• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II "

Copied!
219
0
0

Teks penuh

(1)

i | P a g e DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ... I.1 1.1 Latar Belakang ... I.1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan ... I.2 1.3 Hubungan antar Dokumen ... I.3 1.4 Sistematika Dokumen RKPD ... I.4 1.5 Maksud dan Tujuan ... I.5

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN II.1 2.1 Gambaran Umum Kondisi Daerah ... II.1

2.1.1 Aspek Geografi dan Demografi ... II.1 2.1.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat ... II.11 2.1.3 Aspek Pelayanan Umum ... II.21 2.1.4 Aspek Daya Saing Daerah ... II.68 2.2 Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD 2018 .... II.72 2.3 Permasalahan Pembangunan Daerah ... II.117 2.3.1 Permasalahan daerah yang berhubungan dengan prioritas

dan sasaran pembangunan daerah ... II.117 2.3.2 Identifikasi permasalahan penyelenggaraan urusan

pemerintahan daerah ... II.117

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH ... ….. III.1

3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah ... III.1 3.1.1 Kondisi dan Arahan Perekonomian Nasional ... III.2 3.1.2 Kondisi dan Arahan Perekonomian Provinsi Banten III.2 3.1.3 Kondisi Ekonomi Kabupaten Tangerang Tahun 2018 dan

Perkiraan Tahun 2019………

... …………III.3 3.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah ... III.10

(2)

ii | P a g e 3.2.1 ... Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan

III.10

3.2.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah ... III.13

BAB IV SASARAN DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH IV.1 4.1. Tujuan dan Sasaran Pembangunan ... IV.1 4.2. Prioritas dan Sasaran Pembangunan Tahun 2020 ... IV.7

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH ... V.1

BAB VI KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAEARAH VI.1

BAB VII PENUTUP ... VII.1

(3)

iii | P a g e DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Luas Wilayah dan Persentase Menurut Kecamatan di Kabupaten Tangerang, Tahun 2017 ... II.2 Tabel 2.2 Data Klimatologi Kabupaten Tangerang ... II.5 Tabel 2.3 Penggunaan Lahan Kabupaten Tangerang Tahun 2017 II.7 Tabel 2.4 Jumlah Penduduk Laki-Laki dan Perempuan Kabupaten

Tangerang Tahun 2017 ... II.9 Tabel 2.5 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur Tahun

2017. ... II.10

Tabel 2.6 Laju Pertumbuhn PDRB Kabupaten Tangerang Menurut Kategori Lapangan Usaha 2013 – 2017 ... II.12

Tabel 2.7 PDRB Kabupaten Tangerang Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2013 – 2017 ... II.13 Tabel 2.8 Perkembangan Inflasi di Kabupaten Tangerang Tahun 2012

-2017 ... II. 14 Tabel 2.9 PDRB Perkapita Kabupaten Tangerang Tahun 2013 – 2017

... II.15 Tabel 2.10 Angka Melek Huruf (AMH) Kabupaten Tangerang II.18 Tabel 2.11 Angka Rata-Rata Lama Sekolah Kabupaten Tangerang

Tahun 2013-2017 ... II.19 Tabel 2.12 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah Tahun 2013-2017

Kabupaten Tangerang ... II.20 Tabel 2.13 Komponen Pembentuk IPM Kabupaten Tangerang, Banten

dan Nasional ... II.20 Tabel 2.14 Jumlah Usia Siswa TK/RA/PAUD Tahun 2016/2017 di

Kabupaten Tangerang ... II.21

(4)

iv | P a g e Tabel 2.15 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun 2013 -

2017 Kabupaten Tangerang ... II.22 Tabel 2.16 Perkembangan Angka Partisipasi Murni (APM) Tahun 2013-

2017 Kabupaten Tangerang ... II.22 Tabel 2.17 Angka Putus Sekolah (APTS) Tahun 2015-2017 . II.23 Tabel 2.18 Penyebab Kematian Bayi Tahun 2013-2017 ... II.23 Tabel 2.19 Jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Tangerang

Tahun 2013-2017 ... II.25 Tabel 2.20 Jumlah Puskesmas,Poliklinik dan Pustu Menurut

Kabupaten Tangerang Tahun 2017 ... II.26 Tabel 2.21 Jumlah dan Rasio Rumah Sakit Per Jumlah Penduduk

Tahun 2013-2017 Kabupaten Tangerang ... II.28 Tabel 2.22 Gambaran Status Gizi Pada Balita di Kabupaten Tangerang

Tahun 2015-2017 ... II.29 Tabel 2.23 Jenis Perkerasan Jaringan Jalan di Kabupaten Tangerang

Tahun 2017 ... II.31 Tabel 2.24 Eksisting Instalasi Pengolahan Air PDAM Tirta Kerta Raharja

Tahun 2017 ... II.32 Tabel 2.25 Persentase Akses Rumah Tangga Terhadap Sumber Air

Minum Tahun 2013-2017 ... II.33 Tabel 2.26 Persentase Akses Rumah Tangga Terhadap Sumber Air

Minum Tahun 2013-2017 (lanjutan) ... II.34 Tabel 2.27 Penetapan Kawasan Perumahan dan Pemukiman Kumuh di

Kabupaten Tangerang ... II.34 Tabel 2.28 Capaian Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan

Lingkungan Tahun 2012-2017 ... II.36 Tabel 2.29 Rekapitulasi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial

(PKMS) Kabupaten Tangerang Tahun 2017 ... II.37 Tabel 2.30 Jumlah Pencari Kerja dan Pencari Kerja Yang ditempatkan

di Kabupaten Tangerang Tahun 2013-2017 ... II.38 Tabel 2.31 Jumlah Tenaga Kerja Peserta BPJS Ketenagakerjaan II.39 Tabel 2.32 Komponen Indeks Pembangunan Gender (IPG) Kabupaten

Tangerang Tahun 2017 ... II.39 Tabel 2.33 Komponen Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Kabupaten

Tangerang Tahun 2017 ... II.40

(5)

v | P a g e Tabel 2.34 Penguatan Cadangan Pangan Tahun 2013-2017 II.41

Table 2.35 Rekapitulasi Produksi Sertifikat Tanah di Kabupaten Tangerang oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) II.42 Tabel 2.36 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah

Penduduk di Kabupaten Tangerang Tahun 2016 .. II.42 Tabel 2.37 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Kabupaten

Tangerang Tahun 2015-2016 ... II.43 Tabel 2.38 Sampah yang terangkut Tahun 2017 ... II.43 Tabel 2.39 Persentase Posyandu Aktif di Kabupaten Tangerang Tahun

2013-2017 ... II.44 Tabel 2.40 Laju Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Tangerang

Tahun 2013-2017 ... II.44 Tabel 2.41 Perkembangan Jumlah Kendaraan Kabupaten Tangerang

Tahun 2015-2017 ... II.45 Tabel 2.42 Persentase Penduduk yang Menggunakan HP Tahun 2015-

2017 di Kabupaten Tangerang ... II.46 Tabel 2.43 Persentase Penduduk Usia 5 Tahun Keatas yang

Menggunakan Komputer Tahun 2012-2017 ... II.46 Tabel 2.44 Perkembangan Koperasi di Kabupaten Tangerang II.47 Tabel 2.45 Jumlah Investor PMDN/PMA di Kabupaten Tangerang

Tahun 2013-2017 ... II.48 Tabel 2.46 Nilai Investasi PMA/PMDN di Kabupaten Tangerang Tahun

2013-2017 ... II.48 Tabel 2.47 Rasio Daya Serap Investasi PMA dan PMDN di Kabupaten

Tangerang Tahun 2012-2016 ... II.49 Tabel 2.48 Jumlah Sanggar Seni dan Budaya Tahun 2013-2017 di

Kabupaten Tangerang ... II.50 Tabel 2.49 Kondisi Perpustakaan di Kabupaten Tangerang Tahun 2013-

2017 ... II.51 Tabel 2.50 Penerapan Arsip Secara Baku Tahun 2013-2017 II.51 Tabel 2.51 Penggunaan Lahan Sawah dan Non Sawah (Ha) di Kabupaten

Tangerang Tahun 2012-2017 ... II.53 Tabel 2.52 Pengelola Pasar di Kabupaten Tangerang ... II.57 Tabel 2.53 Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Golongan

Pokok Industri di Kabupaten Tangerang Tahun 2017 II.59

(6)

vi | P a g e Tabel 2.54 Kinerja Sektor Perdagangan Tahun 2011-2017 Kabupaten

Tangerang ... II.61 Tabel 2.55 Indikator KInerja Urusan Perikanan ... II.61 Tabel 2.56 Cakupan Bina Kelompok ... II.62 Tabel 2.57 Poduksi Perikanan Kelompok Nelayan ... II.62 Tabel 2.58 Nilai Tukar Nelayan Kabupaten Tangerang Tahun 2014-2017

………

… . I I . 6 2

Tabel 2.59 Hasil Evaluasi dan Penilaian AKIP Kabupaten Tangerang Tahun 2013-2017 ... II.64 Tabel 2.60 Indeks Kepuasan Masyarakat Terhadap Pelayanan Publik

Kabupaten Tangerang Tahun 2014-2017 ... II.65 Table 2.61 Jumlah Pegawai Yang Mengikuti Perjenjangan Karir, Izin

Belajar dan Tugas Belajar di Kabupaten Tangerang Tahun 2013-2017 ... II.65 Tabel 2.62 Opini BPK Atas laporan Keuangan Daerah Kabupaten

Tangerang Tahun 2013-2017 ... II.66 Tabel 2.63 Interval Skors Maturitas SPIP ... II.68 Tabel 2.64 Nilai Maturias Sistim Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)

Kabupaten Tangerang Tahun 2013-2017 ... II.69 Tabel 2.65 Perkembangan Penggunaan Konsumsi Akhir Rumah Tangga

Kabupaten Tangerang Tahun 2013-2017 ... II.70 Tabel 2.66 Posisi Pinjaman Rupiah dan Valuta Asing Yang diberikan

Dari Bank Umum dan BPR di Kabupaten Tangerang dan Jenis Penggunaan (Juta Rupiah) ... II.71 Tabel 2.67 Jumlah Tindak Pidana Menurut Kepolisian Resort di

Provinsi Banten, 2014-2016 ... II.71 Tabel 2.68 PersentasePenyelesaian Tindak Pidana Menurut Kepolisian

Resort di Provinsi Banten, 2014-2016 ... II.72 Tabel 2.69 Resiko Penduduk Terjadi Tindak Pidana per 100.000

Penduduk Menurut Wilayah Kepolisian Resort di Provinsi Banten, 2014-2016 ... II.72 Tabel 2.70 Rasio Ketergantungan di Kabupaten Tangerang Tahun 2013-

2017 ... II.73

(7)

vii | P a g e Tabel 2.71 Evaluasi Hasil Pelaksanaan Pembangunan Daerah Tahun

2018 Kabupaten Tangerang ... II.75 Tabel 3.1 Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Tangerang Atas

Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha,2013-2017 ... III.5 Tabel 3.2 Laju. Pertumbuhan PDRB Kabupaten Tangerang Atas Dasar

Harga Konstan 2010, Menurut Lapangan Usaha (Persen), Tahun 2013-2017 ... III.6 Tabel 3.3 PDRB Perkapita Kabupaten Tangerang, 2013-2017 III.7 Tabel 3.4 Indeks Pembangunan Manusia Berdasarkan Komponen IPM

Kabupaten/Kota Se-Provinsi Banten 2017 ... III.8 Tabel 3.5 Realisasi dan Target dan Proyeksi Pendapatan Kabupaten

Tangerang Tahun 2018 Sampai Dengan Tahun 2020 III. 11 Tabel 3.6 Realisasi dan Target dan Proyeksi Belanja Kabupaten

Tangerang Tahun 2018 Sampai Dengan Tahun 2020 III. 19 Tabel 3.7 Realisasi dan Target dan Proyeksi Pembiayaan Kabupaten

Tangerang Tahun 2018 Sampai Dengan Tahun 2020 III.21 Tabel 4.1 Keterkaitan Visi Misi ujuan dan Sasaran ... IV.1 Tabel 4.2 Hubungan Misi,Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan

... IV.2 Tabel 4.3 Target Utama Pencapaian Tujuan dan Sasaran Tahun 2018

... IV.9 Tabel 5.1 Sasaran Daerah, Prioritas Pembangunan dan Program

Pembangunan Kabupaten Tangerang Tahun 2020 . V.2 Tabel 6.1 Capaian dan Target Indikator Makro Pembangunan

Kabupaten Tangerang Tahun 2020 ... VI.1 Table 6.2 Penetapan Indikator Kinerja Utama Kabupaten Tangerang

Tahun 2020 ... VI.3 Tabel 6.3 Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian

Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Tangerang Tahun 2020 ... VI.3

(8)

viii | P a g e

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Persentase Penduduk Miskin dan Garis Keturunan (GK) Tahun 2013-2017 ... II.16

Gambar 2.2 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Tahun 2013- 2017..II.16

Gambar 2.3 Prosentase Penduduk Miskin Kabupaten Tangerang, Banten dan Nasional Tahun 2013-2017 ... II.17

Gambar 2.4 Jumlah Kematian Bayi Tahun 2013-2017 ... II.23

Gambar 2.5 Cakupan Pemeriksaan Ibu Hamil (K1) Tahun 2013-2017 ... II.30

Gambar 2.6 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K4) Tahun 2013-2017 ... II.30

Gambar 2.7 Persentase Rumah Tangga Berdasarkan Kondisi Kelayakan Bangunan ... II.36

Gambar 2.8 Luas Lahan Sawah Kabupaten Tangerang Tahun 2017

(Ha) II.53

(9)

ix | P a g e Gambar 2.9 Status Penggunaan Lahan Kabupaten Tangerang Tahun

2017 (Ha) ... II.53 Gambar 2.10 Produksi Hasil Pertanian (Ton) Tahun 2014-2017 II.54 Gambar 2.11 Kunjungan Wisata kabupaten Tangerang ... II.63

Gambar 3.1 Komposisi Tenaga kerja Berdasarkan lapangan Pekerjaan di Kabupaten Tangerang Tahun 2018 ... III.4

Gambar 3.2 Perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuka Kabupaten Tangerang Tahun 2013-2018 ... III.4

Gambar 3.3 Persentase Penduduk Miskin dan Garis Kemiskinan (GK) Kabupaten Tangerang tahun 2013-2018 ... III.10

Gambar 4.1 Penyelarasan Sasaran Daerah Dengan Prioritas Pembangunan Daerah Tahun 2020 ... IV.17

(10)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, pemerintah daerah wajib menyusun RKPD yang merupakan penjabaran dari RPJMD untuk jangka waktu 1 (satu) tahun, yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, serta rencana kerja dan pendanaan untuk jangka waktu 1 (satu) tahun yang disusun dengan berpedoman kepada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan program strategis nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.

RKPD berpedoman pada RKP Tahun 2020 dan program strategis nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Dalam hal RKP belum ditetapkan, penyusunan RKPD Tahun 2020 mengacu pada rancangan RKP yang memuat arah kebijakan pembangunan nasional Tahun 2020 yang tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Tahapan dan tata cara penyusunan RKPD Tahun 2020 berpedoman pada peraturan menteri mengenai tata cara perencanaan pembangunan daerah. Penetapan RKPD kabupaten/kota satu minggu setelah RKPD Provinsi ditetapkan dan/atau paling lambat pada Bulan Juni Tahun berjalan. Bupati menyampaikan Peraturan Bupati mengenai RKPD Kabupaten Tangerang Tahun 2020 kepada gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah ditetapkan. Penyampaian RKPD kabupaten Tahun 2020, digunakan sebagai bahan evaluasi penyusunan Rancangan KUA dan PPAS sebagai bahan sinkronisasi penyusunan Rancangan Perda APBD Tahun Anggaran 2020.

Proses penyusunan dokumen RKPD Kabupaten Tangerang Tahun 2020 dilaksanakan melalui 3 (tiga) alur spesifik yang digambarkan sebagai berikut : Alur Proses Teknokratik – Strategis, Alur Proses Partisipatif dan Alur

(11)

2

Proses Legislasi dan Politik. Ketiga alur proses tersebut menghendaki pendekatan yang berbeda namun saling berinteraksi satu sama lain untuk menghasilkan RKPD yang terpadu.

1. Alur Proses Teknokratik - Strategis merupakan alur teknis perencanaan yang disusun oleh para perencanan daerah dan pakar perencanaan derah.

Alur ini ditujukan menghasilkan informasi, analisis, proyeksi, alternatif tujuan, strategi, kebijakan dan program kegiatan sesuai kaidah teknis perencanaan yang diharapkan dapat memberikan masukan bagi alur proses partisipatif.

2. Alur Proses Partisipatif merupakan alur bagi keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan daerah melalui Musrenbang Desa/Kelurahan, Musrenbang Kecamatan, Forum Perangkat Daerah/Lintas Perangkat Daerah dan Musrenbang RKPD. Alur ini menghasikan kesepakatan atas tahapan penting pengambilan keputusan perencanaan.

3. Alur Legislasi dan Politik merupakan alur proses konsultasi dengan legislasi (DPRD Kabupaten Tangerang) untuk menghasilkan Penyusunan Akhir RKPD. Pada alur ini diharapkan DPRD Kabupaten Tangerang dapat memberikan kontribusi pemikiran, review dan evaluasi atas hasil baik pada tahapan Alur Proses Teknokratik Strategis maupun Alur Proses Partisipatif.

1.2. DASAR HUKUM PENYUSUNAN

Dasar hukum yang dipergunakan dalam penyusunan RKPD 2020 adalah sebagai berikut:

1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4010);

2. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

3. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104);

4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

(12)

3

5. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 5234);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1312);

11. Peraturan Daerah Kabupaten Tangerang Nomor 2 Tahun 2009 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Tangerang Tahun 2009 Nomor 02, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 0209);

12. Peraturan Daerah Kabupaten Tangerang Nomor 9 tahun 2009 Tentang Pedoman Pelaksanaan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Tangerang;

13. Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2009 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Tangerang Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Tahun 2009 Nomor 12);

15. Peraturan Daerah Kabupaten Tangerang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Tangerang;

16. Peraturan Daerah Kabupaten Tangerang Nomor 1 Tahun 2019 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengan Daerah (RPJMD) Kabupaten Tangerang Tahun 2019-2023.

(13)

4 1.3. HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN

RKPD mempedomani dokumen perencanaan daerah lainnya seperti RPJPD Kabupaten Tangerang Tahun 2005-2025, RTRW Kabupaten Tangerang Tahun 2011- 2031 dan dokumen perencanaan lainnya yang bersifat mengikat. Lebih lanjut hubungan RKPD dengan Renstra Perangkat Daerah dan Renja Perangkat Daerah yaitu RKPD memuat program dan kegiatan PD, penjabaran Renstra PD dan dokumen RKPD merupakan acuan bagi Perangkat Daerah dalam menyempurnakan Renja PD untuk tahun yang sama. Proses penyusunan RKPD dilakukan secara pararel dan sifatnya saling memberi masukan dengan proses penyusunan Rencana Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD).

Gambar 1.1

Keterkaitan Dokumen Perencanaan menurut UU Nomor 25 Tahun 2004

1.4. Sistematika Dokumen RKPD

Penyajian RKPD disusun menurut sistematika sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 tahun 2017 sebagaimana dibawah ini :

BAB I PENDAHULUAN

Menggambarkan mengenai Latar Belakang Penyusunan Dokumen RKPD, Dasar Hukum Penyusunan, Hubungan Antar Dokumen, Sistematika Dokumen RKPD, serta Maksud dan Tujuan Penyusunan Dokumen RKPD Tahun 2020

(14)

5

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Menjelaskan mengenai Gambaran Umum Kondisi Daerah, Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD Sampai Tahun Berjalan dan Realisasi RPJMD serta Permasalahan Pembangunan BAB III KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN

DAERAH

Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah yang mengemukakan tentang kondisi ekonomi tahun lalu dan perkiraan tahun berjalan, yang antara lain mencakup indikator pertumbuhan ekonomi daerah, sumber-sumber pendapatan dan kebijakan pemerintah daerah yang diperlukan dalam pembangunan perekonomian daerah meliputi pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah

BAB IV SASARAN DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN

Menjelaskan mengenai Sasaran dan Prioritas Pembangunan Daerah yang didalamnya terkait dengan Tujuan dan Sasaran Pembangunan serta Prioritas Pembangunan Daerah pada tahun anggaran 2020 yang akan datang.

BAB V RENCANA KERJA DAN PENDANAAN DAERAH

Mengemukakan secara eksplisit rencana program dan kegiatan prioritas daerah yang disusun berdasarkan evaluasi pembangunan tahunan, kedudukan tahun rencana (RKPD) dan capaian kinerja yang direncanakan dalam RPJMD. Rencana program dan kegiatan prioritas harus mewakili aspirasi dan kepentingan masyarakat.

BAB VI KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH

Menjelaskan mengenai Sistem Pengukuran Kinerja yang digunakan untuk mengukur, menilai, dan membandingkan secara sistematis dan berkesinambungan atas kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah. Indikator Kinerja adalah alat ukur spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif yang terdiri dari unsur masukan, proses, keluaran, hasil, manfaat, dan/atau dampak yang menggambarkan tingkat capaian kinerja suatu kegiatan.

Dan Indikator Kinerja Kunci adalah indikator kinerja utama yang mencerminkan keberhasilan penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan.

BAB VII PENUTUP

(15)

6 1.5. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud Penyusunan RKPD Kabupaten Tangerang Tahun 2020 sebagai dokumen perencanaan pembangunan Kabupaten Tangerang tahun 2020 dalam menjabarkan pokok-pokok pikiran dokumen perencanaan pembangunan di dan kebijakan pemerintah pusat, arah kebijakan pemerintah Provinsi, isu-isu strategis maupun kesepakatan bersama bertaraf lokal, regional hingga nasional serta menjadi landasan dalam penyusunan dokumen penganggaran di tingkat Kabupaten, pedoman penyempurnaan Rencana Kerja Perangkat Daerah dan pedoman perencanaan pembangunan di tingkat kecamatn/desa.

Sedangkan tujuan RKPD Kabupaten Tangerang Tahun 2020 sebagai berikut:

a. Menciptakan kepastian kebijakan perencanaan pembangunan Kabupaten Tangerang Tahun 2020 sebagai wujud komitmen pemerintah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan melalui penjabaran rencana strategis ke dalam rencana operasional dan memelihara konsistensi antara capaian tujuan perencanaan strategis jangka menengah dan jangka panjang dengan tujuan perencanaan dan penganggaran tahunan pembangunan daerah;

b. Merumuskan rancangan kerangka ekonomi Kabupaten Tangerang Tahun 2020 dengan gambaran kondisi ekonomi, kemampuan pendanaan dan pembiayaan pembangunan daerah;

c. Merumuskan prioritas pembangunan daerah dengan memuat program- program yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak dasar masyarakat dan pencapaian keadilan yang berkelanjutan;

d. Merumuskan rencana kerja, pendanaan dan prakiraan maju dengan mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif;

e. Memberikan arah bagi seluruh stakeholder pembangunan daerah dalam merumuskan dan menyusun perencanaan serta partisipasi dalam pembangunan Kabupaten Tangerang Tahun 2020;

f. Menyatukan tujuan kegiatan semua Organisasi Perangkat Daerah melalui penetapan target Indikator Kinerja dalam rangka pencapaian visi dan misi Pemerintah Kabupaten Tangerang sehingga menjadi instrumen bagi Pemerintah Daerah dalam menyusun Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ), Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) dan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP).

(16)

7

BAB II

EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

Pada Bab II berikut ini membahas tentang evaluasi pelaksanaan RKPD Kabupaten Tahun 2018 dengan memperhatikan dokumen RPJMD Kabupaten Tangerang Tahun 2013-2018 dan dokumen RKPD Kabupaten Tangerang Tahun 2020 sebagai bahan acuan dan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan yang menguraikan tentang kondisi umum daerah, pencapaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan, dan permasalahan pembangunan.

2.1. Gambaran Umum Kondisi Daerah 2.1.1. Aspek Geografi dan Demografi

Posisi geografis Kabupaten Tangerang yang berdekatan dengan DKI Jakarta dan Jawa Barat sangat strategis bagi perkembangan wilayah, dimana Kabupaten Tangerang manjadi alternatif bagi DKI Jakarta yang sudah padat.

Ditinjau dari segi transportasi, Kabupaten Tangerang dilalui oleh Jalan Raya Serang-Jakarta dan Jalan Tol Merak-Jakarta, Double Track Kereta Api Jakarta-Rangkas Bitung, serta akses alternatif ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kebutuhan akses yang sangat cepat bagi industri dan perdagangan membutuhan kawasan pergudangan dan industri untuk menditribusikan produk industri dan perdagangan, sehingga kemudahan akses terhadap pelabuhan dan Bandara menjadi kebutuhan utama, selain itu, perkembangan sektor properti semakin meningkat terutama disekitar Bandara Soekarno-Hatta, Cisauk, dan Pagedangan membutuhkan lahan yang sangat luas bagi warga commuter Jakarta-Tangerang.

Ditinjau dari sumber daya manusia Kabupaten Tangerang rata-rata pertumbuhan penduduknya mencapai 3,17% dengan jumlah penduduk 3.584.770 jiwa. Dampak melimpahnya SDM adalah melimpahnya tenaga kerja untuk kebutuhan sektor Industri dan perdagangan, dengan dominannya investasi industri pengolahan akan membutuhkan tenaga kerja dari Kabupaten Tangerang maupun dari luar.

Kondisi geografis dan demografi Kabupaten Tangerang menjadi tantangan bagi Kabupaten Tangerang untuk mengatasi dampak dari beban

(17)

8

wilayah yang sangat besar kedepannya. Perluasan Run Way Bandara Soekarno-Hatta, pembangunan Tol Serpong-Balaraja, Tol Bandara-Balaraja, penataan Stasiun Kereta Api Cisauk dan Tigaraksa, serta pertumbuhan penduduk yang tinggi membutuhkan action plan untuk meminimalisir dampak negatif baik kemacetan, banjir, kawasan kumuh, serta pengangguran.

2.1.1.1 Karakteristik Lokasi dan Wilayah A. Luas dan Batas Wilayah Administrasi

Luas wilayah Kabupaten Tangerang sebesar 959,61 Km2 berada di bagian Timur Provinsi Banten pada koordinat 106°20’-106°43’ Bujur Timur dan 6°00’-6°20’ Lintang Selatan. Kabupaten Tangerang termasuk salah satu daerah yang menjadi bagian dari wilayah Propinsi Banten. Terletak pada posisi geografis cukup strategis dengan batas-batas.

 Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa

 Sebelah timur berbatasan dengan Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan DKI Jakarta

 Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Lebak

 Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Serang dan Lebak

Jarak antara Kabupaten Tangerang dengan pusat pemerintahan Republik Indonesia (DKI Jakarta) sekitar 30 km, keduanya dihubungkan dengan lajur lalu lintas darat bebas hambatan Jakarta-Merak yang menjadi jalur utama lalu lintas perekonomian antara Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera.

B. Letak dan Kondisi Geografis

Kabupaten Tangerang mempunyai garis pantai sepanjang 51 Km, terdiri dari 29 kecamatan dengan jumlah desa sebanyak 246 desa dan 28 kelurahan.

Tabel 2.1

Luas Wilayah dan Persentase menurut Kecamatan di Kabupaten Tangerang, tahun 2017

No. Kecamatan Luas Km2 Persentase (%)

1 Cisoka 29.98 3.12

2 Solear 29.01 3.02

3 Tigaraksa 48.74 5.08

4 Jambe 26.02 2.71

5 Cikupa 42.68 4.45

(18)

9

No. Kecamatan Luas Km2 Persentase (%)

6 Panongan 34.93 3.64

7 Curug 27.41 2.86

8 Kelapa Dua 24.38 2.54

9 Legok 35.13 3.66

10 Pagedangan 45.69 4.76

11 Cisauk 27.77 2.89

12 Pasar Kemis 25.92 2.7

13 Sindang Jaya 37.15 3.87

14 Balaraja 33.56 3.5

15 Jayanti 23.89 2.49

16 Sukamulya 26.94 2.81

17 Kresek 25.97 2.71

18 Gunung Kaler 29.63 3.09

19 Kronjo 44.23 4.61

20 Mekar Baru 23.82 2.48

21 Mauk 51.42 5.36

22 Kemiri 32.7 3.41

23 Sukadiri 24.14 2.52

24 Rajeg 53.7 5.6

25 Sepatan 17.32 1.8

26 Sepatan Timur 18.27 1.9

27 Pakuhaji 51.87 5.41

28 Teluknaga 40.58 4.23

29 Kosambi 29.76 3.1

TOTAL 959.61 100

Sumber : BPS Kabupaten Tangerang Tahun 2018

C. TOPOGRAFIS

Sebagian besar wilayah Kabupaten Tangerang merupakan dataran rendah, yang memiliki topografi relatif datar dengan kemiringan tanah rata- rata 0 - 3%. Ketinggian wilayah antara 0 - 85 m di atas permukaan laut.

Secara garis besar terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu :

1. Dataran rendah dibagian utara dengan ketinggian berkisar antara 0-25 meter di atas permukaan laut, yaitu Kecamatan Teluknaga, Mauk, Kemiri, Sukadiri, Kresek, Gunung Kaler, Kronjo, Mekarbaru, Pakuhaji, Sepatan dan Sepatan Timur.

2. Dataran tinggi di bagian tengah ke arah selatan dengan ketinggian antara 25 - 85 meter di atas permukaan laut. Kemiringan tanah rata- rata 0-8 % menurun ke Utara.

D. GEOLOGI / JENIS TANAH

Struktur batuan yang terbentuk di Kabupaten Tangerang adalah:

a. Alluvium, terdiri dari lempung, kerikil, kerakal.

(19)

10

b. Tuf Banten (Banten Tuff), terdiri dari batu apung dan batu pasir tuffan.

Kabupaten Tangerang bagian Utara merupakan daerah yang sedikit bergelombang lemah. Daerah ini termasuk dalam ketegori bentuk lahan bentukan asal pengendapan (alluvial).

Jenis tanah Kabupaten Tangerang secara keseluruhan terdiri dari aluvial kelabu, aluvial kelabu tua, asosiasi aluvial kelabu tua dan glei humus rendah, asosiasi glei humus, dan planosol, regosol coklat, asosiasi latosol merah dan latosol merah kecoklatan, padsolic kuning, asosiasi padsolic kuning, asosiasi padsolic kuning dan hidromorf kelabu. Dengan jenis tanah demikian memungkinkan untuk pengembangan pertanian dan budidaya.

Proses terjadinya tanah aluvial ini berlangsung karena adanya endapan sungai dan danau di daerah dataran dan daerah cekungan. Di wilayah dataran rendah dijumpai pula jenis tanah glei regosol dan sedikit padsolic yaitu asosiasinya.

Tekstur tanah adalah komposisi fraksi pasir, debu dan tanah liat pada agregat (massa) tanah, sehingga dapat dikelompokkan ke dalam kelas tekstur tanah yaitu : halus, sedang, dan kasar. Luas wilayah Kabupaten Tangerang berdasarkan pengelompokan tersebut terdiri dari :

- Tekstur halus : 60.549 Ha (54,53 %) - Tekstur sedang : 46.936 Ha (42,27 %) - Tekstur kasar : 3.553 Ha (3,20 %)

Tekstur tanah seperti ini sangat cocok untuk pengembangan budidaya pertanian dan tanaman keras.

E. Klimatologi

Kabupaten Tangerang merupakan wilayah dengan suhu yang relatif panas dengan kelembaban yang tinggi. Temperatur udara berdasarkan penelitian di Stasiun Meteorologi Kabupaten Tangerang rata-rata berkisar antara 24,7-32,50C, suhu maksimum tertinggi pada bulan Oktober yaitu 33,50C dan suhu minimum terendah pada bulan Juli-Agustus yaitu 24,20C.

Rata-rata kelembaban udara dan intensitas matahari sekitar 80,2 % dan 53,4

%. Keadaan curah hujan tertingi terjadi pada bulan Februari sedangkan rata- rata curah hujan dalam setahun adalah 390,4 mm. Hari hujan tertinggi pada bulan Februari dengan hari hujan sebanyak 24 hari.

Efektif tanah adalah tebalnya lapisan tanah dari permukaan tanah atau suatu lapisan di mana perakaran tanaman dapat menerobosnya. Kedalarnan

(20)

11

efektif tanah berpengaruh terhadap erosi dan pemilihan jenis tanaman yang cocok di suatu wilayah. Kabupaten Tangerang terbagi atas 3 kelas kedalaman efektif tanah, meliputi :

1. Kedalaman 30 60 cm seluas 33 Ha (0,03 %) 2. Kedalaman > 60 90 cm seluas 2.598 Ha (2,34 %) 3. Kedalaman > 90 cm seluas 101.777 Ha (91,66 %)

Tabel 2.2

Data Kliamtologi Kabupaten Tangerang

Uraian Data Nilai Satuan

DATA GEOGRAFIS

a. Luas Wilayah 959,6 km2

b. Ketinggian 85 mdpl

c. Sungai Terpanjang (S.

Cisadane) 414,3 Ha

d. Wilayah Terluas (Rajeg) 53,7 Ha e. Wilayah Terkecil (Sepatan) 17,32 Ha

IKLIM

a. Rata-rata Temperatur Udara 24,7 – 32,5 0C b. Rata-rata Kelembaban

Udara 80,2 %

c. Rata-rata Intensitas

Matahari 53,4 %

d. Rata-rata Curah Hujan 170,5 mm e. Rata-rata Kecepatan Angin 12,6 Km/Jam

F. Hidrologi

Potensi sumberdaya air di wilayah Kabupaten Tangerang digambarkan melalui kondisi sumber air permukaan dan air tanah. Kuantitas air sungai relatif cukup tinggi meskipun terjadi fluktuasi debit aliran yang cukup besar antara musim hujan dan musim kemarau, sedangkan kualitasnya menunjukkan adanya indikasi pencemaran di beberapa sungai. Kebutuhan air akan meningkat seiring pertumbuhan kegiatan dan jumlah penduduk Kabupaten Tangerang. Kebutuhan air ini harus tetap bisa dipenuhi dari sumber-sumber air yang ada, sehingga diperlukan tindakan pelestarian sumberdaya air, baik air permukaan maupun air tanah.

Air tanah secara umum memiliki potensi yang cukup tinggi, meskipun di beberapa Kecamatan (Kecamatan Mauk, Sukadiri, Kemiri, Kronjo, Pakuhaji, Teluk Naga dan Kecamatan Kosambi) terindikasi intrusi air laut dan

(21)

12

terjadinya eksploitasi air tanah yang cukup tinggi untuk kebutuhan industri karena terbatasnya sumber air permukaan.

Berdasarkan hasil penelitian Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang dengan Puskom dan IT FMIPA UI (2003) diketahui bahwa di sebagian wilayah Kabupaten Tangerang (meliputi enam kecamatan yaitu : Mauk, Rajeg, Pasar Kemis, Cikupa, Curug dan Legok) terdapat tiga lapisan akifer meliputi:

1. Akifer dangkal dengan kedalaman < 20 m yang didominasi oleh lapisan pasir;

2. Akifer menengah dengan kedalaman 20 – 70 m yang merupakan lapisan lempung formasi Bantam Atas;

3. Akifer dalam dengan kedalaman > 70 m yang merupakan bagian dari formasi Genteng dan formasi Bojongmanik.

Recharge akifer dangkal dan menengah berasal dari air hujan dan sungai/danau, sedang recharge akifer dalam melalui batuan formasi Bojongmanik di sebelah selatan yang tersingkap (outcroped) dengan elevasi yang lebih tinggi dibanding lokasi penelitian.

G. Penggunaan Lahan

Perkembangan penduduk yang cepat serta melimpahnya kegiatan industri dan permukiman di Wilayah Kabupaten Tangerang mengakibatkan banyak terjadi pergeseran lahan. Kecenderungan yang terjadi adalah beralihnya fungsi lahan, untuk itu perlu mendapatkan perhatian mengenai keseimbangan antara fungsi kawasan lindung dan kawasan budidaya serta aspek kesesuaian lahan.

Penggunaan lahan di Kabupaten Tangerang saat ini meliputi penggunaan untuk kawasan lindung dan penggunaan lahan untuk kawasan budidaya. Penggunaan lahan untuk kegiatan lindung meliputi sempadan pantai, danau/situ, dan sempadan sungai. Sedangkan penggunaan lahan untuk kegiatan budidaya meliputi perumahan perkotaan, perumahan perdesaan, perdagangan dan jasa, zona industri, kawasan industri, pertanian irigasi teknis, pertanian tadah hujan, kebun campuran, tegalan, perikanan (tambak), hutan, dan lain-lain.

Karakter perkembangan kawasan terbangun Kabupaten Tangerang tidak lepas dari keberadaan Kabupaten Tangerang yang berada pada perlintasan pergerakan antarwilayah serta jaringan jalan regional yang menghubungkan kota-kota utama di Provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa

(22)

13

Barat. Sebagai konsekuensinya kawasan terbangun yang mencakup permukiman perkotaan, permukiman perdesaan, perdagangan dan jasa, zona industri, kawasan industri industri dan fasilitas umum cenderung berkembang mengikuti pola jaringan jalan utama (linier).

Sejalan kondisi tersebut maka perkembangan Kabupaten Tangerang terjadi secara linier dengan titik orientasi perkembangan pada simpul poros jalur Lintas Tengah (poros Serang – Grogol) (terkonsentrasi pada pusat kota), sehingga distribusi kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan tidak merata. Hal ini menyebabkan tidak optimalnya pelayanan kota (kesenjangan perkembangan kegiatan di bagian Tengah (pusat kabupaten) dan selatan dengan bagian utara, terjadi konflik pemanfaatan ruang terbangun dan sebagainya.

Pola pengembangan fisik/tata guna lahan saat ini berupa pola ekstensifikasi dan intensifikasi. Pola intensifikasi lebih banyak dijumpai pada daerah terbangun di pusat-pusat kegiatan/pusat kota, sedangkan pola ekstensifikasi dijumpai pada daerah-daerah pinggiran kota atau daerah transisi.

Melihat progresifitas pembangunan Kabupaten Tangerang serta fungsi yang berkembang saat ini yang menekankan kepada kegiatan industri akan menimbulkan konsekuensi meningkatnya aktivitas penduduk di Kabupaten Tangerang. Peningkatan kegiatan tanpa diimbangi dengan pelayanan sarana dan prasarana yang memadai akan menimbulkan berbagai permasalahan yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, seperti misalnya permasalahan transportasi. Hal ini perlu diantisipasi dalam proses revisi RTRW Kabupaten Tangerang.

Tabel 2.3

Penggunaan Lahan Kabupaten Tangerang Tahun 2017

Penggunaan Lahan Eksisting Tahun 2017 (Ha)

No Kecamatan

Jalan, Pemukiman, Perkantoran, Sungai, dll

Tambak, Kolam, Empang,

Hutan Negara

Hutan Rakyat

Rumput/

Tanah

Kosong Sawah Tegalan/

Kebun Perkebunan Total

1 Cisoka 968 129 59 1228 314 - 2.698

2 Solear 955 319 144 1182 301 - 2.901

3 Tigaraksa 1393 374 125 526 1213 1243 - 4.874

4 Jambe 887 103 155 750 707 - 2.602

5 Cikupa 3458 148 39 149 251 223 - 4.268

6 Panorangan 2225 172 9 850 237 - 3.493

7 Curug 1984 157 10 2 270 318 - 2.741

8 Kelapa Dua 1801 110 10 517 - 2.438

(23)

14

Penggunaan Lahan Eksisting Tahun 2017 (Ha)

No Kecamatan

Jalan, Pemukiman, Perkantoran, Sungai, dll

Tambak, Kolam, Empang,

Hutan Negara

Hutan Rakyat

Rumput/

Tanah

Kosong Sawah Tegalan/

Kebun Perkebunan Total

9 Legok 1500 52 18 49 841 1053 - 3.513

10 Pagedangan 2613 587 239 424 706 - 4.569

11 Cisauk 1615 154 329 86 310 283 - 2.777

12 Pasar Kemis 1595 268 5 484 240 - 2.592

13 Sindang Jaya 1753 1 19 66 1314 562 - 3.715

14 Balaraja 1683 12 1142 519 - 3.356

15 Jayanti 780 39 98 16 1299 157 - 2.389

16 Sukamulya 1011 7 77 1451 148 - 2.694

17 Kresek 392 104 7 1857 237 - 2.597

18 Gunung Kaler 194 216 1 2 2510 40 - 2.963

19 Kronjo 1329 496 2417 181 - 4.423

20 Mekar Baru 90 91 2183 18 - 2.382

21 Mauk 978 872 16 2805 439 32 5.110

22 Kemiri 873 666 1589 142 3.270

23 Sukadiri 626 65 1666 57 2.414

24 Rajeg 1658 357 33 2453 869 5.370

25 Sepatan 1054 3 9 650 16 1.732

26 Sepatan Timur 752 50 4 849 172 1.827

27 Pakuhaji 1325 822 1 22 2559 399 5.128

28 Teluknaga 983 1525 24 98 1315 50 3.995

29 Kosambi 2256 371 321 28 2.976

Total 38.731 7.680 1.654 1.373 36.193 10.176 32 95.807

Sumber: Kabupaten Tangerang dalam Angka, 2018

2.1.1.2 Wilayah Rawan Bencana

Wilayah Kabupaten Tangerang memiliki potensi kebencanaan yang cukup tinggi. Potensi bencana geologi berupa gempa bumi merupakan potensi kebencanaan yang relatif sama tingginya dengan daerah lain di sepanjang pantai utara yang membentang di seluruh wilayah Pantura.

Potensi kebencanaan ini dapat menimbulkan kerusakan yang parah karena sebagian besar wilayah perkotaan berkembang di pesisir pantai barat.

Potensi kebencanaan yang ada di wilayah Kabupaten Tangerang meliputi:

a) Potensi bencana geologi; berupa bencana gempa bumi yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Tangerang.

b) Potensi bencana tsunami; umumnya tersebar di sepanjang pesisir pantai utara yang berjarak 1 km dari bibir pantai. Daerah yang memiliki resiko dampak parah yaitu pada kecamatan kronjo, Kemeri dan Mauk.

c) Potensi bencana banjir; berupa banjir rob (pasang surut)

d) Potensi kekeringan; terjadi akibat curah hujan di suatu kawasan jauh dibawah curah hujan normal dalam waktu lama. Bencana ini dipicu

(24)

15

oleh perubahan siklus iklim global yang ditandai dengan meningkatnya temperatur rata-rata atmosfir, laut, dan daratan.

2.1.1.3 Demografi

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik penduduk Kabupaten Tangerang pada tahun 2017 berjumlah 3.584.770 orang terdiri dari 1.833.470 orang laki-laki dan 1.751.300 orang perempuan. Laju pertumbuhan penduduk pertahun dalam kurun waktu satu tahun terakhir sebesar 3,17%.

Tabel. 2.4

Jumlah Penduduk Laki-laki dan Perempuan Kabupaten Tangerang Tahun 2017

No. Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah Rasio Jenis

Kelamin

1 Cisoka 49,923 46,593 96,516 107.15

2 Solear 47,799 45,942 93,741 104.04

3 Tigaraksa 82,316 78,817 161,133 104.44

4 Jambe 23,393 22,195 45,588 105.40

5 Cikupa 149,218 139,847 289,065 106.70

6 Panongan 73,544 71,017 144,561 103.56

7 Curug 110,835 104,198 215,033 106.37

8 Kelapa Dua 117,326 119,053 236,379 98.55

9 Legok 65,010 60,453 125,463 107.54

10 Pagedangan 61,852 59,115 120,967 104.63

11 Cisauk 43,912 42,293 86,205 103.83

12 Pasar Kemis 175,422 169,648 345,070 103.40

13 Sindang Jaya 49,319 47,403 96,722 104.04

14 Balaraja 69,424 65,272 134,696 106.36

15 Jayanti 37,621 36,430 74,051 103.27

16 Sukamulya 34,004 32,817 66,821 103.62

17 Kresek 33,588 32,619 66,207 102.97

18 Gunung Kaler 26,668 26,344 53,012 101.23

19 Kronjo 31,850 30,467 62,317 104.54

20 Mekar Baru 19,739 18,698 38,437 105.57

21 Mauk 42,386 40,907 83,293 103.62

22 Kemiri 23,078 21,251 44,329 108.60

23 Sukadiri 29,230 27,225 56,455 107.36

24 Rajeg 90,982 87,269 178,251 104.25

25 Sepatan 63,614 59,433 123,047 107.03

26 Sepatan Timur 49,729 47,195 96,924 105.37

27 Pakuhaji 59,465 56,517 115,982 105.22

(25)

16

No. Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah Rasio Jenis

Kelamin

28 Teluknaga 85,518 81,540 167,058 104.88

29 Kosambi 86,705 80,742 167,447 107.39

Jumlah/Total 1,833,470 1,751,300 3,584,770 104.69

Sumber : Tangerang Dalam Angka/BPS Tahun 2018

Sex Ratio penduduk Kabupaten Tangerang 104,69 yang artinya jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan.

atau setiap 100 perempuan terdapat 104 laki-laki. Sex Ratio terbesar terdapat di Kecamatan Kemiri yakni sebesar 108.60 dan yang terkecil terdapat di Kecamatan Kelapa Dua yakni sebesar 98.55 dan merupakan satu-satunya kecamatan yang mempunyai angka sex ratio dibawah 100 ,yang artinya setiap 100 perempuan hanya terdapat 98 laki-laki atau jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki.

Perkembangan jumlah penduduk dari tahun 2013-2017 dapat dilihat sebagaimana tabel dan dan grafik pertumbuhan penduduk dari tahun 2012- 2017.

Tabel 2.5

Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2017

Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah

0 – 4 183,461 176,294 359,755

5 – 9 177,124 168,973 346,097

10 – 14 154,968 149,093 304,061

15 – 19 161,991 156,944 318,935

20 – 24 170,600 160,833 331,433

25 – 29 170,757 165,613 336,370

30 – 34 169,053 170,598 339,651

35 – 39 160,834 159,736 320,570

40 – 44 141,779 128,731 270,510

45 – 49 111,203 96,495 207,698

50 – 54 83,167 73,056 156,223

55 – 59 58,535 52,361 110,896

60 – 64 40,224 37,477 77,701

65 – 69 24,200 23,284 47,484

70 – 74 13,891 15,980 29,871

75+ 11,683 15,832 27,515

Jumlah 1,833,470 1,751,300 3,584,770

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten TangerangTahun 2018

(26)

17

2.1.2 ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

2.1.2.1 FOKUS KESEJAHTERAAN DAN PEMERATAAN EKONOMI A. Pertumbuhan PDRB

Selama periode 2013-2017, struktur ekonomi masyarakat Kabupaten Tangerang di dominasi dari kelompok lapangan usaha sekunder yang terlihat dari besarnya kenaikan/penurunan peranan masing-masing kelompok lapangan usaha terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Tangerang. Pada tahun 2017, kelompok usaha sekunder memberikan sumbangan sebesar 54,54% yang mengalami penurunan dibandigkan dengan tahun 2013 sebesar 57,14%. Kelompok lapangan usaha primer dan tersier memberikan sumbangan masing-masing sebesar 6,86% dan 38,61%. Kelompok lapangan usaha primer dan tersier ini mengalami kenaikan dibandingkan pada tahun 2013 yang masing-masing sebesar 6,71% dan 36,16%.

Apabila dilihat menurut lapangan usahanya, pada tahun 2017, lapangan usaha industri pengolahan memberikan sumbangan tertinggi sebesar 36,87%, kemudian disusul lapangan usaha Konstruksi sebesar 13,61%, lapangan perdagangan besar dan eceran;reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 10,92%. Selanjutnya lapangan usaha Real Estate menyumbang 7,22% dan lapangan usaha pertanian, Kehutanan, dan perikanan memberikan sumbangan sebesar 6,81%.

Perekonomian Kabupaten Tangerang tahun 2017 mengalami percepatan dibandingkan dengan pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Tangerang tahun 2017 mencapai 5,84%, sedangkan tahun 2015 dan 2016 sebesar 5,60% dan 5,36%. Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Real Estate sebesar 10,03%.

Seluruh lapangan usaha ekonomi yang lain pada tahun 2017 mencatat pertumbuhan yang positif, kecuali lapangan usaha Pengadaan Listrik dan Migas.

Adapun lapangan usaha lainnya yang mencatat pertumbuhan positif, berturut-turut adalah Konstruksi sebesar 9,92%, Jasa Pendidikan sebesar

(27)

18

9,68%, jasa lainnya sebsar 9,67%, jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 9,51%. Penyediaan akomodasi dan makan minuman sebesar 9,01%, transportasi dan pergudangan sebesar 8,86%, pengadaan air, pengolahan sampah, limbah dan daur ulang sebesar 8,13%, informasi dan komunikasi sebesar 8,11%, JAsa Administrasi Pemerintahan, pertanahan dan jaminan sosial wajib sebesar 6,13%, Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Motor sebesar 5,41%, pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 5,33%. Jasa keuangan dan asuransi sebesar 5,21%, industri pengolahan sebesar 3,63%, dan pertambangan dan penggalian sebesar 2,28%. Sedangkan lapangan usaha Pengadaan Listrik dan Gas mengalami penyusutan sebesar 7,25%.

Tabel 2.6

Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Tangerang Menurut Kategori Lapangan Usaha (persen) 2013 – 2017

Lapangan Usaha 2013 2014 2015 2016* 2017**

A Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan 6.41 4.46 4.5 5.39 5.33

B Pertambangan dan Penggalian -5.4 3.44 2.3 2.27 2.28 C Industri Pengolahan 7.24 0.82 3.16 2.92 3.63 D Pengadaan Listrik dan Gas -4.88 8.61 -2.22 -11.14 -7.25 E Pengadaan Air, Pengelolaan

Sampah. Limbah dan Daur Ulang 4.75 8.33 5.05 7.38 8.13

F Konstruksi 9.88 12.42 9.59 7.58 9.92

G Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 4.01 6.39 5.71 3.48 5.41 H Transportasi dan Pergudangan 6.16 9.27 8.62 9.46 8.86

I Penyediaan Akomodasi dan

Makan Minum 4.26 11.24 7.24 7.75 9.01

J Informasi dan Komunikasi 5.19 18.78 10.07 8.62 8.11 K Jasa Keuangan dan Asuransi 8.06 4.09 7.86 16.97 5.21

L Real Estat 6.6 9.16 8.88 9.08 10.03

M.N Jasa Perusahaan 7.01 7.5 6.51 6.93 7.72

O

Administrasi Pemerintahan.

Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

1.74 7.87 9.13 9.1 6.13

P Jasa Pendidikan 3.41 8.86 9.25 9.19 9.68

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan

Sosial 2.08 7.95 7.65 8.58 9.51

(28)

19

Lapangan Usaha 2013 2014 2015 2016* 2017**

R.S.T.U Jasa lainnya 6.36 7.27 7.12 8.45 9.67

Produk Domestik Regional Bruto 6.41 5.37 5.6 5.36 5.84 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten TangerangTahun 2018

* Angka Sementara

** Angka Sangat Sementara

Tabel 2.7

PDRB Kabupaten Tangerang Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2013 - 2017 (Juta Rupiah)

KAT-

EGORI URAIAN 2013 2014 2015 2016* 2017**

A

Pertanian.

Kehutanan. dan Perikanan

4,383,527.18 4,578,933.08 4,784,900.83 5,042,833.79 5,311,802.56

B Pertambangan

dan Penggalian 32,405.59 33,521.01 34,291.40 35,069.81 35,868.78 C Industri

Pengolahan 30,586,738.98 30,836,158.49 31,809,340.84 32,739,478.87 33,927,003.68 D Pengadaan

Listrik dan Gas 1,620,271.11 1,759,703.63 1,720,663.85 1,528,964.95 1,418,091.47

E

Pengadaan Air.

Pengelolaan Sampah.

Limbah dan Daur Ulang

53,373.79 57,821.46 60,743.20 65,225.95 70,530.82

F Konstruksi 7,501,833.06 8,433,393.43 9,242,362.20 9,942,933.26 10,929,515.52

G

Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

8,110,604.99 8,629,025.19 9,121,795.75 9,439,636.98 9,949,894.84

H

Transportasi dan

Pergudangan

1,757,150.03 1,920,099.90 2,085,520.07 2,282,779.10 2,485,124.20

I

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

935,696.91 1,040,875.69 1,116,259.48 1,202,815.97 1,311,136.71

J Informasi dan

Komunikasi 2,889,537.67 3,432,313.02 3,777,946.94 4,103,605.97 4,436,548.55 K Jasa Keuangan

dan Asuransi 3,134,515.05 3,262,769.73 3,519,070.98 4,116,294.40 4,330,801.41 L Real Estate 4,933,439.75 5,385,274.28 5,863,712.39 6,396,137.47 7,037,581.18

(29)

20

KAT-

EGORI URAIAN 2013 2014 2015 2016* 2017**

M.N Jasa

Perusahaan 624,475.19 671,314.00 715,000.77 764,550.33 823,604.19

O

Administrasi Pemerintahan.

Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

915,297.74 987,376.54 1,077,540.49 1,175,561.18 1,247,584.35

P Jasa

Pendidikan 1,433,574.15 1,560,574.35 1,704,856.03 1,861,532.30 2,041,728.63

Q

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

263,965.07 284,944.38 306,746.47 333,065.32 364,739.83

R.S.T.U Jasa lainnya 889,576.98 954,286.53 1,022,194.12 1,108,558.56 1,215,756.18

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten TangerangTahun 2018

* Angka Sementara

** Angka Sangat Sementara

B. Laju Inflasi

Laju inflasi merupakan ukuran yang dapat menggambarkan kenaikan/penurunan harga dari sekelompok barang dan jasa yang berpengaruh terhadap kemampuan daya beli masyarakat. Berdasarkan pemantauan Badan Pusat Statistik terhadap 417 jenis barang dan jasa serta hasil Survei Biaya Hidup (SBH) tahun 2012 di Kota Serang, Tangerang dan Cilegon baik secara mingguan, dua mingguan maupun bulanan, diketahui pada bulan Desember 2017 sebanyak 216 komoditas mengalami perubahan harga. Rincian lengkapnya adalah 141 komoditas mengalami kenaikan harga dan sisanya sebanyak 75 komoditas mengalami penurunan harga. Angka inflasi disajikan sebagai berikut.

Tabel 2.8

Perkembangan Inflasi di Kabupaten Tangerang Tahun 2012-2017

Uraian Tahun

2012 2013 2014 2015 2016 2017 Kabupaten Tangerang 6,08 10,02 10.03 3.94 2,65 3,50

Provinsi 6,10 9,65 10.20 4,29 2,94 3,98 Nasional 6,96 8,38 8,36 3,35 3,02 3,61 Sumber : Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Provinsi Banten, 2012 - 2017

Inflasi Kabupaten Kabupaten Tangerang sampai saat ini masih mengacu pada Inflasi Kota Tangerang, hal tersebut karena Kabupaten

(30)

21

Tangerang belum dipilih oleh BPS RI sebagai acuan penghitungan inflasi pada kota-kota di Indonesia. Pada periode tahun 2012-2017, laju inflasi di Kabupaten Tangerang menunjukkan fluktuasi dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 24,28% per tahun dan kecenderungannya menurun. Nilai inflasi tertinggi Kabupaten Tangerang adalah pada tahun 2014, yaitu sebesar 10,81% dan nilai inflasi pada tahun 2016 adalah yang terendah, yaitu 2,65%.

C. PDRB Per Kapita

Pada tahun 2017, secara agregat PDRB per kapita Kabupaten Tangerang mencapai 33,28 juta rupiah atau senilai US$ 2.487,38 meningkat 5,83% bila dibandingkan dengan tahun 2016 yang sebesar 31,44 juta rupiah (US$ 2.363,10). Peningkatan tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan peningkatan pada tahun 2016 lalu, tetapi masih lebih rendah bila dibandingkan peningkatan pada tahun-tahun 2014-2015, yaitu berturut- turut sebesar 7,72% dan 9,74%.

Tabel 2.9

PDRB perkapita Kabupaten Tangerang Tahun 2013 - 2017

Lapangan Usaha 2013 2014 2015 2016* 2017**

PDRB per Kapita (Juta rupiah) 25,51 28,00 30,16 31,44 33,28

PDRB per Kapita (US $) 2.439,83 2.358,87 2.251,92 2.363,10 2.487,38 Indeks Perkembangan PDRB per kapita (2010=100) 124,47 136,59 147,14 153,40 162,35 Pertumbuhan PDRB per Kapita (persen) 7,66 9,74 7,72 4,25 5,83

D. Penduduk Dibawah Garis Kemiskinan

Kemiskinan didasarkan pada ketidakmampuan individu untuk mendapatkan sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak. Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan konsep kemiskinan absolute yang pengukuran tingkat kemiskinan didasarkan pada satu garis yang disebut sebagai Garis Kemiskinan (GK). Garis kemiskinan ini terdiri dari 2 komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).

Masalah kemiskinan merupakan salah satu permasalahan mendasar yang menjadi pusat perhatian Pemerintah Daerah. Perkembangan Prosentase

(31)

22

Penduduk Miskin dan Garis Kemiskinan Kabupaten Tangerang Tahun 2013- 2017 dapat di lihat pada table berikut :

Gambar 2.1

Persentase Penduduk Miskin dan Garis Kemiskinan (GK) Tahun 2013-2017

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Tangerang 2017

Berdasarkan data yang telah dirilis oleh BPS prosentase penduduk miskin Kabupaten Tangerang tahun 2017 sekitar 5,39% atau sebanyak 191,62 ribu orang, kenaikan dari tahun 2016 yang hanya 182,5 ribu orang dengan kenaikan sebanyak 9,1 ribu orang. Prosentase penduduk miskin berada dibawah garis kemiskinan yang pada tahun 2017 senilai Rp.423.486 /kapita/bulan.

Gambar 2.2

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin 2013-2017

335291 351789 372431

405902 423486

5,78

5,26

5,71

5,29

5,39

5 5,1 5,2 5,3 5,4 5,5 5,6 5,7 5,8 5,9

0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 350000 400000 450000

2013 2014 2015 2016 2017

GK (000 rupiah) Prosentase Penduduk Miskin

Gambar

Tabel    2.1          Luas  Wilayah  dan  Persentase  Menurut  Kecamatan  di  Kabupaten Tangerang, Tahun 2017  ....................
Tabel  2.59      Hasil  Evaluasi  dan  Penilaian  AKIP  Kabupaten  Tangerang  Tahun 2013-2017  ................................................
Gambar 3.1  Komposisi Tenaga kerja Berdasarkan lapangan Pekerjaan di     Kabupaten Tangerang Tahun 2018  .....................

Referensi

Dokumen terkait

2 05 01 24 01 Kajian kawasan budidaya laut, air payau dan air tawar Terlasananya Pedataan Potensi Kelautan dan Perikanan Tahun 2015. Tersedianya data

Pejabat Pengadaan Barang/Jasa Balai Perikanan Budidaya Air Payau

SEKSI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA AIR PAYAU DAN AIR LAUT UPT BALAI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERIKANAN BUDIDAYA (BPTPB) DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN DIYf.

b) Kegiatan air payau (usaha budidaya perikanan yang dilakukan di perairan payau atau kawasan pasang surut dan biasa dikenal dengan tambak).. c) Kegiatan budidaya laut

bidangperikanan budidaya pembesaran dan perbenihan ikan air tawar, laut dan payau serta Perumusan Kebijakan Teknis Kesehatan Ikan dan Lingkungan;5. pelaksanaan program

PERJANJIAN KINERJA PERUBAHAN TAHUN 2020 SEKSI SARANA DAN PRASARANA BUDIDAYA IKAN AIR PAYAU. BIDANG PERIKANAN BUDIDAYA

Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau Maros 6 Abdul Mansyur Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau Maros 7 Achmad Fitriyanto Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan 8 Achmad

Untuk mengukur dan mengevaluasi hasil pembangunan perikanan budidaya selama Periode Tahun 2015 – 2019, Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam telah merumuskan