• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.5 Organizational Citizenship Behavior (OCB)

2.1.5.2 Indikator Organizational Citizenship Behavior

Terdapat 5 aspek dalam OCB yang disebutkan Organ (dalam Purba &

Seniati, 2016:67-68) yang apabila dilihat secara luas dapat memberikan sumbangan pada hasil kerja organisasi secara keseluruhan, yaitu:

1. Altruism, yaitu perilaku membantu meringankan pekerjaan yang ditujukan kepada individu dalam suatu organisasi.

2. Courtesy, yaitu perilaku membantu teman kerja untuk mencegah timbulnya masalah sehubungan dengan pekerjaannya dengan cara memberi konsultasi dan informasi serta menghargai kebutuhan mereka.

3. Sportmanship, yaitu perilaku toleransi pada situasi yang kurang menyenangkan dan kurang ideal di tempat kerja tanpa mengeluh. Dimensi ini kurang dapat perhatian dalam penelitian empiris.

4. Civic virtue, yaitu perilaku terlibat dalam kegiatan-kegiatan organisasi dan peduli pada kelangsungan hidup organisasi. Civic Virtue adalah perilaku secara sukarela berpartisipasi, bertanggungjawab dan terlibat dalam mengatasi masalah-masalah organisasi demi kelangsungan organisasi.

5. Conscientiousness, yaitu perilaku yang terlihat ketika individu melakukan hal-hal yang menguntungkan organisasi seperti mematuhi peraturan- peraturan yang berlaku di organisasi.

Williams dan Anderson (dalam Purba & Seniati, 2016:69) mempunyai skala tujuh item OCB-O dan tujuh item OCB-I yang dikembangkan sebagai bagian dari disertasi doktor Williams (1988). Di samping itu, Williams mengembangkan item baru berdasarkan definisi konseptual, ia juga mengembangkan skala untuk mengukur karyawan perilaku in-role. Dimensi organizational citizenship behavior menurut pandangan Williams dan Anderson yaitu Organizational citizenship behavior–individual (OCB-I) dan Organizational citizenship behavior – organizational (OCB-O).

Menurut Bateman dan Organ (dalam Gonzalez dan Garazo, 2016: 62) menemukan bahwa Organizational Citizenship Behavior (OCB) terdiri atas empat dimensi yaitu: comformity, cooperation, punctually dan expence. Podsakoff et al.

(dalam Castrot al, 2016) membagi Organizational Citizenship Behavior (OCB) menjadi tujuh kategori yaitu: helping behavior, sportmanship, individual initiative, civic virtue, organizational commitment, compliance, dan personal development.

Menurut Graham dalam Ahdiyana (2016:153), mengemukakan tiga bentuk Organizational Citizenship Behavior (OCB), diantaranya;

1) Obedient, yaitu perilaku yang mengambarkan kemauan karyawan untuk menerima dn memenuhi peraturan dan prosedur organisasi,

2) Loyalty yaitu perilaku yang menempatkan kepentingan pribadi mereka untuk keuntungan dan kelangsungan organisasi,

3) Participation yaitu mengambarkan kemauan karyawan untuk secara aktif mengembangkan seluruh aspek kehidupan organisasi.

Berdasarkan urian di atas dapat disimpulkan bahwa OCB menimbulkan dampak positif bagi organisasi, sehingga sangatlah penting semua indikator OCB bagi organisasi untuk meningkatkan OCB dikalangan karyawannya.

2.1.6 Penelitian Terdahulu

Dasar atau acuan berupa teori-teori atau temuan-temuan melalui hasil berbagai penelitian sebelumnya merupakan hal yang sangat perlu dan dapat dijadikan sebagai data pendukung. Peneliti melakukan langkah kajian terhadap beberapa hasil penelitian berupa jurnal-jurnal melalui internet yang relevan dengan permasalahan yang sedang dibahas dalam penelitian ini. Beberapa penelitian terdahulu dengan hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.1

.

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu N

o

Peneliti, Judul, Tahun

Metode dan

Analisis Data Hasil Penelitian Sumber

1 2 3 4 5

1 Handita Fala dkk.

Peran Komitmen Afektif, Kecerdasan Emosional dan Dukungan Organisasional Terhadap Organizational Citizenship Behavior Studi Pada Dinas Perindustrian dan

Perdagangan DI

Yogyakarta.

(2020)

Metode penelitian kuantitatif dianalisis menggunakan analisis regresi berganda. Nilai koefisien determinasi dan output berupa nilai t dan nilai F.Uji kualitas data melalui uji validitas, reliabilitas dan uji asumsi klasik.

- Komitmen afektif

berpengaruh negatif terhadap Variabel OCB

- Kecerdasan Emosional berpengaruh positif terhadap OCB

- Dukungan Organisasional berpengaruh positif terhadap OCB

- Komitmen Afektif ke Kecerdasan Emosional dan Dukungan Organisasional secara simultan berpengaruh positif terhadap OCB

Jurnal Ilmiah Manajemen Kesatuan Vol. 9 No.

1 ISSN:

2337-7860

2 Heny Indriani.

Pengaruh Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Emosi, Sikap Budaya

Organisasi, dan Komitmen Organisasi Terhadap Organizational Citizenship Behavior pada Guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Teknologi dan Industri di

Metode penelitian kuantitatif dan digunakan regresi linier berganda dan ujihoptesis.

Sebelumnya dilakukan uji asumsi klasik yaitu

Multikolinearit as,

Autokorelasi.

- Kecerdasan Spiritual memberikan pengaruh yang positif terhadap

OCB

- Kecerdasan Emosional memberikan pengaruh yang positif terhadap OCB - Sikap Budaya Organisasi

memberikan pengaruh yang positif terhadap

OCB

- Komitmen Organisasi memberikan pengaruh yang positif terhadap

OCB

Jurnal Bisnis dan Manajemen (JBIMA) Vol.5 No.02 ISSN : 2338-9729

Kabupaten Tegal.

(2017) 3 Triana

Fitriastuti.

Pengaruh Kecerdasan Emosional, Komitmen Organisasional dan

OCB terhadap kinerja

karyawan di Kalimantan Timur (2013)

Penelitian yang digunakan adalah metode survei

terstruktur melalui kuesioner dengan pertanyaan tertutup.

Analisis data melalui regresi linier, korelasi, determinasi, dan uji hipotesis

- Kecerdasan emosional berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan.

- Komitmen organisasional berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan.

- Kecerdasan emosional dan Komitmen Organisasional berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan.

Jurnal Dinamika Manajemen Vol.2 No.02 ISSN:

2086-0668

4 Adi Putra dkk.

Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Komitmen Organisasional Terhadap Kinerja Karyawan Bagian Busana Roxy Square Mall Jember dengan OCB Sebagai Variabel Intervening (2020)

Analisis data dilakukan dengan uji instrumen yang terdiri uji validitas, reliabilitias, uji normalitas data,analisis jalur,uji asumsi klasik, analisis regresi linier, korelasi, determinasi dan uji hipotesis.

- Kecerdasan Emosional pengaruh positif terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB)

- Komitmen organisasional berpengaruh positif terhadap perilaku Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada karyawan

Jurnal Ekonomi Akuntansi Manajemen Vol.11 No.01 ISSN : 1412-5366

5 Permata Sakti dkk.

Pengaruh Kecerdasan Emosional, Komitmen Organisasional dan

Organizational

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif.

Sedangkan sifat

penelitian ini bersifat

- Kecerdasan emosional berpengaruh positif terhadap kinerja

- Organizational Citizenship Behavior (OCB) berpengaruh positif terhadap kinerja

Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis Vol.21 No.

01

ISSN 1693- 7619

Citizenship Behavior terhadap Kinerja.

(2020)

deskriptif explanatory yaitu bertujuan mengurai dan menjelaskan kedudukan variabel.

6 Anjar

Fatmawati dkk.

Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Perceived Organizational Support

Terhadap Organizational Citizenship Behavior dengan Komitmen Organisasi Sebagai Variabel Intervening (Studi pada PNS di Badan Pusat Statistik Kabupaten Kebumen) (2022)

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif.

Analisis data menggunakan regresi linier, korelasi, determinasi dna pengujian hipotesis serta teknik

pengambilan sampel pada penelitian non probability sampling.

- Kecerdasan Emosional berpengaruh positif terhadap Komitmen Organisasi pada PNS di Badan Pusat Statistik Kabupaten Kebumen.

- Perceived Organizational Support berpengaruh positif terhadap Komitmen Organisasi pada PNS di Badan Pusat Statistik Kabupaten Kebumen.

- Kecerdasan Emosional berpengaruh terhadap Organizational Citizenship Behavior pada PNS di Badan Pusat Statistik Kabupaten Kebumen

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Manajemen , Bisnis dan Akuntansi Vol.4 N0.02 ISSN:

2721-2777

7 Ni Luh Putu Eka Yudi Prastiwi.

Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Komitmen Organisasional Terhadap Kinerja Karyawan melalui OCB

Alalisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah modeal persamaan struktural (Structual Equation Modeling- SEM) berbasis variance

- Semakin tinggi Kecerdasan Emosional yang dimiliki karyawan maka semakin tinggi pula (OCB) karyawan di rumah sakit Umum Shanti Graha.

- Semakin tinggi Komitmen Organisasional yang dimiliki karyawan maka semakin tinggi pula (OCB) karyawan di rumah sakit Umum Shanti Graha.

Jurnal Kajian Ekonomi dan Bisnis Vol.11 No.2 ISSN : 0853-8565

pada Rumah Sakit Umum Shanti Graha.

(2018) 8 Yunita dkk.

Organizational Citizhenship Behavior Memediasi Pengaruh Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Emosional, Komitmen Afektif terhadap Kinerja Pegawai.

(2021)

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode survey.

Analisis data menggunakan regresi linier, korelasi, determinasi dna pengujian hipotesis

- Kecerdasan Spiritual

berpengaruh positif terhadap Kinerja Pegawai

- Komitmen Afektif

berpengaruh positif terhadap Kinerja Pegawai.

- Organizational Citizenship Behavior berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai.

- Organizational Citizenship Behavior memediasi secara positif signifikan pengaruh kecerdasan spiritual terhadap kinerja pegawai.

- Organizational Citizenship Behavior memediasi secara positif signifikan pengaruh komitmen afekif terhadap kinerja pegawai.

Majalah Ilmiah Manajemen

& Bisnis (MIMB) Vol.18 No.2 ISSN : 1411 - 1977

9 Indi

Ramadhani.

Studi Determinasi Kecerdasan Emosi, Kepuasan Kerja, dan Komitmen Organisasi terhadap Organizational Citizenship Behaviour.

(2017)

Metode

penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survey.

Analisis data menggunakan regresi linier, korelasi, determinasi dna pengujian hipotesis

- Kecerdasan emosional mempunyai pengaruh yang positif terhadap

Organizational Citizenship Behaviour

- Komitmen Organisasi berpengaruh positif terhadap Organizational Citizenship Behaviour

- Kecerdasan emosi, kepuasan kerja serta komitmen

organisasi berpengaruh positif terhadap Organizational Citizenship Behaviour -

1 0

Irene Goller.

Pengaruh Kecerdasan Emosional, Komitmen Organisasional , dan Budaya Organisasi

Metode

penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif.

Analisis data

- Kecerdasan emosional berpengaruh positif terhadap Organizational Citizenship Behaviour.

- Komitmen organisasional berpengaruh positif terhadap Organizational Citizenship Behaviour.

E_Jurnal Manajemen Vol. 9 No. 7 ISSN: 2302- 8912

Terhadap Organizational Citizenship Behaviour.

(2020)

menggunakan regresi linier, korelasi, determinasi dna pengujian hipotesis

- Budaya organisasi

berpengaruh positif terhadap Organizational Citizenship Behaviour.

2.2 Kerangka Penelitian

Setiap individu memiliki kemampu yang berbeda-beda. Kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu di bagi menjadi 3 kemampuan yaitu Kecerdasan intelektual (Intellegence Quotient), Kecerdasan Emosional (Emosional Quotient), dan Kecerdasan Spiritual (Spiritual quotient). Keseimbangan dalam ketiga hal ini dapat membuat individu diterima di berbagai bidang. Namun, kecerdasan emosional merupakan hal penting dalam menentukan karakter individu, terutama dalam mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Karyawan yang memiliki komitmen tinggi pada organisasi, akan melakukan apapun untuk memajukan perusahaan karena yakin dan percaya pada organisasi di mana karyawan tersebut bekerja (Luthans, 2016: 163). Begitu juga dengan Organizational Citizenship Behavior dapat timbul dari berbagai faktor dalam organisasi, di antaranya karena adanya kepuasan kerja dan komitmen karyawan (Robbin & Judge, 2018: 142). Ketika karyawan merasa puas dengan apa yang ada dalam organisasi, maka karyawan akan memberikan hasil kinerja yang maksimal dan terbaik.

Kecerdasan emosional menurut Salovey dalam Casmini (2016:20) bahwa kecerdasan emosional sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri

maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk mengembangkan pikiran dan tindakan.

Titimaea dalam Efendi dan Sutanto (2016:2) mengungkapkan lima indikator dari kecerdasan emosional yaitu; self awareness yaitu kemampuan seseorang untuk memahami berbagai potensi dalam dirinya menyangkut kelebihan yang dimiliki maupun kelemahannya. Self regulation yaitu Kemampuan seseorang untuk mengontrol atau mengendalikan emosi dalam dirinya. Self motivation yaitu kemampuan untuk memotivasi diri sendiri yang dilihat dari beberapa komponen. Social awareness yaitu kesadaran sosial adalah pemahaman dan sensitivitas terhadap perasaan, pemikiran, dan situasi orang lain (Social awareness refers to having understanding and sensitivity to the feelings, thoughts, and situations of others). Dan social skill yaitu kemampuan untuk menjalin hubungan sosial yang didasarkan pada komponen.

Komitmen organisasi menurut Sutrisno (2016: 292) merupakan kemauan usaha yang tinggi untuk organisasi dan suatu keyakinan tertentu dalam penerimaan terhadap nilai-nilai organisasi. Komitmen pada organisasi tersebut juga membahas kedekatan karyawan merefleksikan kekuatan keterlibatan dan kesetiaan karyawan pada organisasi.

Menurut Sutrisno (2016:301) mengemukakan bahwa indikator komitmen organisasi adalah komitmen efektif (Affective Commitment) ialah kuatnya keinginan seseorang dalam bekerja bagi organisasi atau perusahaan disebabkan karena dia setuju dengan tujuan-tujuan organisasi tersebut dan ingin melakukanya.

Komitmen kontinuan (Continuance Commitment) ialah kuatnya keinginan

seseorang dalam melanjutkan pekerjaannya bagi organisasi disebabkan karena dia membutuhkan pekerjaan tersebut dan tidak dapat melakukan pekerjaan yang lain.

Komitmen normative (Normative Commitment) ialah kuatnya keinginan seseorang dalam melanjutkan pekerjaanya bagi organisasi disebabkan karena dia merasa berkewajiban dari orang lain untuk dipertahankan.

Organizational Citizenship Behavior menurut Johns (dalam Budihardjo, 2016: 98) memiliki karakteristik perilaku sukarela / extra-role behavior yang tidak termasuk dalam uraian jabatan, perilaku spontan,tanpa saran atau perintah tertentu, perilaku yang bersifat menolong, serta perilaku yang tidak mudah terlihat serta dinilai melalui evaluasi kinerja.

Terdapat 5 aspek dalam OCB yang disebutkan Organ (dalam Purba &

Seniati, 2016:67-68) yang apabila dilihat secara luas dapat memberikan sumbangan pada hasil kerja organisasi secara keseluruhan, yaitu: Altruism, yaitu perilaku membantu meringankan pekerjaan yang ditujukan kepada individu dalam suatu organisasi. Courtesy, yaitu perilaku membantu teman kerja untuk mencegah timbulnya masalah sehubungan dengan pekerjaannya dengan cara memberi konsultasi dan informasi serta menghargai kebutuhan mereka. Sportmanship, yaitu perilaku toleransi pada situasi yang kurang menyenangkan dan kurang ideal di tempat kerja tanpa mengeluh. Dimensi ini kurang dapat perhatian dalam penelitian empiris. Civic virtue, yaitu perilaku terlibat dalam kegiatan-kegiatan organisasi dan peduli pada kelangsungan hidup organisasi. Civic Virtue adalah perilaku secara sukarela berpartisipasi, bertanggungjawab dan terlibat dalam mengatasi masalah-masalah organisasi demi kelangsungan organisasi.

Conscientiousness, yaitu perilaku yang terlihat ketika individu melakukan hal-hal yang menguntungkan organisasi seperti mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku di organisasi.

Kecerdasan emosional dan komitmen organisasi berpengaruh terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) sebagaimana diungkapkan teori dari Goleman (2016:18) bahwa kecerdasan emosional dapat membantu seorang karyawan dalam melaksanakan atau menjalankan pekerjaannya dan dapat pula memotivasi para karyawan melakukan perilaku kerja positif yang ekstra secara tulus dan membantu membangun relasi sosial dalam lingkungan keluarga, lingkungan kerja atau kantor, maupun lingkungan sosial masyarakat. Sedangkan pada komitmen organisasional, Robbins (2017:98) berpendapat bahwa meningkatkan kinerja karyawan dengan komitmen organisasional sangat terkait dengan apakah karyawan tersebut menganggap pekerjaan itu menarik dan ketika individu memiliki komitmen organisasional yang tinggi mereka cenderung terlibat dalam lebih banyak terhadap organizational citizenship behavior.

Teori di atas sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Heny Indriani (2020) bahwa kecerdasan emosional memiliki pengaruh positif terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB). Selanjutnya penelitian dari Triana Fitriastuti (2013) yang menyatakan bahwa komitmen organisasi berpengaruh terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB).

Kerangka pemikiran tersebut dapat digambarkan dalam bentuk paradigm penelitian sebagai berikut:

Keterangan:

: Simultan : Parsial

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

2.3. Hipotesis

Dengan mengacu kepada kerangka pemikiran tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :

1. : Diduga terdapat pengaruh kecerdasan emosional terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada karyawan Rumah Sakit Prasetya Bunda Tasikmalaya.

2. : Diduga terdapat pengaruh komitmen organisasi terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada karyawan Rumah Sakit Prasetya Bunda Tasikmalaya.

3. : Diduga terdapat pengaruh kecerdasan emosional dan komitmen organisasi terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada karyawan Rumah Sakit Prasetya Bunda Tasikmalaya.

Kecerdasan Emosional

Organizational Citizenship Behavior (OCB) Komitmen organisasi

46 BAB III

OBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Objek penelitian dalam ini adalah kecerdasan emosional, komitmen organisasi dan Organizational Citizenship Behavior (OCB). Untuk menentukan Organizational Citizenship Behavior (OCB) yang optimal, perusahaan menggunakan kecerdasan emosional dengan indikator self awareness, self regulation, self motivation, social awareness, dan social skills serta komitmen organisasi dengan indikator affective commitment, continuance commitment dan normative commitment. Adapun tempat penelitian di Rumah Sakit Prasetya Bunda Tasikmalaya.

3.2 Metode Penelitian

3.2.1 Metode Penelitian yang Digunakan

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Metode penelitian kuantitatif, sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono (2018:15) yaitu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

Menurut Sugiyono (2018:16) metode survey adalah metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk mendapatkan data yang terjadi pada masa lampau atau saat ini, tentang keyakinan, pendapat, karakteristik, perilaku hubungan variabel dan untuk menguji beberapa hipotesis tentang variabel sosialogi dan psikologis dari sampel yang diambil dari populasi tertentu.

Pendekatan kuantitatif adalah pengukuran data dan statistik objek melalui hitung-hitungan. Metode kuantitatif dilakukan dengan merumuskan hipotesis dan dijawab menggunakan metode pengumpulan data survey dalam bentuk pembagian kuesioner kepada karyawan Rumah Sakit Prasetya Bunda Tasikmalaya.

3.2.2 Operasionalisasi Variabel

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel dependen dan variabel independen.

1. Variabel Bebas (Independen)

Variabel bebas (independen) adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (dependen). Dalam penelitian ini terdapat 2 variabel bebas yaitu Kecerdasan emosional (X1) dan Komitmen organisasi (X2).

2. Variabel terikat (Dependen)

Variabel terikat (Dependen) yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikatnya adalah Organizational Citizenship Behavior (OCB) (Y).

Tabel 3.1

Operasionalisasi Variabel

Variabel Definisi Variabel Indikator Ukuran Skala Kecerdasan

emosional (X1)

Kecerdasan emosional sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah- milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk mengembangkan pikiran dan tindakan”.

(Salovey dalam Casmini, 2016:20)

1. Self awareness

2. Self regulation

3. Self

motivation

4. Social awareness

5. Social skills

1. Kelebihan diri

2. Kelemahan diri

3. Pengendalia n emosi 4. Berfikir

jernih 5. Dorongan

memperbai ki diri 6. Kemampua

n berkorban 7. Pemahaman

perasaan 8. Kepedulian 9. Hubungan

dengan orang lain

10. Memb

angun jaringan

Ordinal

Komitmen organisasi (X2)

Kemauan usaha yang tinggi untuk organisasi dan suatu keyakinan tertentu dalam penerimaan terhadap nilai-nilai

organisasi (Sutrisno, 2016:

292)

1. Komitmen Afektif 2. Komitmen

Kontinuan 3. Komitmen Normative

1) Kepatuhan 2) Sasaran 3) Tujuan 4) Kesetiaan 5) Keteladana

n

6) Pengorban an

Ordinal

Organizatio nal

Citizenship Behavior (OCB) (Y)

Perilaku sukarela yang tidak termasuk dalam uraian jabatan, perilaku spontan,tanpa saran atau perintah tertentu, perilaku yang bersifat menolong, serta perilaku yang tidak mudah terlihat serta dinilai melalui evaluasi kinerja.

(Johns dalam Budihardjo, 2016: 98)

1. Courtesy

2. Altruism

1) Saling membantu 2) Memahami

penugasan 3) Saling

mengharg ai

4) Tidak semena- mena

Ordinal

Variabel Definisi Variabel Indikator Ukuran Skala 3. Conscientious

ness

4. Civic Virtue

5. Sportmanship

5) Hemat 6) Waktu

istirahat 7) Mengikuti

rapat 8) Partisipasi 9) Menghind

ari

kesalahan 10) Kreatif

3.2.3 Populasi dan Sampel 3.2.3.1 Populasi Sasaran

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2017:80). Jumlah populasi yang akan dijadikan objek penelitian adalah karyawan Bagian Medis Rumah Sakit Prasetya Bunda Tasikmalaya yaitu sebanyak 51 orang.

Tabel 3.2

Pegawai Medis Rumah Sakit Prasetya Bunda Tasikmalaya

Departemen Rumah Sakit Prasetya Bunda Jumlah (orang)

Kepala Perawatan 2

OK 2

UGD 8

HCU 5

Nurse Station 2 10

Nurse Station 3 10

Perinatology 10

Hemodialisa 2

Thalassemia 2

Jumlah (orang) 51

Sumber : Rumah Sakit Prasetya Bunda Tasikmalaya Tasikmalaya, 2023

3.2.3.2 Penentuan Sampel

Menurut Sugiyono (2012: 117) bahwa sampel adalah “bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Untuk menentukan jumlah sampel dilakukan sebuah sampling. Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel.

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu teknik sampling jenuh. Menurut Sugiyono (2014: 118) teknik sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Maka dari itu, pemilihan sampel menggunakan sampling jenuh karena jumlah populasi yang relatif kecul. Selanjutnya secara khusus tekniknya yaitu sampling jenuh atau sensus dengan alasan jumlah populasi yang sedikit (kurang dari 100 orang) sehingga memungkinkan diteliti semuanya. Sampling jenuh merupakan teknik pengambilan sampel apabila semua populasi digunakan sebagai sampel dan dikenal juga dengan istilah sensus. Ukuran sampel dalam penelitian ini sebanyak 51 karyawan Bagian Medis di Rumah Sakit Prasetya Bunda Tasikmalaya.

3.2.4 Jenis Data dan Pengumpulan Data 3.2.4.1 Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder yang mana akan dijelaskan seperti berikut:

1. Data Primer

Data primer merupakan data yang didapat dari sumber pertama baik dari individu ataupun perseorangan. Data primer dalam penelitian ini berupa

angket yang diperoleh dengan cara menggali sumber asli langsung dari responden, pencatatan sumber data utama melalui wawancara atau pengamatan diperoleh melalui hasil usaha gabungan dari kegiatan melihat, mendengarkan dan bertanya.

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data pendukung dari data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau pun oleh pihak lain (Sugiyono, 2016). Data sekunder dalam penelitian ini berupa dokumen perusahaan yang menunjang terhadap penelitian. Data sekunder sebagai sumber data tidak langsung yang mampu memberikan tambahan serta penguatan terhadap data penelitian.

3.2.4.2 Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Angket

Teknik angket sebagai teknik utama. Angket ini mengukur variabel dalam penelitian ini, dimana menyediakan pertanyaan-pertanyaan yang akan diberikan kepada subjek penelitian untuk memberikan respon terhadap pertanyaan tersebut.

b. Wawancara

Teknik ini digunakan untuk mendapatkan informasi atau keterangan langsung dari responden/informasi sekaligus sampel mengenai permasalahan yang diteliti.

3.2.5 Rancanan Analisis Data dan Uji Hipotesis 3.2.5.1 Alat Analisis Data

1. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.

Jadi validitas ingin mengukur apakah pertanyaan dalam kuesioner yang sudah kita buat betul-betul dapat mengukur apa yang hendak kita ukur (Ghozali, 2016).

Pengujian validitas yang digunakan adalah Korelasi Pearson. Signifikansi Korelasi Pearson yang dipakai dalam penelitian ini adalah 0,05. Apabila nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05 maka butir pertanyaan tersebut valid dan apabila nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05, maka butir pertanyaan tersebut tidak valid.

2. Uji Reliabilitas

Ghozali (2016) menyatakan bahwa reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Pengujian reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah One Shot atau pengukuran sekali saja, dimana pengukurannya hanya sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan. Reliabilitas diukur dengan uji statistik Cronbach Alpha. Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,70 (Ghozali, 2016).

Dokumen terkait