• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ihwal Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Bahasa

Dalam dokumen KOREKSIAN UNTUK PENULIS - Universitas Mataram (Halaman 136-142)

PEMBELAJARAN TEKS MELALUI PENDEKATAN DAN METODE SAINTIFIK

BAB 3 BAB 3

A. Ihwal Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Bahasa

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa pendekatan saintifik dalam pembelajaran bahasa dimaksudkan sebagai cara pandang dalam melihat substansi kebahasaan yang menjadi dasar pembelajaran. Terdapat dua pendekatan dalam melihat teks sebagai substansi yang menjadi materi pembelajaran bahasa.

Pendekatan pertama, teks dipandang sebagai unit materi pembelajaran yang struktur berpikir/struktur generik teks tertata secara sistematis, terkontrol, empirik, dan kritis. Untuk memperjelas hal ini berikut disajikan contoh teks genre sastra jenis penceritaan berupa teks anekdot.

Tabel 1 Teks Genre Sastra Jenis Penceritaan Berupa Teks Anekdot

Deskripsi Teks Struktur Teks

Pemadaman Listrik Bergilir Judul

Akhir-akhir ini masih sering terjadi pemadaman listrik bergilir. Semua tempat di sekitar rumah saya terjadi pemadama listrik setiap minggunya.

Pengenalan Pada saat saya sedang mendengar radio, listrik padam. Malam ini giliran listrik

di rumah saya yang padam. Saya panik dan langsung meloncaat dari tempat tidur untuk keluar dan lari dari dalam kamar. Ketika saya berada di dekat pintu, tiba-tiba ada wajah yang menakutkan berada di hadapan saya. Saya berteriak karena ketakutan.

Krisis

Saya mencoba memukul wajah yang menyeramkan itu. Waktu saya pukul, orang itu menangis dan minta ampun. Ternyata orang itu adik saya yang sedang menakut-nakuti dengan menggunakan senter di wajahnya.

Reaksi

Sebagai teks anekdot, teks itu memiliki struktur berpikir/struktur teks:

pengenalan, krisis, dan reaksi. Hubungan antara satuan bahasa pengisi struktur pengenalan, krisis, dan reaksi ditata secara berurutan (sistematis), dimulai dari satuan bahasa pengisi struktur pengenalan, diikuti struktur krisis dan diakhiri struktur reaksi. Seandainya urut-urutannya diubah, dimulai dari satuan pengisi struktur reaksi, lalu diikuti satuan pengisi struktur pengenalan dan diakhiri satuan pengisi struktur reaksi maka akan diperoleh sebuah teks yang tidak kohesif dan koheren berikut ini.

Tabel 2 Teks yang Tidak Kohesif dan Koheren

Deskripsi Teks Struktur Teks

Pemadaman Listrik Bergilir Judul

Pada saat saya sedang mendengar radio, listrik padam. Malam ini giliran listrik di rumah saya yang padam. Saya panik dan langsung meloncaat dari tempat tidur untuk keluar dan lari dari dalam kamar. Ketika saya berada di dekat pintu, tiba-tiba ada wajah yang menakutkan berada di hadapan saya. Saya berteriak karena ketakutan.

Krisis

Akhir-akhir ini masih sering terjadi pemadaman listrik bergilir. Semua tempat di sekitar rumah saya terjadi pemadaman listrik setiap minggunya.

Pengenalan Saya mencoba memukul wajah yang menyeramkan itu. Waktu saya pukul,

orang itu menangis dan minta ampun. Ternyata orang itu adik saya yang sedang menakut-nakuti dengan menggunakan senter di wajahnya.

Reaksi

Ketidakkohesifan dan koherennya teks hasil pengubahan tersebut menggambarkan bahwa dari sudut pandang ilmiah atau saintifik, struktur berpikir sebuah teks haruslah disusun secara sistematis. Apabila kesistematisannya terganggu maka akan menghasilkan teks yang tidak padu/kohesif dan koheren.

Kesistematisan dimaksudkan di sini bahwa tata urut struktur berpikir teks tidak boleh ditata secara melompat, boleh diubah dengan memulai dari akhir cerita lalu menuju awal cerita (struktur sorot balik/flashback). Selanjutnya, terkontrol maksudnya, bahwa pesan yang mengisi setiap struktur teks harus fokus pada persoalan utama. Seandainya satuan pengisi stuktur teks: krisis tidak membicarakan hal yang berhubungan dengan listrik padam, misalnya membicarakan mobil mogok, maka pesan yang tercantum dalam struktur pengenalan tidak akan terhubung tidak hanya dengan pesan yang mengisi struktur krisis, tetapi juga tidak akan terhubung dengan pesan yang mengisi struktur: reaksi. Artinya, terkontrol merupakan ciri dari sebuah teks.

Kemudian, empirik maksudnya bahwa dalam menyusun teks itu diperlukan data, fakta, atau informasi yang menjadi bahan baku untuk diolah menjadi pernyataan-pernyataan verbal yang akan membentuk teks itu sendiri. Data,

fakta, atau informasi itu penting sekali terutama untuk memproduksi teks-teks genre faktual. Namun, bukan berarti teks genre sastra tidak memerlukan data, fakta, atau informasi. Hanya dalam teks genre sastra, kadar data, fakta, atau informasinya dan sifat datanya berbeda dengan kadar dan sifat data, fakta atau informasi dalam teks genre faktual. Data, fakta, atau informasi pada teks genre sastra dilepaskan dari konteksnya, sehingga penulis teks dapat leluasa memberi konteks baru. Di sinilah terjadi proses imaginasi penulis muncul. Adapun konteks data, fakta, atau informasi pada teks genre faktual justru dipertahankan, karena itulah yang akan menjelaskan data, fakta, atau informasi itu sendiri.

Akhirnya, ciri kritis sebagai cara pandang dalam melihat teks maksudnya bahwa sikap kritis itu diperlukan dalam rangka mengecek kembali apakah teks yang tersusun baik struktur maupun sumber bahannya sudah tepat atau tidak. Lebih jauh tentang hal ini dapat dilihat pada seksi lain dalam bab ini.

Pendekatan kedua, teks dipandang sebagai satuan kebahasaan yang disusun (diproduksi atau direproduksi) mengikuti tahapan-tahapan saintifik, diawali dengan penyediaan/pengumpulan, analisis data, fakta, atau informasi, dan diakhiri dengan penyajian hasil analisis yang tidak lain adalah teks dalam wujud tertentu. Dalam pandangan kedua ini, ketiga tahapan kegiatan saintifik tersebut berlangsung secara sistematis, terkontrol, empirik, dan kritis. Untuk memperjelas konsep pendekatan dalam pengertian kedua di atas dapat dicermati bagan alir berikut ini.

hUbUNgAN PENdEKATAN ILmIAh dENgAN PEmbELAJARAN bERbASIS TEKS

PENdEKATAN SAINTIfIK/ILmIAh SISTEmATIS

PENgUmPULAN dATA/INfORmASI:

- OBSERVASI - MEMPERTANYAKAN - MENCOBA EKSPERIMEN - PUSTAKA

- INTROPEKSI

ANALISIS dATA:

- MENGUBAH DATA/

INFORMASI MENJADI RUMUSAN VERBAL/

KALIMAT TUNGGAL

PEmb ELAJARAN

bAhASA

PENdEKATAN SAINTI mENyAJIKAN hASIL fIK

ANALISIS:

- BERWUJUD TEKS JENIS TERTENTU

TERKONTROL EmPIRIK KRITIS

gambar 1 Bagan Alir Pendekatan Ilmiah

Pada bagan alir di atas terlihat bahwa pendekatan saintifik yang bercirikan sistematis, tekontrol, empirik, dan kritis terhubungkan ke tahapan kegiatan saintifik yang berupa penyediaan/pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis. Semua tahapan saintifik tersebut harus dilalui secara sistematis, terkontrol, empirik, dan kritis sesuai dengan karakteristik pendekatan saintifik. Sistematis, maksudnya bahwa ketiga tahapan itu harus dilalui secara berurutan, ketiga-tiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Tahap pengumpulan data, informasi, atau fakta menjadi tahap yang paling penting, yang menjadi dasar bagi pelaksanaan tahap analisis. Begitu pula, tahap pengumpulan dan analisis data, informasi, atau fakta menjadi dasar bagi pelaksanaan tahap penyajian hasil, yang tidak lain berupa jenis teks tertentu yang menjadi pokok pembahasan dalam pembelajaran. Sebagai sesuatu yang sistematis yang memiliki relasi pendasaran, maka kita tidak mungkin mengatakan, “Saya mau melakukan analisis dulu, nanti penyediaan/

pengumpulan datanya saya lakukan kemudian” atau, “saya mau melaporkan hasil dulu baru saya kumpulkan dan analisis data”. Jika itu yang terjadi, maka kegiatan yang dilakukan itu bukanlah kegiatan ilmiah, karena dia menganalisis sesuatu yang hanya ada dalam bayangan pikirannya, bukan sesuatu yang nyata/

empirik, serta melaporkan sesuatu yang dihasilkan dari analisis tentang apa yang dipikirkan/dibayangkan, bukan dari hasil analisis tentang sesuatu yang benar-benar nyata.

Selanjutnya, terkontrol maksudnya bahwa capaian pelaksanaan semua tahapan kegiatan ilmiah (pengumpulan, analisis, dan penyajian hasil) dapat dikontrol pelaksanaannya. Kapan suatu tahap dapat diakhiri pelaksanaannya dan lalu memulai pelaksanaan tahapan berikutnya dalam satu kegiatan ilmiah, harus dapat dikontrol. Dalam penyusunan teks, antarketiga tahapan itu dapat dikontrol, meskipun pelaksanaan tahap kedua dan ketiga berlangsung secara simultan. Sebagai contoh, kapan pengumpulan data untuk menyusun struktur “pengenalan” pada teks cerita diakhiri atau kapan pengumpulan data untuk menyusun teks cerita diakhiri? Untuk yang pertama, pengumpulan data untuk menyusun struktur “pengenalan” akan berakhir jika pertanyaan tentang: “Siapa, mengalami apa, kapan, dan di mana sudah dijawab. Mengapa demikian, karena pada struktur “pengenalan” hanya akan dimuat tentang data, informasi, atau fakta-fakta tentang “siapa, mengalami apa, kapan, dan di mana”;

jadi, hanya menyangkut pertanyaan dengan menggunakan kata tanya: siapa, apa, kapan, dan di mana. Dengan kata lain, dalam pembelajaran teks dengan pendekatan saintifik, kata tanya: siapa, apa, kapan, dan di mana digunakan untuk mengumpulkan data dalam rangka menyusun struktur “pengenalan”

pada teks cerita. Suatu penjelasan yang tidak digunakan dalam pendekatan

pembelajaran yang menganut paham linguistik struktural. Dalam pandangan linguistik struktural, satuan bahasa dijelaskan terpisah dengan konteks sosial yang menjadi tujuan sosial pemakaian bahasa.

Kemudian, kapan pengumpulan data untuk menyusun teks cerita diakhiri dan dapat memulai tahap analisis data? Pengumpulan data untuk menyusun teks cerita diakhiri jika pertanyaan tentang: siapa, mengalami apa, kapan, di mana, masalah-masalah apakah yang muncul sebagai akibat dari peristiwa itu, lalu bagaimana pemecahannya, terjawab. Setelah itu, tahap pengumpulan data berakhir dan tahap berikutnya, yaitu analisis data dapat dimulai. Lalu kapankah tahap analisis data diakhiri dan dapat memulai tahap penyajian hasil analisis.

Tahap analisis diakhiri, jika pengelompokan data, informasi, atau fakta yang memiliki daya dukung untuk mengembangkan struktur tertentu dari teks yang akan disusun sudah terlaksana, kemudian mengubah data menjadi kalimat- kalimat dan menghubungkan kalimat-kalimat itu menjadi paragraf(-paragraf), maka berakhirlah tahap analisis. Seiring dengan terhubungnya paragraf- paragraf pembentuk teks maka tahap penyajian (secara tertulis) sudah mulai dan berakhir. Baru setelah tahap penyajian secara tertulis selesai, penyajian hasil secara lisan dapat disusun dengan menyajikan dalam bentuk powerpoint.

Dengan demikian, berakhirlah kegiatan pengontrolan terhadap pelaksanaan kegiatan saintifik.

Selanjutnya, ciri ketiga kegiatan dalam pendekatan saintifik ilmiah, yaitu empirik. Dengan tuntutan harus adanya data, informasi, atau fakta untuk menyusun teks atau struktur tertentu teks menggambarkan bahwa kegiatan itu jelas bersifat empirik. Oleh karena itu, ciri empirik menjadi ciri bawaan dari teks itu sendiri.

Terakhir, ciri kritis. Kritis, maksudnya adalah sikap yang selalu mempertanyakan tidak hanya menyangkut pertanyaan tentang kesesuaian metode yang digunakan dalam pengumpulan data dengan tujuan sosial dari jenis teks yang akan dihasilkan, tetapi juga harus bersifat kritis terhadap keabsahan data, informasi, atau fakta termasuk sumbernya; ketepatan pilihan kata dan bentuk kata, struktur kalimat, serta penggunaan kata penghubung antarparagraf, termasuk juga strategi kebahasaan yang digunakan dalam menghubungkan kalimat satu dengan kalimat lain untuk membentuk paragraf dan menghubungkan paragraf satu dengan paragraf lain untuk membentuk teks yang padu dan koheren haruslah menjadi perhatian dengan senantiasa bersikap kritis.

Dengan demikian, pendekatan saintifik dalam pembelajaran bahasa berbasis teks yang dipaparkan di atas, memperlihatkan ciri-ciri pendekatan

saintifik yang bersifat sistematis, terkontrol, empirik, dan kritis mewarnai setiap tahap kegiatan saintifik/ilmiah itu sendiri. Mulai dari tahap penyediaan/

pengumpulan data sampai pada tahap analisis dan penyajian/pengkomunikasian hasil analisis data. Mengingat bahwa wujud dari laporan hasil analisis yang tidak lain berupa teks dalam jenis tertentu, yang disampaikan secara tulisan atau lisan dan atau gabungan di antara keduanya: dapat berupa teks deskripsi, cerita, eksposisi, negosiasi, laporan, dan lain-lain, menggambarkan bahwa hanya dalam mata pelajaran bahasa (termasuk bahasa Indonesia) semua tahapan kegiatan saintifik secara murni diterapkan. Dikatakan demikian, karena untuk bidang lainnya, kegiatan saintifik yang berupa laporan hasil analisis (mengomunikasikan) tidak dapat dilakukan atas dasar bidang itu sendiri.

Untuk pembelajaran bidang selain bahasa yang menggunakan pendekatan saintifik, misalnya mapel Biologi, Sejarah, Agama, Fisika dan lain-lain, ketika harus mengomunikasikan hasilnya, jelas-jelas memerlukan bahasa. Meskipun, pada tahap pengumpulan dan analisisnya menggunakan metode yang menjadi karakteristik bidang ilmu itu.

Dalam kegiatan pembelajaran, proses berpikir sistematis, terkontrol, empirik, dan kritis dalam menerapkan prosedur saintifik/ilmiah yang berupa penyediaan/pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis sangat penting. Sementara itu, berpikir saintifik/ilmiah hanya dapat berlangsung jika sarana berpikir dan sarana komunikasi, yaitu bahasa verbal selain logika, matematika, dan statistik mutlak diajarkan. Bahkan pelajaran bahasa merupakan satu-satunya pelajaran yang dapat dijadikan media pembelajaran melalui pendekatan keilmuan atau pendekatan saintifik dengan menerapkan semua tahapan/proses dalam metode saintifik/ilmiah tersebut secara sempurna.

Dewasa ini terdapat pandangan bahwa kegiatan keilmuan/ilmiah/saintifik hanya berkutat sekitar matematika dan statistik, akibatnya fungsi bahasa dan logika terpinggirkan dan jauh dari kegiatan keilmuan. Padahal, kemampuan berbahasa haruslah menjadi persyaratan mutlak di samping persyaratan- persyaratan lainnya. Persyaratan penalaran tanpa ditopang kemampuan berbahasa yang baik tidak akan berkembang dengan baik, karena salah satu fungsi hakiki bahasa adalah alat untuk mengembangkan akal budi (Sudaryanto, 1988). Peran bahasa harus lebih ditonjolkan agar tradisi menulis yang baik dan bernalar dapat terbentuk. Itu sebabnya, dalam pembelajaran bahasa Indonesia Kurikulum 2013, materi pembelajarannya, termasuk proses pembelajaran dan penilaiannya, diubah secara mendasar, yaitu pembelajaran teks dengan pendekatan dan metode saintifik/ilmiah berbasis proyek. Ihwal bagaimana penerapan pembelajaran teks melalui pendekatan dan metode saintifik berbasis proyek di atas akan diuraikan secara rinci pada Bab 4.

Dalam konteks inilah, jika pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan pendekatan ilmiah/saintifik ini benar-benar mampu diterapkan, maka beberapa keuntungan berikut ini dapat dicapai.

1. Siswa akan terbiasa berpikir metodologis, suatu kemampuan berpikir yang sangat diperlukan pada masa-masa mendatang.

2. Siswa akan mampu memahami isi bacaan, karena dengan mengenal jenis dan struktur teks yang dibaca dengan mudah memformulasi isi teks sesuai struktur teks itu sendiri.

3. Kemampuan menulis efektif akan berkembang dengan baik, karena siswa telah memahami cara mengumpulkan informasi serta mengolah informasi itu menjadi teks dalam jenis tertentu yang dipahaminya.

4. Dalam pada itu, ihktiar untuk menghilangkan kebiasaan buruk yang berupa

“plagiasi” dalam dunia ilmu pengetahuan dapat dihindari.

B. Ihwal Metode Saintifik dalam Memproduksi dan

Dalam dokumen KOREKSIAN UNTUK PENULIS - Universitas Mataram (Halaman 136-142)