke UPT. Dari itu kami selaku yang bertanggung jawab atas pasar dan pedagang itu harus menjaga komunikasi baik secara langsung maupun tidak secara langsung terhadap kolektor sebagai bagian kepala pasar, sehingga akan terbangun koordinasi yang baik pula” (Intjen Arifin. S.Pd Selaku Sekretsris Dinas).
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan diatas, dapat diketahui bahwa komunikasi yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pangkep telah terjalin antara dinas tersebut, kolektor, dan para pedagang. Dimana dalam hal pemungutan retribusi pasar
dilakukan oleh kolektor kepada pedagang, kemudian disetorkan kepada UPT terkait. Komunikasi secara langsung maupun tidak langsung terus dilakukan oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian kabupaten Pangkep kepada seluruh pihak terkait untuk terus membangun dan menjaga koordinasi yang baik.
Selanjutnya hasil wawancara dengan ibu Dra. Fauziah dalam waktu yang sama di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pangkep.
“ketika kita berbicara tentang seberapa sering diadakan koordinasi dinas, UPT, Kolektor, dan pedagang, sebetulnya bukan dinas UPT itu adalah bagian dari bidang bidang. Karena dinas UPT hanya berkoordinasi dengan kolektor terkait masalah pedagang” (Dra.
Fauziah selaku Kepala Bidang Perdagangan).
Senada dengan hasil wawancara dengan bapak Zulfadly, SE yang dilakukan dalam waktu yang berbeda di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pangkep
“sebenarnya tenaga kolektor itu adalah bagian dari kepala pasar yang kemudian bertanggung jawab atas pedagang dan akan saling berkoordinasi dengan dinas UPT, sehingga ketika ada masalah terkait pedagang itu pihak kolektor bisa berkoordinasi lansung ke pihak UPT” (Zulfadly, SE selaku Kasi Pengelolaan Pasar).
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan diatas, dapat diketahui bahwa Unit Pelayanan Teknis (UPT) hanya melakukan koordinasi dengan kolektor terkait permasalahan yang hadir ditengah-tengah pedagang. Kolektor sebagai bagian dari kepala pasar mempunyai tanggung jawab untuk melaporkan setiap masalah yang hadir terkait pedagang yang ada di pasar.
Selanjutnya hasil wawancara dengan bapak Surya yang dilakukan di pasar mengatakan bahwa:
“kami selaku pedagang khususnya sangat puas dengan kinerja yang kemudian dilakukan oleh kolektor ataupun kepala pasar yang saling berkoordinasi dengan UPT. Sehingga ketika terjadi sebuah masalah dengan pedagang itu langsung di cover atau ditangani langsung oleh kolektor ataupun UPT itu sendiri selaku yang bertanggung jawab penuh atas pasar” (Surya selaku Pedagang).
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan diatas, dapat diketahui bahwa pedagang merasa sangat puas atas kinerja dari kolektor yang terus berkoordinasi dengan Dinas tersebut sehingga setiap masalah yang muncul dapat diatasi secepat mungkin oleh kolektor dan Dinas.
Berdasarkan hasil wawancara kepada empat informan diatas bisa disimpulkan bahwa, koordinasi atara Dinas UPT, Kolektor, dan Pedagang Di Kabupaten Pangkep sudah sangat baik dan memuaskan para Pedagang, karena pada dasarnya sebuah koordinasi yang baik akan lahir ketika komunikasi yang dilakukan itu baik pula.
2. Sumber Daya
Dalam suatu kebijakan bisa saja informasi yang disampaikan sudah jelas dan konsisten tetapi bukan hanya faktor tersebut yang mempengaruhi pelaksanaan kebijakan. Dalam hal ini sumber daya juga menjadi faktor penting dimana ketersediaan staf yang kompeten, tersedianya sarana dan prasarana yang memadai juga anggaran dan waktu yang tepat untuk melaksanakan kebijakan dapat membuat pelaksanaan pemungutan retribusi pasar pada Pasar Pangkep berjalan dengan baik. Dengan demikian bahwa
dimensi sumber daya merupakan kunci kedua dalam mengimplementasikan kebijakan yang menyampaikan informasi adanya pemungutan retribusi pasar dan pelaksana kebijakan pemungutan retribusi di Pasar Pangkep.
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Intjen Arifin, S.Pd yang dilaksanakan di Kantor Dinas Perdagangan dan Penindustrian Kabupaten Pangkep, mengatakan bahwa:
“sebenarnya pihak kolektor tidak diupah perhari, karena tenaga kolektor itu diupah perbulan dan jumlah dari kolektor itu sendiri adalah 18 orang yang akan bertugas sesuai dengan tupoksi dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari kepala pasar yang selalu mengawasi kegiatan pedagang yang berada di pasar” (Intjen Arifin, S.Pd selaku Sekretaris Dinas).
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa kolektor yang dipekerjakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan adalah sebanyak delapan belas orang yang bertugas sesuai dengan tupoksi dan tanggung jawabnya. Mereka diberikan upah oleh dinas tersebut per bulan bukannya per hari.
Selanjutnya hasil wawancara dengan Dra. Fauziah yang dilaksanakan di Kantor Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pangkep, mengatakan bahwa:
“saya sedikit menambahkan apa yang kemudian hasil wawancara dengan bapak sekretaris Dinas terkait masalah target perhari untuk distribusi. Jadi target perhari distribusi yang harus di setor oleh kolektor sebesar Rp. 800.000 perhari dari pedagang atas upah pemakaian ruko yang disediakan oleh Dinas Kabuapten Pangkep itu sendiri” ( Dra. Fauziah selaku Kepala Bidang Perdagangan).
Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat diketahui bahwa setiap kolektor memiliki target retribusi pasar yang darus disetor setiap harinya,
yaitu sebesar Rp. 800.000/hari dari para pedagang untuk biaya pemakaian ruko yang disediakan oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pangkep.
Selanjutnya dengan hasil wawancara bapak Zulfadly, SE yang dilakukan di waktu yang berbeda di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pangkep.
“adapun pola keuangan distribusi ini dari kolektor menyetor kepada kepala pasar, dan kelapa pasar menyetor ke Dinas UPT di bendahara penerima” (Zulfadly, SE selaku Kasi Pengelolaan Pasar).
Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat diketahui bahwa pola pungutan retribusi pasar dilakukan dari kolektor yang menyetor hasil pungutan retribusi kepada kepala pasar, dan dari kepala pasar disetor lagi kepada bendahara Dinas UPT.
Selanjutnya berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Surya yang dilakukan di pasar, mengatakan bahwa:
“dalam distribusi pasar kami para pedagang setiap hari menyetor ke kolektor dengan jumlah yang tidak terlalu memberatkan kami selaku pedagang, dan kami juga belum pernah merasakan ada kolektor yang kemudian meminta secara paksa, dan kami juga selalu diperlakukan dengan baik oleh kolektor ataupun kepala pasar sehingga kami selaku pedagang sangat nyaman atas kinerja UPT dan kolektor sebagai bagian dari kepala pasar itu sendiri” (Surya selaku Pedagang).
Berdasarkan hasil wawancara diatas dengan informan, dapat diketahui bahwa para pedagang merasa setoran yang mereka berikan kepada kolektor tidak memberatkan sama sekali dan belum pernah mendapati kolektor meminta paksa retribusi pasar kepada mereka.
Berdasarkan hasl wawancara dengan keempat informan di atas, bisa disimpulkan bahwa pengelolaan sumber daya dalam proses retribusi pasar tradisional yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan sudah sangat baik dengan pengelolaannya juga tersistematis ataupun teratur, dan para pedagang juga merasa aman karena cara koordinasi yang dilakukan juga sudah cukup baik yang dilakukan oleh Kolektor, UPT, dan Pedagang.
3. Struktur Birokrasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan yang ke empat yaitu struktur birokrasi. Walaupun sumber-sumber untuk melaksanakan suatu kebijakan tersedia, atau para pelaksana mengetahui apa yang harus dilakukan dan memiliki keinginan untuk melaksanakan suatu kebijakan, kemungkinan pengimplementasian kebijakan tersebut tidak akan dapat terlaksana atau terealisasi dengan baik (Putra, 2018). Ketika struktur birokrasi tidak kondusif maka hal ini akan mengakibatkan sumber daya menjadi tidak efektif dan menghambat jalannya implementasi kebijakan. Oleh karena itu bahwa dimensi Struktur Birokrasidalam pengimplementasian kebijakan pemungutan retribusi pasar di pasar cikatomas para pelaksana kebijakan harus mengetahui apa yang harus dilakukan dalam mengimplementasikan kebijakan, selain itu dalam mengimplementasikan kebijakan harus mengacu pada standar operasional prosedur dalam pengimplementasian kebijakan tersebut yang tertuang di dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pangkep No. 3 Tahun 2012 tentang
Implementasi Kebijakan tentang Retribusi Perizinan tertentu dalam Penataan Pasar Tradisional di Kabupaten Pangkep.
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Intjen Arifin, S.Pd yang dilaksanakan di Kantor Dina Perdagangan dan penindustrian Di Kabupaten Pangkep, mengatakan bahwa:
“dalam pemungutan distribusi tidak boleh pihak lain yang harus memungut distribusi pasar melainkan harus dari pihak PERINDAG dalam hal ini adalah Kepala Pasar karena itu adalah tugas kepala pasar itu sendiri” ( Intjen Arifin, S.Pd selaku Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pangkep).
Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat diketahui bahwa pungutan retribusi pasar hanya boleh dilakukan oleh pihak dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pangkep dalam hal ini kepala pasar.
Sedangkan hasil wawancara dengan ibu Dra. Fauziah yang dilakukan di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pangkep, mengatakan bahwa:
“saya akan sedikit menambahkan apa yang kemudian yang dijelaskan oleh bapak Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pangkep, bahwa yang akan mengawasi dalam pelaksanaan kebijakan adalah pemerintah dan bisa juga pihak DPR yang mengawasi langsung kebijakan dalam penataan pasar tradisional kabupaten Pangkep” (Dra. Fauziah selaku Kepala Bidang Perdagangan).
Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat diketahui bahwa yang mengawasi impelementasi atau pelaksanaan dari kebijakan retribusi pasar adalah pemerintah dan DPR dalam rangka penataan pasar tradisional di Kabupaten Pangkep.
Adapun hasil wawancara dengan bapak Zulfadly, SE yang dilakukan dalam waktu yang berbeda, mengatakan bahwa:
“senada dengan apa yang disampaikan oleh kedua informan sebelumnya, bahwasanya untuk urusan pemungutan biaya retribusi pasar ada pihak tertentu yang akan bertanggung jawab atas pemungutan sewa ruko seperti yang sebelumnya disampaikan oleh bapak Sekretaris Dinas itu sendiri” (Zulfadly, SE selaku Kasi Pengelolaan Pasar).
Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat diketahui bahwa dalam pemungutan retribusi pasar telah ada pihak-pihak yang telah bertanggung jawab atas pemungutan retribusi untuk sewa ruko yaitu kolektor dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pangkep
Dan hasil wawancara dengan bapak Surya yang ditemui langsung di pasar, mengatakan bahwa:
“kami selaku pedagang juga tidak pernah memberikan sewa roku terhadap pihak-pihak yang memang sebelumnya bukan menjadi tanggung jawabnya, karena setiap hari kami hanya akan setor biaya retribusi ruko kepada kolektor” (Surya selaku Pedagang).
Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat diketahui bahwa para pedagang tidak pernah memberikan setoran kepada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan hanya memberikan biaya sewa ruko kepada kolektor.
Berdasarkan hasil wawancara dari keempat informan diatas bisa disimpulkan bahwa, struktur birokrasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan sudah baik, karena dilihat dari pemungutan sewa ruko dan kinerja kolektor yang bertanggung jawab atas pemungutan ini, sehingga tidak ada pihak
yang lain yang kemudian berhak untuk memungut biaya kecuali kolektor atau kepala pasar itu sendiri.
4. Disposisi
Disposisi atau sikap petugas dalam menjalankan sebuah kebijakan merupakan hal yang sangat penting dan harus dimiliki oleh implementor seperti, komitmen dan kedisiplinan petugas dalam menjalankan tugasnya (Anwar, 2014). Dengan demikian bahwa dimensi Disposisi atau sikap pelaksana kebijakan dalam mengimplementasikan kebijakan harus mempunyai semangat dalam menjalankan tugas dan berkomitmen untuk menjalankan kebijakan pemungutan retribusi pasar di Pasar Pangkep.
Disposisi menunjukkan bahwa untuk kebijakan retribusi pelayanan pasar semua unsur/komponen baik pimpinan maupun pegawai mendukung sepenuhnya terhadap Implementasi Kebijakan tentang Retribusi Perizinan tertentu dalam Penataan Pasar Tradisional di Kabupaten Pangkep.
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Injen Arifin, S.Pd yang dilaksanakan di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan, mengatakan bahwa:
“pelaksaan dalam implementasi kebijakan, sebenarnya kebijakan ini tergantung dari cuaca yang terjadi di pasar, semisal dalam keadaan hujan berarti akan berkurang setoran dari kolektor ke UPT
” (Injen Arifin, S.Pd selaku Sekretris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pangkep).
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan diatas dapat diketahui bahwa pelaksanaan retribusi pasar cenderung tergantung kepada
kondisi cuaca, dimana jika cuaca dalam keadaan hujan maka retribusi yang diterima oleh UPT dari kolektor juga akan berkurang.
Sedangkan hasil wawancara dengan ibu Dra. Fauziah yang dilakukan di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pangkep, mengatakan bahwa:
“saya akan sedikit menambahkan apa yang kemudian yang dijelaskan oleh bapak Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pangkep. Dalam kebijakan ini kami sangat paham, bahwa kebijakan yang kami buat untuk pedagang sesuai dengan kondisi yang terjadi di pasar ” ( Dra. Fauziah selaku Kepala Bidang Perdagangan).
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan diatas dapat diketahui bahwa kebijakan yang dibuat oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pangkep telah sesuai dengan kondisi yang selama ini terjadi di pasar.
Adapun hasil wawancara dengan bapak Zulfadly, SE yang dilakukan dalam waktu yang berbeda, mengatakan bahwa:
“dalam pembuatan kebijakan ini pedagang itu tidak dilibatkan dalam pembuatan kebijakan, dan juga kami tidak pernah membuat kebijakan yang merugikan pedagang, semuanya bagus seperti tadi ada yang membayar untuk sewa ruko, karena kita kembalikan dari posisi awalnya itu ruko bahwa ada pemotongan dari pemerintah sebelum yang mengelola itu ruko sebelum Kabid Dinas Perdagangan dari 100% menjadi 60%. Namun pada tahun 2021 pemerintah atau bapak Bupati tidak mau lagi ke posisi itu yang 60%
, karna sudah 8 tahun jadi temuan BPK. Jadi kita kembalikan ke posisi 100% itu adalah contoh kecil yang saya sampaikan” ( Dra.
Fauziah selaku Kasi Pengelolaan).
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan diatas dapat diketahui bahwa dalam proses pembuatan kebijakan, pedagang tidak
dilibatkan didalamnya, meskipun begitu kebijakan yang telah dibuat tidak merugikan pedagang.
Dan hasil wawancara dengan bapak Surya yang ditemui langsung di pasar, mengatakan bahwa:
“dalam hal ini kami tidak ikut andil dalam pembuatan kebijakan, karena semua itu akan di atur oleh pihak yang bertanggung jawab atas pasar. Yang kami tau hanyalah, kami harus menaati semua yang menjadi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat dan kami hanya tau biaya yang harus kami setor ke kolektor dari ruko yang kami pakai” (Surya selaku Pedagang).
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan diatas dapat diketahui bahwa memang benar bahwa pedagang tidak diikutkan dalam proses pembuatan kebijakan, melainkan hanya menunggu implementasi dari kebijakan tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara dari keempat informan diatas bisa disimpulkan bahwa, implementasi kebijakan sudah sangat efektif dan efisien, dikarenakan dari pihak Dinas maupun pedagang tidak ada masalah terkait pemotongan sewa ruko yang dikembalikan menjadi 100% ataupun kebijakan baru yang di keluarkan oleh pemerintah.
C. Pembahasan