PENILAIAN AUTENTIK DAN PEMBELAJARAN BERBASIS TEKS
BAB 5 BAB 5
D. Penilaian Autentik Terhadap Pembelajaran Teks
Seperti disebutkan di atas, bahwa penilaian autentik adalah penilaian berbasis kompetensi, sementara itu, kompetensi yang dirumuskan dalam Kurikulum 2013, mencakup tiga kompetensi, yaitu Standar Kompetensi Lulusan (SKL), yang menjadi dasar diturunkannya Kompetensi Inti (KI), dan Kompetensi Dasar (KD). Mengingat bahwa rumusan kompetensi itu masih bersifat umum, belum opersional, maka langkah yang harus dilakukan adalah membuat cakupan rumusan kompetensi termasuk cakupan materi pembelajaran lebih operasional, lebih sempit, lebih konkret. Dengan kata lain, rumusan kompetensi yang umum, belum operasional harus dijabarkan ke dalam indikator-indikator, kemudian indikator dijabarkan ke dalam tugas kinerja. Tidak hanya itu, pengembangan penilaian autentik harus dilanjutkan dengan kegiatan penentuan tugas autentik, pembuatan kriteria, pembuatan rubrik. Dengan kata lain, pengembangan penilaian autentik dilakukan melalui tahapan:
1. Penetapan kompetensi yang akan diukur
2. Penjabaran kompetensi ke dalam indikator-indikator, 3. Penjabaran indikator ke dalam tugas kinerja,
4. Penentuan tugas kinerja, 5. Pengembangan kriteria, dan 6. Penyusunan rubrik.
Penetapan kompetensi yang akan diukur tidak lain adalah memilih kompetensi apa yang akan dijadikan rujukan dalam pengembangan materi dan penugasan yang akan dinilai. Dalam hal ini, memilih kompetensi yang terdapat dalam kurikulum. Kompetensi yang dipilih berasal dari Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). Sebagai contoh kita menetapkan pilihan pada kompetensi kelas X (untuk tagihan kompetensi kelas X dapat dilihat pada Bab 6).
Berdasarkan kompetensi yang terangkum dalam dokumen kurikulum itu, langkah yang dilakukan adalah memilih kompetensi mana saja di antara sajian kompetensi kelas X yang tersedia. Katakan pilihan jatuh pada teks prosedural kompleks. Pilihan tersebut berimplikasi pada penetapan KD-I,
butir: 1.1, 1.2, dan 1.3; KD-2 butir: 2.3; KD-3, butir: 3.1, dan KD-4, butir:
4.2 sebagai dasar untuk mengembangkan tugas autentik. Patut ditambahkan bahwa, oleh karena pilihan atas kompetensi-kompetensi tersebut dikhususkan pada teks prosedur kompleks, maka pilihan untuk KD-2 jatuh pada KD butir:
2.3 karena memang KD itulah yang sesuai dengan teks prosedur kompleks.
Setelah pilihan kompetensi dilakukan, selanjutnya ditentukan tugas autentik yang akan menjadi tumpuan penilaian atas capaian kompetensi-kompetensi tersebut. Dengan mempertimbangkan bahwa untuk memproduksikan teks diperlukan data, informasi, atau fakta dan lebih-lebih teks prosedur kompleks dimungkinkan dilakukan melalui percobaan maka wujud tugas autentik yang akan menjadi dasar penilaian autentik atas capaian kompetensi itu adalah berupa proyek. Jadi, topik proyek, misalnya: “Pengembangan Teks Prosedur Kompleks Berbasis Proyek Melalui Pendekatan Ilmiah”. Ihwal tata cara mengembangkan pendekatan ilmiah/saintifik berbasis proyek dapat dilihat pada Bab 3 dan Bab 4.
Untuk mengukur apakah semua kompetensi yang telah ditetapkan itu dapat dicapai atau tidak melalui penugasan autentik diperlukan kriteria capaian.
Kriteria capaian itu menjadi penting karena kriteria itu sendiri, dalam kurikulum berbasis kompetensi seperti Kurikulum 2013, disebut indikator. Indikator adalah karakteristik, ciri, perbuatan, atau tanggapan yang ditunjukkan oleh peserta didik sebagi bukti hasil belajar yang dapat diukur. Dengan kata lain, seberapa banyak kompetensi yang dapat dimiliki oleh peserta didik setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran dapat diamati atau diukur berdasarkan indikator yang disediakan (Nurgiyantoro, 2011).
Untuk keperluan itu, maka berdasarkan kompetensi wujud tugas autentik yang telah ditetapkan maka diturunkanlah indikator-indikator dari masing- masing KD. Untuk KD sikap, dapat saja beberapa KD hanya memiliki satu indikator utama, khususnya menyangkut KD sikap spiritual. Dengan demikian, rumusan kompetensi-kompetensi beserta wujud penugasan autentik dan indikatornya dapat dilihat berikut ini.
Kompetensi dasar Indikator Tugas Autentik 1.1 Mensyukuri anugerah
Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannnya sesuai dengan kaidah dan konteks untuk mempersatukan bangsa
1.2 Mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannya sebagai sarana komunikasi dalam memahami, menerapkan, dan menganalisis informasi lisan dan tulis melalui prosedur kompleks 1.3 Mensyukuri anugerah
Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannya sebagai sarana komunikasi dalam mengolah, menalar, dan menyajikan informasi lisan dan tulis melalui teks prosedur kompleks
Siswa dapat menyatakan rasa syukur dengan menggunakan bahasa Indonesia dan/atau dalam bahasa agama daerah masing-masing atas dikaruniainya bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi lisan dan tulisan melalui teks prosedur kompleks
“Pengembangan Teks Prosedur Kompleks Berbasis Proyek Melalui Pendekatan Ilmiah”.
2.3 Menunjukkan perilaku jujur, tanggung jawab, dan disiplin dalam menggunakan bahasa Indonesia untuk menunjukkan tahapan dan langkah yang telah ditentukan
- Siswa dapat menunjukkan sikap jujur dalam
pelaksanaan dan pelaporan hasil percobaan untuk menghasilkan teks prosedur kompleks
- Siswa dapat menunjukkan sikap disiplin dan tanggung jawab dalam pemanfaatan bahan-bahan percobaan untuk menghasilkan teks prosedur kompleks - Siswa dapat menunjukkan
sikap jujur, tanggung jawab, dan disiplin dalam melaksanakan percobaan untuk menghasilkan teks prosedur kompleks yang tercermin dalam penggunaan kalimat, pilihan kata, dan konjungsi pengurutan tahapan pelaksanaan percobaan dalam teks prosedur kompleks yang disusunnya
3.1 Memahami struktur dan kaidah teks prosedur kompleks baik melalui lisan maupun tulisan
- siswa dapat menyebutkan struktur teks prosedur kompleks
- siswa dapat menjelaskan kata- kata yang menjadi ciri teks prosedur kompleks - siswa dapat menyebutkan
konjungsi yang digunakan untuk memperlihatkan kepaduan antarparagraf pembentuk teks prosedur kompleks
4.2 Memproduksi teks prosedur kompleks yang koheren sesuai dengan karakteristik teks yang akan dibuat, baik secara lisan maupun tulisan
- siswa mampu menyusun teks prosedur kompleks dengan: struktur, pilihan kata, penggunaan konjungsi, pilihan kalimat yang menjadi ciri teks tersebut, dan penggunaan tata tulis (EYD) yang tepat
Berdasarkan jabaran kompetensi, kriteria capaian/indikator, dan tugas autentik di atas, maka langkah selanjutnya adalah membuat rubrik yang akan menjadi titik tolak dalam penetapan skor untuk penilaian autentik. Hal ini disebabkan, rubrik dalam konteks ini, dapat dipahami sebagai sebuah skala penyekoran yang dipergunakan untuk menilai kinerja peserta didik untuk tiap kriteria/indikator terhadap tugas-tugas tertentu (Mueller, 2008). Oleh karena itu, rubrik sangat bermanfaat dalam membimbing guru pada saat melakukan penilaian.
Beberapa persyaratan penyusunan rubrik, seperti dikutip dari Nurgiyantoro (2011) berikut ini.
1. Rubrik memuat kriteria dan tingkat capaian kinerja.
2. Kriteria berisi hal-hal esensial yang hendak diukur capaiannya.
3. Kriteria merupakan refleksi yang konkret dari kompetensi dan karena itu harus benar-benar mencerminkan kompetensi yang menjadi tagihan pembelajaran.
4. Kriteria dinyatakan secara singkat, padat, komunikatif dengan bahasa yang baku.
5. Kriteria dapat dilabeli dengan kata-kata yang mencerminkan isi, misalnya di bawah payung kolom: unsur yang dinilai.
6. Tingkat capaian kinerja umumnya ditunjukkan dalam angka-angka dan lazimnya angka: 1 – 4 atau: 1 –5.
7. Besar kecil angka menunjukkan besar kecilnya capaian.
8. Setiap angka memiliki makna kualitatif/deskripsi verbal yang diwakili, misalnya, skor: 1, dimaknai ‘tidak ada kinerja atau kinerja tidak tepat sama sekali; skor: 5, dimaknai kinerja sangat meyakinkan dan bermakna;
sedangkan skor: 2, 3, dan 4 secara berturut-turut menunjukkan semakin baiknya kinerja dan kebermaknaannya.
9. Bunyi deskripsi verbal harus sesuai dengan kinerja yang diukur.
10. Rubrik ditampilkan dalam bentuk tabel dengan dua kolom yang memuat kriteria di sebelah kiri dan tingkat capaian di sebelah kanan.
Patut ditambahkan bahwa rubrik dapat disusun melalui dua cara, yaitu secara analitis dan holistik. Rubrik analitis adalah rubrik yang memberikan penilaian tersendiri untuk setiap kriteria, sebagai contoh, dapat dilihat rubrik penilaian seksi E di bawah. Adapun rubrik holistik adalah rubrik penilaian capaian kinerja melalui pemberian penilaian secara menyeluruh untuk seluruh kriteria sekaligus, seperti pemberian penilaian dengan pernyataan verbal: cukup, baik, amat baik atau kurang memuaskan, memuaskan, dan sangat memuaskan atau dilakukan dengan pemberian angka satu skor untuk seluruh karya, misalnya: 6, 7, 8, 8,5 atau 9. Hasil penilain melalui rubrik holistik dicatat dalam catatan harian peserta didik untuk digunakan sebagai salah satu pertimbangan jika suatu waktu diperlukan.
Berdasarkan persyaratan di atas pada seksi E akan dipaparkan contoh penilaian autentik yang terkait dengan topik “Pengembangan Teks Prosedur Kompleks Berbasis Proyek Melalui Pendekatan Ilmiah”.