• Tidak ada hasil yang ditemukan

H. ASESMEN

I. ASESMEN: PELAKSANAAN DAN HASIL

1. Kesimpulan Progonosis

 Komitmen klien dalam proses pengobatan ke psikologi cukup tinggi sehingga dalam proses konseling berlangsung klien mampu terbuka akan keluhannya

 Dukungan dari suami dan bulek atas pengobatan klien sangat baik sehingga adanya semangat klien untuk menjalani pengobatan sampai tuntas

 Motivasi klien untuk mencapai kesembuhan sangat tinggi karena ada tujuan yang akan dicapai setelah kondisi klien stabil

 Klien memiliki insight yang baik atas proses yang kan dijalani sehingga hal itu membantu klien dalam proses intervensi yang akan dilakukan

 Secara kognitifnya klien tujuan yang jelas dan masih mampu berfungsi dengan baik.

 Klien memiliki aktivitas yang positif seperti pekerjaan yang klien jalani sehari-hari

Dukungan dari sisi internal dan eksternal yang baik serta proses berfikir klien juga dalam kondisi baik sehingga hal itu membantu klien dalam menemukan insight serta motivasi untuk meningkatkan komitmen pada proses pengobatan dan rutinitas konseling yang berlangsung. Selain itu juga keputusan klien dalam proses pengobatan datang ke psikologi adalah keputusan sendiri sehingga semangat akan kesembuhan dari dirinya tinggi karena klien memiliki tujuan kedepannya setelah proses intervensi selesai dan kondisi klien yang stabil

Hal Yang Menghambat

 Stressor yang cukup dekat diri klien sehingga kekambuhan akan kondisi klien cukup sering.

 Pikiran negatif yang muncul atas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya membuat klien kurang bisa bedaya atas kondisi dirinya

 Klien kurang memiliki coping yang baik jika mengalami kemabuhan kondisi sehingga klien kurang mampu mengontrol emosinya, kemudian klien lebih sering untuk mengurung diri dikamar.

 Klien juga tidak memiliki tempat bercerita ketika mengalami beban atau kondisi klien kurang berdaya Stressor permasalahan yang dirasakan oleh klien sangatlah dekat dikarenakan stressor itu muncul didalam keluarga yang bertempat tinggal cukup dekat dengan diri klien sehingga kekambuhan akan kondisi klien cukup sering. Kemudian pikiran-pikiran negatif seperti halnya menyalahkan diri sendiri, menganggap lingkungannya tidak pernah mengerti kondisi klien, kemudian memaksakan orang lain memahami kondisinya sering muncul ketika mengalami kekambuhan.

Kesimpulan

Dari hasil prognosis diatas dengan hasil assessment yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa klien masih termasuk kedalam ketegori Dubia ad Sanam (Kondisi cenderung baik). Hal itu dikarenakan klien masih memiliki motivasi yang tinggi akan kesembuhannya, kemudian

adanay insight dan komitmen yang terbangun dalam diri klien untuk melakukan proses pengobatan di poli psikologi.

Kemudian klien memiliki tujuan yang jelas didalam hidupnya hal ini membantu klien dalam menumbuhakn konsistensi pengobatan yang baik

I. INTERVENSI a. Dasar Teori

Kecemasan adalah kondisi umum dari ketakutan dan perasaan tidak nyaman. Kecemasan bermanfaat bagi seseorang dikarenakan kecemasan membuat orang rutin melakukan pemeriksaan medis atau memotivasi kita untuk melakukan kegiatan (Nevid et al., 2018). Anxiety atau cemas merupakan kondisi ketidakberdayaan, perasaan tidak aman atau tidak matang serta tidak mampu menghadapi tuntutan lingkungan, kesulitan serta tekanan hidup sehari-hari (Yusuf dalam Chodijah dkk, 2020).

Sementara pendapat lain menyatakan bahwa kecemasan merupakan ekspresi rasa risau dan tidak berani mengahadapi situasi yang tidak jelas (kartono dalam Chodijah dkk, 202).

Definisi ini juga dikuatkan oleh Sarlito (Sarwono dalam Chodijah dkk, 202) yang menjelaskan bahwa objek dan alasan dari rasa cemas adalah sesuatu yang tidak jelas.

Penegakan diagnosa seseorang memiliki gangguan kecemasan harus berdasarkan ciri-ciri berupa ciri fisik, ciri perilaku dan ciri kognitif. Walaupun orang dengan kecemasan tidak harus mengalami semua ciri-ciri ini. (Nevid et al., 2018). Dalam permasalahan kali ini klien mengalami Gangguan Kecemasan

ditegakkan dikarenakan klien memenuhi pedoman diagnostika pada PPDGJ III. Terdiri dari ciri perilaku, ciri perilaku, ciri kognitif. Sehingga klien perlu mendapatkan penangan berupa intervensi psikologi.

Berdasarkan hasil assessment dan integritas data yang di dapat dalam proses pemeriksaan di Poli Psikologi Puskesmas Piyungan. Klien menunjukkan beberapa gejala yang memenuhi kriteria kecemasan seperti halnya gemeteran, keringat dingin, jantung berdetak kencang, pola tidur terganggu sering mimpi buruk, asam lambung naik, kepala pusing dan sesak nafas. Kondisi psikologis yang tampak dari diri klien adalah ketika stressor muncul maka klien mengalami kecemasan yang berlebihan, mengurung diri dikamar, kemudian menangis lebih dari 2 hari atau emosionalnya tidak stabil, sulit berkonsentrasi dalam pekerjaan serta menyalahkan diri sendiri. Beberapa gejala yang dialami oleh klien, memerlukan suatu tindakan psikoterapi untuk membantu dalam memulihkan distorsi kognitif yang klien hadapi.

Intervensi psikologi yang dipilih berdasarkan Nevid et al., (2018) mengatakan bahwa model penangan gangguan kecemasan disertai dengan gangguan panik model penanganan dengan diterapkannya terapi kognitif dan perilaku dengan melatih teknik pernafasan sebagai tahapan relaksasi dalam diri klien kemudian melatih penderita dengan menangangi serangan panic dan cemas.

Sejumlah penelitian yang terkontrol dengan membuktikan bahwa efektivitas CBT dalam menangani gangguan cemas (Craske et al., Gloster et al., Gunter & Whittal dalam Nevid et al., 2018)

. Nevid et al., (2018) mengatakan CBT membantu seseorang mendapatkan kemampuan-kemampuan yang dapat digunakan bahkan setelah penanganan selesai. Berdasarkan penelitian Wahid & Adam (2019) dengan judul Cognitive Behavior Therapy untuk Mengubah Pikiran Negatif Dan Kecemasan, dimana penelitian ini merupakan penelitian kualitatif pada subjek tunggal selama satu bulan dalam pemberian intervensi.

Penelitian diatas mendapatkan hasil bahwa CBT efektif dalam menurunkan keyakinan-keyakinan pada diri remaja yang negatif dan juga CBT mampu menurunkan kecemasan sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Tahapan yang digunakan dalam penelitian yang menggunakan 3 sesi, dimana setiap sesi berdurasi 60-120 menit.

 Sesi Pertama, tahapan 1 dengan Cognitive Model dimana disini terapis membantu klien dalam mengidentifikasi keyakinan- keyakinannya, mengubah core belief dalam diri klien, mengidentifikasi distoris kognitif, mampu menemukan aturan dan asumsi serta mengidentifikasi pemeikiran yang otomatis.

 Selanjutnya tahapan 2 dengan recronstruction kognitif dimana pada tahapan kedua ini klien diajak untuk merekrontuksi kognitifnya

 Sesi ketiga, adalah terapis mengajak untuk menemukan aspek positif dan menemukan kegiatan yang dapat meningkatkan aktivitas positifnya.

 Di Setiap akhir sesi pasti diberikan evaluasi agar klien mendapatkan insight baru yang nanti akan dikerjakan dirumah dan dibawanya kembali pada saat pertemuan sesi selanjutnya.

 Tahapan terakhir adalah tahapan evaluasi, pada tahapan ini klien dan terapis mengevaluasi tahapan-tahapan intervensi, teknik- teknik yang digunakan seperti apa apakah ada perubahan dalam diri klien.

Temuan lain dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Riza kepada penderita GAD (Generalized Anxiety Disorder) dengan metode single case desaign selama 9 fase yang dilewati yaitu dari fase awal sampai fase intervensi dengan cara membandingkan sebuah teori, kemudian dilakukan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi serta perkembangan hasil intervensi.

Berdasarkan tahapan intervensi yang telah dilakukan oleh peneliti. Peneliti memperoleh hasil bahwa CBT memiliki pengaruh terhadap menurunkan tingkat kecemasan pada penderita

GAD. Hasil tersebut dapat dilihat dari skor GAD-7 sebagai alat ukur kondisi klien sebelum dan sesudah perlakuan. Skor yang didapatkan pada alat ukur GAD-7 sebelum dilakukan intervensi adalah 13 dengan kategori sedang. Sedangkan setelah dilakukan intervensi skor GAD-7 menurunkan menjadi 7 dengan kategori ringan.

Selain CBT metode intervensi yang akan diterapkan pada pengobatan kali ini adalah dengan menggunakan teknik relaksasi digabungkan dengan Spritual Emotional Freedom Therapy (SEFT).

Menurut Khazanah (2014) SEFT adalah metode yang sangat dikenal dalam psikologi klinis dan konseling dengan teknik relaksasi. Relaksasi merupakan suatu teknik dimana yang dikembangkan untuk mengendalikan ketegangan dan kecemasan seperti apa yang di katakan oleh Powel & Enright (dalam Khazanah, 2014) pelatihan relaksasi merupakan suatu kemampuan seseorang dalam memahami kondisi diri dan untuk pengobatan dalam mengendalikan kecemasan dan stress.

Teknik relaksasi terbagi menjadi dua yaitu relaksasi pernafasan dan relaksasi otot progresif. Teknik relaksasi yang di pilih dalam intervensi kali ini adalah teknik relaksasi pernafasan yang dimana teknik pernafasan ini dapat dilakukan tanpa harus menggunakan teknik relaksasi yang rumit. Sehingga klien dapat

menurut Khazanah (2014) berawal duduk tegak tetapi rileks, tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan-lahan, lebih baik dengan mata terpejam. Ulangi tiga, empat kali, atau lebih, rasakan hangat-dinginnya aliran udara yang keluar-masuk menyentuh rongga hidung, setelah beberapa kali melakukan, seseorang akan mampu mengontrol pernapasannya, kenali pola pernapasan kala stres, jengkel, atau tegang. Semakin terampil merasakan aliran udara melalui saluran napas, semakin mahir dalam mengontrol pernapasan. Teknik yang telah dilakukan dapat mengubah suasana emosi menjadi lebih tenang dan rileks, kapan saja.

Teknik relaksasi tersebut digabungkan dengan SEFT dalam menangani gangguan kecemasan pada diri klien. Terapi SEFT pertama kali di kembangkan di Indonesia oleh seorang psikolog bernama Ahmad Faiz Zainuddin setelah belajar ke berbagai negara seperti Amerika, Australia, Hongkong, Singapura dan berguru ke berbagai ahli seperti pada Richard Banddler belajar tentang NLP, Lester levensen belajar Sedona Methode, belajar Energy Psikologi pada Garry Craig, powerfull prayer pada Larry Dossey dan belajar loving kindness therapy pada Decher Keltner (Zainuddin, SEFT Total Solution, 2013), terapi tersebut digabungkan dan disusun dari unsur spiritualitas, psikologi dan Teknik akupuntur dalam lima belas jenis terapi yang ada dalam terapi SEFT.

Teknik SEFT ini terpusat kedalam 3 tahapan yang digunakan dalam mengaplikasi teknik ini yaitu pada The Set-up, The Tune-in, Tapping (Uliyah, 2014). Pada teknik The Set-up sebagai langkah awal dalam terapi SEFT dengan menekan di titik sore spot dengan dua jari telunjuk dan jari tengah agar dapat di pastikan aliran energi dapat terarahkan dengan tepat. Langkah ini di lakukan tujuannya untuk menetralisir “Psiychologycal Reversal”. Pada proses ini klien diminta untuk sambil mengucapak kalimat doa dan memfokus dirinya pada hubungan vertical.

Kalimat yang digunakan yaitu “Ya Allah …. Meskipun saya memiliki (Ucapkan Keluhan) saya terima saya ikhlas saya pasrah kepada-Mu” sambil menekan dua titik sore spot dengan memutarnya searah jarum jam. Penggunaaan kata Ya Allah dikarenakan klien beragama muslim (Chodijah, dkk 2020).

Tahapan selanjutnya adalah The Tune-in setelah melakukan the set-up yang harus di lakukan pada tahap selanjutnya adalah The Tune In, bias untuk keluhan fisik dan emosi, juga buat keluhan phobia, trauma dan kecanduan melakukan proses yang sama. Untuk masalah fisik, kita melakukan Tune-In ini dengan cara merasakan rasa sakit yang kita alami, lalu mengarahkan fikiran kita ke rasa sakit, dibarengi dengan hati dan mulut kita mengatakan, Ya Allah saya ikhlas, saya pasrah. Atau Ya

pada-Mu kesembuhan saya, pada tahap ini juga dibarengi dengan teknik tapping pada tahapan ketiga yang memiliki tujuan kita menetralisir energi negatif atau rasa sakit fisik (Chodijah, dkk 2020). Dan teknik terakhir adalah Tapping, caranya dengan mengetuk ringan dengan dua ujung jari pada titik-titik tertentu di tubuh kita sambil terus melakukan tune-in. tapping ini merupakan Teknik terapi yang diadopsi dari Teknik akupuntur secara ringan untuk mengaktifkan syaraf syaraf yang ada di titik meridian akupuntur, titik-titik ini adalah kunci dari “the Major Energy Meridians”, yang jika kita ketuk beberapa kali yang akan berdampak pada netralisirnya gangguan emosi atau rasa sakit yang kita rasakan. Teknik mengetuk 18 titik pada tubuh manusia, yang sering digunakan di garis meridian, ada versi inti atau singkat disebut versi sortcut. Proses tapping diawal dari 9 titik utama (The Crown) yaitu 1) Crown Point (CP), 2) Eye Brow Point (EB), 3) Side Of Eyes Point (SE), 4) Under of Eyes Point (UE), 5) Under Nose Point (UN), 6) Chin Point (Ch), 7) Collar Bone Point (CB), 8) Under Arm Point (UA), 9) Bellow Nipple Point (BN). (Chodijah, dkk 2020).

b. Tujuan Intervensi

 Tujuan dalam pemberian psikoterapi CBT terhadap penderita GAD untuk menciptakan suatu pemikiran baru yang lebih positif dari diri klien

 Klien mampu memahami permasalahan yang dihadapi dan mampu memahami pemikiran negative yang melekat selama ini dalam diri penderita

 Klien dapat menciptakan suatu pemikiran yang bebas dan lepas sehingga klien dapat bekerja serta beraktivitas lebih produktif

 Klien dapat menemukan suatu insight serta pandangan kedepan lebih positif setelah menjalakan suatu proses psikoterapi.

c. Rancangan Intervensi

Rancangan intervensi ini dibuat berdasarkan hasil pemantuan selama proses assessment berlangsung serta evidence base dalam proses pemberian psikoterapi pada penderita gangguan kecemasan menyeluruh (GAD).

RANCANGAN INTERVENSI

No Sesi Sub-Sesi Tujuan Tahapan Durasi Alat Dan Bahan

1. Tahap Awal Building

Raport  Memahami gambaran awal akan dilakukan intervensi

 Memahami hasil assessment dan gangguan yang dialami

 Memahami perjanjian yang telah disepakati

 Klien mampu menentukan tujuan dan harapan

 Menjelaskan hasil assessment kepada klien berupa hasil diagnose, prognoasa, dan penjelasan secara teori

 Menunjukkan informed consent kepada klien

 Menentukan harapan dan tujuan

 Menjelaskan gambaran

intervensi

45 menit  PPDGJ

 Hasil Asessment

 Informed Consent

2 Sesi 1

(Relaksasi)

Relaksasi pernafasan- Long Breathing

 Klien mampu melakukan teknik pernafasan dasar

 Klien mampu mamahami kondisi diri klien

 Klien mampu lebih tenang dan relaks

 Klien mampu merasakan perubahan yang terjadi pada diri klien

 Pada tahap awal pengenalan mengenai teknik pernafasan yang akan digunakan dan menanyakan kondisi klien

 Terapis mencontohkan teknik pernafasan yang digunakan dengan teknik pernafasan dasar

 Kemudian klien mencobabya dulu bersamaan dengan terapis

 Klien mempratikkan dan memulai teknik pernafasan dasar

 Diskusi

 Setelah diskusi terapis

60 Menit  Musik Meditasi

 Speaker

 Form Tugas

menjelaskan lagi teknik pernafasan long breathing berbedaan dengan teknik sebelumnya

 Tahapan sama terapis

mencontohkan

 Klien menirukan terapis

 Klien memulai terapi dan mempraktikkannya

 Terapis mengarahkan klien kepada tahapan pertama yaitu pada saat The Set-Up terapis menginstruksikan bahwa klien diminta untuk menyentuh sore spot dan merasakan dulu rasa sakitnya di sore spot kemudian dengan tarikan nafas dan hembuskan klien diminta untuk menekan sore spot sambil memutarnya searah jarum jam sambil mengatakan “Ya Allah…. Walaupun saya memiliki (sebut keluhan), saya terima, saya ikhlas, saya pasrah kepadamu” dilakukan sebanyak 5 kali. Setelah tahapn itu maka

The Tune-in yaitu diminta untuk merasakan sakit yang ada dalam dirinya pada tahap ini dibarengi denga tahap tapping atau tahap ke 3 dimana dimulai dari bagian atas (The Crown) pada bagian dicari pusat kepala dan cara mengetuknya pelan-pelan menggunakan 2 jari, setelah dilakukan sebanyak 5-7 kali maka akan berpindah kebagian samping mata, ujung alis depa, bawah mata, bawah hidung, bawah mulut, didaerah V dada, bawah ketiak kanan kiri, diantar perust dan dada, kemudian beralih ke bagian samping tangan, samping jari-jari sambil mengatakan dalam hati “Ya Allah… Walaupun saya memiliki (sebut keluhan), saya ikhlas, saya terima, saya pasrah kepadaMu.

 Evaluasi dan pemberian PR kepada klien untuk melakukan terapi dirumah sebelum tidur dan pada Pagi hari dengan

teknik yang sudah dicoba

 Menjelaskan sesi terapi selanjutnya dan melakukan perjanjian

 Menutup Sesi

3 CBT Sesi 1

(Cognitive Model)

 Mengetahui pola interaksi perilaku, emosi, kognitif

 Mengidentifikasi core belief (keyakinan yang mendasar)

 Mengidentifikasi cognitive distortion

 Mengidentifikasi aturan dan asumsi

 Mengidentifikasi pikiran yang otomatis

 Mengetahui insight yang didapat

 Terapis menanyakan kondisi klien setelah tahapan relakasi selesai dan dipraktekkan mandiri

 Terapis Menjelaskan apa itu CBT kepada klien

 Terapis meminta klien untuk menjelaskan situasi hidupnya dan disinkronkan dengan permasalahan klien

 Terapis membuat daftar prioritas yang akan dibahas dalam terapi kali ini

 Terapis menjelaskan pengaruh pikiran dan emosi

 Terapis menjelaskan apa itu core belief

\Terapis meminta klien untuk menganalisa core belief yang terjadi dalam diri klien

 Terapis menjelaskan dampak

75 Menit  HVS

 Bolpoint

 Handphone

 Lembar Penjelasan CBT

keyakinan negatif dengan distorsi kognitif

 Terapis memberikan

pemahaman distorsi kognitif dan jenisnya

 Terapis meminta klien untuk menganalisa kesalahan- kesalahan yang memunculka distorsi kognitif

 Terapis menanyakan apakah klien mengetahui aturan dan asumsi

 Terapus meminta untuk membikin aturan dan asumsi berdasarkan permasalahan klien yang bisa diterapkan kedalam kehiduapn sehari-hari, contoh :Jika….maka saya harus… sehingga….

 Terapis meminta klien memilih aturan dan asumsi mana yang bermanfaat dan tidak bermanfaat dengan diri klien

 Terapis meminta klien untuk memikirkan hal-hal terkait emosi negatif yang terjadi pada

diri klien 1 atau 2 minggu terakhir

 Terapis meminta klien menjelaskan apa yang dilakukan klien dalam emosi negatifnya

 Terapis meminta klien untuk memikirkan emosi negatif yang muncul dan apa manfaatnya kepada klien

CBT (Reconstructio

n Cognitive)  Mereconstruction kognitif pada diri klien

 Evaluasi insight apa yang didapat oleh klien

 Terapis meminta klien untuk menceritakan pikiran-pikiran negatif dan dihubungkan dengan aturan dan asumsi yang klien buat

 Terapis mengajukan pertanyaan seperti beberapa pertanyaan sokratis untuk memberikan stimulus kepada klien agar klien menemukan pemikiran negatif

 Terapis meminta klien mencari alternatif positif dan membanding pada pemikrian negatif sebelumnya

 Terapis meminta klien untuk membuat aturan dan asumsi

65 Menit  Contoh PR

yang akan

dikerjakan

 HVS

 Bolpoint/Spidol

 Form Tugs

baru yang lebih seimbang dan fleksibel untuk menentang aturan dan asumsi sebelumnya Pemberian

Tugas  Terapis memberikan tugas lagi

kepada klien, dimana klien meminta membuat sebuah mind- map yang “Kenapa aku seperti ini:, “Negative Core Believe”, Aturan dan Asumsi”

Evaluasi &

Penutup  Terapis menanyakan kepada

klien apa yang didapat oleh klien pada sesi 2 ini, insight apa yang dapatkan

 Terapis melakukan perjanjian untuk pertemuan selanjutnya dan klien menutup Sesi 1

45 menit

4 CBT Sesi 3

(Aktivitas Pikiran Positif

 Membantu klien dalam menemukan aspek-aspek positif dalam dirinya

 Membantu klien menemukan aktivitas yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari yang positif

 Klien mampu menemukan insight baru

 Terapis menanyakan tugas yang diberikan pada sesi sebelumnya

 Teraps menanyakan kondisi klien setelah 2 kali pertemuan terapi

 Terapis meminta klien untuk menceritakan perbedaan dirinya sekarang dengan dulu

 Terapis meminta klien untuk

menceritakan mimpinya dimasa depan dan langkah apa yang akan dilakukan

 Terapis meriview hal-hal yang positif pada diri klien dan memberikan apresiasi kepada klien terkait perubahan yang klien alami

 Terapis meminta klien untuk menceritakan pengalaman masa lalunya yang membuat klien kuat dan bertahan sampai sekarang

 Terapis memandu klien dalam mengungkapkan hal-hal yang membuat relaks, tenang dan nyaman serta berpikir positif

 Terapis meminta klien untuk menghubungkan kegiatan itu dengan aspek positif yang ada didalam diri klien.

Pemberian

Tugas  Terapis memberikan tugas

kepada klien dimana klien diminta untuk menuliskan “Life Story” pada selembar kertas

Evaluasi Sesi 3  Terapis meminta klien untuk

bercerita insight apa yang didapat oleh diri klien pada sesi 3.

5` CBT Sesi 4

Terminasi  Menemukan insight baru yang dapat diterapkan pada kehidupan sehari

 Mendapatkan hasil

keefektivitasan terapi pada diri klien

 Terapis menanyakan kepada klien keefektivan terapi dari Relaksasi dan CBT pada diri klien

 Terapis memberikan

menanyakan kembali apa harapan yang ingin dicapai oleh klien setelah sesi intervensi ini dilakukan

 Terapis mengingatkan klien tetap menerapkan teknik intervensi di kehidupan sehari- hari atau pada saat menemukan permasalahan yang serupa Evaluasi

Keseluruhan &

Penutup

 Terapis mengucapkan

terimakasih kepada klien dan memberikan apresiasi kepada klien

 Terapis menutup proses intervensi pada kali ini

A. Pelaksanaan dan Hasil Intervensi

Dokumen terkait