• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Sebuah budaya memberikan warna yang kuat terhadap suatu kebijakan, perilaku, dan dinamika komunitasnya. Dengan demikian, budaya Jawa diasumsikan memiliki pengaruh yang relatif kuat terhadap perilaku komunitas yang menganutnya. Implikasi budaya Jawa terlihat dalam berbagai aspek kehidupan termasuk perilaku kerja masyarakatnya. Dalam bekerja seseorang lazim mengadopsi nilai-nilai dari hidup kesehariannya. Nilai adalah suatu keyakinan kuat terhadap bentuk tingkah laku atau sikap tertentu yang disukai dan mudah diterima baik secara personal maupun sosial. Sikap hidup tersebut terwujud dalam berbagai tindakan dan terimbas oleh falsafah hidup orang Jawa.

Hakikat nilai budaya adalah perwujudan pergaulan sosial yang tanpa mementingkan diri sendiri karena kepentingan kolektif lebih penting dibandingkan dengan kepentingan pribadi. Nilai budaya Jawa dalam karakter tokoh novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG tercermin dalam pemaparan tersebut.

Agar pembahasan ini sistematis dan konkret, hasil analisis data nilai budaya Jawa tersebut disajikan dalam lima orientasi, yaitu hakikat hidup, karya dan etos kerja, hubungan dengan alam, hubungan dengan sesama, dan persepsi waktu. Hasil analisis data mengenai nilai budaya Jawa tersebut dideskripsikan satu per satu untuk mengetahui nilai budaya Jawa dalam cerita yang disertai

dengan kutipan dari teks novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG sebagai bahan analisis.

1. Hakikat Hidup Orang Jawa

Hakikat hidup orang Jawa, baik petani maupun priyayi banyak dipengaruhi oleh kesusatraan. Hakikat hidup orang Jawa dapat tercermin dalam konsep nasib, pasrah dan sumarah yang merupakan keyakinan orang Jawa.

Nasib adalah jalan hidup yang diterima seseorang dalam menjalani hidup.

Pasrah adalah menyerah secara ikhlas dan menerima, akan tetapi pasrah bukan berarti memaksa diri untuk pasrah, sedangkan sumarah yaitu menyerah pada keadaan atau pasrah. Hakikat hidup orang Jawa dalam cerita dapat dilihat pada data berikut ini.

“O Allah, Gusti nyuwun ngapura. O Allah, apakah dosa?!? Sedang mulut sibuk bertanya-tanya. Tapi benarkah orang Jawa itu punya konsep perkara dosa? Benarkah dia menghayatinya? Simbah saya pernah berpesan: Orang berisi itu orang yang semakin runduk ke bumi-itulah ngelmu padi. Sikap congkak dan sombong diri tanda orang itu kurang pekerti Wani ngalah luhur wekasanipun itulah wejangannya. Data 51

Data di atas merupakan bagian penting dalam hidup orang Jawa. Karena dalam mengalah, orang Jawa akan mencapai kemenangan di kemudian hari. Hal ini dapat terlihat dalam pribahasa Jawa“Wani ngalah luhur wekasanipun”.

“Darah saya mengalir mengikuti fitrahnya batin saya tenang; bebas dari kerisauan. Karsa, Kerja, Karya Dan saya sudah 3K sebagai babu, kok.

Saya siap menyambut berkah-kerja sebagai ibadah harian hidup saya.

Data 32

“Ya, ya, pada mulanya adalah karsa: Karsa mretul di dalam sanubari.

Tanpa karsa, kerja bakalan percuma tanpa kerja, karya hanya cita- cita.Antara karsa sampai pada karya kerja memanggil jam-jam tersedia.

Ya,ya, karsa adalah pada mulanya: Bagaikan sumber air di kaki gunung menjadi telaga Putri dan Nirmala. Dari sumber hayatnya ia memancur mengalir ke lembah tana selatan. Data 33

“Ya, ya, pada mulanya adalah karsa: yang mengaliri panca indera saya yang mengusik rasa dan pikiran. Yang menggerakkan kaki dan tangan yang menyimpan hikmah diam-diam. Ah, ya, lihatlah hidup saya sekarang: Sehabis melampaui kesungguhan kerja yang ada adalah penjelmaan karsa. Karsa pun tampil dari jagad dalam tampilan karya yang saya idamkan. Data 33

“Saya sudah trima, kok.saya lega lila. Kalau memang sudah nasib saya sebagai babu, apa ta repotnya? Gusti Allah Maha Adil, kok. saya nrima ing pandum. Data 30

“Apabila nDoro Kanjeng berbicara.Ia gemar pakai lambang-lambang wayang. Terasa sederhana, tapi maknanya dalam "Wayang," ujar nDoro Kanjeng:"pada hakekatnya bayang-bayang yang hanya mungkin hidup apabila digerakka oleh ki dalang." Demikianlah tubuh kita, pribadi kita dalangnya.Tubuh punya gerakan selaras apabila disetir oleh batin. Data 112

“Ya, ya, diam-diam tanpa melawan tapi mencatat dengan ikhlas tiap desir percakapan orang kelembutan yang pernah diajarkan: jangan usik ketenangan air kolam. Demikianlah, benih dalam hati saya tertanam:

Sambutlah siapa pun juga dia dengan sabar dan tenang. Terimalah bagaimana pun juga dia dengan senyum dan keramahan. Dan jamulah apa pun juga dia dengan ikhlas tanpa kecurigaan. Data 59

“Mas Paiman, saya bilang, ya. Jadi orang hidup itu mbok ya yang teguh imannya gitu,lho? Hidup yang prasojo saja tak usah yang aeng-aeng.

Madeg, Mantep, dan Madhep. Dan saya sudah 3M sebagai babu, kok.Kabegjan masing-masing kita punya, sudah kita bawa sejak lahir.Rejeki datang bukan karena culas dan cidra tapi karena uluran tangan Hyang Maha Agung.Kebajikan yang kita tanam sehari-hari menambah asri kebun kehidupan insani. Data 29

Pada beberapa data di atas merupakan gambaran hakikat hidup manusia Jawa, bahwa karsa adalah bagian dalam hidup yang berkemauan keras. Pasrah dalam menerima nasib, takdir dengan ikhlas. Dalam sikap pasrah, tidak ada

penyalahan kepada lingkungan, orang lain, juga pada diri sendiri. Mereka menjalani nasib tanpa keluhan. Pariyem adalah babu yang bekerja untuk nDoro Kanjeng Cokro Sentonodi nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta menerima nasib yang telah ditentukan oleh Gusti Allah. Kata Prasojo merupakan sikap jujur, pasrah yang terbebas dari kerisauan. Karena rejeki datang bukan karena culas dan cidra tapi karena uluran tangan sang Maha Agung. Kebajikan yang kita tanam sehari-hari menambah asri kebun kehidupan insani.

“Bila nDoro Kanjeng kondangan alangkah ngengkreng pakainnya Jas dan pantalon dia punya tapi tak pernah dipakainya. Selalu pakaian Jawa, selalu pakaian Jawa: Ya, ya, nDoro Kanjeng pernah bilang: "Kita sendiri punya peradaban, Iyem. Apabila bukan kita yang menghargai malah malu dan meremehkan, itu aib siapa yang mengangkat martabatnya?"

Selalu pakaian Jawa, selalu pakaian Jawa! Data 69

“Apa artinya jabatan," Ujar nDoro Kanjeng "Bila manusia kehilangan kemanusiaannya?" Bukankah yang penting-demikian saya-nDoro Kanjeng dekat dengan kita? Orang kita tidak biasa diperhitungkan tapi menjadi tiang sanggah kehidupan. Data 71

Data-data di atas adalah ajaran atau wejangan yang diberikan oleh nDoro Kanjeng di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta. Ia mengajarkan bahwa sudah sepatutnya untuk kita menghargai peradaban dan mengangkat martabatnya, bukan malah malu dan meremehkannya. Bagi nDoro Kanjeng Cokro Sentono jabatan tidak ada artinya jika manusia kehilangan rasa kemanusiannya.Dia menerima, menyerah secara ikhlas dan mengutarakan rasa syukur yang dalam.

“nDoro Ayu Cahya Wulaningsih itu pasuryannya selalu memancar segar langka mengeluh, suka berkelakar, dia suka bertandang pada kerabat yang mempunya hajat besar-Tuguran namanya. Dalam jagat pasrawungan lamanya sepasar. Dia amat ringan tangan, lho-enthengan.

Dengan duduk bersimpuh di tikar kerjanya tangkas dan cekat-ceket 'Criwis cawis'. Data 119

“nDoro Ayu Cahya Wulaningsih. Dia tak suka membeda-bedakan orang, Dia tak suka membanding-bandingkan: Yang bangsawan dan yang pidak-pedarakan, yang kraton kota-dan yang kedusunan, yang kaya raya- dan yang kere gelandangan, yang pejabat tinggi dan yang penganggur, yang presiden dan petani pedagang. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi sama derajatnya dan sama pula nilainya. Data 130

“O, Allah, nDoro Ayu, nDoro Ayu. Betapa anggun dan luhur budinya.

Saya tak melihat di mana celanya, saya melihat keagungan wanodya. O, berbahagialah nDoro Kanjeng mempunyai dhiajeng nDoro Ayu. Data 120

Data di atas menggambarkan kehidupan seorang wanita. nDoro Ayu Cahya Wulaningsih yang anggun dan luhur budinya. Hal ini menunjukkan bahwa seorang wanita dan istri di lingkungan masyarakat Jawa di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta menujukkan kekuatannya dalam menerima kehidupan. Yang tidak membeda-bedakan dan membanding-bandingkan derajat ataupun pangkat satu sama lain.

2. Hakikat Karya dan Etos Kerja

Pada umumnya orang Jawa tidak menyadari tujuan dan arti kerja keras mereka, orang Jawa bekerja hanya untuk menyambung hidup untuk sesuap nasi.

Hakikat karya dan etos kerja dalam cerita ini yaitu Pariyem yang bekerja sebagai babu mengabdikan diri untuk keluarga nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryomentaraman Ngayogyakarta dan bekerja sepanjang hari dan setiap waktu hanya untuk menyambung hidupnya. Pariyem yang bekerja sebagai babu, setiap hari selalu memulai pekerjaannya dengan tenang, ikhlas, menerima dengan sukarela. Hal itu tergambar dalam data berikut ini.

“Ya,ya, Pariyem saya. Maria Magdalena Pariyem lengkapnya. "iyem"

panggilan sehari-harinya dari Wonosari Gunung Kidul Sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryomentaraman Ngayogyakarta. Saya sudah trima, kok.saya lega lila. Kalau memang sudah nasib saya sebagai babu, apa ta repotnya? Gusti Allah Maha Adil, kok. saya nrima ing pandum. Data 30

“Kini hari jam 6.30 pagi. Kerja suntuk sudah saya lalui.Kopi, nasi goreng, dan telur ceplok sudah siap-sedia di meja makan Tinggal saya menggarap isi rumah dengan serbet dan air, ngepel. Data 37

Pada data di bawah ini menggambarkan bahwa pekerjaan merupakan makna hidup bagi orang Jawa. Karena pekerjaan dalam karya dan etos kerja merupakan hakikat mereka asalkan mereka tetap bisa melangsungkan hidupnya dengan pekerjaan yang halal. Pekerjaan itulah salah satu cara untuk menyambung hidup bagi orang Jawa.

“Darah saya mengalir mengikuti fitrahnya batin saya tenang; bebas dari kerisauan. Karsa, Kerja, Karya Dan saya sudah 3K sebagai babu, kok.

Saya siap menyambut berkah-kerja sebagai ibadah harian hidup saya.

Data 32

Karya dan etos kerja dalam novel Pengakuan Pariyem tergambar pada Pariyem. Pariyem yang bekerja sebagai babu di nDalem Suryomentaraman Ngayogyakarta, ayahnya bekerja sebagai pemain kethoprak dan ibunya bekerja sebagai Ledhek. Selain itu, ayah dan ibunya pun bekerja sebagai petani. Mereka bekerja hanya untuk mendapatkan sesuap nasi, untuk menghidupi keluarganya.

Kami hidup tak terlepas dari hutang, setiap harinya hanya bisagali lubang tutup lubang. Mereka menerima asalkan bisa tetap melangsungkan hidup. Hal ini dapat dilihat pada data dibawah ini.

“Bapak saya pemain Kethoprak ulung. Suwito nama kecilnya. Karso Suwito nama tuanya. Gonjing nama panggilannya. Paguyuban Kethoprak bapak laris banget, lho, sering mengadakan pertunjukan dana dan amal sampai perleg sebulan segala. Di kota-kota Kecamatan dan Kabupaten.

Bapak saya biasa berperan bambangan, banyak benar wanita kepincut sama bapak saya. Apalagi bila dia sudah gandrung-ura-ura- para penonton terharu hilang kata. Data 25

“Sedang simbok saya jadi Ledhek. Parjinah nama kecilnya. Jinah nama panggilannya. Tapi di jagad pesindhenan. Niken Madu Kenter julukannya betapa sering banget mengembara. Ke kota-kota Kecamatan dan Kabupaten. Simbok pun laris ditanggap Tayuban bersama sejumlah kawan seangkatannya-bersama sejumlah kawan seangkatannya. Simbok adalah bintang primadonanya. Data 25

“Memang, bapak saya seorang petani, kok. Tapi cuman menggarap bengkok pak Sosial, tidak jembar sama sekali. Hanya 3 petak kecil-kecil, letaknya di pinggir kali. Untuk menyangga hidup kami sekeluarga, berlima. Saya anak tertua, mas. Dua adik saya lelaki dan wanita. Pairin menganyam caping di rumah. Painem membantu simbok di pasar.

Sedang bapak seharian di sawah buruh, sibuk mengolah tanah. Data 4

“Tak ada sedih, tak ada rintih batin pun kebal perasaan khawatir, sampai hari pembebasan berakhir. Dan kembalilah kini:-Kuluk dan pakaian raja bapak, sampur dan sondher milik simbok disimpan rapih di babragan.

Pertanda satu babagan kehidupan sudah menjadi masa silam. Dan kembalilah kini:- Bapak dan simbok bertani, bercocok tanam di ladang.

Padi gogo dan palawija di Wonosari Gunung Kidul. Data 28

“Ya, ya, pada hasil panen semua tergantung, tergantung hasil panen semua berhitung: " Ini hidup absurd banget, impossible. Tidak masuk akal.Bagaimana mungkin?Sedangkan mulut terus menganga perut minta isi saban harinya.Sengkarut kebutuhan yang muncul hasil panen di jadikan gali lubang tutup lubang kami hidup tak terlepas dari hutang.Bukankah kami hidup dalam lingkungan dengan para tetangga kiri dan kanan. Data 11

Seperti para petani lainnya mereka bekerja untuk melangsungkan kehidupannya. Tak ada perasaan sedih, tak ada rintihan hati, batin pun kebal akan perasaan khawatir, mereka menerima apa yang sudah menjadi pekerjaannya. Dan

mereka mendapatkan tugas yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan. Seperti Pariyem berada di nDalem suryomentaraman, Pairin menganyam caping di rumah. Painem membantu simbok di pasar. Sedang bapak seharian di sawah, sibuk mengolah tanah.

3. Hubungan dengan Alam

Dalam hubungan dengan alam, manusia harus memelihara dan memperbaiki lingkungan fisiknya, di lain pihak bahwa orang wajib memperbaiki lingkungan spiritualnya yang berupa adat, tata cara, serta nilai budaya umum yang terdapat dalam masyarakat.

Hubungan dengan alam yang berupa lingkungan fisik adalah memelihara dan memperbaiki alam atau kejadian yang berupa fenomena alam, yaitu menjaga, dan melindungi kelestarian alam. Hal itu tergambar dalam beberapa data berikut ini.

“Bapak saya seorang petani, kok. Tapi cuma menggarap bengkok pak sosial, tidak jembar sama sekali. Hanya 3 petak kecil-kecil, letaknya di pinggir kali. Data 4

“Bapak seharian di sawah buruh, sibuk mengolah tanah.Data 4

“Tak ada sedih, tak ada rintih batin pun kebal perasaan khawatir, sampai hari pembebasan berakhir. Dan kembalilah kini:-Kuluk dan pakaian raja bapak, sampur dan sondher milik simbok disimpan rapih di babragan.

Pertanda satu babagan kehidupan sudah menjadi masa silam. Dan kembalilah kini:- Bapak dan simbok bertani, bercocok tanam di ladang.

Padi gogo dan palawija di Wonosari Gunung Kidul. Data 28

“Ya, ya.Pariyem saya.Lahir saya pada musim tanam padi. Harapan bapak, sesuai kelahiran dan nama yang diberikan buat saya: Semoga Dewi Sri Kembang yang cantik jelita. Semoga menganugerahkan rahmat bagi padi yang ditanam dalam musim pengharapan. Dan menjauhkan hama tikus dan wereng yang merusak penghidupan kami. Data 7

Hubungan dengan alam berupa lingkungan fisik yaitu dapat dilihat ketika Bapak Pariyem dan para warga Wonosari Gunung Kidul berbondong-bondong keladang atau sawah untuk membentuk barisan semprot wereng, membentuk barisan tumpas wereng dan tikus dengan tangki-tangki gendhong dari kelurahan, menjauhkan dan menyelamatkan padi yang ditanam dalam musim pengharapan, karena di Wonosari hama tikus dan wereng menggasak padi yang hijau, merusak kaum petani bercocok tanam dan menggagalkan panenan mereka. Hal ini dapat dilihat pada data-data berikut ini.

“Sudah banyak musim berlalu. Padi diserang hama tikus dan wereng.

Lihatlah, hama tikus dan wereng menggasak padi yang hijau royo-royo, merusak kaum petani bercocok tanam dan menggagalkan panenan kami.

Beribu-ribu tikus.berjuta-juta wereng. Datang dan pergi silih berganti.

Data 7

“Walau pemberantasan digalakkan.Mereka pun beramai-ramai. Dengan bergotong-royong, mereka tak kenal capek. Membentuk barisan semprot wereng, membentuk barisan tumpas wereng.Dengan tangki-tangki gendhong dari kelurahan.Dengan lampu-lampu Petromax dan ati berang, membentuk barisan grebeg tikus, membentuk barisan ganyang tikus.Segala macam racun, obat, dan tetek bengek siasat.Telah mereka gunakan. Data 9

Lingkungan spiritual yang termasuk hubungan dengan alam bagi orang Jawa yaitu berupa adat, tata cara, serta nilai budaya umum yang terdapat dalam masyarakat. Adat adalah kebiasaan perilaku yang dijumpai secara turun temurun dalam kehidupan atau dari generasi ke generasi berikutnya. Tata cara ialah aturan yang berupa adat dalam lingkungan masyarakat.

Pergi ke dukun merupakan kebiasaan dikalangan masyarakat Jawa, ini dimaksudkan untuk melakukan atau memperingati kelahiran seorang bayi di dunia. Hal seperti ini merupakan salah satu adat yang sudah melekat di

lingkungan orang Jawa baik, kaum priyayi maupun wong cilik. Hal ini dapat dilihat pada data di bawah ini.

“Ya, ya, Pariyem saya.Saya lahir di atas amben bertikar dengan ari-ari menyertai pula.Oleh mbah dukun di potong dengan welat, tajamnya tujuh kali pisau cukur.Bersama telor ayam mentah, beras, uang logam, bawang merah dan bawang putih, gula, garam, jahe dan kencur, adik ari-ari jadi satu. Sehabis dibersihkan dibungkus periuk tanah kemudian ditanam di depan rumah. Ya,ya, telur: lambang sifat bayi baru lahir belum bisa apa- apa, murni, gulang-gulang tergantung pada yang tua. Beras dan dhuwit logam: lambang harap semoga hidup kita serba berkecukupan dalam hal sandang, pangan, dan uang. Bawang merah dan bawang putih, gula, garam, jahe dan kencur: lambang pahit-manisnya hidup yang bakal terjumpa dan terasakan, agar: jangan terlalu sedih bila mendapat kesusahan, jangan terlalu gembira bila mendapat kesenangan. Dengan upacara kecil adik ari-ari pun di kubur di depan pintu sebelah kanan bila bayi laki-laki, di depan pintu sebelah kiri bila bayi perempuan. Dipanjar diyan sampai bayi umur selapan. Data 2

Kebiasaan lain yang sering terjadi dalam lingkungan orang Jawa yaitu mereka sering memberi nama yang membawa tuah, dengan memberi among- among seperti Jenang abang, jenang putih, Ingkung ayam, nasi tumpeng dan gudhangan yang melambangkan kesucian si jabang bayi, cahya yang menerangi alam, keutuhan badan wadhag telanjang, pergaulan hidup yang kelak memperkaya pengalaman. Hal ini dapat dilihat pada data dibawah ini.

“Kata bapak, nama itu membawa tuah.Dia berikan, ketika saya berumur 5 hari-Sepasaran, bahasa populernya. Maka tersedialah tikar di lantai, di tanah: Jenang abang: lambang kesucian si jabang bayi, Jenang putih:

lambang cahya yang menerangi alam, Ingkung ayam: lambang keutuhan badan wadhag telanjang, Nasi tumpeng dan gudhangan: lambang pergaulan hidup yang kelak memperkaya pengalaman, Jenang sumsum:

lambang harap, semoga otot bayu simbok bayi yang melahirkan pulih segar bugas sebagai sediakala. Dan jabang bayi kian kokoh daya kekuatannya. Data 3

Tata cara menyembah, cara berjalan jongkok dengan punggung tegak tangan menyentuh lantai merupakan adat bagi orang Jawa ketika mau menghadap

pada orang-orang yang sangat mereka hormati terutama kedua orang tua. Tata cara ini sering terjadi di lingkungan priyayi dan pada waktu acara-acara tertentu.

Hal ini tergambar dalam data berikut ini.

“Saya minum air-sirih sekali saban Minggu, biar bersih dan jernih kotoran tenggorokan dan keringat badan tak berbau kayak brambang.

Lirih, Laras, dan Lurus. Dan saya sudah 3L sebagai babu, kok.Saya ngomong tak pernah berteriak, lirih, tapi terang kesampaian sanggup menguak tabis lengang dan menyibak bising percakapan. Saya ngomong tak pernah gadhog laras, tapi penuh irama khas. Medhok-kata wong Tanah Sabrang yang pinternya bicara Jawa ngoko. Dan saya mangap tak pernah mencong, lho.Lurus, bagaikan jalur jalan malioboro yang menyambung Tugu dan bangsal kraton tanpa belokan dan bunga di pinggiran berpusat di satu tempat arah kiblat-Mandala. Data 34

“Napas dada langka saya pergunakan karena suara yang lahir pas- pasan.Napas dada hanya membuahkan emosi cocok bagi orang yang sakit gigi.Dan saya memakai napas perut-lembut-langsung naik ke batang tenggorokan.Suara yang ke luar terdengar- lunak orang mendengar pun merasa enak.Dan saya langka mencaci orang, lho kecuali orangnya memang sontoloyo. Data 35

“Kanjeng Raden Tumenggung gelarnya. putra Wijaya nama timurnya.

Cokro Sentono nama dewasnya. ndoro kanjeng panggilnnya, priyagung Kraton Ngayogyakarta. Priyanyinya jangkung, tubuhnya gede. Dia punya katuranggan raden Werkudara. Dan dia memakai tismak, apabila membaca. Bertelekan tongkat apabila berjalan. Sak titahe, tak bergegas mengikuti irama jagad dalam. Itulah jiwa Jawa, Mas: Alon-alon waton klakon. Tapi semua pekerjaannya beres tidak ada yang terlantar. Data 67

“Bila hari Lebaran sudah tiba. Kang Kliwon pun pulang ke Wonosari.

Menjenguk keluarga dan dusunnya, sungkem pada leluhuryang masih ada. Dan ramah-ramah dengan para tetangga-Halal bihalal namanya.

Sebagaimana beberapa tahun yang silam. Kang Kliwon sungkem di muka simboh-Ujung kata orang Jawa. Penuh rasa hormat, penuh rasa sopan kang Kliwon tangannya ngapurancang. Berpakaian sarung, surjan, dan blangkon, duduk bersila. Data 93

“Beda dengan bocah cilik yang ngabekti. Dalam tempo beberapa menit ia sungkem. Duduk bersila, tangan ngapurancang dan kepalanya runduk:

bersujud diri. Dalam ngabekti ada waktu lengan kedamaian yang penuh keheningan: Dua jagadnya, satu sumber hayatnya dipertalikan oleh darah dan batin. Data 94

Lingkungan spiritual dalam masyarakat Jawa juga dapat dilihat pada tradisi yang terdapat dalam lingkunganya. Masyarakat Jawa apabila menginginkan sesuatu, mereka melakukan tirakat untuk mendapatkan yang lebih baik. Tirakat bagi orang Jawa yaitu berupa puasa yang diiringi dengan tapa. Tapa merupakan usaha untuk penyederhanaan secara menyeluruh berupa pengurangan segala aktivitas jasmaniah seperti makan dan tidur. Dengan bertapa, orang berharap Tuhan akan menyatu dengannya sehingga mengetahui dan kemudian mengabulkan apa yang diinginkannya. Ini dapat dilihat dari data dibawah ini.

“Dulu waktu kami masih sedusun.Dia gentur benar puasanya, lho.Tiap hari Senin dan Kamis puasa mutih, puasa tak kenal bulan tak kenal tahun.Tak makan nasi, tak makan garam prihatin pada Hyang Maha Wikan.Biar jejeg imannya, sentosa batinnya, rasa tabah tajam, jiwa tambah dalam membulatkan hidup berkepribadian.Demikianlah bila kami punya karep dan karep tersalur penuh greget. Tak ada kata berat , tak ada kata sukar dalam ngayahi beban sebagai tanggungan. Data 96

“Lahir saya pada musim tanam padi. Harapan bapak, sesuai kelahiran dan nama yang diberikan buat saya: Semoga Dewi Sri Kembang yang cantik jelita. Semoga menganugerahkan rahmat bagi padi yang ditanam dalam musim pengharapan. Dan menjauhkan hama tikus dan wereng yang merusak penghidupan kami. Data 7

Tradisi lain yang begitu jelas dalam lingkungan masyarakat Jawa yaitu pemberian nama pada orang Jawa khususnya orang yang dipandang mempunyai kedudukan. Pemberian nama pada kutipan di bawah ini merupakan tradisi bagi kalangan kraton, karena pemberian nama dapat dilihat bahwa mereka dari kalangan bangsawan atau dari kalangan petani. Hal ini dapat dilihat pada data- data berikut ini.

Dokumen terkait