BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Seperti yang kita ketahui bahwa dalam meningkatkan kualitas kinerja guru kepala sekolah sangat berperan aktif didalamnya. Namun dalam menjalankan suatu tugas dan tanggung jawab baik itu kecil ataupun besar pasti meiliki beberapa faktor baik itu pendukung ataupun penghambat sekalipun yang harus dihadapi oleh kepala sekolah. Faktor pendukung kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas kinerja guru di SMA Negeri 1 Enrekang sendiri ialah:
kemampuan kepala sekolah sendiri dalam memimpin para guru-guru untuk mengembangkan kemampuan kinerjanya masing-masing. Salah satu faktor pendukung yang terus menerus untuk meningkatkan kualitas kinerja guru yaitu
kelengkapan sarana prasarana. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa kelengkapan sarana prasarana di sekolah merupakan salah satu faktor pendukung kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas kinerja guru. Selain adanya sarana prasarana yang menjadi pendukung ada juga faktor lain, yakni dengan adanya antusias guru atau semangat guru itu sendiri yang ingin selalu meningkatkan kualitas dirinya sendiri dalam mengajar sebagai seorang pendidik.
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas kinerja guru sosiologi di SMA Negeri 1 Enrekang
Kinerja guru merupakan suatu hasil kerja yang dapat dicapai oleh seorang guru dalam lembaga pendidikan atau sekolah menengah atas sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing dalam mencapai tujuan pendidikan yang sebenarnya. Dimana keberhasilan seorang guru harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya berarti guru tersebut dapat dikatakan telah berhasil dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seorang guru terbagi atas dua yaitu faktor internal seperti motivasi, keterampilan, dan pendidikan serta faktor eksternal seperti iklim kerja dan tingkat gaji yang artinya berasal dari dalam diri individu seseorang serta adapun faktor yang mempengaruhi dari luar individu seorang guru itu sendiri yang sangat mempengaruhi kualitas kinerja seorang guru.
Berdasarkan dari hasil wawancara, observasi, serta dokumentasi sebelumnya di SMA Negeri 1 Enrekang beberapa informasi yang terkait dengan penelitian telah didapatkan melalui beberapa sumber informasi yang bersangkutan. Adapun hasil wawancara akan diuraikan berikut dibawah ini.
a. Faktor internal yang mempengaruhi meningkatnya kualitas kinerja guru sosiologi di SMA Negeri 1 Enrekang
Adapun faktor yang menjadi pendukung dalam meningkatkan kualitas kinerja guru sosiologi di SMA Negeri 1 Enrekang berdasarkan hasil temuan dalam proses penelitian. Data hasil dari wawancara yang telah dilakukan bersama H (57 tahun) selaku Kepala Sekolah di SMA Negeri 1 Enrekang yang mengatakan bahwa:
“Kalau dari pandangan saya nak, dari awal memang saya sudah memberikan suatu dorongan terutama bagi mereka yang masih muda atau baru masuk sekolah dengan tujuan agar mereka lebih tertarik dalam melanjutkan pendidikan. Apalagi kita lihat sekarang ini tuntutan zaman dan canggihnya alat tehnologi serta globalisasi yang canggih. Dengan itu saya memberikan arahan dan beberapa masukan kalau misalkan memang masih ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan sebaiknya lanjutkan dengan tujuan menambah ilmu serta memperbaiki kualitas kinerja tenaga pendidikan di negara ini. Kecuali kalau misalkan terdapat perintah dari instansi yang diatas yang meminta guru untuk memberikan ugas dengan belajar tambahan atau pelatihan, walaupun di sekolah ini terdapat beberapa guru, itu bukan karena adanya dorongan pribadi namun karena berdasarkan pengamatan dan observasi saya menilai bahwa ia mampu dan memiliki skill yang baik”. (Wawancara, 11 Oktober 2019)
Adapun hasil wawancara yang juga diungkapkan oleh R (59 Tahun) selaku wakil kepala sekolah yang mengatakan bahwa:
“Setiap guru itu perlu adanya pembinaan dari masing-masing bidang mata pelajaran yang dibawakan di sekolah karena yang ditakutkan itu jangan sampai dalam setiap harinya ia mengajar dan menggunakan metode yang sama saja. Dalam artian tidak kreatif dalam mengajar sehingga siswa tidak memiliki minat untuk belajar dengan serius karena mengalami kebosanan dalam menerima materi dari guru baik karena caranya dalam menjelaskan ataupun cara dalam berkomunikasi yang kurang menarik perhatian dari siswa. Sehingga wawasan terlalu sempit maka dari itu saya biasa memberikan penyegaran dan saran untuk mengadakan suatu rekreasi atau belajar diluar ruangan untuk menarik minat siswa dalam belajar sekaligus meningkatkan daya berfikir para guru”. (Wawancara, 11 Oktober 2019)
Hal yang senadapun juga diungkapkan dalam wawancara oleh SD (45 Tahun) selaku guru bidang studi Sosiologi yang mengatakan bahwa:
“Dengan adanya suatu peningkatan dalam pendidikan, serta pelatihan yang didukung oleh seminar dimana itu semua mampu membuat pemikiran dan wawasan kita terbuka kembali serta disini juga kita dapat mengukur kemampuan dan skill yang kita miliki sebagai guru apakah sudah bagus atau masih ada yang perlu kita perbaiki kembali dari sebelum-sebelumnya.
Saya sendiri juga sering mengikuti pelatihan yang diadakan kemudian ditegaskan oleh kepala sekolah yaitu Hamka yang mana tentunya itu sesuai dengan bidang studi saya dengan tujuan hasil yang kita peroleh bisa menjadi masukan bagi pekerjaan saya dan hasil dari pelatihan yang saya ikuti, saya menjadi lebih semangat dalam mengajar kemudian mempraktikan teknik-teknik dalam mengajar yang baru saya dapatkan dari pelatihan yang saya ikuti sebelumnya. Dengan adanya pelatihan ini sangat membantu dan mendukung kita sebagai guru apa lagi siswa sekarang berbeda dengan siswa zaman dahulu karena pengaruh globalisasi dan alat tehnologi yang canggih seperti sekarang ini yang kalian bisa sendiri nilai seperti apa dan bagaimana”. (Wawancara, 11 Oktober 2019)
Hal demikian diperkuat oleh pernyataaan dari A (56 Tahun ) selaku salah satu guru bidang studi Geografi yang ada di SMA Negeri 1 Enrekang yang mengemukakan bahwa:
“Kurang lebih begitulah nak’, di sekolah ini memiliki kepala sekolah yang mana selalu memberikan dorongan dan perhatian kepada para guru, beliau juga selalu memberikan banyak nasihat serta memberikan motivasi. HM juga selalu mengijinkan kami selaku guru untuk mengikuti beberapa pelatihan di luar demi untuk mencapai kemajuan dan meningkatkan kualitas kinerja para guru-guru di sekolah SMA Negeri 1 Enrekang”.
(Wawancara, 11 Oktober 2019)
Berdasarkan dari hasil wawancara yang dilakukan bersama dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru bidang studi geografi serta guru bidang studi sosiologi maka dapat diambil kesimpulan bahwa pemahaman kepala sekolah dalam memperhatikan kompetensi yang harus dikuasai dan dimiliki oleh guru, berdasarkan wawancara tersebut kepala sekolah sudah memperhatikan terhadap kompetensi guru, kepala sekolah dalam hal ini juga mengatakan bahwa betapa
pentingnya sebagai kepala sekolah dalam memberikan perhatian khusus terhadap para guru agar setiap guru dapat meningkatkan kualitas kinerjanya dengan salah satu cara yaitu selalu mengizinkan mengikuti suatu pelatihan, memberikan motivasi, dorongan, nasihat serta hal-hal yang dibutuhkan seperti kelengkapan alat belajar mengajar dalam artian sarana dan prasarana.
b. Faktor eksternal yang mempengaruhi menurunnya kualitas kinerja guru sosiologi di SMA Negeri 1 Enrekang
Adapun faktor yang menjadi penghambat dalam meningkatkan kualitas kinerja guru sosiologi di SMA Negeri 1 Enrekang berdasarkan hasil temuan dalam proses penelitian.
Data hasil dari wawancara yang telah dilakukan bersama H (57 tahun) selaku Kepala Sekolah di SMA Negeri 1 Enrekang yang mengatakan bahwa:
“Ada berbagi macam faktor yang dapat menghambat keberhasilan guru, diantaranya adalah jika ada kegiatan yang harus meninggalkan jam pelajaran sehingga berakibat pada melesetnya target pelajaran yang akan dicapai, kurang sadaran peserta didik dalam memenuhi tugasnya, kelas yang mendapatkan jam teakhir yang terkadang siswa merasa lela dan semangat belajar yang sudah berkurang”. (Wawancara, 12 Oktober 2019) Hal yang sama juga disamakan oleh R ( 59 Tahun ) selaku wakil Kepala Sekolah yang ada di SMA Negeri 1 Enrekang yang mengemukakan bahwa:
“Adanya siswa yang terbilang kurang aktif dan bersifat pasif dalam proses pembelajaran, dalam kelas dimana yang tingkat kemampuannya sangat minim, yang menyebabkan materi yang disampaikan oleh para guru lambat ketika dibandingkan dengan kelas siswa yang lainnya di sekolah SMA Negeri 1 Enrekang ini”. (Wawancara, 14 Oktober 2019)
Hal yang sama juga disampaikan oleh MN (56 Tahun ) selaku wakil kepala sekolah bidang kesiswaan yang ada di SMA Negeri 1 Enrekang yang mengemukakan bahwa:
“Ketika kegiatan belajar mengajar dimulai ada sebagian siswa yang tidak bisa diatur serta sibuk dengan hal lainnya sehingga bagi kami para tenaga pendidik itu yang menjadi salah satu penghambat dalam proses kegiatan belajar mengajar”. (Wawancara, 15 Oktober 2019)
Hal senada juga disampaikan oleh Ibu N (48 Tahun ) selaku salah satu guru bidang studi Sosiologi di SMA Negeri 1 Enrekang yang mengemukakan bahwa:
“Siswa disini bisa dikatakan banyak yang nakal nak, bahkan sangat sulit untuk diatur sementara kita disini tidak bisa menggunakan kekerasan fisik ringan seperti mencubit dan sebagainya karena orang tua siswa dan pasti langsung melapor ke pihak berwajib sementara kan kita disini untuk mendidik namun terkadang disalahkan sama orang tua siswa, sementara orang tua siswa tidak melihat dan mensiasati bagaimana perilaku anaknya sendiri. Sehinga kami para guru merasa kesulitan untuk mencari solusi agar siswa tidak memelihara sifat dan perilaku yang nakal lagi”.
(Wawancara, 14 Oktober 2019)
Dari keterangan diatas, terdapat beberapa hal yang menghambat pelaksanaaan kegiatan belajar mengajar diantanya ialah beberapa kegiatan yang dilakukan atau dilaksanakan sehingga dapat menyita beberapa jam mata pelajaran, serta pelajaran yang mendapat jam terakhir, serta sebagian siswa yang memiliki kriteria nakal bahkan tidak bisa diatur dalam ruang lingkup sekolah.
Peneliti melakukan observasi secara langsung kelapangan kemudian menemukan data bahwa ada sebagian guru yang datang terlambat ke lembaga setelah peneliti bertanya langsung kepada beliau ternyata ada sedikit masalah pada kendaraan yang sedang beliau pakai yaitu ban sepeda motor yang meletus ataupun bocor halus sehingga beliau datang terlambat ke sekolah, sementara beliau sudah berangkat pagi sekitar jam 6:20 namun lokasi ke sekolah memang yang jaraknya terbilang sedikit jauh.
Berdasarkan hasil wawancara hal demikian disampaikan oleh R (56 Tahun) selaku guru bidang studi Bimbingan Konseling dalam petikan wawancara dengan beliau sebagai berikut:
“Iya, jujur saja ya… bagi saya pribadi nak, faktor penghambat dalam kinerja guru itu sangat banyak ya salah satunya itu adalah jarak tempuh yang sangat jauh dari rumah ke lokasi sekolah sehingga saya sering terlambat datang sekolah, apalagi saat musim hujan tiba”. (Wawancara, 15 Oktober 2019)
Hal senada juga diperkuat dan disampaikan oleh A (56 Tahun) selaku guru bidang studi Geografi berdasarkan hasil dari wawancara dengan beliau yang mengatakan bahwa:
“Saya biasa kalau pagi sangat sibuk di rumah banyak yang biasa saya kerjakan sehingga saya biasa terkadang lambat datang kesekolah dan juga yang menjadi faktor penghambat bagi guru di sekolah ini adalah permasalahan yang ada di rumah yang banyak dibawa sekolah”.
(Wawancara, 15 Oktober 2019)
Yang mempengaruhi kinerja guru yang lainnya adalah gaji. Setiap orang yang memperoleh gaji tinggi, hidupnya akan sejahtera. orang akan bekerja dengan penuh antusias jika pekerjaannya mampu mensejahterakan pekerjaannya. Begitu pula sebaliknya. Bagaimana mungkin seorang guru dapat bekerja secara profesional jika berangkat dari rumah sudah dipusingkan dengan kebutuhan rumah tangga, begitu sampai di kelas, pengalaman belajar yang diberikan kepada siswa tidak akan berkualitas. Bahkan, tidak menutup kemungkinan gaya mengajar yang ditampilkan guru bukannya mengembangkan potensi siswa malah justru mematikan potensi siswa.
Sebagaimana yang diuangkapkan oleh SD (45 Tahun) selaku guru bidang studi Sosiologi berdasarkan hasil wawancara dengannya yang mengatakan bahwa:
“Menurut pandangan dari saya sendiri berdasarkan pengamatan dan interaksi bersama rekan-rekan lainnya yaitu faktor penghambat adalah gajinya yang terlalu minim, makanya saya datang terlambat bahkan saya sering terlambat, kepala sekolah pun tahu kalau saya datang sering terlambat, keterlambatan saya disebabkan ada urusan lain dan semua teman- teman guru yang lain sudah tahu akan hal demikian”. (Wawancara, 15 Oktober 2019)
Hal ini yang sama juga disampaikan oleh Ibu J (36 Tahun) Selaku guru bidang studi sosiologi menyampaikan sebagai berikut:
“Bagi saya nak, berhubung saya sudah disini, maka saya menerima apa adanya (gaji), besar kecilnya gaji itu ketentuan lembaga, yang hal itu harus saya syukuri sementara saya juga bekerja di luar untuk menambah penghasilan”. (Wawancara, 15 Oktober 2019)
Berdasarkan hasil dari wawancara, obsevasi, sementara dokumentasi peneliti menemukan bahwa faktor penghambat kinerja guru di SMA Negeri 1 Enrekang sebagai guru yaitu tingkat kecerdasan siswa dan kurang kesadaran siswa dalam memenuhi tugasnya, jarak tempuh guru dan lembaga jauh sehingga sebagaian guru datang terambat, serta kesejahteraan upah atau gaji guru minim apalagi yang masih memiliki status honorer.
2. Manajemen kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas kinerja guru sosiologi di SMA Negeri 1 Enrekang
Kepala sekolah sebagai seorang manajer dalam suatu lembaga Pendidikan, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat dalam memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerjasama, memberi kesempatan kepada para tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya, dan mendorong keterlibatan
seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menunjang program sekolah. Adapun upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas dalam kinerjanya sebagai pemimpin di sekolah yang dipimpinnya, khususnya dalam meningkatkan kinerjanya tenaga kependidikan atau guru serta prestasi belajar anak didiknya. Sebagai pemimpin, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat dalam memberikan pembinaan terhadap kualitas kinerja guru yang ada di sekolah SMA Negeri 1 Enrekang.
Kepala sekolah SMA Negeri 1 Enrekang dalam menjalankan perannya sebagai seorang manajer ialah untuk meningkatkan kualitas serta kinerja guru yang ada di sekolah tersebut, beliau selalu memberikan saran dan nasihat kepada guru masing-masing kelas agar saling bekerjasama untuk kita meminimalisir kesulitan dalam menjalankan tugas dan menjadi tanggung jawab para guru.
Dengan cara saling komunikatif ini diharapkan para guru akan saling melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan beberapa sumber informasi yang menjadi narasumber dalam proses penelitian.
Adapun upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas kinerja guru sebagai pemimpinan disekolah yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakkan (directing), pengawasan (controlling).
a. Perencanaan
Istilah perencanaan sama artinya dengan persiapan. Sedangkan persiapan biasa pula disebut sebagai “rencana kerja”.Suatu rencana kerja biasanya dapat berupa rencana tertulis maupun tidak tertulis.Perencanaan yaitu penentuan serangkaian
tindakan untuk mencapai sesuatu hasil yang diinginkan. Dan suatu tujuan akan berhasil dicapai bila terdapat perencanaan yang matang.
Data hasil dari wawancara yang telah dilakukan bersama A (51 Tahun) selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum di SMA Negeri 1 Enrekang yang mengatakan bahwa:
“Bapak kepala sekolah masih jarang dalam menyusun perencanaan sebuah program. Bapak kepala sekolah masih melaksakan program-program rutin dari tahun ketahun sebelumnya dan masih kurang inovasi dan perencanaan program yang terbaru. Tetapi guru dan staf selalu berinovasi sendiri demi mengimbangi kondisi atas kebutuhan yang ada”. (Wawancara, 15 Oktober 2019)
Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa strategi kepala sekolah dalam perencanaan dalam meningkatkan kualitas kinerja guru di SMA Negeri 1 Enrekang yaitu belum mempunyai penyusunan perencanaan strategi, padahal untuk meningkatkan sekolah yang baik perlu adanya perencanaan yang harus matang dan program yang akan dijalankan juga harus terstruktur.
Hal yang senada juga disampaikan oleh MN (56 Tahun) selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan di SMA Negeri 1 Enrekang mangatakan bahwa:
“Bapak kepala sekolah sendiri merupakan yang paling tahu tentang strategi program perencanaan dan inovasi sebelum program itu dikomunikasikan kepada warga SMA. Tentunya dengan segala konsekuensi yang ditanggung oleh kepala sekolah sendiri selalu mengkomunikasikan dengan guru, staf dan orang tua siswa”. (Wawancara, 15 Oktober 2019)
Disini perencanaan di SMA Negeri 1 Enrekang sangat berfungsi untuk membantu kelancaran perjalanan di SMA Negeri 1 Enrekang , artinya dengan
adanya perencanaan di sekolah yang dilakukan oleh kepala sekolah dengan baik, pasti akan memberikan dampak yang baik secera langsung maupun secara tidak langsung, yang akhirnya akan kembali pada keberhasilan untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran, meskipun tidak dengan perencanaan akan diketahui penyebab tidak tercapainya tuuan kar ena adanya evaluasi didalamnya.
Hal yang senada juga disampaikan oleh H (57 Tahun) selaku kepala sekolah di SMA Negeri 1 Enrekang mangatakan bahwa:
“Dengan adanya perencanaan inovasi program dan strategi program dan menyelaraskan dengan kurikulum SMA Negeri 1 Enrekang yang sehingga program tersebut benar-benar terstruktur. Akan tetapi saya akui bahwa masih banyak kekurangannya. Hal itu biasa dilihat dari sarana prasarana dan lainnya”. (Wawancar, 15 Oktober 2019)
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah bertugas untuk menampung perencanaan yang telah dibuat oleh warga SMAN 1 Enrekang.
Kemudian menyelaraskan dengan anggaran dan sarana prasarana yang telah ada, sehingga perencanaan dalam mengaplikasikannya akan berjalan dengan lancar.
Dalam hal ini kepala yang sangat menentukan berhasil tidaknya suatu perencanaan SMAN 1 Enrekang madarasah yang telah diaplikasikan oleh seorang pendidik. Jadi pendidik harus melakukan persiapan materi sebelum proses pembelajaran.
b. Pengorganisasian
Mengorganisasikan pada hakikatnya berhubungan erat dengan manajemen yang menurut istilah adalah suatu proses pengembangan kegiatan kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan kerjasama tersebut di dalam suatu organisasi maka dibutuhkannya
seorang pemimpin untuk berperan meningkatkan kualitas pendidikan yaitu seorang kepala sekolah sehingga pada nantinya akan bertanggung jawab atas manajemen pendidikan yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran.
Data hasil dari wawancara yang telah dilakukan oleh H (57 Tahun) selaku Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan di SMA Negeri 1 Enrekang mangatakan bahwa:
“Saya sering mengadakan rapat-rapat spontan agar semua permasalahan yang ada agar segera terselesaikan dengan baik”. (Wawancara, 16 Oktober 2019)
Hal yang senada juga disampaikan oleh A (51 Tahun) selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Di SMA Negeri 1 Enrekang mangatakan bahwa:
“Kepala sekolah SMA Negeri 1 Enrekang selalu mengkordinasikan setiap ada rencana yang kurang terprogram dengan baik, baik itu dengan para dewan guru, staf dan wali murid”. (Wawancara, 16 Oktober 2019)
Hal yang senada juga disampaikan oleh SD (45Tahun) selaku salah satu guru bidang studi sosiologi di SMA Negeri 1 Enrekang yang mengatakan bahwa:
“Dalam menjalakan program dan kebijakan di SMA Negeri 1 Enrekang senantiasa berkoordinasi dulu dengan pihak kami, karena menurut data yang kami perencanaan dan realisasi yang ada di SMA Negeri 1 Enrekang masih banyak yang diperbaik , tapi saya bangga di sekolah karena kekompakkan dan kerja keras para dewan guru dan stafnya sehingga bisa mengatasi ketertinggalan sekolah ini dengan sekolah lain”. (Wawancara, 16 Oktober 2019)
c. Penggerakkan (directing)
Menurut E. Mulyasa pelaksanaan adalah kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan
efisien. Adapun pelaksanaan yang dimaksud adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru, staf dan peserta didik.
Data hasil dari wawancara yang telah dilakukan bersama H (57 Tahun) selaku Kepala Sekolah di SMA Negeri 1 Enrekang yang mengatakan bahwa:
“Cara menggerakkan sumber daya manusia (SDM) yang dilakukan kepala sekolah dalam melaksanakan program yang telah di buat dan di syahkan dengan selalu mengevaluasi setiap waktu agar maksimalisasi program benar-benar terwujud yang dilakukan kepala sekolah SMA Negeri 1 Enrekang cukup baik, akan tetapi program yang dilaksana tidak terprogram dengan baik. Tetapi berkat kesigapan para guru dan staf semua hal itu bias ditanggulangi sehingga SMA Negeri 1 Enrekang tidak kalah bersaing dengan sekolah lain”. (Wawancara, 16 Oktober 2019)
Hal yang senada juga disampaikan oleh R (59 Tahun) selaku Wakil Kepala Sekolah di SMA Negeri 1 Enrekang mangatakan bahwa:
“Kepala sekolah dalam pelaksanaan selalu menggerakkan SDM yang ada di SMA Negeri 1 Enrekang terhadap pelaksanaan program baik dari sisi penyampaian maupun hasilnya. Saya juga sangat bersyukur atas kekompakan tim saya dalam memajukan sekolah ini”. (Wawancara, 16 Oktober 2019)
Hal senada juga disampaikan oleh J (36 Tahun) selaku Guru Bidang Studi Sosiologi yang mengatakan bahwa:
“Orang tua dan siswa selalu siap semua dalam upaya yang dilakukan sekolah untuk menuju pada cita-cita yang diharapkan oleh sekolah sebagaimana yang telah diprogramkan oleh pihak sekolah selama itu untuk kebaikan bersama.”. (Wawancara, 16 Oktober 2019)
d. Pengawasan
Mengawasi atau supervisi adalah bagian dari proses administrasi dan menejemen dalam lembaga pendidikan, Kegiatan supervisi merupakan usaha dalam memajukan sekolah yang berkelanjutan yang dilakukan oleh seorang
supervisor dengan jalan membina, memimpin, dan menilai segala sesuatu yang mengarah pada peningkatan dan pencapaian tujuan pendidikan.
Hal yang senada juga disampaikan oleh MN (56 Tahun) selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan di SMA Negeri 1 Enrekang mangatakan bahwa:
‟Supervisi di SMA Negeri 1 Enrekang merupakan belum menjadi agenda rutin dalam program sekolah, supervis hanya dilakukan disaat-saat tertentu saja. Itupun dilakukan hanya sebatas pada intruksi atasan dan tidak mengenal sampai pada pemeriksaan oleh kepala sekolah kepada guru dan staf, hal itu tidak berpengaruh yang signifikan terhadap kinerja guru dan staf karena guru dan staf di SMA Negeri 1 Enrekang sudah terbiasa dengan kerja dan tanggung jawab yang telah diberikan. Bahkan tanpa adanya supervisi guru dan staf di SMA Negeri 1 Enrekang juga mampu meraih prestasi dengan baik”. (Wawancara, 17 Oktober 2019)
Hal yang senada juga disampaikan oleh H (57 Tahun) selaku Kepala Sekolah di SMA Negeri 1 Enrekang mangatakan bahwa:
“Pelaksanaan supervisi di SMA Negeri 1 Enrekang, selaku kepala sekolah saya mengambil kebijakan bahwasanya, pelaksanaan supervisi di SMA Negeri 1 Enrekang ini dilaksanakan dengan pemberitahuan terlebih dahulu pada waktu yang telah ditentukan, akan tetapi dapat juga berlangsung diwaktu lain jika dirasa perlu pelaksanaan supervisi”. (Wawancara, 17 Oktober 2019)
Hal yang senada juga disampaikan oleh A (51 Tahun) selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum di SMA Negeri 1 Enrekang mangatakan bahwa:
‟Pelaksanaan supervisi juga sebagai pengukur sejauh mana penguasaan meteri oleh peserta didik, apakah meteri sudah difahami apa belum, jika belum maka kita sebagai guru dan staf berupaya untuk koreksi diri, apakah cara yang digunakan sudah tepat apa belum”. (Wawancara, 17 Oktober 2019)
Jadi berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa sumber informasi yang diuraikan sebelumnya maka dapat dikatakan bahwa selama bekerjanya H selaku