BAB VII PENUTUP
D. Indeks Pembangunan Manusia
Dari tahun 2012 sampai 2017, tercatat capaian IPM Kabupaten Tangerang selalu lebih rendah dari pada capaian Provinsi Banten, walaupun masih sedikit lebih tinggi dari pada angka nasional . Capaian angka IPM yang relatif lambat dibandingkan Banten itu tampaknya bersumber dari kontribusi daya beli yang peningkatnya sangat kecil hanya 0,001 atau 0,14% dari tahun 2012 ke tahun 2016 (lihat tabel 2.6). Pertumbuhan daya beli yang rendah itu terkait dengan perkembangan sektor yang terjadi. Sebagaimana diuraikan di
27
atas sektor sektor penyerap tenaga terbanyak memiliki nilai produktivitas yang relatif rendah, dengan demikian penduduk yang bekerja pada sektor bersangkutan (pertanian dan akomodasi, konsumsi) juga memiliki pendapatan per kapita yang relatif rendah. Inilah alasan mengapa pertumbuhan daya beli yang dicapai Tangerang juga rendah
Tabel 2. 13
Komponen Pembentuk IPM Kabupaten Tangerang, Banten dan Nasional
Tahu n
Rata-Rata Lama Sekolah (%) Angka Harapan Hidup (UHH) Paritas Daya Beli Kab.
Tangeran g
Bante n
Nasiona l
Kab.
Tangeran g
Bante n
Nasiona l
Kab.
Tangeran g
Bante n
Nasiona l
2012 8,07 8,06 7,59 68,92 68,86 72,22 11.640 11.008 -
2013 8,18 8,17 7,61 68.96 69,04 72,41 11.648 11.061 -
2014 8,20 8,19 7,73 68,98 69,13 72,59 11.666 11.150 -
2015 8,22 8,27 7,84 69,28 69,43 70,78 11.727 11.261 10.150 2016 8,23 8,37 7,95 69,37 69,46 70,9 11.863 11.469 10.420 2017 8,24 8 8,53 8,10 69,47 69,49 71,06 11.914 11.659 10.664
Sumber: Diolah dari IPM Metode Baru BPS 2010-2018
2.1.3 Aspek Pelayanan Umum
2.1.3.1 Fokus Layanan Urusan Pemerintah Wajib A. PENDIDIKAN
Pendidikan Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Tangerang tahun ajaran 2016/2017 untuk siswa TK sebanyak 21.262 siswa, tingkat RA sebanyak 12.950, penitipan anak sebanyak 101 anak, dan PAUD sebanyak 3.946 siswa, sehingga jumlah usia siswa PAUD se-Kabupaten Tangerang adalah sebanyak 38.259 siswa, dengan jumlah usia penduduk 4-6 tahun sebanyak 193.969 siswa. Persentase partisipasi siswa PAUD yang ikut pendidikan dibandingkan dengan jumlah anak usia 4-6 tahun adalah sekitar 2,03%.
28 Tabel 2.14
Jumlah Usia Siswa TK/RA/PAUD Tahun 2016/2017 di Kabupaten Tangerang
URAIAN 2017
Siswa TK 21.262
Siswa RA 12.950
Penitipan Anak 101
PAUD 3.946
JUMLAH 38.259
Usia PAUD/RA/TK 193.969
Sumber : Profil Disdik Kabupaten Tangerang, 2016
A.1 ANGKA PARTISIPASI KASAR (APK)
APK adalah perbandingan jumlah siswa pada tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA dibagi dengan jumlah penduduk berusia 7 hingga 18 tahun atau rasio jumlah siswa. berapapun usianya. yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. Pada tahun 2017 APK di Kabupaten Tangerang untuk tingkat SD/MI sebesar 111.02. SMP/MTs sebesar 105.29 hal ini mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. secara lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 2.15
Tabel 2.15
Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun 2013 – 2017 Kabupaten Tangerang
No Uraian 2013 2014 2015 2016 2017
1 SD/MI 115.72 115.35 109.64 110.92 111.02
2 SMP/MTs 92.7 105.6 104.6 105.09 105.29
Sumber : http://apkapm.data.kemdikbud.go.id
A.2 ANGKA PARTISIPASI MURNI (APM)
APM merupakan salah satu tolok ukur yang digunakan MDGs dalam mengukur pencapaian kesetaraan gender dibidang pendidikan. APM mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat waktu, yang dibagi dalam tiga kelompok jenjang pendidikan yaitu SD untuk penduduk usia 7-12 tahun, SMP untuk penduduk usia 13-15 tahun, dan SMA untuk penduduk usia 16-
29
18 tahun. Angka Partisipasi Murni (APM) Kabupaten Tangerang untuk tingkat SD/MI mencapai 96,3%, tingkat SMP/MTS mencapai angka 78,95%, dan SMA/MA/SMK mencapai sekitar angka 55,62%.
Tabel 2.16
Angka Partisipasi Murni (APM) Kabupaten Tangerang Tahun 2013-2017 Jenjang Pendidikan 2013 2014 2015 2016 2017
SD/Sederajat 94.05 94.3 94.12 96.6 96.3
SMP/Sederajat 75.37 84.13 84.31 78.4 78.95
SMA/Sederajat 47.87 47.9 53.17 52.6 55.62
Sumber : http://apkapm.data.kemdikbud.go.id
A.3 ANGKA PUTUS SEKOLAH (APS)
Angka Putus Sekolah mencerminkan anak-anak usia sekolah yang sudah tidak bersekolah lagi atau yang tidak menamatkan suatu jenjang pendidikan tertentu, hal ini sering digunakan sebagai salah satu indikator berhasil/tidaknya pembangunan di bidang pendidikan.
Angka Putus Sekolah (APTS) SD/MI di Kabupaten Tangerang tahun 2017/2018 sekitar 0,02%, APTS SMP/MTS sekitar 0,07%, dan Angka Putus Sekolah tingkat SMA/MA mencapai 0,64%.
Tabel 2.17
Angka Putus Sekolah APTS Tahun 2015-2017
No. Putus Sekolah 2015 2016 2017
1 SD/MI 0,04 0,33 0,02
2 SMP/MTS 0,13 0,07 0,07
3 SMA/SMK/MA 0,21 0,04 0,95
Sumber : Dinas Pendidikan, 2017
B. KESEHATAN
B.1 Kematian Bayi
Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia sebesar 32/1000 kelahiran hidup (SDKI 2012). Grafik di bawah ini menunjukkan jumlah kematian bayi tahun 2013 s/d tahun 2017.
Gambar 2.4
30
Jumlah Kematian Bayi Tahun 2013-2017
Sumber Data:Kesga –Kesmas Dinas Kesehatan Kab.Tangerang 2017
Pada gambar 2.4 terlihat jumlah kematian bayi menurun pada tahun 2016 dan 2017 oleh karena meningkatnya jumlah puskesmas mampu PONED yaitu 27 ditahun 2015, 36 di tahun 2016 dan 40 di tahun 2017, dan juga karena meningkatnya keterampilan tenaga kesehatan terutama petugas puskesmas dalam tatalaksana kasus kegawatdaruratan pada bayi. Penyebab kematian bayi pada tahun 2017, dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2.18
Penyebab Kematian Bayi Tahun 2013-2017
No Penyebab Kematian Bayi
Jumlah
2013 2014 2015 2016 2017
1 BBLR 118 127 195 138 120
2 ASFIKSIA 120 81 68 65 70
3 TETANUS 4 2 3 2 3
4 SEPSIS 11 13 22 23 22
5 KELAINAN
KONGINETAL 11 22 21 26 49
6 IKTERUS 3 1 1
7 PERDARAHAN
INTRAKRANIAL 1
8 PNEUMONIA 1 4 2
9 DIARE 1 4
10 LAIN-LAIN 14 17 25 35 13
Jumlah 282 268 334 289 285
Sumber :Kesga –Kesmas Dinas Kesehatan Kab.Tangerang 2017
Penyebab terbanyak kematian Bayi pada tahun 2017 adalah Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan urutan kedua adalah asfiksia, kondisi ini sama dengan di tahun 2016, hal ini disebabkan karena banyaknya kasus ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kalori (KEK), ibu hamil dengan anemia serta
282 268
334 289 285
2013 2014 2015 2016 2017
31
komplikasi Hipertensi Dalam Kehamilan (HDK) dan Pre Eklampsi Berat (PEB) pada ibu hamil.
B.2 JUMLAH KEMATIAN IBU
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, tingkat pelayanan kesehatan terutama pada ibu hamil, ibu melahirkan dan ibu pada masa nifas.
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup (Hasil SDKI Tahun 2012). Upaya menurunkan angka kematian ibu adalah salah satu prioritas dalam target SDGs (Sustainable Development Goals) yaitu pada tahun 2030 mengurangi angka kematian ibu hingga dibawah 70 per 100.000 kelahiran hidup Jumlah kematian ibu di Kabupaten Tangerang pada tahun 2017 adalah sebanyak 43 kasus dan terjadi penurunan dibandingkan pada tahun 2016 hal ini dikarenakan meningkatnya jumlah puskesmas mampu PONED yaitu 27 ditahun 2015, 36 di tahun 2016 dan 40 di tahun 2017, dan juga karena meningkatnya keterampilan tenaga kesehatan terutama petugas puskesmas dalam tatalaksana kasus kegawatdaruratan pada ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas. Tabel di bawah ini menunjukkan jumlah kematian ibu tahun 2013 sampai dengan tahun 2017.
Tabel 2.19
Jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Tangerang Tahun 2013-2017
No. Penyebab Kematian Ibu Jumlah
2013 2014 2015 2016 2017
1 Perdarahan 14
2 Hipertensi dalam
kehamilan, PEB/Eklamsia 13
3 Gangguan Sistem peredaran
darah (Jantung, Stroke dll) 2
4 Penyebab lain 5 14 17 14 14
5 PEB/Eklampsi/HDK 20 18 24 14
6 Hemorrhagie Post Partum
(HPP) 12 10 9 16
7 Ruptur Uteri 2 5 2
8 Solustio plasenta 1
Jumlah 39 47 52 45 43
32
Sumber Data:Kesga –Kesmas Dinas Kesehatan Kab.Tangerang 2017
Pada tahun 2017 penyebab kematian ibu terbanyak adalah perdarahan, hal ini bergeser dari tahun 2016 dimana penyebab kematian ibu terbanyak adalah karena PEB/Eklamsia, hal ini menunjukkan petugas mampu PONED sudah lebih terampil dan kompeten dalam tatalaksana kasus PEB/Eklamsia.
Seluruh kasus kematian ibu sudah dilakukan Audit Maternal Perinatal (AMP) di tingkat kabupaten oleh tim AMP Kabupaten Tangerang sebagai pembelajaran untuk mencegah kematian serupa di masa yang akan datang dalam rangka menurunkan jumlah kematian ibu
B.3 RASIO PUSKESMAS, POLIKLINIK DAN PUSKESMAS PEMBANTU (PUSTU)
Ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Tangerang saat ini sudah semakin meningkat terutama fasilitas pelayanan kesehatan dasar (puskesmas, polindes dan puskesmas pembantu/pustu). Seluruh kecamatan di Kabupaten Tangerang sudah memiliki puskesmas, bahkan di beberapa kecamatan memiliki 2 puskesmas dengan total sebanyak 44 unit. Jumlah ini terdiri dari puskesmas rawat inap 7 unit dan non rawat inap 37 unit sedangkan jumlah Kecamatan sebanyak 29 Kecamatan. Berdasarkan Instruksi Menteri Kesehatan Nomor 4 tahun 1976, kapasitas layanan satu puskesmas di satu kecamatan dengan jumlah penduduk antara 30.000 jiwa sampai 50.000 jiwa.
Kabupaten Tangerang Tahun 2017 jumlah puskesmas sebanyak 44 unit yang tersebar diseluruh kecamatan, Jumlah Puskesmas yang dibutuhkan didasarkan pada rata-rata penduduk 30.000 jiwa adalah sebanyak 71 unit untuk jumlah penduduk 3.476.431 jiwa, artinya Puskesmas yang tersedia masih kurang kebutuhan sebanyak 27 unit, jadi rasio Puskesmas terhadap jumlah penduduk Kabupaten Tangerang tahun 2017 adalah 0,62. Selain itu tingkat pelayanan dan fasilitasnya perlu ditingkatkan. Rasio Puskesmas, Poliklinik dan Puskesmas Pembantu (Pustu) di Kabupaten Tangerang pada tahun 2017, secara lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 2.20.
33 Tabel 2.20
Jumlah Puskesmas, Poliklinik dan Pustu Menurut Kabupaten Tahun 2017
NO KECAMATAN NO PKM JUMLAH
PENDUDUK KLINIK KLINIK
SPESIALIS
KLINIK KECAN TIKAN
TOTAL KLINIK- KLINIK
RASIO JML PENDUDU
K DNG KLINIK (1:25000)
RASIO JML PENDUDUK DNG KLINIK (1:25000) PEMBULATAN
1 CISOKA 1 CISOKA 89291 7 -
- 7 4 4
2 SOLEAR 2 CIKUYA 85414 1 -
- 1 3 3
3 TIGARAKSA 3 TIGARAKSA 62660 13 -
- 13 3 3
4 PASIR
NANGKA 80729 10 -
- 10 3 3
4 CIKUPA 5 CIKUPA 171411 38 2 2 42 7 7
6 PASIR JAYA 90097 8 -
- 8 4 4
5 PANONGAN 7 PANONGAN 123067 10 1 1 12 5 5
6 CURUG 8 CURUG 126823 20 1
- 21 5 5
9 BINONG 67093 8 - 2 10 3 3
7 KELAPA DUA 10 JL. KUTAI 17204 1 -
- 1 1 1
11 JL. EMAS 52301 7 -
- 7 2 2
12 KELAPA DUA 74061 17 6 14 37 3 3
13 BJ NANGKA 68714 7 1 1 9 3 3
8 LEGOK 14 LEGOK 72712 10 -
- 10 3 3
15 BJ KAMAL 19383 - -
- - 1 1
16 CARINGIN 21815 2 -
- 2 1 1
9 PAGEDANGAN 17 PAGEDANGA
N 110100 13 1
- 14 4 4
10 SINDANG JAYA 18 SINDANG
JAYA 88511 11 1
- 12 4 4
11 PASAR KEMIS 19 PASAR KEMIS 157108 - -
- - 6 6
20 KUTABUMI 140959 35 1 2 38 6 6
12 BALARAJA 21 BALARAJA 73632 17 -
- 17 3 3
22 GEMBONG 51600 2 -
- 2 2 2
13 KRESEK 23 KRESEK 64153 8 -
- 8 3 3
14 GUNUNG
KALER 24 GUNUNG
KALER 50980 - -
- - 2 2
34
NO KECAMATAN NO PKM JUMLAH
PENDUDUK KLINIK KLINIK
SPESIALIS
KLINIK KECAN TIKAN
TOTAL KLINIK- KLINIK
RASIO JML PENDUDU
K DNG KLINIK (1:25000)
RASIO JML PENDUDUK DNG KLINIK (1:25000) PEMBULATAN
15 KRONJO 25 KRONJO 57350 4 -
- 4 2 2
16 MEKAR BARU 26 MEKAR BARU 36788 - -
- - 1 1
17 MAUK 27 MAUK 81517 6 -
- 6 3 3
18 RAJEG 28 RAJEG 95067 10 1
- 11 4 4
29 SUKATANI 63611 - -
- - 3 3
19 SEPATAN 30 SEPATAN 109758 18 -
- 18 4 4
20 SEPATAN
TIMUR 31 KEDAUNG
BARAT 90852 3 -
- 3 4 4
21 PAKUHAJI 32 PAKU HAJI 67509 3 -
- 3 3 3
33 SUKAWALI 43419 1 -
- 1 2 2
22 TELUKNAGA 34 TELUKNAGA 100606 7 - 2 9 4 4
35 TEGAL
ANGUS 54711 3 -
- 3 2 2
23 KOSAMBI 36 KOSAMBI 85326 7 -
- 7 3 3
37 SALEMBARAN
JAYA 66646 3 -
- 3 3 3
24 JAMBE 38 JAMBE 43657 3 -
- 3 2 2
25 KEMERI 39 KEMERI 42294 1 -
- 1 2 2
26 JAYANTI 40 JAYANTI 69972 5 -
- 5 3 3
27 CISAUK 41 CISAUK 31673 2 1
- 3 1 1
42 SURADITA 44949 3 -
- 3 2 2
28 SUKADIRI 43 SUKADIRI 55543 4 -
- 4 2 2
29 SUKAMULYA 44 SUKAMULYA 63710 8 -
- 8 3 3
JUMLAH 3.264.776 336 16 24 376 131 131
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, 2017
B.4 RASIO RUMAH SAKIT PER SATUAN PENDUDUK
Rasio Rumah sakit per satuan penduduk adalah perbandingan antara jumlah rumah sakit dengan jumlah penduduk untuk 100.000 penduduk,
35
penduduk Kabupaten Tangerang tahun 2017 sebanyak 3.584.770 jiwa jumlah rumah sakit yang ada di Kabupaten Tangerang sebanyak 24 unit yang terdiri dari Rumah sakit Umum pemerintah (3 unit), rumah sakit swasta dan rumah sakit ibu dan anak (21 unit), sehingg rasio rumah sakit terhadap penduduk di Kabupaten Tangerang tahun 2017 sebesar 0,7 artinya jumlah rumah sakit di Kabupaten Tangerang belum memenuhi dari sisi jumlah serta kualitas pelayanan dan fasilitas kesehatan masih perlu ditingkatkan, terutama untuk RSU Tangerang dan RSUD Balaraja yang menjadi rumah sakit rujukan regional provinsi.
Tabel 2.21
Jumlah dan Rasio Rumah Sakit Per jumlah Penduduk Tahun 2013-2017 Kabupaten Tangerang
NO Uraian 2013 2014 2015 2016 2017
1 Jumlah RSU (Pemerintah) 2 2 2 2 3
2
Jumlah Rumah Sakit Jiwa/Paru dan Penyakit Khusus Lainnya Milik Pemerintah
- - - -
3 Rumah Sakit AD/AU/AL/POLRI - - -
4 Jumlah Seluruh Rumah Sakit 19 19 20 23 24
5 Jumlah Penduduk 3.157.780 3.264.776 3.362.720 3.477.495 3.584.770
6 Rasio 1 : 150370 1 : 155466 1 : 152851 1:149.365
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, 2017
B.5 PERAWATAN GIZI BURUK
Kegiatan pemantauan status gizi secara aktif dilaksanakan oleh petugas gizi puskesmas melalui bulan penimbangan balita yang dilakukan setahun 2(dua) kali. Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk tahun 2016 mengalami penurunan dibanding tahun 2017. Keadaan ini menunjukkan adanya komitmen menyeluruh dari lintas sektor dalam menanggulangi masalah gizi di Kabupaten Tangerang melalui advokasi dan kegiatan gizi bersumberdaya masyarakat melalui Pos Gizi, KP ASI dan KERAMAS, karena sektor kesehatan saja tidak akan dapat secara maksimal menurunkan angka gizi buruk. Agar terus dapat mmeningkatkan kinerja daerah dalam penanggulangan masalah gizi, perlu adanya peningkatan kuantitas dan kualitas SDM kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal bagi masyarakat. Gambaran status gizi dapat dilihat pada tabel.
36 Tabel 2.22
Gambaran Status Gizi Pada Balita Di Kabupaten Tangerang Tahun 2015-2017
Tahun
Jumlah Balita
Gizi Buruk Gizi Kurang Gizi Baik Gizi Lebih
N % N % N % N %
2013 1154 0.45 9198 3.61 241952 94.97 2224 0.87 2014 1172 0.45 8583 3.28 249877 95.55 1892 0.72 2015 1.091 0,39 8.099 2,86 271.407 95,89 2.227 0,79 2016 1.164 0,41 8.935 3,17 268.339 95,32 2.880 1,03 2017 1.161 0,38 9.644 3,14 294.027 95,69 2.479 0,81
B.6 Pemeriksaan Ibu Hamil
Indikator pelayanan ibu hamil antara lain cakupan K1 dan K4, K1 adalah cakupan ibu hamil yang pertama kali mendapat pelayanan antenatal oleh tenaga kesehatan di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Indikator ini digunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan antenatal serta kemampuan program dalam menggerakkan masyarakat. K4 adalah cakupan ibu hamil yang memperoleh pelayanan antenatal sesuai standar, paling sedikit empat kali dengan distribusi waktu 1 kali pada triwulan ke-1, 1 kali pada triwulan ke-2 dan 2 kali pada triwulan ke-3 di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Dengan indikator K4 ini, dapat diketahui cakupan pelayanan antenatal secara lengkap (memenuhi standar pelayanan dan menempati waktu yang ditetapkan), yang menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil di suatu wilayah, disamping menggambarkan manajemen program KIA.
Gambar 2.5
Cakupan Pemeriksaan Ibu Hamil (K1) Tahun 2013-2017
Sumber Data : Bid.Kesmas- Kesga Dinas Kesehatan Kab.Tangerang 2017
99,7
97,8
99,7
99,4
100,1
2013 2014 2015 2016 2017
37
Dari grafik diatas diperoleh cakupan K1 pada tahun 2017 adalah 100,1
% meningkat dibandingkan cakupan K1 tahun 2016 dan hasil cakupan K1 pada tahun 2017 menunjukkan telah mencapai target SPM sebesar 100%.
Gambar 2.6
Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K4) Tahun 2013-2017
Sumber Data : Bid.Kesmas- Kesga Dinas Kesehatan Kab.Tangerang 2017
Dari grafik diatas diperoleh prosentase kunjungan ibu hamil K4 mengalami peningkatan dari 93,8 % pada tahun 2016 menjadi 94,9 % pada tahun 2017 walaupun masih belum sesuai target SPM sebesar 95 %, hal ini antara lain disebabkan masih tingginya migrasi ibu hamil ke daerah asal untuk proses persalinannya serta adanya ibu hamil yang tidak mematuhi jadwal kunjungan antenatal yang disarankan atau terlambat untuk mengakses ANC sebanyak empat kali dan dapat juga karena faktor penyebab lain diantaranya ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan pertama kali pada umur kehamilan > 12 minggu, sehingga K4 belum mencapai target.
Upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan cakupan K1 dan K4 antara lain pendataan ibu hamil, kunjungan rumah bagi ibu hamil yang tidak
88,9 89,4
92,3
93,8
94,9
2013 2014 2015 2016 2017
38
mematuhi jadwal ANC, optimalisasi Kelas ibu hamil, Penyuluhan P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi) dan peningkatan kualitas pelayanan ANC.
C. Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang