H. ASESMEN
I. ASESMEN: PELAKSANAAN DAN HASIL
3. Hasil Wawancara
Pada saat mengerjakan tes CFIT klien mencoba dengan baik mendengarkan instruksi yang diberikan oleh praktikan.
Namun sesekali bertanya mengenai instruksi yang kurang mengerti seperti halnya pada subtes ke 2 dan subtest ke 3.
Klien mengerjakan setiap subtestnya cukup cepat dan tergesa- gesa. Pada prosesnya klien mengerjakannya dengan teliti dan fokus kepada setiap soal yang dikerjakannnya.
2. Kesimpulan Observasi
Berdasarkan hasil observasi dimana klien memiliki penampilan yang terawat serta bertubuh gemuk. Selama pemeriksaan klien kurang mampu mengendalikan emosinya dengan ditunjukkan dengan sikap klien yang berusaha menunjukkan rasa sakitnya, suara meninggi ketika membahas mengenai keluarga dan perasaannya. Pada saat mengerjakan setiap tes posisi klien yang membungkuk, kurang bisa menatap praktikan dengan baik namun ketika membahas mengenai perasaan dan keluarganya klien nampak menunjukkan sikap marah dengan menekan-nekan dengan pensil atau mengetuk dada sambil menangis. Namun klien mampu menyerap informasi dan memiliki sikap kooperatif dalam proses pemeriksaan.
Klien pertama kali datang ke poli psikologi Puskemas Piyungan dikarenakan mendapatkan informasi mengenai poli tersebut dari tetangganya serta anjuran dari Buleknya. Keluhan yang disampaikan ketika berada di poli, klien merasa asam lambungnya tidak kunjung sembuh walaupun sudah melakukan pengobatan beberapa kali dan ketambahan memiliki bronkitis yang tidak kunjung membaik. Setelah digali lebih dalam terkait gejala apa saja yang dialami oleh klien bahwa dirinya memiliki ketakutan berlebihan setiap hari, kemudian sering menangis seharian jika rasa takut dan cemasnya muncul, kerap mimpi buruk dalam kurun waktu 1 minggu, keringat dingin dan jantung berdebar.
Gejala lain muncul sulitnya konsentrasi serta sering melamun. Berdasarkan hasil pemaparan dari klien, dirinya memiliki pengalaman yang kurang mengenakkan dari sosok ibunya sehingga munculnya rasa cemas berlebihan. Sifat ibunya yang keras dan komunikasi yang buruk selama ini membuat klien merasa menyalahkan diri sendiri dan menganggap ibunya tidak pernah memahami apa yang klien rasakan.
Klien mengatakan bahwa ibunya memiliki peran yang besar didalam keluarga dibandingkan ayahanya serta klien memiliki rasa cemburu kepada adiknya diwaktu kecil. Hal itu dikarenakan adanya sikap berbeda yang ditunjukkan oleh orang tuanya terhadap dirinya. Namun rasa cemburu itu berangsur membaik semenjak
klien menikah. Klien lebih dekat dengan adiknya dan adiknya sering tidur ditempatnya.
Sedari kecil memang klien tidak diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat tentang dirinya atau keputusan yang klien ambil sehingga apa yang menjadi kehendaknya tidak benar dimata ibunya. Hal itu menyebabkan komunikasi klien kurang baik seperti bertegur sapa atau tidak ada komunikasi yang lebih dalam.
Hal ini menyebabkan kondisi klien kurang memiliki dukungan dan memiliki pemikiran bahwa ibunya tidak memahami kondisi klien serta menganggap ibunya keras, galak serta tidak menyukai klien. Sehingga klien beberapa hari ini jika mendengarkan suara keras dari ibunya atau mendapatkan kritik dari ibunya kondisi klien langsung merasa gelisah dan munculnya rasa cemas yang menyebabkan asam lambung serta sesak nafas dalam kurun beberapa hari. Kondisi yang dirasakan oleh klien, menyebabkan dirinya melakukan pemeriksaan secara terus menerus ke Puskesmas Piyungan.
Pada kondisi lain klien mengalami cemas kembali, hal ini dikarenakan mendengarkan siaran kabar duka dari masjid sehingga klien merasa takut dan tidak masuk kerja. Diwaktu bersamaan klien juga mengalami cemas yang disebabkan oleh suara budhe
panggilan simbahnya. “mbok rasah diceluki, la wong ora ngerteni kok, rasah diceluki” perkataan budhenya kepada simbah klien. Hal itu membuat klien beranggapan bahwa budhe nggak pernah mengerti usaha klien untuk merawat simbahnya dan tidak mengerti kondisi klien yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah.
Suara dari simbahnya juga membuat klien merasa gelisah dan sakit kepala dikarenakan kondisi simbah yang mengalami stroke serta selalu bergantung kepada klien. Situasi-situasi yang dialami klien dalam kurun waktu beberapa hari menyebabkan klien menangis selama 2 hari serta kepala klien terasa pusing berat.
Kondisi lain yang dialami adalah rasa takut dan cemas yang berdampak ke kondisi kesehatan klien, nafsu makan menurun dan pola tidur yang terganggu.
Klien menyampaikan bahwa tidak hanya situasi yang telah dipaparkan sebelum melainkan ada faktor lain yang menyebabkan kondisi klien semakin memburuk. Faktor lain yang dimaksud oleh klien adalah sikap negatif budhe terhadap keluarganya. Klien mengatakan budhe tidak pernah bisa memahami kondisi keluarganya dan selalu mengungkit-ngungkit permasalahan dulu sehingga konflik itu selalu ada setiap hari.
Berdasarkan pemaparan klien sikap dari budhe tersebut didasari karena rasa tidak setuju atas pernikahan kedua orang tuanya. Sehingga masih memiliki rasa kecewa dari budhe terhadap
keputusan ayah klien serta semenjak menikah tidak ada hubungan yang baik antar kedua keluarga. Hal itu juga memicu konflik diantara kedua keluarga sehingga selama ini yang menjaga orang tua ayahnya adalah klien namun dipandang kurang baik oleh budhe dan anaknya.
Hal itu berpengaruh terhadap kondisi klien sekarang. 6 bulan terakhir kondisi klien kurang baik seperti sering sakit, sesak nafas serta asam lambung sering kambuh. Kondisi emosinya kurang stabil dan selalu merasa tidak tenang. Setelah kondisi klien sudah memburuk pada bulan Februari 2022 klien melakukan pemeriksaan di puskesmas dan diberikan obat untuk keluhan asam lambungnya namun sebelum sebulan pengobatan kondisi klien mengalami kekambuhan dengan stressor yang sama sehingga klien melakukan konseling ke psikologi.
Pada saat praktikan berkunjung kerumah dan menanyakan kondisinya, klien masih merasakan rasa cemas itu muncul setiap pagi. Hal itu dikarenakan setiap klien membuka pintu depan dan melihat rumah budhenya perasaan khawatir, kaget serta rasa sakit hati itu muncul. Selain itu kurangnya dukungan dari suami dimana suami juga lebih banyak untuk menghabiskan kegiatannya dengan gadget dan memiliki sikap yang cuek serta kurang peka terhadap kondisi klien.
Klien mengatakan kondisi sekarang yang mempengaruhinya untuk menunda dulu dalam memiliki momongan dan klien masih pengen fokus kekesembuhan dirinya karena untuk bekerjapun masih sulit dan beraktifitas biasa klien juga masih belum bisa kosentrasi.
b. Alloanamnesa i. Suami (B)
B adalah suami klien yang telah menikah selama 5 tahun. Dulunya klien dan suami berkenalan lewat sosial media yaitu facebook dan suami klien bukan orang asli jogja melainkan dari luar kota. Pada masa perkenalan B belum mengetahui bahwa kondisi klien seperti yang dialami sekarang dan juga konflik yang terjadi didalam keluarga. Kurang lebih 2 tahun terakhir B baru mengetahui apa yang terjadi pada diri klien serta permasalahan klien dengan keluarga. Tipe pendiam dan juga cuek terhadap lingkungan membuat B tidak ikut campur terlalu dalam dengan urusan istrinya. B hanya mencoba memperhatikan istrinya ketika kondisinya kurang baik dan mendukung istrinya untuk melakukan pengobatan.
B mengatakan bahwa beberapa bulan terakhir sekitar kurang lebih 6 bulan terakhir kondisi istrinya
semakin menurun seperti mudah terserang penyakit dan juga mengalami kecemasan yang terus menerus sehingga menyebabkan istrinya sering marah-marah dalam jangka waktu yang cukup lama serta tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pada saat perasaan cemas dan ketakutannya muncul menurut B, istrinya hanya menangis dan mengurung diri kamar tidak mau keluar rumah ataupun menceritakan keluhannya. Selama ini memang B dan klien memiliki kesepakatan menunda dulu kehamilannya dikarenakan mau fokus terlebih dahulu ke kesembuhan istrinya.
B mengenal keluarga istrinya cukup keras terutama budhenya dan ibunya. Hal itu yang menyebabkan istrinya sering kambuh cemas dan gelisahnya dikarenakan suara budhe dan serta kritikan-kritikan dari ibunya. Terkadang istrinya sering pergi dari rumah jika sudah mengalami cemas berlebihan untuk beberapa hari ketempat saudaranya. Selain itu jika mendengarkan suara keras seperti benda jatuh dan suara yang keras lainnya istrinya langsung gemetar dan merasa jantungnya berdebar sangat kecang setelah itu istrinya selalu menangis.
ii. Bulek
Buleknya adalah seseorang yang sangat dekat dengan klien. Sedari kecil ketika klien kabur dari rumah dan mengalami pertengkaran dengan ibunya selalu datang kerumanya beberapa hari. Klien juga lebih terbuka dengan buleknya terkait permasalahan yang klien hadapi. Sejauh pengetahuan dari Buleknya semenjak umur 3 atau 4 tahun memang mendapatkan kekerasa dari ibunya. Klien sering dipukul atau dibentak oleh ibunya sebagai pelampiasan ketika sedang marah.
Hal ini dipicu karena rasa sakit hati ibunya terhadap keluarganya sendiri yang terjadi selama hidup seperti halnya dibandingkan dengan saudara yang lain, kemudian kemarahan ibu klien dengan saudara-saudara yang lain.
Menurut pemaparan Buleknya waktu ibu klien masih muda memang selalu ingin diprioritaskan oleh keluarganya dan selalu harus dituruti apa yang menjadi kemauannya.
Sampai akhirnya klien sempat melukai dirinya sendiri waktu SMP dengan pisau dan terfikir untuk menyelesaikan hidupnya karena sering mendapatkan omongan negatif. Tidak hanya rasa sakit hati ke keluarga ibu klien, ibunya juga memiliki rasa marah dengan keluarga suami yang dimana pernikahannya itu tidak restui oleh keluarga suami sehingga adanya sikap acuh ibu klien
dengan kondisi orang tua suaminya. Hal itu memicu sikap budhe yang selalu melampiaskan kesalahan ke klien sampai sekarang.
Tidak hanya pernah ada riwayat self harm yang lama namun setiap pertengkar dengan ibunya klien selalu kabur dari rumah untuk beberapa hari hal ini sering dilakukan semenjak SMP. Sehingga terkadang klien selalu menyalahkan sikap ibunya dan menganggap bahwa klien bukan anak yang diharapkan oleh orang tuanya.
Berdasarkan pemaparan dari buleknya sebetulnya klien adalah ponakan yang penurut, punya inisiatif dan lebih mandiri. Memang benar dulu klien pernah mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh anaknya budhe namun hal itu dapat ditutupi oleh klien dan hanya diketahui oleh buleknya. Ketika memiliki masalah, klien dinilai pandai untuk menutupinya atau memandam permaslaahan itu.
Buleknya juga mengatakan bahwa kondisi sekarang klien sering muncul cemas, ketakutan dan setiap datang kerumah kondisinya ya menangis. Terlebih lagi jika ada suara keras pasti muncul rasa takut itu beberapa hari.
iii. Orang tua
Pada saat melakukan kunjungan rumah praktikan mengobrol dengan kedua orang tua klien namun sikap dari kedua orang tua klien tidak mau terlalu di intervensi.
Ayahnya mengatakan bahwa klien memang dari kecilnya anaknya pendiam dan tidak banyak keluar rumah. Klien lebih sering bermain sendiri dirumah atau teman-temannya yang datang kerumah untuk bermain bersama.
Ayahnya juga bingung dengan kondisi klien saat ini bahwa klien sering sakit-sakitan dan sering periksa ke puskemas. Tidak hanya itu sikap orang tua klien yang membandingkan kondisi klien yang sering sakit-sakitan dengan kondisi orang tua waktu sakit, ketika adiknya sakit tidak terlalu memanjakan penyakitnya.
Ibu klien beranggapan bahwa apa yang dilakukan selama ini adalah tindakan yang wajar dalam mengasuh anaknya. Ibunya mengatakan bahwa dirinya tidak pernah membandingkan klien dengan adiknya seperi halnya sama-sama dibelikan motor, sama-sama disekolahkan tapi ibunya menyayangkan kondisi berbeda, lebih kuat adiknya. Ibu dan Ayahnya mempertanyakan kenapa anaknya tidak kunjung hamil padahal anak tetangga yang menikah sudah 5 bulan sudah memiliki momongan namun klien 5 tahun menikah belum memiliki momongan.
4. Kesimpulan Wawancara
Berdasarkan hasil wawancara diatas, rasa cemas dan gelisah yang dirasakan klien setiap hari disebabkan tidak adanya didukungan dari lingkungan serta anggapan-anggapan negatif yang memicu kondisi fisik dan psikologis klien melemah. Faktor atau stressor yang mempengaruhi berdasarkan pengalaman hidupnya serta terjadi setiap hari. Sehingga kondisi tersebut memperkuat kekambuhan seperti rasa cemas, gelisah, sakit fisik serta ketidakberdayaan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Dukungan yang ada sangat sedikit sehingga klien perlu berjuang sendiri untuk mengontrol dirinya dan menganggap bahwa orang lain tidak pernah memahami kondisinya. Klien juga mempunyai asumsi bahwa lingkungan selalu memaksa klien untuk melakukan banyak hal tanpa memikirkan kesehatan atau kondisi yang dialaminya.
5. Hasil Tes Psikologi
a. Tes Intellegensi CFIT
Berdasarkan skor IQ yang didapat oleh klien pada pelaksaan tes psikologi untuk mengetahui daya kognitif dalam melihat permasalahan yang dihadapi, klien mendapatkan skor IQ sebasar 91 dengan taraf kategori avarge (skala CFIT).
b. Tes Grafis dan Warteg A. Hasil Tes Warteg
Berdasarkan analisa data yang telah dilakukan bahwa klien merupakan pribadi yang memiliki kemampuan sederhana lebih cenderung ketaraf rendah kemudian klien melihat suatu fenomena atau permasalahan berdasarkan subjektifitas serta penalaran yang dimiliki. Pada saat melakukan kegiatan atau klien memiliki tujuan, klien lebih cenderung menyusunnya terlebih dahulu dan tertata sebelum bertindak serta memandang suatu permasalah sesuai dengan fakta yang ada. Sehingga dalam memecahkan masalah yang dihadapinya klien kurang dinamis atau fleksibel lebih cenderung ke sikap yang kaku serta kurang luwes. Hal itu mempengaruhi sikap serta emosi klien, dimana munculnya suatu hambatan dalam mengelola emosi, kemudian klien lebih mudah terbawa emosi atau lebih sensitive terhadap anggapan-anggapan lingkungannya sehingga klien mudah menunjukkan kemarahannya, tindakan kompulsif serta ketika menghadapi masalah cenderung melakukan sebuah tanda tanpa harus menganalisa terlebih dahulu.
Aspek lain dapat dilihat dari lingkungannya, bahwa klien pribadi yang fleksibel, mudah bergaul serta lembut walaupun terkadang klien memiliki sifat mudah
menolak konflik dari lingkungannya, kemudian adanya perasaan tegang ketika berada di lingkungannya serta mudah terasingkan namun klien memiliki pemikiran yang positif dikehidupannya. Fokus klien lebih kepada dirinya sendiri dan tidak menghiraukan anggapan lingkungannya.
B. Hasil Tes BAUM
Hasil dari tes BAUM kali ini menunjukkan bahwa dari segi keseluruhan gambar bahwa klien masih menunjukkan sikap kekanak-kanakannya dan berorientasi pada masa lalunya terutama pada saat tahapan perkembangan awal manusia. Sehingga jika dilihat dari hasil diatas klien merupakan pribadi yang introvert dan masih memuncul sikap keras kepala dalam menghadapi suatu permasalahan yang terjadi. Orientasi klien terhadap kehidupannya masih terbawa pengalamannya dimasa lalu. Sifat egosime dan egosentris dari diri klien cukup kuat sehingga klien mudah sensitive terhadap kondisi dan situasi lingkungannya. Klien memiliki suatu ambisi yang besar dalam kehiduapannya sehingga adanya sikap ingin dilihat secara kemampuan dan prestasi klien.
lingkungan serta terpencil dalam kehidupannya sehingga klien memiliki daya tahan dan daya juang yang lebih dalam mengambil sikap terhadap dirinya.
C. Hasil tes DAP
Dari hasil analisis data yang dilakukan pada hasil tes DAP menunjukkan bahwa adanya suatu sikap diri klien yang tidak memiliki keinginan untuk berhubungan sosial hal ini dikarenakan berdasarkan hasil tes adanya perasaan tidak percaya diri dari apa yang klien miliki serta merasa apa yang dilakukannya hanyalah sia-sia.
Selain itu sifat egosentri dari diri klien sendiri yang cukup besar sehingga klien menunjukkan suatu penolak terhadap lingkungan luar seperti suara atau keadaan luar. Hal ini menyebabkan adanya hubungan sosial yang terhambat dalam diri klien. Tidak hanya itu juga bahwa klien memiliki sifat agresif yang menonjol sehingga adanya kecenderungan ke sifat paranoid dan gangguan anxiety termunculkan dari hasil tes ini. Jika dilihat terkait hubungan seksualnya maka hasil tes ini menunjukkan bahwa adanya suatu keinginan kebutuhan seksual namun muncul sebuah hambatan dari diri klien dan juga klien menginginkan suatu perhatian terkait hubungan seksualnya.
D. Hasil tes HTP
Dapat disimpulkan dari hasil tes HTP kali ini bahwa sikap ibu yang cukup dominan dalam keluarga tersebut hal ini adanya kekuatan dan sikap otoriter dalam diri ibu untuk mengatur keberlangsungan hidup seperti pengasuhan atau pun kehidupan sehari-hari yang cukup besar. Sehingga hal menyebabkan sebuah ketimpangan peranan dalam sistem keluarga yang terbentuk. Karena peran ayah yang lemah serta adanya sebuah hambatan yang dialami oleh ayah dalam mengatur dan menjadi pemimpin keluarga. Dengan suatu keadaan yang terjadi didalam keluarga tersebut menyebabkan keinginan klien terfokus pada suatu keadaan luar atau ingin meninggal suatu kegiatan didalam rumah serta adanya sebuah jarak antara klien sebagai anak terhadap kedua orang tuanya. Selain itu klien juga merasa rendah diri didalam keluarganya.
c. Tes SSCT
Adanya suatu pemahaman bahwa ibunya dan ayahnya menanggap klien seperti halnya anak tiri, tidak bisa memahami kondisi dirinya sedari kecil serta klien selalu menjadi sasaran kemarahan ibunya. Sehingga pemikiran-pemikiran tersebut
Karena baginya masa kecil klien sangat menyakitkan dan kurang mengenakkan. Tidak ada kebahagian yang dirasakan oleh klien selama masa kecilnya dulu.
Hal ini menyebabkan klien belum bisa memandang kedepan apa yang menjadi tujuan dari dirinya. Bagi klien masa depan dipasrahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berdasarkan aspek sosial klien kurang mampu untuk berbaur dengan lingkungan sosialnya ataupun terbuka dengan orang terdekatnya. Walaupun kondisi yang dialami menyakitkan yang dialaminya, klien memiliki harapan besar bahwa orang lain jangan mengalami kondisi seperti dirinya dan klien hanya ingin bertanggung jawab dengan pekerjaanya sekarang.
d. Tes DASS 42
Dari hasil pemberian tes psikologi yang dimana untuk mengetahui kondisi klien termasuk kedalam kategori Depresi, Anxiety, Stress dan alat tes psikologi ditujukan sebagai bentuk skrinning awal dari proses assessment psikolgi. Berdasarkan hasil tes klien mendapatkan skor Depresi sebesar 17 dengan kategori sedang, Anxeity sebear 19 dengan kategori berat dan Stress sebasar 17 dengan kategori ringan. Berdasarkan hasil tersebut klien cenderung ke aspek kecemasan dengan kategor berat
e. Tess BAI
Untuk mendukung hasil dari tes DASS 42 diatas maka klien diberikan tes BAI pada lain hari. Tes ini lebih spesifik untuk mengukur kondisi klien. Berdasarkan hasil tes BAI klien mendapatkan skor sebesar 34 atau bisa dakatakan tingkat kecemasan klien pada kategori berat. Hal ini dapat dikatakan bahwa hasil tes ini mendukung tes sebelumnya.
6. Hasil Asesmen Lain
Berdasarkan dari hasil rekam medis bahwa klien kerap melakukan suatu pemeriksaan terkait gejala asam lambung serta sesak nafasnya namun dari hasil pemeriksaan dikatakan bahwa kondisi klien normal hanya diberikan obat pusing dan mereda asam lambungnya.
D. INTEGRITAS DATA
ASESSMENT KOGNITIF EMOSI GAMBARAN DIRI SOSIAL
Wawancara Dapat menceritakan kronologinya
dengan runtut
Kualitas kata yang disampaikan baik walaupun harus dicampur dengan bahasa jawa
Klien memiliki pendidikan yang cukup baik yaitu SMK
Mengatakan mudah sedih dan marah ketika cemas muncul
Menyalahkan maksud ibunya dalam menghadapi dirinya
Menganggap ibunya membenci klien dan tidak pernah memahami kondisi klien
Selalu
menyalahkan diri sendiri
Merasa sakit hati dengan perilaku budhe terhadap dirinya karena
Sejak masa sekolah klien selalu menarik diri dari lingkunga pertemenannya karena menggap tidak usah banyak
teman karena
menyakitkan
Dikehidupan sehari- hari klien juga jarang sekali berkumpul dengan
klien dibicarakan dan ditanya terkait kehamilan lebih baik dirumah baginya lebih nyaman
Observasi Mampu menangkap informasi dengan baik
Ketika menjelaskan terkiat
permasalahan yang dihadapi suaranya semakin keras dan lebih ke
menegaskan bahwa kondisinya benar- benar sakit dan ingin dipahami
Lebih banyak menangis selama proses assessment dan tendensi kemarahan terlihat wajahnya yang memerah
BAUM Mempunyai ide-ide yang banyak, lebih mengarah kedunia fantasia tau angan- angan
Kestabilan emosi yang kurang matang dalam menghadapi suatu permaslaahan
Adanya sikap
egosentris dan ingin di akui
Adanya sikap menutup diri dari lingkungan
DAP Tindakan agresif
kepada lingkungann
Lingkupan harus memberikan
perhatian kepada klien terkait kondisi dirinya
Penarikan diri karena terjadi hambatan-
hambatan serta
penolakan dengan lingkungan luar
HTP Adanya jarak antara
klien dengan kedua orang tua dan ada sikap menjauh dari kegiatan rumah
CFIT Hasil tes menunjuukan bahwa skor IQ klien berada di taraf rata- rata
Adanya perilaku tergesa-gesa dan ingin segera selesai tanpa meneliti ulang
dari hasil
pekerjaannya SSCT Klien lebih banyak
memiliki pandangan negative terhadap diri dan keluarganya.
Adanya sikap kecewa dan merasa sakit hati terutama terhadap masa lalu sehingga klien tidak mau mengulangi masa lalunya
Anggapan klien terhadap kedua orang tua yang negative hal ini mempengaruhi sikap klien terhadap
ibunya yang
memiliki hubungan yang kurang baik dan berjarak.
Sebenarnya klien dikelilingi oleh orang- orang yang positif namun pandangan negative dari sikap- sikap positif itu bermunculan kepada lingkungannya
Klien juga merasa sakit hati dan selalu
merasa bahwa
ibunya
memperlakukan dirinya seperti anak tiri
BAI Menunjukkan
perasaan yang tidak bisa relaks, takut hal buruk terjadi, perasaan takut mati Warteg Kemampuan
intellectual klien rata- rata atau sederhana, terorganisir serta mengedepankan subjektifitasnya ketika meleihat suatu permasalahan.
Klien mudah terbawa
perasaan atau
sensitive, kemudian mengekspresikan emosi melalui suatu tindakan kompulsif atau mudah marah
Klien pribadi yang kaku dan pendiam namun hal itu menjadi hambatan bagi klien. Selain itu klien lebih mudah menolak konflik dari lingkungannya
Mudah bergaul dan memandang
kehidupannya positif, meskipun adanya sedikit ketagangan ketika berada di lingkungan sosialnya
Kondisi klien jika dilihat dari aspek kognitifnya berdasarkan table integrasi data, klien memiliki riwayat pendidikan yang baik yaitu SMK hal ini didukungan dengan adanya kemampuan menangkap informasi yang baik, mampu menceritakan detail masalahnya dengan runtut serta memiliki sikap koorperatif terhadap praktikan. Proses berpikirnya yang subjektif serta lebih cenderung kekaku dalam menghadapi permasalahan menyebabkan klien kurang fleksibel dalam perpikir dan kualitas dalam memecahakan permasalahan dikehidupannya dengan cara penuh ketegangan
Berdasarkan aspek yang lain yaitu secara emosinya bahwa kontrol emosi klien yang tidak stabil sehingga memunculkan suatu kondisi muncul rasa cemas