• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

Dalam dokumen SKRIPSI - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 46-64)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Dalam bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui pendekatan proses model simulasi kreatif murid kelas V SD Inpres Kaluku Bodoa. Untuk lebih memperjelas suatu permasalahan yang terjadi pada murid, dalam hal ini untuk mengetahui kemampuan membaca pemahaman murid sebelum digunakan pendekatan proses model simulasi kreatif dan sesudah penerapan pendekatan simulasi kreatif. Penelitian tindakan kelas ini terjadi dalam delapan rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang yang terdiri dari dua siklus, dalam setiap siklus proses pengajaran dilaksanakan masing-masing tiga kali pertemuan.

Hasil penelitian setiap siklus dipaparkan secara terpisah hali ini dilakukan untuk memudahkan membandingkan adanya perbedaan, persamaan, atau perkembangan dari setiap siklus. Setiap data siklus dipaparkan: 1). Perencanaan tindakan 2). Pelaksanaan tindakan pendekatan proses model simulasi kreatif dalam pembelajaran membaca pada mata pelajaran bahasa Indonesia, 3). Pengamatan tindakan (observasi), 4). Refleksi pelaksanaan tindakan.

1. Hasil Penelitian Siklus I

Dalam bagian ini dipaparkan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

Paparan data tersebut diperoleh melalui aktivitas guru dan siswa dalam proses dan

32

hasil belajar membaca. Pelaksanaan membaca pemahaman dengan menggunakan pendekatan proses model simulasi kreatif terdiri dari tiga tahap, yakni tahap pra baca, tahap saat baca, dan tahap pasca baca. Ketiga tahapan ini diimplementasikan dalam perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan hasil belajar menulis deskripsi murid.

a. Perencanaan Pembelajaran

Sebelum melaksanakan tindakan, peneliti dan guru kelas V secara kolaboratif menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan proses model simulasi kreatif pembelajaran membaca pemahaman. Perencanaan tersebut disusun dan dikembangkan berdasarkan program semester satu. perencanaan tindakan terdiri atas (1) Menentukan tema/topik pembelajaran, (2). Menentukan tujuan pembelajaran, (3). Menentukan langkah-langkah KBM, (4). Memilih bahan/Materi pelajaran, (5). Menyusun alat tes hasil belajar, dan (6). Menyusun format observasi aktivitas guru dan siswa.

Perencanaan pembelajaran pada pertemuan siklus I ini mengambil materi pokok

“simpulan cerita anak”. Dalam pembelajaran ini direncanakan dalam tiga kali pertemuan dalam tiap siklus.

b. Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman melalui pendekatan proses model simulasi kreatif murid kelas V SD Inpres Kaluku Bodoa Kecamatan Tallo Makassar, untuk siklus I dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun secara kolaborasi oleh guru kelas, peneliti dan

observer yaitu melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan proses model simulasi kreatif untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman murid, yang dilaksanakan dalam empat kali pertemuan tiap siklus. Pertemuan silkus I dilaksanakan pada tanggal 1, 2, 4 dan 5 september 2014, pertemuan siklus II dilaksanakan pada tanggal 8, 9, 11 dan 12 september 2014.

Keberhasilan guru dan murid dalam proses tindakan pembelajaran membaca diamati berdasarkan kemunculan indikator setiap aktivitas yang telah ditargetkan.

Keberhasilan pembelajaran siklus I dipaparkan dalam satu kali pertemuan. Data keberhasilan guru dan murid dalam proses pembelajaran membaca pemahaman dikelompokkan dalam tiga tahap sesuai dengan tahapan pendekatan yang diterapkan yakni tahapan pendekatan proses model simulasi kreatif, yakni ketiga difokuskan pada tahap pra baca, saat baca, dan pasca baca. Dan diamati dengan menggunakan format observasi aktivitas guru dan format observasi aktivitas murid.

a. Tahap Pra baca

Data keberhasilan guru pada tahap pra baca diamati melalui aktivitas guru mengadakan curah pendapat mengenai materi bacaan yang paling disenangi murid, membimbing murid memilih bacaan karangan yang sesuai dengan tema pelajaran, membimbing murid mengembangkan materi dengan pertanyaan dan jawaban yang berkaitan materi pokok, membimbing murid memilih bacaan berdasarkan materi pokok dan membimbing murid dalam membaca.

Aktivitas murid pada tahap ini diarahkan pada indikator yang menjadi target pembelajaran yakni murid berperan aktif dalam proses pembelajaran pada tahap

pembelajaran, mengadakan curah pendapat, memilih materi bacaan, memprediksi bacaan, mengembangkan bacaan, dan memilih bacaan yang disenangi.

Aktivitas murid pada tahap curah pendapat pada siklus I dikategorikan Cukup.

Aktivitas murid pada tahap ini adalah melakukan curah pendapat untuk memunculkan materi bacaan yang mereka senangi bersama dengan guru. Pada tahap ini hanya ada beberapa murid yang aktif dan mampu mencurahkan pendapat dalam merespon pembelajaran yang diberikan oleh guru secara emosional untuk memunculkan materi bacaan yang disenangi oleh murid, pada tahap ini juga terdapat murid yang kurang dan tidak mampu melakukan curah pendapat dan memberikan alasan yang jelas tentang materi pembelajaran dalam memunculkan bacaan yang disenangi murid.

Pada tahap memilih materi bacaan, aktivitas murid adalah aktif memilih bacaan yang sesuai berdasarkan hasil curah pendapat yang telah dirangkum bersama pada pembelajaran curah pendapat. Pada tahap ini murid masih dalam kategori cukup karena hanya beberapa murid yang aktif dalam memilih bacaan.

Pada tahap memprediksi bacaan di kategorikan cukup karena murid tampak bingung memprediksi isi bacaan yang akan mereka baca.

Pada tahap mengembangkan bacaan aktivitas murid adalah mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan berdasarkan materi pokok yang telah dipilih.

Pada tahap ini guru memancing murid dalam mengembangkan bacaan dengan memberikan pertanyaan pemahaman mengenai materi pokok kemudian memberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan berdasarkan materi pokok yang telah dipilih. Pada tahap ini aktivitas murid berada pada kategori cukup karena siswa belum terlibat secara keseluruhan.

Pada tahap memilih bacaan berada pada kategori cukup sebab murid terlihat aktif dalam memilih bacaan yang sesuai dengan materi pokok dan tema pelajaran.

b. Tahap saat membaca

Keberhasilan guru pada tahap saat menulis diamati melalui aktivitas guru menjelaskan materi pelajaran, membimbing murid yang mengalami kesulitan memahami isi bacaan.

Pada tahap mendengarkan penjelasan guru mengenai materi membaca pemahaman dikategorikan cukup karena guru kurang jelas dalam menjelaskan materi pelajaran.

Pada tahap membimbing murid yang kurang memahami isi bacaan di kategorikan cukup karena guru tidak dapat memberikan pembimbingan secara maksimal karena alasan waktu yang digunakan sangat singkat.

c. Tahap pasca membaca

Keberhasilan guru pada tahap pasca membaca diamati melalui aktivitas guru memberikan pertanyaan pemahaman, menyuruh murid untuk menceritakan kembali isi bacaan, melakukan simulasi kreatif dalam bentuk permainan, dan memberikan pertanyaan pengembangan kepada murid.

Pada tahap memberikan pertanyaan pemahaman dikategorikan cukup karena masih ada sebagian murid yang tidak dapat menjawab pertanyaan pemahaman yang diberikan guru.

Pada tahap melakukan simulasi kreatif dikategorikan cukup, hal ini disebabkan karena guru kurang jelas dalam memberikan gambaran tentang pelaksanaan simulasi yang baik.

Pada tahap menceritakan kembali isi bacaan dikategorikan kurang, hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman siswa terhadap isi bacaan.

c. Analisis Hasil Pengamatan Pembelajaran Membaca Pemahaman

Pengamatan (Observasi) siklus I dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan pembelajaran pada siklus I, yakni pengamatan pada tahap pra baca, tahap saat baca, dan tahap pasca baca.

Observasi terhadap kegiatan guru dan murid terangkum dalam hasil pengamatan observasi yang merupakan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti yang bertindak sebagai observer selama berlangsungnya penelitian.

1). Hasil observasi aktivitas mengajar guru dengan menggunakan model simulasi kreatif dalam peningkatan kemampuan membaca pemahaman murid

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan terhadap guru pada pelaksanaan tindakan siklus I, pelaksanaan tindakannya dikategorikan berada pada kualifikasi cukup (C). Hal ini disebabkan masih ada beberapa butir perencanaan yang dilaksanakan oleh guru namun pelaksanaannya belum sempurna, misalnya pada tahap pra baca ada 2 indikator pembelajaran yang dilakukan oleh guru, yakni tahap curah pendapat dan tahap mengembangkan bacaan yang telah dipilih, pada tahap ini guru kurang memberikan motivasi kepada murid. Tahap saat membaca ada satu indikator yang belum dilaksanakan guru secara sempurna yakni memberikan pembimbingan kepada murid yang mengalami kesulitan dalam membaca.

Sedangkan pada tahap pasca baca terdapat satu pula indikator yang belum dilaksanakan guru secara sempurna yakni pada tahap pada tahap memberikan pertanyaan pengembangan.

Berdasarkan hasil pengamatan aktifitas guru dalam pembelajaran membaca pemahaman dikategorikan cukup . Aktifitas guru dalam membimbing murid pada tahap pra baca, tahap saat baca dan tahap pasca baca dikategorikan cukup. Hal ini pada umumnya disebabkan oleh guru kurang memberikan motivasi kepada murid dalam setiap tahapan pembelajaran

Berdasarkan hasil analisis data aktivitas guru dalam pembelajaran membaca pemahaman pada siklus I, disimpulkan bahwa pencapaian target aktivitas guru dalam pembelajaran membaca pemahaman melalui penggunaan pendekatan proses model simulasi kreatif rata-rata cukup. Hal ini tampak dari indikator yang muncul, baik pada tahap pra baca, saat baca, maupun tahap pasca baca.

2). Hasil observasi aktivitas belajar murid dengan menggunakan model simulasi kreatif dalam peningkatan kemampuan membaca pemahaman murid

Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap aktivitas murid pada pelaksanaan tindakan siklus I, pelaksanaannya dikategorikan berada pada kualifikasi Cukup (C).

hal ini disebabkan karena murid kurang antusias dalam merespon pembelajaran yang diberikan oleh guru.

Berdasarkan hasil pengamatan aktifitas murid dalam pembelajaran membaca pemahaman dikategorikan cukup. Pada tahap pra baca, saat baca, dan pasca baca dikategorikan Cukup (C). dalam kegiatan ini murid kurang merespon pembelajaran

yang diberikan oleh guru. murid juga kurang termotivasi dalam melaksanakan pembelajaran yang disampaikan oleh guru.

Berdasarkan hasil analisis data aktivitas murid dalam pembelajaran membaca pemahaman pada siklus I, disimpulkan bahwa pencapaian target aktivitas murid dalam pembelajaran membaca pemahaman melalui penggunaan pendekatan proses model simulasi kreatif rata-rata Cukup. Hal ini tampak dari indikator yang muncul, baik pada tahap pra baca, saat baca maupun tahap pasca baca.

3). Data Hasil Belajar Murid kelas V SD Inpres Kaluku Bodoa telah melakukan penelitian maka diperoleh data kuantitatif, dimana data kuantitatif merupakan data tentang hasil belajar Bahasa Indonesia SD Inpres Kaluku Bodoa pada akhir siklus I dengan maksud untuk mengetahui sejauh mana hasil belajar Bahasa Indonesia murid setelah dilaksanakan siklus I.

Adapun data hasil analisis deskriptif secara kuantitatif skor hasil belajar Bahasa Indonesia pada murid kelas V SD Inpres Kaluku Bodoa akhir siklus I dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.1 Statistik Skor Hasil Belajar Murid pada siklus I Statistik Nilai statistic

Subjek Skor ideal Skor tertinggi Skor terendah Skor rata-rata KKM

30 100

86 45 65.23

70

Nilai rata−rata =Nilai keseluruhan Jumlah murid

= 1957 30

= 65.23

Tabel tersebut menunjukkan bahwa dari 30 murid diperoleh skor tertinggi 86, skor terendah 45 dan skor rata-rata 65.23 dan berada di bawah nilai KKM yang di tentukan yaitu 70 dari skor ideal 100.

Apabila skor hasil belajar bahasa Indonesia dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase skor pada tabel di bawah ini:

Tabel. 4.2Distribusi frekuensi dan persentase skor hasil belajar murid kelas V SD Inpres Kaluku Bodoa

Berdasarkan table di atas dapat dilihat bahwa dari 30 murid kelas V SD Inpres Kaluku Bodoa, yang masuk dalam kategori “Sangat Baik” 1 murid (3,33%), kategori “Baik” 8 murid (26.67 %), kategori “Cukup” 15 murid (50 %), kategori “Kurang”, 6 murid (20 %)

No Skor Kategori Frekuensi Persentase

(%) 1.

2.

3.

4.

5.

86 – 100 71 – 85 56 – 70 41 – 55

< 40

Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang

1 8 15

6 -

3.33%

26.67%

50 % 20 %

-

Jumlah 30 100 %

dan murid yang masuk dalam kategori “Sangat Kurang” tidak ada. Dapat disimpulkan pula bahwa hasil keterampilan membaca pemahaman yang diperoleh murid setelah menerapkan model simulasi kreatif pada siklus I mencapai nilai rata-rata 65,23 dan berada dalam kategori “Cukup”.

Apabila hasil belajar keterampilan membaca pemahaman murid pada siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.3. Deskripsi ketuntasan belajar murid pada siklus I

Skor Kategori Frekuensi Persentas

e 0 – 69

70 – 100

Tidak tuntas Tuntas

17 13

56.67%

43.33%

Jumlah 100 100%

Tabel di atas menunjukkan bahwa pada siklus I, dari 30 murid, yang tuntas belajar hanya 13 murid dan yang tidak tuntas sebanyak 17 murid, artinya masih banyak murid yang memerlukan perbaikan. Oleh karena itu, akan diusahakan perbaikan dan peningkatan pembelajaran pada siklus II.

d. Refleksi tindakan siklus I pada pembelajaran Membaca Pemahaman.

Berdasarkan hasil analisis data siklus I dilakukan refleksi. Refleksi dilakukan terhadap pembelajaran membaca pemahaaman dengan menggunakan pendekatan proses model simulasi kreatif. Data menunjukkan bahwa aktivitas proses pembelajaran guru dan murid perlu ditingkatkan. Hal ini sesuai dengan hasil pengamatan melalui format observasi untuk guru dan murid. Upaya yang dilakukan

adalah guru perlu memberikan motivasi agar murid termotivasi dalam merespon pembelajaran yang diberikan oleh guru.

2. Hasil Penelitian Siklus II

Dalam bagian ini dipaparkan perencanaan, pelaksanaan, dan hasil penelitian.

Paparan data tersebut diperoleh melalui aktivitas guru dan siswa dalam proses dan hasil belajar membaca pemahaman. Pelaksanaan membaca pemahaman dengan menggunakan pendekatan proses model simulasi kreatif terdiri dari tiga tahap, yakni tahap pra baca, tahap saat baca, dan tahap pasca baca. Ketiga tahapan ini diimplementasikan dalam perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan hasil belajar menulis deskripsi murid.

a. Perencanaan Pembelajaran Membaca Pemahaman.

Sebelum melaksanakan tindakan, peneliti dan guru kelas V secara kolaboratif menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan proses model simulasi kreatif dalam pembelajaran membaca pemahaman.

Perencanaan tersebut disusun dan dikembangkan berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi pada pembelajaran siklus I. pada tahap pembelajaran siklus II ini lebih difokuskan pada kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus I. Perencanaan tindakan terdiri atas (1). Menentukan tema/topik pembelajaran, (2). Menentukan tujuan pembelajaran, (3). Menentukan langkah-langkah KBM, (4). Memilih bahan/Materi pelajaran, (5). Menyusun alat tes hasil belajar, dan (6). Menyusun format observasi aktivitas guru dan murid.

Perencanaan pembelajaran pada pertemuan siklus II ini mengambil materi pokok “ simpulan cerita anak”. dalam pembelajaran ini direncanakan dalam tiga kali pertemuan, pertemuan ini difokuskan pada tahap pra baca, saat baca, dan pasca baca.

b. Pelaksanaan Pembelajaran Membaca Pemahaman

Pada pelaksanaan pembelajaran siklus II, proses belajar mengajar dilaksanakan seperti halnya dengan siklus I dengan melaksanakan proses belajar mengajar yang sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sebelumnya telah disusun oleh guru, peneliti dan Observer dengan menerapkan pendekatan proses model simulasi kreatif dalam pembelajaran membaca pemahaman murid.

Keberhasilan guru dan murid dalam proses tindakan pembelajaran membaca pemahaman diamati berdasarkan kemunculan indikator setiap aktivitas yang telah ditargetkan. Keberhasilan pembelajaran siklus II dipaparkan dalam satu kali pertemuan. Data keberhasilan guru dan murid dalam proses pembelajaran membaca pemahaman dikelompokkan dalam tiga tahap sesuai dengan tahapan pendekatan yang diterapkan yakni tahapan pendekatan proses, yakni ketiga difokuskan pada tahap pra baca, saat baca, dan pasca baca. Dan diamati dengan menggunakan format observasi aktivitas guru dan format observasi aktivitas murid.

a. Tahap Pra baca

Data keberhasilan guru pada tahap pra baca diamati melalui aktivitas guru mengadakan curah pendapat mengenai materi pokok yang paling disenangi murid, membimbing murid memilih bacaan karangan yang sesuai dengan materi pokok pelajaran, membimbing murid mengembangkan bacaan dengan pertanyaan dan

jawaban yang berkaitan dengan materi pokok, membimbing murid memilih bacaan berdasarkan materi pokok dan membimbing murid dalam membaca.

Aktivitas murid pada tahap ini diarahkan pada kelemahan-kelemahan yang terdapat pada pembelajaran siklus I yakni meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran pada tahap pembelajaran, mengembangkan topik yang sesuai dengan materi pokok yang telah dipilih disamping tetap melaksanakan indikator yang lain.

Pada tahap mengembangkan bacaan aktivitas murid adalah mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan berdasarkan materi pokok yang telah dipilih.

Pada tahap ini guru memancing murid dalam mengembangkan bacaan dengan memberikan pertanyaan mengenai materi pokok kemudian memberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan berdasarkan materi yang telah dipilih. Pada tahap ini aktivitas murid dikategorikan sangat baik karena hampir seluruh murid terlibat secara keseluruhan.

Pada tahap ini murid terlihat aktif mengajukan pertanyaan maupun menjawab pertanyaan yang diajukan guru maupun pertanyaan yang diajukan oleh siswa. Pada siklus II ini aktivitas siswa meningkat dibandingkan aktivitas siswa pada pembelajaran siklus I.

b. Tahap saat baca

Keberhasilan guru pada tahap saat baca diamati melalui aktivitas guru saat memberikan pembimbingan kepada murid yang mengalami kesulitan memahami isi bacaan, hal ini berada pada kategori sangat baik.

Aktivitas murid pada tahap ini diarahkan pada kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus I yakni meningkat aktifitas murid dalam proses pembelajaran pada tahap pembelajaran, mengembangkan pemahaman murid terhadap isi bacaan.

c. Tahap pasca baca

Keberhasilan guru pada tahap pasca menulis diamati melalui aktivitas guru membimbing murid melakukan perbaikan dalam melakukan simulasi kreatif, memberikan pertanyaan pemahaman, dan menceritakan kembali isi bacaan yang telah dibaca oleh murid.

Aktivitas murid pada tahap ini diarahkan pada kelemahan yang terjadi pada tahap pasca menulis pada siklus I yakni mengadakan perbaikan saat melakukan simulasi kreatif, menceritakan kembali isi bacaan, dan memberikan pertanyaan pengembangan.

Setelah melaksanakan pembelajaran, pada umumnya aktivitas murid pada tahap pasca baca berada pada katogori sangat baik. Aktivitas murid pada tahap melakukan simulasi kreatif, adalah melakukan ilustrasi dalam bentuk permainan sesuai dengan isi bacaan. Kemudian membacakan kembali isi bacaan yang telah dibaca.

c. Analisis Hasil Pengamatan Pembelajaran Membaca Pemahaman

Pengamatan (Observasi) siklus II dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan pembelajaran pada siklus II, yakni pengamatan pada tahap pra baca, saat baca, dan pasca baca.

Observasi terhadap kegiatan guru dan murid terangkum dalam hasil pengamatan observasi yang merupakan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti yang bertindak sebagai observer selama berlangsungnya penelitian.

1). Hasil observasi aktivitas mengajar guru dengan menggunakan model simulasi kreatif dalam peningkatan kemampuan membaca pemahaman murid

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan terhadap guru pada pelaksanaan tindakan siklus II, pelaksanaan tindakannya dikategorikan berada pada kualifikasi sangat baik (SB). Hal ini pada umumnya disebabkan oleh guru telah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan perencanaan pembelajaran yang telah direncanakan yang sesuai dengan tahapan pendekatan proses model simulasi kreatif dan terus memberikan motivasi kepada murid dalam setiap tahapan pembelajaran.

Berdasarkan hasil analisis data aktivitas guru dalam pembelajaran membaca pemahaman pada siklus II, disimpulkan bahwa pencapaian target aktivitas guru dalam pembelajaran membaca pemahaman melalui penerapan pendekatan proses model simulasi kreatif rata-rata sangat baik. Hal ini tampak dari indikator yang muncul, baik pada tahap pra baca, saat baca, maupun tahap pasca baca.

2). Hasil observasi aktivitas belajar murid dengan menggunakan model simulasi kreatif dalam peningkatan kemampuan membaca pemahaman murid

Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap aktivitas murid pada pelaksanaan tindakan siklus II, pelaksanaannya dikategorikan berada pada kualifikasi sangat baik (SB). Hal ini disebabkan karena kegiatan murid terlihat antusias dalam merespon pembelajaran yang diberikan oleh guru.

Berdasarkan hasil analisis data aktivitas murid dalam pembelajaran membaca pemahaman pada siklus II, disimpulkan bahwa pencapaian target aktivitas murid dalam pembelajaran membaca pemahaman melalui penerapan pendekatan proses model simulasi rata-rata sangat baik. Hal ini tampak dari indikator yang muncul, baik pada tahap pra baca, saat baca, maupun tahap pasca baca.

3). Data Hasil Belajar Murid kelas V SD Inpres Kaluku Bodoa Pada Siklus II

Setelah melakukan penelitian maka diperoleh data kuantitatif, dimana data kuantitatif merupakan data tentang hasil belajar Bahasa Indonesia pada murid kelas V SD Inpres Kaluku Bodoa pada akhir siklus II dengan maksud untuk mengetahui sejauh mana hasil belajar Bahasa Indonesia setelah dilaksanakan siklus II.

Adapun data hasil analisis deskriptif secara kuantitatif skor hasil belajar bahasa Indonesia pada murid kelas V SD Inpres Kaluku Bodoa akhir siklus II dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 4.4Statistik Skor Hasil Belajar murid pada siklus II Statistik Nilai statistic Subjek

Skor ideal Skor tertinggi Skor terendah Skor rata-rata KKM

30 100 100 70 82.53

70

Nilai rata−rata =Nilai keseluruhan Jumlah murid

=

= 82.53

Tabel tersebut menunjukkan bahwa dari 30 murid diperoleh tertinggi 100, skor terendah 70 dan skor rata-rata 82.53 dan telah memenuhi nilai KKM 70 dari skor ideal 100.

Apabila skor akhir belajar murid dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi skor yang ditunjukkan pada tabel berikut ini :

Tabel. 4.5Distribusi frekuensi dan persentase skor hasil belajar murid kelas V SD Inpres Kaluku Bodoa, pada siklus II

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa dari 30 murid kelas V SD Inpres Kaluku Bodoa, tidak ada murid yang masuk kategori “Sangat Kurang” dan tidak ada murid yang masuk dalam kategori “Kurang”, 0%, yang masuk dalam kategori

“Cukup”, 6 murid (20 %), kategori “Baik” 12 murid (40 %), dan yang masuk dalam kategori “Sangat Baik” 12 murid (40%). Dapat disimpulkan pula bahwa hasil

No Skor Kategori Frekuensi Persentase

(%) 1.

2.

3.

4.

5.

86 – 100 71 – 85 56 – 70 41 – 55

< 40

Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang

12 12 6 0 0

40 % 40 % 20 % 0 % 0 %

Jumlah 30 100 %

keterampilan membaca pemahaman yang diperoleh murid setelah menerapkan model simulasi kreatif pada siklus II meningkat dari nilai rata-rata 65, 23 menjadi 82,53 dan berada dalam kategori “Baik”.

Apabila hasil belajar keterampilan membaca pemahaman murid pada siklus II dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.6. Deskripsi ketuntasan belajar murid pada siklus II

Skor Kategori Frekuensi Persentas

e 0 – 64

65 – 100

Tidak tuntas Tuntas

0 30

0 100%

Jumlah 30 100%

Tabel di atas menunjukkan bahwa pada siklus II, murid yang tuntas belajar sangat meningkat yaitu dari 30 murid tidak ada murid yang tidak tuntas, semua murid tuntas dalam belajar.

Untuk melihat peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia murid dalam setiap siklus tercatat pada tabel berikut:

Dalam dokumen SKRIPSI - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 46-64)

Dokumen terkait