• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Perhitungan Tingkat Risiko Iklim

Dalam dokumen pemerintah daerah kabupaten tana toraja (Halaman 42-51)

IV. TINGKAT KERENTANAN, ANCAMAN DAN RESIKO IKLIM

4.3. Tingkat Risiko Iklim 1. Metode Perhitungan

4.3.2. Hasil Perhitungan Tingkat Risiko Iklim

Hasil perhitungan data ekstrim basah dan ekstrim kekeringan dari data curah hujan luaran CHIRPs dan Model Regcm4, serta pengaruh ketinggian tempat Kabupaten Tanah Toraja didapat tingkat risiko ektrim basah dan ekstrim kekeringan seperti disajikan pada gambar dibawah ini bagaimana distribusi jumlah wilayah peningkatan peluang iklim ekstrim.

Dengan asumsi bahwa tingkat kerentanan di masa depan tidak mengalami perubahan dari kondisi 2011, maka tingkat risiko iklim Kabupaten Tanah Toraja mengalami penurunan dimasa mendatang (hampir untuk seluruh periode tahun pada skenario rcp 4.5 dan rcp 8.5).

Namun demikian, Gambar 4-17 menunjukkan terjadinya peningkatan iklim ektrim basah pada kelas tinggi sehingga berpotensi longsor pada kelerengan di atas 25% dan banjir pada kelerengan di bawah 25% di masa mendatang dibandingkan dengan kondisi saat ini.

Dengan menggunakan skenario iklim RCP-4.5, pada periode tahun 2011-2040, 2041-2070, dan 2071-2099, tingkat risiko ekstrem basah mengalami peningkatan pada kategori sangat rendah dan tinggi. Pada kategori kelas rendah, rendah-sedang, sedang dan sangat tinggi mengalami penurunan. Walaupun demikian, dimasa depan kelas kategori rendah tetap

37

paling dominan. Pada risiko ekstrim basah dengan menggunakan skenario iklim RCP-8.5, hasilnya tidak jauh berbeda dengan metode RCP-4.5, proyeksi masa depan menunjukkan kategori kelas tinggi mengalami peningkatan sedangkan kategori kelas rendah menurun tetapi masih paling dominan diantara kelas lainnya.

Gambar 4-17. Jumlah Desa berdasarkan Tingkat Risiko Ekstrem Basah pada Kondisi Sekarang dan di Masa Mendatang

Gambar 4-18 menunjukkan terjadinya peningkatan iklim ekstrim kering yang berpotensi kekeringan masa mendatang dibandingkan dengan kondisi saat ini. Pada periode tahun 2011-2040 dengan menggunakan skenario RCP4.5 tingkat risiko ikim kering miningkat pada kategori kelas sangat rendah, rendah, dan tinggi, dan pada periode tahun 2041-2070 serta 2071-2099 terjadi peningkatan pada kategori kelas rendah-sedang, sedang-tinggi dan tinggi.

Untuk skenario iklim RCP-8.5 tidak jauh berbeda metode RCP-4.5, pada periode tahun 2011-2040, peningkatan risiko iklim ekstrim kering terjadi pada kategori kelas sangat rendah, rendah, dan tinggi, sedangkan pada periode tahun 2041-2070 dan 2071-2099 terjadi peningkatan pada kategori kelas rendah-sedang, sedang, sedang tinggi dan tinggi.

Gambar 4-18. Jumlah Desa berdasarkan Tingkat Risiko Ekstrem Kering pada Kondisi Sekarang dan di Masa Mendatang

38

Secara spasial risiko ekstrim basah disajikan dalam dua kategori yaitu pada kelerengan rendah (=<25%) untuk risiko banjir dan kelerengan tinggi (>25%) untuk risiko tanah longsor.

Proyeksi risiko ekstrim basah pada kelerengan rendah dengan RCP4.5 secara spasial dapat dilihat pada Gambar 4-19.

Gambar 4-19. Tingkat Risiko Iklim Ekstrim Basah pada Kelerengan Rendah pada Kondisi Saat Ini dan di Masa Mendatang dengan RCP4.5 di Kabupaten Tana Toraja

Di bagian selatan, pada periode tahun 2071-2099, risiko banjir sedang-tinggi hanya terdapat di Kecamatan Mappak, sedangkan kelas sangat tinggi menurun dan hanya terdapat di Kecamatan Mengkendek. Risiko banjir tinggi umumnya masih dominan ditemui di bagian utara sampai bagian selatan, sedangkan risiko banjir sangat rendah sampai rendah-sedang di bagian timur Kabupaten Tana Toraja. Namun demikian, secara jumlah desa tingkat risiko banjir di Kabupaten Tana Toraja berada pada tingkat rendah terutama di Kecamatan Makale dan kelas tinggi terutama di Kecamatan Masanda dan Bonggakaradeng.

Risiko terjadinya tanah longsor juga dapat diproyeksi menggunakan iklim ekstrim basah pada kelerengan tinggi. Tingkat risiko longsor di Kabupaten Tanah Toraja pada kondisi saat ini dan dimasa mendatang dengan RCP4.5 disajikan pada Gambar 4-20. Secara umum berdasarkan hasil analisis risiko iklim ekstrim basah dengan RCP4.5 pada kelerengan tinggi (>25%) tingkat risiko tanah longsor dominan pada kelas tinggi.

Base 2011-2040

2041-2070 2071-2099

39 .

Gambar 4-20. Tingkat Risiko Iklim Ekstrim Basah pada Kelerengan Tinggi pada Kondisi Saat Ini dan di Masa Mendatang dengan RCP4.5 di Kabupaten Tana Toraja

Pada kondisi saat ini, tingkat risiko tanah longsor untuk kelas sangat tinggi masih rendah dan menyebar di bagian selatan seperti di Kecamatan Rembon, Bonggakaradeng dan Rano, sedangkan untuk kelas tinggi dominan membentang dari bagian utara sampai ke selatan.

Pada tahun 2011-2040, secara spasial risiko tanah longsor untuk kelas sangat tinggi berkurang dan hanya terdapat di Kecamatan Mengkendek. Sementara, risiko tanah longsor tinggi masih dominan dibandingkan kelas lainnya dan banyak dijumpai di bagian utara yang membentang sampai ke bagian selatan. Pada periode tahun 2041-2070 risiko tanah longsor sangat tinggi sedikit menurun luasannya di bagian selatan, sedangkan kelas tinggi masih dominan. Pada periode tahun 2071-2099 di bagian selatan risiko tanah longsor tinggi meningkat, sedangkan kelas risiko sangat tinggi hanya terdapat di Kecamatan Mengkendek.

Risiko tanah longsor sangat rendah dan rendah terdapat di bagian tengah ke timur Kabupaten Tana Toraja seperti di Ibukota Kabupaten Kecamatan Makale dan Makale Utara.

Base 2011-2040

2041-2070 2071-2099

40

Hal ini karena bentuk topografi Tana Toraja yang memiliki kelerengan curam sampai sangat curam.

Wilayah yang terkena kekeringan di Kabupaten Tana Toraja ditentukan dengan menggunakan indikator iklim ekstrim kering seperti yang disajikan pada Gambar 4-21.

Gambar 4-21. Tingkat Risiko Iklim Ekstrim Kering pada Kondisi Saat Ini dan di Masa Mendatang dengan RCP4.5 di Kabupaten Tana Toraja

Dengan menggunakan skenario RCP4.5, risiko kekeringan di Tana Toraja menunjukkan adanya penurunan di masa mendatang yaitu dari tingkat sangat tinggi menjadi tinggi. Secara spasial untuk kondisi saat ini, kelas sangat tinggi menyebar dari bagian utara ke selatan Kabupaten Tana Toraja. Kemudian menurun menjadi kelas tinggi setelah di proyeksikan seperti yang terjadi di Kecamatan Masanda, Bittuang, dan Malimbong Balepe. Sementara, kelas sangat tinggi berisiko kekeringan terdapat di Kecamatan Bonggakaradeng, Mappak, Rano, Makale Selatan, Rembon, Simbuang, dan Saluputti.

Pada kondisi saat ini, risiko kekeringan kelas sangat rendah, rendah dan sedang rendah umumnya terdapat di bagian tengah ke timur Kabupaten Tana Toraja, seperti di Kecamatan Kurra, Makale, Makale Utara, Sangalla, Sangalla Utara, Sangalla Selatan, Gandangbatu Silanan, sebagian Kecamatan Mengkendek, dan dibeberapa Kecamatan lainnya. Pada hasil

Base 2011-2040

2041-2070 2071-2099

41

proyeksi 3 periode tahun, terjadi peningkatan kelas risiko pada bagian tengah ke timur Kabupaten Tana Toraja tersebut. Sebagai contoh di Kecamatan Makale, jumlah desa yang dominan risiko kelas rendah setelah di proyeksikan mengalami peningkatan risiko menjadi kelas rendah-sedang.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, kekeringan di Kabupaten Tana Toraja memiliki dampak yang besar terhadap usaha pertanian, peternakan dan perikanan karena sebagian besar sumber air untuk lahan pertanian padi adalah tadah hujan, peternakan dan perikanan juga sangat tergantung oleh kondisi sumber air. Tingkat risiko tinggi pada kekeringan dapat berakibat pada keringnya mata air sehingga ke depannya diperlukan proses adaptasi dalam usaha pertanian, peternakan dan perikanan masyarakat.

Kecamatan Masanda, Mappak, Simbuang, Bonggakaradeng, Rano, Mengkendek, Bittuang, dan Malimbong Balepe merupakan kecamatan-kecamatan yang memiliki risiko iklim ekstrim kelas sendag sampai kelas sangat tinggi dan merupakan lokasi-lokasi yang sulit diakses dari pusat pemerintahan di Kabupaten Tana Toraja. Sehingga, kejadian bencana iklim seperti tanah longsor, kekeringan dan banjir yang terjadi diwilayah-wilayah tersebut sulit untuk direspon dengan cepat. Bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim harus dilakukan lebih diprperhatikan di wilayah tersebut kemudian wilayah lainnya. Bentuk penyuluhan dan pelatihan terkait perubahan iklim seperti sekolah lapang iklim sebaiknya dilakukan secara merata agar masyarakat di Kabupaten Tana Toraja dapat mengerti dan paham cara secara mandiri baik yang jauh dari pusat pemerintahan atauapun yang dekat.

Selain proyeksi dengan skenario RCP4.5, analisis risiko iklim banjir, longsor dan kekeringan juga menggunakan ancaman bencana/iklim ekstrim dengan skenario RCP8.5. Tingkat risiko iklim ekstrim basah dan ekstrim kering menggunakan skenario RCP8.5 disajikan pada Gambar 4-22 sampai Gambar 4-24.

Proyeksi risiko iklim ekstrim basah pada lereng rendah (<=25%) dengan skenario RCP8.5 secara umum menunjukkan bahwa pada periode tahun 2011-2040 risiko banjir yang dominan adalah kelas tinggi yang menyebar di Kecamatan Masanda dan Kecamatan Bonggakaradeng. Pada 2 periode selanjutnya cenderung sama dengan periode awal. Hal ini menunjukkan bahwa secara spasial risiko banjir pada skenario 8.5 cenderung sama dibandingkan skenario RCP4.5.

Sementara proyeksi risiko longsor (risiko iklim ekstrim basah pada lereng tinggi) dengan skenario RCP8.5 umumnya adalah kelas tinggi yang membentang dari bagian utara sampai bagian selatan wilayah Kabupaten Tana Toraja. Dimana, lokasi yang berisiko kelas tinggi berada di Kecamatan Masanda, Bittuang, Bonggakaradeng, sebagian Kecamatan Malimbong Balepe, dan Kecamatan lainnya. Sementara risiko sangat tinggi sedikit menurun menjadi kelas tinggi. Periode tahun 2011-2040 cenderung sama hasilnya dengan periode tahun 2041-2070 dan periode tahun 2071-2099. Kondisi ini tentu saja mengkhawatirkan karena kedepan masih banyak desa atau wilayah yang akan terdampak terhadap iklim ektrim basah. Sementara, iklim ekstrim basah berisiko kelas sangat rendah sampai rendah- sedang menyebar di Kecamatn Makale, Makale Utara, Gandang Batu Silanan, dan Kecamatan sekitarnya. Berdasarkan jumlah desanya, metode skenario ini juga cenderung sama hasil proyeksinya dengan skenario RCP 4.5.

42

Gambar 4-22. Tingkat Risiko Iklim Ekstrim Basah di Kelerengan Rendah pada Kondisi Saat Ini dan di Masa Mendatang dengan RCP8.5

Risiko iklim ekstrim kering (kekeringan) dengan skenario RCP 8.5 di masa mendatang menunjukkan adanya penurunan dari sangat tinggi menjadi tinggi. Kondisi demikian tetap memiliki dampak yang besar terhadap usaha pertanian, peternakan dan perikanan masyarakat di Kabupaten Tana Toraja.

Sama halnya dengan skenario RCP 4.5, skenario RCP8.5 pada periode tahun 2011-2040, terjadi penurunan tingkat risiko kekeringan. Pada bagian utara sampai bagian selatan risiko kekeringan sangat tinggi menurun menjadi tinggi seperti di Kecamatan Masanda, Bittuang, Bonggakaradeng, dan sebagian Kecamatan Malimbong Balepe. sedangkan di bagian tengah ke timur risiko kekeringan rendah menurun menjadi sangat rendah, seperti di Kecamatan Makale, Makale Utara, Sangalla Utara, dan kecamatan disekitarnya.

2041-2070 2071-2099

Base 2011-2040

43

Gambar 4-23. Tingkat Risiko Iklim Ekstrim Basah di Kelerengan Tinggi pada Kondisi Saat Ini dan di Masa Mendatang dengan RCP8.5

Risiko kekeringan sangat tinggi hanya terdapat di bagian barat yaitu di Kecamatan Mappak.

Pada periode 2041-2070 tingkat risiko kekeringan sangat tinggi sedikit menurun. Risiko kekeringan tinggi terdapat di bagian utara sampai di bagian selatan. Di bagian barat dijumpai wilayah dengan risiko kekeringan rendah-sedang sampai sangat tinggi, sedangkan di bagian timur terdapat risiko kekeringan dari sangat rendah sampai kelas tinggi. Pada periode 2071- 2099 kondisi tingkat risiko kekeringan mengalami penigkatan kelas tinggi menjadi sangat tinggi dibagian selatan seperti di Kecamatan Bonggakaradeng. Hasil proyeksi periode ketiga tersebut hasilnya cenderung sama dengan metode RCP4.5.

Berdasarkan hasil analisis risiko iklim ekstrim baik untuk saat ini ataupun proyeksi dapat menyebabkan terjadinya bencana kekeringan, banjir dan tanah longsor sehingga dapat berdampak pada masayarakat di Kabupaten Tana Toraja. Dampak perubahan iklim terhadap kejadian tanah longsor dibahas lebih detil di laporan terpisah dengan menggunakan faktor- faktor pendorong yang mempengaruhi terjadinya bencana tanah longsor di Kabupaten Tana Toraja.

2041-2070 2071-2099

Base 2011-2040

44

Gambar 4-24. Tingkat Risiko Iklim Ekstrim Kering pada Kondisi Saat Ini dan di Masa Mendatang dengan RCP8.5

Base 2011-2040

2041-2070 2071-2099

45

Dalam dokumen pemerintah daerah kabupaten tana toraja (Halaman 42-51)

Dokumen terkait