• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, diajukan saran sebagai berikut:

1. Bagi mahasiswa sastra dapat memahami nilai-nilai budaya dalam novel Pengakuan Pariyem. Hal ini sangat bermanfaat dalam rangka menambah pengetahuan khususnya tentang nilai-nilai budaya Jawa.

2. Bagi masyarakat, sebagai bahan masukan untuk melihat nilai-nilai budaya yang ada dalam suatu daerah khususnya nilai budaya Jawa.

3. Bagi peneliti selanjutnya dapat meneliti lebih lanjut dan mendalam mengenai nilai budaya khususnya budaya Jawa.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Aryandini S, Woro. 2000. Manusia dalam Tinjauan Ilmu Alamiah Dasar.Jakarta:

Penerbit Universitas Indonesia.

Dendy, Sugono. 2003. Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern.Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Depdikbud. 1990. Proyek Penelitian Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya. Ujung Pandang: Depdikbud.

Djunaedi, Moha. 1992. Apresiasi Sastra Indonesia. Ujung Pandang: CV. Putra Maspul.

Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra.Yogyakarta: Media Pressindo.

Faruk. 1994. Pengantar Sosiologi Sastra.Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.

http://arsip.pontianakpost.com diakses pada tanggal 21 Mei 2016 21:49:16 GMT http://artikelmateri.blogspot.co.id/2016/03/novel-adalah-pengetian-unsu-intrinsik-

ekstrinsik.html

http://forum.detik.com ditampilkan pada tanggal 23 Mei 2016 10:22:06 GMT http://kajiansastra.blogspot.co.id/2009/04/sosiologi-sastra-sebagaipendekatan.html http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/sastra-indonesia/article/view/9642 diakses

pada tanggal 7 september 2016

http://syiena.wordpress.com/2008/04/09/memahami-orang-jawa diakses tanggal 29 Mei 2016 08:49:26 GMT

http://www.karatonsurakarta.com/tradisi-jawa diakses pada tanggal 28 Juni 2016 10:29:50 GMT

Junus, Umar. 1986. Sosiologi Sastera Persoalan Teori dan Metode.Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajaran Malaysia.

Koentjaraningrat. 2005. PengantarAntropologiI.Jakarta: PT Rineka Cipta.

Koentowidjoyo, 1987. Budaya dan Mayarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Partokusumo, Karkono K, dkk. 2007. Menggali Filsafat dan Budaya Jawa.Jakarta: Prestasi Pustaka.

Pradopo, Sri Widati, dkk. 1986. Pengarang Wanita dalam Sastra Jawa Modern.Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Prasetya, Joko Tri., dkk. 2004. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Prihatmi, Sri Rahayu Th, dkk. 2003. Peribahasa Jawa sebagai Cermin, Watak, Sifat, dan Perilaku manusia Jawa. Jakarta: Pusat Bahasa.

Ratna, Nyoman Kutha. 2005. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Sumardjo, Jacob. 1984. Novel Indonesia Mutakhir; Sebuah Pengantar.Bandung:

Nurcahaya.

. 1995. Sastra dan massa. Bandung: Penerbit ITB.

Suryadi AG, Linus. 2007. Pengakuan Pariyem. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tang, Muhammad Rapi. 2005. “Teori Sastra yang Relevan”. Diktat. Makassar:

Universitas Negeri Makassar.

Tarigan, H. G. 1985. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra.Bandung: Angkasa.

Wiranata, I Gede A.B. 2002. Antropologi Budaya.Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Penerbit Pustaka.

Lampiran 1

KORPUS DATA

1) “O Allah, Gusti nyuwun ngapura. O Allah, apakah dosa?!? Sedang mulut sibuk bertanya-tanya. Tapi benarkah orang Jawa itu punya konsep perkara dosa? Benarkah dia menghayatinya? Simbah saya pernah berpesan: Orang berisi itu orang yang semakin runduk ke bumi-itulah ngelmu padi. Sikap congkak dan sombong diri tanda orang itu kurang pekerti Wani ngalah luhur wekasanipun itulah wejangannya. (Pengakuan Pariyem, 2015: 51)

2) “Darah saya mengalir mengikuti fitrahnya batin saya tenang; bebas dari kerisauan. Karsa, Kerja, Karya Dan saya sudah 3K sebagai babu, kok. Saya siap menyambut berkah-kerja sebagai ibadah harian hidup saya. (Pengakuan Pariyem, 2015: 32)

3) “Ya, ya, pada mulanya adalah karsa: Karsa mretul di dalam sanubari. Tanpa karsa, kerja bakalan percuma tanpa kerja, karya hanya cita-cita. Antara karsa sampai pada karya kerja memanggil jam-jam tersedia. Ya,ya, karsa adalah pada mulanya: Bagaikan sumber air di kaki gunung menjadi telaga Putri dan Nirmala. Dari sumber hayatnya ia memancur mengalir ke lembah tana selatan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 33)

4) “Ya, ya, pada mulanya adalah karsa: yang mengaliri panca indera saya yang mengusik rasa dan pikiran. Yang menggerakkan kaki dan tangan yang menyimpan hikmah diam-diam. Ah, ya, lihatlah hidup saya sekarang: Sehabis melampaui kesungguhan kerja yang ada adalah penjelmaan karsa. Karsa pun tampil dari jagad dalam tampilan karya yang saya idamkan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 33)

5) “Saya sudah trima, kok. saya lega lila. Kalau memang sudah nasib saya sebagai babu, apa ta repotnya? Gusti Allah Maha Adil, kok. saya nrima ing pandum. (Pengakuan Pariyem, 2015: 30)

6) “Apabila nDoro Kanjeng berbicara. Ia gemar pakai lambang-lambang wayang. Terasa sederhana, tapi maknanya dalam "Wayang," ujar nDoro Kanjeng:"pada hakekatnya bayang-bayang yang hanya mungkin hidup apabila digerakka oleh ki dalang." Demikianlah tubuh kita, pribadi kita dalangnya. Tubuh punya gerakan selaras apabila disetir oleh batin.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 112)

7) “Ya, ya, diam-diam tanpa melawan tapi mencatat dengan ikhlas tiap desir percakapan orang kelembutan yang pernah diajarkan: jangan usik ketenangan air kolam. Demikianlah, benih dalam hati saya tertanam: Sambutlah siapa pun juga dia dengan sabar dan tenang. Terimalah bagaimana pun juga dia dengan

senyum dan keramahan. Dan jamulah apa pun juga dia dengan ikhlas tanpa kecurigaan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 59)

8) “Mas Paiman, saya bilang, ya. Jadi orang hidup itu mbok ya yang teguh imannya gitu,lho? Hidup yang prasojo saja tak usah yang aeng-aeng. Madeg, Mantep, dan Madhep. Dan saya sudah 3M sebagai babu, kok. Kabegjan masing-masing kita punya, sudah kita bawa sejak lahir. Rejeki datang bukan karena culas dan cidra tapi karena uluran tangan Hyang Maha Agung.

Kebajikan yang kita tanam sehari-hari menambah asri kebun kehidupan insani. (Pengakuan Pariyem, 2015: 29)

9) “Bila nDoro Kanjeng kondangan alangkah ngengkreng pakainnya Jas dan pantalon dia punya tapi tak pernah dipakainya. Selalu pakaian Jawa, selalu pakaian Jawa: Ya, ya, nDoro Kanjeng pernah bilang: "Kita sendiri punya peradaban, Iyem. Apabila bukan kita yang menghargai malah malu dan meremehkan, itu aib siapa yang mengangkat martabatnya?" Selalu pakaian Jawa, selalu pakaian Jawa! (Pengakuan Pariyem, 2015: 69)

10) “Apa artinya jabatan," Ujar nDoro Kanjeng "Bila manusia kehilangan kemanusiaannya?" Bukankah yang penting-demikian saya-nDoro Kanjeng dekat dengan kita? Orang kita tidak biasa diperhitungkan tapi menjadi tiang sanggah kehidupan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 71)

11) “nDoro Ayu Cahya Wulaningsih itu pasuryannya selalu memancar segar langka mengeluh, suka berkelakar, dia suka bertandang pada kerabat yang mempunya hajat besar-Tuguran namanya. Dalam jagat pasrawungan lamanya sepasar. Dia amat ringan tangan, lho-enthengan. Dengan duduk bersimpuh di tikar kerjanya tangkas dan cekat-ceket 'Criwis cawis'. (Pengakuan Pariyem, 2015: 119)

12) “nDoro Ayu Cahya Wulaningsih. Dia tak suka membeda-bedakan orang, Dia tak suka membanding-bandingkan: Yang bangsawan dan yang pidak- pedarakan, yang kraton kota-dan yang kedusunan, yang kaya raya-dan yang kere gelandangan, yang pejabat tinggi dan yang penganggur, yang presiden dan petani pedagang. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi sama derajatnya dan sama pula nilainya. (Pengakuan Pariyem, 2015: 130)

13) “O, Allah, nDoro Ayu, nDoro Ayu. Betapa anggun dan luhur budinya. Saya tak melihat di mana celanya, saya melihat keagungan wanodya. O, berbahagialah nDoro Kanjeng mempunyai dhiajeng nDoro Ayu. (Pengakuan Pariyem, 2015: 120)

14) “Ya,ya, Pariyem saya. Maria Magdalena Pariyem lengkapnya. "iyem"

panggilan sehari-harinya dari Wonosari Gunung Kidul Sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryomentaraman Ngayogyakarta. Saya

sudah trima, kok. saya lega lila. Kalau memang sudah nasib saya sebagai babu, apa ta repotnya? Gusti Allah Maha Adil, kok. saya nrima ing pandum.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 30)

15) “Kini hari jam 6.30 pagi. Kerja suntuk sudah saya lalui. Kopi, nasi goreng, dan telur ceplok sudah siap-sedia di meja makan Tinggal saya menggarap isi rumah dengan serbet dan air, ngepel. (Pengakuan Pariyem, 2015: 37)

16) “Darah saya mengalir mengikuti fitrahnya batin saya tenang; bebas dari kerisauan. Karsa, Kerja, Karya Dan saya sudah 3K sebagai babu, kok. Saya siap menyambut berkah-kerja sebagai ibadah harian hidup saya. (Pengakuan Pariyem, 2015: 32)

17) “Bapak saya pemain Kethoprak ulung. Suwito nama kecilnya. Karso Suwito nama tuanya. Gonjing nama panggilannya. Paguyuban Kethoprak bapak laris banget, lho, sering mengadakan pertunjukan dana dan amal sampai perleg sebulan segala. Di kota-kota Kecamatan dan Kabupaten. Bapak saya biasa berperan bambangan, banyak benar wanita kepincut sama bapak saya.

Apalagi bila dia sudah gandrung-ura-ura- para penonton terharu hilang kata.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 25)

18) “Sedang simbok saya jadi Ledhek. Parjinah nama kecilnya. Jinah nama panggilannya. Tapi di jagad pesindhenan. Niken Madu Kenter julukannya betapa sering banget mengembara. Ke kota-kota Kecamatan dan Kabupaten.

Simbok pun laris ditanggap Tayuban bersama sejumlah kawan seangkatannya-bersama sejumlah kawan seangkatannya. Simbok adalah bintang primadonanya. (Pengakuan Pariyem, 2015: 25)

19) “Memang, bapak saya seorang petani, kok. Tapi cuman menggarap bengkok pak Sosial, tidak jembar sama sekali. Hanya 3 petak kecil-kecil, letaknya di pinggir kali. Untuk menyangga hidup kami sekeluarga, berlima. Saya anak tertua, mas. Dua adik saya lelaki dan wanita. Pairin menganyam caping di rumah. Painem membantu simbok di pasar. Sedang bapak seharian di sawah buruh, sibuk mengolah tanah. (Pengakuan Pariyem, 2015: 4)

20) “Tak ada sedih, tak ada rintih batin pun kebal perasaan khawatir, sampai hari pembebasan berakhir. Dan kembalilah kini:-Kuluk dan pakaian raja bapak, sampur dan sondher milik simbok disimpan rapih di babragan. Pertanda satu babagan kehidupan sudah menjadi masa silam. Dan kembalilah kini:- Bapak dan simbok bertani, bercocok tanam di ladang. Padi gogo dan palawija di Wonosari Gunung Kidul. (Pengakuan Pariyem, 2015: 28)

21) “Ya, ya, pada hasil panen semua tergantung, tergantung hasil panen semua berhitung: "Ini hidup absurd banget, impossible. Tidak masuk akal.

Bagaimana mungkin? Sedangkan mulut terus menganga perut minta isi saban

harinya. Sengkarut kebutuhan yang muncul hasil panen di jadikan gali lubang tutup lubang kami hidup tak terlepas dari hutang. Bukankah kami hidup dalam lingkungan dengan para tetangga kiri dan kanan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 11)

22) “Bapak saya seorang petani, kok. Tapi cuma menggarap bengkok pak sosial, tidak jembar sama sekali. Hanya 3 petak kecil-kecil, letaknya di pinggir kali.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 4)

23) “Bapak seharian di sawah buruh, sibuk mengolah tanah.(Pengakuan Pariyem, 2015: 4)

24) “Tak ada sedih, tak ada rintih batin pun kebal perasaan khawatir, sampai hari pembebasan berakhir. Dan kembalilah kini:-Kuluk dan pakaian raja bapak, sampur dan sondher milik simbok disimpan rapih di babragan. Pertanda satu babagan kehidupan sudah menjadi masa silam. Dan kembalilah kini:- Bapak dan simbok bertani, bercocok tanam di ladang. Padi gogo dan palawija di Wonosari Gunung Kidul. (Pengakuan Pariyem, 2015: 28)

25) “Ya, ya. Pariyem saya. Lahir saya pada musim tanam padi. Harapan bapak, sesuai kelahiran dan nama yang diberikan buat saya: Semoga Dewi Sri Kembang yang cantik jelita. Semoga menganugerahkan rahmat bagi padi yang ditanam dalam musim pengharapan. Dan menjauhkan hama tikus dan wereng yang merusak penghidupan kami. (Pengakuan Pariyem, 2015: 7) 26) “Sudah banyak musim berlalu. Padi diserang hama tikus dan wereng.

Lihatlah, hama tikus dan wereng menggasak padi yang hijau royo-royo, merusak kaum petani bercocok tanam dan menggagalkan panenan kami.

Beribu-ribu tikus. berjuta-juta wereng. Datang dan pergi silih berganti.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 7)

27) “Walau pemberantasan digalakkan. Mereka pun beramai-ramai. Dengan bergotong-royong, mereka tak kenal capek. Membentuk barisan semprot wereng, membentuk barisan tumpas wereng. Dengan tangki-tangki gendhong dari kelurahan. Dengan lampu-lampu Petromax dan ati berang, membentuk barisan grebeg tikus, membentuk barisan ganyang tikus. Segala macam racun, obat, dan tetek bengek siasat. Telah mereka gunakan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 9)

28) “Ya, ya, Pariyem saya. Saya lahir di atas amben bertikar dengan ari-ari menyertai pula. Oleh mbah dukun di potong dengan welat, tajamnya tujuh kali pisau cukur. Bersama telor ayam mentah, beras, uang logam, bawang merah dan bawang putih, gula, garam, jahe dan kencur, adik ari-ari jadi satu.

Sehabis dibersihkan dibungkus periuk tanah kemudian ditanam di depan rumah. Ya,ya, telur: lambang sifat bayi baru lahir belum bisa apa-apa, murni,

gulang-gulang tergantung pada yang tua. Beras dan dhuwit logam: lambang harap semoga hidup kita serba berkecukupan dalam hal sandang, pangan, dan uang. Bawang merah dan bawang putih, gula, garam, jahe dan kencur:

lambang pahit-manisnya hidup yang bakal terjumpa dan terasakan, agar:

jangan terlalu sedih bila mendapat kesusahan, jangan terlalu gembira bila mendapat kesenangan. Dengan upacara kecil adik ari-ari pun di kubur di depan pintu sebelah kanan bila bayi laki-laki, di depan pintu sebelah kiri bila bayi perempuan. Dipanjar diyan sampai bayi umur selapan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 2)

29) “Kata bapak, nama itu membawa tuah. Dia berikan, ketika saya berumur 5 hari-Sepasaran, bahasa populernya. Maka tersedialah tikar di lantai, di tanah:

Jenang abang: lambang kesucian si jabang bayi, Jenang putih: lambang cahya yang menerangi alam, Ingkung ayam: lambang keutuhan badan wadhag telanjang, Nasi tumpeng dan gudhangan: lambang pergaulan hidup yang kelak memperkaya pengalaman, Jenang sumsum: lambang harap, semoga otot bayu simbok bayi yang melahirkan pulih segar bugas sebagai sediakala.

Dan jabang bayi kian kokoh daya kekuatannya. (Pengakuan Pariyem, 2015:

3)

30) “Saya minum air-sirih sekali saban Minggu, biar bersih dan jernih kotoran tenggorokan dan keringat badan tak berbau kayak brambang. Lirih, Laras, dan Lurus. Dan saya sudah 3L sebagai babu, kok. Saya ngomong tak pernah berteriak, lirih, tapi terang kesampaian sanggup menguak tabis lengang dan menyibak bising percakapan. Saya ngomong tak pernah gadhog laras, tapi penuh irama khas. Medhok-kata wong Tanah Sabrang yang pinternya bicara Jawa ngoko. Dan saya mangap tak pernah mencong, lho. Lurus, bagaikan jalur jalan malioboro yang menyambung Tugu dan bangsal kraton tanpa belokan dan bunga di pinggiran berpusat di satu tempat arah kiblat-Mandala.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 34)

31) “Napas dada langka saya pergunakan karena suara yang lahir pas-pasan.

Napas dada hanya membuahkan emosi cocok bagi orang yang sakit gigi. Dan saya memakai napas perut-lembut-langsung naik ke batang tenggorokan.

Suara yang ke luar terdengar- lunak orang mendengar pun merasa enak. Dan saya langka mencaci orang, lho kecuali orangnya memang sontoloyo.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 35)

32) “Kanjeng Raden Tumenggung gelarnya. putra Wijaya nama timurnya. Cokro Sentono nama dewasnya. ndoro kanjeng panggilnnya, priyagung Kraton Ngayogyakarta. Priyanyinya jangkung, tubuhnya gede. Dia punya katuranggan raden Werkudara. Dan dia memakai tismak, apabila membaca.

Bertelekan tongkat apabila berjalan. Sak titahe, tak bergegas mengikuti irama jagad dalam. Itulah jiwa Jawa, Mas: Alon-alon waton klakon. Tapi semua pekerjaannya beres tidak ada yang terlantar. (Pengakuan Pariyem, 2015: 67)

33) “Bila hari Lebaran sudah tiba. Kang Kliwon pun pulang ke Wonosari.

Menjenguk keluarga dan dusunnya, sungkem pada leluhuryang masih ada.

Dan ramah-ramah dengan para tetangga-Halal bihalal namanya. Sebagaimana beberapa tahun yang silam. Kang Kliwon sungkem di muka simboh-Ujung kata orang Jawa. Penuh rasa hormat, penuh rasa sopan kang Kliwon tangannya ngapurancang. Berpakaian sarung, surjan, dan blangkon, duduk bersila. (Pengakuan Pariyem, 2015: 93)

34) “Beda dengan bocah cilik yang ngabekti. Dalam tempo beberapa menit ia sungkem. Duduk bersila, tangan ngapurancang dan kepalanya runduk:

bersujud diri. Dalam ngabekti ada waktu lengan kedamaian yang penuh keheningan: Dua jagadnya, satu sumber hayatnya dipertalikan oleh darah dan batin. (Pengakuan Pariyem, 2015: 94)

35) “Dulu waktu kami masih sedusun. Dia gentur benar puasanya, lho. Tiap hari Senin dan Kamis puasa mutih, puasa tak kenal bulan tak kenal tahun. Tak makan nasi, tak makan garam prihatin pada Hyang Maha Wikan. Biar jejeg imannya, sentosa batinnya, rasa tabah tajam, jiwa tambah dalam membulatkan hidup berkepribadian. Demikianlah bila kami punya karep dan karep tersalur penuh greget. Tak ada kata berat , tak ada kata sukar dalam ngayahi beban sebagai tanggungan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 96)

36) “Lahir saya pada musim tanam padi. Harapan bapak, sesuai kelahiran dan nama yang diberikan buat saya: Semoga Dewi Sri Kembang yang cantik jelita. Semoga menganugerahkan rahmat bagi padi yang ditanam dalam musim pengharapan. Dan menjauhkan hama tikus dan wereng yang merusak penghidupan kami. (Pengakuan Pariyem, 2015: 7)

37) “Bulan ini bulan April 1979. Bila saya kenang nDoro Ayu Cahya Wulaningsih terkenang saya pada sang putri 100 tahun silam, terkenang saya pada Raden Ajeng Kartini. (Pengakuan Pariyem, 2015: 133)

38) “Tanda hormat dan rasa setia pada Kanjeng Sultan Sang Raja di Kraton Mataram, ke sembilan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 126)

39) “nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta. Priyagung asli-tulen seratus persen- dari dalam kraton Mataram Ngayogyakarta. Diam-diam, hati saya sunggu bangga, lha, bagaimana tidak, ta? (Pengakuan Pariyem, 2015: 34)

40) “KANJENG Raden Tumenggung gelarnya. Putra Wijaya nama timurnya.

Cokro sentono nama dewasanya. nDoro Kanjeng panggilannya, priyagung Kraton Ngayogyakarta. (Pengakuan Pariyem, 2015: 66)

41) “Dia adik kandug Raden Bagus Ario Atmojo. (Pengakuan Pariyem, 2015:

140)

42) “Waktu Endang Sri Setianingsih lahir. (Pengakuan Pariyem, 2015: 226) 43) “Bambang dan Endang anak padhepokan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 5) 44) “Pariyem, ya, ya. Nama Pariyem berasal dari tebung "pari" memang, bapak

saya seorang petani, kok. Tapi cuman menggarap bengkok pak Sosial tidak jembar sama sekali. Hanya 3 petak kecil-kecil. (Pengakuan Pariyem, 2015: 4) 45) “Pairin menganyam caping di rumah dan Painem membantu simbok di pasar.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 4)

46) “Mas Paiman, saya bilang, ya. Jadi orang hidup itu mbok ya yang teguh imannya gitu,lho? Hidup yang prasojo saja tak usah yang aeng-aeng. Madeg, Mantep, dan Madhep. Dan saya sudah 3M sebagai babu, kok. Kabegjan masing-masing kita punya, sudah kita bawa sejak lahir. Rejeki datang bukan karena culas dan cidra tapi karena uluran tangan Hyang Maha Agung.

Kebajikan yang kita tanam sehari-hari menambah asri kebun kehidupan insani. (Pengakuan Pariyem, 2015: 29)

47) “Ketika Suwito dan Parjinah bujang. Ketika sama menjadi buah bibir orang dan ketika sama ada pergelaran Kethoprak dan Tayuban. (Pengakuan Pariyem, 2015: 26)

48) “Ya, ya, kang Kliwon naman. Dia lahir di hari pasaran kliwon. Sodikin Kliwon nama lengkapnya tapi terkenal dipanggil Kliwon. Umurnya geseh 5 tahun dengan saya, dia lebih tua. Macul pekerjaan sehari-harinya, sekolahnya tamat sampai SD saja. Tapi kini tinggal di kota jutaan Jakarta, dia mangkal di Tebet Timur. Jual bakso bila siang, jual bakmi bila malam. (Pengakuan Pariyem, 2015: 91)

49) “Lihat kandungan saya 7 bulan. Lha, semalam baru saja Mitoni Kembang Selamatan lebih dulu ditabur di halaman depan rumah kami. Adapun hikmahnya: lancarlah upacara. Dengan bakar kemenyan dan japa mantra semoga jin, stan, dhemit priprayangan, gendruwo-wewe dan semua kekuatan hitam. Tak mengganggu gawe upacara kami. Jauh menyingkir, jauh ke pinggir ke pinnir jurang ke papan sunyi. Ah ya, saya pun duduk di atas dhingklik hanya mengenakan sehelai kain basahan. Sedang rambut saya lepas, terurai hampir menyentuh tanah di halaman. Lantas mbah dukun memandikan saya dengan air murni dari sedhang. Disaksikan keluarga dan sejumlah tetangga kiri-kanan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 215)

50) “Kata bapak, nama itu membawa tuah. Dia berikan, ketika saya berumur 5 hari-Sepasaran, bahasa populernya. (Pengakuan Pariyem, 2015: 3)

51) “Maka tersedialah tikar di lantai, di tanah: Jenang abang: lambang kesucian si jabang bayi, Jenang putih: lambang cahya yang menerangi alam, Ingkung ayam: lambang keutuhan badan wadhag telanjang, Nasi tumpeng dan gudhangan: lambang pergaulan hidup yang kelak memperkaya pengalaman, Jenang sumsum: lambang harap, semoga otot bayu simbok bayi yang melahirkan pulih segar bugas sebagai sediakala. Dan jabang bayi kian kokoh daya kekuatannya. (Pengakuan Pariyem, 2015: 3)

52) “Tiga bulan pun berlalu. Betapa cepat waktu menggelandang.

Menggelindingkan kehidupan insan dan si thuyul sudah lahir, sehat. Dan nDoro Kanjeng memberi tetenger Endang Sri Setianingsih namanya.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 225)

53) “Bagi saya berkah dan restunya tiba, sudah menyertai kami satu keluarga.

Sedangkan jagongan mbladheg sampai bayi berumur 35 hari. Dan setiap malam Macapatan sampai jago kluruk tiga kali. (Pengakuan Pariyem, 2015:

227)

54) “Dalam upacara kenduri di kampung, berkeliling para tetangga satu dusun duduk bersila berkalang. Sedang doa dihantarkan oleh pak kaum: Doa keselamatan bagi bayi yang dilahirkan dan doa keselamatan bagi simbok yang melahirkan. Pada Sang Hyang Murbeng Jagad bersyukur dengan mulut fasih, berterima kasih. Semoga kehadirannya diterima dan diberkati oleh alam serta segenap isinya. Tambah satulah makhluk di bumi. (Pengakuan Pariyem, 2015: 3)

55) “Esok paginya ada among-among dibagikan kepada bocah-bocah: Semoga bala dan sawan jauh pergi menyingkir dari jagad saya. (Pengakuan Pariyem, 2015: 4)

56) “Setelah upacara mandi rampung. Ada pula kenduri di ruang depan. Warga sedusun di undang datang, datang menyelamati thutul kami. Lihatlah, para tetangga bekalang, berkalang duduk menghadap ambeng: Gudhangan, nasi golong, nasi tumpeng, ingkung ayam jagoan dan jajanan lengkap dengan berpiring jenang. Sehabis didongakan oleh mbah kaum diikuti dan disertai rasa khidmat lalu dibagi-bagikan: rata dan sepadan mbok-rondho mbok- rondho diperhitungkan. Sebentar waktu dilanjutkan jagongan apabila berkat sudah dipulangkan. Kini lihatlah, para tetangga duduk kembali berkalang di atas tikar sehabis saling berbagi salam hangat dan berhandai-handai kocak sejenak. (Pengakuan Pariyem, 2015: 216)

Dokumen terkait