• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Percepatan Pertumbuhan Ekonomi

Bagi sebuah bangsa atau negara, pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi seperti yang direncanakan atau diperkirakan, keberhasilan mengurangi angka pengangguran dan menciptakan stabilisasi inflasi merupakan suatu ukuran keberhasilan kebijakan dalam perekonomian negara tersebut. Oleh karena hal tersebut, maka negara-negara berusaha untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang optimal dengan cara melakukan berbagai kebijakan dalam perekonomian. Dalam rangka pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang diinginkan tentunya akan ada sektor-sektor yang akan menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan ekonomi.

Dengan memiliki karakteristik sebagai wilayah kepulauan maka pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi pada pulau – pulau besar dan pulau – pulau kecil yang ada.

Terdapat beberapa “langkah klasik “yang menurut perlu dilakukan oleh pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,

Pertama, disebut sebagai langkah klasik dan konvensinal, yaitu, mendorong dan meningkatkan Foreign Direct Invesment. Suka atau tidak, sampai saat ini FDI masih merupakan primadona utama dalam menggenjot percepatan pertumbuhan ekonomi. Ini sudah dibuktikan oleh China, Vietnam, Malaysia dan bahkan Timor Leste pun mulai mengejar ketertinggalan pertumbuhan ekonominya dengan menggenjot Foreign Direct Investment (FDI) secara besar – besaran. Peningkatan FDI memang tidak serta merta akan meningkatkan kesejahtraan atau pertumbuhan ekonomi secara riil, tetapi setidaknya kehadiran FDI memberi stimulan dan efek tidak langsung untuk percepatan pertumbuhan ekonomi.

Dengan demikian FDI dapat memberi efek multiplier, secara langsung maupun tidak langsung yang memacu pertumbuhan ekonomi di kawasan barat Indonesia ini. Ini berbeda dengan propinsi- provinsi yang ada di kawasan timur, seperti provinsi di pulau Sulawesi, Papua dan Maluku yang lebih bertumpu pada pemanfaatan sumber daya

alam. Provinsi– provinsi yang ada pada pulau – pulau di Indonesia memiliki karekteristik FDI yang berbeda, namun pada umumnya, masih terkonsentrasi pada pemanfaatkan sektor yang potensial yang bersumber pada natural resource (BKPMN).

Investasi di Indonesia, terbagi menjadi dua bagian, utama yaitu pada sektor manufaktur dan sumber daya alam. Penyebaran Investasi khususnya investasi asing langsung pun terbagi pada pulau - pulau yang ada di Indonesia Pada kawasan barat Indonesia, khususnya pulau Jawa dan lebih berfokus pada sektor manufaktur. Hal ini ditunjang dengan, diantaranya infrastruktur yang cukup memadai tersedia di pulau Jawa, tenaga kerja banyak, upah murah serta tingkat pendidikan yang baik.

Dalam beberapa tahun terakhir ini pemodal asing kurang tertarik menanamkan modalnya di Indonesia karena tidak stabilnya kondisi ekonomi dan politik. Kini muncul tanda-tanda bahwa situasi ini berubah. Ini terlihat pada data yang menunjukkan nilai investasi pada pulau – pulau besar di Indonesia, mulai mengalami peningkatan. Untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi tidak hanya melalui peningkatan kuantitas tetapi haruslah juga mempertimbangkan kualitas dari pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

Namun perlu diingat FDI di Indonesia haruslah berbasis kepulauan.

Hal ini disebabkan karena pulau – pulau di Indonesia selain memiliki potensi alam yang cukup besar, juga merupakan pulau kecil, sehingga jika dieksploitasi akan sangat mengganggu siklus ekonomi dan kelestarian alam. Memang sangat dilematis tetapi dengan model pemberdayaan FDI yang berskala kecil, akan mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian alam.

Kedua, Genjot sektor industri. Pertumbuhan industri akan memacu terjadi pertumbuhan ekonomi. Tetapi ada hal yang menarik dengan industri di Indonesia khususnya pada wilayah – wilayah di bagian Timur Indonesia. Industri yang menggunakan teknologi tinggi justru akan menggerus pertumbuhan ekonomi secara riil atau dengan kata lain pertumbuhan ekonomi terjadi tetapi ”tidak sehat”. Mengapa demikian karena dengan menggunakan teknologi tinggi maka akan

mengurangi penyerapan tenaga kerja. Sehingga apa yang disebut dengan distribusi pendapatan, tidak akan terjadi secara baik. Negara kaya atau pemerintah daerah kaya tetapi masyarakat miskin. Untuk itu industri yang tepat adalah industri yang berbasis penggunaan tenaga kerja terampil serta berskill baik dan terukur. Selain itu industri juga harus memperhatikan kemampuan akselerasi ekonomi pada pulau – pulau di Indonesia. Mengingat bahwa kapasitas ekonomi dan kapasitas akselerasinya sangat ditentukan oleh luas dan karaktersitik pulau.

Inilah yang menyebakan kenapa industri di Indonesia cenderung lambat tumbuh jika dikembangkan pada wilayah – wilayah kepulauan. Dalam sektor industri, pertumbuhan penduduk kita yang tinggi haruslah dimanfaatkan secara baik agar dapat terberdayakan dalam sektor industri. Dengan jumlah pertumbuhan angkatan kerja yang cukup tinggi juga, maka aspek pemerataan kesempatan kerja jauh lebih penting dibandingkan menggenjot pertumbuhan ekonomi tetapi “tidak sehat”.

Ketiga, tingkatkan ekspor berbasis bahan baku lokal. Peningkatan ekspor sampai saat ini cukup tinggi tetapi sangat rentan terhadap perubahan ekonomi global khususnya nilai tukar. Ini disebabkan karena ekspor kita masih berbasis pada penggunaan komponen impor, sehingga ketika terjadi gejolak ekonomi global, produksi kita selain menurun akibat permintaan luar negeri yang menurun, juga disebabkan karena harga komponen bahan baku untuk produk ekspor meningkat. Untuk itu maka, produk ekspor kita harus lebih banyak bermuatan pada bahan baku lokal. Dengan menggenjot ekspor maka, terjadi penambahan kapasitas produksi. Dari sisi ini, jika angkatan kerja dimaksimalkan untuk diserap pada sektor-sektor berorientasi ekspor, maka permintaan dalam hal ini konsumsi domestik akan terpacu karena adanya distribusi pendapatan. Dengan sendirinya rantai ekonomi akan terjadi secara otomatis. Kelihatannya sangat sederhana, tetapi untuk mendorong kesempatan kerja selain diperlukan faktor eksternal dalam hal ini industri juga perlu didukung oleh angkatan kerja yang mumpuni baik dari sisi skill, ketrampilan maupun pendidikan. Ini yang menjadi salah satu kunci penting dalam memacu kualitas ekspor.

Keempat, lakukan pemetaan ulang sektor potensial unggulan tiap pulau, ini dilakukan untuk menentukan basis ekonomi pulau, karena

tiap pulau memiliki karakteristik potensi ekonomi. Selama ini pola pengembangan pulau – pulau di Indonesia lebih cenderung dilakukan secara parsial. Sehingga tiap daerah lebih mengedepankan potensi lokalnya walaupun secara economy tidak menguntungkan jika dikelola parsial. Sistem pengembangan ekonomi yang terpadu antar pulau harus dikembangkan, supaya tidak tumpang tindih dalam mengembangkan potensi unggulan lokal. Kesalahan penentuan sektor unggulan seringkali tidak disadari oleh para pengambilan kebijakan pada tingkat daerah. Penentuan sektor unggulan lebih banyak didasarkan pada sisi kapasitas produksi dengan mengabaikan karakteristik pulau maupun laju pertumbuhan dari sector unggulan tersebut. Dengan pemetaan yang tepat maka akan lebih mudah untuk mendorong terjadi pengembangan industri selanjutnya akan lebih mudah untuk mendorong FDI yang tepat dan sesuai dengan kapasitas dan akselerasi economy wilayah atau pulau. Jika ini dilakukan dengan baik dengan mengenyampingkan sikap egoisme tiap-tiap pulau, maka Pertumbuhan economy tidak hanya naik tetapi jauh lebih berkualitas

“sehat”.

Kelima, Penataan efektivitas birokrasi pemerintah khususnya pada sektor-sektor ekonomi. Selama ini yang menjadi kelemahan terbesar dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi salah satunya adalah sistem birokrasi kita yang sangat panjang dan kaku. Sistem dengan pola seperti ini, cenderung menciptakan inefiensi baik dari sisi biaya maupun waktu. Walaupun merupakan masalah klasik, tetapi dengan memperpendek dan merampingkan alur birokrasi khususnya perijinan maupun mekanisme lainya seperti proses ekspor – impor dan tranportasi, maka geliat aktifitas ekonomi akan lebih cepat. Tentunya hal ini akan memberikan efek terhadap akselerasi ekonomi untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi baik di pulau – pulau maupun Indonesia secara keseluruhan.