• Tidak ada hasil yang ditemukan

Interprestasi Hasil Penelitian

Dalam dokumen Pengaruh Tindakan Penagihan Pajak Aktif (Halaman 142-149)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Analisisdan Pembahasan

3. Interprestasi Hasil Penelitian

Analisis hasil penelitian ini adalah mengenai hasil temuan dan kesesuaian teori, pendapat, maupun penelitian terdahulu yang telah ditemukan sebelumnya. Berikut hasil temuan dalam penelitian:

a. Pengaruh X1 (Surat Teguran) terhadap Y (Pencairan Tunggakan Pajak)

Berdasarkan hasil penelitian, koefisien regresi untuk variabel Surat Teguran sebesar 8.415.931,900 dan variabel Pencairan Tunggakan Pajak sebesar 11.315.287.240,000.

Koefisien regresi Surat Teguran bernilai positif artinya pada saat Surat Teguran bertambah maka Pencairan Tunggakan Pajak juga akan mengalami kenaikan. Dan dari hasil uji t, bahwa Surat Teguran tidak berpengaruh signifikan terhadap Pencairan Tunggakan Pajak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa secara

parsial Surat Teguran tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pencairan Tunggakan Pajak.

Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Yohanes Diaken Nainggolan (2015), Devika Korua (2015) dan Hasbi Rifqiansyah (2014) yang menyatakan bahwa Surat Teguran tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pencairan tunggakan pajak. Namun, hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Widyanti Oktoviani (2015), Kamila Zahra (2016) dan Achmad Marjunianto (2015) yang menyatakan bahwa Surat Teguran memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pencairan tunggakan pajak.

b. Pengaruh X2 (Surat Paksa) terhadap Y (Pencairan Tunggakan Pajak)

Berdasarkan hasil penelitian, koefisien regresi untuk variabel Surat Paksa sebesar 17.864.830,770 dan variabel Pencairan Tunggakan Pajak sebesar 11.315.287.240,000.

Koefisien regresi Surat Paksa bernilai positif artinya pada saat Surat Paksa naik maka Pencairan Tunggakan Pajak akan mengalami kenaikan. Dan dari hasil uji t, bahwa Surat Paksa tidak berpengaruh signifikan terhadap Pencairan Tunggakan Pajak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial Surat Paksa tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pencairan Tunggakan Pajak.

Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Devika Korua (2015), Hasbi Rifqiansyah (2014) dan Achmad Marjunianto (2015) yang menyatakan bahwa Surat Paksa tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pencairan tunggakan pajak. Namun, hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Yohanes Diaken Nainggolan (2015), Widyanti Oktoviani (2015) dan Kamila Zahra (2016) yang menyatakan bahwa Surat Paksa memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pencairan tunggakan pajak.

c. Pengaruh X3 (Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan) terhadap Y (Pencairan Tunggakan Pajak)

Berdasarkan hasil penelitian, koefisien regresi untuk variabel Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan sebesar 100339913,400 dan variabel Pencairan Tunggakan Pajak sebesar 11.315.287.240,000. Koefisien regresi Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan bernilai positif artinya pada saat Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan naik maka Pencairan Tunggakan Pajak juga akan mengalami kenaikan. Dan dari hasil uji t, bahwa Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan tidak berpengaruh signifikan terhadap Pencairan Tunggakan Pajak.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pencairan Tunggakan Pajak.

Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Achmad Marjunianto (2015) dan Tingkan L.U Walewangko (2016) yang menyatakan bahwa Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pencairan tunggakan pajak. Namun, hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Devika Korua (2015) dan Hasbi Rifqiansyah (2014) yang menyatakan bahwa Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pencairan tunggakan pajak.

d. Pengaruh X1, X2, dan X3 (Surat Teguran, Surat Paksa dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan) secara bersama- sama terhadap Y (Pencairan Tunggakan Pajak)

Berdasarkan hasil penelitian, koefisien regresi untuk variabel Surat Teguran 8.415.931,900, Surat Paksa 17.864.830,770 dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan sebesar 100339913,400 dan variabel Pencairan Tunggakan Pajak sebesar 11.315.287.240,000. Koefisien regresi Surat Teguran, Surat Paksa dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan bernilai positif artinya pada saat Surat Teguran, Surat Paksa dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan naik maka Pencairan Tunggakan Pajak juga akan mengalami kenaikan.

Dan dari hasil uji t, bahwa Surat Teguran, Surat Paksa dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan tidak berpengaruh signifikan terhadap Pencairan Tunggakan Pajak. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa secara parsial Surat Teguran, Surat Paksa dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pencairan Tunggakan Pajak.

Berdasarkan data yang ada, ada beberapa hal yang menyebabkan Surat Teguran, Surat Paksa dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan tidak berpengaruh terhadap Pencairan Tunggakan Pajak di KPP Lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus.

Hal ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :

a. Wajib Pajak yang diadministrasikan di KPP Lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus memiliki kriteria khusus yakni perusahaan asing, perwakilan perusahaan asing (Bentuk Usaha Tetap), Orang Asing dan perusahaan go public. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki pengelolaan sistem akuntansi dan perpajakan yang bagus yang tercermin dari internal kontrol yang baik yang terungkap dalam Laporan Keuangan perusahaan tersebut yang di audit oleh Kantor Akuntan Publik berstandar internasional.

Pada saat Wajib Pajak tersebut menunaikan kewajiban perpajakannya, terdapat sengketa perpajakan yang disebabkan perbedaan persepsi antara Wajib Pajak dan KPP. Sengketa perpajakan yang muncul ini terus berjalan sejak saat pemeriksaan di KPP, hingga Wajib Pajak melakukan upaya hukum Keberatan dan Non Keberatan di Kantor Wilayah, Banding di Pengadilan Pajak hingga upaya hukum luar biasa (Peninjauan Kembali) di

Mahkamah Agung. Besarnya tunggakan pajak yang diajukan upaya hukum dan upaya hukum luar biasa ini mengakibatkan tunggakan pajak menjadi terhambat pencairannya karena lamanya waktu yang diperlukan hingga putusan menjadi inkracht.

Berikut adalah rincian jumlah tunggakan pajak yang diajukan upaya hukum dan upaya hukum luar biasa di Kanwil DJP Jakarta Khusus :

Tabel 4.44

Jumlah Tunggakan Pajak yang Diajukan Upaya Hukum dan Upaya Hukum Luar Biasa Tahun 2012-2016

Tahun Non Keberatan Keberatan Banding Peninjauan

Kembali Jumlah

2012 586.057.727.320 5.918.877.042.119 13.141.525.578.775 1.101.969.005.961 20.748.429.354.175 2013 2.895.664.102.404 67.091.569.583.525 14.453.482.670.403 2.604.088.371.995 87.044.804.728.327 2014 3.495.153.777.885 12.319.326.157.248 20.469.089.346.754 4.557.492.421.346 40.841.061.703.233 2015 3.307.921.935.774 3.117.887.533.288 5.163.463.555.922 897.427.768.120 12.486.700.793.104 2016 2.476.470.587.223 2.476.470.587.223 2.476.470.587.223 2.476.470.587.223 9.905.882.348.892 Total 12.761.268.130.606 90.924.130.903.403 55.704.031.739.077 11.637.448.154.645 171.026.878.927.731 Sumber : Laporan Keuangan Audit BPK Kanwil DJP Jakarta Khusus

b. Wajib Pajak di Kanwil DJP Jakarta Khusus banyak yang tidak mengikuti program pengampunan pajak (Tax Amnesty) di tahun 2016-2017. Adapun salah satu syarat mengikuti program Tax Amnesty adalah mencabut semua upaya hukum dan upaya hukum luar biasa. Dengan sedikitnya peserta Tax Amnesty dari Kanwil DJP Jakarta Khusus, berdampak pada jumlah tunggakan pajak

yang tidak berkurang secara signifikan. Berikut jumlah Wajib Pajak Kanwil DJP Jakarta Khusus yang mengikuti Tax Amensty :

Tabel 4.45

Jumlah Peserta Tax Amnesty Kanwil DJP Jakarta Khusus Jumlah Wajib

Pajak Terdaftar

Jumlah Wajib Pajak Peserta Tax

Amnesty

Persentase Wajib Pajak Orang

Pribadi 31.857 471 1.4 %

Wajib Pajak

Badan 14.933 2.507 16.7 %

Total Kanwil DJP Jakarta Khusus

46.790 2.978 18.1 %

Sumber : Dashboard Tax Amnesty Kanwil DJP Jakarta Khusus

BAB V

Dalam dokumen Pengaruh Tindakan Penagihan Pajak Aktif (Halaman 142-149)

Dokumen terkait