Bab IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.4. Hasil Uji Asumsi Klasik
sederhana dapat diringkas seperti pada tabel berikut:
Tabel 4.3
Hasil Pengujian Normalitas dengan Kolmogorov Smirnov (KS) Variabel Dependen dan
Independen
Asymp. Sig. Kesimpulan
Laba Op 2003 0,834 >0,05
Laba Op 2004 0,938 >0,05
Laba Op 2005 0,793 >0,05
Laba Op 2006 0,707 >0,05
Laba Op 2007 0,662 >0,05
Arus Kas Op 2003 0,969 >0,05
Arus Kas Op 2004 0,970 >0,05
Arus Kas Op 2005 0,973 >0,05
Arus Kas Op 2006 0,384 >0,05
Laba Kon 2003 0,899 >0,05
Laba Kon 2004 0,701 >0,05
Laba Kon 2005 0,070 >0,05
Laba Kon 2006 0,135 >0,05
Laba Kon 2007 0,229 >0,05
Arus Kas Kon 2003 0,741 >0,05
Arus Kas Kon 2004 0,326 >0,05
Arus Kas Kon 2005 0,125 >0,05
Arus Kas Kon 2006 0,925 >0,05
Sumber: Data Diolah, 2009
4.4.2. Uji Autokorelasi
Autokorelasi digunakan untuk menguji adanya korelasi internal diantara variabel-variabel dan serangkaian pengamatan yang tersusun oleh rangkaian waktu dan yang tersusun dalam rangkaian ruang. Untuk memeriksa adanya autokorelasi dalam suatu model regresi dilakukan dengan pengujian terhadap nilai
uji Durbin Watson (Uji DW). Bila nilai DW terltak antara batas atas atau upper bound (du) dan (4 – du), maka koefisien autokorelasi sama dengan nol, berarti tidak ada autokorelasi. Bila nilai DW lebih rendah daripada batas bawah atau lower bound (dl), maka koefisien autokorelasi lebih besar daripada nol, berarti ada autokorelasi positif. Bila nilai DW lebih besar daripada (4 – dl), maka koefisien autokorelasi lebih kecil daripada nol, berarti ada autokorelasi negatif. Bila nilai DW terletak diatara batas atas (du) dan batas bawah (dl) atau DW terletak antara (4 – du) dan (4 – dl), maka hasilnya tidak dapat disimpulkan.
Pada pengujian autokorelasi model regresi sederhana hipotesis 1 dan 2 penelitian ini, nilai DW akan dibandingkan dengan nilai tabel dengan menggunakan derajat kepercayaan lima persen, jumlah sample 9 untuk hipotesis 1 dan jumlah sample 18 untuk hipotesis 2, dan jumlah variabel bebas (k) 1.
Pengujian ini dilakukan untuk mencari ada atau tidaknya autokorelasi dengan melakukan uji Durbin Watson (DW), dan diperoleh hasil DWhitung secara keseluruhan terletak diantara batas atas atau upper bound (du) dan (4 – du), sehingga tidak terdapat autokorelasi, kecuali model regresi laba untuk sampel perusahaan optimis 2004 dalam memprediksi laba untuk sampel perusahaan yang optimis 2005 dan model regresi arus kas untuk sampel perusahaan yang optimis 2006 dalam memprediksi laba untuk sampel perusahaan yang optimis 2007 yang memiliki nilai DW lebih tinggi daripada batas bawah (dl), sehingga tidak ada autokorelasi positif, serta model regresi arus kas optimis 2004 dalam memprediksi laba optimis 2005 yang memiliki nilai DW lebih rendah daripada (4 - dl), sehingga dapat dikatakan tidak terdapat autokorelasi negatif.
Hasil pengujian autokorelasi terhadap beberapa model regresi linier
sederhana dapat diringkas seperti pada tabel berikut:
Tabel 4.4
Hasil Pengujian Autokorelasi dengan Durbin Watson (DW)
Hipotesis Regresi DW Kesimpulan
du <DW< (4 – du)
Ha1
YLaba Op 2004 = a + β Laba Op 2003 1,790 1,320<DW<2,680 YLaba Op 2005 = a + β Laba Op 2004 1,125 DW > dl atau
DW > 0,824 YLaba Op 2006 = a + β Laba Op 2005 2,287 1,320<DW<2,680 YLaba Op 2007 = a + β Laba Op 2006 2,726 1,320<DW<2,680 YLaba Op 2004 = a + β Arus Kas Op
2003
1,876 1,320<DW<2,680
YLaba Op 2005 = a + β Arus Kas Op 2004
1,000 DW> dl atau DW> 0,824 YLaba Op 2006 = a + β Arus Kas Op
2005
2,536 1,320<DW<2,680
YLaba Op 2007 = a + β Arus Kas Op 2006
1,295 DW< (4-dl) atau DW<2,680
Ha2
YLaba Kon 2004 = a + β Laba Kon 2003 1,856 1,118<DW<2,882 YLaba Kon 2005 = a + β Laba Kon 2004 2,314 1,118<DW<2,882 YLaba Kon 2006 = a + β Laba Kon 2005 2,289 1,118<DW<2,882 YLaba Kon 2007 = a + β Laba Kon 2006 1,972 1,118<DW<2,882 YLaba Kon 2004 = a + β Arus Kas Kon
2003
2,346 1,118<DW<2,882
YLaba Kon 2005 = a + β Arus Kas Kon 2004
2,316 1,118<DW<2,882
YLaba Kon 2006 = a + β Arus Kas Kon 2005
1,620 1,118<DW<2,882
YLaba Kon 2007 = a + β Arus Kas Kon 2006
2,611 1,118<DW<2,882
Sumber: Data Diolah, 2009
4.4.3. Uji Multikolinieritas
Multikolinieritas digunakan untuk menunjukkan adanya hubungan linier diantara variabel–variabel independen dalam model regresi. Dalam penelitian ini, variabel independen pada setiap model regresi yang digunakan hanya satu (model regresi linier sederhana), sehingga tidak perlu dilakukan uji multikolinieritas.
4.4.4. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi adanya gejala heteroskedastisitas digunakan Uji Glejser yang mengusulkan untuk meregres nilai absolut residual terhadap variabel bebas. Jika variabel bebas signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat, maka ada indikasi terjadi heteroskedastisitas.
Berdasarkan hasil tampilan output SPSS yang diringkas pada tabel dibawah ini, diketahui bahwa tidak ada variabel bebas model regresi hipotesis 1 dan hipotesis 2 yang signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat nilai Absolut Ut (AbsUt). Hal ini terlihat dari probabilitas signifikansinya diatas tingkat kepercayaan lima persen (0,05). Dengan demikian model regresi hipotesis 1 dan hipotesis 2 terbebas dari gejala heteroskedastisitas.
Hasil pengujian heteroskedastisitas dapat diringkas seperti pada tabel
Tabel 4.5
Hasil Pengujian Heteroskedastisitas dengan Uji Glejser
Hipotesis Regresi Sig. Kesimpulan
Ha1
YLaba Op 2004 = a + β Laba Op 2003 0,983 Sig.>0,05 YLaba Op 2005 = a + β Laba Op 2004 0,711 Sig.>0,05 YLaba Op 2006 = a + β Laba Op 2005 0,965 Sig.>0,05 YLaba Op 2007 = a + β Laba Op 2006 0,078 Sig.>0,05 YLaba Op 2004 = a + β Arus Kas Op
2003
0,600 Sig.>0,05
YLaba Op 2005 = a + β Arus Kas Op 2004
0,321 Sig.>0,05
YLaba Op 2006 = a + β Arus Kas Op 2005
0,053 Sig.>0,05
YLaba Op 2007 = a + β Arus Kas Op 2006
0,212 Sig.>0,05
Ha2
YLaba Kon 2004 = a + β Laba Kon 2003 0,975 Sig.>0,05 YLaba Kon 2005 = a + β Laba Kon 2004 0,664 Sig.>0,05 YLaba Kon 2006 = a + β Laba Kon 2005 0,368 Sig.>0,05 YLaba Kon 2007 = a + β Laba Kon 2006 0,545 Sig.>0,05 YLaba Kon 2004 = a + β Arus Kas Kon
2003
0,590 Sig.>0,05
YLaba Kon 2005 = a + β Arus Kas Kon 2004
0,683 Sig.>0,05
YLaba Kon 2006 = a + β Arus Kas Kon 2005
0,421 Sig.>0,05
YLaba Kon 2007 = a + β Arus Kas Kon 2006
0,620 Sig.>0,05
Sumber: Data Diolah, 2009
Setelah dilakukan uji asumsi klasik yang menguji mengenai asumsi dalam model yang digunakan, selanjutnya dilakukan uji hipotesis dari variabel-variabel
4.5. Analisis Prediksi dengan Regresi Linier Sederhana
Analisis ini digunakan untuk melihat apakah laba dan arus kas dalam laporan keuangan yang disusun baik dengan akuntansi optimis, maupun dengan akuntansi konservatif signifikan dalam mempediksi laba. Pengujian terhadap masing-masing laba dan arus kas pada perusahaan yang menerapkan akuntansi optimis dan konservatif dilakukan secara parsial. Hal ini dilakukan untuk menghindari korelasi antar variabel independen yang dapat mengganggu pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Untuk menentukan kemampuan masing-masing variabel dalam bertindak sebagai prediktor laba, digunakan model umum persamaan regresi linier sederhana sebagai berikut:
(1)Yt op = a + β Yt-1 op+ U (2) Yt kon = a + β Yt-1 kon + U
Keterangan:
Yt op = laba perusahaan yang cenderung optimis periode masa mendatang Yt kon = laba perusahaan yang konservatif periode masa mendatang a = konstanta
β = koefisien regresi
Yt-1 op = laba atau arus kas perusahaan yang cenderung optimis periode sebelumnya
Yt-1 kon= laba atau arus kas yang cenderung konservatif periode sebelumnya U = faktor gangguan atau residual
4.5.1. Kemampuan Laba dan Arus Kas dalam Memprediksi Laba pada Perusahaan yang Cenderung Menerapkan Akuntansi Optimis
Hipotesis pertama menyatakan bahwa “laba dan arus kas dapat memprediksi laba pada perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis.” Dengan menggunakan bantuan program SPSS 14.0 maka dapat ditunjukkan hasil analisis regresi linier sederhana.
Untuk memudahkan analisis pengujian hipotesis, model-model regresi tersebut bisa dirangkum menjadi tabel berikut ini:
Tabel 4.6
Pengujian Prediksi Laba Perusahaan yang Cenderung Menerapkan Akuntansi Optimis Satu Tahun ke Depan
Variabel Independen
X=Yt-1
p-value Koefisien Regresi Koefisien Korelasi (%)
Laba Op 2003 0,000 1,028 95,60
Laba Op 2004 0,000 1,931 94,30
Laba Op 2005 0,000 1,943 95,40
Laba Op 2006 0,000 1,948 98,70
Arus Kas Op 2003 0,003 0,815 74,70
Arus Kas Op 2004 0,001 0,852 80,70
Arus Kas Op 2005 0,000 0,718 87,90
Arus Kas Op 2006 0,000 0,684 88,60
Sumber: Data Diolah, 2009
Hasil pengujian menunjukkan bahwa masing-masing variabel independen, yaitu laba dan arus kas perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis dalam memprediksi laba secara keseluruhan adalah signifikan, yaitu dengan probabilitas kesalahan kurang dari lima persen. Berdasarkan nilai koefisien
depan, semuanya menunjukkan adanya korelasi diatas 40%. Hal ini berarti terdapat hubungan sebab akibat antara Y dan X, yaitu keberadaan X mempengaruhi Y. Dengan demikian pengujian ini dapat membuktikan hipotesis 1 bahwa “laba dan arus kas dapat memprediksi laba pada perusahaan yang cenderung optimis”.
4.5.2. Kemampuan Laba dan Arus Kas dalam Memprediksi Laba pada Perusahaan yang Cenderung Menerapkan Akuntansi Konservatif
Hipotesis kedua menyatakan bahwa “laba dan arus kas dapat memprediksi laba pada perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif .”
Dengan menggunakan bantuan program SPSS 14.0 maka dapat ditunjukkan hasil analisis regresi linier sederhana. Untuk memudahkan analisis pengujian hipotesis, model-model regresi tersebut bisa dirangkum menjadi tabel berikut ini:
Tabel 4.7
Pengujian Prediksi Laba Perusahaan yang Cenderung Menerapkan Akuntansi Konservatif Satu Tahun ke Depan
Variabel Independen X=Yt-1
p-value Koefisien Regresi Koefisien Korelasi (%)
Laba Kon 2003 0,012 0,012 33,50
Laba Kon 2004 0,030 -1,244 26,20
Laba Kon 2005 0,733 0,040 0,70
Laba Kon 2006 0,000 0,564 87,00
Arus Kas Kon 2003 0,000 0,933 54,70
Arus Kas Kon 2004 0,798 -0,124 0,40
Arus Kas Kon 2005 0,000 0,664 73,80
Arus Kas Kon 2006 0,000 0,772 71,90
Sumber: Data Diolah, 2009
Hasil pengujian menunjukkan bahwa masing-masing variabel independen, yaitu laba dan arus kas perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif dalam memprediksi laba satu tahun ke depan hampir secara keseluruhan adalah signifikan, yaitu dengan probabilitas kesalahan kurang dari lima persen, kecuali variabel independen laba 2005 dalam memprediksi laba 2006 dan arus kas 2004 dalam memprediksi laba 2005. Berdasarkan nilai koefisien korelasi (determinasi) pada tiap-tiap model regresi prediksi laba satu tahun ke depan, hampir semuanya menunjukkan adanya korelasi diatas 40%, kecuali variabel independen laba 2003, 2004, dan 2005 serta arus kas 2004. Hal ini berarti model-model regresi yang memiliki koefisien korelasi diatas 40% terdapat hubungan sebab akibat antara Y dan X, yaitu keberadaan X mempengaruhi Y.
Dengan demikian pengujian ini dapat membuktikan hipotesis 2 bahwa “laba dan arus kas dapat memprediksi laba pada perusahaan yang cenderung menerapkan konservatif”.
4.6. Analisis Daya Prediksi Laba dengan MABE
Analisis ini digunakan untuk melihat perbandingan kemampuan laba dan arus kas perusahaan yang menerapkan praktik akuntansi optimis dan konservatif dalam memprediksi laba dimasa depan dengan menggunakan MABE, yaitu daya prediksi diukur dengan menghitung dispersi nilai laba prediksi dengan nilai laba sesungguhnya.
N
MABE = 1/N ∑ [ Ei,t – E(Ei,t)]
t = 1
Keterangan:
Ei,t = laba realisasi dalam periode t untuk perusahaan i
E (Ei,t) = ramalan laba pada periode ke t yang diestimasi dengan model regresi laba
N = jumlah ramalan laba yang diuji
Ramalan laba pada periode ke t yang diestimasi dengan model regresi laba dari hipotesis 1 dan 2 berikut ini:
1.1. Y Laba Op 04,05,06,07 = a + β Laba Op 03,04,05,06 1.2. Y Laba Op 04,05,06,07 = a + β Arus Kas Op 03,04,05,06 2.1. Y Laba Kon. 04,05,06,07 = a + β Laba Kon 03,04,05,06 2.2. Y Laba Kon. 04,05,06,07 = a + β Arus Kas Kon 03,04,05,06
Untuk hipotesis 3, perbedaan kemampuan laba perusahaan yang menerapkan praktik akuntansi optimis dan konservatif dalam memprediksi laba dimasa depan dapat ditunjukkan dengan melihat perbedaan nilai MABE antara dua kelompok laba perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis dan konservatif dengan menggunakan model regresi laba 1.1 dan 2.1 sebagai ramalan laba pada periode t untuk dibandingkan dengan laba realisasi dalam periode t untuk tiap perusahaan.
Untuk hipotesis 4, perbedaan kemampuan arus kas perusahaan yang menerapkan praktik akuntansi optimis dan konservatif dalam memprediksi laba dimasa depan dapat ditunjukkan dengan melihat perbedaan nilai MABE antara dua kelompok arus kas perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis dan konservatif dengan menggunakan model regresi laba 1.2 dan 2.2 sebagai ramalan laba pada periode t untuk dibandingkan dengan laba realisasi dalam periode t untuk
tiap perusahaan.
4.6.1. Perbandingan Kemampuan Laba Perusahaan yang Cenderung Menerapkan Akuntansi Optimis dengan Laba Perusahaan yang Cenderung Menerapkan Konservatif dalam Memprediksi Laba
Hipotesis ketiga menyatakan bahwa “laba perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis lebih baik dibandingkan dengan laba perusahaan yang cenderung menerapkan konservatif dalam memprediksi laba.” Pengujian terhadap hipotesis ketiga dilakukan dengan uji beda dua rata-rata sampel independen. Terlebih dahulu MABE dihitung untuk tiap-tiap perusahaan. Kemudian nilai MABE dipartisi menjadi dua kelompok, yaitu laba perusahaan yang menerapkan akuntansi optimis dan laba perusahaan yang menerapkan akuntansi konservatif. Perbedaan nilai MABE pada dua kelompok diuji dengan uji t.
Perbedaan nilai MABE antara dua kelompok menunjukkan pengaruh konservatisma terhadap daya prediksi laba. Nilai MABE yang tinggi menunjukkan daya prediksi yang rendah.
Hasil uji beda dua rata-rata kelompok laba perusahaan yang menerapkan akuntansi optimis dan laba perusahaan yang menerapkan akuntansi konservatif dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.8
Pengujian Kemampuan Laba Perusahaan yang Cenderung Optimis dan Konservatif dalam Memprediksi Laba Satu Tahun ke Depan
Mean MABE Diasumsikan variansi sama
Diasumsikan variansi berbeda
Optimis Konservatif t Sig. t Sig.
-0,000077 0,000072 -0,004 0,997 -0,006 0,996
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa hasil uji beda dua rata- rata menunjukkan t hitung sebesar -0,004 dan tingkat signifikansi 0,997. Hasil ini tidak menunjukkan adanya perbedaan daya prediksi laba pada kelompok laba perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis dan laba perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif. Nilai MABE kelompok laba perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif secara statistik lebih besar daripada kelompok laba perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis. Apabila nilai MABE yang tinggi menunjukkan daya prediksi yang rendah, maka kelompok laba perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif memiliki daya prediksi yang lebih rendah daripada kelompok laba perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis, tetapi perbedaannya tidak nyata.
Hasil uji beda dua rata-rata dengan asumsi variansi sama menunjukkan adanya perbedaan daya prediksi laba yang tidak nyata pada kelompok laba perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis dan laba perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif. Dengan demikian pengujian ini tidak dapat membuktikan hipotesis ketiga yang menyatakan “laba perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis lebih baik dibandingkan dengan laba perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif dalam memprediksi laba.”
4.6.2. Perbandingan Kemampuan Arus Kas Perusahaan yang Cenderung Menerapkan Akuntansi Optimis dengan Arus Kas Perusahaan yang Cenderung Menerapkan Konservatif dalam Memprediksi Laba
Hipotesis keempat menyatakan bahwa “arus kas perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis lebih baik dibandingkan dengan arus kas perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif dalam memprediksi laba.” Pengujian terhadap hipotesis keempat dilakukan dengan uji beda dua rata-rata sampel independen. Terlebih dahulu MABE dihitung untuk tiap-tiap perusahaan. Kemudian nilai MABE dipartisi menjadi dua kelompok, yaitu arus kas perusahaan yang menerapkan akuntansi optimis dan arus kas perusahaan yang menerapkan akuntansi konservatif. Perbedaan nilai MABE pada dua kelompok diuji dengan uji t. Perbedaan nilai MABE antara dua kelompok menunjukkan pengaruh konservatisma terhadap daya prediksi laba. Nilai MABE yang tinggi menunjukkan daya prediksi yang rendah.
Hasil uji beda dua rata-rata kelompok arus kas perusahaan yang menerapkan akuntansi optimis dan arus kas perusahaan yang menerapkan akuntansi konservatif dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.9
Pengujian Kemampuan Arus Kas Perusahaan yang Cenderung Optimis dan Konservatif dalam Memprediksi Laba Satu Tahun ke Depan
Mean MABE Diasumsikan variansi sama
Diasumsikan variansi berbeda
Optimis Konservatif t Sig. t Sig.
-0,000138 0,000249 -0,012 0,990 -0,016 0,987 Sumber: Data Diolah, 2009
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa hasil uji beda dua rata- rata menunjukkan t hitung sebesar -0,012 dan tingkat signifikansi 0,990. Hasil ini tidak menunjukkan adanya perbedaan daya prediksi laba pada kelompok arus kas perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis dan arus kas perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif. Nilai MABE kelompok arus kas perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif secara statistik lebih besar daripada kelompok arus kas perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis. Apabila nilai MABE yang tinggi menunjukkan daya prediksi yang rendah, maka kelompok arus kas perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif memiliki daya prediksi yang lebih rendah daripada kelompok arus kas perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis, tetapi perbedaannya tidak nyata.
Hasil uji beda dua rata-rata dengan asumsi variansi sama menunjukkan adanya perbedaan daya prediksi laba yang tidak nyata pada kelompok arus kas perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis dan laba perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif. Dengan demikian pengujian ini tidak dapat membuktikan hipotesis keempat yang menyatakan “arus kas perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis lebih baik dibandingkan dengan arus kas perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif dalam memprediksi laba.”
4.7. Pembahasan Penelitian
Hasi penelitian ini mendukung dugaan peneliti dalam penelitian ini bahwa perusahaan sampel penelitian ini, yaitu perusahaan manufaktur industri barang
konsumsi yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif lebih banyak dibandingkan perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis di BEI pada periode 2003-2007 karena berdasarkan penelitian Widya (2004) melaporkan 76,9% dari 75 perusahaan di BEI pada periode 1995-2002 menerapkan akuntansi konservatif. Dalam pengukuran kecenderungan tingkat konservatisma laporan keuangan diketahui bahwa dari 27 perusahaan manufaktur industri sektor barang konsumsi yang telah memenuhi persyaratan dalam penarikan sampel, dengan membuat grafik linear diketahui bahwa sebanyak 18 perusahaan memiliki slope negatif. Bukti ini menunjukkan perusahaan-perusahaan tersebut cenderung konservatif karena memiliki nilai net income dari kegiatan operasional lebih rendah daripada nilai cash flow kegiatan operasional. Sebanyak 9 perusahaan memiliki slope positif, artinya perusahaan-perusahaan tersebut cenderung optimis ketika melaporkan kegiatan operasionalnya karena nilai net income dari kegiatan operasional lebih tinggi daripada nilai cash flow kegiatan operasional. Jadi dalam periode penelitian 2003-2007, jumlah perusahaan manufaktur dari sektor industri barang konsumsi yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif lebih banyak daripada perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis di BEI.
Dalam pengujian regresi telah dipertimbangkan tiga asumsi dasar dalam regresi, yaitu autokorelasi, multikolinieritas, dan heteroskedastisitas. Dari ketiga asumsi tersebut yang mempengaruhi dalam pengujian ini adalah autokorelasi, hasil pengujian bila dilihat secara keseluruhan menunjukkan bahwa nilai DW berada diantara du dan (4-du) yang artinya tidak ada autokorelasi.
Dari pengujian hipotesis 1 dan 2, dapat disimpulkan bahwa laba dan arus kas dapat memprediksi laba baik untuk perusahaan yang cenderung menerapkan
akuntansi optimis, maupun untuk perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif. Walaupun peneliti mendapat kesulitan dalam menemukan penelitian terdahulu yang khusus meneliti kemampuan laba dan arus kas dalam memprediksi laba untuk perusahaan yang menerapkan akuntansi optimis dan konservatif, tetapi hal ini dapat membuktikan penelitian sebelumnya, yaitu seperti penelitian Parawiyati dan Baridwan (1998), Dharmawan (2004), Sembada (2006), dan Cahyadi (2006) yang menguji kemampuan laba dan arus kas dapat memprediksi laba, tanpa membedakan perusahaan yang menerapkan akuntansi optimis dan konservatif ternyata dapat diterapkan baik untuk perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis, maupun untuk perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi konservatif. Selama ini, laporan keuangan yang disusun dengan metode yang konservatif dianggap cenderung bias dan tidak mencerminkan realita dibandingkan dengan laporan keuangan yang disusun dengan metode yang optimis, akan tetapi bukan berarti tidak bisa memprediksi laba. Dari beberapa penelitian, peneliti belum menemukan pernyataan bahwa laporan keuangan yang disusun dengan metode konservatif ini tidak bisa memprediksi laba, melainkan pernyataan yang menjelaskan bahwa laporan keuangan yang disusun dengan metode konservatif kurang bisa atau lemah dalam memprediksi laba dibandingkan dengan laporan keuangan yang disusun dengan metode yang optimis.
Dengan demikian hal ini sesuai dengan pernyataan pendukung konservatisma bahwa laporan keuangan yang disusun dengan cara yang konservatif akan menyajikan informasi sesungguhnya dari perusahaan, sehingga laba dan arus kas yang disusun dengan akuntansi konservatif dapat digunakan
untuk memprediksi laba. Penelitian Mayangsari dan Wilopo (2002) membuktikan bahwa konservatisma akuntansi memiliki relevansi nilai, yang berarti konservatisma akuntansi bermanfaat dalam memprediksi kondisi keuangan perusahaan di masa mendatang (dalam penelitian Lasdi, 2008). Hal ini didukung oleh Watts (1993) berpendapat bahwa konservatisma tidak dapat dilepaskan dari efficient contracting theory. Berdasarkan efficient contracting theory, maka konservatisma menyatakan bahwa besarnya laba yang diestimasi merupakan fungsi langsung dari kemampuan perusahaan dalam mengestimasi laba perusahaan dimasa yang akan datang. Berdasarkan pernyataan dalam SFAC No. 1 bahwa prinsip konservatisma ini bermanfaat karena dapat digunakan untuk memprediksi kondisi pada masa mendatang (dalam penelitian Kiryanto dan Suprianto, 2006).
Pada hipotesis 1, nilai koefisien regresi laba lebih besar dibandingkan nilai koefisien regresi arus kas. Dalam penelitian Parawiyati dan Baridwan (1998), besarnya kemampuan variabel independen meramalkan dan mempengaruhi variabel dependen ditunjukkan melalui nilai koefisien regresi. Dengan demikian hasil ini menunjukkan prediktor laba memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan prediktor arus kas untuk perusahaan yang cenderung menerapkan akuntansi optimis. Hal ini mendukung penelitian Dechow (2006) ketika meneliti persistensi laba dan arus kas dan peranan pos khusus: implikasi untuk anomali akrual dinyatakan bahwa perusahaan dengan akrual yang tinggi, arus kas kurang berguna dalam memprediksi laba masa depan. Hal ini disebabkan perusahaan dengan akrual yang tinggi memiliki persistensi laba yang tinggi dibandingkan dengan arus kas.