Keberhasilan pengembangan inovasi daerah ditentukan oleh kemampuan pimpinan kepala daerah dalam mengimplentasikan kebijakan yang memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi, penurunan tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran. Dukungan kapasitas aparatur pemerintah sangat berperan dalam membangun model perencanaan yang sesuai sehingga capaian pembangunan dapat terukur ketika dilakukan investasi baik publik maupun swasta.
Supaya investasi dapat berjalan dengan baik maka peran partisipasi aktif masyarakat sangat diperlukan terlebih dalam mendukung implementasi regulasi untuk kegiatan investasi daerah.
Dengan memperhatikan wilayah kepulauan Maluku, NTT, Bali dan Papua merupakan kesatuan kawasan yang memiliki interaksi yang unik, dimana zona wilayah kepulauan dan daratan Papua merupakan suatu zona wilayah yang luas memiliki sumber daya alam yang melimpah namun kontribusi terhadap PDB terendah di Indonesia. Oleh karena itu perlu upaya meningkatkan daya saing daerah yakni faktor- faktor yang terdapat pada dimensi potensi/input, dimensi proses yang berkualitas dan dimensi kinerja dalam menghasilkan supply daerah.
Kewenangan ekonomi, kewenangan administrasi, dan kewenangan
politik yang dimiliki oleh Pemerintah Pusat maupun Daerah perlu kesinergian dalam mengatur masalah-masalah sosial ekonomi terlebih dalam pembiayaan pembangunan / investasi publik sehingga pola interaksi dengan sektor swasta yang pernah terjadi di wilayah lainnnya dapat terbina. Sebagai gambaran hasil yang di capai berdasarkan indikator pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran terbuka oleh wilayah yang kontribusi PDB nya kecil pada tahun 2017 seperti berikut :
Tabel 1. Perbandingan Indikator Ekonomi dan Pembangunan Provinsi yang Memiliki Kontribusi PDB Kecil
Membaiknya indikator ekonomi maupun pembangunan suatu daerah menunjukkan adanya peningkatan inovasi baru baik dari sisi kebijakan, administrasi, manajemen, sosial maupun teknologi, sedangkan memburuknya capaian indikator tersebut disebabkan kurang memperhatikan adanya peningkatan inovasi baru.
Pencapaian hasil dari ketiga indikator tersebut pada setiap daerah sangat beragam sehingga dengan kondisi ini perlu adanya suatu kebijakan inovatif dalam kegiatan investasi baik publik atau swasta mulai dari input, proses dan output bahkan dampaknya terhadap
perbaikan indikator ekonomi maupun indikator pembangunan daerah.
Kebijakan inovatif terhadap faktor produksi lokal dengan memacu produk unggulan daerah yang beragam.
Produk unggulan pada setiap daerah merupakan produk yang potensial untuk dikembangkan dengan memanfaatkan faktor produksi yang tersedia (sumber daya alam dan sumber daya manusia setempat) sehingga dapat mendatangkan pendapatan bagi masyarakat maupun pemerintah. Produk unggulan juga merupakan produk yang memiliki daya saing, berorientasi pasar dan ramah lingkungan, sehingga tercipta keunggulan kompetitif yang siap menghadapi persaingan. Penetapan produk unggulan daerah diperlukan untuk dapat memberikan fokus dan prioritas yang jelas dalam pelaksanaan kegiatan dan pengembangan investasi daerah.
Penutup
Kebijakan inovatif yang dapat memacu investasi daerah bukan saja diukur dari output daerah dalam bentuk PDRB namun harus memperhatikan indikator pembangunan yaitu kesejahteraan masyarakat yaitu penurunan jumlah penduduk miskin, dan tingkat pengangguran. Meningkatnya output daerah belum tentu memberikan kesejahteraan pada masyarakat bahkan bisa saja menimbulkan masalah yang baru seperti tingkat kesenjangan dan bahkan mengarah kepada konflik. Olehnya perlu ada keseimbangan didalam kegiatan investasi daerah mulai dari input yaitu faktor produksi yang lebih berpihak pada sumber daya lokal, kemudian proses yang memperhatikan dampak lingkungan dan kepada kelompok masyarakat lokal, selanjutnya output yang memperhitungkan manfaat baik kepada pemerintah, masyarakat maupun dunia usaha bahkan terhadap lingkungan sehingga dampaknya dapat diukur dalam bentuk capaian dari kebijakan pemerintah, baik dalam bentuk indikator ekonomi maupun indikator pembangunan daerah.
Kebijakan inovatif yang dapat dikembangkan dengan kondisi daerah yang memeiliki share PDB yang rendah dan potensi pertumbuhan ekonomi yang tinggi melalui regionalisasi supply daerah yang terpusat pada pasar dengan biaya yang efisien. Misalkan regionalisasi pemasaran
kawasan Bali, Nusatenggara, Maluku dan Papua yang terpusat pada Kota Sorong dan Kota Denpasar harus di dukung oleh infrastruktur yang memadai dalam mensuply produk yang dihasilkan dari kawasan tersebut. Selama ini kebijakan perdagangan dari kawasan tersebut tergantung pada kota Surabaya dan Kota Makassar sehingga dengan meningkatnya kapasitas infrastruktur perdagangan pada dua Kota di Kawasan tersebut akan memberikan dampak terhadap pertumbuhan daerah pada masing-masing wilayah mulai dari Bali hingga Papua.
Konsekuensinya akan dapat mendorong share PDB dari Bali hingga Papua sehingga ketergantungan terhadap pulau Jawa akan mengalami penurunan. Hal serupa juga dapat dilakukan untuk Pulau Sumatra dan Kalimantan serta Sulawesi.
Beberapa hal yang dapat menjadi perhatian khusus dalam meningkatkan investasi daerah yaitu teknologi inovasi, jangkauan pemasaran, keterlibatan kelompok masyarakat lokal, kandungan bahan baku lokal, lingkungan, budaya yang mampu menjadi penggerak utama dalam pembangunan, memiliki keterkaitan kedepan dan kebelakang, memiliki teknologi yang meningkat dan rentan terhadap gejolak internal maupun eksternal. Melalui kebijakan pemerintah untuk tujuan pemerataan pembangunan maka dengan regionalisasi pengembangan aktivitas ekonomi akan mampu menghasilkan pusat pertumbuhan ekonomi yang mampu melayani supply produk barang dan jasa.