• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Nilai budaya merupakan inti kebudayaan yang mempengaruhi dan menata elemen-elemen yang berada pada struktur permukaan kehidupan manusia yang meliputi perilaku sebagai kesatuan gejala baik berupa perilaku seni, perilaku ritual, perilaku ekonomi, perilaku politik, dan perilaku lain dalam kehidupan, dan benda-benda sebagai kesatuan material. Setelah dianalisis sesuai dengan analisis data dalam penelitian ini, terlihat bahwa nilai-nilai budaya khususnya budaya Jawa yang terdapat dalam novel Pengakuan Pariyem, pengarang menguraikan nilai budaya Jawa secara gamblang. Nilai budaya Jawa dalam novel Pengakuan Pariyem ini merupakan gambaran kehidupan masyarakat Jawa. Nilai budaya Jawa yang terdapat dalam novel Pengakuan Pariyem yaitu meliputi hakikat hidup, hakikat karya dan etos kerja, hakikat hubungan dengan alam, hakikat hubungan dengan sesama dan persepsi waktu bagi masyarakat Jawa.

Hakikat hidup orang Jawa mempunyai persepsi bahwa menganggap hidup itu penuh dengan kesengsaraan dan penderitaan yang harus diterima oleh setiap manusia. Orang Jawa menerima kehidupan dengan nasib yang telah diterima, mereka pasrah, menerima dengan puas atas nasib yang telah digariskan, tidak memberontak, akan tetapi orang Jawa juga mengucapkan terima kasih atas nasib yang telah ditakdirkan tersebut, mereka juga tetap berikhtiar. Hakikat hidup menunggu bagi orang Jawa adalah menerima nasib dan menerima takdir serta menjalani kehidupan. Mereka menerima yang terburuk ketika mengharap yang terbaik. Hakikat hidup orang Jawa dalam cerita digambarkan oleh beberapa tokoh yaitu Pariyem menerima nasib yang telah ditentukan, ia pasrah dan tidak memberontak atas nasibnya bahkan ia mengabdikan diri sepenuhnya untuk nDoro Kanjeng Cokro Sentono. nDoro Ayu Cahya Wulaningsih itu pasuryannya selalu memancar segar langka mengeluh, suka berkelakar, ia amat ringan tangan, dan suka menolong orang. Hakikat hidup juga tergambar dalam pesan Simbah dihibur dengan kalimat yang mengalah lebih luhur, seperti dalam peribahasa Jawa yaitu Wani ngalah luhur wekasanipun, karena dengan mengalah orang akan mencapai kemenangan dikemudian hari.

Hakikat karya dan etos kerja orang Jawa tidak ada motivasi kuat untuk bekerja, mereka bekerja hanya untuk menyambung hidup dan lebih senang mengosongkan hidup untuk dunia akherat kelak. Pariyem yang menerima dengan tulus dan suka rela yang sudah nasibnya sebagai babu. Simbok sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya hanya mengabdikan diri untuk keluarganya dan bekerja sepanjang hari membantu suami hanya untuk menyambung hidupnya. Setiap

pulang dari pasar, uang hasil dagangannya di simpan begitu saja. Begitu juga dengan Bapak yang bekerja di sawah milik Pak Sosial untuk mendapatkan perkerjaan dan mendapatkan penghasilan. Mereka bekerja tanpa pamrih dan menerima apa yang diberikan oleh sang Maha Kuasa.

Hubungan dengan alam bagi orang Jawa terbagi atas dua, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan spiritual. Lingkungan fisik yaitu orang Jawa harus memelihara dan memperbaiki lingkungan sekitarnya. Bapak dan simbok hanya seorang petani,cuma menggarap sawah pak sosial, yang tidak luas hanya 3 petak kecil-kecil, yang letaknya di pinggir kali. Bercocok tanam di ladang. Padi gogo dan palawija di Wonosari Gunung Kidul. Ketika tanaman padi diserang hama tikus dan wereng kaum petanipun beramai-ramai semprot wereng dengan menggunakan berbagai macam racun, agar bisa menyelamatkan tanaman padi mereka, ini merupakan lingkungan fisik yang harus dijaga dalam lingkungan kaum petani. Menjaga semua miliknya untuk diselamatkan ketika padi diserang tikus dan wereng. Nilai budaya ini tercermin pada sikap para petani yang mau bekerja sama, bergotong-royong dan berusaha menjaga agar hasil panen mereka mendapatkan hasil yang bagus serta merawat lingkungan sekitar untuk mendapatkan ketentraman.

Lingkungan spiritual yaitu berupa adat, tata cara, serta nilai budaya umum yang terdapat dalam masyarakat. Pergi ke dukun merupakan kebiasaan dikalangan masyarakat Jawa, ini dimaksudkan untuk melakukan atau memperingati kelahiran seorang bayi di dunia. Hal seperti ini merupakan salah satu adat yang sudah melekat dilingkungan orang Jawa baik priyayi maupun wong cilik.Tata cara

menyembah, cara berjalan jongkok dengan punggung tegak tangan menyentuh lantai merupakan adat bagi orang Jawa ketika mau menghadap pada orang-orang yang sangat mereka hormati terutama kedua orang tua tergambar pada Pariyem, anak-anak nDoro Kanjeng dan Sodiki Kliwon. Tradisi lain yang sering dilakukan masyarkat Jawa yaitu berupa upacara-upacara atau ritual ketika seorang perempuan akan menjadi ibu. Upacara-upacara tersebut seperti mitoni kembang selamatan, tingkeban dan kenduri yaitu upacara tujuh bulan kandungan bagi ibu yang hamil pertama dan upacara menginjak tanah yang pertama kali bagi si bayi dilakukan oleh Pariyem, Parjinah. Salah satu adat istiadat yang terdapat dalam novel yaitu saling menghormati, menggunakan bahasa Jawa yang halus untuk orang yang lebih tua.seperti para siswa-siswapada nDoro Kanjeng karena kedudukan mereka berbeda, nDoro Kanjeng, nDoro Ayu pada anak-anaknya serta Pariyem dan keluarga majikannya.

Hubungan dengan sesama orang Jawa memiliki nilai sosial suka tolong menolong dan mempunyai solidaritas yang tinggi pada sistem kekerabatan. Orang Jawa merasa bahwa mereka tidak sendiri dan membutuhkan bantuan sesama, terutama kerabatnya, mereka bahagia berada ditengah kerabatnya. nDoro Ayu mempunyai rasa tolong menolong yang tinggi khususnya buat kerabat dan orang- orang tidak mampu atau miskin.

Sistem penanggalan orang Jawa merupakan persepsi waktu yang digunakan untuk menentukan tanggal-tanggal yang baik yang bertujuan untuk memulai suatu pekerjaan yang penting. Sistem penangalan ini tergambar pada tradisi hari Senin dan Kamis, karena merupakan hari yang sakral dan suci. Pada petemuan Senin

dan Kamis ini beberapa orang priyayi membicarakan kebudayaan Jawa, hal ini tercermin pada tokoh Kang Kliwon.

Ke lima nilai budaya Jawa yang lebih menonjol dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG yaitu hubungan dengan alam yang berupa lingkungan spiritual, masksudnya diharapkan bahwa nilai-nilai seperti yang tarkandung dalam lingkungann spiritual yakni berupa adat, tradisi, tata cara, dan nilai-nilai yang ada dapat terus dilestarikan oleh masyarakat Jawa. Adat dan tradisi seperti mengadakan selamatan untuk kelahiran seorang anak ini merupakan salah satu keyakinan orang Jawa yang masih sangat kental dengan mempercayai adanya hal-hal yang bersifat mistis. Orang Jawa percaya dengan mengadakan selamatan pemberian nama untuk anak yang baru lahir merupakan tradisi bagi orang Jawa untuk membedakan golongan atau derajat dalam lingkungannya.

Hubungan nilai budaya Jawa dengan pendekatan Sosiologi sastra merupakan cerminan dari situasi masyarakat. Pandangan sosiologi sastra yaitu karya sastra dilihat hubungannya dengan kenyataan, sejauh mana karya sastra itu mencerminkan kenyataan. Pandangan pendekatan ini mempertimbangkan segi- segi kemasyarakatan. Oleh karena itu, nilai budaya merupakan nilai inti yang diikuti oleh setiap individu atau kelompok individu dalam suatu masyarakaat.

Masyarakat tersebut betul-betul menjunjung tinggi nilai budaya sehingga menjadi salah satu faktor penentu untuk berperilaku.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa, representasi nilai budaya Jawa dalam karakter tokoh novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG, yaitu:

1) Nilai budaya yang berhubungan dengan hakikat hidup yaitu konsep dalam hakikat hidup orang Jawa yaitu mereka menerima nasib dengan pasrah, tetap tulus dan mengabdikan diri.

2) Nilai budaya yang berhubungan dengan karya dan etos kerja yaitu, orang Jawa bekerja hanya untuk menyambung hidup demi sesuap nasi, mereka tidak ada motivasi kuat untuk bekerja.

3) Nilai budaya yang berhubungan dengan alam yaitu terbagi atas dua;

lingkungan fisik dan lingkungn spiritual. Lingkungan fisik yaitu mereka berkewajiban menjaga dan memelihara yang menjadi miliknya. Sedangkan lingkungan spiritual yaitu berupa adat istiadat dalam lingkungan masyarakat Jawa yang berupa tradisi seperti selamatan orang hamil, melahirkan sampai pada kematian, dan menu masakan yang disajikan serta kebiasaan pergi ke dukun.

4) Nilai budaya Jawa yang berupa hubungan dengan sesama adalah wujud dari solidaritas antara sesama manusia adalah cermin dari sikap tolong menolong terutama bantuan dari keluarganya. Hubungan dengan sesama pada orang

Jawa seimbang antara individu, keluarga, maupun masyarakat. Dan mereka mengayomi orang yang kedudukannya lebih rendah.

5) Nilai yang berhubungan dengan persepsi waktu yatiu sistem penanggalan yang menjadi patokan bagi orang Jawa untuk menentukan hari yang baik untuk memulai suatu pekerjaan.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, diajukan saran sebagai berikut:

1. Bagi mahasiswa sastra dapat memahami nilai-nilai budaya dalam novel Pengakuan Pariyem. Hal ini sangat bermanfaat dalam rangka menambah pengetahuan khususnya tentang nilai-nilai budaya Jawa.

2. Bagi masyarakat, sebagai bahan masukan untuk melihat nilai-nilai budaya yang ada dalam suatu daerah khususnya nilai budaya Jawa.

3. Bagi peneliti selanjutnya dapat meneliti lebih lanjut dan mendalam mengenai nilai budaya khususnya budaya Jawa.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Aryandini S, Woro. 2000. Manusia dalam Tinjauan Ilmu Alamiah Dasar.Jakarta:

Penerbit Universitas Indonesia.

Dendy, Sugono. 2003. Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern.Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Depdikbud. 1990. Proyek Penelitian Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya. Ujung Pandang: Depdikbud.

Djunaedi, Moha. 1992. Apresiasi Sastra Indonesia. Ujung Pandang: CV. Putra Maspul.

Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra.Yogyakarta: Media Pressindo.

Faruk. 1994. Pengantar Sosiologi Sastra.Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.

http://arsip.pontianakpost.com diakses pada tanggal 21 Mei 2016 21:49:16 GMT http://artikelmateri.blogspot.co.id/2016/03/novel-adalah-pengetian-unsu-intrinsik-

ekstrinsik.html

http://forum.detik.com ditampilkan pada tanggal 23 Mei 2016 10:22:06 GMT http://kajiansastra.blogspot.co.id/2009/04/sosiologi-sastra-sebagaipendekatan.html http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/sastra-indonesia/article/view/9642 diakses

pada tanggal 7 september 2016

http://syiena.wordpress.com/2008/04/09/memahami-orang-jawa diakses tanggal 29 Mei 2016 08:49:26 GMT

http://www.karatonsurakarta.com/tradisi-jawa diakses pada tanggal 28 Juni 2016 10:29:50 GMT

Junus, Umar. 1986. Sosiologi Sastera Persoalan Teori dan Metode.Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajaran Malaysia.

Koentjaraningrat. 2005. PengantarAntropologiI.Jakarta: PT Rineka Cipta.

Koentowidjoyo, 1987. Budaya dan Mayarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Partokusumo, Karkono K, dkk. 2007. Menggali Filsafat dan Budaya Jawa.Jakarta: Prestasi Pustaka.

Pradopo, Sri Widati, dkk. 1986. Pengarang Wanita dalam Sastra Jawa Modern.Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Prasetya, Joko Tri., dkk. 2004. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Prihatmi, Sri Rahayu Th, dkk. 2003. Peribahasa Jawa sebagai Cermin, Watak, Sifat, dan Perilaku manusia Jawa. Jakarta: Pusat Bahasa.

Ratna, Nyoman Kutha. 2005. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Sumardjo, Jacob. 1984. Novel Indonesia Mutakhir; Sebuah Pengantar.Bandung:

Nurcahaya.

. 1995. Sastra dan massa. Bandung: Penerbit ITB.

Suryadi AG, Linus. 2007. Pengakuan Pariyem. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tang, Muhammad Rapi. 2005. “Teori Sastra yang Relevan”. Diktat. Makassar:

Universitas Negeri Makassar.

Tarigan, H. G. 1985. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra.Bandung: Angkasa.

Wiranata, I Gede A.B. 2002. Antropologi Budaya.Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Penerbit Pustaka.

Lampiran 1

KORPUS DATA

1) “O Allah, Gusti nyuwun ngapura. O Allah, apakah dosa?!? Sedang mulut sibuk bertanya-tanya. Tapi benarkah orang Jawa itu punya konsep perkara dosa? Benarkah dia menghayatinya? Simbah saya pernah berpesan: Orang berisi itu orang yang semakin runduk ke bumi-itulah ngelmu padi. Sikap congkak dan sombong diri tanda orang itu kurang pekerti Wani ngalah luhur wekasanipun itulah wejangannya. (Pengakuan Pariyem, 2015: 51)

2) “Darah saya mengalir mengikuti fitrahnya batin saya tenang; bebas dari kerisauan. Karsa, Kerja, Karya Dan saya sudah 3K sebagai babu, kok. Saya siap menyambut berkah-kerja sebagai ibadah harian hidup saya. (Pengakuan Pariyem, 2015: 32)

3) “Ya, ya, pada mulanya adalah karsa: Karsa mretul di dalam sanubari. Tanpa karsa, kerja bakalan percuma tanpa kerja, karya hanya cita-cita. Antara karsa sampai pada karya kerja memanggil jam-jam tersedia. Ya,ya, karsa adalah pada mulanya: Bagaikan sumber air di kaki gunung menjadi telaga Putri dan Nirmala. Dari sumber hayatnya ia memancur mengalir ke lembah tana selatan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 33)

4) “Ya, ya, pada mulanya adalah karsa: yang mengaliri panca indera saya yang mengusik rasa dan pikiran. Yang menggerakkan kaki dan tangan yang menyimpan hikmah diam-diam. Ah, ya, lihatlah hidup saya sekarang: Sehabis melampaui kesungguhan kerja yang ada adalah penjelmaan karsa. Karsa pun tampil dari jagad dalam tampilan karya yang saya idamkan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 33)

5) “Saya sudah trima, kok. saya lega lila. Kalau memang sudah nasib saya sebagai babu, apa ta repotnya? Gusti Allah Maha Adil, kok. saya nrima ing pandum. (Pengakuan Pariyem, 2015: 30)

6) “Apabila nDoro Kanjeng berbicara. Ia gemar pakai lambang-lambang wayang. Terasa sederhana, tapi maknanya dalam "Wayang," ujar nDoro Kanjeng:"pada hakekatnya bayang-bayang yang hanya mungkin hidup apabila digerakka oleh ki dalang." Demikianlah tubuh kita, pribadi kita dalangnya. Tubuh punya gerakan selaras apabila disetir oleh batin.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 112)

7) “Ya, ya, diam-diam tanpa melawan tapi mencatat dengan ikhlas tiap desir percakapan orang kelembutan yang pernah diajarkan: jangan usik ketenangan air kolam. Demikianlah, benih dalam hati saya tertanam: Sambutlah siapa pun juga dia dengan sabar dan tenang. Terimalah bagaimana pun juga dia dengan

senyum dan keramahan. Dan jamulah apa pun juga dia dengan ikhlas tanpa kecurigaan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 59)

8) “Mas Paiman, saya bilang, ya. Jadi orang hidup itu mbok ya yang teguh imannya gitu,lho? Hidup yang prasojo saja tak usah yang aeng-aeng. Madeg, Mantep, dan Madhep. Dan saya sudah 3M sebagai babu, kok. Kabegjan masing-masing kita punya, sudah kita bawa sejak lahir. Rejeki datang bukan karena culas dan cidra tapi karena uluran tangan Hyang Maha Agung.

Kebajikan yang kita tanam sehari-hari menambah asri kebun kehidupan insani. (Pengakuan Pariyem, 2015: 29)

9) “Bila nDoro Kanjeng kondangan alangkah ngengkreng pakainnya Jas dan pantalon dia punya tapi tak pernah dipakainya. Selalu pakaian Jawa, selalu pakaian Jawa: Ya, ya, nDoro Kanjeng pernah bilang: "Kita sendiri punya peradaban, Iyem. Apabila bukan kita yang menghargai malah malu dan meremehkan, itu aib siapa yang mengangkat martabatnya?" Selalu pakaian Jawa, selalu pakaian Jawa! (Pengakuan Pariyem, 2015: 69)

10) “Apa artinya jabatan," Ujar nDoro Kanjeng "Bila manusia kehilangan kemanusiaannya?" Bukankah yang penting-demikian saya-nDoro Kanjeng dekat dengan kita? Orang kita tidak biasa diperhitungkan tapi menjadi tiang sanggah kehidupan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 71)

11) “nDoro Ayu Cahya Wulaningsih itu pasuryannya selalu memancar segar langka mengeluh, suka berkelakar, dia suka bertandang pada kerabat yang mempunya hajat besar-Tuguran namanya. Dalam jagat pasrawungan lamanya sepasar. Dia amat ringan tangan, lho-enthengan. Dengan duduk bersimpuh di tikar kerjanya tangkas dan cekat-ceket 'Criwis cawis'. (Pengakuan Pariyem, 2015: 119)

12) “nDoro Ayu Cahya Wulaningsih. Dia tak suka membeda-bedakan orang, Dia tak suka membanding-bandingkan: Yang bangsawan dan yang pidak- pedarakan, yang kraton kota-dan yang kedusunan, yang kaya raya-dan yang kere gelandangan, yang pejabat tinggi dan yang penganggur, yang presiden dan petani pedagang. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi sama derajatnya dan sama pula nilainya. (Pengakuan Pariyem, 2015: 130)

13) “O, Allah, nDoro Ayu, nDoro Ayu. Betapa anggun dan luhur budinya. Saya tak melihat di mana celanya, saya melihat keagungan wanodya. O, berbahagialah nDoro Kanjeng mempunyai dhiajeng nDoro Ayu. (Pengakuan Pariyem, 2015: 120)

14) “Ya,ya, Pariyem saya. Maria Magdalena Pariyem lengkapnya. "iyem"

panggilan sehari-harinya dari Wonosari Gunung Kidul Sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryomentaraman Ngayogyakarta. Saya

sudah trima, kok. saya lega lila. Kalau memang sudah nasib saya sebagai babu, apa ta repotnya? Gusti Allah Maha Adil, kok. saya nrima ing pandum.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 30)

15) “Kini hari jam 6.30 pagi. Kerja suntuk sudah saya lalui. Kopi, nasi goreng, dan telur ceplok sudah siap-sedia di meja makan Tinggal saya menggarap isi rumah dengan serbet dan air, ngepel. (Pengakuan Pariyem, 2015: 37)

16) “Darah saya mengalir mengikuti fitrahnya batin saya tenang; bebas dari kerisauan. Karsa, Kerja, Karya Dan saya sudah 3K sebagai babu, kok. Saya siap menyambut berkah-kerja sebagai ibadah harian hidup saya. (Pengakuan Pariyem, 2015: 32)

17) “Bapak saya pemain Kethoprak ulung. Suwito nama kecilnya. Karso Suwito nama tuanya. Gonjing nama panggilannya. Paguyuban Kethoprak bapak laris banget, lho, sering mengadakan pertunjukan dana dan amal sampai perleg sebulan segala. Di kota-kota Kecamatan dan Kabupaten. Bapak saya biasa berperan bambangan, banyak benar wanita kepincut sama bapak saya.

Apalagi bila dia sudah gandrung-ura-ura- para penonton terharu hilang kata.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 25)

18) “Sedang simbok saya jadi Ledhek. Parjinah nama kecilnya. Jinah nama panggilannya. Tapi di jagad pesindhenan. Niken Madu Kenter julukannya betapa sering banget mengembara. Ke kota-kota Kecamatan dan Kabupaten.

Simbok pun laris ditanggap Tayuban bersama sejumlah kawan seangkatannya-bersama sejumlah kawan seangkatannya. Simbok adalah bintang primadonanya. (Pengakuan Pariyem, 2015: 25)

19) “Memang, bapak saya seorang petani, kok. Tapi cuman menggarap bengkok pak Sosial, tidak jembar sama sekali. Hanya 3 petak kecil-kecil, letaknya di pinggir kali. Untuk menyangga hidup kami sekeluarga, berlima. Saya anak tertua, mas. Dua adik saya lelaki dan wanita. Pairin menganyam caping di rumah. Painem membantu simbok di pasar. Sedang bapak seharian di sawah buruh, sibuk mengolah tanah. (Pengakuan Pariyem, 2015: 4)

20) “Tak ada sedih, tak ada rintih batin pun kebal perasaan khawatir, sampai hari pembebasan berakhir. Dan kembalilah kini:-Kuluk dan pakaian raja bapak, sampur dan sondher milik simbok disimpan rapih di babragan. Pertanda satu babagan kehidupan sudah menjadi masa silam. Dan kembalilah kini:- Bapak dan simbok bertani, bercocok tanam di ladang. Padi gogo dan palawija di Wonosari Gunung Kidul. (Pengakuan Pariyem, 2015: 28)

21) “Ya, ya, pada hasil panen semua tergantung, tergantung hasil panen semua berhitung: "Ini hidup absurd banget, impossible. Tidak masuk akal.

Bagaimana mungkin? Sedangkan mulut terus menganga perut minta isi saban

harinya. Sengkarut kebutuhan yang muncul hasil panen di jadikan gali lubang tutup lubang kami hidup tak terlepas dari hutang. Bukankah kami hidup dalam lingkungan dengan para tetangga kiri dan kanan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 11)

22) “Bapak saya seorang petani, kok. Tapi cuma menggarap bengkok pak sosial, tidak jembar sama sekali. Hanya 3 petak kecil-kecil, letaknya di pinggir kali.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 4)

23) “Bapak seharian di sawah buruh, sibuk mengolah tanah.(Pengakuan Pariyem, 2015: 4)

24) “Tak ada sedih, tak ada rintih batin pun kebal perasaan khawatir, sampai hari pembebasan berakhir. Dan kembalilah kini:-Kuluk dan pakaian raja bapak, sampur dan sondher milik simbok disimpan rapih di babragan. Pertanda satu babagan kehidupan sudah menjadi masa silam. Dan kembalilah kini:- Bapak dan simbok bertani, bercocok tanam di ladang. Padi gogo dan palawija di Wonosari Gunung Kidul. (Pengakuan Pariyem, 2015: 28)

25) “Ya, ya. Pariyem saya. Lahir saya pada musim tanam padi. Harapan bapak, sesuai kelahiran dan nama yang diberikan buat saya: Semoga Dewi Sri Kembang yang cantik jelita. Semoga menganugerahkan rahmat bagi padi yang ditanam dalam musim pengharapan. Dan menjauhkan hama tikus dan wereng yang merusak penghidupan kami. (Pengakuan Pariyem, 2015: 7) 26) “Sudah banyak musim berlalu. Padi diserang hama tikus dan wereng.

Lihatlah, hama tikus dan wereng menggasak padi yang hijau royo-royo, merusak kaum petani bercocok tanam dan menggagalkan panenan kami.

Beribu-ribu tikus. berjuta-juta wereng. Datang dan pergi silih berganti.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 7)

27) “Walau pemberantasan digalakkan. Mereka pun beramai-ramai. Dengan bergotong-royong, mereka tak kenal capek. Membentuk barisan semprot wereng, membentuk barisan tumpas wereng. Dengan tangki-tangki gendhong dari kelurahan. Dengan lampu-lampu Petromax dan ati berang, membentuk barisan grebeg tikus, membentuk barisan ganyang tikus. Segala macam racun, obat, dan tetek bengek siasat. Telah mereka gunakan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 9)

28) “Ya, ya, Pariyem saya. Saya lahir di atas amben bertikar dengan ari-ari menyertai pula. Oleh mbah dukun di potong dengan welat, tajamnya tujuh kali pisau cukur. Bersama telor ayam mentah, beras, uang logam, bawang merah dan bawang putih, gula, garam, jahe dan kencur, adik ari-ari jadi satu.

Sehabis dibersihkan dibungkus periuk tanah kemudian ditanam di depan rumah. Ya,ya, telur: lambang sifat bayi baru lahir belum bisa apa-apa, murni,

gulang-gulang tergantung pada yang tua. Beras dan dhuwit logam: lambang harap semoga hidup kita serba berkecukupan dalam hal sandang, pangan, dan uang. Bawang merah dan bawang putih, gula, garam, jahe dan kencur:

lambang pahit-manisnya hidup yang bakal terjumpa dan terasakan, agar:

jangan terlalu sedih bila mendapat kesusahan, jangan terlalu gembira bila mendapat kesenangan. Dengan upacara kecil adik ari-ari pun di kubur di depan pintu sebelah kanan bila bayi laki-laki, di depan pintu sebelah kiri bila bayi perempuan. Dipanjar diyan sampai bayi umur selapan. (Pengakuan Pariyem, 2015: 2)

29) “Kata bapak, nama itu membawa tuah. Dia berikan, ketika saya berumur 5 hari-Sepasaran, bahasa populernya. Maka tersedialah tikar di lantai, di tanah:

Jenang abang: lambang kesucian si jabang bayi, Jenang putih: lambang cahya yang menerangi alam, Ingkung ayam: lambang keutuhan badan wadhag telanjang, Nasi tumpeng dan gudhangan: lambang pergaulan hidup yang kelak memperkaya pengalaman, Jenang sumsum: lambang harap, semoga otot bayu simbok bayi yang melahirkan pulih segar bugas sebagai sediakala.

Dan jabang bayi kian kokoh daya kekuatannya. (Pengakuan Pariyem, 2015:

3)

30) “Saya minum air-sirih sekali saban Minggu, biar bersih dan jernih kotoran tenggorokan dan keringat badan tak berbau kayak brambang. Lirih, Laras, dan Lurus. Dan saya sudah 3L sebagai babu, kok. Saya ngomong tak pernah berteriak, lirih, tapi terang kesampaian sanggup menguak tabis lengang dan menyibak bising percakapan. Saya ngomong tak pernah gadhog laras, tapi penuh irama khas. Medhok-kata wong Tanah Sabrang yang pinternya bicara Jawa ngoko. Dan saya mangap tak pernah mencong, lho. Lurus, bagaikan jalur jalan malioboro yang menyambung Tugu dan bangsal kraton tanpa belokan dan bunga di pinggiran berpusat di satu tempat arah kiblat-Mandala.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 34)

31) “Napas dada langka saya pergunakan karena suara yang lahir pas-pasan.

Napas dada hanya membuahkan emosi cocok bagi orang yang sakit gigi. Dan saya memakai napas perut-lembut-langsung naik ke batang tenggorokan.

Suara yang ke luar terdengar- lunak orang mendengar pun merasa enak. Dan saya langka mencaci orang, lho kecuali orangnya memang sontoloyo.

(Pengakuan Pariyem, 2015: 35)

32) “Kanjeng Raden Tumenggung gelarnya. putra Wijaya nama timurnya. Cokro Sentono nama dewasnya. ndoro kanjeng panggilnnya, priyagung Kraton Ngayogyakarta. Priyanyinya jangkung, tubuhnya gede. Dia punya katuranggan raden Werkudara. Dan dia memakai tismak, apabila membaca.

Bertelekan tongkat apabila berjalan. Sak titahe, tak bergegas mengikuti irama jagad dalam. Itulah jiwa Jawa, Mas: Alon-alon waton klakon. Tapi semua pekerjaannya beres tidak ada yang terlantar. (Pengakuan Pariyem, 2015: 67)

Dokumen terkait