• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Integrasi Nilai-nilai Keislaman

Sub bab ini akan membahas tentang: pengertian integrasi nilai-nilai keislaman dan integrasi pada pelajaran Akidah Akhlak.

1. Pengertian Integrasi Nilai-nilai Keislaman

Integrasi ada yang mendefinisikan sebagai proses kontemplasi, yakni memadukan antara ilmu umum dan agama. Keduanya saling

mengisi dan menguatkan, tetapi tetap mempertahankan substansi, karena pada hakikatnya ilmu pengetahuan itu terintegrasi dan tidak terpisah- pisahkan. Integrasi merupakan produk dari hasil berpikir terpadu;

memadukan antara logika penalaran dengan iman kepada Allah, atau perpaduan antara pikir dan zikir sehingga ilmuyang diperoleh tidak bersifat dikotomis. Artinya ilmu yang dihasilkan dari perpaduan iman dan akal yang menjadikannya sebagai ilmu terpadu dan utuh.38.

Nilai adalah harga.39 Zakiyah Drajad mendefinisikan nilai sebagai perasaan yang diyakini sebagai suatu identitas yang memberikan corak khusus kepada pola pikir, perasaan, keterikatan maupun perilaku.40 Secara garis besar, nilai hanya ada tiga macam, yaitu nilai benar-salah, nilai baik-buruk, dan nilai indah tidak indah. Nilai-benar salah digunakan dalam ilmu (sains), Nilai baik-buruk digunakan dalam etika, dan nilai indah tidak digunakan dalam menetapkan nilai seni.41 Nilai yang dimaksud dalam pembahasan ini berobjek pada manusia dan perilakunya, yaitu mengenai hal-hal yang bisa membantu manusia agar lebih bernilai dari sudut pandangan Islam.

Nilai-nilai keislaman pada dasarnya berlandaskan pada nilai-nilai Islam yang meliputi semua aspek kehidupan: hubungan manusia dengan Allah (hablu mina Allah), hubungan manusia dengan manusia (hablu mina nas) dan hubungan manusia dengan lingkungan (hablu mina alam).

38 Ismail Raji Al-Faruqi, Islamisasi Pengetahuan, terj. Anas Mahyudin (Bandung: Pustaka, 1995), 2.

39 Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, 49.

40 Zakiyah Drajat, Dasar-dasar Agama Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), 260.

41 Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, 49.

Apabila nilai-nilai keislaman ditinjau dari sumbernya terdiri dari 2 macam:

1) Nilai ilahi, yaitu nilai yang bersumber dari Al-Quran dan hadis. Pada aspek teologi (keimanan), nilai ilahi tidak akan pernah mengalami perubahan, apalagi perubahan yang diikuti oleh kecenderungan hawa nafsu manusia.

2) Nilai insani, yaitu nilai yang tumbuh dan berkembang atas kesepakatan manusia. Dalam kaidah fikih disebut al-adatu muhakkama (hukum adat). Nilai insani akan terus berkembang ke arah yang lebih maju.

Nilai ini bersumber dari adat istiadat dan kenyataan alam.42 Nilai ini dapat digunakan sepanjang tidak menyimpang atau dapat menunjang nilai yang bersumber dari Al-Quran dan hadis.

Nilai-nilai keislaman bersifat universal. Dapat masuk ke ranah apa saja termasuk pendidikan. Berpijak dengan apa yang dikatakan oleh Ahmad Tafsir bahwa tugas pendidikan, termasuk pendidikan di sekolah/madrasah, adalah menanamkan nilai-nilai. Pendidikan nilai merupakan upaya pembentukan sikap dan perilaku seseorang. Rohmat Mulyana mengutip pendapat David Aspin mendefinisikan pendidikan nilai sebagai bantuan untuk mengembangkan dan mengartikulasi kemampuan pertimbangan nilai atau keputusan moral yang dapat melembagakan kerangka tindakan manusia.43.

42 Muhaimin, Abd. Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Bumi Aksara, 1991), 111.

43 Rohmat Mulyana, Mengartikulasi Pendidikan Nilai. (Bandung: Alfabeta, 2014), 179.

Pendidikan Nasional melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum telah merumuskan program Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa (PBKB) yang secara aktif mengembangkan potensi peserta didik dan melakukan internalisasi nilai-nilai yang dipersiapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Ada 18 nilai yang dikembangkan dalam program tersebut, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Jika dalam program PBKB ada 18 nilai, maka nilai-nilai dalam perspektif Al-Quran jauh melebihi angka tersebut. Namun untuk memudahkan penanaman nilai-nilai tersebut, maka dalam hal ini dirumuskan secara sederhana sesuai dengan tingkat pendidikan itu sendiri. Setidaknya nilai-nilai tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu:

1) Nilai yang berhubungan antara manusia dengan Allah (hablun minallah) yaitu hubungan keterkaitan antara manusia dengan Allah, seperti ketaatan, keikhlasan, syukur, sabar, tawakal, mahabbah, dan sebagainya.

2) Nilai yang berhubungan antara manusia dengan manusia (hablun minannas) yaitu nilai-nilai yang harus dikembangkan dalam berhubungan dengan sesama manusia, seperti tolong-menolong,

peduli, saling menghormati, memaafkan, mendoakan, kerjasama, dan lain sebagainya.

3) Nilai yang berhubungan dengan alam sekitar (hablun minal’alam) yaitu menjaga kelestarian alam, seperti kebersihan, keindahan, kepekaan, kepedulian, keseimbangan, kelestarian, dan lain sebagainya.

d. Nilai yang berhubungan dengan diri sendiri (hablun minannafsi) yaitu nilai yang berkaitan dengan sifat dan sikap yang ada pada diri seseorang, seperti disiplin, amanah, mandiri, jujur, teladan, istikamah, tawaduk, ulet, kerja keras, dan lain sebagainya.

Nilai-nilai tersebut dikembangkan lebih lanjut dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Quran dan hadis. Sebab, nilai-nilai yang terkandung dalam Al- Quran dan hadis memiliki makna yang lebih luas dan kompleks jika dibandingkan dengan nilai-nilai yang muncul dari hasil pikiran manusia. Nilai-nilai yang dimaksud kemudian dirumuskan ke dalam bentuk indikator ‘penanaman nilai’ dalam susunan rancangan pembelajaran yang kemudian diintegrasikan ke dalam mata pembelajaran sehingga tidak ada satu pun materi pembelajaran yang tidak bebas nilai.

Nilai-nilai keislaman memiliki arti penting dalam pendidikan.

Nilai- nilai keislaman akan menjadi pondasi yang kuat pembentukan karakter religius kepada peserta didik dalam mengarungi kehidupan.

Tanpa hal tersebut, segala atribut duniawi tidak akan mampu mengantar manusia meraih kebahagian yang lebih baik di dunia maupun

di akhirat. Tanpa nilai, pendidikan hanya akan mencetak ‘generasi robotik’.

Penanaman nilai-nilai keislaman perlu dilakukan dengan cara dan pola pembiasaan. Sebab, secara sosiologis, perilaku seseorang tidak lebih dari hasil pembiasaan.44 Dengan demikian penanaman nilai-nilai keislaman sebaiknya tidak hanya dilakukan ke dalam materi pembelajaran, melainkan juga dalam pembiasaan sehari-hari, seperti penciptaan suasana religius, internalisasi nilai, kearifan, keteladanan, dan pembiasaan lain di lingkungan peserta didik yang dapat menciptakan pola pikir, sikap, dan tindakan yang sesuai dengan ajaran agama Islam.

2. Integrasi Nilai-nilai Keislaman dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Berdasarkan klasifikasi KD 3 dan KD 4 bahwa materi Bahasa Indonesia tidak lepas dari media pembelajaran berbentuk teks, baik itu cetak maupun elektronik. Oleh sebab kajian materi Bahasa Indonesia berbasis teks, maka di sinilah ada peluang untuk mengintegrasikan nilai- nilai keislaman ke dalam materi Bahasa Indonesia sebagai pokok kajian pembelajaran.

Pembelajaran tematik merupakan bentuk atau model dari pembelajaran terpadu, yaitu model terjala (webbed) yang pada intinya menekankan pola pengorganisasian materi yang terintegrasi.45 Oleh karena itu, mengintegrasikan nilai-nilai keislaman ke dalam materi Bahasa Indonesia haruslah relevan berdasarkan materi pembelajaran

44 Imam Suprayogo, Pendidikan Berparadigma Al-Qur’an: Pergulatan Membangun Tradisi dan Aksi Pendidikan Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2014), 6.

45 Deni Kurniawan, Pembelajaran Tematik Terpadu. (Bandung: Alfabeta, 2014), 95.

tematik. Berikut ini materi Bahasa Indonesia yang diintegrasikan pada pengembangan media/produk yang akan dikembangkan.

Tabel 2.3

Integrasi Nilai-Nilai Keislaman KOMPETENSI

DASAR INDIKATOR NILAI-NILAI

3.8 Menggali informasi dari dongeng binatang (fabel) tentang sikap hidup rukun dari teks lisan dan tulis dengan tujuan untuk

kesenangan 4.8 Menceritakan

kembali teks dongeng binatang (fabel) yang menggambarkan sikap hidup rukun yang telah dibaca secara nyaring sebagai bentuk ungkapan diri

- Memahami isi dari dongeng binatang (fabel) tentang sikap hidup rukun dari teks teks lisan dan tulis dengan tujuan untuk kesenangan - Menceritakan

kembali teks dongeng binatang (fabel) yang menggambarkan sikap hidup rukun yang telah dibaca secara nyaring sebagai bentuk ungkapan diri

 Kepekaan Sosial

 Keteladanan

 Tanggung jawab

 Peduli

Dengan demikian, mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan mata pelajaran Bahasa Indonesia yaitu dengan cara memasukkan nilai-nilai keislaman dalam kajian teks dongeng dalam pembelajaran. Akan tetapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengintegrasikan nilai- nilai keislaman ke dalam materi Bahasa Indonesia:

1) Mengembangkan media pembelajaran Bahasa Indonesia yang terintegrasi nilai-nilai keislaman harus memperhatikan KI dan KD sehingga capaian akhir dari pembelajaran tidak melenceng dari tujuan pendidikan nasional.

2) Mengembangkan media pembelajaran Bahasa Indonesia terintegrasi nilai-nilai keislaman hanya lebih kepada pengembangan penyajian teks sebagai bahan kajian utama dalam pembelajaran.

Mengembangkan bahan ajar Bahasa Indonesia terintegrasi nilai- nilai keislaman harus memperhatikan korelasi antara pokok pembahasan Bahasa Indonesia dengan pokok pembahasan materi selanjutnya sehingga pengorganisasian antar materi tetap terpadu sebagaimana ciri dari pembelajaran tematik.

Dokumen terkait