• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inisiasi Penyusunan Peraturan Bupati

Dalam dokumen PDF Prosiding - Universitas Brawijaya (Halaman 163-173)

SOP pelayanan perizinan selanjutnya diinisiasi oleh DPMPTSP agar menjadi Perkada.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa Perkada mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan. Maka dari itu, SOP pelayanan perizinan sudah memenuhi ketentuan untuk diinisiasi menjadi Perkada. Dari keseluruhan proses tahapan dalam rekomendasi kebijakan OSS di Kabupaten Purwakarta sebagaimana telah diuraikan, dapat digambarkan dalam sebuah model yang utuh sebagai berikut:

Gambar 1. Model Implementasi Kebijakan OSS di Kabupaten Purwakarta

PP

Per kada

Persetujuan

Perizinan Komitmen OSS

Perizinan Non OSS

Dinas Teknis

SOP

Perubahan Perkada Deregulasi

PP

Perkada

157 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian mengenai implementasi kebijakan perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik melalui OSS di Kabupaten Purwakarta dengan menggunakan model Edward III, disimpulkan bahwa implementasi kebijakan OSS di DPMPTSP Kabupaten Purwakarta belum berjalan secara efektif. Dari faktor komunikasi, ketidakjelasan dalam penyampaian kebijakan menjadi penghambat implementasi kebijakan, meskipun dari aspek transmisi dan konsistensi sudah mencukupi. Sedangkan dari faktor sumber daya, implementasi kebijakan telah didukung oleh ketersediaan SDM dan fasilitas, serta dukungan informasi yang memadai. Namun demikian, dalam aspek wewenang masih belum didukung dengan uraian tugas secara tertulis.

Dilihat dari faktor disposisi, sikap pelaksana kebijakan (implementor) yang sudah positif sangat mendukung implementasi kebijakan, meskipun aspek pengaturan birokrasi dan pemberian insentif belum dilakukan. Dari faktor struktur birokrasi, fragmentasi tanggung jawab telah dilakukan kepada semua implementor, namun belum adanya Standard Operational Procedure (SOP) dalam operasionalisasi Sistem OSS menjadi aspek penghambat yang paling krusial dalam implementasi kebijakan OSS di Kabupaten Purwakarta.

Kebijakan OSS berimplikasi positif terhadap kecepatan penerbitan izin usaha bagi usaha mikro, peningkatan kepatuhan masyarakat dalam hal kepemilikan KTP elektronik dan pelaporan perpajakan, serta terstandarisasinya perizinan di Kabupaten Purwakarta. Sedangkan implikasi negatif dari kebijakan OSS adalah terjadinya penurunan realisasi investasi serta peningkatan pelanggaran perizinan oleh sebagian pelaku usaha. Dalam rangka terciptanya harmonisasi regulasi dengan pemerintah pusat dalam implementasi kebijakan OSS di Kabupaten Purwakarta, direkomendasikan untuk melakukan deregulasi Peraturan Bupati yang adaptif terhadap Sistem OSS, mulai dari identifikasi jenis perizinan, pengelompokan jenis layanan, mekanisme dan prosedur pemenuhan komitmen, serta penyusunan Standard Operational Procedure (SOP) pelayanan perizinan.

Saran

Dengan memperhatikan hasil penelitian mengenai implementasi kebijakan perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik melalui OSS di Kabupaten Purwakarta, disarankan beberapa hal sebagai berikut:

1. Dalam rangka menjaga kejelasan dan konsistensi kebijakan OSS, dipandang perlu untuk menambahkan fitur interaksi antara DPMPTSP seluruh Indonesia dengan BKPM di laman OSS.

Fitur tersebut difungsikan sebagai sarana konsultasi dan problem solving serta sosialisasi kebijakan OSS dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, agar terwujud keseragaman pemahaman kebijakan OSS di semua daerah.

2. DPMPTSP Kabupaten Purwakarta diharapkan mengakselerasi penyusunan Standard Operational Procedure (SOP) pelayanan perizinan yang disesuaikan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan terbaru sebagai bentuk dukungan dan komitmen terhadap peningkatan kemudahan berusaha di daerah.

158

3. Terhadap implikasi negatif dari kebijakan OSS, perlu dilakukan upaya sosialisasi mengenai kebijakan OSS yang terstruktur, sistematis, masif dan substansial dari DPMPTSP Kabupaten Purwakarta kepada pelaku usaha, terutama dalam rangka mengatasi penurunan realisasi investasi dan peningkatan pelanggaran perizinan.

4. Dalam mengakselerasi deregulasi Peraturan Bupati yang adaptif terhadap Sistem OSS, DPMPTSP Kabupaten Purwakarta selaku pemrakarsa berkoordinasi dengan Bagian Hukum pada Sekretariat Daerah Kabupaten Purwakarta, serta berkolaborasi dengan unsur akademisi, profesi, pengusaha, dan pihak lain yang berkompeten agar konten Peraturan Bupati lebih komprehensif.

5. Pemerintah Kabupaten Purwakarta melalui Dinas Tata Ruang dan Permukiman diharapkan menyusun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dengan format digital dalam rangka integrasi dengan Sistem OSS, agar perizinan berusaha yang diterbitkan oleh Sistem OSS selaras dengan rencana tata ruang dan wilayah di Kabupaten Purwakarta.

6. Perlu dikembangkan konsep perizinan berusaha dengan pendekatan berbasis resiko (risk based approach), dimana untuk kegiatan usaha dengan kriteria resiko tinggi saja yang perlu diterbitkan izin, dan untuk kegiatan usaha dengan kriteria resiko sedang dilakukan pemenuhan standar, sedangkan untuk kegiatan usaha dengan kriteria resiko rendah cukup pendaftaran saja.

DAFTAR PUSTAKA

Afrizal. (2017). Metode Penelitian Kulitatif. Depok: PT. RajaGrafindo Persada.

Edward III, G. C. (1980). Implementing Public Policy. Washington: Congressional Quarterly Press.

https://www.suara.com/news/2018/11/28/161839/80-persen-operasi-tangkap-tangan-kpk-terkait- suap-perizinan (Diakses tanggal 10 Maret 2019 pukul 21.40 WIB).

https://www.doingbusiness.org/en/rankings (Diakses tanggal 10 Maret 2019 pukul 22.00 WIB).

https://wartakota.tribunnews.com/2018/11/23/dikeluhkan-masih-membingungkan-online-single- submission-oss-terus-dikembangkan (Diakses 25 Maret 2019 Pukul 13.00).

Islamy, M. I. (1997). Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijakan Negara. Jakarta: Bumi Aksara.

Islamy, M. I. (2003). Prinsip-prinsip Perumusan Kebijakan Negara. Jakarta: Bumi Aksara.

Mulyadi, D. (2016). Studi Kebijakan Publik dan Pelayanan Publik. Bandung: CV. Alfabeta.

Nugroho, R. (2017). Public Policy. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Peraturan Bupati Purwakarta Nomor 118 Tahun 2018 tentang Pendelegasian Wewenang Perizinan dan Non Perizinan Kepada Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Purwakarta.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik.

Permana, S. H. (2018). Info Singkat Vol. X, No. 03/I/Puslit/Februari/2018: Peran Kepala Daerah Untuk Mempercepat Implementasi Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 16. Jakarta: Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI.

159

Silalahi, Ulber. (2005). Studi Tentang Ilmu Administrasi: Konsep, Teori dan Dimensi. Bandung:

Sinar Baru Algensindo.

Strauss, A. & Corbin, J. (2003). Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif: Tatalangkah dan Teknik- Teknik Teorisasi Data. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Kombinasi (Mix Methods). Bandung: Alfabeta.

Wibawa, S. (2011). Politik Perumusan Kebijakan Publik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

160

AKUNTABILITAS PELAKSANAAN EVALUASI HASIL RENCANA KERJA PERANGKAT DAERAH DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

ACCOUNTABILITY OF EVALUATION IMPLEMENTATION OF LOCAL DEVICE PLAN IN EAST NUSA TENGGARA PROVINCE

Agung Jati Perkasa

Magister Administrasi Publik Universitas Brawijaya [email protected]

Abstract

Evaluation of the Work Plan of Regional Apparatus is very important in realizing the achievement of the implementation of regional development. However, in the implementation there is a lot of disobedience from the Regional Apparatus, so that in process preparing the RKPD evaluation report it becomes unaccountable and cannot be a lesson lernerd in the next year’s planning. This study aims to evaluate the results of the Regional Apparatus Work Plan in East Nusa Tenggara (NTT) Province as a form of accountability that the objectives of development are achieved and can provide accurate data on the regional development planning process in the following year. By using the literature study method approach, it was found that the implementation of the evaluation of the results of the regional apparatus work plan in NTT Province had not been going well. With accountability in the implementattion of the work plan evaluation, the result of the report can become the basis for preparing the RKPD evaluation report and planning for the following yera. SOP and strict sanctions for Regional Apparatus who do not report the evaluation of the Work Plan result must be carried out, so that accountabilty can be achieved.

Keywords: Accountabilty, Regional Development Planning, Evaluation of Renja Result Abstrak

Evaluasi Rencana Kerja Perangkat Daerah merupakan hal yang sangat penting dalam mewujudkan pencapaian pelaksanaan pembangunan daerah. Namun dalam pelaksanaanya banyak ketidaktaaatan dari Perangkat Daerah, sehingga dalam proses penyusunan laporan evaluasi RKPD menjadi tidak akuntabel serta tidak bisa menjadi pembelajaran pada perencanaan tahun berikutnya. Penelitian ini bertujuan agar evaluasi hasil Rencana Kerja Perangkat Daerah di Provinsi NTT dapat menjadi bentuk akuntabilitas bahwa tujuan dari pembangunan tercapai serta dapat memberikan data yang akurat terhadap proses perancanaan pembangunan daerah pada tahun berikutnya. Dengan menggunakan pendekatan motode studi literatur ditemukan bahwa pelaksanaan evaluasi hasil Rencana Kerja Perangkat daerah di Provinsi NTT belum berjalan dengan baik. Dengan adanya akuntabilitas dalam pelaksanaan evaluasi Rencana Kerja maka hasil dari laporan tersebut dapat menjadi dasar penyusunan laporan evaluasi RKPD dan perencanaan tahun berikutnya. SOP dan pemberian sanksi yang tegas bagi Perangkat Daerah yang tidak melaporkan evaluasi hasil Rencana Kerja harus dilakukan agar akuntabiltas dapat tercapai.

Kata kunci: Akuntabilitas, Perencanaan Pembangunan Daerah, Evaluasi Hasil Renja

161 PENDAHULUAN

Secara umum ada tiga tahapan dalam Pembangunan Daerah, yaitu perencanaan pembangunan, pelaksanaan pembangunan, serta pengendalian dan evaluasi pembangunan.

Masing-masing tahapan tersebut mempunyai peran yang penting dan tidak dapat saling dipisahkan dengan tahapan lainnya. Data-data yang akurat dan valid sangat dibutuhkan dalam merencanakan suatu perencanaan yang baik. Data-data tersebut bisa didapatkan melalui pengendalian dan evaluasi pembangunan. Demikian juga untuk pelaksanaan pembangunan serta pengendalian dan evaluasi pembanunan dapat berjalan dengan baik apabila memiliki perencanaan yang baik serta memiliki prosedur, indikator tujuan dan target kinerja yang jelas. Perencanaan dalam administrasi publik merupakan awal dari suatu proses administrasi. Adapun rencana adalah desain kegiatan yang akan dilaksanakan dengan menggunakan potensi sumber daya dengan baik untuk mencapai tujuan dalam dimensi waktu tertentu (Anggara & Sumantri, 2019). Sebagai fungsi paling mendasar dan paling pertama yang harus dilakukan oleh manajemen, perencanaan juga merupakan usaha untuk menggunakan sumber daya yang dimiliki oleh suatu organisasi. Untuk digunakan secara maksimal demi tercapainya tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Dalam perencanaan, beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu penentuan janka pendak dan panjang suatu perencanaan, merumuskan kebijakan dan prosedur yang digunakan serta melakukan peninjauan secara berkala (Rohman, 2018).

Dalam Permendagri Nomor 86 Tahun 2017 pasal 1 ayat 22, perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses untuk menentukan kebijakan di masa depan, melalui urutan pilihan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada dalam jangka waktu tertentu di daerah. Sedangkan dalam pasal yang ke tiga menjelaskan tujuan pembangunan daerah adalah untuk mewujudkan pembangunan daerah dalam rangka peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, lapangan berusaha, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan publik serta daya saing daerah. Suatu proses perencanaan tidak hanya berhenti pada penyusunan suatu rencana, tetapi juga harus ada realisasi pelaksanaannya secara baik. Implementasi perencanaan perlu diintergrasikan dalam perencanaan pembangunan (Anggara & Sumantri, 2019). Dalam proses pelaksanaan pembangunan dibutuhkan pengendalian dan evaluasi sehingga jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaannya dapat segera diperbaiki sehingga tujuan dari perencanaan dapat tercapai.

Berdasarkan Permendagri nomor 86 Tahun 2017 pasal 1 ayat 23, pengendalian dan evaluasi pembangunan daerah merupakan suatu proses pemantauan dan supervisi dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pembangunan serta menilai hasil realisasi kinerja dan keuangan untuk memastikan tercapainya target secara ekonomis, efisien dan efektif. Dalam pelaksanaan pengendalian dan evaluasi dikumpulkan informasi mengenai pelaksanaan suatu program/kegiatan.

Sehingga lewat informasi tersebut dapat menjadi umpan balik dalam proses perencanaan.

Informasi itu harus secara tetap disampaikan sebagai umpan balik untuk orang-orang yang terlibat dalam suatu program/kegiatan sehingga dapt dilakukan perubahan-perubahan maupun penyesuaian yang segera jika terdapat kesalahan (Bryant & White, 1987). Ada tiga jenis pengendalian dan evaluasi berdasakan permendagri 86 tahun 2017 yaitu:

162

1. Pengendalian dan evaluasi terhadap perumusan kebijakan perencanaan pembangunan Daerah.

2. Pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan rencana pembangunan Daerah.

3. Evaluasi terhadap hasil rencana Pembangunan Daerah.

Evaluasi Hasil Rencana Kerja (Renja) Perangkat Daerah termasuk kedalam pengendalian dan evaluasi pada tahap pelaksanaan rencana dan hasil rencana pembangunan daerah. Hal ini dikarenakan evaluasi hasil Renja dilakukan setiap triwulan oleh setiao Perangkat Daerah. Sesuai dengan Permendagri nomor 86 Tahun 2017, menyebutkan bahwa Kepala Perangkat Daerah Provinsi menyampaikan laporan evaluasi hasil renja Perangkat Daerah kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi setiap triwulan dalam tahun anggaran berkenan. Laporan evaluasi hasil renja tersebut wajib dikumpulkan paling lambat tanggal 10 setiap awal triwulan. Dari hasil evaluasi renja Perangkat Daerah tersebutlah menjadi dasar penyusunan evaluasi hasil Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD) Provinsi yang dilakukan oleh Bappeda Provinsi dan wajib dilaoprkan kepada Gubernur paling lambat tanggal 15 setiap awal triwulan untuk selanjutnya disampaikan kepada Menteri dalam negeri.

Setiap awal triwulan Bappeda selalu bersurat kepada setiap perangkat daerah untuk manyampaikan laporan evaluasi hasil renja. Namun laporan evaluasi renja perangkat daerah sering tidak dilakukan oleh perangkat daerah atau menyampaikan laporan tersebut di atas tanggal 10.

Tidak adanya laporan dari bidang teknis pada setiap perangkat daerah dan keterbatasan sumber daya manusia sering menjadi alasan tidak membuat atau keterlambatan laporan evaluasi hasil renja. Selain itu dalam pengisian formatnya banyak Perangkat daerah yang hanya mampu mengisi kolom realisasi keuangan saja, sedangkan realiasi kinerja tidak mampu di isi oleh Perangkat Daerah. Selain bentuk akuntabilitas perangkat daerah, Laporan evaluasi hasil renja perangkat daerah merupakan pengukuran pencapaian kinerja perangkat daerah dan juga menjadi dasar penyusunan renja perangkat daerah tahun berikutnya.

Ketidaktaatan Perangkat Daerah dalam mentaati peraturan tentunya akan sangat berpengaruh terhadap akuntabilitas karena ketaatan merupakan wujud kepatuhan dalam melaksanakan tugas seusai dengan peraturan yang bersifat mengikat. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh (Razi, 2017) yang menyebutkan bahwa ketaatan terhadap peraturan perundangan berpengaruh terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Ketaatan Perangkat daerah dalam malaporkan hasil evaluasi Renja akan sangat berpengaruh terhadap penyusunan laporan evaluasi hasi RKPD pemerintah daerah yang tentunya akan berdampak terhadap akuntabilitas. Akuntabilitas pemerintah daerah akan terwujud apabila program dan kegiatan pemerintah yang menyangkut kepentingan masyarakat telah dilaksanakan oleh setiap perangkat daerah. Menurut (Keban, 2004) perwujudan dan komitmen yang nyata dari akuntabilitas publik hanya ditunjukkan dalam bentuk kinerja, termasuk didalamnya kinerja institusi dan apparat pemerintah. Sedangkan Akuntabel menurut permendagri 86 Tahun 2017 pasal 6 ayat 5 yaitu setiap kegiatan dan hasil akhir dari perencanaan pembangunan Daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

163

Dalam Akuntabilitas pemerintah, pemerintah berusaha mewujudkan berbagai hal yang telah dijanjikan. Akuntabilitas mendorong pemerintah untuk lebih mementingkan output dan outcome daripada proses atau struktur dan mengubah pendekatan top-down menjadi bottom-up dan ruled based menjadi resulf based serta dapat dipertangung jawabkan kepada masyarakat (Anggara & Sumantri, 2019). Lewat perencanaan yang baik akan dapat menentukan akuntabilitas.

Dengan adanya perencanaan makan tujuan dan target yang ingin dicapai serta langkah-langkanya bisa dilaksankan dengan baik. Kejelasan sasaran anggaran, penerapan akuntansi publik, ketaatan pada peraturan perundangan dan sistem pelaporan berpengaruh signifikan dan positif terhadap akuntabilitas kinerja organisasi peragkat daerah (OPD) (Irawati, et al., 2019). Untuk dapat meningkatkan akuntabilitas dalam pelaksanaan evaluasi hasil renja maka dalam pelaksanaanya harus memperhatikan faktor-faktor yang dapat meningkatkan akuntabilitas. Dengan meningkatnya akuntabilitas maka pelaksanaan evaluasi hasil renja dapat digunakan sebagai pembelajaran pada perencanaan tahun berikutnya dan menjadi bentuk akuntabilitas bahwa perencanaan pembangunan yang telah direncanakan tercapai.

LANDASAN TEORI

Untuk dapat mengukur akuntabilitas pelaksanaan pembangunan daerah maka dibutuhkan sebuah perencanaan yang baik berdasarkan informasi dan data yang valid. Hal ini akan dapat terwujud bila pelaksanaan evaluasi hasil renja sudah akuntabel. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi akuntabiltas menurut Irawati dan Agesta (2019) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi akuntabilitas yaitu: 1) kejelasan sasaran, 2) pengendalian akuntansi, 3) penerapan akuntansi sektor publik, 3) ketaatan pada peraturan perundangan, 4) sistem pelaporan. Menurut Zulfiandri (2017) faktor-faktor yang mempengaruhi akuntabilitas adalah 1) kejelasan sasaran, 2) kompetensi aparatur, 3) penerapan akuntansi keuangan daerah, 4) pengawasan kualitas laporan.

Sedangkan menurut Ahyaruddin dan Akbar (2017) ada dua faktor yang mempengaruhi akuntabilitas yaitu faktor regulasi dan faktor komitmen manajemen.

Dalam pelaksanaan evaluasi hasil renja terdapaat banyak perangkat daerah yang tidak memasukan laporan evaluasi tersebut ke Bappeda Provinsi NTT. Mengingat bahwa yang sangat dibutuhkan dalam laporan evaluasi hasil renja adalahah capaian realisasi kinerja dan ketepatan waktu pelaporan, maka penulis mengambil beberapa faktor yang mempengaruhi akuntabilitas adalah: 1) kejelasan sasaran anggaran, 2) Sistem pelaporan, 3) Kompetensi Aparatur, 3) Pengawasan kualitas laporan, 4) Regulasi, 5) Komitmen manajemen.

METODE PENELITIAN

Menurut Ramdhani, dkk, (2014) literature review digunakan berdasarkan alasan, tujuan, dan sasaran secara menyeluruh dari penelitian yang diangkat. Penulisan studi literatur merupakan kemampuan yang memerlukan pembelajaran dan dapat meningkatkan pengetahuan dalam membuktikan fakta-fakta yang ada. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Fakta-fakta yang diperoleh dari penelitian sebelumnya dikumpulkan dan ditemukan kesenjangan (gap) dari penelitian sebelumnya. Jenis data yang digunakan adalah data

164

sekunder dengan rapid review yaitu melakukan pengkajian studi literatur secara efesien karena urgensi atau batas waktu/keterbatasan sumber yang ada (Minch, 2018)). Data yang diperoleh dikompulasi, dianalisis, dan disimpulkan sehingga mendapatkan kesimpulan mengenai studi literatur (literature reviews).

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Paparan Data/Result

Pada saat sekarang ini perencanaan pembangunan daerah dan penganggaran harus berbasis kinerja, sehingga dalam proses perencanaan dan penanggaran pembangunan daerah harus memperhatikan kinerja periode sebelumnya dan sasaran yang ingin dicapainya. Oleh karena itu Evaluasi menjadi sangat penting karena dapat memberikan informasi capaian kinerja dalam rangka penyusunan perencanaan dan penganggaran serta Akuntabilitas yang dapat memberikan informasi kepada masyarakat. Evaluasi adalah suatu kegiatan untuk mengetahui apakah pencapaian hasil, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan perencanaan pembangunan dapat dinilai dan dipelajari untuk perbaikan pelaksanaan rencana pembangunan dimasa yang akan datang.

Fokus utama evaluasi diarahkan kepada keluaran (outoput), hasil (outcome) dan dampak (impact) dari palaksanaan rencana pembangunan. Evaluasi juga sebagai masukan perbaikan kebijakan/program/kegiatan dan dapat mengintervensi di masa yang akan datang melalui umpan balik dan lesson learned.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, pengertian dari evaluasi adalah penilaian. Menurut Arikunto dalam Arif (2016), evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternative yang tepat dalam mengambil keputusan. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diammbil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukukan. Demikian juga dalam Permendagri nomor 86 tahun 2017 dijelaskan bahwa tujuan dari evaluasi RKPD adalah untuk menjadi umpan balik untuk perencanaan RKPD tahun berikutnya.

Evaluasi Rencana Kerja (Renja) Perangkat Daerah belum berjalan dengan semestinya dan hasilnya belum dimanfaatkan dengan maksimal dalam proses perencanaan. Kegiatan evaluasi belum melakukan identifikasi, menganalisi data dan informasi secara mendalam sehingga evaluasi tidak mencerminkan permasalahan, penyebab permasalahan, faktor pendukung, faktor penghambat, rekomendasi serta tindak lanjut yang dipeerlukan sebagai masukan. Bahkan evaluasi Renja masih dianggap sebelah mata oleh Perangkat Daerah sehingga banyak Perangkat Daerah yang tidak taat memasukan laporan Renja terutama pada triwulan-triwulan awal setiap tahunnya, Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:

165

Tabel 1 Jumlah Perangkat Daerah yang Melaporkan Renja Tahun 2018-2019 No. Tahun/Triwulan PD yang Memasukan

Laporan

PD yang Tidak Memasukan Laporan

1 2018/Triwulan I 14 35

2 2018/Triwulan II 27 22

3 2018/Triwulan III 34 15

4 2018/Triwulan IV 42 7

5 2019/Triwulan I 21 18

6 2019/Triwulan II 21 18

7 2019/Triwulan III 32 7

8 2019/Triwulan IV 37 2

Sumber/ Source: Laporan Evaluasi RKPD Provinsi NTT 2018 tw I-2019 tw II

Selain itu Laporan evaluasi hasil Renja yang masuk memang sesuai dengan format yang diberikan oleh Bappelitbangda Provinsi NTT namun kolom realisasi kinerja sering tidak dapat diisi oleh Perangkat daerah. Sedangkan untuk faktor pendorong dan penghambat kinerja serta tindak lanjut yang diperlukan untuk triwulan atau Renja berikutnya tidak pernah diinput oleh Perangkat daerah. Yang dapat diberikan oleh Perangkat Daerah hanyalah realisasi keuangan saja. Mutasi pegawai didalam Perangkat daerah juga sering menjadi alasan keterlambatan atau tidak memasukan laporan evaluasi renja. Pemahaman tentang arti penting dari laporan renja juga belum ada di perangkat daerah sehingga laporan renja yang ada juga lebih banyak tentang realisasi keuangan. Sedangkan capain dari program dan kegiatan sering tidak dilaporkan dan Bappelitbangda provinsi NTT tidak dapat mengetahui capain dari program dan kegiatan secara utuh. Performance yang baik bukan hanya dilihat dari besarnya penyerapan anggaran. Ada beberapa aspek lain yang dipertimbangkan yaitu keberhasilan dinas dalam melakukan penyerapan anggaran sesuai dengan program dan ketentuan yang ada serta kontribusinya dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi di masyarakat (Sayidah et al., 2015).

Kendala yang dihadapi dalam Laporan Evaluasi Hasil RKPD Provinsi NTT Tahun 2018- 2019 adalah PD tidak konsisten dalam melaksanakan program dan kegiatan yang telah ditetapkan dalam DPA terutama dari aspek target dan realisasi pelaksanaan terhadap pagu anggaran yang tersedia, Pemahaman terhadap Format dan Tata Cara pengisian matriks Laporan Evaluasi Hasil Renja-PD masih kurang yang disebabkan mutasi staf walaupun telah dilakukan pendampingan evaluasi hasil renja oleh Bappeda Provinsi NTT dan Masih terdapat PD lingkup Pemprov NTT yang tidak menyampaikan laporan evaluasi hasil renja PD, Mengakibatkan pengukuran capaian kinerja pelaksanaan program/kegiatan APBD. Evaluasi kinerja belum menjadi kebiasaan yang rutin bagi Bappeda dan Perangkat Daerah, terutama pada evaluasi pada tahapan kebijakan dan pelaksanaan (Santoso, 2016) . Beberapa kendala atau permasalahan dalam pelaksanaan evaluasi ranja bappeda menurut Santoso Adalah:

1. Lemahnya komitmen stakeholder akan pentingnya evaluasi renja

2. Ketiadaan dasar regulasi internal pemkot yang mewajibkan melakukan evaluasi renja.

Dalam dokumen PDF Prosiding - Universitas Brawijaya (Halaman 163-173)