BAB II TINJAUAN PUSTAKA
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan salah satu unsur yang penting dalam penelitian, karena berfungsi sebagai alat atau sarana pengumpulan data. Dengan instrument penelitian harus relevan dengan masalah dan aspek-aspek yang akan diteliti. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Pedoman Observasi
Bungin (2013: 142). Yang dimaksud dengan pedoman obsevasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan panca indra mata sebagai alat bantu utamanya selain panca indra lainnya seperti telinga, penciuman, mulut, dan kulit. oleh karena itu observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja panca indra kmata serta dibantu dengan pencaindra lainnya
b. Pedoman Wawancara
Menurut Sugiono (2014: 137) pedoman wawancara merupakan sebagai teknik pegumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti melakukan hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil
c. Pedoman Dokumentasi
Husain Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Cet.4 (2003: 73).
Teknik pengumpulan data dengan pedoman dokumentasi ialah pengambilan data dengan dokumen-dokumen. Keuntungan menggunaka dokumentasi ialah biayayanya relatif murah, waktu dan tenaga lebih efisien. Sedangkan kelemahannya ialah data yang diambil dari dokumen cenderung sudah lama, dan kalau ada yang salah cetak, maka peneliti ikut salah pula mengambil datanya.
G. Teknik Pegumpulan Data
Dalam penelitian ini penulis/peneliti mengunakan beberapa teknik dan metode dalam memperoleh data dari responden diantaranya :
1. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam mengumpulkan data diantaranya:
a. Observasi, dengan melakukan observasi secarah langsung pada objek yang diobservasi yaitu dengan mengamati secarah langsung keadan lapangan yang akan di jadikan tempat penelitian dan berkomunikasi langsung dengan sumber informasi tentang objek penelit tersebut.
b. Wawancara/Interview, yaitu dengan melakukan wawancara langsung terhadap subjek yang menjadi objek yang akan diteliti dalam mengetahui Pandangan Islam terhadap tradisi Mabbaca Doang Tomate
c. Dokumentasi, yaitu dengan mengambil data-data yang ada di lapangan tersebut secara langsung, dengan jalan dicatat atau di minta pada masyarakat yang telah melaksanakan tradisi Mabbaca Doang Tomate tersebut sebagai pelengkap dari penelitian yang dilakukan
2. Dalam penelitian ini juga menggunakan metode pengumpulan data yaitu :
Penelitian lapangan (Field Research), yaitu dengan mengumpulakan data-data dengan jalan meneliti langsung di lokasi penelitian dengan mengamati secara langsung.
H. Teknik Analisi Data
Setelah melakukan pengumpulan data, langkah dari strategi penelitian ini adalah penggunaan analisis data yang tepat dan relevan dengan pokok permasalahan. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan. Aktivitas dalam analisis data meliputi:
1. Reduksi data (data reduction) yang berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, dicari tema dan polanya. Hal ini untuk memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data selanjutnya karena reduksi ini memberikan gambaran yang lebih jelas.
2. Penyajian data (data display) dalam penelitian ini penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antara kategori, flowchart dan sejenisnya, tetapi yang sering dipakai adalah dengan teks yang bersifat naratif. Penyajian data ini memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.
3. Verification atau penarikan kesimpulan, teknik ini merupakan rangkaian analisis data puncak, dan kesimpulan membutuhkan verifikasi selama penelitian berlangsung. Oleh karena itu ada
baiknya suatu kesimpulan ditinjau ulang dengan cara memverifikasi kembali catatan-catatan selama penelitian dan mencari pola, tema, model, hubungan dan persamaan untuk ditarik sebuah kesimpulan.
BAB IV
PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
A.
Gambaran Umum lokasi PenelitianPenelitian ini difokuskan di salah satu kampung terpencil yang ada di Kabupaten Soppeng tepatnya di Coppeng-Coppeng Desa Soga. Hal ini dilakukan karena kampung ini masih mempertahankan tradisi Mabbaca Doang Tomate sebagai sebuah kemestian yang harus dilakukan untuk memberikan penghormatan terhadap orang yang meninggal dunia.
Desa Soga merupakan salah satu Desa dari 13 (Tiga Belas) Desa dan Kelurahan yang ada di Kecamatan Marioriwawo Kabupaten Soppeng.
Desa Soga berstatus sebagai desa persiapan dan Desa Soga adala Desa Pemekaran dari Desa Barae. Desa Soga dengan ibu kota desanya yaitu Bellalao merupakan satu daerah yang luas wilayahnya meliputi 3 (tiga) dusun yakni Dusun Bellalao yang meliputi Bujung Tellue, Bellalao dan Padangnge, Dusun Pallawa yang meliputi Pallawa, Cempae, kampong baka, dan serta Dusun Tonrong yang meliputi kampung Coppeng- Coppeng, Tonrongnge, dan Toddang Kalung dengan luas wilayahnya 22Km Persegi dan Potensi pertanian yang cukup banyak dengan iklim Tropis dan dua musim yaitu musim hujan dan kemarau.
Secara geografis, Desa Soga berada pada posisi antara 118 dan 119 BT dan 1 dan 3 LS dengan batas wilayah sebagai berikut:
1. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Mariorilau Kecamatan Marioriwawo kabupaten soppeng
6
37
2. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Seberang Kecamatan Lamuru Kabupaten Bone
3. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Goarie Kecamatan Marioriwawo Kabupaten Soppeng
4. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Barae Kecamatan Marioriwawo Kabupaten Soppeng
Setelah dimekarkan dari Desa Barae dan di bawah kepemimpinan Bapak Budirman Azis, Desa Soga kerap kali menuai berbagai prestasi dan mendapat penghargaan dari pemerintah daerah dan pusat termasuk di dalamnya yaitu penghargaan dari presiden RI dalam hal pemeliharaan hutan. Di samping itu, Desa Soga sering didatangi oleh tamu luar negeri baik dari Eropa seperti dari Belanda, Jerman dan Helsinki maupun dari Amerika dan Australia yang bergabung dalam organisasi NGO (Non- Govermental Organization) di bawah naungan LSM Payopayo untuk memberikan bimbingan dan pemberdayaan masyarakat setempat khususnya di sektor pertanian seperti budidaya coklat, bawang merah dan sayur mayur.
Berdasarkan data yang diperoleh dari kantor Desa Soga bahwa tingkat penghayatan dan pengamalan ajaran agama cukup tinggi sama seperti desa tetangganya. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya beberapa kelompok pengajian atau majlis taklim di desa tersebut. Di samping itu, keterlibatan seluruh komponen masyarakat dalam melaksanakan perayaan keagamaan seperti Isra Mikraj, Maulid, Nuzulul
Quran dan kegiatan keagamaan lainnya seperti Barazanji, serta Mabbaca Doang Tomate (Tahlilan) cukup tinggi.
B.
Tradisi Mabbaca DoangDoa (ُعبَػ ُذٌَا) mempunyai arti memanggil, meminta pertolongan atau memohon. Sedangkan menurut istilah ialah memohon sesuatu atau memohon perlindungan kepada Allah SWT.dengan merendahkan diri dan tunduk kepada-Nya.(Imam Ghazali:26)
Doa dalam istilah agamawan adalah permohonan hamba kepada Tuhan agar memperoleh anugerah pemeliharaan dan pertolongan, baik buat si pemohon maupun pihak lain. Permohonan tersebut harus lahir dari lubuk hati yang terdalam disertai dengan ketundukan dan pengagungan kepada-Nya.(M.Quraish Shihab:177).
Salah satu ayat yang sangat popular dalam konteks do‟a yaitu firmanNya dalam Q.S. Al Baqarah:186
ِعاَّدلا َةَىْعَد ُبٍِجُأ ٌبٌِرَق ًًِِّئَف ًٌَِّع يِداَبِع َكَلَأَس اَذِإَو
َىوُدُشْرٌَ ْنُهَّلَعَل ًِب اىٌُِهْؤٍُْلَو ًِل اىُبٍِجَتْسٍَْلَف ِىاَعَد اَذِإ
Terjemahnya:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.
Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.
Dalam tradisi Bugis, ada beberapa ritual Mabbaca doangyang sering dilaksanakan dalam masyarakat tersebut Khususnya di Desa Soga
ini, Yaitu: Mabbaca doangNabi, Mabbaca doangsalama, serta Mabbaca doang tomate.
1. Mabbaca doangNabi.
Tradisi ini merupakan salah satu pembacaan doa yang dilakukan dalam rangka mensyukuri pemberian atau nikmat-nikmat Allah SWT. Yang dimana tradisi ini biasanya dilangsungkan seusai panen hasil pertanian seperti padi, jagung, kacang hijau, dan hasil pertanian lainnya, bahkan biasa juga seusai panen hasil perikanan seperti mabbelle‟(menangkap ikan dengan jaring tertentu)dan mattua(menangkap ikan yang sudah diberi racun dari akar tumbuh-tumbuhan yang dalam bahasa bugis disebut dengan tua).
Dalam hal praktek mabbaca doangNabi biasanya yang diundang hadir untuk membacakan do‟a adalah Imam Desa atau Imam Kampung bahkan sering juga yang diundang hadir untuk membacakan doa adalah orang-orang yang mempunyai kapasitas keilmuan agama meskipun bukan posisinya sebagai imam kampung atau imam desa.
Adapun doa yang dibacakan ketika Mabbaca doangNabi itu adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Bapak Hare (Imam Dusun Tonronge)pada wawancara, mengatakan:
Iyya ribacae narekko marellodoang ki untuk pabbaca doang Nabi iyyanaritu Fateha, Qul Huwwallahu, Qul Audzu birabbil Falaq, Qul Audzu birabbinnas nainnappa ripaccinrolai doa asempongen dalle sibawa doa asalamakeng lino akhera termasuk Allahumma inna nas‟aluka salamatan fiddin wa afiyatan filjasad lettu cappa‟na sibawa Rabbana Aatina fiddunya Hasanatan wafilakhirati Hasanatan Waqina Adzabannar.
Artinya;
Adapun yang dibaca ketika berdoa “Baca Doang Nabi” yaitu Surat Al-Fatihah, Surah al-Ikhlas, Surah al-Falaq dan Surah al-Nas kemudian doa kemurahan rezki yaitu Allahumma inna nas‟aluka salamatan fiddin wa afiyatan filjasad sampai akhir lalu membaca Rabbana Aatina fiddunya Hasanatan wafilakhirati Hasanatan Waqina Adzabannar.
2. Mabbaca doangSalama.
Tradisi ini hampir sama dengan tradisi yang pertama tadi namun tradisi ini cendrung kepada bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT.
Karena kita terhindar dari bahaya atau musibah seperti selamat dari kecelakan, kebakaran dan peristiwa lain yang bisa mengancam keselamatan kita.
Namun melihat dari beberapa alasan dilaksanakanya kedua tradisi tersebut tidak lepas dari bagaimana ungkapan rasa syukur seorang hamba kepada tuhannya atas segala apa yang telah diberikan kepadanya dan apa yang telah Allah anugerahkan kepada mereka.
3. Mabbaca doang tomate.
Tradisi ini merupakan salah satu tradisi yang berbeda dari tradisi- tradisi Mabbaca doangyang lainya dimana tradisi ini bukan karna ungkapan rasa syukur hamba kepada sang pencipta dan rasa syukur karena terhindar dari bahaya, namun tradisi ini adalah salah satu penghormatan kepada orang yang telah meninggal dunia dan pengiriman doa kepada si mayit.
Mabbaca Doang Tomate adalah sebuah aktivitas pembacaan doa yang dilakukan secara berjamaah dengan cara membacakan ayat suci Al-
Qur‟an sampai khatam mulai juz I hingga Juz 30 dan setelah itu diikuti dengan pembacaan doa tahlil dan ta‟ziyah pada malam tertentu.
Tradisi Mabbaca Doang Tomate biasanya dilaksanakan pada malam ketiga, ketujuh, keempat puluh dan malam keseratus setelah meninggalnya seseorang atau kapan saja sesuai dengan kesempatan dan kemampuan dari keluarga yang ditinggalkan.
Acara Mabbaca doangatau Tahlilan ini biasanya dilakukan setelah shalat isya‟, dengan dipimpin Imam Kampung atau Imam Desa yang diberi kepercayaan untuk mengatur masalah sosial keagamaan warga yang telah menjadi kesepakatan dan kesiapan yang berhajat. Tradisi ritual atau Acara Mabbaca doangini biasanya dilakukan di rumah keluarga yang berduka.
Dalam tradisi Bugis, pelaksanaan Mabbaca Doang Tomate merupakan sesuatu yang sakral dan profan dalam artian bahwa keluarga yang ditinggalkan seakan-akan masih memiliki hutang atau beban moral jika belum melaksanakan “Mabbaca Doang” terhadap anggota keluarganya yang meninggal dunia. Bahkan ada sebagian masyarakat Bugis sama sekali tidak mau melaksanakan hajatan pesta perkawinan kalau masih ada rumpun keluarga dekatnya yang belum dibaca doakan.
C.
Tradisi Mabbaca doang tomateMabbaca Doang Tomate adalah salah satu tradisi yang masih melekat di kalangan masyarakat bugis di coppeng copeng desa soga.
Tradisi mabbaca doang ini merupakan tradisi yang dilakukan sebagai
penghormatan kepada keluarga yang meninggal dunia seperti Mendoakannya. Mabbaca Doang Tomate juga merupakan sebuah aktivitas pembacaan doa yang dilakukan secara berjamaah dengan cara membacakan ayat suci Al-Qur‟an sampai khatam mulai juz I hingga Juz 30 dan setelah itu diikuti dengan pembacaan doa tahlil dan ta‟ziyah pada malam tertentu. Selain sebagai pembacaan doa kepada orang yang meninggal tradisi ini juga merupaka salah satu ajang berkumpulnya kelurga yang biasanya mencari nafkah di daerah yang jauh dari kampung halamanya.
1. Sejarah Tradisi Mabbaca Doang Tomate Di Coppeng-Coppeng Mabbaca doangatau Tahlilan adalah bentuk ritual keagamaan yang penuh dengan puji-pujian kepada Allah swt. Penyelenggaraan aktivitas tahlilan tanpa disadari telah terformulasikan menjadi suatu kelaziman atau kebiasaan yang mengikat, sebagai konsekuensinya, jarang keluarga yang ditinggal mati tidak menyelenggarakan acara tersebut dengan berbagai alasan. Misalnya, ketakutan moral diasingkan dari arena sosial, dianggap telah bersikap acuh tak acuh terhadap anggota keluarga yang telah meninggal dunia, serta melanggar adat dan nilai-nilai.
Secara historis, tradisi ritual Mabbaca Doang pada masyarakat Bugis khususnya pada masyarakat yang ditempati peneliti melakukan penelitian bahwa tradisi Mabbaca Doang Tomate ini telah ada bersamaan dengan dianutnya ajaran Islam oleh penduduk setempat. Hal tersebut
berdasarkan hasil penuturan seorang sesepuh masyarakat yang bernama H. Haddade, beliau mengatakan:
“Menurut wissengge sibawa uwitae riwettu baeccukku mupa iyyaro riasennge abbacadoangeng engkamemenni napugau pakkampongge massamang engkangenna riaseng agama asellengenge ri kamponge”
Artinya:
Sepanjang pengetahuan dan hasil pengamatan saya bahwa dari kecil bahwa tradisi Mabbaca Doang Tomate itu sudah dilaksanakan oleh penduduk setempat bersamaan dengan adanya agama islam di kampung ini
Pada zaman dahulu kala, sebelum ritual Mabbaca Doang Tomate ini dimulai, penduduk setempat mempersiapkan sebuah ruangan besar di bawah kolong rumah atau di samping rumah yang disebut dengan kalampang. Keberadaan kalampang ini bertujuan untuk ditempati mengaji atau membaca Alquran sehingga dikenal dengan istilah mangaji kalampang(mengaji di bawah kolom rumah panggung penduduk setempat).
Pada saat pembacaan Alquran atau mangaji kalampang, setiap orang diundang maju ke depan untuk membaca Alquran di bawah supervisi Imam Kampung. Orang yang terlibat dalam pengajian bukan sembarang orang karena mereka harus bagus bacaan Alqurannya baik dari sisi kelancaran bacaan maupun dari sisi tajwidnya. Ketika yang mengaji itu sudah keliru atau tassakka (tersendat-sendat cara bacanya) dalam mengaji dan ditegur oleh supervisi sebanyak tiga kali biasanya langsung disuruh untuk berhenti dan digantikan oleh orang lain.
Dari berbagai sumber menuturkan bahwa tradisi Mangaji Kalampang merupakan ajang untuk memperlihatkan kepiawaian seseorang dalam membaca Alquran. Pada saat pengajian, sebagian besar penduduk kampung berbondong-bondong datang untuk menyaksikan acara tersebut. Seperti yang dituturkan oleh M. Akkas:
“Narekko mangaji kalampang ki engkamanenni taauwwe pada turung massalepu ri kalampangnge mitaki mangaji. Ku toniro monro yappitang accata mangaji dan Alhamdulillah jarang mua iyya iteggo‟
ka ku guru pangajie nasaba melenggo metto bacaku”
Artinya;
Ketika diadakan pengajian dengan sistem kalampang, penduduk kampung pada berdatangan di arena untuk menyaksikan kita mengaji. Dan, di tempat itulah kita perlihatkan kepiawaian kita dalam membaca Alquran. Dan Alhamdullillah selama saya mengikuti pengajian dengan sistem itu, saya tidak pernah mendapat teguran dari guru atau supervisi pengajian karena bacaannku memang sangat dan terbilang lancar.
Dulu dimasa-masa awal saat diadakannya pengajian dengan sistem kalampang, ada seorang sosok guru yang amat disegani di kalangan penduduk kampung yang berdomisili di kawasan Coppeng- Coppeng, Pallawa dan Walimpong yaitu H. Singke. Beliau dikenal sebagai sosok imam yang sangat pintar membaca Alquran sehingga ketika beliau menjadi supervisi di pengajian banyak di antara murid pengajian yang gemetar dan merasa segan untuk mengaji. Dan ketika murid itu sudah tiga kali melakukan kesalahan, maka beliau tidak segan untuk memberhentikan anak mengaji itu dan menggantikannya dengan yang lain.
Dewasa ini, sistem mengaji ala kalampang pada acara Mabbaca Doang Tomate ini sudah tidak ditemukan lagi meski diakui bahwa dengan
sistem seperti itu bacaan Alquran lebih mantap walau Alquran hanya sekali saja ditamatkan. Sistem ini diganti dengan membaca Alquran secara bersamaan yang masing-masing orang mengambil Alquran yang berisi satu juz yang sudah dibagi-bagi dan dipilih untuk ditamatkan.
Namun, ada kekurangan dari sistem ini yaitu bacaan Alquran dari setiap pengaji tidak bisa dipertanggungjawabkan karena boleh jadi ada di antara mereka yang belum lancar mengajinya atau tidak baik cara bacaannya baik dari sisi makhraj hurufnya maupun dari sisi tajwidnya. Hal tersebut diungkapkan oleh M. Akkas saat peneliti mewawancarainya:
“Riolo, narekko mangaji kalampangki memeng de namakkoling- koling temme akorangnge naiyyakiya makessing maneng bacae.
Silaingenni makkekuae,makkuling-kuling temme naiyyakiya de nairisseng makkeda makessing muga cara bacana.”
Artinya:
Dulu, ketika kita mengaji dengan sistem kalampang, Alquran tidak sering dikhatamkan akan tetapi bacaannya bagus semua. Lain halnya dengan sekarang, kemungkinan besar Alquran dikhatamkan berkali-kali namun tidak bisa dipertanggungjawabkan cara bacanya.
Setelah pembacaan Alquran ala kalampang diadakanlah pembacaan doa atau tahlilan yang redaksi bacaannya dan tata caranya seperti yang ada sekarang karena tradisi itulah yang diwariskan secara turun temurun dalam kegiatan Mabbaca Doang.
2. Waktu Pelaksanaan Mabbaca Doang Tomate
Dalam berbagai sumber yang peneliti dapatkan baik melalui literature maupun wawancara tidak di temukan bahwa ada waktu-waktu tertentu untuk pelaksanaan acara tradisi Mabbaca Doang Tomate
tersebut. Namun , Pelaksanaan Mabbaca Doang Tomate ini biasaya dilakukan setelah selesai acara malam ketuju (wenni pitunna tau mate) bahkan bisa sampai bertahun-tahun. Hal tersebut berdasarkan hasil wawancara dengan M. Akkas di kediamannya, beliau mengatakan:
“De‟ to gaga wettu mattentu untuk mabbaca doang. Naiyyakiya biasanna purapi wenni pitunna atau wedding jaji mabbuleng-puleng yaregga mattaung-taung nainnapa nagauke tomatena”
Artinya:
Tidak ada waktu tertentu untuk melaksanakan Mabbaca Doang.
Namun biasanya dilaksanakan setelah selesai acara malam ketujuh atau bisa jadi berbulan-bulan atau bertahun-tahun baru dilaksanakan.
Meski tidak ada waktu tertentu dalam proses pelaksanaannya tetapi mayoritasnya dari masyarakat Bugis pada itu melaksanakan tradisi Mabbaca Doang Tomate itu bersamaan dengan malam ketujuhnya dari orang yang meninggal dunia atau malam-malam ganjil lainnya.
Namun dengan melihat dari pertumbuhan ekonomi zaman sekarang, waktu pelaksanaan Mabbaca Doang Tomate ini sudah mulai mengalami pergeseran yaitu sudah ada sebagian masyarakat melaksanakan tradisi tersebut pada malam ketiga bersamaan dengan malam takziyah terakhir. Hal ini dilakukan dengan alasan menekan angka biaya penyelenggaraan acara tradisi Mabbaca Doang Tomate sekaligus tidak ingin merepotkan keluarga yang sengaja datang dari luar daerah untuk melayat jenazah sekaligus ikut tahlilan atau Mabbaca Doang. Di samping itu, kesibukan keluarga yang sudah lama tinggal di luar daerah
juga biasa menjadi pemicu dan alasan untuk menyegerahkan pelaksanaan Mabbaca Doang Tomate ini.
3. Tata Cara Pelaksanaan Mabbaca doang tomate
Istilah lain dari Tradisi Mabbaca Doang Tomate ini adalah acara
“mattampung”. Mattampung yaitu tradsi yang dilakukan masyarakat Bugis untuk menghormati dan mengirimkan doo-doa keselamatan kepada orang yang meninggal. Dan juga merupakan upacara penanaman batu nisan sebagai pengganti batu nisan yang di tanam saat mayat di kuburkan.
Tradisi Mattampung ini biasanya seluruh masyarakat dalam suatu daerah setempat akan datang berkumpul untuk mendoakan orang yang telah meninngal dan juga sebagai penghibur oleh kelurga yang ditingalkan oleh si mayit.
Dalam masyarakat bugis khusunya di daerah penelitian ini , biasanya ketika masyarakat yang berkunjung kerumah orang yang memiliki hajatan mereka membawa bahan pokok seperti beras, gula pasir bahkan ada juga yang membawa Passolo (suatu ampolp yang berisi dengan Uang) untuk diberikan kepada keluarga yang meninggal. Salah satu kebiasaan dari penduduk setempat ketika diadaka suatu hajatan atau acara pasti ada yang namanya makanan.
Dalam tradisi ini ada berbagai macam makanan yang disunggukan saat acara berlangsung. Model penyajiannya pun tergolong sederhana tergantung dari kemampuan dari si pemilik hajatan. Namun dalam penyajian makanan ini sebagian pihak memahami bahwa makanan ini
ditujukan untuk orang yang meninggal. Nah, inilah yang menjadi kesalah pahaman jika di tinjau dalam pandangan islam.
Ada hal menarik dalam prosesi itu bahwa dalam tradisi Mattampung terdapat makanan yang “Wajib” ada yaitu menu makanan yang disebut Leppe-leppe atau sawa. Leppe-leppe itu sendiri dalam Bahasa Bugis yaitu
“Leppe” yang artinya lepas. Makna ini merupakan simbol lepasnya nyawa seseorang dari jasadnya atau dalam artian telah wafat.
Ada pula sebuah makanan yang disebut Bette Bale Buta yang yang jika dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan ikan goreng buta.
Komposisinya yaitu kelapa dan ikan yang dicampur kemudian digoreng.
Makanan ini merupakan pasangan dari Leppe-leppe tersebut dalam artian sebagai lauk. Menurut masyarakat Bugis keduanya merupakan pasangan dan merupakan simbol kehidupan. Artinya ada hidup makan ada yang mati.
Adapun cara pelaksanaan acara Mabbaca Doang Tomate yaitu dengan cara masyarakat datang berkumpul membacakan ayat suci Al- Qur‟an sampai khatam mulai dari Juz I sampai Juz 30. Setelah itu diikuti dengan tahlilan secara bersama-sama. Adapun rangkaian acara tahlilan, yaitu:
Pembukaan yang dipimpin langsung oleh imam kampung atau Imam Desa dilanjutkan Pembacaan surah Al-Fatihah sebanyak tiga kali. Al- Fatihah pertama diniatkan kepada Nabi Muhammad saw. dan keluarganya, para istrinya, dan semua anak keturunannya.