BAB II LANDASAN TEORI
C. Ikrar Wakaf
1. Pengertian Ikrar Wakaf
Shigat adalah serah terima yang dilakukan oleh wakif kepada nadzir untuk menyatakan kehendaknya, pernyataan tersebut dapat dilakukan dengan lisan, tulisan atau isyarat. Lisan dan tulisan dapat dipergunakan oleh siapapun sedangkan isyarat hanya dapat dilakukan oleh seseorang dalam kondisi tertentu saja25
Pernyataan atau ikrar wakaf ini harus dinyatakan secara tegas baik lisan maupun tertulis, dengan redaksi "aku mewakafkan" atau "aku menahan" atau kalimat yang semakna lainnya. Ikrar ini penting, karena pernyataan ikrar membawa implikasi gugurnya hak kepemilikan wakif, dan harta wakaf menjadi milik Allah atau milik umum yang dimanfaatkan untuk kepentingan umum yang menjadi tujuan wakaf itu sendiri. Karena itu, konsekuensinya, harta wakaf tidak bisa dihibahkan, diperjual belikan, atau pun diwariskan.
2. Syarat Ikrar Wakaf
Perwakafan tanpa ikrar tentunya akan mengakibatkan tidak terpenuhinya unsur perwakafan. Kalau unsur perwakafan tidak terpenuhi, maka secara hukum otomatis perwakafan tersebut dapat dikatakan tidak
23 Ibid, Pasal 17 ayat 2
24 Kompilasi Hukum Islam Pasal 223 ayat 2
25 Rachmadi Usman, Hukum Perwakafan, h. 62
pernah ada. Untuk membuktikan adanya ikrar, adalah dengan cara menuangkan ikrar tersebut ke dalam AIW yang dibuat oleh PPAIW.
Pembuatan AIW benda tidak bergerak wajib memenuhi persyaratan dengan menyerahkan sertifikat hak atas tanah atau sertifikat satuan rumah susun yang bersangkutan atau tanda bukti pemilikan tanah lainnya.26 Dimana dalam pembuatan Akta ikrar Wakaf harus memenuhi syarat sebagai berikut:27
a. Tanda bukti pemilikan harta benda;
b. Jika benda yang diwakafkan berupa benda tidak bergerak, maka harus disertai surat keterangan dari Kepala Desa, yang diperkuat oleh Camat setempat yang menerangkan pemilikan benda tidak bergerak dimaksud;
c. Surat atau dokumen tertulis yang merupakan kelengkapan dari benda tidak bergerak yang bersangkutan
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa syarat-syarat ikrar wakaf merupakan dokumen-dokumen penting yang nantinya dapat dipergunakan sebagai bukti bahwa harta benda yang diwakafkan merupakan harta benda milik seseorang tersebut.
3. Asas-asas Dasar Ikrar Wakaf
Asas hukum merupakan unsur yang sangat penting dalam pembentukan peraturan hukum. Oleh karena itu, peneliti akan
26 PP No. 42 Tahun 2006 Tentang Pelaksanaan Undang-undang No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf.
27 Ibid., Pasal 223 ayat 4.
menguraikan sedikit pembahasan yang berkaitan dengan masalah ini dengan harapan dapat mendekatkan pemahaman kita tentang asas-asas hukum. Asas hukum adalah aturan dasar dan prinsip-prinsip hukum yang abstrak dan pada umumnya melatarbelakangi peraturan konkret dan pelaksanaan hukum. Dalam bahasa Inggris, kata " asas " diformatkan sebagai " principle ", peraturan konkret seperti undang-undang tidak boleh bertentangan dengan asas hukum, demikian pula dalam putusan hakim, pelaksanaan hukum, hukum dasar, dasar sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat dan sistem hukum yang di pertegas oleh Dragan Milovanovic.28
Ikrar wakaf merupakan pernyataan kehendak dari wakif untuk mewakafkan tanah benda miliknya.29Selanjutnya ditegaskan bahwa ikrar wakaf tersebut harus dilaksanakan secara tertulis.Apabila waqif tidak dapat menghadap Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf, maka waqif dapat membuat ikrar secara tertulis dengan persetujuan dari kepala Kantor Departemen Agama yang mewilayahi tanah wakaf.
Asas-asas dasar Ikrar Wakaf meliputi:
a. UU No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf b. Kompilasi Hukum Islam
c. PP No. 42 Tahun 2006 Tentang Undang-undang No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf.
28 Achmad Ali, Menguak Teori Hukum Legal theory dan Teori Peradilan Judicial Prudance, (Makasar: Kencana, 2007), h. 14.
29 Pasal 215, Kompilasi Hukum Islam.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa asas-asas dasar ikrar wakaf sudah ditetapkan berdasarkan peraturan pemerintah maupun dalam Kompilasi Hukum Islam.
A. Jenis dan Sifat Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research). penelitian lapangan adalah suatu penelitian yang dilakukan di lapangan atau lokasi penelitian, suatu tempat yang dipilih sebagai lokasi untuk menyelidiki segala objek yang ada dan terjadi di lokasi tersebut, yang dilakukan juga untuk menyusun laporan ilmiah.1
Berdasarkan penjalasan di atas, penelitian lapangan merupakan penelitian yang dilakukan pada suatu lokasi tertentu dan dalam hal ini penelitian dilakukan di Desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah bersama dengan narasumber yaitu Keluarga Wakif dan Masyarakat sekitar tempat tanah wakaf tersebut.
2. Sifat Penelitian
Berdasarkan gambaran di atas, maka penelitian ini ialah bersifat deskriptif. Menurut Sumadi Suryabrata, bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksud untuk membuat pecandraan (deskriptif) secara sistematis, struktural dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat
1Abdurrahman Fathoni, Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusun Skripsi, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2011), hlm. 96.
populasi daerah tertentu.2 Dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.3
Jadi penelitian ini menjelaskan/menggambarkan keseluruhan secara objektif dari objek yang diteliti, dengan cara memberikan pertanyaan kepada responden (keluargawakifdanmasyarakatsekitar) secara lebih rinci dan jelas sebagai hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti sehingga mendapatkan data-data yang diperlukan oleh peneliti mengenai “Persepsi Masyarakat tentang Legalitas Akta Ikrar Wakaf di Desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah.”
B. Sumber Data
Dalam buku metode penelitian kualitatif Lexy J. Moleong sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan (data primer), selebihnya adalah data tambahan dan lain-lain (data sekunder).4 Jadi pada penelitian ini akan menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder.
1. Sumber Data Primer
Sumber data primer yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sumber data yang peneliti peroleh dilapangan yakni berasal dari narasumber dan informan. Adapun yang menjadi narasumber dan informan dalam penelitian ini adalah keluarga wakif, nazir, masyarakat,
2Sumadi Suryabrata, Metode Penelitian, Ed.II, (Jakarta: Grafindo Persada, 2013), hlm. 75
3Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 6.
4Ibid., hlm. 157
dan pejabat Desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah tersebut.
2. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah subyek yang memberikan informasi atau data penelitian yang dibutuhkan melalui bahan bacaan. Sumber- sumber sekunder terdiri atas berbagai macam, dari surat-surat pribadi, kitab harian, notula rapat perkumpulan, sampai dokumen-dokumen resmi dari berbagai instansi pemerintah.5Sumber data sekunder ini merupakan bahan-bahan atau data yang menjadi pelengkap atau penunjang dari sumber data primer.6
Sumber data sekunder yang peneliti gunakan berasal dari buku- buku yang membahas tentang wakaf dan data-data berupa surat-surat tentang wakaf.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknikpengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utamanya adalah mendapatkan data. Apabila tidak mengetahui teknik pengumpulan data maka penelitian yang dilakukan tidak akan mendapatkan data yang sesuai. Dalam penelitian ini, teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa wawancaradan dokumentasi terhadap Keluarga Wakif serta masyarakat Desa Rama Nirwana Kecamatan
5S. Nasution, Metode Research Penelitiian Ilmiah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm.
143.
6Cik Hasan Bisri, Penuntun Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi Bidang Ilmu Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 32.
Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah. Disini peneliti menggunakan dua teknik pengumpulan data yakni wawancara dan dokumentasi.
1. Wawancara
Wawancara adalah pengumpulan data melalui proses tanya jawab lisan yang berlangsung satu arah, artinya pertanyaan datang dari pihak yang mewawancarai dan jawaban yang diberikan oleh yang diwawancarai.
wawancara di.7Jenis wawancara terdiri dari:
a. Wawancara bebas (wawancara tak terpimpin) b. Wawancara terpimpin
c. Wawancara bebas terpimpin.8
Sedangkan di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan emtode wawancara bebas terpimpin yaitu dengan melakukan wawancara bebas namun tetap memiliki pedoman secara khusus dengan hal-hal pokok yang dapat ditanyakan terkait permasalahan tentang wakaf dan wawancara ini dilakukan kepada keluarga wakif, nazir, masyarakat, dan pejabat Desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah tersebut.
2. Dokumentasi
Metode selanjutnya adalah dokumentasi. Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data denganmempelajari catatan-catatan mengenai data responden. Observasi di lapangan digunakan untuk melihat berbagai
7Ibid., hlm. 105.
8Cholid Narbuko dan Abu Achamadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), hlm. 83.
kejadian yang relevan dengan fenomena penelitian.9 Dokumentasi dalam penelitian ini yaitu bahan-bahan tertulis yang berkenaan dengan permasalahan yang sedang diteliti tentangwakaf yang ada di Desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah.
D. Teknik Analisa Data
Masri Singarimbun dan Sofian Efendi menjelaskankan bahwa analisa data adalah proses penyederhanaan data dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan dipahami.10 Teknis analisis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif lapangan, karena data yang diperoleh merupakan keterangan-keterangan dalam bentuk uraian.
Analisis data di dalam penelitian kualitatif adalah proses mensistematiskan apa yang sedang diteliti dan mengatur hasil wawancara seperti apa yang dilakukan dan dipahami dan agar supaya peneliti bisa menyajikan apa yang didapatkan pada orang lain.11
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka bentuk penerapan analisis data di dalam penelitian kualitatif yang dilakukan oleh peneliti adalah mengumpulkan data yang lazim, yaitu melalui studi pustaka dan studi lapangan. Studi pustaka (berbeda dengan tinjauan pustaka) dengan cara mengkaji sumber tertulis seperti dokumen, laporan tahunan, peraturan perundang-undang dan diploma/serifikat. Sumber tertulis ini dapat merupakan
9Suraya Murcitaningrum, Metodologi Penilitian Ekonomi Islam, Cet. II, (Bandar Lampung: Ta’lim Press, 2013), hlm. 42.
10Masri Singarimbun dan Sofian Efendi, Metode Penelitian Survai, (Jakarta: LP3ES, 1987), hlm.263.
11Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif, (Malang: UIN-Malika Press, 2010), hlm. 355.
sumber primer maupun sumber sekunder, sehingga data yang diperoleh juga dapat bersifat primer atau sekunder. Pengumpulan data melalui studi lapangan terkait dengan situasi alamiah. Peneliti mengumpulkan data dengan cara bersentuhan langsung dengan lapangan, misalnya mengamati atau observasi, wawancara mendalam, diskusi kelompok atau terlibat langsung dalam penilaian.
Selanjutnya teknik analisis dan interpretasi dalam penelitian kualitatif yang tidak berhubungan langsung dengan angka biasanya biasanya berbentuk verbal (narasi, deskripsi, atau cerita) dan seringkali berbentuk visual (foto atau gambar).
Kemudian untuk menganalisis data, peneliti ini menggunakan cara berfikir induktif, yaitu suatu cara berfikir yang berangkat dari fakta-fakta yang khusus dan konkret, peristiwa konkrit, kemudian dari fakta atau peristiwa yang khusus dan konkret tersebut ditarik secara generalisasi yang mempunyai sifat umum.12
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka cara untuk menerapkan pemikiran induktif tersebut adalah peneliti melakukan proses penalaran yang bermula dari khusus (pengamatan, ukuran, data) menuju ke yang umum (aturan, hukum, teori-teori) dengan memperhatikan unsur fakta-fakta yang terjadi dilapangan setelah dilakukan pengamatan. Dalam hal ini bentuk penalaran yang dilakukan oleh peneliti didapatkan dari pengamatan kejadian saat itu dan juga data yang sebenar-benarnya terjadi di lapangan.
12Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jilid 1, (Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 1984), hlm. 42.
A. Deskripsi Lokasi Penelitian
1. Sejarah Desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah
Desa Rama Nirwana terletak di dalam wilayah Kecamatan Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung yang merupakan satu dari 14 Desa yang ada di wilayah kecamatan Seputih Raman.
Terletak di sebelah Timur pusat kecamatan dengan jarak 3.5 Km dan mempunyai luas wilayah 1025 Hektar.1
Desa Rama Nirwana, pertama kali di buka pada Tahun 1958.
penduduknya di datangkan dari pulau Jawa dan Bali dengan status Transmigrasi Umum dan Spontan, dengan jumlah penduduk pada waktu itu adalah:
a. Transmigrasi Umum sebanyak 315 KK.
b. Transmigrasi Spontan sebanyak 63 KK.
c. Total 378 KK dengan jumlah jiwa 973 jiwa.2
Desa ini diberi nama “Rama Nirwana“ tentu bukanlah sekedar nama belakang dengan tanpa makna, namun ada makna filosofi yang terkandung dibalik nama tersebut, “RAMA NIRWANA“ Berasal dari dua kata : Rama dan Nirwana, Rama artinya Romo/ Orang Tua/ yang
1 Profil Desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah
2 Ibid.
dituakan/ sesepuh/ Panutan/ Yang dijunjung. sedang Nirwana mempunyai arti Surga. Adapula yang mengartikan Nirwana itu adalah Tempat Yang Baik. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Kata “ Rama Nirwana berarti Orang tua/ seseorang yang menjadi panutan semuan orang yang berprilaku bijaksana yang mampu membawa perubahan ke masa depan yang lebih baik menuju kesempurnaan manusia dalam pembangunan sesuai dengan Pancasila. Masa Pemerintahan Desa Rama Nirwana di mulai sejak tahun 1958 dengan sistem pemerintahan di pimpin oleh Jawatan Transmigrasi yang dibantu oleh kepala Rombongan Transmigrasi. Setelah Desa Rama Nirwana Resmi menjadi Desa Definitief maka pada tanggal 12 Mei 1960 diadakanlah Pemiliham Kepala Desa Pertama yang dilaksanakan di Desa Rama Nirwana ini. waktu itu ada 4 calon yang akan dipilih, Pemilihan di saksikan langsung oleh Asisten Wedana ISAMOE yang menghasilkan calon terpilih yaitu Wayan Sumantri. sejak saat itu Desa Rama Nirwana menjadi Desa Definitief yang Kepala Desanya selalu dipilih langsung oleh masyarakatnya.3
Berikut ini Nama-nama Kepala Desa yang pernah menjabat di Desa Rama Nirwana hingga sekarang:4
3 Ibid.
4 Ibid.
Tabel 4.1.
Data Kepala Desa Rama Nirwana
No Nama Massa Bhakti Alamat Ket
1 I Wayan Sumantri 1960-1967 Ds.I
2 I Made Muder 1967-1988 Ds.I
3 Karis 1988-1989 Ds.IV Pjs
4 I Ketut Mudite 1989-2003 Ds.I
5 I Made Degir 2003-2007 Ds.III Pjs 6 I Nyoman Kandra 2007-2013 Ds.III
7 I Nyoman Kandra 2013-Sekarang Ds.III Sumber: Data Desa Rama Nirwana Seputih Raman
Tabel di atas menunjukkan bahwa nama-nama yang pernah menjabat di bagian kepemerintahan yakni sebagai kepala desa Rama Nirwana yakni dari tahun 1960 sampai sekarang diantaranya, pada tahun 1960 sampai 1967 dipimpin oleh bapak I Wayan Sumantri yang beralamat di Dusun I, pada tahun 1967 sampai 1988 dipimpin oleh bapak I Made Muder yang beralamatkan di Dusun I, pada tahun 1988 sampai 1989 dipimpin oleh bapak Karis yang beralamatkan di Dusun IV, pada tahun 1989 sampai 2003 dipimpin oleh bapak I Ketut Mudite yang beralamatkan di Dusun I, pada tahun 2003 sampai 2007 dipimpin oleh bapak I Made Degir yang beralamatkan di Dusun III, dan pada Tahun 2007 sampai sekarang dipimpin oleh bapak I Nyoman Kandra yang beralamatkan di Dusun III.
2. Kondisi Wilayah Keadaan Umum Desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah.
Desa Rama Nirwana berpenduduk 2746 jiwa dengan rincian Laki- laki 1367 perempuan 1379 jiwa. Tersebar dalam 6 dusun dan 29 Rukun tetangga, dengan rincian sbb:5
Tabel 4.2.
Jumlah Sarana Peribadatan Desa Rama Nirwana
Masjid Pura Musholla Gereja Wihara
4 15 2 1 -
Sumber: Data desa Rama Nirwana
Berdasarkan tabel di atas jumlah sarana peribadatan di Desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman yakni Masjid yang berada di desa tersebut berjumlah 4 dan Musholla berjumlah 2 buah sedangkan tempat peribadatan agama lain seperti agama Hindu berjumlah 15 dan Gereja bagi agama Kristen yakni berjumlah 1 dan Wihara bagi agama Budha tidak ada.
Tabel 4.3.
Jumlah Sarana Pendidikan Desa Rama Nirwana
SDN SLTP SLTA TPA PONPES PERTI
2 - - 1 - -
Sumber: Data desa Rama Nirwana
Tabel di atas menunjukkan bahwa terdapat sarana pendidikan di desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman diantaranya terdapat 2 buah SDN dan 1 TPA, berdasarkan tabel yang telah dipaparkan di atas dapat dilihat bahwa masih kurangnya sarana pendidikan di desa tersebut
5 Ibid.
yang belum tersedia yakni seperti SLTA/ SMA, SLTP/ SMP, PONPES, dan PERTI.6
Masyarakat Rama Nirwana secara Jenjang Pendidikan terdiri atas Tamatan SD merupakan Kelompok terbanyak yang di dominasi oleh para orang tua jumlahnya mencapai 48%. Selebihnya Tamatan SLTP 34%, SLTA 15% dan Sarjana 3%.7
Desa Rama Nirwana mempunyai ketinggian tanah 45 meter di atas permukaan laut, dengan kondisi permukaan tanah yang datar dan status tanah yang berpasir, sehingga sangat memungkinkan sekali untuk dikembangkannya lahan pertanian. Tanah yang terdapat di desa Rama Nirwana terbagi atas 25% untuk Perumahan dan 70% persawahan, dan 5%
lainnya. Pemanfaatan tanah digunakan untuk lahan pertanian dengan sistem irigasi yang digunakan dan teknis sekali setahun menanam padi serta sayuran. Masyarakat Rama Nirwana terdiri atas dua macam suku bangsa, yaitu 54% Suku Jawa dan 46% suku Bali. Dengan Islam dan Hindu merupakan agama yang dipeluk.8
3. Perangkat Pemerintahan Desa Rama Nirwana
Desa Rama Nirwana menganut sistem kelembagaan kampung dengan pola minimal, selengkapnya sebagai berikut:9
6 Data Pendidikan Desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah.
7 Ibid.
8 Data Penduduk Desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah.
9 Struktur Pemerintahan Desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah.
Kepala Kampung : I NYOMAN KANDRA Sekretaris Kampung : WICKLYF MAGENDA Kaur Pemerintahan : ACHMAD KOMARUDIN Kaur Pembangunan : I KETUT BUDIANA Kaur Umum : I MADE EDI BOWO
Kaur Kesra : SUKO MARYONO
Kaur Keuangan : SUDARTO
Bendahara : I WAYAN SUDANA
Kadus I : I MADE ATNYANA
Kadus II : I MADE SUASTIKA
Kadus III : I MADE SUKARMA
Kadus IV : MURANI
Kadus V : ROHANI
Kadus VI : I MADE BAYU
B. Persepsi Masyarakat Desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah Tentang Legalitas Akta Ikrar Wakaf.
Lembaga wakaf mengatur berbagai permasalahan perwakafan tanah yang mana berhubungan juga dengan masalah keagamaan. Wakaf yang disyariatkan Islam mempunyai 2 (dua) dimensi sekaligus. Pertama, dimensi religius, bahwa wakaf merupakan anjuran agama Allah yang perlu dipraktekkan oleh masyarakat muslim, sehingga mereka yang memberi wakaf (wakif) mendapat pahala dari Allah karena menaatinya. Kedua, dimensi ekonomi sosial, dimana kegiatan wakaf melalui uluran tangan sang dermawan
telah membantu sesamanya untuk saling bertenggang rasa sehingga dapat menimbulkan rasa cinta kasih kepada sesama manusia.
Berwakaf juga bukan hanya memperhatikan nilai religiusnya atau aspek keagamaannya saja tetapi harus memperhatian aspek hukumnya juga, karena salah satu syarat dalam mewakafkan suatu benda maka harus adanya ikrar wakaf, yang dimana ikrar wakaf itu sendiri yaitu pernyataan kehendak Wakif yang diucapkan secara lisan dan/ atau tulisan kepada Nazhir untuk mewakafkan harta benda miliknya.10
Secara legalitas ikrar wakaf dipertegas dalam Undang –Undang Nomor 41 Tahun 2004 sebagai berikut :
1. Ikrar wakaf dilaksanakan oleh Wakif kepada Nadzir di hadapan PPAIW dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi.
2. Ikrar Wakaf sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan secara lisan dan/atau tulisan serta dituangkan dalam akta ikrar wakaf oleh PPAIW.11
Dalam hal Wakif tidak harus menyatakan ikrar wakaf secara lisan atau tidak diharuskan hadir dalam pelaksanaan ikrar wakaf karena dengan alasan yang dibenarkan oleh hukum, Wakif dapat menunjuk kuasanya dengan surat kuasa yang diperkuat oleh 2 (dua) orang saksi.12 Untuk dapat melaksanakan ikrar wakaf, wakif atau kuasanya menyerahkan surat dan/ atau bukti kepemilikan atas harta benda wakaf kepada PPAIW .13
10 Pasal 1 ayat 3 PP No. 42 Tahun 2006.
11 Pasal 17 ayat 1-2 Undang-undang No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf
12 Ibid, pasal 18.
13 Ibid, pasal 19.
Dalam hal ini sudah dijelaskan secara tegas bahwa ikrar wakaf dilaksanakan di depan PPAIW dan di saksikan dua orang saksi. Namun dalam hal ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui/memahami tentang ketentuan ikrar wakaf yang telah dijelaskan di dalam UUD tersebut, seperti masyarakat yang ada di Desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah. Masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui ataupun tidak peduli mengenai ketentuan Undang-undang maupun peraturan mengenai wakaf tersebut, yang dalam hal ini persepsi yang dianut oleh masyarakat Desa Rama Nirwana Kecamatan Seputih Raman masih menggunakan pemahaman secara keagamaan, adat/ budaya yang dimana ikrar wakaf tersebut dilakukan secara lisan tanpa bukti tertulis dan berharap tanah wakaf tersebut bermanfaat serta menjadikan tanah wakaf tersebut sebagai amal jariyah diakhirat.
Persepsi masyarakat yang di maksud di sini ialah sebagai sebuah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu, yang dimana proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca indra.14Selain dari itu persepsi juga merupakan langkah awal bagi seseorang untuk membuat keputusan yang kemudian menghasilkan minat seseorang dan berlanjut kepada sebuah pemikiran (persepsi) dari berbagai macam perihal kebutuhan dalam kehidupan. Hal tersebut seperti yang telah dikatakan oleh Mappiere Andi dalam bukunya Psikologi Orang Dewasa bahwa minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari campuran-campuran perasaan, harapan, pendidikan,
14 Lukman Ali, et, Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI),Cetakan Pertama, Edisi 2,(Jakarta: balai Pustaka, 1995), h. 759.
rasa takut atau kecenderungan-kecenderungan lain yang menggerakan individu kepada suatu pilihan tertentu.15
Selain dari itu, untuk mengetahui pemikiran apa saja yang diketahui oleh masyarakat Desa Rama Nirwana Seputih Raman Lampung Tengah tentang pengetahuan mereka terhadap Legalitas Akta Ikrar Wakaf, maka perlu dilakukan wawancara internal dengan wakif dan masyarakat di Desa Rama Nirwana Seputih Raman, karena untuk mengetahui persepsi seseorang tersebut tidak hanya dapat diukur secara langsung, maka unsur-unsur atau faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya persepsi tersebut diangkat untuk mengetahui persepsi seseorang dalam mengetahui sesuatu. Selain dari wawancara internal terhadap wakif dan masyarakat sekitar Desa Seputih Raman tersebut perlu di kaitkan dengan landasan teori yang sudah dipaparkan sebelumnya. Terdapat dua belas orang Narasumber yang dijadikan sebagai objek penelitian termasuk pihak dari Wakif diantaranya yaitu Bapak Agus, Eko, Yudi, Komarudin, Harip, Yanto, Asep, Bambang, Suliono, Aris,, Suroso dan Supri. Seperti yang telah dipaparkan pada teori sebelumnya, ada berbagai macam faktor penentu yang mengakibatkan munculnya persepsi seseorang dalam menanggapi suatu hal yang kemudian menghasilkan sebuah keputusan untuk menentukan pilihannya.
Hasil dari wawancara yang telah dilakukan terhadap narasumber yang telah dipaparkan namanya di atas, terdapat sebuah kesimpulan dan berbagai
15 Mappiere Andi, Psikologi Orang Dewasa Bagi Penyesuaian dan Pendidikan, (Surabaya: Usana Offset Printing 1994) h. 57-74.