110
Bandar Lampung yang berencana melakukan pinjaman daerah untuk membiayai program penanggulangan Covid-19 (Dwi, 2020).
Permasalahan anggaran secara empiris dialami juga dalam aspek proses penganggaran yang mana anggaran yang seharusnya cair tepat waktu menjadi molor dikarenakan berbagai masalah administrasi, hal ini seperti keterlambatan pencairan dana intensif bagi dokter dan tenaga kesehatan di berbagai daerah, sampai dengan dana insentif bagi penggali kubur khusus pasien terinfeksi Covid-19 yang juga mengalami keterlambatan pencairan di banyak daerah (Maharani, 2020; Saputra, 2020; Taqiyya, 2020). Permasalahan ini menunjukan bahwa adanya proses administrasi yang berjalan kurang baik yang berimplikasi kepada tidak optimalnya proses pencairan anggaran, sehingga tidak menutup kemungkinan akan berdampak negatif bagi upaya penanggulangan Covid-19 yang dilakukan di berbagai daerah.
Uraian mengenai kelima permasalahan tersebut di atas menunjukan adanya keterbatasan kapasitas pemerintah daerah dalam upayanya menanggulangi Covid-19, sehingga dimungkinkan dalam konteks yang jauh lebih lanjut mengenai kebijakan vaksinasi Covid-19, berbagai permasalahan tersebut akan kembali muncul yang dikhawatirkan pelaksanaan kebijakan vaksinasi Covid-19 tidak akan berjalan sebagaimana tujuan awal yang telah ditetapkan. Atas dasar tersebut, upaya untuk meningkatkan kapasitas pemerintah daerah perlu dilakukan, khususnya dalam pelaksanaan kebijakan vaksinasi Covid-19. Salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas pemerintah yaitu membangun standar indikator penilaian yang dapat dijadikan dasar dalam meningkatkan kapasitas pemerintah daerah, indikator tersebut pula nantinya akan dijadikan tolak ukur untuk menilai kapasitas pemerintah dalam pelaksanaan kebijakan vaksinasi Covid-19.
111
Gambar 1. Isu dalam Kebijakan Vaksinasi Covid-19 (Sumber: Analisis Penulis, 2020) Berdasarkan kepada gambar 1 (satu), maka rencana kebijakan vaksinasi Covid-19 telah memunculkan polarisasi isu yang ada di masyarakat. Pertama, isu yang bersifat positif artinya masyarakat mendukung dan memiliki keyakinan terhadap kebijakan vaksinasi Covid-19 yang akan mampu menjadi solusi bagi penyebaran Covid-19. Kedua, isu yang bersifat negatif yang mana masyarakat belum sepenuhnya meyakini kebijakan vaksinasi Covid-19 menjadi solusi dalam menanggulangi Covid-19, khususnya dalam konteks saat ini yang pengembangan vaksin Covid-19 tengah dilakukan oleh berbagai pihak (Citradi, 2020; Rahayu, 2020).
Isu dalam kebijakan vaksinasi Covid-19 setidaknya terdiri kepada 3 (tiga) isu yaitu kualitas vaksin-19, kapasitas pemerintah daerah dan respons atau sikap masyarakat. Ketiga isu tersebut secara langsung akan turut menentukan dari keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan kebijakan vaksinasi Covid-19. Uraian mengenai ketiga isu tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, isu vaksin Covid-19. Kredibilitas vaksin yang dibuat oleh perusahaan Sinovac asal negara China disambut pro dan kontra di banyak negara, para peneliti vaksin di banyak negara meragukan kredibilitas vaksin tersebut, didalam negeri sendiripun vaksin Covid-19 buatan Sinovac tidak luput dari perdebatan di kalangan para ahli dan peneliti bidang vaksin, yang mana kritikan tersebut bermuara kepada kredibilitas vaksin yang akan efektif dalam menanggulangi Covid-19 serta tidak akan menimbulkan dampak negatif lanjutan bagi masyarakat yang telah divaksin (Citradi, 2020; Rahayu, 2020).
Perdebatan diantara ilmuan mengenai vaksin yang dibuat oleh perusahaan Sinovac tersebut harus disikapi oleh pemerintah dengan menunjukan secara transparan proses uji klinis terhadap
Isu dalam Kebijakan Vaksinasi Covid-19
Vaksin Covid-19 Telah Memenuhi Kriteria Aman
Keamanan Vaksin Covid-19 Belum Teruji dan Terbukti Aspek
Isu Positif Kebijakan Vaksinasi Covid-19
Kualitas Vaksin Covid-19
Isu Negatif Kebijakan Vaksinasi Covid-19
Keterbatasan Kapasitas Pemerintah Daerah Menolak dan Tidak Akan
Berpartisipasi Kecukupan Kapasitas
Pemerintah Daerah Mendukung dan Akan
Berpartisipasi
Kredibilitas Kebijakan Vaksinasi Covid-19 Respons Pemerintah Daerah Terhadap Isu dalam
Kebijakan Vaksinasi Covid-19 Kapasitas
Pemerintah Daerah Sikap Masyarakat
112
vaksin Covid-19 tersebut yang dilakukan di Indonesia, pemerintah juga harus pula memastikan dan akan bertanggung jawab apabila dikemudian hari terdapat warga masyarakat yang mengalami dampak negatif yang diakibatkan oleh vaksin Covid-19 buatan perusahaan Sinovac.
Hal ini menjadi penting dilakukan guna menumbuhkan kepercayaan publik terhadap keamanan vaksin Covid-19. Upaya lain yang harus dilakukan oleh pemerintah yaitu mencari kandidat alternatif vaksin Covid-19 dari perusahaan dan negara yang berbeda yang mana perusahaan tersebut telah memiliki reputasi yang baik dalam menciptakan berbagai vaksin, sehingga dengan adanya ragam pilihan vaksin Covid-19, maka masyarakat diberikan kebebasan untuk memilih vaksin sesuai dengan preferensinya.
Kedua, kapasitas pemerintah. Aspek dari kapasitas pemerintah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya memiliki banyak ragam mulai dari sumber daya manusia, sarana prasarana sampai dengan penganggaran. Selama pelaksanaan penanggulangan Covid-19 yang dilakukan oleh pemerintah daerah berbagai masalah muncul mulai dari masalah kekurangan dokter dan tenaga medis, masalah tidak optimalnya pelaksanaan kebijakan Pembatasan Sosial berskala Besar (PSBB), masalah kebijakan penyaluran bantuan sosial terdampak Covid-19 yang tidak tepat sasaran, hingga masalah anggaran seperti tertundanya insentif bagi para penggali kubur khusus jenazah terinfeksi Covid-19 (Aji & Chairunnisa, 2020; Dharmastuti, 2020; Humas Setda Subang, 2020; Maharani, 2020; Nafi`an, 2020). Berbagai permasalahan tersebut mendorong pemahaman mengenai kapasitas pemerintah daerah dalam menanggulangi Covid-19 di daerah. Hal ini yang kemudian mendorong pertanyaan mengenai kemampuan pemerintah daerah dalam melaksanakan kebijakan vaksinasi Covid-19 yang akan diselenggarakan.
Keraguan mengenai kapasitas pemerintah selama penanggulangan Covid-19 harus direspons oleh pemerintah daerah sebagai upaya masukan untuk memperbaiki kapasitas pemerintah daerah yang selama ini ada dalam upaya penanggulangan Covid-19. Permasalahan yang terjadi selama penanggulangan Covid-19 tidak boleh terulang lagi dalam pelaksanaan kebijakan vaksinasi Covid-19, sehingga secara internal pemerintah dapat meningkatkan kapasitas organisasinya, secara eksternal dapat menumbuhkan kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah. Ketiga, sikap masyarakat. Masyarakat menjadi objek dari pelaksanaan kebijakan vaksinasi Covid-19 yang mana dukungan masyarakat yang ditunjukan dengan keikutsertaan dalam melaksanakan vaksinasi Covid-19 merupakan salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan kebijakan vaksinasi Covid-19, dukungan tersebut tidak hanya akan mempermudah pelaksanaan kebijakan vaksinasi Covid-19, tetapi juga menjadi standar penilaian tingkat keberhasilan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 (Efison, 2020).
Dukungan masyarakat tidak serta merta akan didapat oleh pemerintah mengingat terdapat juga sebagian kalangan masyarakat yang meragukan kualitas vaksin-19, khususnya vaksin Covid-19 yang dibuat oleh perusahaan Sinovac asal negara China, mereka berpendapat bahwa vaksin tersebut belum mendapatkan izin edar dari WHO yang mana hal ini dijadikan dasar keraguan masyarakat akan kualitas vaksin Covid-19 yang berasal dari negara China tersebut, bahkan menurut survei yang dilakukan oleh Koalisi Warga Lapor Covid-19 terhadap 328 responden didapat hasil bahwa mayoritas masyarakat atau sebanyak 60% menyatakan keraguan
113
terhadap vaksin Covid-19 yang dibuat oleh perusahaan Sinovac yang bekerja sama dengan Bio Farma (Hadyan, 2020).
Respons masyarakat mengenai keraguan kualitas vaksin dari perusahaan tersebut juga secara empiris menjadi perdebatan diantara kalangan akademisi dan ilmuan (Nugraheny, 2020b;
Wahyudi, 2020), khususnya keraguan akan vaksin buatan China dan Rusia, hal ini sejalan dengan pendapat dari Prof. Dr. Kusnandi Rusmil yang juga merupakan tim uji riset Vaksin Covid-19 dari Universitas Padjadjaran yang menyatakan bahwa dalam konteks uji vaksin di Indonesia yang baru berjalan 3 (tiga) bulan membutuhkan waktu lebih lama lagi agar vaksin tersebut benar- benar kredibel teruji secara klinis (Putri, 2020). Ketiga isu yang muncul dalam rencana kebijakan vaksinasi Covid-19 harus direspons oleh pemerintah dengan baik, sehingga isu negatif yang muncul tidak akan menggangu pelaksanaan kebijakan vaksinasi Covid-19. Diharapkan kebijakan vaksinasi Covid-19 memiliki kredibilitas yang baik yang mana tidak hanya secara substantif memiliki kejelasan tujuan untuk menanggulangi penyebaran Covid-19, tetapi dalam konteks lingkungan kebijakan bahwa kebijakan vaksinasi Covid-19 dapat diterima oleh berbagai kalangan termasuk oleh masyarakat.
3. Konstruksi Indikator Penilaian Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Pelaksanaan