• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan/Discussion

Dalam dokumen PDF Prosiding - Universitas Brawijaya (Halaman 173-180)

• Kejelasan Sasaran Anggaran.

Menurut Suharono dan Solichin dalam Irawati dan Agesta, (2019), kejelasan sasaran anggaran merupakan sejauh mana tujuan anggaran ditetapkan secara jelas dan spesifik dengan tujuan angar angaran tersebut dapat dimegerti oleh orang yang bertangung jawab atas pencapain sasaran anggaran tersebut. Pelaksanaan Renja Perangkat Daerah yang berakuntabilitas tidak akan lepas dari anggaran pemerintah daerah. Dengan demikian maka dalam penyusunan Renja harus lebih cermat sehingga kejelasan sasaran anggaran dapat lebih dioptimalkan lagi.

Dari hasil penilitian yang dilakukan oleh Irawati dan Agesta, (2019)menyebutkan bahwa kejelasan sasaran berpengaruh signifikan dan positif terhadap akuntabilitas kinerja organisasi

167

perangkat daerah kota Bandar Lampung. Sedangkan penelitianyang dilakukan oleh Zulfiandri, (2017) menyebutkan bahwa ada pengaruh kejelasan sasaran terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Dengan adanya kejelasan sasaran anggaran maka tentunya akan lebih mudah bagi perangkat daerah dalam mempertangungjawabkan keberhasilan ataupun kegagalan dalam pelaksanaan suatu program dan kegiatan untuk mencapai tujuan dan sasaran dari organisasi. Sehingga dalam pelaporan evaluasi hasil Renja yang dilakukan oleh Perangkat Daerah tidak hanya mampu menampilkan realisasi keuangan saja tetapi juga dapat menampilkan realisasi kinerja berdasarkan indikator yang sudah ditetapkan dalam perencanaan.

• Sistem pelaporan.

Sistem pelaporan merupakan merupakan alur dari suatu proses pertangung jawaban.

Didalam sistem pelaporan akan memuat mengenai jadwal dan tata cara pelaporan yang akan membuat laporan lebih transparan dan akuntabel. Menurut abdulah dalam Irawati dan Agesta, (2019), sistem pelaporan sangat dibutuhkan dalam memantau serta mengendalikan kinerja manejerial dalam mengimplementasikan anggaran yang telah ditetapkan. Dengan adanya sistem pelaporan yang baik maka akan dengan sangat mudah mengetahui jika ada Perangkat daerah yang mengalami kendala dalam pelaksanaan evaluasi hasil Renja sehingga akuntabilitas pelaksanaan evaluasi Renja yang dilakukan oleh Perangkat daerah dapat meningkat. Hal ini juga sesuai dengan hasil penilitian yang dilakukan oleh Irawati dan Agesta, (2019) bahwa sistem pelaporan berpengaruh signifikan dan positif terhadap akuntabilitas kinerja organisasi perangkat daerah kota Bandar Lampung.

• Kompetensi Aparatur

Menurut Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 46A Tahun 2003, kompetensi adalah karateristik dan kemampuan dari seorang Pegawai Negeri Sipil yang berupa pengetahuan, ketrampilan dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya sehingga dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya secara efektif dan efisien. Semakin bagus bagus kompetensi dari seorang Pegawai Negeri Sipil maka semakin bagus juga jawabnya terhadap tugas yang diberikan kepadanya yang tentunya akan meningkatkan akuntabilitas pemerintahan secara keseluruhan. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Razi (2017)yang menyebutkan bahwa kompetensi aparatur pemerintah berpengaruh terhadap akuntabilitas instansi pemerintah.

Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Zulfiandri, (2017) menyebutkan bahwa ada pengaruh kompetensi aparatur terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.

• Pengawasan kualitas laporan

Pengawasan diperlukan agar dapat mengetahui apakah pelaksanaan suatu program/kegiatan sudah sesuai dengan indikator sasaran yang telah ditetapkan pada saat perencanaan atau tidak. Pengawasan kualitas laporan Renja bertujuan agar pelaporan evaluasi Renja tepat waktu dan sesuai dengan format yang tercantum dalam perundang-undangan serta dapat diguanakan sebagai dasar pengambilan keputusan di masa depan untuk sebuah perencanaan. Sehingga pengawasan sangat dibutuhkan dalam meningkatkan akuntabilitas pelaksanaan evaluasi hasil Renja. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh

168

Zulfiandri, (2017) menyebutkan bahwa ada pengaruh kompetensi aparatur terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.

• Regulasi

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya setiap instansi pemerintah wajib untuk mematuhi seluruh peraturan dan perundang-undangan yang telah dibuat oleh pemerintah.. Dalam pelaksanaan evaluasi hasil Renja di Provinsi NTT belum dibuat suatu regulasi ataupun SOP dan hanya berdasarkan Permendagri nomor 86 tahun 2017 saja. Hal ini berdampak terhadap ketepatan waktu dalam malaporkan evaluasi hasil renja Perangkat Daerah. Sifat dari regulasi sendiri adalah memaksa setiap instansi dan anggotanya untuk taat dalam melaksanakan suatu regulasi. Sehingga dengan ketaatan terhadap perundangan dapat mengatur dan menertibkan jalannya suatu kegiatan. Hal ini tentunya akan meningkatkan akuntabilitas dalam pelaksanaan program/kegiatan dari instansi pemerintah.

Penelitian yang dilakukan oleh Ahyaruddin dan Akbar (2017) bahwa regulasi mempunyai pengaruh yang signifikan dalam akuntabilitas. Demikian juga dalam penelitian yang dilakukan oleh Razi (2017) menunjukan bahwa ketaatan terhadap peraturan perundangan berpengaruh signifikan dalam akuntabilitas. Dengan adanya regulasi maka penerapan reward dan punishment dapat dilakukan secara konsisten sehingga ketaatan terhadap regulasi dapat memperbaiki akuntabilitas dalam pelaksanaan suatu program dan kegiatan.

• Komitmen manajemen.

Menurut Primarisanti dan akbar dalam Ahyaruddin dan Akbar ( 2017), Komitmen manajeman adalah kedekatan emosi maupun bentuk dari loyalitas oleh anggota organisasi untuk mencurahkan perhatian, gagasan dan tangung jawabnya dalam rangka mencapai tujuan dari misi dan nilai-nilai organisasi. Dengan dukungan penuh dan komitmen dari manajemen mulai dari puncak hingga level terbawah maka akuntabilitas dalam suatu organisasi akan lebih mudah diwujudkan. Dengan adanya komitmen manajemen maka akan timbul keyakinan yang kuat akan tujuan organisasi serta kemamuan yang kuat dalam melaksanakan tugas sebagai bagian dari organisasi. Ahyaruddin dan Akbar ( 2017) dalam penelitiannya menemukan bahwa komitmen manajemen berpengaruh signifikan terhadap akuntabilitas dan kinerja demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Budiarto dan Damayanti (2020) yang menyebutkan bahwa komitmen manajemen berpengaruh signifikan terhadap akuntabilitas dan transparansi.

KESIMPULAN

Evaluasi Hasil Renja Perangkat Daerah adalah salah satu bentuk Akuntabilitas dalam pelaksanaan pembangunan daerah. Dengan menerapkan faktor-faktor yang mempengaruhi akuntabilitas diharapkan Pemerintah Daerah Provinsi NTT khususnya Bappelitbangda Provinsi NTT yang menjadi pelaksana pengendalian dan evaluasi pembangunan di daerah sehingga dapat membuat laporan evaluasi RKPD yang bermutu dan dapat menjadi umpan balik dan data yang akurat pada pelaksanaan perencanaan tahun berikutnya sehingga bisa membuat perrencanaan pembangunan yang berkualitas untuk kesejahteraan masyarakat di Provinsi NTT.

169

Kejelasan sasaran anggaran dalam dokumen perencanaan harus lebih ditekankan lagi sehingga penangung jawab dapat memahami tugasnya dengan baik. Sistem pelaporan juga harus menjadi perhatian agar dalam pengawasan pelaksanaan evaluasi hasil Renja Perangkat Daerah lebih mudah dan menghindari terjadinya ketidaktaatan dari Perangkat Daerah, Peningkatan Kompetensi Aparatur wajib dilakukan terutama dalam hal sikap dan perilaku yang lebih bertangung jawab terhadap tugas-tugas yang sudah diberikan. 3) Dengan adanya pengawasan kualitas laporan maka realisasi kinerja dan keuangan yang menjadi tujauan dari pelaksanaan evaluasi hasil Renja Perangkat Daerah dapat diwujudakn. Pembuatan Regulasi di tingkat daerah wajib dilakukan agar dalam pelaksanaan evaluasi hasil renja memiliki dasasr yang kuat serta dapat memberikan sanksi bagi Perangkat Daerah yang tidak taat terhadap regulasi tersebut. Dengang sifatnya yang memaksa diharapkan regulasi mampu menumbuhkan akuntabilitas dalam pelaksanaan evaluasi hasil renja perangkat daerah. Tanpa dukungan dan Komitmen manajemen mulai daqri posisi puncak hingga posisi terbawah maka akuntabilitas pelaksanaan evaluasi hasil Renja Perangkat Daerah tidak akan terwujud.

Dalam penelitian ini peneliti memiliki keterbatasan waktu sehingga tidak dapat mewawancarai secara langsung staf dan penangung jawab laporan evaluasi Renja untuk mengetahui secara mendalam apa penyebab dari ketidktaatan Perangkat Daerah dalam memasukan laporan evaluasi Renja. Oleh karena itu peneliti memberikan saran untuk penelitian yang berikutnya agar dapat mewancarai staf yang betangung jawab dalam laporan evaluasi Renja.

Berdasarkan kesimpulan dan saran tersebut maka penulis berharappenelitian ini dapat memberikan implikasi sebagai berikut: mendorong Pemerintah Daerah agar lebih memperhatikan evaluasi hasil renja sehingga laporan evaluasi renja dapat lebih akuntabel dan mendorong penelitian-penelitian selanjutnya mengenai akuntabilitas evaluasi hasil Renja Perangkat Daerah.

DAFTAR PUSTAKA

Ahyaruddin, M., & Akbar, R. (2017). Akuntabilitas dan kinerja instansi pemerintah: Semu atau nyata? Jurnal Akuntansi & Auditing Indonesia, 21, 105–117.

Anggara, S., & Sumantri, I. (2019). ADMINISTRASI PEMBANGUNAN Teori dan Praktik (B. A.

Saebani (Ed.); Pertama). CV. Pustaka Setia.

https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Arif, M. S. (2016). Pengertian Evaluasi Menurut Para Ahli. Scribd.

https://www.scribd.com/doc/94376071/Pengertian-Evaluasi-Menurut-Para-Ahli

BKN. (2003). Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 46A Tahun 2003 Tentang Pedoman Penyusunan Standard Kompetensi Jabatan Struktural Pegawai Negeri Sipil.

Bryant, C., & White, L. G. (1987). Manajemen Pembangunan Untuk Negara Berkembang (D. k.

Jakti (Ed.); pertama). PT Pertja.

BUDIARTO, D. S., & DAMAYANTI, D. (2020). PENGUJIAN STRUKTURAL PADA

KOMITMEN MANAJEMEN, TRANSPARANSI, DAN AKUNTABILITAS

PEMERINTAH DAERAH. Akuntansi Dan Bisnis, 20 no 1, 17–31.

Caesar agesta, A. I. (2019). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKUNTABILITAS KINERJA. Carbohydrate Polymers. https://doi.org/10.1109/MTAS.2004.1371634

170

Keban, Y. T. (2004). Enam Dimensi Strategis Administrasi Publik: Konsep. Teori Dan Isu, Yogyakarta: Gava Media. https://doi.org/10.1016/j.ijantimicag.2016.05.001

Laporan Evaluasi Hasil RKPD Provinsi NTT Tahun 2018-2019. (n.d.).

Minch, C. (2018). How to Write a Literature Review Paper? The Teaching Council. Retrieved from Research (CROI. https://doi.org/10.1080/01441647.2015.1065456

Permendagri. (2017). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunnan Jangka Menengah Daerah, serta Tata Cara Perub.

R M Rompas, HS, T., & Munir, D. (2010). Kreasi Good Governance Suatu Eksoterik Mutlak.

Ramdhani, A., Ramdhani, M. A., & Syakur, A. A. (2014). The Researcher, the Topic, and the Literature: A Procedure for Systematizing Literature Searches. International Journal of Basic and Aplied Sciences, Vol. 03 No, 47–56.

Razi, R. F. (2017). PENGARUH KETAATAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANGANPEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI, PENGENDALIAN AKUNTANSI DAN KOMPETENSI APARATUR PEMERINTAH DAERAH TERHADAP AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (AKIP). JOM Fekon, 4 no 1, 1268–1281.

Rohman, A. (2018). DASAR-DASAR MANAJEMEN PUBLIK (pertama). Empatdua.

Sayidah, N., Mulyaningtyas, A., & Winedar, M. (2015). IMPLEMENTASI KONSEP NEW PUBLIC MANAGEMENT DI DINAS KOPERASI DAN UMKM KOTA SURABAYA.

Jurnal Akuntansi Dan Auditing. https://doi.org/10.14710/jaa.v12i1.13857

Setiawan, H. E., & Safri, M. (2016). Analisis Pengaruh Akuntabilitas Publik, Transparansi Publik Dan Pengawasan Terhadap Kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah Di Kabupaten Bungo.

Jurnal Perspektif Pembiayaan Dan Pembangunan Daerah, 4(1), 51–72.

Zulfiandri, A. (2017). Faktor-Faktor yang memengaruhi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Studi empiris pada OPD di Pemerintah Provinsi Banten). Jurnal Riset Akuntansi Tirtayasa, Volume 2 n, 102–125.

171

STRATEGI KETAHANAN KEUANGAN DAERAH DALAM GOVERNANCE CRISIS AKIBAT PANDEMI COVID-19

FINANCIAL REGIONAL ENDURANCE STRATEGY IN THE GOVERNANCE CRISIS DUE TO PANDEMIC COVID-19

Binti Azizatun Nafi’ah

Program Studi Administrasi Publik, UPN Veteran Jawa Timur [email protected]

Abstract

Almost all components of regional income have decreased due to the Covid-19 pandemic crisis. On the other hand, the process of dealing with and preventing Covid-19 requires more budget. The decline in regional income has also had a serious impact on stagnating development in a number of regions, and even some regions are unable to pay additional income allowances (TTP) for their employees. This study focuses on analyzing the advantages and disadvantages of regional financial opportunities and threats during the Covid-19 pandemic. The aim of this paper is to find the appropriate strategy for local governments to manage local finances during a pandemic. The method used is qualitative with data collection techniques with interviews and secondary data review. Researchers have found that local governments cannot survive on their own during this pandemic. The role of the private sector is needed in supporting regional finances.

The government can foster empathy for entrepreneurs to participate in helping local finances. The media can become an intermediary for the 'populist' of entrepreneurs.

Keywords: financial, regional, strategy

Abstrak

Hampir seluruh komponen pendapatan daerah menurun akibat krisis pandemi covid-19. Di sisi lain, proses penanggulangan dan pencegahan covid-19 memerlukan anggaran lebih. Penurunan pendapatan daerah juga berdampak serius pada mandegnya pembangunan di sejumlah daerah, bahkan beberapa daerah tidak mampu membayar tunjangan tambahan penghasilan (TTP) pegawainya. Studi ini berfokus pada menganalisis kelebihan kekurangan peluang dan ancaman kuangan daerah selama pandemi covid-19.

Tujuan paper ini adalah menemukan strategi yang tepat pemerintah daerah mengelola keuangan daerah selama pandemi. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data dengan wawancara dan tinjauan data sekunder. Peneliti menemukan bahwa pemerintah daerah tidak dapat bertahan sendiri saat pandemi ini berlangsung. Perlu peran swasta dalam menyokong keuangan daerah. Pemerintah dapat menumbuhkan empati pengusaha untuk ikut serta membantu keuangan daerah. Media dapat menjadi perantara ‘mempopulis’ pengusaha.

Kata kunci: keuangan, regional, strategi

PENDAHULUAN

Setiap negara memiliki respon finansial yang berbeda-beda untuk menanggulangi pandemi covid-19. Namun pada intinya setiap negara mempersiapkan tindakan anggaran yang dapat diambil untuk menanggulangi covid-19; bagaimana mengamankan anggaran melalui revisi

172

peraturan anggaran; dan apa yang dapat dilakukan untuk mempercepat pelaksanaan dan pengeluaran anggaran untuk covid-19 (Barroy et al., 2020). Di Indonesia, Presiden mengeluarkan Perppu Nomor 1 Tahun 2020 untuk menjadi landasan pelaksanaan kebijakan refocusing dan realokasi anggaran pemerintah. Penyesuaian anggaran pemerintah, yang meliputi anggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan merupakan salah satu kunci awal respon yang harus dilakukan instansi pemerintah dalam menghadapi perkembangan masalah ini. Beberapa detail kebijakan yang sudah dibuat pemerintah pusat yaitu penambahan belanja dan pembiayaan APBN 2020 sejumlah Rp405,1 triliun, yang dialokasikan sebesar Rp75 triliun untuk bidang kesehatan, Rp 110 triliun untuk perlindungan sosial atau social safety net, Rp 70,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus Kredit Usaha Rakyat, dan Rp150 triliun untuk program pemulihan ekonomi nasional.

Perubahan proporsi keuangan pusat juga berpengaruh pada keuangan daerah. Setidaknya 35 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dipakai untuk realokasi anggaran dan refocusing program penanggulangan covid-19. Dilihat dari perubahan tersebut, daerah dipaksa untuk responsif anggaran selama covid-19. Pandemi covid-19 ini menguji kemampuan pemerintah kota untuk mematuhi aturan dan prinsip transparansi, partisipasi, dan pengawasan yang berlaku untuk proses pemerintahan kota seperti perencanaan dan penganggaran (de Visser &

Chigwata, 2020). Kota harus 'berpikir sendiri' dan menanggapi lingkungan pemerintahan yang berubah dengan cepat. Pada saat yang sama, krisis bukanlah alasan untuk mengkompromikan transparansi, partisipasi dan akuntabilitas warga negara. Masyarakat berhak atas informasi tentang keuangan kota, memberikan masukan ke dalam anggaran kota, dan untuk mengamati pertemuan dewan dan komite dewan. Covid-19 telah menghadirkan tantangan tetapi juga membuka peluang baru.

Tantangan pemerintah daerah saat pandemi saat ini adalah menjadi garda terdepan krisis keuangan covid-19 karena mereka terkena dampaknya yang parah serta menjadi aktor penting dalam mengatasinya (OECD, 2020). Tantangan lainnya adalah bagaimana meningkatkan pendapatan daerah dan bagaimana daerah dapat mengelola dengan maksimal refocussing program.

Hampir seluruh pemerintah daerah, melakukan perubahan struktur APBD. Menjelang akhir tahun 2020, penyerapan belanja pemerintah daerah menurun. Serapan APBD setiap tahunnya memang cukup rendah disebabkan masalah di hulu dan hilir. Misalnya perencanaan anggaran belanja yang tidak tepat hingga permasalahan birokrasi ketika anggaran akan dibelanjakan. Permasalahan yang dihadapi pemerintah daerah justru bertambah banyak selama pandemi covid-19. Terlihat dari penurunan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Menurut data Kementerian Keuangan, realisasi Pendapatan Asli Daerah hingga september 2020 adalah Rp698 triliun atau 56,37 persen dari pagu (Kementerian Keuangan, 2020).

Beberapa penelitian tentang keuangan daerah era covid-19 adalah pengaruh kinerja keuangan daerah terhadap tingkat kemandirian (Tamawiwy et al., 2016). Penelitian lain, implementasi kebijakan keuangan di pemerintah pusat dan daerah akibat pandemi Covid-19 (Center for Accounting Studies, 2020). Penelitian terdahulu lebih banyak fokus pada kinerja keuangan dan implementasinya. Peneliti menyimpulkan penelitian terdahulu belum mengungkap bagaimana

173

pemerintah daerah dapat memaksimalnya keuangan daerah dengan mengelola penanganan pandemi sekaligus menyerap anggaran pembangunan sesuai dengan perencaan yang sudah ada.

Maka, paper ini berfokus pada strategi yang memungkinkan keuangan pemerintah daerah dapat bertahan ditengah hantaman pandemi covid-19. Paper ini akan berkontribusi pada pengembangan pendekatan pelibatan pihak swasta dalam mengurai krisis keuangan daerah.

LANDASAN TEORI

Dalam dokumen PDF Prosiding - Universitas Brawijaya (Halaman 173-180)